Sutra Amitabha Teks Panjang (Buddhavacana Amitayus Tathagata Sutra)   Leave a comment

Sutra Amitabha Teks Panjang (Buddhavacana Amitayus Tathagata Sutra)

Diterjemahkan dari bahasa Sanskekerta ke bahasa dalam Mandarin oleh :

Maha Bhiksu Sanghavarman 康僧鎧 pada masa tiga kerajaan di kerajaan Wei (220-265 M).

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh :

Up. Aryarasmiprabhamegha 1986.

Penerbit : SASANA, Jakarta, Agustus 1991.

Demikian yang kudengar :

Pada suatu saat, Sang Buddha berdiam di Vihara yang terletak digunung Grdhrakuta, dekat kota Rajagrha di negeri Magadha. Beliau bersama-sama dengan 12.000 Maha Bhiksu-Sangha tengah mengadakan Pesamuan Agung di Vihara tersebut. Para Arya yang telah memiliki 6macam Abhijna (tenaga batin) seperti: Ajnatakaundinya, Asvajit, Vaspa, Mahanama , Bhadrajit, Yasodeva,Vimala, Subahu, Purna-Maitrayaniputra, Uruvilva Kasyapa, Nadi Kasyapa,Gaya Kasyapa, Kumara Kasyapa, Maha Kasyapa, Sariputra,Mahamaudgalyayana, Malikarsthilya, Mahakapphina, Mahacunda,Aniruddha, Nandika, Kampila, Subhuti, Revata, Khadiravanika, Vakula,Svagata, Amogharaja, Parayanika, Patka, Cullapatka, Nanda, Rahula,Ananda dan lain-lainnya seperti yang berindentitas Sthavira.

Hadir pula rombongan Bodhisattva Mahasattva yang telah menguasai ajaran Mahayana pada masa ini yaitu masa yang disebut “Bhadra Kalpa”dan mereka itu ialah:

Bodhisattva Samantabhadra,

Bodhisattva Manjusri,

Bodhisattva Maitreya dan lain-lainnya.

Hadir pula Bodhisattva yang bergelar “Sodasa Satpurusa” (16 tokoh suci) yang dipimpin oleh Arya Bhadrapala dan mereka itu ialah: Bhadrapala, Ratnakara, Susarthavaha, Naradatta, Guhyagupta, Varunadatta, Indradatta, Utaramati, Visesamati, Vardhamanamati, Amoghadarsin Susam Prasthita, Suvikrantavikramin, Anupamamati, Suryagarbha, Dharanidhara.

Yang mana ke 16 tokoh suci di atas beserta tokoh-tokoh suci lain-lainnya pernah melakukan “Pelaksanaan Bodhisattva Samantabhadra”;mereka juga senantiasa melaksanakan banyak macam tekad utama dari para Bodhisattva Mahasattva yang terkemuka, dan mereka juga dapat mempergunakan cara-cara untuk mengumpulkan berbagai jasa, kemudian disalurkan kepada para makhluk di alam semesta. Mereka juga sering menjelajahi sepuluh semesta untuk menyelamatkan para makhluk yang sengsara dengan memberi berbagai metode yang berguna; mereka sering menerjunkan dirinya ke dalam lautan Buddha Dharma, cara-cara untuk menyeberangkan dirinya ke “Pantai-Sana” semua telah diperolehnya.

Apabila telah tiba saatnya mereka akan menjadi Buddha di pelbagai dunia Buddha. Ketahuilah, langkah-langkah yang akan dialami oleh mereka, terutama apabila mereka telah mengakhiri kehidupannya mereka harus bersemayam di Surga Tusita dulu, guna mengkhotbahkan Saddharma (Dharma sejati nan luhur) kepada para makhluk luhur. Jika waktu tugasnya telah selesai dan saatnya telah matang, barulah sang calon Buddha ini meninggalkan istana Tusita dan terus dilahirkan di dunia yang dimaksudkan, melalui sebelah rusuk dari badan ibunya.

Umpamanya, pada saat Maha Guru kita turun dari Surga Tusita, pernah Beliau turun dengan peristiwa yang jarang ada, yang mengharukan seluruh semesta! Ketahuilah, saat “Sang Bayi” baru mengunjungi ke dunia manusia. Ia pernah menlangkahkan kakinya 7 tapak di atas bunga teratai, dengan kaki yang sedemikian mungil dan lembut di depan ibunya.

Demikian pula sinar hidup yang keluar dari tubunya yang terang benderang, secepat kilat memancar ke 10 penjuru, sehingga pada segala alam Buddha terasa ada 6 macam guncangan! Setelah Sang Bayi berjalan 7 tapak lantas ia menegakkan tubuhnya yang meliputi sinar itu dengan sikap amat perkasa seraya mengucapkan kata-kata sebagai berikut:

artinya:

Akulah pemimpin dalam dunia ini!

Akulah yang tertua dalam dunia ini!

Akulah yang teragung dalam dunia ini!

Akulah yang dihormati oleh Raja Indra, Raja Brahmana;

juga yang dipuja oleh Dewa-dewa dan umat manusia!

Kemudian, beliau semakin dewasa dan Ia dapat mempertunjukan berbagai ketrampilan seperti: Pandai ilmu Matematika, Kesusasteraan, disamping pandai mengendalikan kuda sambil memanah; Beliau juga mampu menguasai dengan sangat mendalam seluruh Pancavidya dan kitab-kitab Caturveda. Beliau sering berada di lapangan Taman Istana guna melakukan latihan jasmani dan menguraikan kecakapan kepada pengikutNya.

Suatu saat Beliau tengah menampakkan diriNya di istana mewah yang demikian banyak kebahagiaan diliputi bau sedap dan barang-barang indah; akan tetapi, tidak selang beberapa waktu tiba-tiba sifat kemuliaanNya berubah menjadi sifat pendiam, bahkan amat sadar terhadap segala peristiwa duniawi setelah Ia menyaksikan duniaNya yang demikian bahagia tetapi tidak luput dari berbagai belenggu penderitaan seperti penyakit, usia tua, kematian, bencana-bencana alam dan lain-lainnya. Sehingga Beliau bertekad mencari suatu “obat” atau Saddharma untuk menghancurkan belenggu penderitaan tersebut. Kemudian Beliau meninggalkan segala harta dan takhta singgasanaNya dan terus pergi ke dalam hutan kemudian semua baju indah, beberapa jenis perhiasan yang berharga, sebuah mahkota permata dan Keyuran-keyuran (untaian) mustika yang dikenakannya, serta seekor kuda Kanthaka yang disayanginya dikirim kembali ke istanaNya; demikian pula rambut dan kumis dicukurNya’ habis, seluruh badan hanya dilindungi oleh jubah kasar saja! Sejak itu, Beliau tiap hari duduk bersila di bawah pohon, kecuali waktu hendak buang air atau makan, guna melatih berbagai jenis Vipasyana dan Samatha di dalamSamadhiNya.

Beliau hidup bertapa di hutan Uruvilva, hingga genap 6 tahun, akhirnya cita-cita agung beliau itu terwujud! Beliau memberitahukan kepada para umat manusia yang berada di dunia yang sedang mengalami Pancakasaya (5 macam kekeruhan) ini, baik lahir maupun batin sudah dicemari kekeruhan harus dibersihkan segera.

Maka Beliau memandikan diri di dalam arus emas atau Sungai Nairanjana, untunglah, setangkai  dahan pohon sengaja di tekankan ke muka sungai oleh para Dewata yakni Pelindung Dharma, barulah Beliau mendapat kesempatan ke luar dari badanNya yang telah bersih itu dari dalam air. Saat Ia hendak pergi ke tempat MandalaNya, terdapatlah banyak unggas-unggas yang berbulu aneka-warna datang mengikuti, riang gembira. Terdapat juga berbagai Margasatwa datang menemaniNya. Bahkan banyak tanda-tanda kebahagiaan yang jarang terlihat juga menampakkan diri di depanNya guna memuji jasa-jasa Beliau yang demikian agung dan tak terhingga! Setelah tiba di tempat MandalaNya Beliau menerima seberkas rumput halus dari seorang dermawan yaitu pengembala Nanda dengan perasaan terharu, rumput tersebut lalu dihamparkan di bawah pohon Bodhi-Indra. Di situlah Beliau duduk bersila dan seluruh tubuhNya terus mengeluarkan sinar hidup yang amat terang benderang.

Dengan cara ini Beliau memberitahu kepada para Mara jahat yang berada di Maraloka. Kemudian datanglah pasukan-pasukan Marakayika berbondong-bondong di sekeliling Mandala Beliau, mereka bermaksud hendak mengadakan percobaan terhadap kesaktian Buddha yang baru itu. Akhirnya kalahlah para Mara jahat di bawah kewibawaan Abhijnabala Buddha yang demikian hebat dari Beliau, sehingga semua pasukan Mara di taklukkan oleh Maha Guru kita!

Kini Maha Guru kita telah memperoleh Dharma yang paling luhur,bahkan Beliau benar-benar sudah mencapai Anuttara Samyaksambodhi, menjadi seorang Buddha di dunia Saha!

Ketahuilah, waktu kabar baik ini baru sampai di Surga, datanglah raja-raja seperti Raja Sakra Deva Indra, Raja Brahmana dan sebagainya.Mereka turun dari Surga dengan maksud ingin memberi penghormatan kepada Buddha baru ini, juga ingin memohon kepada Beliau untuk memutar roda Dharma. Mereka ingin mengikuti langkah-langkah Buddha dengan mendemonstrasikan suara Simhanada (laksana auman singa) dan belajar berbagai ketrampilan seperti membunyikan gendang Dharma, meniup siput Dharma, memegang keris Dharma, memasang Dhvaja Dharma, menggemuruhkan guruh Dharma, mengilatkan petir Dharma, mencurahkan hujan Dharma dan menyedekahkan Dana Dharma, agar suara-suara dari Dharma luhur dapat membangkitkan Bodhicitta para umat di semesta terus-menerus!

Pada saat sinar hidup Sang Buddha menjadi 6 macam guncangan hingga ke 10 penjuru alam Buddha, loka Mara bahkan istana Mara pun tidak luput merasakan guncangan itu sehingga para anak-buah Sang Mara pun tunduk semua atas kewibawaan Buddha! Akan tetapi, Beliau tak segan-segan memberhentikan kesibukan duniawi; juga tak segan-segan merusakkan pelubang-pelubang nafsu dan sebagainya. Meskipun kota DharmaNya tiada hari tanpa dijaga ketat, tapi pintu DharmaNya tetap dibuka untuk para umat, guna membersihkan keringat-kotor dari para umat agar lahir dan batinnya bisa suci murni seperti semula.

Kemudian disinari Buddha Dharma yang bercahaya kepada mereka semua, agar ajaran-ajaran sejati ini dapat melimpah ke seluruh semesta hingga seluas-luasnya!

Karena Beliau tak segan-segan mengamalkan kebajikan sebanyak-banyaknya dan kemudian disalurkan lagi kepada para simpatisan Dharma, maka saat Ia memohon sedekah di pelbagai negeri asing yang dikunjungiNya itu; Ia selalu dihadiahi bermacam-macam makanan yang lezat. Ketahuilah apabila Beliau akan mengkhotbahkan DharmaNya pastilah sikapNya selalu riang gembira. Apalagi Beliau sering mengobati para umat yang tengah mengalami 3 macam Duhkha dengan obat yang sangat berkhasiat yakni Dharma sejati. Demikian pula, apabila Beliau berada di depan para pendengar Ia sering mengatur cara-cara untuk menimbun jasa-jasa, agar para suci cepat di-vyakaranakan (wisudha) hingga setingkat dengan Bodhisattva, agar cepat mencapai Samyaksambodhi, agar dapat mencontoh caranya ber-Pari Nirvana kepada para umat, agar dapat memanfaatkan segala makhluk yang jumlahnya tak terhingga, agar mereka cepat menghilangkan cela-celanya, dan banyak menanam benih kebajikan sehingga jasa-jasanya lengkap semua, kemudian langsung menjelajahi pelbagai alam Buddha guna mengembangkan Buddha Dharma di sepuluh penjuru dunia.

Sungguh, Maha Guru kita bukan saja lahir dan batinNya telah suci murni, akan tetapi ketrampilanNya pun sangat luar biasa, Beliau dapat Nirmita (menjelma) kedalam bermacam-macam rupa, baik berupa wanita maupun lelaki, kesemuanya menurut keperluanNya!

Nah, ketahuilah! Para Bodhisattva, para Arya yang berada di arena Pasamuan Agung ini, semua mempunyai status seperti Sang Buddha!

Mereka rajin mempelajari bermacam-macam metode, lalu dipahami, disintesa, dianalisa dan dilaksanakannya. Dharma-Dharma yang DialihkanNya merupakan inti-sari sehingga banyak umat senang mengamalkannya. Mereka sering berada dipelbagai negeri Buddha, di sanalah mereka tidak pandang bulu, kepada siapapun selalu sopan, sikapnya tidak sombong sedikitpun. Hatinya senantiasa mengibakan hatinya kepada segala makhluk apapun, agar semua dapat membebaskan belenggu penderitannya!

Lagipula, segala ajaran-ajaran tentang “Pelaksanaan Bodhisattva” pun dicapai oleh mereka hingga puncak. Kini nama-nama Beliau telah diketahui oleh umum, maka para umat yang berada di 10 penjuru banyak dibimbing oleh mereka. Dan mereka selalu disanjungi serta dilindungi oleh para Buddha. Ilmu apa saja yang dipegang oleh para Buddha kini banyak yang berada di tangan mereka. Segala usaha yang dirancang oleh para Maha Arya yang terkemuka itu dapat mereka kerjakan dengan lancar.

Bahkan banyak komentar-komentar dari para Tathagata juga dilakukan sebagai tugas oleh mereka. Mereka adalah Maha Guru yang sedang meneladani para Bodhisattva di masa yang akan datang!

Dan lagi, para Bodhisattva, para Arya tersebut, juga tidak segan-segan membimbing siswanya menjalankan berbagai Samadhi serta pengetahuan “Prajna” yang sangat mendalam, agar siswanya dapat memahami Dharmata (hakikat Dharma) dan Sattvarupam (jenis-jenis rupa makhluk).

Mereka juga mengetahui di negara-negara mana terdapat umat-umat yang memuja para Buddha. Mereka sering menjelmakan dirinya seperti sinar petir yang berkilat; mereka juga mencapai ilmu Abhaya (tanpa ketakutan) dan macam-macam ilmu Maya (menjelma); maka mereka sering merusak jala-jala Mara, membebaskan para korban yang tersesat di dalam jala tersebut. Kini status mereka telah melampaui para Sravaka atau para Pratyekabuddha dan telah mencapai Samadhi yang disebut Sunyata (kekosongan), Animitta (tanpa tanda atau kesan) dan Apranihita (tanpa nafsu keinginan). Mereka sering mempergunakan metode yang sangat Upaya (berfasilitas, praktis) untuk membujuk para si keras bahwa tingkat Buddha yang terdiri dari 3 Yana (kendaraan) itu, pada hakikatnya hanya satu saja!

Apabila tugasnya sudah sempurna maka tibalah saatnya mereka akan mengakhiri kehidupannya sebagai seorang manusia biasa, dan pada saat itu pula mereka akan memproklamasikan kepada umum bahwa Ia telah mencapai Nirvana!

Walaupun para tokoh suci tersebut telah memperoleh Penerangan Agung, telah mencapai Nirvana, tapi dalam pandangan mereka sama sekali tidak ada sesuatu yang diperbuatnya, tidak ada sesuatu yang dimilikinya. Status mereka tanpa lahir tanpa musnah! Akan tetapi, mereka telah mempunyai badan “Samata-dharmakaya” (badan Dharma terseimbang), telah menguasai ratusan ribu jenis Dharani (mantra) penting juga mencapai ratusan ribu jenis Samadhi yang luhur. Pancaindra mereka demikian tajam, demikian supernormal. Konsentrasi terhadap batinnya pun demikian tenang tanpa bergerak sedikitpun, sehingga Vijnanannya (batinnya) tetap bertumpu di dalam Bodhisattva-Dharmakara serta menikmati suatu Samadhi luhur yang disebut Samadhi Buddhavatamsaka.

Dan lagi segala Sutra Buddha Dharma dapat mereka uraikan. Mereka selalu berada di kalam Samadhi-Mukha, maka itu, banyak Buddha masa sekarang dapat terlihat olehnya! Hanya dengan sekilas merenung saja, Vijnana mereka telah melayang dipelbagai alam semesta, baik alam yang dihuni oleh makhluk- makhluk sengsara ataupun alam kenikmatan; Makhluk-makhluk tersebut dapat ditolong dengan ketrampilan yang mereka miliki. Apalagi mereka telah memiliki kecakapan Pratibhana (berlidah fasih) seperti Sang Buddha, dapat menggunakan berbagai bahasa untuk mengajarkan Dharmanya kepada para makhluk yang berbeda bangsa!

Sungguh, ketrampilan dari para tokoh suci tersebut sejak jauh hari telah melampaui segala umat di pelbagai dunia. Tetapi, betapa keibaan hati bahwa cita-cita mereka tiada pengharapan yang lain kecuali dititikberatkan kepada usaha-usaha pembebasan makhluk sengsara, hanya itu saja!

Adapun waktu mereka menjalankan tugasnya belum pernah dengan cara memaksa, segala tindakan hanya menurut kemampuan dan kemauan umat!

Oleh karena mereka adalah sahabat karib bagi para umat, maka mereka senantiasa memberi pertolongan kepada para umat sengsara dengan cara sukarela. Dan tugas-tugas yang terpenting yang dihayati oleh mereka adalah:

1) Mengusahakan pembebasan segala makhluk dari penderitaan;

2) Menerima dan mempertahankan Dharma luhur diwejangkan oleh para Tathagata, agar benih Dharma luhur dapat dibiarkannya hingga selama-lamanya tanpa musnah! Mereka sering menggerakkan hati penyayang dan sikap belas-kasihan terhadap segala makhluk, mengajari dengan kata-kata yang mengandung makna Maitri-Karuna (welas-asih), mendidik dengan kata-kata yang mengandung makna Maitri Karuna (welas-asih), mendidik dengan saran Dharmacaksu agar makna-makna dan Dharma dapat menerangi mata  umat. Lebih-lebih malahan berani mengatur para umat untuk menyumbat jalan Tridusgati (3 alam kesedihan); Tapi pintu Kusala (kebaikan) tetap dibukanya lebar-lebar. Kemudian mereka tak segan-segan mengalihkan segala Dharma luhur yang sulit diperolehnya kepada para rakyat jelata!

Adapun sikap-sikap mereka tidak berbeda dengan seorang anak jujur yang mengabdi kepada ayah dan bundanya. Segala keluhan yang datang dari para umat juga dianggapnya sebagai urusannya juga. Jasa-jasa dan segala kebajikan yang mereka kumpulkan itu semuanya disalurkan kepada para umat, untuk dijadikan perbekalan guna menyeberang ke “Pantai sana”!

Perjuangan diri itu tidak akan sia-sia malahan dapat dibalas dengan anugerah dari para Tathagata yang banyaknya akan berlipat ganda!

Demikian pula, baik kebijaksanaannya, daya super-normalnya maupun berbagai ketrampilan yang telah Adhisthana (dikuatkan) oleh para Tathagata, banyaknya juga tak dapat diperkirakan!

Ketahuilah, di arena Pasamuan Agung yang sedang diresmikan oleh Sang Buddha Sakyamuni ini, para Bodhisattva Mahasattva yang beridentitas seperti tersebut di atas itu, jumlahnya tak dapat dihitung; semua ikut-serta di dalam Vihara. Pada saat itu, wajah Sang Buddha Sakyamuni tampak berseri-seri seluruh pancainderaNya penuh semangat dan bercahaya sangat cemerlang, sangat menonjol di depan Pasamuan Agung itu.

Kemudian, Arya Ananda bangkit dari tempat duduknya lalu merapikan jubahnya dengan cara menampakkan pundak kanan, sambil merangkapkan ke dua telapak tangannya lalu bernamaskara di depan

Sang Buddha seraya berkata:

“O, Bhagavan yang termulia! Hari ini suasana di dalam Pasamuan Agung ini sangat mengharukan hati kami! Bahwa seluruh pancaindera dan wajah Buddha belum pernah kami lihat berseri-seri hingga demikian!

Girang, terang serta cemerlang tidak berbeda dengan pancaran sinar cermin dari kaca murni, baik di dalam maupun di luar pun demikian terangnya! Kewibawaan, kemuliaan pun demikian agung hingga tak ada seorangpun yang dapat menandinginya! Juga tak ada seorang pun yangpernah melihat wajah yang begitu rupawan seperti sekarang!”

O, Maha Arya! Namo Sarvajnaya!” Arya Ananda melanjutkan pertanyaannya:

“Sungguh, di dalam pikiranku telah terbayang terus-menerus: Apakah hari ini Sang Bhagavan yang terhormat memperoleh suatu Dharma yang terunik? Apakah hari ini Sang Bhagavan yang adikuasa telah mencapai suatu ketrampilan luhur dari para Tathagata? Apakah hari ini Sang Bhagavan yang memiliki Lokacaksu akan menjalankan tugasNya sebagai Sang Pedoman-Besar? Apakah hari ini Sang Bhagavan yang perkasa telah memegang suatu propaganda yang terunggul? Atau hari ini Sang Bhagavan akan mengomentari Jasa-Jasa dari para Tathagata! Yah, betul! Para Buddha baik yang sekarang maupun yang lampau ataupun yang akan datang, Mereka selalu saling merenung satu sama yang lain.

Apakah tidak mungkin Sang Bhagavan yang sekarang sedang mengadakan perenungan terhadap para Buddha yang lampau? Sehingga seluruh pancaindera dan wajah Beliau berseri-seri! Bukankah suatu isyarat yang penuh rahasia yang telah, diumumkan di depan para hadirin di dalam Pasamuan ini?”

Saat Sang Buddha Sakyamuni habis mendengar perkataan Arya Ananda terperanjatlah Ia lalu bersabda kepada Arya Ananda:

“O, Arya Ananda yang bijak! Apakah anda disuruh oleh para Dewata untuk menegur Buddha atau sekedar hati sanubarimu didorong oleh kebijaksanaan-mu?”

“Bukan O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Arya Ananda, “Bukan disuruh oleh para Dewata! Cuma pada saat saya melihat wajah Sang  Bhagavan di dalam hatiku, maka kutanyakan.”

Sabda Sang Buddha selanjutnya: “Sadhu! Sadhu! Sadhu! Tepat sekali pertanyaan anda, O, Arya Ananda! Betul, anda telah mulai menggerakkan kebijaksanaanmu yang dalam! Anda juga memiliki kecakapan Pratibhana (berlidah fasih) yang baik, demi memperhatikan para makhluk sengsara anda memohon petunjuk kepada Buddha.

Ketahuilah O, Arya Ananda yang bijak! Para Tathagata sengaja memunculkan dirinya di dunia maksudnya tiada lain hanya satu tujuan yakni, Mereka hendak melimpahkan perasaan Maitri-Karuna yang Maha luhur di lingkungan Triloka; Mengembangkan Buddha Dharma di alam semesta; Menyelamatkan para makhluk sengsara di pelbagai dunia, kemudian dimanfaatkan dengan serbaguna oleh umat, agar mereka dapat membebaskan segala belenggu penderitaan!”

“O, Arya Ananda yang bijak! Sungguh, kesempatan ini sulit ditemukan selama berjuta-jutaan tahun! Kemunculan Sang Tathagata itu bagaikan sekuntum bunga Udumbara yang lama sekali baru mekar! Maka tepat sekali pertanyaan yang timbul pada diri anda itu akan bermanfaat bagi para Dewa dan manusia!

O, Arya Ananda! Ketahuilah, bahwa seorang Buddha yang telah mencapai Samyak-sambodhi, kebijaksanaanNya; Daya supernormalNya serta ketrampilanNya semua telah mencapai titik puncak dan keluhurannya tak dapat diperkirakan! Baik dari aspek manapun. Aspek memimpin, mengatur, memandang ataupun khusus dari aspek mengungkap segala sesuatu, bagi mereka tanpa halangan sedikitpun!

Apalagi, mereka hanya dengan waktu sesekali santapan saja dapat mempertahankan hidupNya hingga ratusan ribu Kalpa atau lebih!

PancainderiaNya tetap tajam tanpa rusak; WajahNya berseri-seri seperti semula tanpa berubah sedikitpun! Mengapa keawetan bisa hinggademikian? Sebab, baik bagi Samadhi maupun bagi PrajnaNya semua telah melampaui tingkat yang teratas! Apalagi mereka telah bebas dari segala angkutan!”

“O, Arya Ananda yang bijak! Dengarlah baik-baik! Sekarang Aku akan berkhotbah tentang suatu Dharma yang sangat berharga kepada kamu sekalian!”

“Mohon dikhotbahkan, O, Bhagavan yang termulia! Kami telah siap mendengar!” Jawab Arya Ananda.

Saat itu, Sang Buddha Sakyamuni memberitahukan kepada Arya

Ananda serta para hadirin:

“Pada dahulu kala lamanya adalah Asamkhyeya Kalpa yang sulit diperhitungkan! Pada masa itu terdapat seorang Buddha yang bernama Dipankara Buddha muncul di dunia. Beliau pernah menyelamatkan banyak yang menderita, kemudian kesemuanya dibimbingNya hingga mencapai Kebuddhaan di negeri-Nya! Setelah Buddha Dipankara Parinirvana O, Arya Ananda! Selang beberapa lama menyusul lagi Buddha Pratapavat dan berturut-turut Buddha.

Prabhakara, Candanagandha, Sumerukalpa, Candana, Vimalanana, Anu-Palipta, Vimalaprabha, Nagabhibhu, Suryodana, Girirajaghosa, Merukuta, Suvar-Naprabha, Iyotisprabha, Vaiduryanirbhasa, Brahmaghosa, Candabhibhu, Turya-ghosa, Muktakusumapratimanditaprabha, Srikuta, Sagaravarabuddhivikri, Dita-Bhijna, Varaprabha, Mahagandharajanirbhasa, Vyapagatakhilamalapratighosa, Surakuta, Rananjaha, Mahagunadharabuddhipraptabhijna, Candrasuryajih-Mikarana, Uttaptavaiduryanirbhasa, Cittadharabuddhisankusumitabhyudgata, Puspavativanarajasankusumitabhijna, Puspakara, Udakacandra, Avidyandhaka-Ravidhvamsanakara, Lokendra, Muktacchatrapravatasadris, Tisya, Dharmamati-vinanditaraja, Simhasagarakutavinanditaraja, Sagaramerucandra, Brahmasvara-Nadabhinandita, Kusumasambhava, Praptasena, Candrabhanu, Merukuta, Can-Draprabha, Vimalanetra, Girirajaghosesvara, Kusumaprabha, Kusumavrstyabhi-Prakirna, Ratnacandra, Padmabimbyupasobhitta, Candanagandha, Ratnabhi-Bhasa, Nimi, Mahavyuha, Vyapagatakhiladosa, Brahmaghosa, Saptaratnabhivrsta, Mahagunadhara, Mahatamalapatracandana-Kardama,Kusumabhijna, Ajnanavidhvamsana, Kesarin, Muktacchatra, Suvarnagarbha, Vaiduryagarbha, Mahaketu, Dhannaketu, Ratnaketu, Ratnasari, Lokendra, Narendra, Karunika, Lokasundra, Brahmaketu, Dharmamati, Simha. Simhamati.

Menyusul Buddha Simhamati muncul lagi seorang Buddha yang Maha Sempurna di dunia yaitu, Tathagata Sokesvararaja yang memiliki gelar Dasaha-Raguna: Tathagata, Arhate, Samyaksambudha, Vidyacarana-Sampanna, Sugata, Lokavid, Anuttara, Purusa-Damya-Sarathi, Sastadevamanusyanam dan Buddha-Lokanatha’ti. Saat Beliau tengah mengembangkan Buddha Dharma kepada para umat di negeriNya!”

“Pada saat itu, terdapat seorang raja yang maha kuasa sedang mendapat kabar bahwa di dunianya telah muncul seorang Buddha Baru tengah mengajari para umat dengan Dharma luhur. Hati raja amat riang gembira setelah ia mendengar kabar baik itu, dengan segera ia membangkitkan Kebodhicittaannya yang sangat mendalam dan ia ingin sekali akan mengikuti langkah-langkah Buddha guna memanfaatkan rakyat-rakyatnya serta segala makhluk yang berada di semesta.

“Setelah raja tersebut mengambil putusannya yang demikian hebat ia segera meninggalkan segala harta dan tahkta singasananya, langsung menjadikan seorang Sramana dengan nama Dharmakara. Ketahuilah O,Arya Ananda! Sang Sramana tersebut bukan saja berpendidikan demikian tinggi, semangatnya demikian gagah-berani ia juga bercita-cita amat luhur agak lain dibandingkan daripada siapapun yang berada di dunianya!”

“Kemudian.” Sang Buddha Sakyamuni meneruskan khotbahNya:

“Sang Sramana, Dharmakara terus menuju ke tempat Buddha Lokesvara-raja itu, dan menemui Beliau di dalam ViharaNya. Di situlah Sang Sramana dengan sikap hormat berlutut di depan Buddha Lokesvararaja dan memberi penghormatan kepada kedua kakiNya, lalu berdiri lagi dan mengelilingi Sang Buddha tersebut sebanyak 3 kali. Selesai itu ia berlutut kembali di tempatnya dan merangkapkan kedua telapak tangannya sambil mengucapkan pujian-pujian seperti berikut:

O, Lokanatha yang termulia! WajahMu, semangatMu berseri-seri dan perkasa! Sinar hidupMu-pun demikian cemerlang, Tiada yang dapat diperbandingkanNya!

Sinar Siva, Sinar mutiara, Sinar Bulan dan Sang Surya; Sinar mereka demikian gelap, Gala-galanya tersembunyi belahan dunia! Sungguh, rupawanMu riang gembira, Cantiknya pun melampaui insan di dunia! Irama asala Samyak Sambuddha, Berkumandang ke- penjuru daerah. Sila, Samadhi dan PrajnaNya, Demikian Virya dan sempurna!

