PRANIDHANA SUTRA .   2 comments

PRANIDHANA SUTRA .

Kstigarbha Bodhisattva Purva

PRANIDHANA SUTRA .

I. KEGAIBAN DISURGA TRAYASTRIMSA.

Demikian sebagaimana yang telah kudengar , pada waktu Hyang Buddha berada di surga Trayastrimsa membabarkan Dharma kepada ibunya, pada saat itu disepuluh penjuru dunia yang tiada batasnya berkumpulah para Buddha dan para Bodhisattva Mahasattva memuliakan nama Sakyamuni Buddha yang telah dapat melewati 5 kondisi kekeruhan dunia mempunyai kekuatan kebijaksanaan yang tiada bandingannya, demikian juga kemampuan untuk membimbing dan membina mereka sehingga mengerti Dharma perihal penderitaan dan kebahagiaan dimana masing2 dengan para pengikutnya memberikan penghormatan kepada Yang diJunjunginya .

Pada saat itu Hyang Tathagata tersenyum dengan memancarkan ratusan ribu koti awan bercahaya, Mahaparipurna Megha, Maha Maitri Karuna Megha, Maha Jnana Megha, Maha Prajna Megha, Maha Samadi Megha, Maha Laksmi Megha, Maha Punya Megha, Maha Guna Megha, Maha Sarana Megha, Maha Stotra Megha, sesudah memacarkan awan bercahaya yang tiada batasnya, juga mengeluarakan aneka suara yang sangat sulit untuk dipahami seperti Paramita Nada, Sila Paramita Nada, Ksanti Paramita Dana, Virya Paramita Nada, Dhyana Paramita Nada, Prajna Paramita Nada, Maitri Karuna Nada, Mudita Upekhsa Nada, Mukti Nada ,Anasvara Nada,Jnana Nada, Maha Jnana Nada, Simha Nada, Maha Simha Nada, Garjita Nada. Setelah mengeluarkan nada nada yang tak terkatakan ini keseluruh alam semesta sampai kedunia lainnya, para Dewa, Naga, Setan yang tak terhitung banyaknya datang berkumpul di Surga Trayastrimsa.

Mereka berasal dari Surga Catur Maharaja Kajika, Surga Trayastrimsa, Surga Yama, Surga Tursita, Surga Nirmanarati, Surga Paranirmita Vasavartin, Surga Brahma Kajika, Surga Brahma Purohitas, Surga Maha Brahma, Surga Parittabas, Surga Apra Manabha, Surga Abhasvara, SurgaPrattitasubhas, Surga Apramanasubha, Surga Subhakrtsna, Surga Punya Prasavas, Surga Anabrakha, SurgaBrhatpala Surga Asanjnisattva, Surga Avrha, SurgaAtapa, Surga Sudrsa, Surga Sudarsana, Surga Akanistha, Surga Maha mahesvara, sampai dengan Surga Naivasamjnana Samjnayatana .

Juga seluruh Dewa, Naga, Setan semuanya berkumpul bersama, yang berasal dari seluruh dunia dan dunia lainnya, antara lain hadir Dewa penguasa lautan, Dewa penguasa sungai, Dewa penguasa pohon-pohonan, Dewa penguasa gunung, Dewa penguasa bumi, Dewa penguasa danau, Dewa penguasa ladang, Dewa penguasa siang dan malam, Dewa penguasa angkasa, Dewa penguasa langit, Dewa penguasa makanan serta Dewa penguasa rumput-rumputan, demikian juga para makhluk lainnya ikut hadir semuanya.

Juga dari seluruh dunia sampai kedunia lainnya hadir para Raja Setan seperti Raja Setan bermata kejam, Raja Setan peminum darah, Raja Setan pemakan sari pati , Raja Setan pemakan kandungan telur, Raja Setan penyebar penyakit, Raja Setan penolak racun, Raja Setan yang mempunyai cinta kasih, Raja Setan pemberi berkah, Raja Setan berbudi luhur juga para Raja Setan lainnya semuanya berkumpul bersama.

Pada saat itu Sakyamuni Buddha memberitahukan kepada Pengeran Dharma Manjusri Bodhisattva Mahasattva Kalau engkau melihat kepada para Buddha dan para Bodhisattva, sampai para Dewa, Naga dan Setan didunia ini maupun diluar dunia ini yang pada hari ini berkumpul di Surga Trayastrimsa apakah engkau dapat menghitungnya ?

Manjusri Bodhisattva berkata kepada Hyang Buddha : Lokanantha,biarpun menggunakan kekuatan daya gaibku menghitungnya selama ribuan kalpa tetap tidak dapat mengetahuinya.” Hyang Buddha memberitahukan kepada Manjusri Bodhisattva ,bila Aku mengawasi dengan mata keBuddhaanku jumlahnya tetap tidak dapat terhitung banyaknya, hal ini dikarenakan beberapa kalpa jauh sebelumnya Ksitigarbha Bodhisattva telah menyelamatkan,sedang menyelamatkan, akan menjelamatkan dan yang telah mencapai kesempurnaan, sedang mengalami proses kesempurnaan dan akan memperoleh proses kesempurnaan.

Manjusri Bodhisattva berkata kepada Hyang Buddha : Lokanantha, Aku telah melatih akar kebajikan berkalpa kalpa jauh sebelumnya telah mencapai kesempurnaan mendengar sabda Hyang Buddha Aku dapat menerimanya dengan penuh keyakinan, tapi bagi mereka yang berada di jalan Sravaka dengan pencapaian yang terbatas, para Dewa, Naga dan delapan kelompok makhluk suci lainnya , sampai kepada makhluk yang akan datang lainnya, barangsiapa yang mendengar kata kata Hyang Buddha yang benar dan nyata ini, pasti akan timbul keragu-raguan ,jika dipaksa untuk menerimanya tidak akan terhindar untuk meremehkannya, Lokanantha, mohon jelaskanlah perbuatan apa yang dilakukan Ksitigarbha Bodhisattva Mahasattva sewaktu Ia menempuh Jalan Bodhisattva dan bagaimana Prasetyanya sehingga memungkinkan tercapainya kesempurnaan yang tak terbayangkan ini.?Hyang Buddha memberitahukan Manjustri Bodhisattva seandainya selama Trisahasra maha sahasra loka dhatu seluruh pandang rumput, hutan, bambu, alang alang, gunung batu masing masing menjadi satu, sungai gangga, pasir sungai gangga, dimana setiap butiran pasir sungai gangga menjadi satu dunia, dimana dalam dunianya setiap titik debunya menjadi satu kalpa ,inilah kondisi Ksitigarbha Bodhisattva yang memperoleh penerangan 10 tingkatan kesucian seorang Bodhisattva (Dasa Bhumika Bodhisattva), dimana kedudukannya lebih tinggi ribuan kali lipatan dibandingkan Ksitigarbha Bodhisattva memperoleh kesucian Srvaka dan Praceka Buddha.

Manjusri, Bodhisattva ini mempunyai kekuatan prasetya yang tidak terjangkau dengan pikiran, apabila pada masa yang akan datang terdapat putra putri yang berbudi mendengar nama Bodhisattva ini memuliakan namanya, bersujud padanya menyebut namanya melakukan puja sampai melukis, mencetak gambarnya, mengukir dan melapis rupangnya, orang tersebut akan terlahir seratus kali di Surga Trayastrimsa dan tidak akan terjatuh kealam samsara.
Manjusri, pada masa beberapa kalpa yang lalu Ksitigarbha Bodhisattva lahir sebagai anak seorang Sesepuh (Grhapati), dimana pada saat itu terdapat seorang Buddha dengan gelar Tathagata Simhavikriditaparipurnacarya . Pada waktu itu anak Sesepuh melihat rupa Hyang Buddha begitu agung dan berwibawa ,kemudian ia bertanya kepada Hyang Buddha melakukan prasetya apakah sehingga mempunyai bentuk rupa seperti itu” kemudian Hyang Buddha memberitahukan anak Sesepuh itu dengan mengatakan jika ingin mempunyai bentuk rupa yang sempurna seperti ini harus menolong membebaskan penderitaan para makhluk berkalpa-kalpa lamanya secara terus menerus” Manjusri, anak Sesepuh itu kemudian mengucapkan prasetyanya aku mulai hari ini selama kalpa yang tiada terhitung banyaknya sampai dengan akhir masa yang akan datang menggunakan Upaya Kausalya menolong semua makhluk yang berdosa dan menderita di enam alam tumimbal lahir sampai mereka mencapai penerangan sempurna baru aku menjadi Buddha”, inilah maha prasetya yang dibuat dihadapan Hyang Buddha dan hal ini masih berlangsung sampai saat ini yang telah melewati ratusan ribu najuta kalpa dan ia tetap masih menjadi seorang Bodhisattva.

Pada masa Asemkheya kalpa yang tak terhitung banyaknya, terdapat seorang Buddha dengan gelar Tathagata Padmasamadhisvararaja, dengan masa kehidupan Buddha ini mencapai empat ratus juta Asemkheya kalpa. Pada masa Saddharma Pratirupaka, hiduplah seorang putri Brahmana, karena banyak berbuat kebajikan, kehidupannya sangat senang selalu dihormati orang pada saat berjalan, berdiri, duduk dan berbaring selalu mendapat perlindungan dari para Dewa, tetapi ibunya mempunyai keyakinan yang salah menghina Triratna, Putri Brahmana ini dengan segala macam cara membimbing ibunya agar mempunyai pandangan yang benar, tetapi ibunya tidak mempercayai sepenuh hati sehingga pada saat kematian arwahnya terjatuh kealam Neraka Avici.

