20. Kisah Dua Orang Sahabat   Leave a comment

BAB I. YAMAKA VAGGA – Syair Berpasangan

20. Kisah Dua Orang Sahabat

Suatu ketika, terdapat dua orang sahabat yang berasal dari keluarga terpelajar, dua bhikkhu dari Savatthi. Salah satu dari mereka mempelajari Dhamma yang pernah dikhotbahkan oleh Sang Buddha, dan sangat akhli/pandai dalam menguraikan dan mengkhotbahkan Dhamma tersebut. Dia mengajar lima ratus bhikkhu dan menjadi pembimbing bagi delapan belas group dari para bhikkhu tersebut. Bhikkhu lainnya berusaha keras, tekun, dan sangat rajin dalam meditasi, sehingga ia mencapai tingkat kesucian arahat dengan memiliki pandangan terang analitis.

Pada suatu kesempatan, ketika bhikkhu kedua datang untuk memberi hormat kepada Sang Buddha di Vihara Jetavana, kedua bhikkhu tersebut bertemu. Bhikkhu akhli Dhamma tidak mengetahui bahwa bhikkhu sahabatnya telah menjadi seorang arahat. Dia memandang rendah bhikkhu kedua itu, dia berpikir bahwa bhikkhu tua ini hanya mengetahui sedikit Dhamma. Maka dia berpikir akan mengajukan pertanyaan kepada sahabatnya, bahkan ingin membuat malu.

Sang Buddha mengetahui tentang maksud tidak baik itu, Sang Buddha juga mengetahui bahwa hasilnya akan membuat kesulitan bagi pengikut luhur seperti bhikkhu terpelajar itu. Dia akan terlahir kembali di alam kehidupan yang lebih rendah. Dengan dilandasi kasih sayang, Sang Buddha mengunjungi kedua bhikkhu tersebut untuk mencegah sang terpelajar bertanya kepada bhikkhu sahabatnya. Sang Buddha sendiri bertanya perihal “Penunggalan Kesadaran” (jhana) dan “Jalan Kesucian” (magga) kepada guru Dhamma; tetapi dia tidak dapat menjawab, karena dia tidak mempraktekkan apa yang telah diajarkan. Bhikkhu sahabatnya telah mempraktekkan Dhamma, dan telah mencapai tingkat kesucian arahat, dapat menjawab semua pertanyaan. Sang Buddha memuji bhikkhu yang telah mempraktekkan Dhamma (vipassaka), tetapi tidak satu kata pujianpun yang diucapkan Beliau untuk orang yang terpelajar (ganthika). Murid-murid yang berada di tempat itu tidak mengerti, mengapa Sang Buddha memuji bhikkhu tua dan tidak memuji kepada guru yang telah mengajari mereka. Karena itu, Sang Buddha menjelaskan permasalahannya kepada mereka. Pelajar yang banyak belajar, tetapi tidak mempraktekkannya sesuai Dhamma adalah seperti pengembala sapi, yang menjaga sapi-sapi untuk memperoleh upah. Sedangkan seseorang yang mempraktekkan sesuai Dhamma adalah seperti pemilik yang menikmati lima manfaat dari hasil pemeliharaan sapi-sapi tersebut. Jadi orang terpelajar hanya menikmati pelayanan yang diberikan oleh murid-muridnya, bukan manfaat dari “Jalan” dan “Hasil Kesucian” (magga-phala).

Bhikkhu lainnya berpikir, dia mengetahui sedikit, dan hanya bisa sedikit dalam menguraikan Dhamma, telah memahami dengan jelas inti dari Dhamma dan telah mempraktekkannya dengan tekun dan penuh semangat; adalah seseorang yang berkelakuan sesuai Dhamma (anudhammacari). Yang telah menghancurkan nafsu indria, kebencian, dan ketidak-tahuan, pikirannya telah bebas dari kekotoran batin, dan dari semua ikatan terhadap dunia ini, maupun pada yang selanjutnya, ia benar-benar memperoleh manfaat dari “Jalan” dan “Hasil Kesucian” (magga-phala).

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 19 dan 20 berikut ini:

“Bahumpi ce samhita bhasamano

na takkaro hoti naro pamatto

gopova gavo ganayam paresam

na bhagava samannassa hoti.

 

Appampi ce samhita bhasamano

dhammassa hoti anudhammacari

raganca dosanca pahaya moham

sammappajano suvimuttacitto

anupadiyano idha va haram va

sa bhagava samannassa hoti.”

 

Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci,

tetapi tidak berbuat sesuai ajaran,

maka orang lengah itu,

sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain.

Ia tak akan memperoleh,

manfaat kehidupan suci.

 

Biarpun seseorang sedikit membaca kitab suci,

tetapi berbuat sesuai dengan ajaran,

menyingkirkan nafsu indria,

kebencian dan ketidaktahuan,

memiliki pengetahuan benar,

dan batin yang bebas dari nafsu,

tidak melekat pada apapun,

baik di sini maupun di sana;

maka ia akan memperoleh,

manfaat kehidupan suci.

Posted 09/05/2012 by chandra2002id

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s