Kebajikan, kewibawaan siapapun kalah,  Keistimewaan ini, sungguh jarang ada! Baik dalam praktek atau perenungan, Buddha Dharma tak berbeda dengan Samudra! Betapa sukar agar dapat sukses,

Dari puncak hingga ke dasar. Raga, Dosa, Moha ketiga-tiganya, • Samasekali tak dimiliki

Tathagata! O, Nara-Simha yang perkasa!  SupernormalMu sungguh tak terhingga! NamaMu, jasaMu setinggi Sumeru, KebijaksanaanMu, kewibawaanMu telah -menggemparkan Tiga ribu-Maha ribu Dunia! Mohonlah ‘ku dijadikan

Buddha O, Lokanatha! Supaya ketrampilanku sama dengan Dharmaraja. Aku berjanji: Segala makhluk akan kuselamatkan, Mereka pasti bebas semua! Aku akan menghayati Dana-Paramita, Sila, Ksanti dan Virya. Demikian pula dengan Dhyana, Tapi Prajna-lah yang terutama! Aku berikrar mohon menjadi Buddha, Aku melimpahkan cita-luhurku ke semesta! Segala kegemparan, ketakutan umat, Akan ku-tenteramkan secara total!

Seandainya dunia ini terdapat Berjuta-juta Tathagata, Muncul lagi para maha-Arya, Banyaknya seperti pasir Gangga. Kini setiap Buddha, Arya, Akan dipujakan selengkap-lengkapnya! Betapa besar jasa diperoleh, Tapi, Aku cuma mementingkan Dharma!

Meskipun negeri Buddha bagaikan Butiran pasir Sungai Gangga, Dan dunia-dunia di tata-surya; Banyaknya pun tak terhingga! Akan tetapi, alam-alam tersebut, Tetap akan ku-sinari dengan cahaya!

Karena Virya-Virya telah kucapai, Maka, Daya-supernormalku mejadi sekian hebat! Apabila, aku telah mencapai Kebuddhaan, Alam Buddha-ku akan terkemuka! Rakyat-rakyatku-pun demikian unik, takwa; Mandala-ku juga termegah nan indah! Apabila, Sang umat tiba di negeriku, Penikmatan mereka ta’berbeda dengan Nirvana. Percayalah, aku akan memiliki belas kasihan, Makhluk-makhluk apapun akan kuselamatkan!

Makhluk-makhluk yang datang dari 10 penjuru, Menyenangkan alam yang ta’bernoda! Setelah mereka berada di negeriku, Tetap merasa aman santosa. Percayalah O, Lokanatha termulia! Aku telah membangkitkan Bodhicitta. Agar cita-citaku dapat terwujud, Maka, aku bersumpah di depan Buddha.

O, Tathagata di pelbagai Dunia! Prajna yang dimilikiMu Avarana. Sudilah menyarankan kepada Lokesvararaja, Agar menerima hatiku yang sekian setia! Meskipun nasibku akan di neraka, Kawah penuh api dan Duhkha! Tapi, aku tetap seperti semula, Takkan menyesal, tak mundur selangkahpun!”

Sang Buddha Sakyamuni selanjutnya bersabda kepada Arya Ananda bahwa saat Sang Sramana Dharmakara mengakhiri bait-bait pujaannya, ia berkata lagi: “O, Lokanatha yang termulia! Aku telah menggerakkan Bodhicittaku yang demikian dalam dan luhur; Maksudku agar Sang Buddha Lokesravaraja sudi mengajar aku dengan Dharma luhur dan berbagai metode-metode komplit.

Aku akan mempraktekkannya dengan kebulatan tekadku! Sebab aku berniat memperoleh suatu alam yang paling  menakjubkan; Paling indah dan suci murni diantara alam-alam Buddha diluar Triloka; Agar aku mendapat kesempatan dijadikan seorang Buddha yang terunggul di alam itu! Demikian pula, aku berhasrat ingin memusnahkan segala akar penderitaan serta tumimbal-lahir dan kematian dari para umat hingga tuntas!”‘

Sang Buddha Sakyamuni terus melanjutkan sabdaNya kepada Arya Ananda:

“Pada waktu itu Sang Tathagata Lokesvararaja menjawab Sang Sramana Dharmakara: ‘O, Arya Dharmakara yang bijak! Bagaimana caranya melaksanakan Dharma dan bagaimana caranya mengindahkan alam Buddha, anda ‘kan sudah mengerti?’

Tidak O, Lokanatha yang termulia!’ Jawab Sang Dharmakara: ‘Hakikat-hakikat bagi Buddha Dharma demikian luhur lagi sulit dipahami; Apalagi statusku masih sekian rendah lagi bingung! Maka dari itu, aku memohon Sang Lokesvararaja sudi memberikan wejangan-wejangan yang terluas tentang cara-cara melaksanakan Dharma guna membentuk satu alam suci seperti telah dimiliki oleh para Tathagata itu! Yakinilah O, Lokanatha yang  termulia! Aku bertekad akan berpedoman kepada Sang Lokesvararaja, agar cita-citaku dapat sempurna secara cepat!’ Ketika Buddha Lokesvararaja telah mengungkapkan bahwa kepintaran Sang Dharmakara sungguh luar biasa dan juga berpandangan luas sekali. Kemudian Beliau segera mendorongkan Bodhicitta Sang Sramana tersebut hingga puncak dan diajariNya dengan bait demikian :

Seandainya, seorang bersemangat perkasa, Ia mengeringkan air Samudra; Setelah ber-Kalpa-Kalpa masa dikerjakan, Permata di dasar semua diperolehnya! Seandainya, anda berani berusaha, Mempraktekkan Dharma dari masa ke masa; Cita-citamu semua akan terwujud, Apakah pahala agung tak dapat anda peroleh? Setelah bait-bait tersebut diucap, Sang Lokesvararaja langsung mengkhotbahkan Dharma secara luas meliputi berbagai identitas-identitas dan ciri-ciri khas jumlah 210 Koti negeri Buddha kepada Sang Bhiksu Dharmakara. Di antaranya seperti bermacam-macam Dewa, manusia dan makhluk-makhluk lain, baik yang bersifat jujur maupun bersifat jahat,kesemuanya terdapat di dunia yang berbeda-beda. Dan  kondisi-kondisi dari dunia tersebutpun demikian pula, ada berkwalitas halus tapi ada berkwalitas kasar; Kini, baik jelek, buruk ataupun damai, indah semua dipertunjukkan oleh Sang Tathagata tersebut satu demi satu di depan Bhiksu Dharmakara, agar dia dapat mengungkapkan dengan sukacitanya!”

“Ketahuilah O, Arya Ananda! Setelah Sang Bhiksu Dharmakara mendengar Khotbahan dan menyaksikan dunia-dunia Buddha yang ditunjukkan oleh Sang Tathagata Lokesvararaja itu, cita-cita luhur segera timbul di dalam hati sanubarinya. Sejak itu, baik lahir maupun batin disucikan sangat ketat, hingga segala tanpa nafsu duniawi yang melekat sedikitpun! Sungguh, perilakunya yang terpuji itu tak ada seorang yang dapat menandinginya! Apalagi, selama lima Kalpa pelaksanaannya terus menerus, tiada hari tanpa kerja keras! Demikian pula maksudnya hanya satu yakni ingin mensukeskan Dharma luhur hingga memperoleh suatu alam Buddha yang tersuci, terindah dan terbahagia!”

Sementara Arya Ananda tiba-tiba bertanya kepada Buddha Sakyamuni:

“Berapakah panjang hidupnya Buddha Lokesvararaja pada masa itu?

O, Bhagavan yang termulia! Sudilah diterangkannya!”

“Panjangnya 42 Kalpa.” Sabda Sang Buddha: “O, Arya Ananda!

Ketahuilah, setelah Bhiksu Dharmakara mempraktekkan Dharma luhur dan terus mengumpulkan pelaksanaan suci dari 210 Koti dunia Buddha yang khas; Selama 5 Kalpa demikian terus menerus tanpa henti-henti akhirnya dapat dijadikannya satu alam Buddha yang demikian suci dan murni, demikian indah dan megah! Setelah itu Sang Bhiksu baru kembali ke tempat Tathagata Lokesvararaja dan memuja kaki Buddha, mengelilingi Buddha 3 kali, kemudian berlutut dan ber-Anjali lagi di depan Buddha seraya berkata: ‘O, Lokanatha yang termulia! Berkat Tathagata aku selama 5 Kalpa mempraktekkan Dharma terus menerus, segala “Pelaksanaan Suci” yang kukumpulkan dari 210 Koti dunia Buddha telah sukses lagi sempurna! Sekarang pantaslah aku mengaturkan beribu-ribu terima-kasih kepada Tathagata Lokesvararaja yang termulia!’ Waktu Sang Lokesvararaja mendengar laporan dari Bhiksu Dharmakara hatiNya amat girang gembira, lantas Beliau bersabda kepada Sang Bhiksu: ‘O, Bhiksu yang terbijak! Sudah tiba saatnya, sekarang anda harus mengadakan suatu pengumuman resmi kepada para umat tentang suatu “Maha- Pranidhana” (tekad-utama) yang anda usahakan guna memanfaatkan segala makhluk di alam semesta itu!

Agar para simpatisan Dharma dapat bersama-sama ikut gembira: Para Bodhisattva dapat menghayati metode-motode yang anda peroleh itu, supaya segala usaha suci yang mereka kerjakan dapat sukses dan segala cita-cita agung yang dimiliki merekapun dapat disempurnakan!’

‘Beribu-ribu terima kasih O, Lokanatha yang termulia!” Ucap Sang Bhiksu kepada Sang Lokesvararaja: ‘Aku siap mengumumkan, sudi kiranya Lokanathaku dapat memperhatikan keadaannya! Inilah “Maha-Pranidhana”-ku sebanyak 48 ikrar, dan bunyinya sebagai berikut:

1) Apabila aku telah menjadi Buddha, andaikata, jika masih terdapat Alam kesedihan seperti Neraka, Setan kelaparan, Hewan-hewan dan sebagainya di negeriku, maka aku tak akan mencapai Samyaksam-buddha!

2) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di negeriku, andaikata usianya telah habis dan mereka masih diterjunkan di 3 alam Kesedihan, maka aku tak akan mencapai Sam-yaksambuddha!

3) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia yang berada di negeriku, andaikata semua badannya tidak berwarna emas sejati, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

4) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di negeriku, andaikata warna kulit dan jasmaninya tidak serupa, paras dari mereka juga berbeda-beda ada yang cantik dan ada yang jelek, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

5)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia yang berada di negeriku, andaikata mereka tidak menguasai pengetahuan Purvanivasanu (daya yang dapat mengingat tumimbal-lahir yang lampau), dan mereka hanya mengerti segala kejadian dari ratusan ribu Koti Nayuta Kalpa, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

6)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di negeriku, andaikata mereka tidak memiliki caksu (mata batin) dan mereka hanya bisa melihat ratusan ribu Koti Nayuta negeri-negeri Buddha, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

7)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di negeriku, andaikata mereka tidak memiliki Divyasrotra (telinga Surga) dan mereka hanya bisa mendengar khotbah-khotbah dari ratusan ribu Koti Nayuta Buddha dan banyak ajaran Buddha mereka tidak mampu menerima seluruhnya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

8)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di negeriku, andaikata mereka tidak memiliki pengetahuan Paracittaj-nana (daya intuisi), mampu membaca pikiran makhluk-makhluk lain dan mereka hanya bisa mengetahui pikiran semua makhluk dari ratusan ribu Koti Nayuta negeri-negeri Buddha, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

9(Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di negeriku, andaikata mereka tidak memiliki pengetahuan Rddhividhi (langkah Surga) dan mereka dalam selintas merenung hanya dapat mengarungi ratusan ribu Koti Nayuta negeri-negeri Buddha saja, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

10)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di negeriku, andaikata mereka belum memiliki pengetahuan Asra-vaksaya (daya mampu memusnahkan kekotoran batin) dan mereka hanya memiliki ide-egois dan selalu memikirkan keperluan tubuh diri sendiri, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

11)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di negeriku, andaikata mereka tidak ditempatkan pada Samyaktve-niyatasi (hakikat mutlak untuk mencapai pahala yang sesuai Sang Praktek Dharma) agar semua dapat mencapai Nirvana, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

12)Apabila aku telah menjadi Buddha, andaikata sinar hidupku terbatas sehingga tidak dapat memancari ratusan ribu Koti Nayuta negeri-negeri Buddha, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

13)Apabila aku telah menjadi Buddha, andaikata masa hidupku terbatas, meskipun sampai dengan ratusan ribu Koti Nayuta Kalpa, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

14)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Sravaka yang berada di negeriku, andaikata jumlahnya dapat dihitung oleh para pratyeka-buddha yang berasal dari rakyat-rakyat di dunia Trisahasra-Mahasahasra Lokadhatu hingga lamanya ratusan ribu Kalpa, mereka dapat mengerti jumlahnya dan tidak salah hitung seorangpun, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

15)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di negeriku, kehidupan atau usianya tidak terbatas, kecuali atas kehendaknya mereka senang panjang atau pendek, jika tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

16)Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di negeriku, andaikata diantara kelakuan mereka terbukti kurang baik atau berdosa, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

17)Apabila aku telah menjadi Buddha, andaikata para Buddha yang berada di sepuluh penjuru dunia jumlah tak terhingga tidak memuliakan namaku, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

18)Apabila aku telah menjadi Buddha, para makhluk yang berada di 10 penjuru dunia setelah mendengar namaku lalu timbul keyakinan dengan riang gembira, ingin dilahirkan di negeriku dengan cara merenung atau menyebut namaku (Namo Amitabha Buddhaya!), andaikata setelah pelaksanaannya genap 10 kali tidak dilahirkan di negeriku, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha. Kecuali mereka telah memiliki dosa Pancanantarya (5 perbuatan durhaka) dan pernah memfitnah Sad-Dharma dari para Tathagata.

19)Apabila aku telah menjadi Buddha, para makhluk yang berada di 10 penjuru dunia yang telah membangkitkan Bodhicitta (bercita-cita ingin mencapai Kebuddhaan dan ingin menyelamatkan para makhluk), telah mempraktekkan dan mengamalkan berbagai kebajikan dan Dharma, dengan ini, mereka berjanji bertekad dilahirkan di negeriku. Pada saat mereka akan mengakhiri kehidupannya, andaikata aku tidak bersama-sama dengan rombonganku mengelilinginya serta menam-pakan diri di depan mereka, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha! Supaya aku menjadi perwira terunggul di Triloka!

20) Apabila aku telah menjadi Buddha, para makhluk yang berada di 10 penjuru dunia, setelah mendengar namaku mengarahkan hatinya kepada negeriku dan menanam berbagai benih kebajikan, kemudian jasa-jasanya di-Parinamanakan (disalurkan) di negeriku. Andaikata cita-citanya tidak dipenuhi, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

21) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Dewa, manusia, yang berada di negeriku, andaikata seluruh badannya tidak dilengkapi dengan Dvatrimsa-Maha-Purusa Laksana (32 macam tanda fisik agung) seperti badan Buddha dan Bodhisattva, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

22) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka para Bodhisattva yang telah lahir di negeriku yang berasal dari pelbagai alam Buddha, semua memiliki identitas disebut Ekajatipratibaddha (hanya satu kali menitis telah menjadi Buddha-pilih) kecuali:

a) Jika mereka telah mempunyai cita-cita akan menjelmakan raganya secara bebas, kemudian dengan badan Nirmitanya dilengkapi perisai-ikrar. Demi makhluk-makhluk sengsara mereka akan menimbun jasa-jasa sebanyak-banyaknya untuk membebaskan segala umat dari belenggu penderitaan dan cita-citanya ini akan tetap sukses;

b) Jika mereka akan menjelajah ke pelbagai negeri Buddha, guna mempraktekkan Bodhisattva-Carita (pelaksanaan tugas Bodhisattva) di sana, cita-citanya juga akan sukses;

c) Jika mereka bermaksud ingin mengadakan kebhaktian untuk mengabdi para Buddha yang berada di 10 penjuru dunia, ini juga akan tercapai;

d) Jika mereka akan membimbing para umat yang banyaknya bagaikan butiran pasir Sungai Gangga, agar umat-umat tersebut dapat menegakkan Saddharma teragung di dalam hatinya dan dapat meningkatkan status mereka hingga melampaui Bhumi-Bodhisattva yang setarap, agar segala contoh-contoh tentang “Samantabhadra-Guna” dapat dihayati oleh para umat yang dibimbingnya hingga sukses.

Andaikata, keadaan mereka tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

23) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di negeriku, setelah menerima Adhisthana (dikuatkan) tentang Rddhibala Buddha (tenaga gaib Buddha) dan hendak mengabdi para Tathagata, andaikata mereka tidak dapat mengunjungi negeri-negeri Buddha yang banyaknya ber-Koti-Koti Nayuta yang tak terhingga dengan waktu sekali santapan, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

24) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di negeriku itu, tiba di depan para Buddha di pelbagai dunia dan mereka sedang menampilkan jasa-jasanya guna menghasilkan bermacam-macam sajian agung serta alat-alat pujaan untuk mengabdi paraBuddha. Andaikata, segala niat yang dimaksudkan oleh mereka itu tidak muncul dengan memuaskan, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

25) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Bodhisattva yang berada di negeriku itu, tidak mampu berkhotbah tentang pengetahuan Sarvajna (segala pengetahuan Buddha) kepada pengikutnya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

26) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Bodhisattva yang berada di negeriku itu, tidak memiliki badan Vajra-Narayana (badan sekuat seperti Narayana), maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

27) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka para Dewa, manusia, serta segala sesuatu yang berada di negeriku itu, bukan saja bermutu suci murni, bercahaya dan indah rupawan, melainkan juga bentuknya, jenisnya serta warnanyapun demikian unik. Baik umat-umat maupun benda-benda semua demikian cantik, halus dan menakjubkan! Jumlah jenis-jenisnya pun sulit diperhitungkan! Juga, terdapat banyak umat yang berbakat cerdas, bahkan memiliki Mata-batin. Andaikata, mereka tak dapat mengamati jenis-jenis benda tersebut; Mereka tak dapat menjelaskan namanya serta jumlahnya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

28) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di negeriku itu, karena tidak banyak memiliki jasa sehingga tidak dapat melihat atau mengerti warna dan cahaya pohon Bodhi dari Mandalanya; Bahkan tinggi pohon yang hanya 4 juta Yojana pun juga tidak terlihat oleh mereka, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

29) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para.Bodhisattva yang berada di negeriku itu, telah menerima ajaran-ajaran Buddha seperti: Sutra- Sutra, Gatha-Gatha, Dharani penting, Vibhasa-Vibhasa (keterangan-keterangan yang amat luas) dan sebagainya, tetapi mereka masih belum memiliki ketrampilan tentang Prajna (kebijaksanaan) dan Pratibhana (berlidah fasih), maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

30) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di negeriku itu hanya memiliki ketrampilan Prajna dan Pratibhana yang terbatas, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

31) Apabila aku telah menjadi Buddha, bumi-bumi di negeriku itu akan tetap berkualitas mulus, rapi dan bersih; Sinar hidupku tetap menembus segala alam Buddha di 10 penjuru dan jumlahnya banyak sekali tak dapat diperkirakan, dan alam-alam tersebut tidak berbeda seperti wajah orang yang dicerminkan pada kaca mengkilap, seluruhnya amat terang benderang. Andaikata tidak demikian adanya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

32) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka seluruh lingkungan di negeriku mulai dari permukaan bumi terus ke angkasa terdapat banyak istana mustika yang mewah, gedung-gedung tinggi, kolam-kolam yang penuh dengan air 8 budi jasa, bunga teratai yang bermacam- macam warna, pohon-pohon dari 7 jenis mustika serta segala harta benda seperti terdapat di pelbagai dunia. Dan benda-benda tersebut semua terbuat dari berbagai permata dan ribuan jenis wewangian. Setiap bangunan dihiasi dengan amat teliti, indah, megah, halus dan menakjubkan! Kemuliaannya melampaui alam-alam manusia atau Surga; Keharumannya meliputi 10 penjuru dunia, sehingga para Bodhisattva yang berada di dunia itu setelah mencium harumnya lalu melaksanakan Buddha-Carita (pelaksanaan tingkat Kebudhaan), andaikata tidak demikian adanya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

33) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka makhluk apa saja yang berada di 10 penjuru alam Buddha tak terhingga serta sulit diperkirakan, bila badan mereka tersentuh oleh sinar hidupku, baik hati (pikiran) maupun jiwa-raganya akan merasakan kehalusan, lembut dan tanda sifat yang unik ini tetap melampaui para Dewata. Andaikata tidak demikian adanya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

34) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka makhluk apa saja yang berada di 10 penjuru alam Buddha yang tak terhingga dan sulit diperkirakan, setelah mendengar namaku, andaikata mereka tidak dapat memiliki Anutpatika-Dharma-Ksanti (menetap batin pada Nirvana) serta berbagai Dharani penting, maka aku tak akan mencapaiSamyaksambuddha!

35) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat para wanita yang berada di 10 penjuru alam Buddha yang tak terhingga dan sulit diperkirakan, dimana setelah mendengar namaku timbul keyakinan dan merasa amat riang gembira lantas membangkitkan Bodhicittanya. Dan jika sejak itu mereka tidak senang akan tubuh wanitanya dan ingin menjelma menjadi tubuh pria pada masa mendatang. Andaikata mereka masih tetap memiliki tubuh wanita dalam kehidupan berikut, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

36) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat banyak Bodhisattva yang berada di 10 penjuru alam Buddha yang tak terhingga dan sulit diperkirakan, dimana setelah mereka mendengar namaku, baik sekarang maupun di masa mendatang selalu menjalankan Sila- Sila Brahma-Carita (mengendali nafsu indera, bebas dari perzinahan) hingga memperoleh Kebuddaan. Andaikata tidak demikian, maka akutak akan mencapai Samyaksambuddha!

37) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat para Dewa, manusia, yang berada di 10 penjuru alam Buddha yang tak terhingga dan sulit diperkirakan, dimana setelah mendengar namaku maka dengan sikap sangat khidmat memberi penghormatan kepadaku sambil menimbulkan keyakinan dengan amat riang gembira, kemudian melaksanakan Bodhisattva-Carita (memanfaatkan para umat serta diri sendiri agar sama-sama mencapai Kcbuddhaan) dan berkelakuan amat suci dan agung, sehingga selalu dimuliakan oleh para manusia dan para Dewa. Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

38) Apabila aku telah menjadi Buddha, maka jika para Dewa, manusia, yang berada di negeriku menginginkan beberapa stel pakaian atau jubah, mereka akan menerimanya dan selintas merenung pakaian lengkap serta jubah-jubah khusus untuk Dharma yang tertentu; Yang selalu dipujikan oleh Sang Buddha itu, dimana semua akan berada di atas tubuhnya. Andaikata pakaian yang mereka terima itu tidak sesuai kehendaknya atau bahannya belum jadi, harus dijahit, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

39)Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Dewa, manusia yang berada di negeriku tidak dapat menikmati kebahagiaan yang sama besar dengan, para Bhiksu yang berstatus Asravaksaya (segala kotoran batin dan penderitaan telah musnah), maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

40)Apabila aku telah menjadi Buddha, maka para Bodsisattva yang berada dinegeriku jika bermaksud ingin melihat alam Buddha yang suci murni dan indah di 10 penjuru banyaknya yang tak terhingga, biar pada saat apapun mereka dapat melihatnya melalui pohon-pohon mustika dan jelasnya seolah-olah wajah seseorang tercermin pada kaca yang mengkilap, andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

41)Apabila aku telah menjadi Buddha, jika terdapat para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia, dimana setelah mendengar namaku dan tinggal sedikit saat lagi mereka akan mencapai Kebuddhaan, tapi pancainderanya atau organ-organ lain masih cacat atau fungsinya kurang normal, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

Apabila aku telah menjadi Buddha, dan terdapat para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia, setelah mendengar namaku maka semua akan memiliki suatu Samadhi luhur yang disebut Suvibhaktavati (terbebassegala ikatan) dan mereka hanya dengan sepintas pikir semua telah berada di depan Buddha yang tak terhingga dan sulit diperkirakan mengadakan pemujaan, dan saat itu mereka masih tetap didalam keadaan Samadhi pada semula belum diakhirinya. Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

42)Apabila aku menjadi Buddha dan terdapat para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia, setelah mendengar namaku, andaikata, demi suatu tugas penting mereka ingin dilahirkan di salah satu anggota keluarga yang mulia saat ia telah tutup usianya, jika tidak dipenuhi keinginannya, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

43.Apabila aku telah menjadi Buddha, maka akan terdapat para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia setelah mendengar namaku merasa amat riang gembira dan tekad melaksanakan ‘Bodhisattva-Carya’ yang terluhur hingga sukses, disamping mereka mengumpulkan jasa-jasa yang teragung selengkap-lengkapnya guna perbekalan menyeberang ke Pantai-seberang. Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

45) Apabila aku telah menjadi Buddha maka akan terdapat para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia, setelah mendengar namaku semua akan memiliki suatu Samadhi lebih luhur yakni Samantanugata (batin yang seimbang dan luas), dan dalam Samadhi itu mereka bisa dengan Mata-batin melihat para Buddha yang banyaknya tak terhingga dan sulit diperkirakan; Dan disamping itu dengan pelaksanaan Samadhi ini mereka mencapai Kebuddhaan. Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

46) Apabila aku telah menjadi Buddha, para Bodhisattva yang berada di negeriku itu, bila ingin mendengar khotbah Dharma biar pada waktu apapun tetap dapat ditangkap secara otomatis; Dan suara dari khotbahan Dharma dikumandangkan melalui sinar, arus, jaring-jaring, pohon-pohon, unggas-unggas dan sebagainya. Andaikata tidak demikian, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

47) Apabila aku telah menjadi Buddha, jika para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia setelah mendengar namaku, tidak segera memiliki Avinivartaniya (memiliki status tanpa mundur atau berpaling terhadap Kebodhian) dari Anuttara Samyaksambodhi itu, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

48) Apabila aku telah menjadi Buddha jika para Bodhisattva yang berada di pelbagai dunia, setelah mendengar namaku tidak segera memiliki 3 jenis Dharma-Ksanti, atau hanya yang pertama:

Ghosanugata- Dhar-ma-Ksanti (dengan suara dapat mengerti makna-makna Dharma);

Atau hanya yang kedua: Anulomiki-Dharma-Ksanti (batinnya sangat halus dan lembut); Atau komplet

dengan yang ketiga: Anutpattika-Dharma-Ksanti (batinnya tetap di Nirvana atau dalam keadaan tanpa lahir tanpa musnah);

Demikian pula tentang Avinivartaniya yang berasal dari Dharma luhur yang dipegang oleh para Buddha itu, maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!”

“O, Arya Ananda yang terbijak!” Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda serta para hadirin:

“Ketahuilah, saat itu, ke 48 ikrar “Maha-Pranidhana” baru disampaikan kepada Tathagata Lokesvararaja oleh Sang Bhiksu Dharmakara, Beliau mengucapkan Gatha-Gatha lagi kepada Tathagata tersebut yang bunyinya sebagai berikut:

1) Kini, ikrar-utamaku telah tersusun semua, Pastilah, aku akan mencapai Penerangan Sempurna!

O, Lokanatha termulia! Seandainya cita-citaku tak terwujud, Maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

2) Mulai Kalpa kini hingga Kalpa tak terhingga, Bila aku bukan Dermawan yang terkemuka; Tidak suka melayani para miskin secara luas, Maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

3) Apabila aku telah menjadi Buddha, Namaku pasti meliputi 10 penjuru dunia! Seandainya, sama sekali tak didengar oleh mereka, Maka aku tak akan mencapai Samyaksambuddha!

4) Aku terbebas dari nafsu indera, dari pandangan salah, Juga mempraktekkan Prajna serta Brahmacariya. Cita-citaku hanya satu yakni menjadi Buddha termulia! Juga Maha guru dari para Dewa, manusia!

5) Kini, tenaga gaibku telah dijadikan Mahaprabha (sinar terang), Sinar terang memancar ke pelbagai dunia tak terhingga! Tiga kekotoran batin (ketamakan, kebencian & kebodohan) telah musnah total, Cahayaku akan membantu umat untuk bebas dari sengsara!

6) Cahayaku akan membantu mereka membuka Mata-bijak, Cahay aku akan membantu mereka melenyapkan buta, gulita. Kini, pelbagai jalan Kesedihan telah kututup secara rapat, Cahayaku terus menerangi gerbang Kusala (kebaikan) untuk Sang Umat.

7) Kini, jasa-jasaku telah lengkap, usahakupun sempurna, Sinar kewibawaanku cemerlang di seluruh penjuru dunia. Sinar Bulan serta Sang Surya bagai gerhana total, Sinar Siva juga tertampak di ruang angkasa!

8) Aku akan membuka gedung-Dharma untuk Sang Umat, Aku akan mendanakan permata-jasa secara luas; Aku akan meraung-raungkan Simhanada di depan perhimpunan terakhir, Aku akan selalu mengkhotbahkan Dharma luhur kepada parapendengar!

9) Aku akan memuja para Tathagata yang termulia, Dengan jasa-jasaku serta kebajikanku yang terlengkap! Baik tentang Pranidhana maupun Prajna, mudah-mudahan sukses semua,

10) Seperti para Tathagata memiliki pengetahuan Avaranajnana (pengetahuan tanpa halangan). Yang lampau, sekarang, mendatang semua dipahani olehNya! O, Tathagataya! Kini kuserahkan segala jasaku dengan khidmat, Supaya aku cepat beridentitas sesama Sang Lokesvararaja!

11) O, Lokanatha termulia! Seandainya cita-citaku terwujud, Guncangan akan meliputi setiap “Tigaribu-Maharibu Dunia”! Dewa-Dewi penuh memadati di seluruh ruang angkasa, Demi memuja aku, dihujani dengan bunga Mandarawa Surga!

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda: “O, Arya Ananda! Saat Gatha-Gatha tersebut selesai diucapkan oleh Bhiksu Dharmakara, segeralah seluruh alam merasa ada 6 macam guncangan dan bunga-bunga Mandarava Surga sebagai hujan salju melayang-layang dari langit ke bawah dihamparkan ke muka bumi. Disamping itu suara-suara merdu serta sedap di dengar terus menerus dikumandangkan oleh musik Surga juga dari langit, kesemuanya memuji Sang Bhiksu Dharmakara:

O, Arya suci yang termulia! Perjuangan anda tidak akan sia-sia! Pastilah, anda mencapai Anuttara Samyaksambuddha: Di suatu alam Buddha yang terbahagia!