Putri Brahmana mengetahui bahwa pada saat berada didunia ibunya tidak percaya kepada Hukum Karma terlihat dari karma perbuatannya pasti terlahir di alam samsara dengan menjual rumahnya melakukan puja dupa, bunga dan perlengkapan lainnya serta melakukan pemujaan besar besaran di Vihara Buddha tersebut. Melihat rupang Tathagata Padmasamadhisvararaja begitu agung dan berwibawa di Vihara dengan penuh hormat dan sujud ia berpikir Hyang Buddha adalah maha sempurna dan maha bijaksana kalau saja masih berada di dunia ini setelah ibuku meninggal aku bisa bertanya kepada hyang Buddha sejogyanya Hyang Buddha tahu dimana tempat ibuku”. Pada saat itu Putri Brahmana menangis lama sekali kemudian memandang Hyang Buddha dengan perasaan sedih dan iba, tiba tiba terdengar suara diangkasa putri yang suci janganlah menangis janganlah bersusah hati, sekarang Aku akan menunjukan dimana ibumu berada” Putri Brahmana dengan sikap tangan beranjali memandang keangkasa lalu berkata dewa yang berbudi dari manakah, aku mempunyai kesedihan yang besar semenjak kehilangan ibuku, teringat kepadanya siang dan malam tanpa tempat bertanya dimana sekarang ia berada ?”

Pada saat itu diangkasa terdengar suara sekali lagi berkata kepada Putri Brahmana “ Aku adalah yang telah engkau pandang dengan penuh sujud yaitu Tathagata Padmasamadhisvararaja melihat keadaanmu yang mempunyai bakti yang lebih besar kepada ibumu dibandingkan dengan makhluk lainnya aku datang untuk memberitahukanmu” Setelah mendengar suara itu Putri Brahmana menjatuhkan diri ke tanah sehingga mengalami cedera kemudian dengan melihat keatas ia berkata semoga dengan cinta kasih Hyang Buddha segera dapat mengatakan dimana tumimbal lahir ibuku karena sekarang aku merasakan badanku hampir mati Tathagata Padmasamadhisvararaja memberitahukan Putri Brahmana setelah engkau melakukan puja, pulanglah kerumahmu dengan sikap duduk menyebut namaku karenanya engkau dapat mengetahui dimana ibumu tumimbal lahir”.

Setelah Putri Brahmana memberi hormat kepada Hyang Buddha ia kembali kerumahnya, teringat kepada ibunya lalu ia mengambil sikap duduk dan menyebut nama Tathagata Padmasamadhisvararaja. Setelah satu hari satu malam ,ia mendapatkan dirinya berada dan berdiri dipingir lautan yang airnya mendidih terdapat banyak binatang berkaki empat yang jahat badannya terbuat dari besi beterbangan diatas lautan, terlihat ratusan dan jutaan laki laki maupun perempuan yang sedang timbul tenggelam ditengah-tengah lautan sedang dicabik-cabik dan dimakan oleh binatang berkaki empat yang ganas itu, ,juga terlihat para Yaksa, masing masing dengan bentuk yang berbeda ada yang bermata banyak, bertangan banyak, berkepala banyak dan juga berkaki banyak, gigi yang keluar dari mulutnya bagaikan pisau yang tajam mereka menggiring orang orang hukuman tersebut mendekati binatang yang berkaki empat yang ganas tersebut, terjadilah perkelahian perampasan kepala atau kakinya sehingga mempunyai bentuk sedemikian rupa sehingga ia tidak berani lama lama melihatnya.
Pada saat itu, dengan kekuatan Hyang Buddha Putri Brahmana tidak merasa takut seorang Raja Setan bernama Amagadha datang menyambut Putri Brahmana dan berkata Bodhisattva yang baik, jodoh apakah yang membawa kemari ?, kemudian Putri Brahmana bertanya kepada Raja Setan itu apakah tempat ini? Raja Setan menjawab bahwa ini adalah lautan pertama dari sisi barat yang disebut Mahacakrawala.

Putri Brahmana bertanya lagi Apakah benar Alam Neraka berada ditengah tengah Mahacakrawala ?.
Raja Setan menjawab:” benar, Neraka terdapat didalamnya, lalu Putri Brahmana bertanya kembali mengapa ia bisa sampai di Neraka ?,dijawab oleh Raja Setan bahwa yang bisa datang ke Neraka hanya ada 2 sebab karena kekuatan Buddha dan karena kekuatan dorongan karma perbuatannya. Putri Brahmana bertanya kembali mengapa air disini bisa mendidih dan banyak orang terhukum dan binatang berkaki empat yang ganas?.

Raja Setan menjawab “ ini adalah orang orang berdosa dari daerah Jambudvipa yang baru saja meninggal dunia, apabila selama 49 hari tidak ada orang yang berbuat baik untuknya, menolongnya dari penderitaan ditambah lagi selama hidupnya tidak pernah berbuat baik maka sesuai dengan karma perbuatannya lautan penderitaan inilah yang harus mereka lalui lebih dahulu. Sepuluh yojana sebelah timurnya terdapat lautan yang penderitaannya 2 kali lipat dari lautan ini, kearah timur lagi masih terdapat satu lautan yang penderitaannya juga bertambah 2 kali lipat dari jumlah lautan tadi, inilah tempatnya yang merupakan hasil dari 3 perbuatan karma buruk yang ditanam.

Putri Brahmana kembali bertanya kepada Raja Setan Amagadha dimana letaknya Neraka ?
Raja setan Amagadha menjawab “ didalam 3 lautan ini terdapat ratusan ribu Neraka besar yang masing masing berbeda jenisnya, yang dikenal sebagai Neraka besar ada 18 yang lainnya ada 500 dengan penderitaan yang sangat kejam dan tidak terbatas, ,juga masih ada ratusan ribu yang mempunyai penderitaan tanpa batas.

Putri Brahmana bertanya kepada Raja Setan bahwa ibunya belum lama meninggal dunia ia tidak tahu arwahnya ada dimana, Raja Setan bertanya kepada Putri Brahmana, selama ibunya masih hidup apa yang menjadi kebiasaannya ? lalu dijawab oleh Putri Brahmana bahwa ibunya mempunyai pandangan salah mencemohkan dan menghina Triratna, kadang kadang percaya kemudian tidak menghormat lagi meskipun baru meninggal dunia beberapa hari saja tapi ia tidak tahu ada dimana. Raja Setan Amagadha bertanya apa marga ibunya lalu dijawabnya bahwa ayah ibunya berasal dari kasta Brahmana ayah bernama Sila Sudarshan dan ibunya bernama Vatri.

Raja Setan Amagadha merangkapkan tangannya dengan sikap beranjali berkata putri yang suci, harap kembali kerumah, tidak perlu kuatir dan bersedih, karena wanita yang berdosa Vatri 3 hari yang lalu telah terlahir di Surga karena anaknya yang berbakti telah melakukan puja untuk ibunya, berdana kepada Tathagata Padmasamadhisvararaja di vihara, atas perbuatannya tidak hanya ibunya yang terbebas tetapi masih ada orang orang berdosa lainnya yang ikut terbebas dan memperoleh kebahagiaan serta terlahir di surga.” Setelah selesai berbicara Raja Setan Amagadha merangkapkan tangannya dengan sikap beranjali lalu mengundurkan diri.
Putri Brahmana tersadar dari mimpinya, sadar akan semua peristiwa yang baru saja terjadi,kamudian ia pergi ke Vihara dihadapan rupang Tathagata Padmasamadhisvararaja ia mengucapkan Prasetyanya “ Mulai hari ini sampai berkalpa kalpa yang akan datang, Aku bertekad menggunakan segala macam cara menolong penderitaan semua makhluk yang menderita sebagai akibat perbuatan karma karma buruknya membimbing mereka agar secepatnya terbebas dari penderitaan”.

Hyang Buddha memberitahukan Manjusri Bodhisattva, bahwa Raja Setan Amagadha itu adalah Dravyasri Bodhisattva sedangkan Putri Brahmana adalah Ksitigarbha bodhisattva.

II.PERSAMUAN DARI KEKUATAN BUDDHA YANG TIDAK TERBATAS.

Pada waktu ratusan ribu juta koti yang tak terpikirkan, tak terukur dan tak terkatakan dari dunia ini, dimana diseluruh Neraka manifestasi dari Ksitigarbaha Bodhisattva hadir di Surga Trayastrimsa. Dengan kekuatan Hyang buddha berdatanganlah para mahkluk yang telah terbebas dari penderitaan yang telah keluar dari duniawi, semuanya ada ribuan juta nayuta, melakukan puja dengan mempersembahkan bunga dan dupa dihadapan Hyang Buddha , ini semua berkat bimbingan dari Ksitigarbha Bodhisattva sehingga selama nya tidak mundur lagi dari Anuttara Samyaksambodhi.