“O, Arya Ananda! Sejak itu, Bhiksu Dharmakara dengan segenap tenaganya mempraktekkan Dharma-Dharma luhur tanpa henti-hentinya, sehingga setiap Maha-Pranidhana-nya dapat disempurnakan satu persatu. Sungguh, tiada keliru sedikit pun! Apalagi segala cita-citanya telah melampaui para umat suci yang cuma cenderung kepada Nirvana beberapa kali lipat!

O, Arya Ananda! Bhiksu Dharmakara bukan saja berani mengucap 48 ikrar Maha-Pranidhana-nya di depan Tathagata Lokesvararaja, bahkan Beliau juga pernah dengan cara demikian di dalam ViharaNya terhadap perhimpunan besar yakni para Dewa, Mara, Brahmana, Naga, para Malaikat serta ke 8 kelompok makhluk dan sebagainya. Ketahuilah, sejak ikrar utamaNya diumumkan, Beliau terus mencurahkan segenap semangatNya kepada negeriNya bagaimana danharus dengan cara apa dapat mengindahkan, memegahkan bumi alam Buddha, supaya negeriNya dapat dijadikan suatu alam Buddha yang paling bahagia dan menakjubkan!”

“O, Arya Ananda! Ketahuilah, alam Buddha yang dibentuk oleh Sang Bhiksu Dharmakara itu, bukan saja lingkungannya demikian lapang, demikian luas, terbesar, indah, megah dan demikian menakjubkan, melainkan bagi pembangunan, pemukiman serta buminya tetap abadi, tanpa kesudahan, tanpa runtuh atau berubah dan tetap remaja seperti semula! Akan tetapi, meskipun alam BuddhaNya dapat dipertahankan hingga Asemkhyeya Kalpa yang tak terhingga dan sulit diperkirakan! Namun, Sang Bhiksu Dharmakara tetap bertekad berjuang terus-menerus, Beliau tekun mengumpulkan jasa-jasayang setaraf dengan Bodhisattva lain hingga tak terbatas, semua akan dipergunakan untuk para umat yang ingin dilahirkan di negeriNya.

Adapun, saat Beliau mempraktekkan “Bodhisattva-Carya” baik lahirNya maupun batinNya tetap suci murni, perasaan dan pikiran Beliau terbebas dari nafsu, benci, dendam dan sebagainya. Beliau juga terhindar dari 6 Ayatana yakni Rupa, Suara, Wangian, Citarasa, Sentuhan dan Ide. Beliau memiliki daya kesabaran dan selalu tak menggubris segala kerugian diri. Beliau samasekali tidak mengenal, ketamakan, kebencian dan kebodohan. Beliau senantiasa berada di dalam Samadhi maka kebijaksana-anNya lancar tanpa halangan sedikitpun! Terhadap siapapun hatiNya tetap jujur, tulus, tidak munafik; Manis, damai tampak mukaNya, demikian pula kata-kata- Nya pun sedap didengar! Beliau juga tak segan-segan menjawab dengan terang bila ada teguran penting terhadapNya!”

“Lagi, O, Arya Ananda! Kebulatan tekad dari Sang Bhiksu tersebut selalu berusaha dan semangatNya pun demikian perkasa, sampai sejauh ini Dia tak kenal lelah atau mundur, agar para makhluk dapat memperoleh manfaatnya Beliau khusus membimbing mereka dengan Dharma sejati.

Disamping itu Beliau mengajari mereka bagaimana memuja Tri-Ratna; Bagaimana mengabdi kepada gurunya, orangtuanya dan Nusa-bangsa yang tercinta!, Beliau sering dengan syarat-syarat dari berbagai“Pelaksanaan suci” yang telah diperindahkan, juga telah dilengkapi itu, meneladani para umat supaya jasa-jasa yang diusahakan dapat disempurnakan secara cepat.

Demikian pula tentang pandangan umat-umat juga diarahkan ke Trivimoksa yakni Sunyata (kekosongan), Animitta (tanpa tanda atau kesan) dan Apranihita (tanpa nafsu keinginan). Agar mereka memahami makna-makna “Dharmasmrti”: segala sesuatunya bercorak “Maya” (fantasi) atau benda-benda jelmaan; Segala sesuatu tanpa cipta tanpa lahir. Lagi, Beliau juga mendidik siswa-siswaNya menghindarkan segala ucapan kasar atau tidak benar; karena ucapan tidak benar bisa merugikan diri atau orang lain dan kedua pihak pun turut menderita! Dan siswa-siswa harus mempelajari atau mencapai berbagai bahasa yang baik, yang sopan, guna memanfaatkan pendidikan diri dan orang lain, agar kedua belah pihak pun dapat meninggikanpengetahuan dan Dharma masing-masing!”

“O, Arya Ananda! Ketahuilah, Sang Bhiksu Dharmakara sejak meninggalkan negaraNya, takhta rajaNya, harta-harta dan seluruh keluargaNya ia langsung melaksanakan Sad-Paramita dengan segenap tenagaNya, setelah ia berhasil Ia langsung mengajari para umat suci mempraktekkan metode-metode yang pernah dilakukanNya. Yang penting setiap umat harus mengumpulkan jasa-jasa selamanya sejak Asamkhyeya Kalpa, kemudian boleh menurut kehendaknya dilahirkan di alam yang dimaksudkannya, di situlah permata apa saja tetap mereka peroleh guna melancarkan kewajibannya!”

“O, Arya Ananda! Ketahuilah, selama ini telah banyak umat suci yangdiangkat ke tingkat teratas oleh Sang Bhiksu tersebut guna ditugasi berbagai kewajiban suci di negeriNya. Dan juga banyak umat yang berjasaagung menurut kehendaknya telah dilahirkan di pelbagai dunia.

Dan banyak telah menjadi Grahapati, atau Kulapati, atau Jutawan, Bangsawan, Raja dan Ksatriya, Raja Cakravartin, Raja Dewa, Raja Brahmana dan sebagainya! Umat-umat tersebut juga amat tekun mengadakan kebhaktian kepada para Tathagata dengan alat pujaan dari “Catvarah-Pratyayah” (pakaian, santapan, perlengkapan tidur dan obat-obatan). Sungguh.

Jasajasa yang dikerjakan oleh Sang Bhiksu tersebut sangat banyak dan sulit dikatakan! Maka, tidak heranlah! Hanya udara yang keluar dari mulutNyalah yang harumnya telah melampaui keharuman bunga Utpala;

Apalagi, pori-pori dan seluruh badan-emasNya, harumnya tidak berbeda dengan wangi cendana! Lebih-lebih harum badan cendana itu terusmenerus melimpah ke pelbagai alam yang tak terhingga! Adapun, rupa yang dimiliki oleh Sang Bhiksupun demikian elok, cantik dan amat unik! Kedua tanganNya selalu mengeluarkan berbagai permata yang berharga banyaknya juga tak terhingga.

Di negeriNya baik pakaian persantapan, maupun bunga-bungaan, dupaan, gandha-gandhaan, ataupun payung iram dari sutera, panji-panji, bendera-bendera dan penghiasan-penghiasan yang teragung, kesemuanya melampaui barang-barang dari para Dewata atau barang-barang dari para manusia! Sungguh, di negeriNya segala sesuatunya demikian mudah, demikian bebas, hanya menurut kehendaknya saja!”

“O, Bhagavan yang termulia!” Arya Ananda tiba-tiba bertanya pada Sang Buddha Sakyamuni: “Apakah Sang Bhiksu Dharmakara sudah menjadi Buddha? Apakah Beliau sudah Parinirvana atau belum? Dan di manakah Beliau berada pada masa sekarang? mohon dijelaskan!”

“O, Arya Ananda!” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya: “Bhiksu Dharmakara O, Beliau telah menjadi Buddha yakni Buddha Amitayus juga disebut Buddha Amitabha! Kini, Beliau berada di Surga Barat, jaraknya kira-kira ratusan ribu Koti Buddhaksetra (alam Buddha) Terbahagia!”

“O, Sudah menjadi Buddha?” Arya Ananda tanya lagi: “Kapankah? Sudah berapa lamakah Beliau mencapai Kebudhaan O, Bhagavan?” “Lamanya sudah 10 Kalpa!” Sabda Buddha Sakyamuni:

“Ketahuilah O, Arya Ananda! Seluruh bumi dari alam Buddha Amitayus (Amitabha) bukan tanah! Melainkan, bumiNya adalah kombinasi-kombinasi dari unsur-unsur Suvarna (emas), Rupya (perak), Vaidurya (lazuardi),Sphatika (kristal), Pravada (bunga karang), Musaragalva (indung mutiara) dan Asma-garbha (akik), jumlah 7 jenis permata yang bermutu tertinggi!

Demikian pula, lingkungan dari seluruh bumi amat lapang, luas, terbesar dan tanpa batas. Permata-permata yang menjadi bumi itu semua disusun satu jenis demi satu jenis atau berganti-ganti, sehingga sinar permata terus gemerlapan, kelihatan demikian indah, megah, jernih dan menakjubkan!

Mutu permata tidak berbeda dengan permata Surga Paranirmitasvara! Baik kwalitasnya maupun keindahannya telah melampaui mustika-mustika terunggul di pelbagai dunia di 10 penjuru! Lagi, alam BuddhaNya tidak ada gunung Sumeru atau gunung Cakravada dan gunung-gunung lain; Juga tidak ada laut biasa atau laut terbesar; Juga tidak ada sungai, selokan, ngarai atau lembah dan sebagainya. Kesemuanya itu adalah penciptaan oleh daya Rddhibala Buddha Amitayus (Amitabha)! Pada hakikatnya, apabila Sang umat ingin menyaksikan keadaannya atau ingin memandangnya meliputi pegunungan atau lautan, danau, sungai dan sebagainya pasti dapat dilihat atau dinikmati oleh mereka, asalkan Sang umat tekun melaksanakannya DharmaNya hingga dirinya dilahirkan ke Pantai-seberang (Sukhavati arti- nya)!”

“Lagi O, Arya Ananda! Di alam Buddha Amitabha juga tiada “Alam Kesedihan” seperti Neraka, Setan kelaparan, Hewan-hewan dan sebagainya! Di sana juga tiada 4 musim, maka itu baik waktu disebut Semi, Kemarau maupun, Gugur, Dingin, tapi suhunya sama sekali tidak pernah berubah-ubah, hingga penduduk yang berada di negeri tersebut tanpa merasa dingin atau panas, hanya merasa dilingkungannya demikian segar dan nyaman baginya!”

Saat itu, Arya Ananda tanya lagi kepada Sang Buddha Sakyamuni: “O,Bhagavan yang termulia! Bagaimanakah kalau alam Buddha Amitabha tidak mempunyai Gunung Sumeru, Surga-Surga dari Catur-Maha Raja Kajika dan Surga Trayastrimsa akan bertempat di mana:”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda:

“O, Arya Ananda! Jika menurut anggapan anda, Surga-Surga tersebut itu harus mempunyai gunung Sumeru sebagai pesandaran; Akan tetapi, Surga Yama terus ke atas hingga Surga Akanistha semua asalnya menyandar apa? Itu kata tiada pesandaran sama sekali!”

“Astaga!” Teriak Arya Ananda agak terperanjat: “Karma baik atau jahat, pasti ada buahnya! Sungguh, makna itu tak mudah diperkirakan O,Bhagavan!”

“Betul O, Arya Ananda!” Sabda Sang Buddha lagi:

“Karma baik pasti diperoleh pahala agung; Karma jahat tetap kena hukuman, ini ‘Hukum-Karma’! Apakah makna ini tak mudah diperkirakan oleh anda? Apalagi, Alam-alam Buddha yang dimiliki oleh para Tathagata malahan lebih sulit diperkirakan oleh anda! Pada hakikatnya, setiap umat dapat memiliki pahala terunggul; Dapat menikmati kebahagiaan teragung di atas Buminya, semua adalah berkat dari kebajikan mereka. Apakah anda masih sangsi terhadap makna-makna tersebut?”

“Tidak O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Arya Ananda: “Aku sama sekali tidak akan sangsi terhadap Dharma luhur yang dibabarkan oleh Maha Guru! Cuma, aku khawatir para umat pada masa mendatang apalagi Dharma luhur telah didengar oleh mereka, mungkin dipikiran mereka akan timbul keragu raguan. Demi memberantas keragu-raguan di dalam pikirannya, maka aku berniat menanyakan tentang maknanya kepada Sang Buddha dan inilah maksudnya!”

Sang Buddha bersabda kepada Arya Ananda:

“O, Arya Ananda yang bijak! Ketahuilah, Buddha Amitayus atau Amitabha memiliki kewibawaan serta sinar hidup sangat luhur dan paling terang! Sinar cahaya dari para Buddha tidak dapat dibandingkan dengan Sinar Buddha Amitayus Dan sinar yang demikian terang dari Buddha tersebut dapat menembus ratusan Koti bahkan ribu-ribuan Koti dunia Buddha yang berada di 10 penjuru! Singkat kata, sinar hidup Buddha Amitayus dapat memancar hingga ke negeri Buddha dibagian Timur yang banyaknya bagaikan butiran-butiran pasir di Sungai Gangga! Demikian pula, di sebelah Selatan, di sebelah Barat, Utara, Timur-laut, Tenggara, Barat-daya, Barat-laut, bagian atas dan bagian bawah sejumlah 10 penjuru dunia Buddha semua terkena sinarNya! Pancaran yang paling pendek adalah 7 kaki atau satu Yojana atau 2 Yojana, menjadi lagi 3, 4, 5, Yojana.

Akan tetapi, daya terangnya dapat berlipat ganda dan memancar terus tanpa henti yakni mulai dari satu Yojana, kemudian menjadi 2 Yojana, menjadi lagi 4 Yojana hingga 8, 16, 32 … dan seterusnya hingga satu Buddhaksetra dan lebih jauh lagi! Maka dari itu, gelar dari Buddha Amitayus disebut:

Amitabha, (cahaya tak terbatas) Amitayus, (kehidupanNya tak terbatas) Amitaprabha, (terangNya tak terhingga)Amitaprabhasa, (memiliki cemerlang tak terhingga) Asamaptaprabha, (cahayaNya tak berakhir) Asangataprabha, (cahayaNya tanpa melekat) Prabhasikhotsrstaprabha, (cahayaNya proses dari menyala) Sadivyamaniprabha, (cahayaNya dari manikam Surga) Apratmatarasmirajaprabha, (cahaya dari Raja-sinar berpancar terus) Rajaniyaprabha, (cahayaNya terindah) Premaniyaprabha, (cahayaNya yang tersayang) Pramodaniyaprabha, (cahayaNya yang tergembira) Sangamaniyaprabha, (cahayaNya yang terpesona) Uposaniyaprabha, (cahayaNya yang tersenang) Anibandhaniyaprabha, (cahayaNya tanpa henti) Ativiryaprabha, (cahayaNya yang penuh kuasa) Atulyaprabha, (cahayaNya yang tak terbanding) Abhibhuyanarendrabhutrayendraprabha, (cahayaNya melampaui segala cahaya dari para Raja Indra di Surga) Srantasancayendusuryajihmikaranaprabha, (cahayaNya melampaui cahaya Bulan purnama serta cahaya Sang Surya) Abhibhuyalokapalasakrabrahmasuddhavasamahesvarasarvadevajihmikara-naprabha (cahayaNya melampaui sinar Lokapala, Sakra, Brahma, Suddha-vasa, Mahesvara dan segala cahaya Dewa Jihmikarana).”

“Yang penting O, Arya Ananda!”Sang Sakyamuni melanjutkan sabdaNya: “Barangsiapa yang dapat kesempatan menemukan sinar hidup Buddha Amitayus yang demikian terang benderang itu, ke 3 jenis ‘Kotoran’ (ketamakan, kebencian dan kebodohan) yang pernah dimilikinya lantas lenyap total! Baik lahir maupun batin dari mereka akan terasa lemah-lembut; terasa halus budi dan bersemangat riang-gembira! Demikian pula, jika para makhluk yang berada di “Tiga Alam Kesedihan” sedang menderita berbagai sengsara, setelah mereka menemukan sinar tersebut, hilanglah segala belenggu-belenggu apapun dalam sepintas! Dan apabila usia mereka telah habis segeralah bebas dari alam kesedihan tersebut dan dilahirkan di dunia manusia atau Surga!”

“O, Arya Ananda! Ketahuilah, oleh karena sinar hidup Buddha Amitayus demikian terang benderang, maka dunia-dunia dari para Buddha di 10 penjuru tak akan ada seorang Buddha pun yang tidak mendengar nama Beliau bukan hanya aku yang menyanjungi Beliau di dunia Sahaloka, para Buddha, para Sravaka, Pratyekabuddha, para Bodhisattva semuanya memuji jasa-jasaNya! O, Arya Ananda! Ketahuilah, andaikata terdapat para umat yang berbudi setelah mendengar jasa-jasa Beliau; Kewibawaan dan sinar hidup yang terang benderang dari Beliau, lantas mengarahkan hatinya ke alam Buddha Amitayus, kemudian dengan sepenuh kebulatan tekad memuliakan namaNya. Demikian pula, mereka di siang hari, malam hari atau di suatu kesempatan dengan khidmat menceritakan tentang hal-hal Buddha Amitayus kepada para makhluk, supaya makhluk-makhluk apapun dapat memperoleh manfaatNya.

Maka, Sang umat yang berbudi itu boleh menurut kehendaknya atau cita- citanya, agar dilahirkan di “Sukhavati” yakni alam Buddha yang terbahagia! Dan kelakuan atau perbuatan yang terpuji dari Sang umat tersebut akan selalu dipuji oleh para Bodhisattva serta para Sravaka, Pratyekabuddha dan lain-lainnya! Saat Sang umat tersebut sedang mencapai Kebuddhaan, sinar hidup merekapun tidak berbeda dengan Buddha Amitayus atau Amitabha. Dan para Buddha serta para Bodhisattva yang berada di 10 penjuru dunia juga ikut bergembira, sehingga keadaannya seperti sekarang kalian memuji Buddha Sakyamuni dengan hati riang gembira!”

“O, Arya Ananda Yang bijak!” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:

“Sungguh, Kewibawaan serta kecemerlangan Buddha Amitayus demikian agung dan menakjubkan! Tentang cerita-cerita Beliau walau Aku mengisahkanNya setiap siang hari dan setiap malam hari lamanya hingga satu Kalpa, cerita-ceritaNya mungkin sulit dihabiskannya!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda lagi:

“Lagi O, Arya Ananda! Tahukah anda, kehidupan Sang Buddha Amitayus panjangnya sungguh tidak dapat diperhitungkan! Andai kata terdapat banyak makhluk yang berada di 10 penjuru dunia dan semua telah mendapat tubuh manusia, mereka juga telah mempunyai identitas sebagai Sravaka atau Pratyekabuddha.

Jika semua dikumpulkan di suatu tempat dengan cara memusatkan pikiran dan menggunakan segenap daya akalnya, bersama-sama menghitung usia Buddha Amitayus lamanya hingga ratusan ribu Koti Kalpa. Akan tetapi, masa kehidupan dari Buddha tersebut panjangnya yang pasti tidak akan diketahui oleh para penghitung!

Demikian pula para Bodhisattva, para Sravaka-Sangha serta para Dewa, manusia yang berada di negeri Buddha Amitayus, kehidupan mereka pun tidak berbeda dengan Sang Buddha Amitayus. Dan panjangnya usia mereka juga sulit diperhitungkan atau diumpamakan dengan perkataan yang tepat! Adapun O, Arya Ananda!

Jumlahnya para Bodhisattva, para Sravaka-Sangha serta semua rakyatNya banyaknya juga tidak dapat diperkirakan! Para Arya yang berada di negeriNya semua telah memiliki Abhijnana, Prajna, Samadhi luhur dan metode-metode lainnya; Mereka bebas total tanpa halangan atau perekatan sedikitpun. Bahkan, banyak dikarenakan Rddhibalanya demikian ampuh maka, segala bentuk dunia dapat diletakkan di dalam genggaman mereka!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda lagi:

“O, Arya Ananda! Tahukah anda, saat Sang Buddha Amitayus pertama kali mengadakan Pasamuan Agung dengan para umat di negeriNya, hadirin-hadirin dari para Bodhisattva, para Sravaka-Sangha serta umat-umat lainnya, jumlahnya sungguh sulit diperhitungkan dengan ilmu Matematika! Andaikata, kepintaran seperti Sang Maha-Maudgalyayana dan banyaknya bukan seorang malahan hingga ratusan ribu Koti orang atau disebut tak terhingga, semua dikumpulkan di suatu tempat dan dalam waktu selama Asamkhyeya Kalpa atau hingga mereka semua mencapai Nirvana masih bersama-sama menghitung jumlah hadirin tersebut.

Akan tetapi, mereka tidak mengetahui jumlahnya! Sungguh O, Arya Ananda! Jumlah hadirinNya pada waktu itu boleh diumpamakan sebuah laut besar dan amat luas lagi dalam! Andaikata, sekarang terdapat seseorang sedang memisahkan seluruh rambutnya, dan setiap rambut dipatahkan menjadi 100 bagian, setiap bagian rambutnya dikaitkan dengan air laut setetes O, Arya Ananda! Bagaimana pikirmu? Berapakah airnya yang dikumpulkan dari seluruhnya rambut orang itu? Manakah yang terbanyak jika dibandingkan dengan air laut besar yang tersebut di atas itu?”

“Aduhai!” mendengar pertanyaan Sang Buddha Arya Ananda agak terperanjat:

“O, Bhagavan yang termulia! menurut pendapatku jumlah air yang dikumpulkan oleh ratusan ribu juta rambut orang itu dibandingkan sama dengan laut tersebut, kedua-duanya mungkin tak dapat dihitung dengan alat penghitung atau diumpamakan dengan perkataan yang tepat!”

Kemudian Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda:

“Maka dari itu O, Arya Ananda! seperti apa yang telah Aku katakan tadi, bahwa kepintaran akal dari Sang Maha-Maudgalyayana hendak mengetahui jumlahnya hadirin-hadirin dari para Bodhisattva serta para Sravaka-Sangha dan umat-umat lainnya yang semua pernah berkumpul di arena Pesamuan Agung yang pertama di negeri Buddha Amitayus itu tidak mudah!

Walaupun mereka telah menggunakan waktu yang demikian banyak untuk menghitung jumlahnya hingga ratusan ribu Koti Nayuta Kalpa! Hanya jumlah air tetesan yang dikumpulkan oleh rambut orang saja yang dapat diketahui! Yang tidak dapat mereka ketahui adalah air laut besar yang amat luas dan dalam itu!”

“Lagi O, Arya Ananda yang bijak!” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:

“Tahukah anda, seluruh bumi dari negeri Buddha Amitayus telah penuh dengan pohon yang dijadikan oleh bahan-bahan dari 7 jenis mustika seperti emas, perak, lazuardi, kristal, bunga karang berkilat, akik indah, indung mutiara dan sebagainya! Juga di antara pohon-pohonan tersebut terdapat pepohonan yang berasal dari 2 jenis permata, ada dari 3 jenis permata atau dari 4, 5, 6 jenis hingga 7 jenis permata yang dikombinasikan menjadi satu pepohonan, atau ke 7 jenis permata dicampuri secara bergantian. Demikian pula, banyak pepohonan berwarna emas tapi daunnya berwarna perak, dan bunganya, buahnya, juga berwarna perak; Atau pepohonannya berwarna perak tapi daun, bunga dan buahnya berwarna emas; Atau pepohonannya berwarna lazuardi tapi daun, bunga dan buahnya berwarna kristal; Atau pepohonannya berwarna hablur bening tapi daun, bunga dan buahnya berwarna kristal; Atau pepohonannya berwarna hablur bening tapi daun, bunga dan buahnya berwarna kristal; Atau pepohonannya seperti pohon bunga karang tapi ia berdaun akik, berbunga akik, juga berbuah akik; Sedangkan pepohonannya seperti akik indah tapi daunnya, bunganya hingga buah-buahnya semua seperti lazuardi! Lebih hebat lagi, pepohonannya seperti indung mutiara dan, baik daun, bunga maupun buah-buahan semua berwarna 7 jenis sinar mustika yang amat menakjubkan!”

“Lagi O, Arya Ananda! Masih ada pepohonan lebih unik seperti pohon mustika berakar emas tapi, batangnya perak, dahannya lazuardi, rantingnya kristal, daunnya bunga karang, bunganya akik dan buahnya indung mutiara. Adapula, akarnya akik, bunganya indung mutiara dan  buahnya emas. Adapula, akarnya lazuardi, batangnya kristal, dahannya bunga karang, rantingnya akik, daunnya indung mutiara, bunganya emas dan buahnya perak. Adalagi, akarnya kristal, batangnya bunga karang, dahannya akik, rantingnya indung mutiara, daunnya emas, bunganya perak dan buahnya lazuardi.

Adapula, akarnya bunga karang, batangnya akik, dahannya indung mutiara, rantingnya emas, daunnya perak, bunganya lazuardi dan buahnya krital. Adapula, akarnya akik, batangnya indung mutiara, dahannya emas, rantingnya perak, daunnya lazuardi, bunganya kristal dan buahnya persis batang bunga karang. Adapula, akarnya indung mutiara, batangnya emas, dahannya perak, rantingnya lazuardi, daunnya kristal, bunganya berwarna bunga karang dan buahnya berwarna akik indah.”

“Demikianlah O, Arya Ananda! Adapun setiap barisan pohon mustika tersebut dijajarkan satu persatu, supaya setiap pohon menjadi batang terhadap batang, dahan terhadap dahan, daun terhadap daun, Demikian pula, bunga-bunganya tetap berjajar-jajar dan buah-buahan pun berjajar-jajar juga! Dan seluruh pohon mustika tersebut demikian subur, warnanya demikian menarik, cahayanya demikian terang benderang! Apabila kita hendak menonton keseluruhannya dengan sepintas kilas sungguh tak begitu mudah!”

“O, Arya Ananda! Tahukah anda, saat seluruh pohon mustika tersebut digerakkan angin sejuk semilir yang datang pada waktu-waktu tertentu itu, terdapatlah 5 macam suara yang sangat merdu dan sedap didengar terus menerus dikumandangkan di tengah-tengah pepohonan dan iramanya demikian lembut dan selarasnya!”

“Lagi O, Arya Ananda! Tentang Pohon-Bodhi yang berada di tempat Mandala yang dimiliki Buddha Amitayus itu, tingginya 4 juta Yojana, akar-akar yang di sekeliling pohon luasnya mencapai 200 ribu Yojana!

Ketahuilah, Pohon-Bodhi yang Maha besar ini juga diciptakan oleh Sang Buddha Amitayus dengan berbagai permata. Malahan disengaja disertai dengan Raja Permata seperti Candra-Mani, Sagaracakradhara-Mani dan sebagainya guna memegahkan pohonNya dan MandalaNya! Dan, setiap ujung ranting yang dikeliling batang pohon itu semua digantungkan dengan Keyura Mustika (untaian manikam), dan dapat memancar ratusan ribu warna sinar dan warna sinarnya dapat berubah-ubah, amat terang benderang dapat memancar pada jarak yang jauhnya tak terhingga! lagi, jaringan-jaringan mustika yang amat halus dan bersinar dibentangkan selapis demi selapis di seluruh puncak pepohonan mustika. Banyak bangunan mustika yang amat mewah dan indah berjajaran di atas jaringan mustika itu. Apabila rakyatnya perlu menggunakan beberapa buah bangunan mewah nan indah itu seketika terwujud!”

“O, Arya Ananda! Ketahuilah, waktu pepohonan mustika tersebut digerakkan oleh angin sepoi-sepoi, pohonnya bukan saja dapat mengumandangkan suara yang merdu melainkan pohonnya dapat menyiarkan berbagai suara guna menerangkan ajaran “Saddharma” yang dibabarkan oleh Sang Buddha Amitayus. Dan suara yang hebat itu tanpa henti terus bergema ke pelbagai dunia Buddha di 10 penjuru, maka dari itu,

para umat yang berbudi biar berada di dunia mana bila suara tersebut telah didengarnya, pastilah mereka akan memperoleh berbagai jenis “Dharmaksanti” luhur dan mereka tetap dengan status Avinivartaniya (tekad tanpa goyah dan mundur) hingga mencapai Kebuddhaan! Setelahitu pancaindera mereka akan merasa luar biasa:

Pendengaran amat terang tanpa digangui apapun, mata dapat melihat segala warna benda di alam Sukhavati, hidung dapat mencium segala keharuman di alam Sukhavati, lidah dapat merasa segala santapan di alam Sukhavati, badan dapatmenyentuh sinar hidup di alam Sukhavati dan hatinyapun dapat menurut berbagai metode-metodeNya sehingga memperoleh Dharmaksanti yang paling mendalam, dan tetap memiliki status Avinivartaniya! Karena Sang umat tersebut ke 6 inderanya telah suci bersih dan telah bebas dari segala penderitaan, maka mereka cepat memperoleh Samyaksambodhi, cepat mencapai Kebuddhaan!”

“O, Arya Ananda yang bijak! Ketahuilah, apalagi para Dewa, manusia, yang lahir di alam Sukhavati itu, setelah mereka melihat pepohonan mustika yang demikian menakjubkan, segeralah mereka memperoleh 3 jenis “Dharmaksanti”:

1) Ghosanugata-Dharmaksanti (mendengar suara dapat sadar akan makna-makna Dharma terluhur)

2) Anulomiki-Dharmaksanti (bila terhadap makna terluhur lahir dan batin akan merasa lemah-lembut atau halus budi);

3) Anutpattika-Dharmaksanti (dapat menetapkan batinnya pada Nirvana dan memandang segala sesuatu tanpa membeda-bedakan, tetap seimbang).”

O, Arya Ananda yang bijak! Ketahuilah, segala sesuatu berada di Alam Sukhavati yang demikian indah, megah, suci murni serta demikian menakjubkan dan kesemuanya adalah berkat daya kewibawaan, daya nadar-utama(janji untuk melakukan kebaktian terhadap Tuhan, bersyukur atas kebahagiaan yang didapatkan), daya cita-cita yang sempurna, daya dari pengetahuan tak terbatas, daya keteguhan dan daya sukses dari Sang Buddha Amitayus atau disebut Amitabha!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda:

“O, Arya Ananda yang bijak! Tahukah anda, raja-raja yang adikuasa di alam semesta ini, semua memiliki ratusan ribu macam musik di negerinya masing-masing. Seandainya, suara musik yang tersedap didengar adalah mulai Surga Raja Cakravartin hingga Surga yang keenam yaitu Surga Paranirmitavasavartin, baik suara musik maupun nyanyi-nyanyian ataupun tari-tariannya, di tingkat Surga makin tinggi makin merdu dan makin sedap didengar!”

“Akan tetapi O, Arya Ananda! Walaupun musiknya demikian banyak sampai ratusan ribu macam dan suaranya pun demikian merdu yang dimiliki oleh raja Surga keenam itu, bila diperlombakan dengan  satu macam suara yang dikumandangkan oleh pohon mustika yang dimiliki Buddha Amitayus saja, kalahnya melampaui ribuan Koti berlipat-ganda!

Ketahuilah, suara dari musik-alamiah yang berada di alam Sukhavati itu tidak kurang dari ribuan macam, dan semua suaranya adalah gema Dharma yang amat bermanfaat! Apalagi suara-suara yang dikumandangkan demikian merdu, selaras, terang, damai dan sedap didengar! Oleh karena itu, apabila dibandingkan dengan musik-musik yang berada di 10 penjuru dunia, tapi, suara pohon mustikalah yang terkemuka!”

“Lagi, O, Arya Ananda yang bijak! Tentang bangunan-bangunan seperti Vihara, Asrama Sangha, istana mewah, pagoda agung, gedung-gedung berteras tinggi dan sebagainya yang berada di alam Sukhavati itu, kesemuanya dibangun dengan bahan 7 jenis permata yang paling berharga dan dijadikan secara otomatis tanpa menggunakan tenaga manusia! Dan di puncak bangunan tersebut dipasangkan tali bersilang yang dibuat dari bahan-bahan: Mutiara tulen, Candra-Mani dan sebagainya sehingga kelihatan berkilauan dan amat menarik!”

“Lagi O, Arya Ananda yang bijak! Pada bangunan-bangunan yang demikian indah itu, baik di dalam maupun di luar terdapat berbagai kolam Padma besar, diameternya juga berbeda-beda, ada yang hanya 10 Yojana, ada 20 atau 30, atau hingga ratusan ribu Yojana juga ada. Kolam Padma tersebut semua dipenuhi dengan air yang bersifat 8 Budi-jasa: Murni, segar, manis, lunak-ringan, lembap-berkilat, tenang-damai, dapat menghilangkan haus, lapar dan dapat bermanfaat bagi setiap tubuh makhluk dan sebagainya. Dan, bau air demikian harum, tidak berbeda dengan sari embun Surga! Kondisi dari Kolam Padma itu juga amat unik:

Kolamnya yang dibuat dari emas didasari pasir perak;

Kolamnya yang dibuat dari perak didasari pasir emas.

Kolamnya yang dibuat dari kristal didasar pasir lazuardi;

Kolamnya yang dibuat dari lazuardi didasari pasir kristal.

Kolamnya yang dibuat dari bunga-karang didasari pasir ambar (Ambar atau amber adalah resin pohon yang menjadi fosil dan dihargai karena warna serta kecantikannya) ;

Kolamnya yang dibuat dari ambar didasari pasir bunga karang.

Kolamnya yang dibuat dari indung mutiara didasari pasir akik indah;

Kolamnya yang dibuat dari akik indah didasari pasir indung mutiara.

Kolamnya yang dibuat dari mutiara-putih didasari pasir emas- merah;

Kolamnya yang dibuat dari emas-merah didasari pasir mutiara-putih.

Tapi, di antara kolam-kolam tersebut terdapat juga yang dibuat dari 2 macam permata atau 3 macam permata, atau hingga 7 macam permata. Dan, di sekeliling kolam tersebut banyak pohon-pohon Candana yang sedang berbunga tumbuh di sana dan bunga Candana serta daun-daunnya subur sekali, semua penuh-sesak hingga menutup seluruh pohonnya.

Wangi dari bunga Candana demikian semerbak terus melimpah ke seluruh alamNya. Lagi, di tengah-tengah kolam Padma terdapat banyak Bunga-bunga seperti bunga Utpala Surga, bunga Padma, bunga Kumuda, bunga Pundarika dan sebagainya. Semua beraneka-warna; Hijau bersinar kehijau-hijauan; Kuning bersinar kekuning-kuningan; Merah bersinar kemerah-merahan; Putih bersinar keputih-putihan dan yang khas bersinar aneka-warna.

Dan, semua bunga indah-indah itu beserta dedaunnya satu persatu tertempel di muka air kelihatan amat menarik yang! Apabila para Bodhisattva, para Sravaka-Sangha serta makhluk-makhluk lain ingin mandi atau ingin berenang di dalam kolam Padma itu, dapat menuruti kehendaknya atau kesenangannya. Andaikata, ada yang ingin air 8 Budi-jasa itu merendam ke dua kakinya, akan segeralah airnya merendamkan ke dua kaki: Apabila mereka ingin air meninggi hingga ke lututnya segeralah air merendam ke lututnya.

Demikian pula, jika mereka ingin airnya merendam sampai ke pinggang atau sampai ke lehernya, hanya dengan pikiran sepintas saja, air tersebut telah sampai ke tempat yang dimaksukan mereka! Tanpa merasa kesulitan sedikitpun!

Apabila mereka ingin badannya disiram dengan air yang serbaguna itu, justru airnya akan bagaikan suatu alat penyiram terus menerus menyiram air segar dan harus ke seluruh badannya! Setelah mandi jika sang umat menghendaki airnya kembali pada semula, segeralah air tersebut kelihatan tidak berbeda dengan sebelumnya!

Adapun, bila mereka ingin airnya panas, hanya dengan pikiran sepintas saja airnya telah terasa panas; Apabila ingin airnya menjadi dingin, segeralah airnya terasa dingin, kesemuanya dapat menuruti kemauan sang umat, betapa senang dan memuaskan!”

. “Ketahuilah O, Arya Ananda! Barang siapa yang pernah mandi di kolam Padma tersebut, pastilah ia akan merasa badannya amat enak, sehat dan semangatnya demikian segar-bugar, apalagi segala kekotoran batin hilang total! Lagi O, Arya Ananda! Air 8 Budi-jasa yang berada di semua kolam Padma itu, kesemuanya demikian jernih, murni dan sulit diperlihatkan, hanya terlihat butiran-butiran pasir dari berbagai permata bercahaya kilau-kemilau di dasar kolam, walaupun kedalaman kolam demikian dalam hingga tak terhinggapun dapat terlihat dasarnya! Lagi pula pada setiap kolam terdapat banyak saluran air seperti sungai permata yang terindah.

Air di dalam sungai indah itu dapat mengantar air dari kolam ke kolam lain, kemudian airnya dapat mengalir dan kembali ke asal. Pergerakan alirnya tenang sekali tidak begitu cepat juga tidak begitu lambat. Akan tetapi, aliran air itu selalu bersuara yang amat merdu; Suaranya dapat mengumandangkan berbagai ajaran Buddha yang bermanfaat untuk para umat di negeri Buddha tersebut, dan siapa pun dapat menangkapnya, cuma harus menurut bakat mereka masing-masing. maka dari itu, mereka ada yang mendengar suara yang menerangkan Buddha, ada yang mendengar suara yang menerangkan Dharma, ada yang mendengar suara yang menerangkan Sangha.

Atau Suara-suara hanya menerangkan Aranyaka (tenang, kesunyian); Atau Suara-suara yang menerangkan makna-makna Sunya, Anatman (kekosongan, tanpa keakuan); Atau Suara-suara yang menerangkan Maha-Maitri, Maha-Karuna (cintakasih yang terluhur dan balas-kasihan yang terluhur); Atau Suara-suara yang menerangkan berbagai Paramita (ketentuan-ketentuan bagi pelaksanaan Bodhisattva); Atau Suara-suara yang menerangkan Dasabalani (10 jenis tenaga Buddha); Atau Suara-suara yang menerangkan daya Abhaya (daya tanpa ketakutan); Atau Suara-suara yang menerangkan Avenika- Dharma (Dharma tanpa berupa sama); Atau Suara-suara yang menerangkan Sarva-Abhijna-Mati (Segala daya gaib dan kebjijaksanaan); Atau Suara-suara yang menerangkan Anabhisamskara (tanpa perbuatan); Atau Suara-suara yang menerangkan Abhava, Anirodha (cipta dan musnah); Atau Suara-suara yang menerangkan Anutpattikadharmaksanti (menetapkan batinnya di Nirvana) hingga Suara-suara yang menerangkan Abhisekabhumipratilambha (diwisuda secara kerajaan) dan sebagainya.

Suara-suara yang bermanfaat itu terdengar sesuai dengan bakat sipendengar agar setiap umat dapat menerima suatu Dharma luhur dengan hati riang gembira! Kemudian masing-masing boleh menurut kemampuannya mengamalkan pelaksanaan suci batiniah;  Melenyapkan segala nafsu dan memahami makna-makna Nirvana adalah tanpa lahir tanpa musnah; Atau dengan kebulatan tekad mempersandarkan dengan daya Abhaya (daya tanpa ketakutan) Sang Triratna dan berbagai metode-metode penting; Atau belajar doktrin-doktrin yang menerangkan jasa-jasa Buddha yang disebut Avenika- Buddhadharma; Atau menjejaki jalan-jalan yang dilakukan oleh para tokoh bijak dan suci yaitu para Bodhisattva, para Sravaka-Sangha dan lain-lainnya.”

“O, Arya Ananda yang bijak! Ketahuilah, di negeri Buddha Amitayus  nama-nama dari 3 alam sengsara sama sekali tidak ada, yang ada hanya suara alamiah yang sedap didengar dan riang gembira. Maka itu, alam Buddha-Nya dinamakan: “Sukhavati” atau “Alam terbahagia”!”

“O, Arya Ananda yang bijak! Tahukah anda, para makhluk yang dilahirkan di negeriNya, semua memiliki Rupakaya (badan) yang amat suci murni, semua memiliki suara yang demikian bagus, mereka juga memiliki berbagai pengetahuan Rddhi-Abhijna (daya batin) dan berbagai kebajikan.

Lebih-lebih lagi, tentang istana mewah yang ditempati para umat suci, Jubah atau pakaian Surga yang dikenakan para umat suci; Adapun segalamakanan dan minuman lezat, bunga-bunga wangi, dupa, gandha, hiasan-hiasan permata dan segala benda yang berada di negeri Buddha Amitayus itu, kualitasnya tidak kalah bila dibandingkan dengan benda-benda yang dimiliki raja-raja di Surga Keenam! Apabila waktu makan sudah tiba, di dalam kamar makan mereka telah siap beberapa jenis mangkok yang unik seperti mangkok emas, mangkok perak serta mangkok-mangkok dari permata Vaidurya, Musaragalva, Asmagarbha, Pravada, Ambar, Candramani, Muktika dan sebagainya.

Dan, ratusan macam makanan yang lezat-lezat telah dipenuhi di dalam kamar makan mereka, namun, tidak ada seorangpun yang makan. Mengapa demikian? Sebab barangsiapa telah melihat santapan itu, telah mencium bau yang sangat enak itu, dalam pikiran mereka akan timbul perasaan demikian: “Aku sudah menikmati seluruh santapan yang ada, walaupun aku belum melakukannya tapi sudah merasa kenyang dan merasa lahir dan batinku demikian enak dan lemah-lembut!”

“Setelah waktu makan lewat, mangkok-mangkok serta makanan-makanan tadi pun lenyap total, tapi, apabila waktu makan tiba lagi segalanya terwujud kembali seperti biasa! Dan tidak pernah tertunda sekalipun!”

“Sungguh, O, Arya Ananda! Alam Buddha yang dimiliki oleh Buddha Amitayus itu demikian suci murni, demikian aman tenteram, demikian bahagia dan menakjubkan! Singkat kata, segala sesuatu yang berada di negeriNya kenikmatannya hampir sama dengan kenikmatannya Nirvana!”

“O, Arya Ananda yang bijak! Para Bodhisattva, para Sravaka-Sangha serta para Dewa, manusia, yang lahir di alam Sukhavati itu, baik lahirnya maupun batinnya semua hampir serupa. Semua memiliki pengetahuan Rddhi-Abhijna yang sakti, memiliki kebijaksanaan luhur. Cuma, demi memenuhi permintaan para umat banyak yang datang dari dunia berbeda-beda, agar sesuai adat-istiadat mereka, maka, nama-nama istilah seperti Dewa, manusia dan sebagainya masih tetap dipakai di negeri Buddha tersebut tanpa dihapuskan! Pada hakikatnya, mereka bukan beridentitas Dewa juga bukan beridentitas manusia, dan badan mereka adalah badan ciptaan Alamiah yang paling unik lagi teguh, kekal. Demikian pula, panjang hidup merekapun tiada terbatas! Lagi, rupa dari mereka juga demikian bagus dan wajahnya berseri-seri, hingga kecantikannya melampaui para makhluk di pelbagai dunia!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda:

“O, Arya Ananda! Umpamanya, terdapat para orang miskin, para pengemis dengan sengaja diperintah untuk berdiri di sisi raja dunia yang berkuasa, Apakah wajah dari sang pengemis dan raja dunia kedua-duanyaakan sama-sama cantik?”

“Tidak mungkin O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Arya Ananda:

“Apabila, jika wajah si pengemis dibandingkan dengan wajah Sang raja dunia yang Maha kuasa, jaraknya dari hasil ukuran cantik dan jelek akan menjadi ratusan ribu Koti kali lipat atau sulit diperkirakan! Atau sulit diperandaikan dengan perkataan yang tepat!

Mengapa jaraknya bisa sedemikian jauh? Tidak ada persoalan lain terkecuali para sang miskin, para pengemis dikarenakan pakaian di atas tubuh mereka demikian compang-camping, sembarang makan dengan makanan yang kurang mengandung gizi, bahkan mereka selalu diganggui cuaca yang tidak tentu, penyakit keras, kelaparan, kehausan dan macam-macam kesengsaraan! Dan nasib mereka hingga demikian buruk sebagian besar adalah pembawaan.

Seandainya mereka enggan menanam benih kebajikan pada masa silam; Mereka pernah memiliki harta-harta setinggi gunung tapi mereka enggan berdana. Bahkan makin kaya makin bersifat kikir. Mereka hanya cenderung tamak dan bernafsu merebut kekayaan orang untuk dijadikan hak milik sendiri.

Mereka sama sekali tidak percaya amal-jasa dapat menyelamatkan diri, hanya tahu melakukan kejahatan hingga bertimbunlah Karma buruk sama banyaknya bagai sebuah gunung yang tertinggi! Apabila, mereka telah meninggal dunia, harta-harta yang pernah direbut dengan susah-payah, kemudian dikumpulkan, ditumbunkan menjadi miliknya itu, akan hilang setumpuk demi setumpuk hingga kosong total.

Dan semua akan pindah ke tangan lain hingga setetespun tidak dapat dinikmatinya! Betapa sedihnya, karena tidak ada sedikit kebajikan untuk mereka jadikan sandaran, maka, setelah mereka mati terus meneruslah diterjunkan ke alam kesedihan langsung mengalami kesengsaraan hingga berjuta-juta tahun di alam tersebut. Setelah masa hukuman Karmanya habis barulah mereka dapat dilahirkan di dunia manusia dan beridentitas sebagai golongan miskin atau menjadi para pengemis.

Dan perangai pembawaan juga demikian rendah, jelek lagi bodoh! Akan tetapi, pembawaan bagi Sang raja dunia yang Maha kuasa malah demikian pintar, demikian berwibawa, citra mulia dan selalu dihormati oleh anak-buahnya terus menerus! Ini juga tidak ada persoalan lain kecuali dipengaruhi oleh “Sebab-akibat”nya!

Bahwa kehormatan yang dimiliki oleh Sang raja adalah hasil Beliau di masa sebelum ditumimbal lahirkan di anggota keluarga raja telah banyak beramal berbagai kebajikan, Beliau mulanya berbudi dan suka berdana, terhadap siapapun tetap bersikap Maitri dan Karuna.

Beliau selalu menepati janji dan tidak mau merugikan orang lain, bahkan hanya tahu harus banyak membuat kebajikan untuk menyalurkan kepada makhluk apapun! Beliau juga di masa silam tidak senang melanggar peraturan pemerintah juga tidak senang bertengkar kepada siapapun. Maka dari itu, setelah Beliau meninggal dunia lantas dilahirkan di Surga, menikmati buah kebajikan yang pernah ditanamkan dengan jujur hati itu di alam kenikmatan.

Apabila, hidup Surganya telah habis langsung ditumimbal-lahirkan di anggota keluarga raja, menduduki takhta singgasana untuk memerintah di suatu dunia dan dihormati rakyat- rakyatnya, makanannya, istananya serta kendaraannya semuapun tidak akan kekurangan semacampun! Kesemuanya ini adalah berkat dari jasa-jasa yang dikumpulkan pada masa silam, apabila tiba saatnya kepahalaan (buah) agung itu pasti dapat dipanen serta dinikmati olehnya!

Betul atau tidak O, Bhagavan yang termulia!”

“Betul, O, Arya Ananda! Sabda Sang Buddha:

“Ungkapanmu tidak salah sedikitpun! Akan tetapi, walaupun kedudukan raja yang berada di dunia demikian berwibawa serta bercitra mulia, berwajah demikian bagus, bila raja dunia itu dibandingkan dengan raja Cakravartin, kalahlah raja dunia itu dan-keadaannya tidak berbeda seperti seorang pengemis yang berada di sisinya! Lagi, walaupun wajah dari raja cakravartin sedemikian berseri, dan kecantikannya selalu dipuji dengan nilai bernomor satu di semesta, tapi, bila dibandingkan raja Trayastrimsa Ia akan kalah hingga ribuan koti kali lipat! Lagi, bila raja Trayastrimsa dibandingkan dengan raja yang duduk di Surga akan kalah raturan ribu Koti kali lipat! Singkat kata, apabila raja dari Surga keenam itu dibandingkan dengan para Bodhisattva, para Sravaka-Sangha dan lain-lainnya yang berada di negeri Buddha Amitayus, yang semua telah memiliki sinar hidup serta berwajah amat berseri itu, raja tersebut akan kalah hingga ribuan juta Koti kali lipat atau banyaknya sulit diperkirakan!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda:

“O, Arya Ananda yang bijak! Tahukah anda, para Dewa, manusia dan makhluk-makhluk lain yang berada di negeri Buddha Amitayus itu, semua demikian bahagia dan tanpa kekurangan sesuatupun! Bagi mereka biarpun benda apa saja apabila diperlukan, maka hanya dengan waktu sepintas merenung barang yang diperlukannya itu telah berada di depan mereka seperti: Pakaian, segala makanan dan minuman, bunga, Gandha, Keyura, payung iram-iram dari sutera, panji-panji dan berbagai bendera hingga suara yang berirama merdu, perumahan-perumahan seperti istana mewah, pagoda agung, gedung-gedung bertingkat tinggi dan sebagainya.

Dan, benda-benda tersebut baik bentuknya maupun warnanya, ataupun senang yang tinggi atau rendah, panjang atau pendek; Atau perlu yang besar atau perlu yang kecil; Atau minta dibuatkan hanya dengan satu macam permata atau 2 macam, 3 macam ataupun minta jumlah permatanya yang tak terhingga, semua itu dapat menuruti hati peminta dan hanya dalam sepintas merenung saja pasti dipenuhi! Apalagi di negeri Buddha tersebut banyak jubah berharga dan pakaian-pakaian indah berhamburan merata di atas bumi kencanaNya, sehingga para Dewa, para manusia, berjalan di atas pakaian-pakaian tersebut dengan riang gembira!

Lagi O, Arya Ananda! Jaringan- jaringan mustika yang jumlahnya tak terhingga dipasangkan di atas langit dan tali jaringannya semua terbuat dari benang emas disertai butiran mutiara, malahan di tengah-tengah tali emas ditempeli dengan ratusan ribu macam permata lain untuk mengindahkan perhiasannya! Lagi, di sekeliling jaringan mustika itu semua digantungkan dengan bel mustika yang jumlahnya banyak sekali dan semua bersinar berkilau-kilauan! Saat angin sejuk semilir bertiup ke seluruh alam akan terasa segar, nyaman, halus, lembut dan tanpa merasa dingin atau panas.

Angin datangnya demikian merata tidak begitu cepat juga tidak begitu lambat! Setelah semua bel mustika serta jutaan pepohonan mustika digerakkan oleh angin halus dan harum itu, maka benda tersebut mengumandangkan berbagai jenis suara merdu yang menerangkan Dharma agung terus-menerus tanpa henti-hentinya.

Disamping itu angin harum yang amat sedap terasa mengandung ribuan jenis suara merdu yang menerangkan Dharma agung terus-menerus hingga melimpah ke seluruh alamNya. Pada waktu itu barang siapa yang telah mencium harumnya, akan segera melenyapkan baik kekotoran lahir ataupun kegelapan batin mereka! Dan, apabila badan mereka telah tersentuh oleh angin halus dan harum pasti akan timbul perasaan amat riang gembira, sehingga perasaan mereka seperti seorang Bhiksu yang sedang berada di dalam Samadhi “Nirodhasamapatti” tenang sekali!”

“Lagi O, Arya Ananda! Saat angin halus dan harum itu mengantarkan ribuan juta kuntum bunga Mandarava Surga ke seluruh alam Sukhavati, kelihatan hebat sekali, semua bunga Mandarava Surga ke seluruh alam Sukhavati, kelihatan hebat sekali, semua bunga menurut warnanya sebagian demi sebagian berhamparan merata di atas bumi kencana, hingga demikian teratur, demikian rapi tidak ruwet sedikitpun!

Bunga Mandarava yang semerbak harum baunya itu sangat lembut dari ringan serta mengkilat. Karena jumlah bunga-bungaan terlalu banyak apabila orang berjalan di atas bunga kakinya sering terjerumus ke bawah bunga kira-kira 4 inci dalamnya. Akan tetapi, setelah kaki mereka dinaikan bunga-bungaan lantas merata kembali tanpa bekas sedikitpun seperti sebelumnya! Apabila bunga tersebut telah dipakai oleh rakyat untuk memuja para Tathagata di 10 penjuru, bumi kencana lantas retak dan sisa-sisa bunga semua dihabiskan di dalam buminya, hingga bersih total tanpa ketinggalan sekuntumpun!

Meskipun hilang semuanya akan tetapi pada saatnya tiba angin bertiup lagi dengan bunga Mandarava Surga yang segar padat kembali ke seluruh bumiNya. Singkat kata, bunga-bungaan datangnya 3 kali pada siang hari dan 3 kali setiap malam, tetap pada waktunya tanpa luput sekalipun!”

“Lagi O, Arya Ananda! Bunga-bungaan yang lebih menakjubkan adalah bunga Teratai yang Maha besar itu, penuh padat di dalam kolam Padma, diparit saluran air, di bawah pepohonan sehingga seluruh alam, semua besar-besar dan berwarna aneka-warna sehingga kelihatan hebat sekali!

Dan, setiap bunganya mempunyai daun kelopak yang banyaknya hingga ratusan ribu koti dan sehelai demi sehelai mengelilingi mahkotanya. Semua bunga Teratai bersinar, dan cahayanya memancarkan berbagai warna yang amat indah serta terang benderang. Yang hijau bersinar hijau, putih bersinar putih, sawo, kuning, merah dan ungu bersinar aneka-warna amat indah dan cemerlang!

Sungguh, sinar cahayanya tidak akan kalah bila dibandingkan dengan sinar Bulan dan Sang Surya! Dan, setiap Teratai mempunyai 36 ratus ribu Koti pancaran sinar, setiap sinar terdapat 36 ratus ribu Koti Buddha Nirmita di tengah-tengahnya, semua berupa bagus, berbadan emas, dapat memancarkan ratusan ribu jenis cahaya hingga 10 penjuru untuk mengumandangkan “Saddharma” kepada para umat di pelbagai dunia.

Maka dari itu, para Buddha Nirmata pernah menempatkan banyak umat yang berbudi pada tingkat Samyaksambodhi!”

Buddha melayang ke alam Sukhavati, lalu dilahirkan dalam bunga teratai yang Maha Besar yang berasal dari 7 mustika, dan memperoleh Avinivartaniya hingga menjadi seorang Buddha terpilih (Ekajatipratibuddha). Sejak itu, baik Prajnanya atau pengetahuannya pun demikian luhur, dalam dan penuh usaha! Ia juga memiliki Rddhi dan Abhijna yang amat hebat, bila hendak menjelajah ke 10 penjuru dunia Buddha untuk memuja para Tathagata pun bebas total tanpa halangan sedikitpun!”

“Maka O, Arya Ananda! Para umat yang berhasrat ingin melihat Buddha Amitayus pada masa sekarang, mereka harus membangkitkan Bodhicittanya yang terluhur secepat mungkin, lalu dengan kebulatan tekad mempraktekkan Dharma luhur yang diajari oleh para Tathagata.

Dan disampingnya banyak beramal jasa-jasa yang agung, kemudian di-Parinamanakan supaya dirinya dilahirkan di alam Sukhavati untuk melihat Sang Buddha di sana. Jika para umat dapat membulatkan ke 3 syarat tersebut, pasti segala cita-citanya akan terwujud hingga sempurna!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda: “O, Arya Ananda!

Baiklah kita melanjutkan tentang isi syarat-syarat dari tingkat menengah itu:

(2) TINGKAT MENENGAH

Para Dewa, manusia serta makhluk-makhluk lain yang berada di 10 penjuru dunia mereka yang telah menggerakan hati sanubari berhasrat ingin agar dirinya dilahirkan di alam Sukhavati itu, andaikata mereka tidak mendapat kesempatan untuk menjadi seorang suci seperti Sramana, tidak mendapat kesempatan mengamalkan jasa-jasa agung hingga banyak, maka mereka terutama harus menggerakkan Bodhicittanya dan sampai sekarang mereka harus masih memiliki tekad melaksanakan perenungan Buddha atau memuliakan nama Buddha Amitayus (Amitabha) terus menerus, dan selama ini tidak pernah dicampur-baurkan dengan Dharma sesat atau Agama lain?

Membuat kebajikan dengan sesuai kemampuan sendiri. Menjalankan berbagai Sila suci seperti Pancasila, Astasila atau Sila lengkap dan sebagainya. Atau mendirikan Stupa atau Vihara disertai rupang Buddha bersama-sama dengan para simpatisan Dharma.

Jika lingkungan mengizinkan penghidupannya boleh diarahkan seperti Sang Sramana. Disampingnya mereka boleh menggantungkan hiasan-hiasan dari panji-panji sutera, patung iramiram sutera atau menyalakan lampu, menyebarkan bunga wangi dan membakar dupa dan sebagainya di depan rupang Buddha, biar berada di rumah ataupun berada di Vihara. Kemudian sang umat boleh dengan jasa-jasa yang dibuatnya disalurkan ke alam Sukhavati agar dirinya dapat dilahirkan di negeri Buddha Amitayus.

Apabila sang umat tersebut akan meninggal dunia, Buddha Amitayus akan menjelmakan seorang Buddha Nirmita yang berupa amat bagus dan seluruh badanNya memancarkan sinar emas amat terang-benderang, kelihatannya tidak berbeda dengan Buddha yang asli! Kemudian Buddha Nirmita bersama-sama rombonganNya menampakkan diri di depan sipemuja, segeralah sipemuja yang bahagia itu disambut Buddha Nirmita dan para rombongan untuk dilahirkan di alam Sukhavati.

Dan duduk dengan identitas Avinivartaniya. Cuma, kebajikan dan kebijaksanaan mereka agak rendah setingkat bila dibandingkan yang berstatus Tingkat-Pertama itu!”

Setelah Sang Buddha Sakyamuni membabarkan tentang syarat-syarat bagian menengah Beliau bersabda kepada Arya Ananda lagi:

“O, Arya Ananda! yang bijak! Yang disebut syarat-syarat dari tingkat yang bagian rendah adalah sebagai berikut:

(3) TINGKAT RENDAH

Para Dewa, manusia serta makhluk-makhluk lain yang berada di 10 penjuru dunia, mereka yang telah menggerakkan hati sanubari berhasrat ingin dirinya dilahirkan di alam Sukhavati. Andaikata mereka tidak dapat kesempatan untuk membuat berbagai kebajikan, terutama mereka harus membangkitkan Bodhicitta yang luhur, dan sampai sekarang masih tetap berbulat hati dan yakin akan Buddha Amitayus atau Amitabha. Walaupun hanya 10 kali saja mereka merenungkan:

“Namo Amitabha Buddhaya “. dan bercita-cita ingin dilahirkan di negeriNya. Atau, bila mereka mendengar Dharma luhur yang dikhotbahkan oleh para tokoh suci, hatinya akan senang sekali tanpa ragu sedikitpun terhadap Dharma tersebut; Kecuali, dirinya dikarenakan sesuatu penderitaan maka ia hanya dapat satu kali saja melakukan perenungan “Namo Amitabha Buddhaya”, dan mereka tetap bercita-cita ingin dilahirkan di alamNya. Maka apabila mereka akan meninggal dunia ia dapat bertemu dengan Buddha Amitayus di dalam mimpinya.

Dan, ia juga dapat dilahirkan di alam Sukhavati; Hanya kebajikannya dan kebijaksanaannya lebih rendah setingkat bila dibandingkan dengan tingkat bagian menengah itu!”

“Demikianlah tentang syarat-syarat dalam 3 tingkat itu, O, Arya Ananda!” Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya: “Sekarang akan kulanjutkan tentang wibawa dan keterampilan Buddha tersebut. Ketahuilah O, Arya Ananda! Sang Buddha Amitayus sungguh hebat! Para Tathagata yang berada di 10 penjuru dunia yang jumlahnya tak terhingga, selalu menyanjung kewibawaan, kebijaksanaan serta keterampilanNya yang demikian agung! Maka itu, Alam Sukhavati selalu dikunjungi rombongan Bodhisattva yang jumlahnya sulit diperkirakan, semua datang dari negeri Buddha sebelah Timur dari dunia ini banyaknya negeri bagaikan butiran pasir.

Sungai Gangga! Dan, maksud mereka adalah hendak mengadakan kebhaktian untuk memuja Buddha Amitayus di alam Sukhavati dengan upacaranya terkhidmat; Kemudian mereka akan menggunakan kesempatan ini untuk mendengar dan menerima Dharma luhur dari negeri Buddha tersebut, agar dirinya dapat membantu Buddha Amitayus mengembangkan Buddha Dharma di alam semesta! Dan, rombongan Bodhisattva bukan saja datang dari sebelah Timur, melainkan banyak juga datang dari sebelah Selatan, Barat, Utara, Timur-laut, Tenggara, Barat-daya, Barat-laut, bagian Atas dan bagian Bawah jumlahnya tak terhingga, kesemuanya datang berbondong-bondong lalu berkumpul di Istana Sukhavati, dengan hati amat riang gembira terus mengadakan persembahan di depan Buddha Amitayus. Suasananya demikian ramai dan meriah sungguh sulit dijelaskan dengan perkataan yang tepat!”