Dimana seluruh makhluk jauh berkalpa kalpa sebelumnya terombang -ambing dari kondisi kelahiran dan kematian, menderita di enam alam tumimbal lahir yang tidak ada henti hentinya karena adanya maha maitri karuna dari Ksitigarbha Bodhisattva dengan prasetya yang kuat semuanya memperoleh buah karma berupa kesempurnaan saat tiba di Surga Trayastrimsa batinnya penuh dengan kegembiraan mengagungkan Hyang Tathagata tanpa berpaling sekecappun.

Pada saat itu Hyang Tathagata, mengulurkan tangannya yang berwarna kuning keemasan meraba kepala manifestasi Ksitigarbha Bodhisattva yang banyaknya ratusan ribu juta koti yang tak terbayangkan, tak terbatas dan tak terkatakan di dunia ini kemudian berkata “ di dalam 5 kekeruhan dunia ini Aku mengajarkan para makhluk yang kurang akar kebajikannya, membimbing dan mengawasi batin mereka agar terkendalikan melalui perbuatan, ucapan dan pikiran, terbebas dari pandangan salah kembali ke jalan yang benar tetapi dari sepuluh, satu, dua masih ada yang berbuat jahat, Aku juga menifestasikan diriKu menjadi ratusan ribu koti menggunakan segala macam cara yang memudahkan untuk menyelamatkan mereka. Bagi yang mempunyai akar yang baik, mendengar ajaran ini dapat menerima sebagai keyakinannya dan memperoleh buah karma yang baik, sehingga memperoleh hasil yang cepat, bagi mereka yang bodoh dan mempunyai kegelapan batin memerlukan waktu yang lama untuk bisa kembali ke jalan yang benar, demikian juga bagi yang mempunyai karma berat yang tidak menghormati Buddha Dharma. Karena setiap makhluk mempunyai akar kebajikan yang berbeda maka manifestasi Buddha dalam menolong semua makhluk bisa berupa badan seorang laki laki, badan seorang wanita, badan seorang Dewa, Naga atau sebagai setan bahkan bisa sebagai gunung, hutan, kali, mata air, sungai, sebagai danau, kolam dan sumur yang bisa berguna dan bermanfaat untuk menyelamatkan semua makhluk atau mengunakan badan Raja Indra, Raja Brahma, Raja Cakravartin, sebagai umat awam, seorang Raja, seorang Perdana mentri, seorang Pejabat, seorang Bhiksu, Bhiksuni, Upasakha, Upasikha sampai dengan badan seorang Sravaka, Arhat, Pracekha Buddha serta Bodhisattva dalam menyelamatkan semua makhluk, ini semua adalah merupakan tubuh manifestasi dari Hyang Buddha Renungkanlah oleh kalian semua, bahwa berkalpa kalpa lamanya dengan penuh susah payah dan penderitaan membebaskan makhluk dari penderitaannya, menyelamatkan makhluk yang tidak mempunyai akar kebajikan dan menderita karena perbuatan karma buruknya, ini sebagai peringatan yang akan datang, karma yang diterima sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. Pada saat terjatuh kealam Samsara dan menerima penderitaan,janganlah kalian kuatir, ingatlah pesanku pada saat di Surga Trayastrimsa, menolong semua makhluk didunia sampai kedatangan Maitreya Buddha, secepatnyalah memperoleh pembebasan bertemu dengan Buddha dan terbebas dari penderitaan.”, demikianlah sebagai yang tercatat.

Pada saat itu di dunia manifestasi tubuh Ksitigarbha Bodhisattva menjadi satu kembali dengan perasaan terharu berkata kepada Hyang Buddha “ jauh dari berkalpa kalpa yang lalu aku mengharapkan menerima bimbingan dari Hyang Buddha agar aku mempunyai kekuatan yang tidak terbayangkan dan kebijaksanaan yang tinggi agar badan manifestasiku dapat memenuhi dunia yang banyaknya bagaikan ratusan ribu koti butiran butiran pasir di sungai Gangga dimana disetiap dunia berubah menjadi ratusan ribu koti manifestasi disetiap manifestasi dapat menolong ratusan ribu koti manusia untuk mengajarnya kembali berlindung dan menghormat kepada Triratna agar selamanya terbebas dari lingkaran kelahiran dan kematian sampai tercapainya Nirvarna. Sekalipun didalam Buddha Dharma perbuatan baiknya bagai selembar bulu, setitik air, sebutir pasir, setitik debu atau bagaikan sehelai rambut dengan kekuatan Buddha secara berangsur-angsur aku dapat membantu membebaskannya, Lokanantha, janganlah kuatir atas karma buruk dari makhluk yang akan datang.”.

Saat itu Hyang Buddha memuji Ksitigarbha Bodhisattva bagus sekali, bagus sekali, aku akan membantu dengan senang sekali engkau akan memperoleh hasil setelah melewati kalpa kalpa yang panjang dengan membangkitkan prasetya menolong seluruh makhluk sampai memperoleh penerangan yang sempurna.

III. MERENUNGKAN KONDISI KARMA DARI PARA MAKHLUK.

Pada saat itu Ibunda Hyang Buddha, Putri Maha Maya dengan penuh hormat merangkapkan tangannya dengan sikap beranjali bertanya kepada Ksitigarbha Bodhisattva Sang Arya, para makhluk yang berada di JambuDvipa melakukan perbuatan yang berbeda-beda bagaimana hukum karma yang diterimanya ?”.

Ksitigarbha Bodhisattva menjawab “ ribuan juta kondisi dunia sampai ke negeri Buddha adalah berbeda, ada yang mempunyai alam Neraka ada yang tidak mempunyai alam Neraka, ada yang terdapat wanita dan ada yang tidak ter dapat wanita, ada yang ada Buddha Dharmanya ada yang tidak ada Buddha Dharmanya, sampai ke alam Sravaka, Arhat dan Pracekha Buddha demikian juga karma buruk yang diterima di Neraka juga tidak ada yang sama atau nomer satunya.

Putri Maha Maya berkata kepada Ksitigarbha Bodhisattva Aku hanya ingin mengetahui hukum karma yang diderita oleh para makhluk yang berasal dari Jambudvipa yang terjatuh di alam Samsara “

Kemudian dijawab oleh Ksitigarbha Bodhisattva Ibunda dengarkanlah,aku akan menjelaskannya”.

Ibunda Hyang Buddha berkata silahkan Yang Arya menjelaskannya”.
Ksitigarbha Bodhisattva mengatakan kepada Ibunda Hyang Buddha bahwa Hukum
karma yang diterima oleh para makhluk yang berasal dari Jambudvipa demikian
adanya :
1.Kalau ada makhluk yang tidak berbakti kepada orang tuanya atau sampai menganiayai ini akan langsung jatuh ke Neraka Avici dimana selama ribuan juta koti kalpa tidak dapat terbebas dari penderitaan.
2.Kalau ada makhluk yang melukai Hyang Buddha, menghina Triratna, tidak menghormat kitab suci juga akan terjatuh ke Neraka Avici, selama jangka waktu ribuan juta koti kalpa tidak dapat terbebas dari penderitaan.
3.Kalau ada makhluk yang merugikan Vihara yang merupakan tempat berkumpul yang abadi dari Yang Arya Sangha, menodai Bhiksu, Bhiksuni, melalukan asusila dilingkungan Sangharama, melukai atau membunuh makhluk demikian jika perbuatan ini dilakukan langsung terjatuh ke Neraka Avici, selama jangka waktu ribuan juta koti kalpa tidak dapat terbebas dari penderitaan.
4.Kalau ada makhluk yang menjadi Sramana tetapi batinnya bukan batin seorang Sramana, memboroskan penggunaan barang barang di Vihara, mendustai dan menipu umat awam, melanggar sila, melakukan perbuatan jahat demikian jika perbuatan ini dilakukan langsung terjatuh di Neraka Avici, selama jangka waktu ribuan juta koti kalpa tidak dapat terbebas dan penderitaan.
5.Kalau ada makhluk yang mencuri harta kekayaan Vihara, seperti beras, makanan minuman, baju sampai kepada barang yang tidak boleh diambil tetap diambilnya, jika perbuatan ini dilakukan langsung terjatuh ke Neraka Avici, selama jangka waktu ribuan juta koti kalpa tidak dapat terbebas dari penderitaannya.

Dikatakan lagi oleh Ksitigarbah Bodhisattva, Ibunda, kalau ada makhluk yang melakukan perbuatan buruk ini mereka akan langsung terjatuh ke Neraka Avici, dimana mengharapkan penderitaan ini berhenti sebentar saja tidak bisa.

Putri Maha Maya kembali bertanya kepada ksitigarbaha Bodhisattva “ mengapa disebut dengan nama Neraka Avici ?”