Kemudian Sang Buddha Sakyamuni mengucapkan beberapa bait Gatha pujian: Buddhaksetra (negeri Buddha) yang berada di sebelah Timur, Jumlahnya tak berbeda dengan pasir di Sungai-Gangga, Bodhisattva datang dari berbagai Buddhaksetra, Mengunjungi Sukhavati, menengok Buddha Amitabha!

Di sebelah Selatan, Barat hingga Utara, Keempat pojok serta Atas dan Bawah. Bodhisattva datang dari pelbagai Buddhaksetra, Mengunjungi Sukhavati, menengok Buddha Amitabha!

Rombongan yang demikian besar, para Bodhisattva, Dengan sajian bunga Mandarava Surga; Permata, Dupa, Gandha, Jubah berharga. Mengunjungi Sukhavati, memuja Buddha Amitabha!

Musik Surga dimainkan para Arya, Suara nyanyian sungguh sedap didengar!

Nyanyiannya berjudul “Memuliakan Lokanatha Termulia”,Khusus menghormati Sang Buddha Amitabha!

“O, Lokanatha Amitabha yang termulia! Memiliki Rddhi-Abhijna, menyelam lautan Dharma; Melengkapi “Gunagarbha” yakni gudang-jasa, Tak seorangpun berani membandingkan Prajna-Nya!”

“Sinar hidup Nya tak kalah dengan Matahari, Melenyapkan awan gelap tumimbal-lahir. Demi menghormatiMu aku mengelilingi 3 kali. Di depanMu kulakukan Anjali sekali lagi.” “Setelah kusaksikan Sukhavati yang demikian indah, Aku tertarik akan ketakjuban nan megah! Lantas kubangkitkan Bodhicitta terluhur, Agar negeriku sama dengan alamNya!”

Sang Buddha Amitabha pada seketika, WajahNya berseri-seri tanda riang gembira; Tiba-tiba, sinar gaib keluar dari mulutNya, Terangnya hingga ke sepuluh penjuru dunia. SinarNya kembali terus mengelilingi badanNya, Setelah 3 kali hilang di puncak kepala; Dewa, manusia, yang berada di negeriNya, Disamping menyaksikan ikut bergembira!

Sang Bodhisattva Mahasattva Avalokitesvara, Merapikan jubah, merangkapkan ke dua tanganNya; Menanyakan kepada Beliau mengapa riang Gembira: “Katakanlah O, Lokanatha apa sebabnya!”

Suara Sansekerta berguruh seketika, Bagaikan 8 macam musik berbunyi serentak;

“O, Arya yang Maha Karunika! Sebab – Aku akan meresmikan upacara “Vyakarana-Boddhisattva”.

“Ketahuilah, para Satpurusa (tokoh suci) dari berbagai dunia, Aku telah mengerti cita-cita mereka; Ingin dilahirkan disuatu “Alam Terbahagia”,Semua akan Ku wisudha menjadi Buddha!”

“Pahamilah “Sarva-Dharma” yang dianggap syarat utama, Makna-makna Dharma:

Mimpi, fantasi dan suara. Yang penting ‘Nadar-utama’ anda telah sukses, Alam suci diciptakan anda pasti sempurna!”

“Kilat, Bayang, juga perlambang Dharma,Setelah paham cepat melaksanakan “Bodhisattva-Cariya”!

Apabila jasa-utama anda telah lengkap, Anda akan Ku wisudha menjadi Buddha!”

“Mahirkanlah tentang Svabhava (inti-sarinya) dari “Sarva-Dharma”, Segala sesuatu: Sunya, Anatman beserta artinya; Kepada Alam-suci dengan segenap tenaga, Alam-suci diciptakan anda pasti sempurna!”

Para Tathagata menyarankan kepada para Bodhisattva: “Kunjungilah! Pujalah Sang Amitabha! Senang menerima, senang melaksanakan DharmaNya, Pastilah, suatu Alam-suci cepat anda perolehnya!”

“Ketahuilah, barang siapa tiba di negeriNya, Maka akan cepat memiliki daya Supernormal; Cepat diwisudha oleh Buddha Amitabha, Cepat mencapai Samyaksambuddha!”

“Mengapa demikian? Karena berkat “Nadar-utama”Nya! Maka, namanya didengar, gerakkanlah Bodhicitta! Anda tetap disambut ke Alam Sukhavati, Anda tetap memperoleh identitas Avinivartaniya!”

Kini, banyak Bodhisattva ikut berikrar, Agar: Negerinya sama seperti negeri Amitabha; Umat-umat yang merenungkannya dapat diselamatkan; Nama harumakan melimpahi berbagai dunia!

Demi mengabdi akan para Tathagata, Bodhisattva-Bodhisattva menjelajah seluruh Buddhaksetra; Berangkat dengan khidmat, riang gembira, Kembali dengan keterampilan mengindahkan alamnya!

Barang Siapa tanpa berbudi, tahukah anda?Dia sulit mendengar Sutra Amitabha! Yang dapat, yang telah suci-batin dengan Sila, Pastilah mereka akan menemukan Saddharma!Karena mereka pernah melihat Bhagavata, Maka, mereka yakin kepada Saddharma!

Baik sikap mendengar maupun melaksanakan, Hatinya demikian rendah serta bersukaria!Tapi jika sombong, gelap batin dan malas, Maka, makna Saddharma sulit dipercaya oleh mereka;

Kecuali masa lampau pernah melihat Buddha, Makna luhur itu mungkin dapat disadarkannya!

Para Sravaka-Sangha bahkan para Bodhisattva, Sulit memuncakkan citranya hingga sama-dengan Buddha;Maka diumpamakan mata, disangkutkan buta,Harus mengikuti jejak para bijak!

Pengetahuan Budha diumpamakan “Prajna-samudra”, Luas, dalam, sulit mencapai ke dasarnya! Maka, kedua Yana (Sravaka dan Bodhisattva) tidak mampu mengukur,

Hanyalah Buddha sendiri yang dapat memahaminya! Seandainya terdapat banyak umat cerdas, Semua telah mencapai Penerangan Sempurna. Memiliki kesucian, kebijaksanaan, pengetahuan bagi Sunyata, Mengukur “Prajna-Samudra”hingga ber-Koti Kalpa!

Walaupun dijelaskan segenap tenaga, hingga-Akhirnya usianya belum akan mengerti betapa dalamnya! Sungguh, Prajna Buddha tak terhingga, Maka, Beliau mampu menciptakan dunia!

Usia panjang sulit dimiliki manusia, Kedatangan Buddha sulit ditemukan semasa! Apalagi keyakinan, kebijaksanaan bisa dipersoalkan, Sungguh-sungguh belajarlah, kini tepat saatnya!

Seandainya, anda tidak lupa Dharma, Anda pasti dimuliakan para Tathagata; Maka, semoga para putra-putri berbudi, Bangkitkanlah Bodhicitta luhur hingga ke puncak!

Walaupun kobaran-api telah berjajar di dunia, Demi mendengar Dharma telah bertekad menelusurinya! Akhirnya anda pasti mencapai Kebuddhaan, Bebas dari belenggu tumimbal-lahir di Triloka!

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda: “O, Arya Ananda yang bijak! Para Bodhisattva yang berada di negeri Buddha Amitayus, semua harus beridentitas “Ekajatipratibuddha”. Kecuali jika mereka berjanji akan menanggungkan suatu kewajiban penting yakni, demi para makhluk sengsara, mereka dengan Nadar-utama serta jasa-jasa agung mengindahkan cita-citanya, membantu para makhluk membebaskan diri dari belenggu penderitaan di alam semesta.”

“O, Arya Ananda! Para Sravaka yang berada di negeri Buddha tersebut, semua memiliki sinar hidup dan sinarnya dapat memancar satu depa jauhnya, tapi, sinar hidup dari para Bodhisattva jaraknya lebih jauh lagi, sinarnya dapat memancar hingga ratusan Yojana! Dan, di antara Bodhisattva-Bodhisattva yang jumlahnya  tak terhingga ini, terdapat dua Bodhisattva yang bermartabat tertinggi, baik KewibawaanNya maupun sinar hidupNya, telah melimpahi Trisahasra- Mahasahastra Lokadhatu atau juta-jutaan dunia!”

“Apa nama kedua Bodhisattva-Mahiasattva itu? O, Bhagavan yang termulia! Sudi kiranya dikatakan!” Tanya Arya Ananda. “Yang satu bernama Avalokistesvara dan yang satu bernama Mahasthamaprapta!”

Sabda Sang Buddha: “O, Arya Ananda! Tahukah ke dua Bodhisattva Mahasattva pada masa purbakala mereka pernah mempraktekkan “Bodhisattva- Cariya” di dunia Saha ini, setelah mengakhiri kehidupanNya Beliau baru dilahirkan di alam Sukhavati, kini sedang membantu Buddha Amitayus mengembangkan Saddharma di alam semesta!”

“Lagi O, Arya Ananda yang bijak! Para Makhluk yang lahir di alam Sukhavati semua memiliki “32 Tanda Fisik Agung” yang lengkap! Dan PrajnaNya, SiddhiNya, telah sempurna semua, juga mereka tak segan-segan mendalami pengetahuan “Sarva-Dharma” hingga mencapai dasar-dasar yang terutama. Mereka telah memiliki pengetahuan Rddhi-Abhijna yang tanpa halangan. Demikian pula, indera-indera yang dimiliki mereka pun demikian tajam tanpa cacat sedikitpun!

Ketahuilah paling tidak, para makhluk yang berakal-budi agak rendah itu, semua telah mencapai 2 jenis Dharma-Ksanti, apalagi yang berakal budi terluhur itu, semua telah mencapai Dharma-Ksanti yang banyaknya sungguh sulit diperkirakan!

O, Arya Ananda! Tahukah anda, para Bodhisattva di negeriNya itu sungguh amat bahagia, mereka sejak semula hingga ia menjadi Buddha tidak pernah terlibat Alam Kesedihan. Dirinya demikian bebas dan dayaNya demikian supernormal!

Semuanya telah memiliki pengetahuan “Purvanivasanusmrtijnana”, maka segala perbuatan pada masa lampau bisa diketahui semua! Kecuali yang sebagian Bodhisattva masih perlu dilahirkan di dunia-dunia yang tengah mengalami “Panca Kasaya” (5 macam kekeruhan), tapi, keterampilan yang dimilikiNya masih tetap sama dengan para Bodhisattva yang berada di negeri kita (dunia Saha) tanpa berbeda sedikitpun!”

“Lagi O, Arya Ananda yang bijak!” Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya: “Tahukah anda, Para Bodhisattva di Sukhavati itu selalu menerima Adhisthana oleh Rdhibala Buddha Amitayus. Andaikata mereka ingin mengunjungi para Buddha hanya dengan waktu sesekali santapan saja, mereka telah menjelajah ke 10 penjuru dunia Buddha untuk mengadakan kebhaktian memuja para Tathagata dengan upacara khidmat di negeriNya. Tentang sajian-sajian serta alat-alat pujaan lain seperti Bunga wangi, Dupa, Gandha, Musik Surgawi, Tari-tarian agama, Jubah berharga, Payung iram-iram dari sutera, berbagai jenis panji serta bendera dan sebagainya.

Sipemuja hanya tinggal merenung saja, semua sajian serta alat-alat pujaan yang dimintanya segeralah terwujud didepan-nya. Dan benda-benda yang terwujud itu semua berkualitas amat bagus, indah, halus sungguh sulit ditemukan di dunia kita! Apabila semua telah lengkap sajian tersebut dipersembahkan kepada para Buddha, para Bodhisattva serta para Sravaka-Sangha di negeri Buddha yang dikunjungiNya.

Setelah upacara selesai sajian tersebut semua diserahkan (atau dilontarkan) ke angkasa. Hebatnya bukan main O, Arya Ananda! Hanya sepintas kilat semua lemparan telah menjelma dijadikan sebuah payung bunga yang Maha besar di atas langit! Dan, bunganya terus memancar sinar cahaya amat terang benderang, mengeluarkan bau harum yang melimpahi seluruh alam semesta! Diameternya persis 400 Yojana, tapi payungnya terus membesar hingga beberapa juta kali lipat bila dibandingkan dengan sebelumnya! Sehingga dapat menutupi Trisahasra-Mahasahasra Loka-dhatu dunia! Kemudian bunganya sebagian demi sebagian menghilang di angkasa hingga habis. Pada saat itu, para Bodhisattva semua merasa amat riang gembira. Mereka bersama-sama memainkan musik Surgawi di ruang angkasa, dengan suara nyanyian amat merdu dengan Gatha-Gatha Pujian memuliakan jasa-jasa Buddha. Kemudian mereka bersama-sama di sekeliling Buddha mendengar khotbahnya.

Saat belum tiba waktu makan siang mereka telah melunasi segala kewajiban dan semua merasa badannya membumbung dari lantai terus ke langit. Demikianlah, hanya sepintas kilat saja mereka telah kembali ke Tanah-airNya (alam Sukhavati)!”

Sang Buddha Bersabda kepada Arya Ananda:

“O, Arya Ananda yang bijak! Setiap waktu Buddha Amitayus mengadakan pengkhotbahan tentang Dharma luhur kepada para Bodhisattva, para Sravaka- Sangha dan para Dewa, manusia di ruangan Vihara 7 mustika itu, suasananya demikian khidmat, meriah, sehingga semua pendengar amat senang terhadap DharmaNya! Dan semua makna-makna terdalam dapat meresap ke dalam hati mereka, sehingga banyak yang dapat mencapai Samyaksambuddha. Lebih hebat lagi, saat pelajaran mereka sedang mulai di ruangan tersebut, angin sejuk semilir tiba-tiba menghembus dari 4 jurusan menggerakkan pohon-pohon 7 mustika, tatkala kira-kira ada 500 jenis suara yang amat merdu terus bergema di seluruh alamNya.

Bunga-bunga Mandarava Surga yang harum juga diantarkan angin semilir sekali demi sekali tanpa henti bertumpukkan di atas bumi kencana guna memuja Buddha. Adapun Dewa-Dewa dari Surga lain juga datang berbondong-bondong ke alam Sukhavati dengan ratusan ribu macam bunga Surga serta ratusan ribu macam musik Surga, nyanyian dan tari-tarian untuk menyembah Buddha Amitayus serta para Bodhisattva, para Sravaka di negeriNya.

Setelah rombongan dewa tiba di alam Sukhavati pertama, mereka menyebarkan bunga dari atas langit ke sekeliling Sang Buddha dan memainkan musik Surga serta menarikan tari-tarian di angkasa, lalu berbaris memasuki ruangan Vihara, memberikan penghormatan kepada Buddha Amitayus. Mereka sebaris demi sebaris keluar-masuk, datang pergi.

Kendati keadaan demikian ramai, demikian sibuk akan tetapi, ketertiban tetap disiplin, teratur tanpa rusuh sedikitpun! Bahkan semua pengunjung hanya merasa riang gembira dan semua memperoleh hasil yang terunggul dari khotbah Buddha!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Ananda:

“O, Arya Ananda yang bijak! Sekarang aku hendak menjelaskan tentang ketrampilan-ketrampilan yang telah dicapai oleh para Bodhisattva yang lahir di negeri Buddha Amitayus itu kepada kamu sekalian! ketahuilah, para Bodhisattva memiliki perasaan Maitri-Karuna, senang membabarkan Saddharma kepada pengikutNya. Ajaran-ajaran yang dipergunakan untuk sarana pendidikan semua menurut kebijaksanaan dan kemampuan sang umat.

Meskipun daya penerimaan dari para didikan tidak sama atau lemah sekali, tetapi tak seorangpun yang di tolakNya atau ditinggalkanNya! Dan para Bodhisattva baik lahir maupun batin-Nya tetap suci murni, Maka segala sesuatu yang berada di negeriNya walaupun bentuknya demikian menarik dapat mempesonakan orang, tapi mereka tidak bermaksud memilikinya.

HatiNya tanpa keterikatan! CitraNya, pikiranNya, perilakuNya, demikian terang dan bersih tanpa terikat sedikit apapun. Dan, tiap-tiap orang dianggap sedharma, tidak pandang bulu; Tidak ada perebutan juga tidak ada peristiwa perkara pidana! mereka hanya memiliki perasaan belas kasihan, murah-hati serta ramah-tamah untuk memberi manfaat kepada para umat; Mengatur para umat supaya tidak memiliki perilaku yang tak terpuji seperti benci, suka marah, murka, geram, gelap mata, keruh batin, lalai, malas dan sebagainya;

Sang umat harus memiliki perasaan sama-rata atau pandangan seimbang dan bersemangat usaha, ketenangan batin, tekad berjuang, cinta Dharma, rajin mempraktekkan Dharma dan tekad memusnahkan segala penderitaan Klesa; Tekad membebaskan segala idea yang meliputi tentang alam kesedihan! Para Bodhisattva telah sukses dari pelaksanaan “Bodhisattva-Cariya”, telah mengumpulkan jasa-jasa yang terlengkap, banyak tak terhingga!

Mereka telah mencapai sesuatu Samadhi terluhur; Mereka telah memiliki 6 macam pengetahuan Abhijna; Mereka dengan sepenuh hati mencurahkan kepada Sapta-Bodhyanga (7 Bagian Kesadaran) dan berbagai Saddharma tertinggi dari ajaran Tathagata. Lagi, tentang Mata- JasmaniNya demikian jernih, penglihatan-Nya terang dan luar-biasa; Mata- BatinNya dapat melihat pada jarak yang hingga tiada terbatas; Mata-DharmaNya dapat menganalisa makna-makna Dharma luhur hingga mencapai Kebudhaan; Mata-KebijaksanaanNya dapat melihat intisari dari Doktrin-doktrin terdalam dan dengan metode yang berfasilitas menyelamatkan para umat untuk menyeberang ke Pantai-Seberang;

Mereka juga memiliki Mata-Buddha sehingga segala Dharmata atau Dharma-Dhatu dapat disadarkan, dicerapkan, kemudian mereka dengan Prajna-Avarana (kebijaksanaan tanpa halangan) mengadakan Mimbar-Dharma mengkhotbahkan Saddharma kepada para umat : Bahwa ‘Segala-sesuatu’ yang bernada di Triloka semua bercorak Sunyata, semua tidak kekal! Kecuali hanya Buddha Dharmalah yang hingga jutaan Kalpa masih tetap kekal di dalam hati sang umat!

Oleh karena itu, barang siapa sadar kepada Buddha Dharma, harus bertekad mempraktekkan Buddha Dharma kemudian mencapai kelancaran teknis Pratibhana, agar Saddharma yang amat bermanfaat itu dapat diantarkan ke tangan orang lain lagi; Agar semua orang dapat ikut memusnahkan penderitaan Klesanya; Agar mereka cepat dilahirkan di alam Tathagata guna menerima serta mencapai hakekat-hakekat yang terluhur dariNya!”

“Lagi, setelah para Bodhisattva paham betul tentang Duhkha, Samudaya, Nirodha, Marga, Sabda, Ghosa, Upaya dan hakekat-hakekat lain, maka mereka tidak akan tertarik oleh perkataan duniawi, kecuali Abhidharma, Vinaya dan Sutra- Sutra yang diuraikan Tathagata serta segala perbuatan Kusalamulani serta kepahalaan Samyaksambuddha!

Mereka paham bahwa “Segala-sesuatu” akan musnah pada waktu tertentu. Maka, mereka bertekad mengatasi Ke-dua Sesam ( = sisa, masih memiliki badan yang menderita) yakni: Sesama dari penderitaan tubuh serta Sesama dari penderitaan batin hingga tuntas! Oleh karena itu mereka tidak’segan-segan menuntut Dharma yang tertinggi.

Tekadnya bulat dan giat tanpa ragu sesuatu apapun! Setelah mereka menjadi seorang yang beridentitas Maha- Karuna, ia tetap mengabdikan diri kepada para umat sengsara. Meskipun para sengsara berada di tempat terpencil, sekian jauh, kondisinya sekian buruk dan terperosok serta sulit dilindungi; Tapi iba-hatiNya tetap dilimpahkan kepada yang sedang mengalami sengsara seperti itu!

Lagi, Tujuan mereka hanya ‘Ekayana’ (hanya satu Yana atau kendaraan besar tiada dua atau tiga jenis Yananya) yakni menuntut kepahalaan Buddha yang teragung. Dan, demi memperoleh pahala agung ini, mereka bertekad menyeberang diri ke Pantai-Seberang.

Demikian pula, segala jala-jala sesat semua diputuskan dengan ke-bijakanNya; Segala metode-metode dari Buddha Dharma semua dikompletkan dan dimiliki mereka. Sungguh, pengetahuan mereka tidak berbeda dengan Samudra dan SamadhiNya juga tidak berbeda dengan Sumeru-raja! Sinar PrajnaNya demikian terang benderang hingga melampaui sinar Bulan dan Sang Surya! Doktrin-doktrin bagi Vidya juga sempurna semua.

Jasa-jasa yang dikumpulkan oleh mereka semua suci bersih bagaikan cahaya gunung salju, tanpa noda sedikitpun! Akan tetapi, hati mereka serta kewibawaanNya biarpun terhadap siapa tetap sesama sifat Sang Bumi, tanpa memandang kotor atau bersih, cantik atau jelek. Demikian juga, hati mereka serta kewibawaanNya tetap seperti Air suci yang dapat membersihkan kekotoran duniawi.

Dan tetap seperti api kobaran yang dapat menghabiskan segala bahan bakar yang berasal dari penderitaan Klesa. Tetap seperti angin kuat melintasi seluruh semesta tanpa halangan. Juga seperti angkasa terhadap apapun tanpa merekat.

Tetap seperti bunga Teratai biar tumbuh di lumpur tapi tidak berlumpur. Seperti kendaraan besar (Mahayana) dapat mengangkut rombongan umat keluar dari penderitaan tumimbal-lahir. Seperti lapisan awan yang mengkilatkan petir, menggemuruhkan guruh guna membangkitkan para sesat. Seperti hujan lebat menghujani air sari embun guna menyegarkan para makhluk yang kehausan. Seperti gunung Vajra (intan) yang tidak tergoyahkan oleh para Mara, para pengajar sesat. Seperti raja Brahma memiliki berbagai perbuatan baik yang teragung.

Seperti pohon Grodha yang meneduhkan orang yang ingin dilindungi. Seperti bunga Utpala sulit ditemukan. Seperti Sang Garuda dapat mengalahkan para penjahat dengan gagah beraninya. Seperti burung air dapat menyelam ke dalam air sehingga mangsanya sulit bersembunyi.

Seperti kerbau kuat hingga tak seorangpun dapat mengalahkannya. Seperti raja gajah dapat mengatur para gajah Uar menjadi pengikutnya. Seperti raja singa walau terhadap binatang buaspun tak merasa takut.

Tahukah O, Arya Ananda! Kelapangan dadaNya tidak berbeda dengan angkasa, apa sebabnya? Karena mereka telah memiliki perasaan Maha-Karunika (welas-asih); Dan bila diejek oleh para pemenang, tapi batin mereka tetap tenang seperti semula, apa sebabnya? Karena perasaan benci yang dimilikiNya telah musnah! Mereka hanya ingin memperoleh Dharma luhur, hanya ingin mengadakan pengkhotbahan kepada para umat secara luas.

Walaupun pekerjaan mereka demikian berat, tapi mereka tanpa merasa badanNya lelah-payah! Bahkan selalu dengan segenap tenagaNya memukul gendang Dharma; Memasang bendera Dharma; Memancari cahaya kebijakan bagaikan sinar matahari agar para gelap batin dapat melenyapkan kebodohannya secepat mungkin!

Mereka selalu menghayati ‘Enam Penghormatan Sangha’ yakni Penghormatan tentang raga, tentang ucapan, pikiran, Sila, kemanfaatan dan pandangan. Disamping itu, mereka selalu mengadakan Dharma- Dana dan semangat mereka demikian giat, penuh usaha serta riang gembira tanpa perasaan lesu-lelah. Ketahuilah, mereka adalah suatu Pelita-dunia yang amat cemerlang; Mereka adalah sebuah ladang sumber kebahagiaan yang bermanfaat.

Mereka selalu menjadi guru pedoman yang terkemuka, tapi kepada siswaNya pandanganNya sama-rata tidak peduli karib atau benci! Mereka hanya mengarahkan ke jalan benar dan lurus, jalannya tidak bersimpang dua atau tiga! Demi menenteramkan rencana hati sang umat, mereka berani mencabut berbagai ‘Duri-nafsu’ di tuduh sang umat! Karena mereka memiliki kebijaksanaan serta jasa-jasa agung demikian banyak, maka perilakuNya selalu dimuliakan oleh para simpatisan Dharma!”

“Lagi, O, Arya Ananda yang bijak! Tahukah anda, para Bodhisattva bukan saja Tri-KarmaNya (3 macam perbuatan buruk), Tri-KincanaNya (3 macam halangan) yang pernah dimiliki itu kini telah musnah total, maka, tidak ada halangan yang menyangkut bahkan sering dengan ke enam keterampilan Abhijna menjelajah ke seluruh semesta! Lagi O, Arya Ananda!

Mereka bukan hanya berpengetahuan Abhijna melainkan berbagai ‘Daya-utama’ telah dimiliki oleh mereka seperti daya tentang Hetubala (daya penyebab), tentang Pratyayabala (daya hubungan penyebab), Asayabala (daya ideal), Pranidhanabala (daya nadar), Upayabala (daya fasilitas), Nityabala (daya kekal), Kusalabala (daya dari perbuatan baik), Samadhibala (konsentrasi), Prajnabala (daya kebijaksanaan luhur), Bahussatobala (daya karena banyak mendengar), Damabala, Silabala, Ksantibala (daya kesabaran), Viryabala (daya usaha), Dhyanabala (daya meditasi), Prajna- Paramitabala (daya menyeberang dengan Prajna), Samyak-smrtibala (daya merenung yang benar), Samathabala (daya ketenangan batin), Sad-Abhijnabala (daya 6 macam gaib batin), Tisro-Vidyabala (daya dari 3 macam cemerlang), Abhicarakabala (daya pengatur) dan sebagainya, telah lengkap semua tanpa kurang sesuatupun! Lagi, badanNya, warnaNya dan wajahNyapun demikian cantik dan indah; Jasa-jasaNya demikian lengkap dan keterampilan Pratibhanapun demikian lancar! Sungguh, jarang ada orang yang patut dibandingkan dengan mereka!

Apalagi, mereka sering mengadakan kebhaktian untuk memuja para Tathagata dengan khidmat dan banyaknya tak terhingga, maka dari itu, perilakuNya selalu dihargai oleh para Tathagata! Kini, mereka telah mensukseskan berbagai Paramita tingkat Bodhisattva, juga telah mencapai berbagai Samadhi luhur seperti: Sunyata, Animitta, Apranihita, Anutpanna, Aniruddha dan sebagainya. Apabila kedudukan mereka dibandingkan dengan kedudukan para Sravaka, para Pratyekabuddha akan jauh beberapa kali lipat!”

“O, Arya Ananda yang bijak! Demikian banyak dan sulit diperkirakan kepahalaan agung yang dihasilkan oleh para Bodhisattva di alam Sukhavati!”

“O, Arya Ananda! Ketahuilah, apa yang Kuuraikan tadi sebenarnya hanya sebuah cerita singkat, apabila Dharma tersebut dijelaskan secara luas, meskipun Kuuraikan hingga ratusan ribu Kalpa, khotbahan ini sulit habisnya!”

Selanjutnya, Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Bodhisattva Maitreya serta para hadirin :

“O, Arya Ajita yang berbudi! Sungguh, para Bodhisattva, para Sravaka -Sangha yang berada di negeri Buddha Amitayus itu, baik citraNya, jasa-jasaNya maupun kebijaksanaanNya juga keterampilanNya pun demikian luhur, agung sulit dikatakan! Apalagi, keadaan alam Sukhavati juga demikian megah, indah, tenteram, bahagia dan suci bersih!

Kesemuanya ini patut diberi perhatian, mengapa umat manusia di dunia Sahaloka (dunia penderitaan) enggan mempraktekkan Dharma luhur dengan sepenuh hati? Enggan mengumpulkan jasa-jasa hingga sebanyak-banyaknya? Agar dirinya tidak akan merekat ke atas dan tidak diterjunkan ke bawah, justru dirinya dapat mencapai Prajna hingga tak terbatas!

O, Arya Ajita! Sungguh, waktu bagi segala makhluk demikian penting, apalagi pendek sekali, maka, anda harus berusaha mengatur waktunya dengan cermat serta seksama, agar segala pelaksanaan Dharma dapat menghasilkan buahnya yang amat bermanfaat, dapat membebaskan diri dari sengsara dilahirkan di alam bahagia!

Andaikata metode-metode berfasilitas untuk ‘Merenung atau Memuliakan nama Buddha Amitabha’ itu dapat anda laksanakan dengan bulat hati, pasti anda dapat melintasi ke-lima “Alam Kesedihan” dengan jasa-jasa yang anda peroleh itu!

Tahukah anda, seketika jalan-jajan Alam- Kesedihan akan tertutup secara otomatis dan jalan menuju ke negeri Buddha Amitayus tidak menolak siapapun juga, tidak ditegur dari manapun ia datang! Malahan, halnya setelah diketahui oleh Beliau, Ia dengan perasaan sangat riang gembira datang menyambut anda!

O, Arya Ajita! Mengapa anda enggan meninggalkan segala duniawi secepat mungkin untuk mengamalkan berbagai kebajikan? Di Pantai-Seberang bukanlah baik penghidupan anda maupun usia anda dapat mencapai hingga Asamkhyeya Kalpa yang tak terbatas! Tapi

O, Arya Ajita! Betapa sedihnya! Bahwa pandangan dari para umat demikian pendek dan selama hidup di dunia Sahaloka mereka hanya ingin saling merebut hal-hal yang tidak berarti. Malahan, demi keperluan sehari-hari rela menjadi korban di dalam penderitaan! Mereka biarpun kedudukannya dari kaum termulia atau dari golongan terhina; jutawan atau orang miskin, tua-muda, pria wanita semua hanya cenderung akan harta benda.

Yang sudah memiliki atau yang tidak memiliki sesuatupun ikut kuatir. Sungguh, bagi mereka tidak ada hari tanpa melibatkan kekuatiran bahkan kebingungan, kemurungan, berangan-angan, kecemasan dan sebagainya. Karena pikiran mereka bergerak terus-menerus dan diarahkan kejurusan yang keliru, maka batinnya .terganggu terus sulit ditenangkan!