Ksitigarbha Bodhisattva berkata kepada Ibunda Putri Maha Maya “ Neraka hanya ada di dalam Mahacakrawala, didalam Mahacakrawala terdapat 18 Neraka dimana disetiap Neraka terdapat 500 Neraka yang masing masing mempunyai nama yang berbeda dan masih ada ratusan ribu Neraka kecil yang juga mempunyai nama yang berbeda beda. Didalam Neraka avici panjang tembok yang mengelilinginya 80 ribu yojana terbuat dari besi yang tingginya 10 ribu yojana , api berkumpul diatas Neraka dan tidak ada tempat yang tiada apinya, ditengah-tengah Neraka terdapat Neraka neraka yang saling berhubungan yang masing masingnya mempunyai nama, hanya satu Neraka yang bernama Avici, dikelilingi oleh tembok dengan panjang 80 ribu yojana tingginya seribu yojana, semua terbuat dari besi, baik diatas maupun didasar Neraka terdapat api, ular dan anjing besi dari mulutnya mengeluarkan api yang berjalan dari barat ketimur sambil mengeluarkan api. Ditengah Neraka ada ranjang besi yang panjangnya 10 ribu yojana orang yang menerima hukuman dapat melihat dirinya direntangkan diatas ranjang besi tersebut, inilah karma buruk yang diterimanya sebagai akibat perbuatan buruk yang dilakukannya. Selain itu orang yang menerima hukuman akan menjalani dan akan menerima penderitaan yang banyak, ratusan ribu yaksa maupun setan yang jahat dengan gigi bagaikan pisau dan mata bersinar bagaikan kilat menarik tangan orang yang berdosa, juga ada yaksa yang mengajungkan senjata trisula besi yang ditusukkan ditengah tengah badan orang yang berdosa dari perut sampai tembus kepunggungnya, dilempar keudara, ditarik kemudian ditaruh ke ranjang besi kembali. Juga ada elang besi yang mematuk mata dan ular yang melilit leher orang yang berdosa, ratusan paku dipantekan ditubuh, ditarik lidahnya, isi perutnya dikeluarkan dan dipotong potong, cairan besi panas dituangkan kedalam mulut, tubuh diikat dengan kawat panas, jutaan kali mati dan ratusan ribu kali hidup, inilah karma buruk yang diterimanya sebagai akibat dari perbuatannya, melalui jutaan koti kalpa mereka tidak dapat terbebas dari penderitaan ini, pada waktu dunia ini mengalami kehancuran sedangkan hukuman belum selesai ,orang orang berdosa ini akan tetap dilahirkan didunia lain untuk tetap menjalankan hukumannya , bila dunia ini mengalami kehacuran ia juga akan pindah demikian seterusnya sampai dimana dunia tersebut terbentuk kembali, demikian akan terus terulang kembali inilah karma buruk yang diterima tanpa henti-hentinya.

Ada 5 hal perbuatan karma yang disebut tak terputus
1. Siang dan malam secara terus menerus tanpa hentinya dan bersangsung berkalpa kalpa lamanya orang yang berdosa menerima hukumannya karena itu disebut tiada terputus.
2. Di Neraka avici berapapun jumlah orang yang berdosa entah satu ataun banyak tetap saja terasa penuh sesak, karena itulah disebut tak terputus.
3. 0rang berdosa tidak luput dari hukuman Yaksa yang memegang ruyung siksaan dari binatang yang bertubuh besi seperti burung elang,ular, srigala, anjing, siksaan dari lesung dan palu yang menumbuk tubuh, menggilas, menggergaji, mengebor, memahat, mengiris dan membabatnya dimasukan kedalam cairan yang mendidih, diikat dengan jala besi, tali besi, bara besi atau disuruh naik kuda besi panas, lalu dikupas kulitnya atau tubuhnya disiram cairan besi panas yang kemudian diberi makan besi panas dan meminum cairan besi panas demikianlah penderitaan yang berlangsung tanpa hentinya selama jangka waktu nayuta lamanya karena itu disebut tiada terputus.
4.Tidak melihat pria dan wanita, terpelajar atau bodoh, tua atau muda kaya atau miskin, Naga, Asura, Dewa atau Setan masing masing harus menerima karma buruk hasil perbuatannya karena itu disebut tiada terputus.
5. Bagi makhluk yang terjatuh ke Neraka, dari permulaan masuk sampai ratusan ribu juta kalpa setiap siang dan malam ribuan kali mati dan ribuan kali hidup, mengharapkan keringanan tidak dapat, kecuali karma buruknya telah berakhir bisa tumimbal lahir karena itu disebut tiada terputus.

Ksitigarbha Bodhisattva berkata kepada Ibunda Hyang Buddha “ inilah penjelasan dari Neraka Avici kalau mau secara luas dan terperinci tentang alat alat yang dipakai dalam menghukum dan nama nama Neraka lainnya ,hal ini tidak akan habis satu kalpa lamanya.
Habis mendengarkan ini Putri Maha Maya merangkapkan kedua tangannya sikap beranjali dengan wajah sedih memberi hormat dan mengundurkan diri.

IV.HUKUM KARMA DARI MAKHLUK HIDUP DI JAMBUDVIPA.

Pada suatu ketika Ksitigarbha Bodhisattva Mahasattva berkata kepada Hyang Buddha “ Lokanantha, setelah aku mempunyai kekuatan gaib dari Hyang Tathagata maka aku dapat memanifestasikan diriku yang banyaknya ratusan ribu koti guna menolong karma buruk para makhluk jika bukan dengan kekuatan maitri karuna Hyang Tathagata tidak akan dapat melakukan seperti ini, sekarang aku mengucapkan terima kasih atas apa yang diberikan Hyang Buddha menolong para makhluk di enam alam tumimbal lahir sampai Ajita (Maitreya) menjadi Buddha .demikianlah Lokanantha,janganlah ragu ragu akan hal itu.”

Hyang Buddha memberitahukan Ksitigarbha Bodhisattva, bahwa semua makhluk yang belum terbebas dari penderitaan mempunyai sifat dan kesadarannya yang selalu berubah, sebentar melakukan perbuatan jahat sebentar lagi melakukan perbuatan baik, perbuatan jahat dan baik timbul karena terpengaruh dari keadaan dan lingkungan tumimbal lahir di lima alam tanpa berhenti melewati kalpa yang banyaknya bagaikan titik titik debu didalam belenggu kesesatan dan kesusahan bagaikan ikan yang berenang mengikuti arus yang menuju ke jala mungkin sementara bisa meloloskan diri sesudah itu akan terjerat kembali, karena melihat ini aku jadi kuatir dan ragu ragu, karena engkau telah menyatakan prasetya yang kuat dan menyanggupi untuk menyeberangi dan menolong semua makhluk yang berdosa berkalpa kalpa lamanya ,aku jadi tidak ragu ragu lagi.

Setelah menyatakan ini, ditengah tengah persamuan ada seorang Bodhisattva Mahasattva yang bernama Dhyanasvararaja yang bertanya kepada Hyang Buddha ? okanantha, Ksitigarbaha Bodhisattva yang berasal dari beberapa kalpa yang lalu, apakah yang menjadi prasetyanya sehingga Hyang Buddha memujinya sedemikian rupa,mohon Hyang Buddha menjelaskannya ?”
Pada saat itu juga Hyang Buddha memberitahukan kepada Dhyanasvararaja Bodhisattva ? engarkan dan renungkanlah yang baik, aku akan menjelaskannya hal ini padamu. Pada asemkheya nayuta kalpa yang tak terbilang pada masa lalu , pada waktu itu ada seorang Buddha dengan gelar Tathagata Sarvajnasidha, seorangArhat ,Samyaksambuddha,Vidyacaranasampanna,Sugata.Lokavid,,Anuttara,Purusa Damya Sarathi, sasta Deva Manusyanam, Buddha,Lokanantha,masa kehidupan Buddha tersebut adalah 60 ribu kalpa lamanya, sebelum menjadi seorang Sramana, beliau adalah seorang Raja disuatu negara kecil dan berteman dengan seorang Raja tetangganya, bersama-sama menjalankan 10 perbuatan bajik dan banyak melakukan perbuatan baik untuk semua makhluk. Karena penduduk dari negara tetangganya masih banyak berbuat jahat maka kedua Raja sepakat untuk mencari daya upaya bagaimana membimbing dan menolong semua makhluk kearah kebajikan. Seorang Raja mengeluarkam prasetyanya ? ntuk secepatnya menjadi Buddha agar dapat menolong semua makhluk tanpa kecuali “ sedangkan Raja yang lainnya berprasetya “ menolong semua makhluk yang berdosa agar bebas dari penderitaan baru menjadi Buddha “.
Hyang Buddha memberitahukan Dhyanasvararaja Bodhisattva, bahwa Raja yang mempunyai prasetya untuk secepatnya menjadi Buddha adalah Tathagata Sarvajnasidha sedangkan Raja yang mempunyai prasetya selamanya menolong semua makhluk baru menjadi Buddha adalah Ksitigarbha Bodhisattva.

Disamping itu pada asemkheya kalpa yang tak terhitung dimasa lalu didunia ada seorang Buddha dengan gelar Tathagata Suddhanapadmanetra, mempunyai masa kehidupan 40 kalpa dimasa ajaran Terbentuknya Dharma. Pada masa itu ada seorang Arhat melakukan kebajikan dan menolong serta membimbing semua makhluk. Pada suatu hari bertemu dengan seorang wanita yang bernama Jyotinetra yang memberikan puja kepadanya, Arhat tersebut bertanya kepadanya apa yang engkau inginkan, lalu Jyotinetra menjawab pada hari kematian ibunya ia banyak berbuat baik tapi tidak tahu dimana sekarang ibunya berada.

Arhat tersebut timbul rasa kasihannya kemudian memasuki samadhinya dan melihat bahwa ibunya Jyotinetra terjatuh ke alam Samsara dimana ia sedang mengalami penderitan yang berat. Arhat tersebut bertanya kepada Jyotinetra, selagi ibumu masih hidup pekerjaan apa yang dilakukannya karena sekarang ia sedang menerima penderitaan yang berat di alam samsara. Jyotinetra menjawab ? buku suka sekali makan ikan dan penyu,ia paling suka makan telur ikan yang digoreng atau direbus, karena kesukaannya ia membunuh beribu ribu nyawa yang tak terhitung banyaknya, Arya yang pengasih bagaimana cara menolongnya ?”

Arhat mengasihinya dengan menggunakan cara yang paling memudahkan untuknya ia berkata ? alau engkau dengan sungguh sungguh hati menyebut namanya Tathagata Suddhanapadmanetra menaruh rupangnya atau lukisannya lakukan puja bakti agar baik yang masih hidup dan atau yang telah meninggal dunia memperoleh manfaat dan perlindungan nya”.

Jyotinetra setelah mendengar itu lalu menjual semua barang kesukaannya mencari gambar dan rupang Hyang Buddha, memberikan persembahan dihadapannya dengan hati sujud dan penuh hormat, menangis dengan sedih sambil menatap dan memuliakannya. Menjelang tengah malam ia bermimpi bertemu dengan Hyang Buddha dengan tubuh berwarna kuning keemasaan, besarnya bagaikan gunung Semeru memancarkan sinar yang terang menerang lalu memberitahukan Jyotinetra bahwa tidak lama lagi ibunya alan terlahir didalam keluarganya ia bisa berbicara begitu merasa lapar dan dingin.

Tak lama setelah itu seorang pembantu wanita dirumahnya melahirkan seorang anak laki laki dimana dalam 3 hari setelah kelahirannya anak tersebut bisa berbicara, sambil menangis tersedu-sedu ia memberitahukan Jyotinetra didalam kehidupan dan kematian menanggung buah karma perbuatannya dan memberitahukan bahwa ia adalah ibunya yang telah terjerumus ke alam Samsara untuk jangka waktu yang lama, setelah meninggalkan Jyotinetra ia terjatuh ke alam Neraka, sebagai akibat dari kekuatan karma baiknya ia terlahir di alam manusia meskipun terlahir miskin dan terhina, juga mempunyai umur yang pendek, dimana sesudah berusia 13 tahun, aku akan jatuh kembali ke alam Samsara, apakah engkau mempunyai cara lain untuk menolong aku.

Sewaktu mendengarkan kata kata itu Jyotinetra tidak ragu ragu lagi bahwa inilah ibunya sambil menanggis ia berkata kepada anak tersebut jika benar benar engkau ibuku engkau harus tahu perbuatan dosa apa yang telah engkau lakukan sampai terjatuh kealam Samsara ini “. Anak laki laki itu menjawab ? arma buruk yang kuterima ini sebagai akibat 2 perbuatan yang telah kulakukan, melakukan pembunuhan dan menfitna jika bukan jasa pahala yang telah engkau perbuat untuk menolong dan membebaskanku dari penderitaan ini aku belum bisa terbebaskan.
Jyotinetre setelah mendengar kata kata itu lalu bertanya ? ukuman apa yang engkau terima di Neraka ?” Anak laki laki itu menjawab “ penderitaan yang diterima karena dosa yang diperbuat sangatlah mengerikan, ratusan ribu tahunpun sukar untuk mengungkapkannya “. Setelah Jyotinetra mendengarkan kata kata ini ia menangis dengan sedih sambil menengadah kelangit ia berkata “ semoga ibundaku selamanya terbebas dari alam Neraka dan sesudah usia 13 tahun terbebas dari karma buruknya dan tidak terjerumus ke dalam alam Samsara, sepuluh penjuru para Buddha tunjukanlah cinta kasihmu, kasihanilah aku dengarkanlah demi ibundaku kunyatakan prasetyaku semoga ibundaku salamanya terbebas dari 3 alam samsara, tidak terlahir dikalangan rendah dan tidak jadi perempuan lagi, selama berkalpa kalpa tidak menerima kondisi ini, aku bertekad sampai hari ini dihadapan rupang Tathagata Suddhanapadmanetra sehingga ratusan ribu koti kalpa yang akan datang untuk menjalankan prasetyaku menolong semua makhluk yang menderita akibat karma buruknya selagi berada dialam dunia, seluruh alam Neraka hingga 3 alam Samsara, agar dapat meninggalkan alam Neraka, binatang serta alam Preta sampai para makhluk yang berdosa tersebut mencapai alam KeBuddhaan, baru aku menjadi Buddha.”

Setelah mengucapkan prasetya ini terdengarlah Tathagata Suddhanapadmanetre berkata ? yotinetra, engkau mempunyai cinta kasih dan balas kasihan yang luar biasa, melakukan perbuatan baik dengan maha prasetya untuk ibumu, aku melihat ibumu setelah 13 tahun menerima karmanya akan terlahir sebagai Brahmacarin dengan usia 100 tahun, setelah menjalani karma ini, ia akan terlahir di negeri Buddha Asokbya selama berkalpa kalpa menolong Dewa dan Manusia yang banyaknya bagaikan butiran butiran pasir disungai Gangga sampai ia menjadi Buddha “.

Hyang Buddha memberitahukan Tathagata Dhyanasvararaja bahwa Arhat yang membantu menolong Jyotinetra adalah Bodhisattva Aksayamati, sedangkan ibunda Jyotinetra adalah Bodhisattva Vimuktika dan Jyotinetra adalah Ksitigarbha bodhisattva, Karena cinta kasih dan balas kasihannya selama berkalpa kalpa lamanya melaksanakan prasetyanya menolong semua makhluk yang banyaknya bagaikan butiran pasir di sungai Gangga .

Jika dimasa yang akan datang terdapat laki laki atau wanita yang tidak melakukan perbuatan baik, melainkan melakukan perbuatan jahat, tidak percaya adanya hukum karma , berzinah, berdusta, menfitnah dan mengeluarkan kata kata kasar ,menghina ajaran Buddha, makhluk yang melakukan perbuatan ini pasti terjatuh ke alam Samsara, tapi kalau mereka bertemu dengan seorang Kalyana Mitra, guru atau sahabat yang baik yang dapat membimbing dalam waktu yang singkat menyatakan berlindung kepada Ksitigarbha Bodhisattva, maka para makhluk tersebut dapat terbebas dari 3 alam Samsara. Apalagi bagi mereka yang dengan sungguh hati menyatakan berlindung dan menghormat serta bersujud dan memuliakannya dengan mempersembahkan puja dupa, bunga, pakaian, permata dan makanan, kalau para makhluk menjalankan hal ini maka ratusan ribu koti kalpa yang akan datang mereka akan memperoleh kebahagiaan di alam Dewa, kalau karma dialam Dewa telah berakhir mereka akan terlahir kembali ke alam Manusia dan akan menjadi Raja selama ratusan ribu kalpa lamanya dan mereka dapat mengingat sebab akibat dari kehidupan yang lalu . Dhyanasvararaja , engkau melihat bahwa Ksitigarbha Bhodhisattva mempunyai kekuatan yang tak terbayangkan untuk menolong semua makhluk karena itu kalian para Bodhisattva setelah mendengarkan Sutra ini harus menyebar luaskannya”.

Dhyanasvararaja berkata kepada Hyang Buddha “ Lokanantha ,jangan kuatir aku bersama sama dengan ratusan juta koti para Bodhisattva Mahasattva yang menerima kekuatan dari Hyang Buddha akan menyebar luaskan Sutra ini agar semua makhluk yang hidup didaerah Jambudvipa memperoleh karma yang baik”.

Setelah mengatakan hal ini Dhyanasvararaja Bodhisattva beranjali menghormat dengan penuh sujud kemudian mengundurkan diri.

Pada saat itu Catur Maha Dewa bangkit dari tempat duduknya, beranjali dengan hormat bertanya kepada Hyang Buddha ? okanantha, mengapa Ksitigarbha Bodhisattva yang sudah ribuan kalpa membangkitkan prasetya sampai hari ini masih juga belum selesai menolong semua makhluk dan masih harus membangkitkan kembali prasetyanya, mohon Lokanantha memberikan penjelasannya ?