Lebih-lebih lagi, setelah memiliki ladang luas malah semakin kuatir tanahnya mengerut; Memiliki gedung yang luas kuatir gedungnya musnah. Kalau mempunyai ternak, hewan-hewan, kuda, kerbau, pesuruh pria, pramuwisma, harta benda, sandang-pangan, alat-perkakas, perabotan-perabotan dan sebagainya, pikiran mereka akan lebih kacau-balau lagi!

Karena kekuatirannya terlalu berlebihan, apabila terhadap benda-benda tersebut hatinya tetap demikian: Berpikir-pikir sampai berulang-ulang, nafasnya akan terengah-engah, selalu terkenang-kenang, terkejut… Apalagi saat didatangi musibah seperti kebakaran, banjir, perampok musuh, penagih sehingga harta bendanya makin lama makin melenyap, akhirnya kosong total! Oleh karena itu, kekuatirannya makin lama makin parah dan tetap menjangkau ke dalam hatinya tanpa melepas!

Akan tetapi, mereka tidak akan sadar, hatinya tetap demikian tegar, kepalanya tetap demikian keras dan tidak berani membuang sedikit tempo untuk menganalisa apa sebab hingga demikian? Hanya duduk dengan kebingungan, akhirnya matilah dalam keadaan sedih dan tanpa sesuatu apa pun yang dapat ikut pergi! Sunggguh, penderitaan ini bukan saja dialami para awam melainkan para termulia, sang kaya dan orang-orang terpandang pun tidak luput darinya! Malahan, kadang- kadang situasinya lebih jelek, tidak berbeda seperti penyakit demam selesma, amat sakit rasanya!

Adapun para miskin serba kurang tidak mempunyai harta-benda, tak memiliki sawah juga tak memiliki rumah, apalagi tentang ternak hewan, kuda, kerbau, uang, pangan, pakaian dan perabotan dan sebagainya! Tapi, mereka tidak akan lupa kalau hendak memilikinya harus memperjuangkannya dengan segenap tenaga dalam susah-payah.

Saat sesuatu harta benda telah diperoleh ingin sesuatu lagi, demikianlah hingga segala-galanya cukup serta lengkap semua. Akan tetapi, karena kebanyakan harta-benda berlimpah-limpah di rumahnya, maka, sejak itu mereka melupakan kesusah-payahan dan memboroskan harta-bendanya. Setelah harta-bendanya habis mereka mulai membanting-tulang lagi, tapi sia-sia belaka usaha mereka gagal semua!

Kini, mereka mulai putus-asa baik lahir maupun batin menjadi demikian kusut! Duduk tak merasa tenang, berdiri lebih merasa berguncang, keadaannya persis penyakit demam selesma, amat sakit rasanya! Akhirnya matilah mereka dalam keadaan sedih.

Karena mereka pada waktu hidup enggan membuat kebaikan, enggan menimbun jasa-jasa dan enggan mempraktekkan Dharma, setelah wafat tidak ada bekal sedikitpun untuk perjalanannya yang demikian panjang dan sukar! Apalagi, akibat jalan yang sedih atau jalan bahagia akan dilintasinya, mereka tidak bisa diketahui sama sekali, hanyalah Yang Mahaesa yang tahu ke alam mana mereka pergi!”

“O, Arya Ajita yang berbudi! Sudilah mengantarkan kata-kataku ini kepada para umat manusia atau makhluk lain yang Kusayangi! Agar setiap orang yang berada di sahaloka dan makhluk-makhluk di semesta dapat memperoleh manfaat bila mereka menganggap perlu.

Dan kini, para umat manusia yang perlu dibimbing oleh anda terutama adalah para anak dengan orang tuanya, adik sama kakaknya, suami-istri, anggota keluarga, setiap suku bangsa serta para tamu yang datang dari pelbagai negara. Anda boleh pesan pada mereka : Syukurlah, kalian ini dapat hidup serumah, sekeluarga, satu tanah-air serta satu dunia! Betapa bahagia!

Patut, kalian harus saling menghormati, saling menyayangi serta saling memanfaatkan satu sama yang lain. Janganlah menimbulkan perasaan benci atau memusuhi orang lain! Yang punya boleh menurut kemampuannya membantu yang tidak punya serta para korban yang sangat perlu diselamatkan. Sifat-sifat seperti Lobha (tamak) dan Matsarya (kikir) boleh dianggap suatu sikap terjelek bagi umat manusia!

Terhadap siapapun Vaca (bicara) dan Rupa (sikap jasmani) harus sopan-santun serta ramah-tamah, tanpa melawan tata-krama! Lagi jika terdapat pertengkaran kecil yang dianggap tidak serius tapi enggan berdamai atau dibubarkan, hingga kemarahannya tetap dimiliki ke dua pihak. Walaupun hal-hal itu pada masa ini belum menjadi persoalan besar, akan tetapi, jika dipanjangkan hingga masa mendatang kegawatannya akan bertambah beberapa ribu kali lipat dan sikap permusuhan dari mereka pun lebih mendalam lagi! Mengapa demikian?

Ini adalah akibat dari Hukum-Karma! Karena sebagian besar umat manusia di dunia Sahaloka senang saling ber-Vihimsa (menyakiti), bila tidak cepat meleraikan racun dari kemarahan akan mengganggu batin mereka dan bibit kebencian akan berbenih di kebun Alayavijnana, amat sulit dilepaskan! Demikian pula, ke dua orang yang bermusuhan itu tetap dilahirkan pada masa yang sama, tempat yang sama, maka tiba waktunya dendam mereka matang dan terus bertambah hingga ke puncak, apabila tidak dileraikan hingga tuntas!”

“O, Arya Ajita yang berbudi! Tahukah anda, dunia Sahaloka yang penuh Kama (nafsu indera), Chanda (kepuasan, keinginan) ini, meskipun masyarakat umat manusia demikian ramai, sibuk, akan tetapi, bila ditinjaukan kelahiran dan kematian dari seseorang keadaannya sungguh amat menyedihkan! Mereka datang hanya sendiri pergi pun sendiri, tiada seorangpun yang menemani juga tiada seorangpun datang menyambutnya!

Seandainya saat mereka tiba di alam kesedihan karena dosanya terlalu berat masa hukumannya hingga jutaan Kalpa. Walau pun saat ia masih berada di rumahnya, baik anak, saudara maupun harta benda jumlahnya tak terhingga! Tapi, seorang anak ataupun seorang saudara tidak dapat menggantinya, apalagi mohon diringankan belenggu hukuman dengan harta bendanya!”

“O, Arya Ajita! Yang berkelakuan baik tetap dilahirkan di Surga bahagia; Yang berkelakuan jahat tetap dilahirkan di alam sengsara! Walaupun mereka belum mulai berangkat jalannya telah terbuka secara luas menunggu kedatangan mereka. Sesudah mereka berada di alam masing-masing sulit dilihat oleh para umat yang hanya memiliki mata-jasmani!

Karena mereka belum pernah melaksanakan Dharma, belum bisa membebaskan dirinya keluar dari Triloka, maka, baik yang berkelakuan baik maupun jahat tetap ditumimbal-lahirkan di alam masing- masing dan masanya panjang sekali, jalannya juga gelap sekali. Adapun para sanak saudara yang ditinggalkan itu mempunyai jalan masing-masing yang tidak sama, maka, kapan mereka dapat bertemu lagi sungguh sulit diketahui!

O, Arya Ajita! Sekarang kalian dapat hidup dengan Buddha pada satu masa, hidup dengan para umat manusia yang satu nusa, sedunia. Betapa bahagia! Mengapa anda masih enggan meninggalkan segala keduniawian anda? mempergunakan masa keemasan, keremajaan, membangkitkan Bodhicitta anda? Agar dapat mengumpulkan jasa-jasa agung yang banyak; Mempraktekkan Dharma luhur supaya dapat bebaskan diri dari belenggu kesengsaraan, dilahirkan di negeri Buddha yang berusia Asamkhyeya Kalpa tak terhingga? Apa sebabnya anda enggan mencari Marga (Jalan Kebuddhaan) teragung untuk mengatasi tumimbal-lahir anda? Hendak menunggu hingga kapan? Apakah masih ada kesenangan yang memikat anda?

O,Arya Ajita! Sungguh, umat manusia masih banyak sekali yang enggan menjadi orang yang sadar dan memiliki kebijaksanaan. Mereka masih ragu bahwa kalau mengamalkan jasa akan memperoleh kepahalaan agung; Kebulatan tekad mempraktekkan Dharma luhur dapat membebaskan diri dari belenggu sengsara.

Bahkan ada yang tidak percaya bahwa seseorang yang telah meninggal akan dilahirkan di suatu alam menurut Karmanya (perbuatan baik atau jahat); Juga ada yang tidak percaya kalau seseorang suka mandanakan harta bendanya kepada orang sengsara, meskipun jumlahnya tidak banyak ia akan dianugrahi kebahagiaan yang tak terhingga

Atau mereka sama-sekali tidak mau menaruh kepercayaannya tentang Akibat’ yang datang dari perbuatan baik atau Karma jahat! Karena mereka demikian tegar hati dan tidak ada kebijaksanaan akhirnya tenggelamlah mereka ke dalam lautan sengsara! Betapa sedihnya! Akan tetapi, setelah selang beberapa lama dan sedikit demi sedikit mereka bisa merasa pandangannya keliru malah bisa melihat bahwa ‘Sebab-akibat’ itu pada dasarnya ada sehingga hatinya menyesal sekali, namun waktu sudah tidak mengizinkan mereka untuk berpikir lebih banyak lagi karena hukuman sedang dijalani! Ketahuilah, orang seperti itu bukan terbatas pada generasi mereka saja malah sejak nenek moyangnya, ayahnya pun demikian gelap, demikian kurang sadar dan bijaksana, semua pun enggan menimbun jasa-jasa, belajar Dharma, sehingga turunan mereka makin lama makin gelap batinnya.

Mereka kurang budi, tidak bijak, bodoh, banyak bertabiat sangat jahat sering membahayakan anggota keluarganya, meresahkan masyarakat bahkan merugikan negara hingga dunia. Betapa sedihnya! Karena kurang bijak, enggan percaya, enggan mengamal jasa-jasa, sendiri tidak dapat melihat dan langka orang memberitahu atau tidak bisa memberitahu, maka mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang asal-usul tumimbal lahir dan tentang Jalan menuju ke alam bahagia atau alam sengsara. Segala perbuatan mereka semua diliputi baik dan buruk atau untung dan celaka.

Saat dukacita telah terjadi di rumahnya amat kacau balau lah suasananya : Ayah menangisi mayat anak, atau anak menangisi’ mayat ayah, atau kakak menangisi mayat adik, atau adik yang menangisi, atau Suami-isteri saling menangis, hebat sekali!

Padahal, segala sesuatu berada di dunia fana semuapun bercorak Sunyata (kekosongan), tidak ada yang kekal, kecuali jasa-jasa serta Dharma luhur, sedang yang lain bila tiba saatnya tetap akan musnah total apalagi tubuh manusia hanya terdiri dari Caturdhatu (4 macam unsur : tanah, air, api, angin)! Yang patut kita sayangi batin kita bukan mayat; Betul?

Dan, dengan sarana ini para tokoh bijak tak segan-segan membimbing mereka, tapi di antaranya masih sebagian besar tidak mau menaruh perhatian, mereka rela melepaskan dirinya mengikuti roda Samsara (putaran lahir mati) berputar terus menerus tanpa hentinya! Mengapa hingga demikian? Tiada yang lain kecuali batin mereka yang terlalu gelap, keras kepala, pikiran tegar, enggan menaruh perhatian dengan pandangan jauh, pandangan pada masa mendatang, enggan menerima ajaran-ajaran penting dari para tokoh bijak;

Hanya mengejar kesenangan, hanya ingin memikat nafsu duniawi, merebut harta benda bahkan wanita! Moral-mental serta budi-pekerti rusak total! Bengis, dendam, angkara-murka dan sebagainya! Disamping itu, karena tidak memiliki jasa-jasa untuk bekal juga tidak pernah mempraktekkan Dharma luhur untuk menyelamatkan diri maka, setelah mengakhiri kehidupannya cepat sekali diterjunkan ke alam sengsara atau terus berputar kalam roda kelahiran dan kematian hingga berjuta-juta tahun dan belum pasti dapat keluar. Betapa sedihnya!

Dan, di antara mereka juga ada yang ingin belajar Dharma, mereka pernah ikut para Maitrayani (tokoh bijak dan suci) dan pernah mendengar khotbahnya. Tapi, mereka tidak bisa berpikir hingga dalam, tidak bisa menggerakkan hati sanubari hingga total, baik lahir maupun batin juga.enggan disucikan, pandangan belum bisa sampai jauh;

Terhadap Dharmanya juga kurang tekad, mereka masih tetap terikat kepada hal duniawi hingga kukuh sekali, sampai kebijaksanaannya menghilang dan batinnya gelap kembali seperti semula. Oleh karena itu, sampai umurnya habis pun belum bisa mencapai Kebodhian! Keadaan seperti mereka itu amat menyedihkan!

Demikian pula, Mereka masih muda, sehat dan umurnya pun belum habis, tapi, nyawa mereka tetap hilang dan terus diterjunkan ke alam sengsara hingga ribuan Koti Kalpa belum bisa mendapat kesempatan untuk keluar! Mengapa demikian? Sebab, hati sanubari yang asalnya suci bersih kini telah dicemari kekotoran, telah diracuni oleh perilaku yang jahat seperti bersikap bengis, ingin membunuh, merampok, ingin membuat hal yang bukan-bukan.

Mereka tidak takut akan Hukum-Karma, tidak takut akan ‘ Tuhan Yang Maha Esa’ juga tentang peraturan Pemerintah; Mereka memberontak Tata-krama manusia secara bertubi-tubi! Maka, para umat seperti itu walaupun waktu ajalnya masih jauh sekali tapi, mereka telah diikuti maut, kapan saja dan di mana saja nyawanya mudah hilang, kecuali jika mereka sadar, telah bertobat dan telah paham akan makna-makna Dharma luhur, dosa berat yang dimilikinya dapat hilang total dan batinnya juga dapat diselamatkan! Sadarlah dan waspadakanlah

O, Arya Ajita! Apabila nyawa anda hingga demikian, betapa sedihnya!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya serta para hadirin:

“O, Arya Ajita yang berbudi! Sekarang Aku akan menguraikan lagi Dharma penting untuk anda dan kalian semua. Dengarlah baik-baik! Bahwa segala sesuatu yang berada di dunia ini dapat maju, demikian pesat semua adalah hasil kerja umat manusia. Karena mereka di bawah para pemimpin yang bijak serta tekun menghayati teknologi yang canggih.

Demikian pula, para Arya dapat mengatasi persoalan tentang Turnimbal-lahir dan kematian guna membebaskan diri serta para umat dari belenggu sengsara, juga berpangkal dengan sikap tekun, penuh tekad, amat sadar serta berkebijaksanaan terhadap Sad-Dharma yang dihayati oleh mereka itu! Seandainya, para siswa Buddhis hanya memiliki ide atau rencana yang kurang sempurna, tapi mereka enggan mendekati para tokoh bijak, enggan dipimpin oleh tokoh bijak, enggan giat berusaha dan kerja.

Dharma luhur yang mereka pelajari itu hanya dipasrahkan kepada Tuhan dan dirinya hanya menunggu di atas bangku agar pahalanya dapat turun dari langit. Padahal sikap mereka seperti ini pasti sia-sia belaka dan Tuhan pun sama sekali tidak mengetahui mereka sedang menunggu pahalanya, akhirnya dirinya masih tetap berada didalam sengsara. Betapa sedihnya!” “Maka dari itu

O, Arya Ajita!” Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya: “Para siswa Buddhis harus berani dengan pikiran matang menghadapi segala hal yang berada di depannya, harus sadar dan bijaksana! Disamping itu mereka harus berani melenyapkan segala ide yang keliru serta segala sikap jahat hingga tuntas! Jalan yang menuju ke jurusan baik dibuka lebar-lebar; Jalan yang menuju ke alam sengsara ditutup rapat-rapat!

Segala nafsu duniawi dan segala kesenangan yang tidak mengandung arti itu harus dianggap suatu benda rapuh, tidak kekal malahan banyak mengandung racun yang dapat membahayakan lahir batin sang umat! Apa anda masih menganggap kenikmatan? Masih tetap terikat padanya?”

“Sekarang O, Arya Ajita! Kalian dapat hidup bersama dengan Buddha dalam satu masa dan kesempatan yang sangat sulit ditemukan ini, patut dipegang teguh, supaya kalian dapat mensukseskan Dharmanya dengan tekun, penuh tekad serta semangat Virya hingga kalian dapat mencapai Kebuddhaan! Apalagi, Buddha Amitayus demikian senang dan tetap menerima para umat suci dengan ke 48 ikrar maka Pranidhana-Nya secara terus menerus! Sama sekali tidak seperti ‘Terserah kepada Tuhan’ hingga sia-sia belaka!

O, Arya Ajita! Tahukah anda, para umat yang berhasrat ingin dilahirkan di alam Sukhavati itu, semua akan memperoleh cahaya Prajna yang amat cerdas, cermat lagi terang bila berhadapan dengan sesuatu apapun! Mereka juga memiliki kebajikan yang terunggul; Juga memiliki pengetahuan daya Rddhi-Abhijna serta berbagai ketrampilan yang supernormal! Maka dari itu, Aku selalu memohon agar kalian bertekad mengendalikan hawa nafsu, menundukkan segala pikiran yang bukan-bukan! Dan, melaksanakan Dharma penting yang tercantum di dalam Sutra ini dengan segenap tenaga, bekerja keras dan maju terus, agar dirinya tidak tertinggal dari barisan yang Maha meriah itu!

Seandainya masih terdapat para putra-putri berbudi yang terhadap Dharma luhur masih timbul perasaan sangsi; Atau mereka yang masih belum memahami makna-makna dari Sutra ini, sudi datanglah untuk menegur tentang artinya pada Aku, Aku akan senang menjelaskan kepadanya secara luas!”

Saat sabda Sang Buddha Sakyamuni baru berhenti sebentar dan Sang Bodhisattva Maitreya telah lama berlutut di depan Buddha seraya berkata:

“O, Bhagavan yang termulia! Sabda-Mu sungguh tepat serta demikian besar manfaatnya! Tiada kekeliruan sepatah-katapun! Bahwa, pada saat aku mendengarkan khotbah Sang Buddha aku juga memikirkan artinya serta menimbang gerak-gerik dari sikap umat manusia di dunia ini persis seperti apa yang diuraikan Sang Bhagavan tadi!

Sungguh, atas kemurahan hati-Mu rela menunjukkan satu “Maha Marga” (Jalan Bodhi terbesar) kepada para simpatisan Dharma, hingga yang buta dapat melihat jalannya; Yang tuli dapat mendengar suara Dharma; Yang sedang mengalami sengsara dapat membebaskan dirinya! Keanugrahan ini bukan saja para hadirin yang berada di dalam Pesamuan Agung ini yang merasa riang gembira, melainkan para Dewa, manusia serta para makhluk hidup sekalian pun ikut bergembira.

Kalian terus menerus mengatur ucapan ‘beribu-ribu terima kasih’ kepada Sang Bhagavan atas Rahmat Maha-Karuna hingga mereka mendapat kesempatan untuk melepaskan penderitaan mereka! Apalagi, Sutra-Sutra yang mengandung Dharma luhur serta Vinaya-Vinaya dan sebagainya yang diajarkan oleh Sang Bhagavan itu, demikian penting dan bermanfaat!.Sehingga mereka dapat memperoleh pengetahuan Prajna yang demikian praktis!

Kini, mereka dengan alat ampuh ini dapat mengerti segala sesuatu dari 10 penjuru, bahkan berbagai hal penting yang berada di masa lampau atau di masa mendatang, merekapun dapat mengetahui semuanya!

Betapa agung jasa-jasa-Mu O, Bhagavan yang termulia! Kenyataan ini bukan saja bagi para umat suci, aku juga mengetahui bahwa kami sekalian dapat diselamatkan oleh Sang Bhagavan hingga dapat membebaskan diri dari sengsara, kesemuanya ini adalah ‘Hubungan Penyebab’ serta anugerah dari Sang Bhagavan.

Karena waktu Beliau masih berstatus Bodhisattva dan tengah mempraktekkan Dharma luhur pada masa yang lampau selalu tampil dengan sikap ramah, rendah hati, sabar serta amat baik budi. Saat Beliau sedang menghayati Ksantiparamita daging kulit dari seluruh tubuhNya pernah dicerai-beraikan oleh seorang raja bengis yakni Raja Kalingga dari masa silam itu; Tapi semangat Beliau tetap demikian Virya tanpa takut Duhkha sedikitpun!

Terhadap Dharma luhur Beliau tetap bersikap tekun, bekerja keras. Jasa-jasa yang dikumpulkan Beliau itu semua disalurkan di alam semesta untuk menyelamatkan para makhluk yang sengsara. Alangkah besar kebajikanNya! Alangkah cemerlang sinar cahayaNya! Telah berlimpah-limpah hingga ke puncak langit yang tak terhingga; Hingga ke Nirvana di alam Buddha!

Demi menyelamatkan para makhluk sengsara; Demi menyempurnakan kewajiban sebagai seorang Buddha untuk meneladani di Triloka, Beliau rela melepaskan diri turun dari Surga Tusita dilahirkan di dunia Saha, mengajar Dharma penting kepada para umat manusia.

Kini, sinar cahayaNya terus menyinari ke seluruh makhluk, Beliau tak segan-segan dengan berbagai metode memanfaatkan didikannya…Di samping itu, beliau juga mempergunakan KewibawaanNya untuk menundukkan si keras-kepala, kemudian dengan sikap Maha-Karuna mendidik mereka hingga sadar, hingga dapat menggerakkan Bodhicittanya!

Sungguh, kini kewibawaan serta kekuasaan Sang Maha Guru demikian luhur dan agung, telah mengharukan hati umat di 10 penjuru dunia yang banyaknya sulit diperkirakan! Sungguh, Sang Bhagavan adalah seorang Raja- Dharma di alam semesta dan martabat-Nya telah melampaui para Arya! Beliau adalah Maha Guru dari para Dewa, manusia!

Betapa bermanfaatnya jika sang umat cinta akan DharmaNya, pastilah akhirnya mereka akan memperoleh Penerangan Sempurna! O, Bhagavan yang termulia! Betapa agungnya! Tentang jasa-jasaMu! Betapa bermanfaat bagi para hadirin! Kalian sekarang bukan saja dapat hidup bersama-sama dengan Buddha pada satu masa bahkan kalian dapat mendengar nama Buddha Amitayus atau Amitabha serta ke 48 ikrar tentang Maha-Pranidhana yang pernah diproklamasikan oleh Buddha tersebut!

Karena berkah yang bermanfaat ini, kini kalian telah merasa pandangan dirinya menjadi terang, luas dan, kebijaksanaannya pun makin bertambah! Sungguh, perasaan riang gembira di dalam hati kami sekalian sulit diucapkan dengan kata kata yang tepat!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya: “Benar, kata-katamu O, Arya Ajita! Ketahuilah, barang siapa dapat menghormati kepada seorang Buddha dengan sadar serta beriba-hati kepada para makhluk, kelakuan mereka akan dianggap paling baik dan bijak! Memang di dunia ini akan lama sekali baru dapat seorang Buddha datang menjalankan kewajibanNya di sini.

Betapa sulitnya jika seorang hendak mendapat kesempatan hidup bersama sama dengan Buddha pada satu masa! Sekarang berkah kesempatannya cerah serta saatnya matang Aku baru dapat menjadi Buddha di dunia Sahaloka pada masa ini!

Aku dapat mengkhotbahkan berbagai Sutra, Vinaya, Abhidharma dan sebagainya di dunia manusia; Dapat mengembangkan Buddha Dharma ke seluruh alam semesta! Agar para makhluk dapat memutuskan jala-jala sesat dan menghilangkan sikap sangsi mereka; Membimbing para umat suci mencabut segala akar dari nafsu duniawi; Melumpuhkan dan mengeringkan sumber-sumber kejahatan! Kini, Aku sering dengan Samadhi luhur untuk menjelajah ke daerah-daerah dalam lingkungan Triloka tanpa halangan! Subyek-subyek penting, intisari-intisari serta pengetahuan Prajna dari berbagai Sastra atau Doktrin-Doktrin tertinggi yang diwariskan oleh para Tathagata yang silam itu, semuanya telah kumiliki.

Dengan pengetahuan dan keterampilan itu senantiasa senang menujukan kepada para umat bahwa di alam semesta ini ada 5 Alam khusus untuk para pemukim yang enggan mempraktekkan Dharma yakni: Alam Dewa, Alam manusia, Alam Hewan, Alam Setan lapar, Alam Neraka dan sebagainya. Agar para umat yang telah diselamatkan atau belum diselamatkan itu dapat mengerti Jalan penting, di dunia ini ada dua : Jalan Tumimbal-lahir dan kematian serta Jalan Nirvana!”

“O, Arya Ajita! Tahukah anda, tentang status anda pada masa silam? Ketahuilah, sejauh beberapa Kalpa yang lalu anda telah melaksanakan status setingkat Bodhisattva, bercita-cita ingin menyelamatkan para makhluk sengsara. Tapi, karena metode yang paling berfasilitas dan paling sesuai itu tidak pernah dipergunakan oleh anda, maka sejak anda menghayati Dharma hingga anda menapai tujuan Parinirvana akan makan waktu hingga demikian panjang dan lama.

Betapa sedihnya! Kini, keadaan anda masih tidak berbeda dengan para Dewa, manusia dan makhluk-makhluk lain, sejauh masa terus menerus mondar-mandir di lima alam, lagi pula terus mengalami kesengsaraan, kecemasan dan ketakutan serta penderitaan-penderitaan lain banyaknya sulit dikatakan! Kini, anda sedang berada di Jalan lahir-mati ini mendapat kesempatan bertemu dengan Buddha; Mendapat kesempatan mendengar Dharma luhur;Lagi pula, mendapat kesempatan mendengar nama Buddha Amitayus atau Amitabha hingga anda memperoleh sebuah metode yang sangat praktis serta amat sederhana, cukup menjadi alat ampuh untuk menyelamatkan para makhluk sengsara yang selalu dikenang oleh anda itu.

Betapa riangnya O, Arya Ajita! Sungguh, akan kesempatan yang demikian ceria bagi anda ini Aku pun ikut bergembira! Akan tetapi O, Arya Ajita! Mulai hari ini anda harus berkebulatan tekad mengatasi Jalan lahir-mati serta sebab-sebab badan menjadi tua, penyakit dan berbagai Duhkha; Anda harus berkebulatan tekad mengatasi yang disebut ‘Embun-kuruh’ yakni ingus, lendir, tahi, kemih, dan sebagainya yang masih penuh-sesak mengendap di dalam tubuh anda itu. Tertibkanlah perilakumu dan sucikanlah pikiranmu selalu! Agar kegelapan batinmu dapat musnah hingga total! Banyak berbuat baik dan banyak mengamalkan jasa- jasa; Kata-kata serta perilaku harus dijaga ketat! Tulus jujur, sopan santun supaya  dalam-luar sama-sama identik.

Apabila dirinya telah diselamatkan lalu membantu umat lain supaya mereka dapat diselamatkan bersama-sama, agar sama-sama dapat melepaskan diri dari penderitaan! Di samping itu, anda harus berikrar dengan bulat-hati mohon dilahirkan di alam Sukhavati. Dan, jasa-jasa agung yang dikumpulkan oleh anda itu boleh dijadikan sesuatu bekal penting untuk perjalanan anda! Meskipun kesibukan anda demikian susah-payah berjuang terus menerus hingga seumur hidup, tapi, pekerjaanmu tidak akan sia-sia.

Waktu tiba saatnya hanyalah dalam sepintas saja anda telah melayang dengan riang gembira dan tiba di negeri Buddha Amitayus yaitu alam Terbahagia! Dan anda akan menikmati kebahagiaan yang tak terhingga di alam sana! Dan, setelah orangnya dilahirkan di alam sana, pastilah tubuhnya akan sama seperti para suci, dapat mengeluarkan sinar cahaya.

Seketika akar-akar dari tumimbal-iahir dan kematian yang pernah dan lama dimiliki anda itu semua dapat dicabut hingga tuntas. Baik lahir maupun batin tidak akan dijangkau oleh ‘Tiga Jenis Racun’ yakni Raga, Dosa, Moha serta Klesa-Klesa lainnya! Apabila, anda ingin usiamu sepanjang satu Kalpa. Atau seratus Kalpa, atau ribuan Koti Kalpa boleh menurut kehendak anda.

Dirinya demikian bebas, riang gembira tanpa tersangkut sesuatu apapun; Sungguh O, Arya Ajita! Keadaan dari alam Sukhavati itu persis seperti Nirvana!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda lagi:

“O, Arya Ajita serta para hadirin sekalian’ Apabila kalian telah menggerakkan Bodhicitta, telah berikrar ingin dilahirkan di alam Sukhavati, boleh menurut bunyi ikrarnya masing-masing dan kalian boleh memilih suatu metode dari Sutra Amitabha Buddha yang sesuai dengan kemampuan. Seperti merenung Buddha dengan meditasi, menyebut nama Buddha .

Amitabha atau mengadakan upacara kebhaktian untuk membaca SutraNya. Dan, di samping itu harus berusaha dengan semangat Virya, harus bekerja keras, menjalankan Sila, mengamalkan jasa-jasa.

Dengan demikian apa yang anda lakukan pasti sukses! Akan tetapi, kalian harus sadar terhadap Dharma; Harus menaruh keyakinan penuh kepada Maha-Pranidhana Buddha Amitayus hingga dapat menyelamatkan diri, tidak boleh kadang kala masih timbul perasaan sangsi hingga meragu-ragukan DharmaNya!

Atau kadang kala timbul sesal hingga sengaja memundurkan diri di tengah jalan Kebodhian; membikin kesalahan yang mengganggu cita-cita yang demikian mulia! Walaupun mereka dapat dilahirkan, tapi, mereka akan bermukim di dalam Istana 7 mustika yang terletak di Bumi Terpencil dan selama 500 tahun tetap berada di “Kota-Sangsi” itu, sulit mendapat kesempatan untuk melihat Buddha dan mendengar DharmaNya!”