Hyang Buddha berkata kepada Catur Maha dewa “ Sangat baik, sangat baik, hari ini demi kebaikan engkau dan para makhluk yang akan datang Dewa, manusia dan para makhluk lainnya, Aku akan menjelaskan bagaimana caranya Kstigarbha Bodhisattva menolong membebaskan para makhluk berdosa di dunia (Jambudvipa) dari lingkaran lautan kehidupan dan kematian “. Catur Maha Dewa menjawab “ Lokanantha,aku ingin mendengarkannya”
Hyang Buddha menjelaskan kepada Catur Maha Dewa bahwa sejak jauh berkalpa kalpa yang lalu Ksitigarbha Bodhisattva sampai hari ini masih belum selesai menolong semua makhluk karena rasa maitri karunanya kepada semua makhluk yang telah melakukan karma buruk, disamping itu ia melihat pada kalpa kalpa yang tak terhitung dimasa yang akan datang, karma atau sebab yang ditanam bagaikan pohon rambat yang tiada putus-putusnya karena itulah ia tetap menjalankan prasetya. Demikianlah para Bodhisattva didunia menggunakan ratusan ribu koti cara untuk menolong dan membimbing semua makhluk didunia. Catur Maha Dewa, Ksitigarbha Bodhisattva menjelaskan bagi mereka yang melakukan perbuatan membunuh akan memperoleh karma usia yang pendek, yang melakukan perbuatan merampok dan mencuri akan memperoleh karma kehidupan yang sangat miskin penuh dengan penderitaan, bagi yang melakukan perbuatan berzinah atau melakukan perbuatan asusila akan memperoleh karma sebagai burung dara, burung belibis, bagi yang suka mengeluarkan kata kata kotor akan memperoleh karma keluarga yang selalu berselisih, bagi mereka yang suka menfitnah akan memperoleh karma lidah yang pendek dan mulut yang bau busuk, bagi yang suka marah akan memperoleh karma muka yang buruk jelek dan tubuh yang cacat, bagi mereka yang hidupnya kikir akan meperoleh karma keinginnya selalu tidak tercapai, bagi yang rakus akan memperoleh karma busung lapar dan kehausan, bagi yang suka berburuh akan memperoleh kematian yang mengerikan dan gila, bagi yang tidak berbakti dan mempermalukan kedua orang tuanya akan memperoleh bencana alam yang bisa menimbulkan kematian, bagi yang suka membakar hutan akan memperoleh sakit gila sampai kematiannya, bagi ayah ibu yang jahat dan kejam akan memperoleh cambukan, bagi mereka yang suka menjaring dan menjebak binatang akan memperoleh perpisahan dalam keluarga, bagi mereka yang menghina Buddha Dharma Sangha akan memperoleh kebutaan, bisu dan tuli, bagi mereka yang meremehkan dan berlaku sombong terhadap Dharma akan selamanya terlahir dialam Samsara, bagi mereka yang memboroskan dan mencuri serta mengunakan seenaknya milik Vihara berkalpa kalpa akan terlahir di Neraka, bagi mereka yang menodai Sangha dan mencemari kedudukan Sangha akan terlahir di alam binatang, bagi mereka yang menyiksa makhluk dengan cara merebus, membakar, memancung, melukai dan menguliti akan berputar terus dialam tumimbal lahir, bagi mereka yang melanggar Sila berpandang makan akan terlahir sebagai binatang yang kelaparan dan kehausan, bagi yang melakukan atas sila kemudian melanggarnya akan terlahir sebagai binatang berbulu yang kelaparan, bagi mereka yang menggunakan barang bukan miliknya dan memboroskannya akan terlahir miskin dan tidak tercapai keinginannya, bagi mereka yang sombong dan angkuh akan terlahir sebagai budak/pembantu, bagi mereka yang suka memecah belah dan menghasut akan terlahir tidak berlidah dan sukar berbicara, bagi mereka yang mempunyai pandangan yang salah akan terlahir didaerah terpencil. Inilah gambaran secara kasar dari ratusan ribu koti yang diterimanya sebagai akibat dari perbuatan badan, ucapan dan pikiran yang dilakukan semua makhluk di Jambudvipa.

Karena karma yang dilakukan makhluk di Jambudvipa berbeda-beda maka Ksitigarbha Bodhisattva menggunakan ratusan ribu cara yang memudahkan untuk mengajar dan membimbing mereka. Demikianlah para makhluk tersebut lebih dahulu menerima karma seperti tersebut diatas baru mareka masuk ke alam Neraka yang akan dialaminya berkalpa kalpa tanpa dapat keluar dari kondisi ini karena itu engkau harus dapat menjadi pelindung Manusia dan Negara agar para makhluk tidak lagi melakukan perbuatan yang tersesat.
Setelah mendengar ini Catur Maha Dewa menjadi sedih dengan tangan beranjali mereka mengundurkan diri.

5. NAMA NAMA ALAM NERAKA .

Pada suatu ketika Samanthabadra Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Kstigarbha Bodhisattva sang Arya, demi untuk para Dewa, Naga dan 4 jenis makhluk lainnya yang hidup di masa sekarang maupun dimasa yang akan datang sampai dengan dimasa Kemerosotan Dharma yang akan datang didunia dan sampai ke Jambudvipa ini, apakah nama nama Neraka yang akan menjadi tempat mereka sebagai akibat perbuatan buruknya?”.

Ksitigarbha Bodhisattva menjawab “ Yang Arya aku dengan menggunakan kekuatan dari Hyang Buddha dan kekuatan dari Yang Arya, akan menguraikan nama nama Neraka atas karma buruk dan perbuatan buruk yang telah dilakukannya. Yang Arya ,disebelah timur Jambudvipa ada sebuah gunung yang bernama Cakrawala, kondisi keadaannya sangat gelap sedikitpun tidak ada sinar matahari ataupun bulan.

Ada Neraka yang besar bernama Anatraya, ada lagi Neraka yang bernama Avici dan ada Neraka neraka lain yang disebut Neraka dengan empat sudut, Neraka Pisau terbang, Neraka Panah api, Neraka Gunung pencepit, Neraka Tombak penebus, Neraka Kereta besi, Neraka Ranjang besi, Neraka Sapi besi, Neraka Baju besi, Neraka cairan Tembaga, Neraka yang berpilar pilar, Neraka Api berkobar, Neraka Pembajak lidah, Neraka Pemenggal kepala, Neraka Membakar kaki, Neraka pencungkil mata, Neraka Biji besi panas, Neraka Perselisihan, Neraka kapak besi, Neraka Penuh kebencian, kemudian Kstigarbha Bodhisattva melanjutkan, Yang Arya, didalam Cakrawala karena begitu banyaknya Neraka sehingga tidak dapat terhitung, ada lagi yang disebut Neraka Meratap, Neraka Mencabut lidah, Neraka tempat pembuangan kotoran manusia, Neraka kunci tembaga, Neraka Gaja Api,Neraka anjing Api, Neraka Kuda Api, Neraka Sapi Api, Neraka gunung Api, Neraka Batu Api, Neraka Ranjang Api, Neraka balok api, Neraka Elang Api, Neraka Gergaji Api, Neraka Pengupas kulit, Neraka Peminum Darah, Neraka pembakar tangan, Neraka pembakar kali, Neraka Duri Api, Neraka rumah terbakar, Neraka rumah besi, Neraka Srigala Api . Inilah uraian dari Neraka neraka tersebut dan ditengah tengah Neraka itu masih ada Neraka neraka kecil yang jumlahnya ada satu, dua, tiga, empat bahkan ratusan ribu dengan nama nama yang berbeda.”.

Ksitigarbaha Bodhisattva memberitahukan Samanthabadra Bodhisattva “ Yang Arya, inilah karma buruk yang diterima para makhluk dari Jambudvipa yang telah melakukan perbuatan jahat, kekuatan karma yang begitu besar bisa menyamai tingginya gunung Semeru dalamnya sedalam lautan yang dapat menghalangi jalan menuju ke Buddhaan, oleh karena itu para makhluk tidak boleh meremehkan perbuatan jahat sekecil apapun dengan menganggap tidak berdosa, karena setelah mati pasti menerima karmanya. Bapak, anak sampai kesanak saudara meskipun mempunyai tali ikatan tapi mempunyai jalan karma yang berbeda, karena itu tidak ada saling menggantikan untuk menerima hukum karmanya. Sekarang dengan menggunakan kekuatan Hyang Buddha aku akan menjelaskan hukum karma yang diterima sebagai akibat perbuatan buruk yang dilakukannya, mohon yang Arya dapat mendengarkannya”.

Samanthabadra menjawab “ Sudah lama aku mengerti hukum karma atas 3 karma buruk, mohon Yang Arya bisa membabarkannya agar dapat mengajak para makhluk yang hidup dimasa yang akan datang, dimasa Kemerosotan Dharma yang melakukan perbuatan jahat, bisa mendengarnya dan menyatakan berlindung kepada Hyang Buddha”.

Ksitigarbha Bodhisattva berkata “ Yang Arya ,Neraka bagi perbuatan yang jahat adalah demikian, ada Neraka dimana lidah orang yang berdosa ditarik seperti sapi membajak, ada neraka dimana hati dari orang yang berdosa dimakan oleh Yaksa, ada neraka dimana badan orang yang berdosa dimasak dalam kuali cairan mendidih, ada nereka dimana orang yang berdosa memeluk pilar tembaga panas, ada neraka dimana orang yang berdosa dibakar dalam kobaran api yang dasyat, ada neraka yang dipenuhi salju dan es, ada neraka yang dipenuhi oleh kotoran manusia dan air kencing, ada nereka yang terdapat tongkat terbang, ada neraka tembok berapi, ada neraka yang berdosa ditumbak dada dan punggungnya, ada neraka dimana orang berdosa kaki dan tangannya dibakar, ada neraka dimana orang yang berdosa dililit ular besi, ada neraka orang yang berdosa dikejar dan digigit anjing besi, ada neraka dimana orang yang berdosa menaiki keledai besi . Yang Arya demikianlah hukum karma yang mereka terima, didalam tiap neraka terdapat ratusan ribu alat hukuman, tidak hanya terbuat dari tembaga dan besi juga terbuat dari batu dan api, ini 4 jenis barang yang dipergunakan sebagai akibat perbuatan karma buruk yang dilakukan oleh para makhluk. Kalau harus menjelaskan secara terperinci hukuman yang terdapat didalam setiap neraka ada ratusan ribu penderitaan tergantung berapa banyak neraka tersebut .Sekarang dengan menggunakan kekuatan Hyang Buddha sampai Yang Arya bertanya inilah penjelasanku dan kalau diperjelas lagi sampai berkalpa kalpapun tiada habis habisnya.”

VI. MEMULIAKAN TATHAGATA.

Pada suatu waktu Hyang Buddha memancarkan sinar terang menerang keluar dari tubuhnya, menerangi ratusan ribu juta koti tanah Buddha yang banyaknya bagaikan butiran butiran pasir disungai Gangga. Dengan mengeluarkan suara yang keras memberitahukan kepada para Buddha dan seluruh Bodhisattva Mahasattva, sampai kealam Dewa, Naga, Preta, Manusia dan bukan manusia, sekarang dengarkanlah aku memuji dan memuliakan Ksitigarbha Bodhisattva Mahasattva sampai kesepuluh penjuru dunia, dengan menggunakan kekuatan maitri karuna yang tak terbayangkan menolong melindungi semua makhluk yang menderita akibat perbuatannya, setelah aku mencapai Nirvarna, kalian para Bodhisattva, Dewa, Naga serta Preta gunakanlah berbagai macam cara (upaya kausalia) melindungi Sutra ini agar dapat membimbing semua makhluk mencapai kebahagiaan Nirvana .

Setelah berkata demikian diantara para Persamuan adalah seorang Bodhisattva yang bernama Samantavistara dengan tangan beranjali penuh hormat berkata kepada Hyang Buddha ? okanantha, sekarang terlihat bagaimana Lokanantha memuji dan memuliakan Ksitigarbha Bodhisattva yang mempunyai kekuatan jasa pahala yang tidak terbayangkan karenanya demi untuk para makhluk dimasa yang akan datang, dimasa Kemerosotan Dharma menjelaskan manfaat dan gunanya Ksitigarbha Bodhisattva dalam menjelaskan hukum karma kepada manusia dan Dewa beserta Raja Dewa, Naga dan 8 kelompok para makhluk lainnya sampai kepada makhluk yang akan datang, dengan menjunjungi tinggi menerima pembabaran Hyang Buddha.

Pada saat itu Hyang Buddha memberitahukan Samanthavistara beserta 4 makhluk lainnya “ dengarkanlah yang baik, aku akan menjelaskan bagaimana manusia dan dewa memperoleh manfaat, berkah serta kebajikan dari Ksitigarbha Bodhisattva.”
Samanthavistara bertanya “ Lokanantha,jelaskanlah kami akan penuh gembira mendengarkannya “.

Hyang Buddha memberitahukan Samanthavistara “ dimasa yang akan datang kalau ada putra putri yang berbudi mendengar nama Ksitigarbha Bodhisattva Mahasattva dengan tangan beranjali memuliakannya, bersujud dihadapannya, mengagungkannya orang tersebut akan melewati karma buruknya selama 30 kalpa lamanya. Samanthavistara, kalau ada putra putri yang berbudi dengan melukis dan membuat rupang Bodhisattva dari tanah, dari batu, emas, perak, tembaga atau besi melakukan puja dan bersujud dihadapannya maka orang tersebut akan terlahir selama 100 kali di Surga Trayastrimsa dan selamanya tidak terlahir dialam Samsara,jika jasa pahala ini telah berakhir, akan terlahir di alam manusia sebagai Raja yang mempunyai kekuasaan besar.

Kalau ada seorang wanita yang tidak ingin terlahir lagi sebagai seorang wanita harus melakukan puja bakti dihadapan rupang Ksitigarbha Bodhisattva yang terbuat dari lukisan, terbuat dari tanah, batu, logam, besi dan sebagainya, setiap harinya melakukan puja bunga dan dupa, makanan, pakaian , sutra yang berwarna warni, panji panji dan sebagaainya sebagai persembahan. Putri yang berbudi setelah ratusan ribu kalpa tidak akan terlahir lagi dengan bentuk wanita, demikianlah penjelasan ini kecuali dengan kekuatan maitri karuna menerima bentuk badan wanita untuk menolong semua makhluk menerima kembali kekuatan puja bakti beserta kekuatan jasa pahalanya maka ratusan ribu juta kalpa lamanya tidak terlahir sebagai wanita. Disamping itu Samanthvistara, jika ada seorang wanita yang terlahir berwajah buruk, terhina dan banyak penyakit, kalau ia dihadapan rupang Ksitigarbha Bodhisattva dengan sungguh hati bersujud dan memuliakannya maka orang tersebut ribuan juta kalpa akan menerima bentuk tubuh yang sempurna. Kalau wanita yang buruk rupa tadi tidak berkeberatan terlahir sebagai wanita lagi maka dalam ratusan ribu juta koti akan terlahir sebagai wanita bangsawan, selir raja, istri pembesar, istri sesepuh dengan paras yang sangat cantik dan wajah yang sempurna, kalau dengan sungguh hati memuja dan bersujud kepada Ksitigarbha Bodhisattva akan mendapat perlindungan karma yang demikian adanya.

Dan juga Samanthavistara jika ada putra putri yang berbudi, dapat dihadapan gambar Ksitigarbha Bodhisattva dengan penuh kegembiraaan, menyanyi memuliakan namanya, melakukan puja bunga dan dupa, mengajak satu orang sampai dengan banyak orang melakukan perbuatan ini selama kehidupan sekarang sampai dengan kehidupan yang akan datang akan memperoleh perlindungan ratusan ribu setan dimana siang dan malam melindungi kehidupannya, sampai mencegah berita buruk sampai terdengar olehnya bahkan sampai dirinya mendapat bahaya kecelakaan.”

Demikian Samanthavistara, pada masa yang akan datang,jika terdapat manusia yang jahat, Dewa yang jahat dan setan yang jahat begitu melihat putra putri yang berbudi mengatakan berlindung, menghormat dan melakukan puja, memuliakan serta bersujud dihadapan rupang Ksitigarbha Bodhisattva , mereka menertawakan., mengejek merusak dan menghinanya dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dibuatnya tidak ada jasa pahalanya, menertawakan, menghina dibelakangnya, menarik orang bukan saja dilakukan terhadap satu orang atau banyak orang sampai sekejap saja timbul pikiran menertawakan dan merusaknya maka orang tersebut ribuan kalpa setelah Buddha Parinirvana karmanya terlahir di Neraka Avici, menerima karma yang berat sebagai akibat perbuatannya. Setelah kalpa tersebut lewat terlahir di alam setan gentayangan (Preta) setelah ribuan kalpa lewat akan terlahir dialam binatang, setelah ribu kalpa lewat akan terlahir di alam manusia sebagai orang miskin hina papa, panca indra tidak sempurna selalu terpengaruhi oleh karma buruknya untuk berbuat jahat, tidak lama kemudian terlahir lagi dialam samsara. Karena itu Samanthavistara, menertawakan, merusak orang yang sedang melakukan puja bakti akan menerima hukum karma ini disamping itu mereka juga mempunyai pandangan yang jahat dan merusaknya orang yang sedang melakukan perbuatan baik.
Demikian juga Samanthavistara,jika pada masa yang akan datang, ada putra putri yang menderita sakit, tergeletak diranjang hiduppun tidak matipun tidak, malam hari selalu bermimpi ketemu setan yang jahat sampai kearwah sanak saudaranya atau arwah yang berasal dari alam setan gentayangan (preta), berhari-hari, berbulan -bulan lamanya sehingga kondisi badannya menjadi payah dan lemah, hidup seperti ini alangkah tidak bahagianya, hal ini disebabkan karma perbuatannya yang lalu yang belum terbayar lunas, sehingga sangat sulit untuk meninggal atau disembuhkan hal hal ini tidak terlihat dengan mata biasa, didalam hal ini dihadapan rupang Buddha dan Bodhisattva membaca sutra ini dengan suara yang keras atau menggunakan barang kesayangan orang sakit tersebut seperti pakaian, perhiasan ,rumah sambil mengatakan didepan orang yang sakit dengan suara yang keras Aku bernama…………yang sedang sakit dihadapan rupang Buddha dan Bodhisattva melakukan puja dengan menyerahkan barang milikku atau melakukan puja dengan membaca sutra membuat gambar Bodhisattva, mendirikan Vihara dan Pagoda atau memasang lampu pelita atau berdana kepada Vihara dan Sangha, demikianlah diulang 3 kali sambil menyuruh orang sakit mendengarkannya .

Dalam kesadarannya sudah terpisahkan dan nafasnya sudah putus, dari hari pertama sampai dengan hari ke 7, setelah orang tersebut meninggal dunia membaca sutra ini dengan suara yang keras, meskipun mempunya karma yang buruk, bahkan melanggar Pancanantarya karma (Garuka Karma) dapat terbebas dari karma buruknya dan terlahir dimana ia bisa tahu tentang nasibnya, apalagi kalau ada putra putri yang berbudi menulis sendiri sutra ini atau menyuruh orang lain menulisnya atau melukis sendiri gambar Bodhisattva atau menyuruh orang lain melukisnya, karma yang diterimanya akan memperoleh pahala perlindungan yang besar sekali. Demikianlah Samanthavistara kalau terlihat ada yang membaca sutra ini sampai menulisnya sutra ini, bahkan menghormatinya, engkau harus menggunakan bermacam-macam cara untuk mendorong orang orang tersebut agar giat berlatih dan tidak mundur batinnya. Ini akan mendapat pahala dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang selama ribuan juta kalpa yang tak terbayangkan.