“Tidak O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Sang Bodhisattva Maitreya:

“Dharma yang demikian bermanfaat ini, samasekali tidak disangsikan oleh kami sekalian! Dan mulai sekarang kami sekalian akan melaksanakannya dengan segenap tenaga hingga sukses! O, Bhagavan yang termuliai Percayakan pada kami sekalian! Dan atas kemurahan hati mengkhotbahkan Dharma luhur ini kami sekalian mengucapkan beribu-ribu terima-kasih!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Bodhisattva Maitreya: “Baik sekali O, Arya Ajita! Kamu sekalian dengan sikap demikian kebulatan tekad dan bijak ingin mensucikan batin, menghindarkan segala perbuatan jahat, akan dengan bulat-hati mempraktekkan Dharma luhur, pasti kepahalaan yang akan kamu peroleh itu, sangat unggul serta sangat sempurna!

Dan membuahkan hasil yang sangat gemilang suatu hasil yang tidak dimiliki para umat yang ada di 10 penjuru dunia! Mengapa demikian? Sebab, para Dewa, manusia atau makhluk-makhluk lain yang berada di dunia Buddha di pelbagai penjuru itu, semua memiliki perangai baik, sadar lagi bijak dan jarang sekali berbuat jahat, mudah sekali bila dibimbingi dengan Dharma luhur kepada mereka! Maka, hasil yang dibuahkan mereka juga mudah sekali, tidak seperti para umat dunia Saha yang amat susah bila dibimbingkan Dharma kepadanya!

O, Arya Ajita! Tahukah anda, Aku menjalankan kewajiban Buddha di dunia ini, keadaannya tidak berbeda dengan para umat yang tengah mengalami 5 macam kejahatan, kesakitan dan kebakaran. Alangkah sedihnya! Maka, tentang titik-berat dari pekerjaanKu terpaksa diarahkan ke 5 macam kejahatan, kesakitan, dan kebakaran itu, agar mereka dapat menghilangkan ke 5 macam kesakitan dan dapat menghindarkan ke 5 macam kebakaran secara cepat.

Demi mereka Aku tak segan-segan menggunakan berbagai metode yang berasal dari Dharma luhur untuk menundukkan kenakalannya, kemudian dibimbing dengan Dharma luhur lagi hingga mereka sadar semua. Di samping itu Aku juga menyarankan mereka untuk melakukan ke 5 macam kebaikan, agar mereka dapat mempergunakan jasa-jasanya untuk membebaskan diri dari belenggu kesengsaraan. Dan, bila tiba saatnya dapat mencapai Nirvana yang mereka inginkan!”

Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:

“Apa yang disebut ke 5 macam kejahatan, kesakitan dan kebakaran itu? Dan harus dengan cara apa untuk memberantasnya hingga tuntas? Agar mereka dapat membangkitkan Bodhicittanya, dapat melaksanakan ke 5 macam kebaikan, kemudian dengan jasa-jasa baik membebaskan diri hingga mencapai Nirvana?

Baiklah akan kuuraikan satu persatu di sini: Para Dewa, manusia serta makhluk-makhluk lain yang berada di dunia Saha, sebagian besar terlibat tindak-laku jahat, yaitu mereka dari kelompok yang kuat selalu dengan maksud tak terpuji melumpuhkan atau menundukkan yang lemah, atau saling bentrok, menganiaya, bunuh-membunuh, telan-menelan.

Mereka enggan berbuat kebaikan hanya ingin melakukan kejahatan, ingin merusak mental moral hingga sehabis-habisnya, akhirnya melepaskan diri rela diterjunkan di alam kesedihan mempertanggungjawabkan dosa apa yang pernah dibuat pada masa silam. Lagi pula, segala bibit-bibit dosapun mengendap di dalam Vijnananya. Maka dari itu, apabila masa hukumannya habis mereka akan dilahirkan di dunia manusia dan pembawaan mereka pun lain-lain, seperti miskin, tingkat sosial rendah, pengemis, seseorangan tanpa dilindungi keluarga, mempunyai tubuh yang cacat, buta, bisu, bodoh, bengis, kurus, sakit jiwa, jasmani kurang normal dan sebagainya. Sedangkan yang pernah membuat kebaikan, banyak menimbun jasa, tulus jujur, welas asih pada masa lampau itu, semua dilahirkan di anggota keluarga yang mulia, kaya dan pembawaannya pun demikian cerdas, bijaksana dan banyak kesempatan yang indah-indah dimilikinya.

Pada hakikatnya, walaupun tindak-laku mereka baik atau jahat, manusia di dunia ini tetap dipengaruhi oleh “Sebab-akibat” serta “Hukum-Karma”. Apalagi para penjahat, mereka tetap harus menghadapi hukuman dari peraturan Pemerintah, kena hukuman mati atau dijadikan Napi di dalam penjara. Karena mereka enggan mengendalikan diri dan hanya ingin berbuat jahat, tentu saja akibatnya sulit dihindarkan dari dosa berat, baik lahir maupun batin pun merasa sakit juga seperti sedang di dalam kebakaran api, ingin melepaskan penderitaan sepintaspun tidak mudah! Akan tetapi, mereka bukan saja hidup telah mengalami sedih apalagi setelah meninggal dunia keadaannya akan lebih sedih lagi! Mereka akan lahir dan mati di alam gelap terus menerus tanpa henti-henti, akan menerima hukuman berat berulang-ulang! Ketahuilah, di alam gelap terdapat 3 Jalan yakni satu jalan menuju ke alam Hewan; satu ke alam Setan-lapar dan satu ke Neraka.

Bila saatnya tiba si umat harus menurut Karmanya mengganti tubuhnya, maka, kadang-kadang ia berbadan hewan di alam ini, kadang-kadang berbadan Setan pindah ke alam itu. Usia mereka juga tidak tertentu, panjang atau pendek semua menurut jenisnya dan Karmanya.

Apalagi mereka pada masa hidup di dunia manusia pernah terlibat permusuhan dengan umat lain terlalu banyak, kini persis masanya matang, musuh-musuh tersebut akan lahir semasa, sedaerah atau sekeluarga. Setelah balas dendam dilakukan, masa datang mereka akan bertemu lagi bila perhubungan musuh mereka belum diselesaikannya.

Demikian pula, jika Karma jahat yang mereka libatkan itu masih ada, walaupun mereka telah menjalani masa hukuman demikian panjang serta sangat lama, tapi Vijnana atau arwahnya masih tetap ditahan di alam tersebut secara otomatis. Mereka bukan saja tidak dapat bebas bahkan sakitnya makin terasa parah sulit dikatakan! Ketahuilah, ‘Sebab-akibat’ dan ‘Hukum-Karma’ di dunia ini nyata sekali, tepat sekali!

Kecuali jika segala sesuatu belum tiba saatnya! Cuma, umat-umat yang masih berstatus biasa yang tidak dapat meramal atau mengetahui halnya yang akan terjadi, namun Jalan-Baik dan Jalan-Jahat bedanya demikian jelas dan nyata, tanpa keliru sedikitpun! Inilah yang disebut ‘Ke Lima Kejahatan, Kesakitan dan Kebakaran’ yang bagian pertama; Penderitaannya sungguh sedih tidak berbeda seperti kobaran api yang sedang membakar tubuh manusia yang berdosa! Akan tetapi, bila Sang umat sadar dan berani mensucikan pikirannya, bertekad menertibkan perilakunya, senang berbuat baik menimbun jasa, tidak melakukan perbuatan jahat dan bertekad mempraktekkan Dharma luhur. Bila dirinya lepas dari belenggu kesengsaraan, tidaklah lupa menyelamatkan makhluk-makhluk lain dengan jasa-jasa yang diperolehnya, agar kalian dapat bersama-sama melangkah ke Jalan Parinirvana! Inilah yang disebut ke ‘Lima Kebaikan’ dalam bagian yang bertama!”

Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya:

“Yang disebut bagian kedua adalah: Bahwa para umat yang berada di dunia ini, baik sang anak terhadap orang tuanya, Sang adik terhadap kakaknya, maupun istri terhadap suami, menantu terhadap mertua, diantara mereka terdapat sebagian besar yang enggan memuliakan Tata-krama, enggan menaati peraturan umum.

Boros, asusila, bersundal, sombong, menjangkal. Lebih-lebih mengejar kesenangan yang kurang senonoh. Mereka enggan mengendalikan hatinya agar tidak menjadi sedemikian sesat. Lagi, senang menipu, berdusta, berkhayal dan pandai sekali bermulut manis tapi hati tidak jujur, pandai membujuk, pandai merayu, membenci pada orang saleh, memfitnah orang bijak, menjerat orang baik. Atau atasan kurang bijaksana membiarkan tingkah laku bawahannya; Atau bawahan kurang ikhlas terhadap atasan, sehingga anak buahnya memperdayai Tuannya.

Demikian pula, anak menipu orang tua, adik menipu kakak, isteri menipu suami dan menantu menipu mertua. Atau sikap mereka penuh dengan Lobha (tamak), Dosa (benci) dan Moha (gelap batin), selalu membenci yang punya harta benda, ingin merebut dijadikan miliknya! Apalagi daya mereka tidak dapat diwujudkannya, bentroklah hubungan keluarga, persahabatannya terpecah-belah, akhirnya menjadi musuh dan dendam, hingga masa ke masa sulit dibubarkan!

Apalagi, tingkah laku yang tidak terpuji itu harus menghadapi peraturan Pemerintah, menurut perbuatannya dihukum dengan peraturan yang berlaku di negerinya. Dan di samping itu walaupun mereka telah dihukum oleh Pemerintah, tapi, karena ia berani merusak mental-moralnya hingga demikian serius dan jasa-jasa tidak pernah diamalkan sesuatu pun, apalagi,tentang Dharma-Dharma penting yang dapat meringankan dosa berat, sama sekali tidak pernah dilaksanakan!

Maka, saat mereka masih hidup di dunia kepintaran dari Vijnana-nya telah dikurangi oleh Tuhan Yang berkuasa dan nama mereka juga diubah-Nya dari tingkat atas menurun ke tingkat bawah.

Apabila, kehidupannya telah habis arwahnya terus diterjunkan di alam sengsara. Jika Karma buruk yang dimilikinya terlalu banyak mereka akan bermukim di alam gelap hingga beberapa Kalpa lamanya dan tanpa kesempatan untuk keluar. Betapa sakitnya! Inilah yang disebut ‘Ke lima kejahatan, kesakitan dan kebakaran’ bagian kedua.

Dan, penderitaannya sungguh sedih tidak berbeda seperti kobaran api yang sedang membakar tubuh manusia yang berdosa! Akan tetapi, bila sang umat sadar dan berani mensucikan pikirannya, bertekad menerbitkan perilakunya, senang berbuat kebaikan, menimbun jasa, tidak melakukan perbuatan jahat dan bertekad mempraktekkan Dharma luhur.

Bila dirinya telah lepas dari belenggu kesengsaraan, tidaklah lupa menyelamatkan makhluk-makhluk lain dengan jasa-jasa yang diperolehnya, agar kalian dapat bersama-sama melangkah ke Jalan Parinirvana!

Inilah yang disebut ‘Ke lima kebaikan’ bagian yang kedua! Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya:

“Yang disebutkan bagian ketiga adalah : Bahwa para umat yang berada di dunia ini, satu antara lain dari hubungan penghidupan mereka amat erat, tidak akan berpisah-pisah atau berdiri-sendiri. Maka, bila terdapat satu anggotanya berlaku baik atau jahat akibatnya langsung mempengaruhi keseluruhannya! Padahal setiap umat manusia berada di dunia ini hanya sementara persis seperti seseorang tamu yang menumpang di rumah orang, bila syarat dan ijinnya habis ia harus berangkat, cuma akan ke alam mana lagi dirinya tidak dapat diketahui, harus menunggu putusan Karmanya! Dan usia manusia pun tidak begitu panjang, batasannya paling-paling seratus tahun, itu juga suatu syarat bagi sang umat yang sering terpengaruhi Karma!

Demikian pula, para umat baru yang tengah tiba di dunia ini, kedatangannya juga ditentukan oieh Karma-nya. Maka, menurut Karma masing-masing akan dijadikan 3 jenis golongan. Yang termasuk kaum atas, bakal pembawaan mereka tetap banyak yang bersifat bijak, saleh, dan kedudukan mereka pun demikian agung, mulia’atau berpangkat tinggi, statusnya bangsawan, jutawan, penghidupan mereka mewah dan berbahagia.

Tapi, yang termasuk kaum bawah penghidupan mereka akan rendah, sengsara, banyak berstatus miskin papa, pengemis, bertubuh kurus atau cacat, wataknya buruk, bodoh sering mengalami malapetaka.

Adapun para kaum pertengahan penghidupan mereka lumayan, maka baik lahir maupun batin tidak begitu sibukpun tidak begitu susah, sejahtera lagi berbahagia. Bila hendak membuat kebaikan, kebajikan bahkan mempraktekkan Dharma pun mudah sekali! Akan tetapi, di antara mereka terdapat sebagian besar yang memiliki kelakuan yang kurang senonoh! Atau mereka selalu berniat membikin hal-hal yang jahat-jahat; Atau senang mengejar hawa nafsu hingga hatinya amat gelisah, pikirannya pun demikian kacau-balau, duduk atau berdiri pun tidak merasa tenang.

Dan, banyak ditinggalkan. Atau dengan kelakuan secara samar-samar atau terang-terangan sehingga harta benda mereka habis terus-menerus. Diantaranya banyak dikarenakan rebut-merebut hingga terlibat balas-dendam! Karena mereka enggan berusaha mata penghidupan yang benar, akhirnya ekonominya macet dan menimbun hutang piutang, Akhirnya melakukan bermacam-macam kejahatan seperti mencuri dan merampok.

Setelah kejahatannya tercium oleh pengawas, barang hasil kejahatannya baru diserahkan ke tangan istrinya untuk hiburan. Atau mereka sama sekali tidak takut kepada siapa pun, sehingga akibatnya meresahkan keluarganya serta para penduduk se daerah. Walaupun telah berulang-ulang dinasihati atau dihukum oleh Pemerintahnya, tapi, mereka tanpa takut bahkan sengaja tidak mengindahkan peraturannya.

Karena tindak laku kejahatan mereka sangat keterlaluan, kejahatannya telah ditembusi sinar Sang Bulan serta Sang Surya, segeralah kepintaran dari Vijnana mereka dikurangi serta namanya pun dicatat oleh Sang Kuasa. Dan, Jalan dari ketiga alam sengsara serta macam-macam penderitaan tetap menyediakan peluang untuk mereka, apabila arwah mereka telah diterjunkan ke alam gelap pasti akan melewati masanya selama berjuta-juta Kalpa dan sulit memperoleh kesempatan untuk keluar!

Inilah yang disebut ‘Ke lima kejahatan, kesakitan dan kebakaran’ yang bagian ketiga. Dan, penderitaannya sungguh tiada terkira tidak berbeda seperti kobaran api yang sedang membakar tubuh manusia yang berdosa!

Akan tetapi, bila sang umat sadar, berani mensucikan pikirannya, bertekad memperbaiki perilakunya, senang membuat kebaikan, menimbun jasa-jasa, tidak melakukan kejahatan dan bertekad mempraktekkan Dharma luhur. Bila dirinya telah lepas dari belenggu kesengsaraan, tidaklah lupa menyelamatkan makhluk- makhluk lain dengan jasa-jasa yang diperolehnya, agar kalian dapat bersama-sama melangkah ke Jalan Parinirvana! Inilah yang disebut ‘Ke lima Kebaikan’ bagian ketiga!”

Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya:

“Yang disebut bagian keempat adalah : Bahwa para umat yang berada di dunia ini, terdapat sebagian umat tidak ingin mengajak orang lain berbuat kebaikan, hanya ingin mendorong orang lain melakukan kejahatan. Atau, mereka senang memfitnah orang bijak, membenci orang baik. Mereka senang berkata-kata kasar, berdusta, dan omong kosong, selalu menyebarkan kabar yang bukan-bukan agar timbul bentrokan satu sama lain, untuk menyenangkan hatinya sendiri! Mereka enggan mengabdi kepada kedua orang tua; tidak taat malah menghina gurunya.

Kalau terhadap handai-taulan tidak mau jujur, senang meninggikan hati diri dan menyebut dirinya telah memiliki mental-moral tertinggi. Atau sengaja menggunakan kedudukannya yang kuat dan berkuasa menyerang orang yang tidak disenangi, hingga banyak orang merasa takut kepadanya. Bila dinasehati atau diberi saran agar banyak membuat kebaikan, mengurangi kejahatan oleh para tokoh, sama sekali tidak diindahkan malahan berani mengucapkan dirinya tidak akan takut kepada Sang Kuasa, atau Tuhan yang Maha esa, atau sinari Sang Bulan dan Sang Surya; Bahkan selalu dengan sikap congkak yakin bahwa segala perbuatannya akan tetap lancar terus tanpa diganggu sesuatu apapun! Karena perbuatan dari sang umat itu sangat keterlaluan maka, Vijnana-nya serta namanya pun dicatat oleh Sang Pengawas.

Berkat jasa-jasa kecil yang ditimbuni dari masa lampau untuk dilahirkan di dunia ini, kini hilang total dan masa ini tiada seujung rambut jasapun yang diamalkannya. Sekarang para pelindung telah pergi hanya tinggal ia sendiri tiada bekal apapun! Setelah ajalnya tiba segeralah gambar tentang kejahatan yang pernah mereka buat itu, semua terwujud di depannya.

Apalagi Vijnana, nama telah dicatat oleh Sang Kuasa, Hukum-Karma hendak ditanggung-jawabkan secara penuh sedikitpun tak ada yang bisa ditolak! Saat itu, mereka hanya menyerahkan dirinya menurut hukuman diturunkan ke kawah api di alam Neraka, baik lahir maupun batinnya akan merasa kesakitan demikian berat, sulit dikatakannya! Sebab-akibat dan Hukum Karma wujudnya sangat nyata dan adil, maka, siapa yang sengaja melakukan kejahatan tanpa sadar sedikitpun, ia tetap diterjunkan ke ‘Tiga Alam Kesedihan’ dan lama masanya akan berjuta Kalpa dan amat sulit mendapat kesempatan untuk keluar! Betapa sakitnya! Inilah yang disebut ke lima Kejahatan, kesakitan dan kebakaran bagian keempat! Dan, penderitaannya sungguh menyedihkan tidak berbeda seperti kobaran api yang sedang membakar tubuh manusia yang berdosa! Akan tetapi, bila sang umat sadar, berani mensucikan pikirannya, bertekad menertibkan perilakunya senang membuat kebaikan, menimbun jasa-jasa, tidak melakukan kejahatan dan bertekad mempraktekkan Dharma luhur.

Bila dirinya telah lepas dari belenggu sengsara, tidaklah lupa menyelamatkan makhluk-makhluk lain dengan jasa-jasa yang diperolehnya, agar kalian dapat bersama-sama melangkah ke Jalan Parinirvana! Inilah yang disebut ke ‘Lima Kebaikan’ dalam bagian yang keempat!”

Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya:

“Yang disebut bagian kelima adalah: Bahwa di antara para umat yang berada di dunia ini, terdapat sekelompok orang yang bersifat tanpa kepastian, malas, enggan mengatur diri, enggan berusaha agar kehidupannya mantap dan enggan beramal kebaikan, sehingga keadaan dari anak-istri, orang-tua pun menderita. Mereka kekurangan sandang-pangan, atau kekurangan pengobatan dan pendidikan. Apabila akibat kelakuan yang tak senonoh itu ia diajar orang-tuanya, sang umat itu tidak mau mengaku kesalahannya, bahkan melawan orang-tuanya dengan mata yang kejam, dengan kata-kata yang tidak sedap didengar dan kadang-kadang menjadi  permusuhan, sehingga banyak orang yang mengeluh: Lebih baik aku tidak dianugrahi keturunan! Tapi, bagi anak yang durhaka itu bila mereka telah mempunyai uang, semua diboroskan untuk keperluan diri sendiri, buat minuman keras, makanan lezat; Mengejar hawa nafsu, bermain judi dan sebagainya.

Mereka sama sekali tidak akan mengindahkan Tata-krama; Tidak memiliki iba hati; Tidak menaruh perhatian kepada keluarga yang pernah dicintai; Lupa akan hutang budi orang-tuanya; Lupa jasa-jasa Sang guru serta handai-taulannya. Pikiran,ucapan dan tubuhnya juga terlibat kejahatan, sehingga ‘Tri-Karma’ telah dimiliki semua! Lebih-lebih lagi, mereka tidak percaya ajaran Dharma yang disalurkan atau diwariskan dari para Arya, para tokoh suci yang silam; Mereka tidak percaya bahwa kalau mempraktekkan Dharma luhur dapat menyelamatkan dirinya.

Mereka juga tidak percaya bahwa orang yang telah meninggal dunia, arwahnya akan dilahirkan ke alam yang sesuai dengan perbuatannya. Dan, mereka tetap tidak percaya akan Sebab-Akibat serta Hukum-Karma yang demikian nyata dan adil! Lebih jahat lagi, terdapat umat yang berani menyakiti atau membantai para Arya atau sengaja membentrokan atau menceraikan para Sravaka-Sangha dengan sikap bengis.

Demikian pula, mereka hanya demi merebut sebagian kecil harta-warisan berani menganiaya atau membunuh orang-tuanya, atau saudaranya, atau para pemiliknya. Sang umat yang gelap-batin total ini sungguh sulit diobati dengan obat yangberkhasiat sekalipun! Akan tetapi, apabila tiba ajalnya mereka bisa merasakan bahwa dosanya demikian berat, baru merasa cemas, gelisah, gemetar; Barulah menyesali perbuatannya yang sangat keterlaluan! Namun, waktu tidak mengizinkan pikirannva untuk banyak bergerak lagi! Padahal, ke Lima Alam yang berada di alam semesta sudah nyata sekali. Hukum-Karma untuk siapapun tetap tidak akan meleset seorang-pun!

Ketahuilah, orang berbuat kebaikan tetap mendapat pahala cemerlang, ini yang disebut ‘Jyotirjyotis-Parayana’ yakni kalau menjejaki Sang bijak tetap melangkah di Jalan-cahaya; Sebaliknya, orang berbuat jahat tetap terkena akibat yang sengsara, ini disebut: ‘Tamastamah-Parayana’ yakni kalau mengikuti Sang gelap akan lalu-lalang di Jalan-gulita.

Sebenarnya, segala hal yang akan dialami oleh Sang gelap, bagaimana keadaan mereka tidak dapat diketahui kecuali Sang Buddha yang dapat tahu semuanya. Namun, banyak umat yang batinnya belum begitu gelap dan langsung diajari Dharma oleh para tokoh bijak, agar mereka dapat sadar, dapat diselamatkan, dapat membebaskan dirinya dari belenggu sengsara. Betapa sayangnya! Kesemuanya tidak digubris mereka. Sehingga mereka sepanjang masa terus mengalami penderitaan lahir-mati dan terus mondar-mandir di pelbagai Jalan-gelap, di Ketiga Alam Kesedihan, lamanya hingga berjuta-juta Kalpa dan amat sulit mendapat kesempatan untuk keluar! Betapa sakitnya! Inilah yang disebut ke 5 macam ‘Kejahatan, Kesakitan dan Kebakaran’ bagian kelima. Dan, penderitaannya sungguh menyedihkan tidak berbeda seperti kobaran api yang sedang membakar tubuh manusia yang berdosa.

Betapa sedihnya! Akan tetapi, bila sang umat sadar, berani mensucikan pikirannya, bertekad menerbitkan perilakunya, senang membuat kebaikan, menimbun jasa-jasa, tidak melakukan kejahatan dan bertekad mempraktekkan Dharma luhur. Bila dirinya telah lepas dari belenggu sengsara, tidaklah lupa menyelamatkan makhluk- makhluk lain dengan jasa-jasa yang diperolehnya, agar kalian dapat bersama-sama melangkah ke Jalan Parinirvana! Inilah yang disebut ke 5 macam ‘Kebaikan’ dalam bagian yang kelima!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya serta para hadirin:

“O, Arya Ajita! Ketahuilah, tentang ke 5 macam ‘Kejahatan, Kesakitan dan Kebakaran’ itu akan tetap berkembang terus menerus di dunia Sahaloka, keadaannya makin lama makin menderita, bila tidak ingin menaruh waspada terhadap akibatnya!

Para umat yang tidak mau sadar, tidak ingin membuat kebaikan, hanya ingin melakukan kejahatan, maka menurut Hukum-Karma-nya mereka diterjunkan ke alam kesedihan. Atau sewaktu hidupnya belum berakhir dosa yang demikian berat harus diperlihatkan kepada mereka, maka mereka akan tertimpa berbagai macam penyakit aneh dan sulit diobati, hingga mati tidak bisa, hidup pun susah sampai mereka menghembuskan napasnya yang terakhir, penyakit itu masih menemaninya ke alam sengsara.

Walaupun pertengkaran mereka cuma kecil tapi mereka tidak ingin meleraikan diri hingga menjadi balas-dendam di lain masa, sumbernya tiada lain yaitu terlalu serakah akan harta benda pada orang lain, atau saling mengejar hawa nafsu dan sebagainya. Bila sudah kaya mereka enggan berdana dalam jumlah kecil sekalipun kepada para kaum miskin atau para korban dari berbagai musibah.

Bagi mereka tidak ada waktu tanpa mencurahkan pikirannya kepada warna-warni kesenangan duniawi, hingga batin mereka makin gelap, gelisahpun makin bertambah, seperti seutas tali yang terus mengikat hatinya erat-erat sulit dilepaskan! Namun, mereka masih menjalankan tindak-tanduknya terus menerus tanpa sadar sedikitpun!

Padahal, segala kenikmatan duniawi tidak kekal, walaupun dianggap senang dan bahagia tapi saatnya pendek sekali, setelah kenikmatannya lenyap lantas kesakitannya menyusul! Dan, saat mereka sedang memiliki masa-emas dan tenaganya sedang kuat harus melangkah dengan cita-cita teragung hingga dapat memperoleh suatu hasil yang cemerlang, namun mereka enggan berusaha melatih dirinya menjadi seorang yang sabar, tabah, dan yakin, rendah hati, iba hati, cinta Dharma dan jasa-jasa, sadar, bijak, dapat mempergunakan tubuh yang tidak kekal itu mencipta suatu perusahaan yang kekal dan kekekalannya tidak berbeda dengan hidup Buddha Amitayus, umur dari rakyat Buddha Amitayus dan sinar cahaya Buddha Amitayus! Singkat kata, tidak tersia-siakan masa-emas dan tenaganya!

Apabila kesempatan yang tersayang itu meleset penyakit dan hari tua menyusul, lahir-batin mulai menderita dan makin hari makin parah, ketika dosa-dosa pun makin bertambah. Betapa sedihnya! Apalagi, pengawasan dari Tuhan yang Mahakuasa demikian ketat, dan tebaran jalaNya juga demikian kukuh dan rapat, barang siapa yang dijala sulit meloloskan diri dari jala-Nya! Dan, ia akan merasa hanya sendirian tanpa dilindungi siapapun! Hal ini, sejak masa purbakala hingga sekarang bahkan terus ke masa mendatang tetap demikian ketat tanpa berubah-ubah sedikitpun. Betapa sedihnya!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya:

“O, Arya Ajita! Segala penderitaan duniawi yang menimpa tubuh manusia serta makhluk-makhluk lain itu, kesedihannya sungguh menyakiti hati Buddha, maka, Aku tak segan-segan dengan kekuatan-Ku dan kewibawaan-Ku membantu para umat agar mereka dapat memusnahkan berbagai kejahatan yang dimilikinya, kemudian Aku akan membimbingnya supaya dapat menuju ke Jalan-baik;

Aku mengajarinya bagaimana mensucikan pikiran supaya kalian dapat menghayati makna-makna Sutra Buddha serta berbagai Sila; Aku mendorong mereka menggerakkan Bodhicitta supaya kalian dapat melaksanakan Dharma luhur guna menahan dirinya agar tidak akan hilang sia-sia! dan, mudah-mudahan kalian dapat mencapai Nirvana di negeri Buddha Amitayus atau Amitabha!”

Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya:

“O, Arya Ajita serta para hadirin; Para simpatisan Dharma; Para Dewa, manusia serta para makhluk lain baik yang berada di masa sekarang atau di masa mendatang! Seandainya kalian telah mendengar khotbah Buddha, atau pernah membaca Sutra Buddha yang diwariskan kepada para umat itu, semua isi serta makna-maknanya harus dipahami dengan mendalam dan seksama! Kalian harus menyucikan hati, menertibkan kelakuan dan berdisiplin!

Apabila .hendak menyebarkan Dharma secara luas boleh mulai dari atas ke bawah, terutama, para pemimpin harus meneladani anak buahnya! Sang penyebar dan Sang penerima harus saling menukar pendapatnya; Saling membetulkan penyimpangannya agar sama-sama mendapatkan manfaat! Lagi, para siswa-siswi Buddhis atau putra-putri yang berbudi boleh dibimbing dengan tata-tertib, tatavihara, supaya mereka mereka senantiasa bisa menghormati para Bodhisattva, para Arya, tokoh bijak;

Senantiasa memuji jasa-jasa para simpatisan Dharma, dermawan dan orang saleh. Memupuk mereka supaya memiliki perasaan Maitri-Karuna terhadap segala makhluk di alam semesta. Mendorong mereka untuk bertekad melaksanakan ajaran Buddha. Membangkitkan Bodhicittanya hingga selama-lamanya!

Sepanjang hidup kalian boleh mengumpulkan jasa-jasa secara banyak untuk bekal diperjalanan nanti. Di samping itu, kalian boleh melakukan ‘Tri-Dana’ yakni Dravyadana (berdana barang-barang), Dharmadana (mengajar Dharma) dan Abhayadana (bermanfaatkan) menurut kemampuan serta berbagai Paramita, seperti Sila, Ksanti, Virya, Dana, Dhyana dan Prajna dan sebagainya.

Ketahuilah, apabila kalian dapat mensucikan dan mempraktekkan Dharma di dunia Saha loka ini selama 10 hari dan 10 malam, pahala yang diperoleh telah melebihi pahala yang diperoleh oleh para umat yang melakukan Sila dan Dharma genap seribu tahun di negeri Buddha lain dari pelbagai dunia!

Mengapa demikian? Sebab umat-umat yang berada di negeri Buddha lain itu banyak yang bersifat baik, jarang ada yang jahat, memperoleh pahala di negerinya mudah sekali, hanyalah di dunia Saha ini kejahatan terlalu banyak seperti berebut harta benda, hawa-nafsu, bentrok-bentrokan, balas-dendam dan sebagainya, sehingga kejahatan tersebut.sering mempengaruhi Sang suci, inilah sebabnya! Maka dari itu, Aku sangat beriba-hati melihat kesedihan yang menimpa para Dewa, manusia serta makhluk-makhluk lain, sejauh ini Aku tidak berani lalai sesaatpun, Aku terus mengajar para umat dengan segenap tenagaKu, agar mereka dapat diarahkan ke Jalan-Agung.

Kini, telah terdapat banyak umat yang mendapat manfaat dariku dengan berbagai metode dari Buddha Dharma hingga mencapai Kebodhian! Lihatlah, selama ini negara-negara yang pernah dijelajah oleh Buddha itu, baik rajanya maupun rakyatnya banyak sekali yang mendapat manfaat! Sungguh, bukan saja Sang Raja dan rakyatnya merasa amat senang hati, melainkan situasi dari daerahnya, seluruh negaranya pun demikian aman sentausa!

Cuaca cerah, Sang Bulan serta Sang Matahari demikian terang, angin datang dan hujan turun tepat pada waktunya, bencana alam jarang terjadi, rakyatnya pun demikian makmur dan sejahtera, penduduknya tidak ingin berperang, ingin damai tenteram. Lebih-lebih lagi, terdapat banyak umat di pelbagai negara yang giat membangun Vihara, giat mengundang para Arya datang untuk mengajarkan Dharma. Tata-krama dimuliakan oleh rakyat jelata di pelbagai daerah.

Semua orang tak segan-segan mengamalkan jasa, menggerakkan hati sanubari menjadi welas-asih. Betapa bergunanya Buddha Dharma bagi para umat!”

Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan sabdaNya:

“O, Hadirin-hadirin yang Kuhargai! Tahukah kamu? Bahwa seorang Buddha dengan iba-hati melindungi para Dewa, manusia serta para makhluk sekalian, perasaanNya tidak berbeda dengan seorang ayah-bunda yang menyayangi putra-putrinya!

Sekarang Aku menjadi Buddha di dunia Sahaloka ini, maksudKu tiada lain kecuali kebulatan tekad membantu serta memperingatkan agar para umat dapat cepat sadar, cepat waspada terhadap penderitaan lahir-mati, cepat melenyapkan kelima Kejahatan, menghilangkan kelima Kesakitan dan memusnahkan kelima Kebakaran!

Kemudian dapat cepat menggunakan kelima ‘Kebaikan’ menyelamatkan diri, agar dirinya dapat menghindarkan penderitaan Roda Samsara, agar dapat cepat memperoleh Panca Guna (5 kebajikan) yakni Kala-Jna-Guna (mengerti saat), Satyam-Gupa (benar), Labha-Guna (bermanfaat), Andomiki-Guna (lemah-lembut) dan Maitri-Guna (walas-asih), agar cepat tiba di Jalan Nirvana dengan selamat!”

“Ketahuilah O, Hadirin-hadirin sekalian!”

Sang Buddha melanjutkan SabdaNya: “Setelah Aku Parinirvana baik Sutra-Sutra maupun Buddha Dharma yang berada di negeriKu semakin lama makin musnah.

Demikian pula, kelakukan dari rakyat-rakyatKu semakin lama makin buruk. Mereka lebih senang melakukan kejahatan, sehingga peradaban semakin merosot. Dan, keadaan dari Kelima Kejahatan, Kesakitan dan Kebakaran tetap seperti semula bahkan akan lebih buruk beberapa kali lipat lagi! Hal-hal yang amat menyakiti hati ini, hanya dapat Kuulas sampai sekian saja, sebab apabila diuraikan secara lengkap sungguh sulit diberikannya!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya:

“Sekianlah O, Arya Ajita! Mudah-mudahan apa yang pernah Aku ucapkan tadi,  dapat kalian pikirkan secara seksama dan meresapi sedalam-dalamnya. Kemudian tolong diulangi kepada umat-umat lain agar kalian dapat belajar bersama-sama dan dapat saling menasehati satu sama lain! Tapi, segala perbuatan harus menurut Dharma, menurut metode-metode yang tercantum di dalam Sutra, dan harus waspada agar jarang melanggar segala peraturan!”

Saat sabda Sang Buddha Sakyamuni selesai, Sang Bodhisattva Maitreya segera bangkit dari tempat duduknya serta mengatupkan kedua telapak tangan seraya berkata: “Tidak O, Bhagavan yang termulia! Yakinilah, kami sekalian tidak akan melanggar peraturan-peraturan yang diajarkan secara berulang-ulang oleh Bhagavan itu! Apalagi, segala peraturan yang diajarkan secara berulang-ulang oleh Bhagavan itu! Apalagi, segala uraian Buddha tanpa keliru sedikitpun, semua demikian nyata dan demikian terang! Sungguh, keburukan dari kelakuan umat manusia yang sebagian besar merosot dan semakin hari makin memburuk, berkat kedatangan Bhagavan dengan perasaan walas-asih dapat mengatasi mereka secara luas, sehingga banyak umat manusia yang dapat diselamatkan!”

Sang Buddha Sakyamuni kemudian bertitah kepada Arya Ananda:

“O, Arya Ananda! Berdirilah anda dengan sikap hormat! Rapikanlah jubahmu! Dan rangkapkan kedua telapak tanganmu untuk memberi penghormatan kepada Sang Buddha Amitayus atau Amitabha! Tahukah anda, para Tathagata yang berada di 10 penjuru dunia senantiasa menyanjung ke Maha-Mulia Buddha Amitayus, memuji Beliau dengan tulus, tanpa keterikatan dan tanpa halangan dari sesuatu bendapun!”

Sementara itu Arya Ananda segera bangkit dari tempat duduknya, ia merapikan jubah sambil berdiri dengan sikap hormat. Mukanya menghadap ke sebelah Barat, kedua telapak tangan pun dikatupkan di depan dadanya. Setelah ia melakukan Anjali lantas ia membungkuk ke lantai sambil berkata:

“O, Bhagavan yang termulia! Sudi kiranya Bhagavan memperlihatkan Alam Sukhavati kepada kami sekalian, sunggguh Kami sekalian telah siap dan berhasrat ingin menyaksikan bumi indah dari negeri Buddha Amitayus, dan para Bodhisattva,

para Sravaka-Sangha serta rakyat-rakyat yang berada di negeriNya!” Saat permohonan Arya Ananda selesai, tiba-tiba sekilas pancaran sinar hidup Buddha Amitayus langsung menyinari ke seluruh alam semesta, sehingga Gunung Cakravada, Sumeru raja serta gunung- gunung lain bahkan benda-benda dan segala bumi indah dari para Buddha di pelbagai dunia demikian terang benderang serta kesemuanya mempunyai warna yang serupa!

Kalau diumpamakan sinar cahaya Buddha Amitayus persis seperti ‘Air Kiamat’ yang tengah meluap ke muka dunia hingga segala benda duniawi lenyap total, hanya terlihat air yang menyibak-nyibak serta melimpah hingga seluruh semesta! Dan, Sinar itu demikian terang sehingga cahaya dari para Bodhisattva dan para Sravaka-Sangha pun dapat dipengaruhinya hingga total, sampai tak terlihat sedikitpun yang terlihat hanya cahaya Buddha Amitayus yang demikian cemerlang, demikian menyilaukan!

Saat itu, Arya Ananda serta para hadirin melihat badan Buddha Amitayus di ruang angkasa. BadanNya demikian Maha mulia,Maha besar, hebat dan perkasa! tidak berbeda dengan Gunung Sumeru raja yang tertinggi di antara gunung-gunung lain yang berada di pelbagai dunia.

Rupa Buddha demikian cantik, demikian terang, dan cahaya Nya menembus segala tempat yang gelap dan terpencil. Maka dari itu, para peserta di dalam pesamuan agung itu dapat melihat dengan jelas, baik rupa Buddha maupun benda-benda indah yang dimiliki alam Sukhavati semua terlihat oleh mereka! Akan tetapi, rakyat-rakyat Buddha Amitayus pun melihat dunia ini dengan demikian jelasnya!

Tatkala, Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Arya Ananda serta Bodhisattva Maitreya:

“Lihatlah kamu O, Arya Ananda serta Arya Ajita! Arahkan pandanganmu ke alam Sukhavati! Pertama kamu akan melihat muka bumiNya, kemudian ke atasnya ke setiap Surga di’angkasa hingga Surga Suddhavasa. Benda-benda yang berada di setiap alam, setiap Surga itu demikian bagus dan indah, Apakah kamu sudah melihat?”

“Sudah O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Arya Ananda: “Dan, jelas sekali apa yang telah kami lihat itu!”

“Baik! O, Arya Ananda!” Sang Buddha Sakyamuni bertanya lagi:

“Apakah tentang Simhanada (Aum singa) dari Dharma luhur khusus yang bermanfaat bagi para umat di pelbagai dunia yang sedang diproklamasikan oleh Buddha Amitayus itu, didengarkan oleh kamu sekalian?”

“Terdengar O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Arya Ananda:

“Raungan tersebut sudah tertangkap oleh kami sekalian!”

“Sudah terdengar? Baik! Aku akan bertanya lagi.” Sabda Sang Buddha: “Apakah rakyat-rakyat dari negeriNya sedang mengadakan kebhaktian memuji para Buddha di 10 penjuru dunia. Semua terbang dengan istana 7 mustika yang tingginya ratusan Yojana, yang melayang dan pulang-pergi di Antariksa itu, kamu lihat juga?”

“Kulihat O, Bhagavan yang termulia!” Jawab Arya Ananda lagi. “Terdapat rakyat-rakyatNya sebagian kecil dilahirkan lewat kandungan. Apakah mereka juga terlihat olehmu?”

“Sudah O, Bhagavan.” Sang Buddha melanjutkan:

“Tahukah O, Arya Ananda! Rakyat-rakyat Buddha Amitayus yang khusus di lahirkan lewat kandungan itu, semua memiliki istana mewah. Yang tingginya seratus Yojana, juga yang tingginya 500 Yojana dan bentuknya berupa-rupa. Mereka tetap menikmati kebahagiaan di dalam istananya masing-masing. Sungguh, keadaan persis seperti Surga Trayastrimsa, santai sekali!

Pada waktu itu, Sang Bodhisattva Maitreya bertanya kepada Sang Buddha Sakyamuni:

“O, Bhagavan yang termulia! Apa sebabnya umat yang dilahirkan di negeri Buddha Amitayus itu caranya berbeda-beda? Mengapa ada yang dilahirkan lewat bunga teratai yang dibagi menjadi sembilan tingkat, dan ada yang dilahirkan lewat kandungan? Sudilah menerangkan tentang asal-usulnya!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya:

“Dengarlah baik baik, O, Arya Ajita! Seandainya terdapat para makhluk itu memiliki keyakinan kurang dalam, atau tidak memiliki keyakinan sama sekali; Mereka selalu sangsi terhadap Saddharma yang biasa dipraktekkan oleh para umat, mereka juga sangsi terhadap metode-metode Dharma penting seperti apa yang tercantum dalam Sutra ini! Akan tetapi, mereka sejak jauh hari tak segan-segan mengumpulkan berbagai jasa yang banyak agar dirinya dilahirkan di alam Sukhavati.

Ketahuilah, sikap sang umat yang ganjil ini bukan saja enggan memiliki atau enggan menaruh minat kepada ‘Sarvajna’ (segala kebijaksanaan Buddha) atau Anuttara Samyaksambodhi! Demikian pula, tentang pengetahuan kebijaksanaan Buddha yang sulit diperkirakan (Acintyajna), yang sulit disebutkan (Ayasahjna), yang setingkat dengan Mahayana terluas (Mahayana Vipulajna) dan kebijaksanaan yang teragung, yang tiada bandingnya (asama-sama Vipulajna).

Meskipun mereka tidak percaya akan kebijaksanaan Buddha namun mereka percaya kepada ‘Sebab-akibat’ dan ‘Hukum-Karma’. Minat mereka hanya tekun menanam benih kebaikan, mengamalkan kebajikan yang banyak, bercita-cita ingin dilahirkan di negeri Buddha Amitabha!”

“Oleh karena perbuatan dari sang umat tersebut demikian menyimpang dari ajaran Buddha yang umum; Dan, demi cita-cita mereka dapat terwujud maka, Sang Buddha Amitayus dengan Maha-PranidhanaNya menerima umat tersebut dan dilahirkan di negeriNya dengan cara demikian! Dan, mereka tetap mendapat kesempatan untuk bermukim di istana 7 mustika itu, hanya selama 500 tahun tidak pernah menghadap Buddha, juga tidak pernah mendengar Dharma yang dibabarkan oleh Buddha Amitayus; Malahan bertemu dengan para Bodhisattva, para Arya serta para Sravaka-Sangha pun tidak pernah! Rakyat-rakyatNya yang memiliki identitas seperti ini dinamakan “Jarayuja” yakni lahir lewat kandungan.”

Makhluk-makhluk yang memiliki keyakinan yang amat kukuh, yang percaya dengan sepenuh hati terhadap pengetahuan ‘Sarvajna’ bahkan hingga pengetahuan kebijaksanaan Buddha yang teragung! Selama hidup mereka tekun mempraktekkan Dharma, tekun mengumpulkan jasa-jasa, kemudian jasanya disalurkan kepada para umat sengsara, disalur ke alam semesta hingga ke alam Sukhavati. Sang umat yang bersikap seperti ini, apabila tiba pada saatnya, mereka akan duduk bersila di dalam bunga teratai yang Maha besar, yang berasal dari 7 mustika yang tumbuh di kolam Sukhavati.

Hanya selang beberapa detik saja, mereka memiliki sesosok badan yang amat cantik serta bercahaya terang benderang, penuh kebijaksanaan, ketrampilan, pengetahuan, kepahalaan dan kebajikan, lengkap semua, identitasnya tidak berbeda dengan para Bodhisattva di negeri tersebut!”

“Lagi O, Arya Ajita!” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:

“Terdapat pula para Bodhisattva, Mahasattva serta para Sravaka-Sangha yang berada di lain dunia, seandainya, mereka pernah menggerakkan Bodhicittanya dan pernah bermaksud ingin melihat Sang Buddha Amitayus atau Amitabha, ingin memberi penghormatan kepadaNya serta ingin mengadakan kebhaktian guna memuja Buddha tersebut.

Tidak berbeda, bila mereka telah meninggal dunia mereka akan dilahirkan di negeri Buddha Amitayus dalam sekuntum bunga teratai yang berasal dari 7 mustika. Inilah yang disebut

“Upapatika” yakni lahir menjelma.”

“O, Arya Ajita yang berbudi! Tahukah anda? Rakyat Buddha Amitayus yang beridentitas ‘Lahir-jelmaan’ itu semua memiliki kebijaksanaan sangat luhur, tapi, yang beridentitas ‘Lahir-kandungan’ itu semua tidak memiliki kebijaksanaan, maka selama 500 tahun tidak pernah melihat Buddha, tidak pernah mendengar ajaran Dharma, juga tidak pernah bertemu dengan para Bodhisattva serta para Sravaka- Sangha di negerinya.

Mereka tidak mendapat kesempatan untuk memuja Buddha, tidak dapat melakukan upacara puja seperti para Bodhisattva, juga tidak dapat melaksanakan pelajaran Dharma dan tidak dapat mengamalkan jasa jasa yang berharga! Mengapa demikian? Karena umat-umat tersebut tidak memiliki kebijaksanaan bahkan selalu ragu-ragu terhadap Dharma serta ‘Sarvajna’ pada masa yang silam!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya: ‘ “O,

Arya Ajita yang berbudi! Diumpamakan, terdapat seorang Raja Cakravarti yang berkuasa, Beliau memiliki rumah penjara yang terbuat dari 7 mustika. Dalam kamarnya telah penuh hiasan yang indah-indah. Dan di atas ruangannya dipasang spanduk-spanduk dari sutera, digantungi payung iram-iram yang juga dari sutera; Di bawahnya dilengkapi alat-alat untuk tidur seperti ranjang, kelambu, bantal, selimut dan sebagainya.

Seandainya seorang pangeran muda yang melanggar peraturan Surga telah ditangkap oleh pengawasnya, langsung dimasukkan ke dalam rumah tersebut dan pintunya dikunci dengan gembok emas, agar Pangeran tersangka tidak mendapat kesempatan untuk keluar. Setiap hari diberi beberapa kali makan minum, pakaian baru, kaos kaki dan tangan, sepatu, bahkan bunga-bungaan, wangi-wangian, berbagai mainan serta musik Surgawi dan tari-tarian, sehingga kenikmatan itu tidak berbeda dengan Sang Raja sendiri!

O, Arya Ajita! Bagaimana pikiranmu? Apakah Sang Pangeran muda itu akan merasa bahagia di dalam rumah terkunci itu?”

“Tentu tidak mungkin, O Bhagavan yang termulia!” Jawab Sang Maitreya:

“Pangeran muda yang dikurung oleh Raja itu, ia akan mencari akal untuk melepaskan dirinya dari rumah penjara tersebut!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Sang Bodhisattva Maitreya:

“O, Arya Ajita! Keadaan dari para umat yang ‘Lahir kandungan’ itu, kalau dibandingkan dengan keadaan Sang Pangeran muda tadi tidaklah berbeda sedikitpun! Karena mereka selalu ragu-ragu terhadap Dharma serta Prajna Buddha, akibatnya ia bermukim di istana 7 mustika yang terletak di daerah terpencil di Kota Sangsi.

Meskipun tidak mengalami hukuman apapun juga dan tidak akan menyangkutkan ide jahat dalam sekali renungan pun. Akan tetapi, selama 500 tahun tidak ada hari tanpa rasa cemas bahwa dirinya sama sekali tidak dapat melihat Buddha, memuja Triratna, mengamalkan berbagai jasa berharga! Walaupun amat santai di dalam istananya masing-masing, pada hakekatnya itu benar-benar bukan santai yang berarti!

O, Arya Ajita! Andaikata umat-umat tersebut dapat mengerti kesalahannya, mereka dapat melakukan penobatan diri hingga sedalam-dalamnya; Memohon agar dirinya dipindah ke tempat lain. Pastilah permohonan dari mereka segera dikabulkan dan mereka langsung memperoleh kesempatan untuk menuju ke Istana Buddha Amitayus guna mengadakan kebhaktian di depanNya!

Memberi penghormatan kepada Beliau serta memuja Beliau dengan hati riang gembira atas perasaan welas-asihNya! Dan, mereka juga dapat dikaruniai Maha martabatNya untuk menjelajahi negeri Buddha lain yang banyaknya tak terhingga, supaya dirinya dapat mempraktekkan Dharma serta mengamalkan jasa berharga di 10 penjuru dunia Buddha!

Ketahuilah O, Arya Ajita! Di dunia ini banyak Bodhisattva yang juga dirugikan oleh sikap ragu-ragu itu! Apabila situasi mengizinkan anda wajib menyadarkan mereka: Bahwa menjadi seorang umat Buddha harus menaruh segenap keyakinan kepada Prajna Buddha yang dimiliki oleh para Tathagata!”

Sang Bodhisattva Maitreya bertanya kepada Buddha Sakyamuni: “O, Bhagavan yang termulia! Berapakah jumlah Bodhisattva-Bodhisattva Avinivartaniya dari BuddhasektraMu (dunia Sahaloka yang dikuasi oleh Sang Sakyamuni) yang telah dilahirkan di negeri Buddha Amitayus atau Amitabha?”

“Jumlahnya O, Arya Ajita!” Sabda Sang Buddha:

“Banyaknya 67 Koti dan semua beridentitas Avinivartaniya! Adapun, tentang keterampilan, kebijaksanaan serta citra-citra yang mereka miliki tidaklah berbeda dengan Sang Maitreya! Dan, semua pernah membhaktikan diri dengan jujur kepada para Buddha di pelbagai dunia yang banyaknya tak terhingga!

Demikian pula, tentang Bodhisattva-Bodhisattva yang memiliki Carita serta kebajikan yang tidak demikian banyak itu jumlahnya juga banyak sekali, apabila saatnya tiba, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk dilahirkan di negeri Buddha tersebut!”

“O, Arya Ajita! Tahukah anda” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:

“Para Bodhisattva yang bertekad dilahirkan di alam Sukhavati itu, bukan hanya terbatas di wilayah Buddhaksetra kami ini, melainkan di 10 penjuru pun demikian banyak. Dengarlah! Ku-jelaskan satu persatu:

Yang pertama di negeri Buddha Dusprasaha, jumlahnya 108 Koti Bodhisattva yang bertekad dilahirkan di alam Sukhavati negeri Buddha Amitayus;

Kedua, di negeri Buddha Ratnakara jumlahnya 90 Koti Bodhisattva dan siap berangkat;

Ketiga, di negeri Buddha Amitaghosa jumlahnya 220 Koti Bodhisattva;

Keempat, di negeri Buddha Amrtarasa jumlahnya 250 Koti Bodhisattva;

Kelima, di negeri Buddha Nagabhibhu jumlahnya 14 Koti Bodhisattva;

Keenam, di negeri Buddha Balabhijna jumlahnya 14.000 Bodhisattva;

Ketujuh, di negeri Buddha Simha jumlahnya 500 Koti Bodhisattva;

Kedelapan, di negeri Buddha Vimalaprabha jumlahnya 80 Koti Bodhisattva;

Kesembilan, di negeri Buddha Gunasri jumlahnya 60 Koti Bodhisattva;

Kesepuluh, di negeri Buddha Srikuta jumlahnya 60 Koti Bodhisattva;

Kesebelas, di negeri Buddha Narendraraja jumlahnya 10 Koti Bodhisattva;

Keduabelas, di negeri Buddha Puspadvaja jumlahnya banyak sekali dan sulit diperkirakan, dan Bodhisattva-Bodhisattva yang sudah siap berangkat itu semua beridentitas Avinivartaniya, memiliki pengetahuan Prajna Buddha dan semangat demikian perkasa, juga pernah mengabdikan diri kepada para Buddha di pelbagai dunia yang banyaknya tak terhingga. Kini, mereka dapat menampilkan kekuatan dayanya hanya dalam tempo 7 hari, mereka dapat mencapai Penerangan terkukuh yang biasa dipraktekkan oleh para Mahasattva dengan waktu ratusan ribu Kalpa itu!

Yang Ketiga belas, di negeri Buddha Vaisaradyaprapta jumlahnya 790 Koti Bodhisattva-Mahasattva, mereka bersama-sama dengan para Bodhisattva yang bertingkat rendah serta para Bhiksu suci banyaknya pun sulit diperhitungkan. Kesemuanya telah siap dilahirkan di negeri Buddha Amitayus atau Amitabha untuk mendalami Dharma yang dimilikinya.”

“Ketahuilah O, Arya Ajita!” Sang Buddha melanjutkan sabdaNya:

“Para Bodhisattva-Mahasattva serta umat-umat lain yang bertekad dilahirkan itu bukan hanya terbatas pada 14 Buddhaksetra (dunia Buddha) tersebut saja, melainkan masih terdapat sejumlah besar umat-umat yang berada di 10 penjuru dunia yang bertekad dilahirkan di negeri Buddha Amitayus.

Sungguh, peristiwa ini hendak Aku sebutkan secara-luas meliputi nama-nama Buddha serta situasi dari para Bodhisattva, Bhiksu-Sangha dan makhluk-makhluk lain yang telah bermukim di alam Sukhavati itu satu demi satu, tapi harus menggunakan waktu setiap hari dan hingga satu Kalpa, dan itu pun belum tentu dapat selesai, maka, Aku hanya uraikan secara singkat saja!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Bodhisattva Maitreya:

“O, Arya Ajita serta para hadirin! Barang siapa yang pernah mendengar nama Buddha Amitayus atau yang lebih umum disebut Buddha Amitabha dan setelah mendengar nama Nya lalu hati mereka riang gembira; Meskipun dia hanya satu kali merenung kepada Buddha Amitayus tersebut, namun, manfaat yang akan diperolehnya bukan main hebatnya, yakni tidak berbeda dengan jasa-jasa agung yang lengkap dari seorang umat! Maka dari itu O, Hadirin-hadirin yang bijak!

Andaikata kobaran api telah menjalar di seluruh dunia Trisahasra Maha-sahasra Lokaddhatu atau sekitar jutaan dunia, demi memperoleh kesempatan yang demikian cerah untuk mengunjungi negeri Buddha Amitayus, kalian harus bertekad menyelusuri api yang ganas itu dengan segenap tenaga dan keberanian, agar dapat mendengarkan khotbah Sutra ini di seberang sana, kemudian dengan sikap tekun hati yang riang gembira menerima makna-maknanya serta tekun mempraktekkannya hingga sukses! Mengapa harus dengan sikap sedemikian?

O, Arya Ajita serta hadirin semua! Ketahuilah, betapa banyak Bodhisattva-Bodhisattva yang bertekad dan berhasrat ingin mendengar Sutra ini tapi tidak memperoleh kesempatan untuk datang di pasamuan agung yang diadakan ini! Apalagi berkat karunia Buddha telah melimpahi para pendengar, walaupun sang umat hanya saat kali mendengar SutraNya, tapi. mereka tetap tidak akan mundur dari Anuttara Samyaksambodhi!

Maka dari itu, mudah-mudahan para hadirin dapat menaruh perhatian kepada Sutra tersebut dan semua makna penting dapat diterima, dapat dihafalkan, dibaca dan dapat dipraktekkan dengan metode-metode yang tercantum di dalamnya, kemudian mengulanginya kepada para umat yang sengsara agar mereka dapat mempergunakan metode ini untuk membebaskan dirinya! Tahukah kamu sekalian! Kali ini.

Aku khusus menguraikan Dharma penting ini untuk para umat dan mengajak seluruh hadirin menyaksikan Buddha Amitayus, menyaksikan segala benda indah yang berada di alam Sukhavati itu, maksudKu tiada lain untuk menggunakan kesempatan yang demikian cerah ini agar para umat tersebut dapat mengungkapkan, mencita-citakan, melaksanakan apa yang ditemukan di arena pasumuan agung ini, pastilah apa yang pernah dimohon tetap dapat diperoleh tanpa meleset sedikitpun! Tapi, kalian harus waspada jangan-jangan hingga Aku Parinirvana kamu masih ragu-ragu dan mondar-mandir di suatu jalan sesat!

O, Hadirin sekalian! Kamu masih ingat akan makna tentang ‘Hubungan-penyebab’ itu atau tidak? Ketahuilah, Sutra apa saja yang diwariskan kepada sang umat dari Buddha itu, makin hari makin hilang hingga suatu saat sulit ditemukan! Maka, oleh sebab itu, Aku khusus mengawetkan Sutra ini hingga ratusan masa.

Pada masa yang akan datang, barang siapa dapat menemukan Sutra yang demikian penting ini, dan bertekad menurut kemampuan, baik daya dari lahir ataupun batin selalu melaksanakannya hingga sukses, maka cita-cita yang teragung dari mereka pasti terwujud!’

“O, Arya Ajita yang berbudi!” Sang Buddha bersabda kepada Sang Bodhisatva

Maitreya: “Baik-baiklah memanfaatkan kesempatan yang demikian cerah ini! Sungguh, kapan dapat bertemu kembali dengan Buddha pada satu masa di dunia ini?

Kapan kamu dapat mendengar khotbah di depan Buddha lagi tidak mudah, bukan?

Apalagi hendak mendengar Sutra-Sutra penting, Penerangan teragung yang setingkat dengan Bodhisattva atau Berbagai Paramita yang luhur dan sebagainya!

Hanya untuk melaksanakan Dharma yang diulangi oleh para tokoh bijak pun tidak demikian mudah; Apalagi pada masa mendatang, jika Sutra ini telah ditemukan, isinya telah didengar apakah para umat dapat ikut gembira dan menaruh perhatian kepadanya, serta dapat mempraktekkan metode-metode yang tercantum di dalam Sutranya? Mungkin kesemuanya ini tidak bisa dianggap mudah!”

“O, Arya Ajita!” Sang Buddha Sakyamuni melanjutkan SabdaNya: “Meskipun kondisi masa di dunia ini mudah beralih, tapi, Buddha Dharma tetap utuh seperti semula. Baik caranya untuk melaksanakan Dharma tetap demikian; pengkhotbahan Dharma tetap demikian, cara mengajar Dharma juga tetap demikian; Dan, untuk sekarang atau mendatang; untuk Surga atau alam sengsara hal itu tetap pada prinsipnya tanpa berubah sedikitpun! Sekianlah, semoga kalian dapat menaruh perhatian serta keyakinan secara bulat menuruti metode-metode yang Kuuraikan tadi hingga sukses!”

Pada saat Sang Bhagavan mengkhotbahkan “Sutra Amitayus Buddha” Ini terdapat banyak umat yang dapat menggerakkan Bodhicittanya : 12 ribu Nayuta orang memperoleh ‘Mata-Dharma’ yang suci murni; 22 Koti Dewa dari pelbagai Surga memperoleh ‘Pahala Anagamina’ 800.000 Bhiksu telah mencapai Asravaksaya dan segala keinginannya lenyap total, dan beridentitas Avinivartaniya seperti Arahate; 40 Koti Boddhisattva tetap beridentitas Avinivartaniya atau tidak akan akan mundur dari Anuttara Samyaksambodhi; dan mereka bertekad untuk meningkatkan citranya dengan Maha-Pranidhana (nadar utama) dan jasa-jasa berharga, agar dapat mencapai Kebudhaan pada masa yang akan datang.

Pada waktu itu, seluruh dunia dari Trisahasra-Mahasahasra Lokadhatu merasa ada 6 macam guncangan. Sekaligus sinar cahaya yang amat terang-benderang mencari ke 10 penjuru dunia. Ribuan macam musik Surga berbunyi secara atomatis di ruang angkasa dan amat sedap didengar. Bunga Mandarava Surga yang jumlahnya banyak sekali turun dari iangit terus menghampar di sekitar Vihara Buddha.

Demikianlah khotbah” Dharma dari Sang Bhagavan Sakyamuni. Bodhisattva Maitreya serta Bodhisattva-Bodhisattva yang datang dari pelbagai dunia, Sthavira Arya Ananda, para Sravaka-Sangha, Maha Bhiksu serta hadirin-hadirin lain bergembira mendengarkannya, kemudian bersikap Anjali menghormat kepada Sang Bhagavan lalu pergi.

Sumber : Sutra Amitabha Teks Panjang (Buddhavacana Amitayus Tathagata Sutra)

Download PDF file Sutra Amitabha

Download mp3 paritta ada di web ini  sutra amitabha

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s