Disamping itu Samanthavistara, kalau terdapat para makhluk dimasa yang akan datang, bermimpi atau pada saat terkatuk2 melihat setan sampai dengan berbagai macam bentuk, dalam keadaan sedih dan menangis, berwajah murung dan berkeluh kesah, tampil menakutkan dan ketakutan mereka adalah ayah, ibu atau sanak saudara laki laki maupun wanita, suami atau istri pada satu kelahiran yang lalu, 20 kali kelahiran yang lalu, 100 kali kelahiran yang lalu atau seribu kali kelahiran yang lalu yang terjatuh ke alam samsara tanpa dapat meninggalkannya, mereka mengharapkan adanya kekuatan Buddha dapat menolongnya karena itu mereka menampakan dirinya agar bisa menggunakan berbagai macam cara untuk membebaskan mereka dari alam samsara.

Samanthavitara,dengan kekuatanmu ajaklah sanak saudara itu untuk membaca sutra ini dihadapan Altar Hyang Buddha dan Bodhiattva atau menyuruh orang lain membacanya sebanyak 3 kali atau 7 kali, terdengar oleh mereka yang berada di alam samsara, sehingga mereka terbebas dari penderitaan karenanya didalam mimpi atau pada saat terkatuk katuk tidak akan bertemu lagi. Ada lagi Samanthavistara, kalau para makhluk yang akan datang, yang berasal dari golongan rendahan, baik sebagai budak laki maupun wanita, sampai kepada mereka yang hidupnya tidak mempunyai kebebasan sama sekali, tersadar akan perbuatan yang telah dilakukannya lalu membangkitkan rasa menyesal dan bertobat, dengan sungguh sungguh hati bersujud dihadapan rupang Ksitigarbha Bodhisattva 10 ribu kali, dengan demikian orang terrsebut akan memperoleh karma ribuan juta tahun terlahir sebagai orang kaya dan tidak akan terlahir di alam samsara .

Ada lagi Samanthavitara, jika ada para makhluk yang akan datang yang terlahir didaerah Jambudvipa, para kesatrya, para Brahmana, para sesepuh para umat yang berbudi serta seluruh makhluk manusia yang lahir dari marga dan suku yang berbeda,laki laki atau wanita selama 7 hari membaca sutra yang agung ini dan membaca nama Ksitigarbha Bodhisattva sebanyak 10 ribu kali, maka anak yang baru lahir ini baik laki laki maupun wanita meskipin mempunyai karma akan terkena marabahaya, bisa terbebas dari bencana ini, hidup akan penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan, berumur panjang,jika ia dilahirkan mempunyai karma yang baik akan bertambah bahagia dan panjang umur .

Lain hal lagi Samanthavistara, kalau terdapat para makhluk dimasa yang akan datang, dimana para makhluk yang terlahir di Jambudvipa pada setiap bulannya pada tanggal 1, 8, 23, 24, 28, 29 dan 30 , dimana pada hari hari tersebut diatas merenungkan untuk meringankan karma buruk yang telah diperbuat dengan melakukan Smrti, tidak melakukan perbuatan buruk lagi seperti antara lain melakukan pembunuhan, pencurian, perzinahan, perbuatan dusta dan ratusan ribu perbuatan dosa lainnya, dengan menggunakan 10 hari tersebut dihadapan rupang Hyang Buddha, Bodhisattva atau orang orang suci lainnya dengan membaca 1 kali sutra ini, maka didalam radius seratus yojana dapat mengalami kehidupan tanpa adanya bencana malapetaka. Bagi mereka yang hidup dalam satu rumah,tua maupun muda pada ratusan ribu tahun yang akan datang selamanya dapat meninggalkan alam samsara,jika dapat setiap 1 hari dari 10 hari tadi membaca 1 kali sutra ini, dimasa kelahiran sekarang ini seluruh anggota keluarganya terbebas dari penyakit yang menakutkan, pakaian dan makanan akan berlimpah. Oleh sebab itu Samanthavistara, engkau tahu bahwa Ksitigarbha Bodhisattva demikian adanya mempunyai kekuatan yang tiada taranya yang dapat digunakan untuk hal hal tersebut diatas selama ratusan ribu kalpa, untuk para makhluk yang terlahir di Jambudvipa mempunyai jodoh yang kuat dengan Ksitigarbha Bodhisattva, kalau saja para makhluk mendengar nama Ksitigarbha, melihat rupangnya, dapat mendengar 3 kata, 5 kata atau 1 bait gatha dari sutra ini maka pada saat kelahiran sekarang ini akan memperoleh kehidupan yang tentram dan bahagia. Pada kelahiran yang akan datang ratusan ribu juta kelahiran akan terlahir sempurna dan terlahir dikeluarga yang kaya raya.”

Pada saat itu Samanthavitara Bodhisattva, setelah mendengar Hyang Buddha memuji dan memuliakan Kstigarbha Bodhisattva sambil berlutut tangan beranjali berkata “ Lokanantha aku telah lama tahu bahwa Ksitigarbha Boodhisattva mempunyai kekuatan yang tidak terbayangkan dan mempunyai maha prajna yang kuat. Aku akan mengajukan pertanyaan untuk kepentingan para makhluk yang akan datang, Lokanantha, apakah nama sutra ini dan bagaimana cara penyebarannya ?”

Hyang Buddha memberitahukan Samanthavistara bahwa sutra ini mempunyai 3 nama , yang pertama bernama Dasar Prasetya Ksitigarbha Bodhisattva, yang lainnya bernama Dasar Prilaku Ksitigarbha Bodhisattva dan yang lainnya lagi bernama Dasar Kekuatan Prasetya Ksitigarbha Bodhisattva, Karena Bodhisattva ini dengan maha prasetyanya selama jauh berkalpa kalpa sebelumnya bertekad untuk menolong para makhluk, untuk itulah kalian membantu menyebar luaskan sutra ini. Setelah mendengarkan ini Samanthavistara dengan sikap hormat tangan beranjali bernamaskara lalu mengundurkan diri.

VII. MANFAAT BAGI YANG HIDUP DAN MENINGGAL .

Pada suatu saat Ksitigarbha Bodhisattva bertanya kepada Hyang Buddha “ Lokanantha, aku melihat bahwa makhluk yang terlahir di daerah Jambudvipa mempunyai prilaku dan pikiran yang selalu berbuat karma yang buruk, jauh dari perbuatan yang baik, memperoleh kemunduran dalam batinnya jika mereka bertemu dengan kondisi yang buruk mereka akan cepat terpengaruh dan terseret kedalamnya, ini bagaikan orang yang membawa batu berat melewati jalan yang berlumpur semakin melangkah semakin dalam, jika ia bertemu dengan seorang Kalyana Mitra yang membantu mengurangi bebannya atau mengurangi seluruhnya dengan kekuatan dari Kalyana Mitra yang membantunya, untuk mengangkat kakinya sehingga menapak tanah yang datar dan menasehatinya untuk berhati-hati agar tidak menempuh kejalan yang berbahaya lagi.

Lokanantha, para makhluk belajar melakukan perbuatan buruk dari sedikit sampai menjadi banyak dan tidak terbatas, kalau semua makhluk belajar seperti hal tersebut maka pada saat diambang kematian para orang tua, sanak saudara, harus melakukan perbuatan baik dengan memberi jalan dengan memasang panji2 lampu pelita Dharma, membaca sutra, melakukan puja dihadapan para Buddha dan Bodhisattva menyebut nama Buddha, Bohisattva, Praceka Buddha berulang-ulang ditelinganya orang yang sedang menuju keambang pintu kematian, agar terdengar sampai kedalam Alayavijnana para makhluk yang sudah melakukan karma buruk tersebut, karena kalau tidak mereka pasti masuk ke alam samsara, hanya tergantung jodoh yang ditanam oleh para sanak saudaranya untuk mereka yang sedang diambang kematian agar makhluk yang berbuat dosa tadi bisa terbebas.

Dan kalau dapat ditambah lagi dalam 49 hari sejak kematiannya banyak melakukan perbuatan baik, ini dapat membantu makhluk tersebut secepatnya meninggalkan alam samsara dan terlahir dialam manusia atau dewa, menerima kebahagiaan dan pada masa sekarang manfaat yang diterima oleh sanak saudaranya juga tidak terbatas.

Pada hari ini aku berkata dihadapan Hyang Buddha “ Lokanantha, Para dewa, naga, 8 kelompok makhluk lainnya, manusia dan bukan manusia, para makhluk yang berada diJambudvipa, pada hari diambang kematiannya harus hati hati tidak melakukan perbuatan membunuh, tidak menciptakan jodoh yang buruk, tidak mengundang setan, arwah, jin untuk menolong orang yang meninggal, Mengapa ?Karena melakukan perbuatan pembunuhan sampai dengan mengundang setan tidak ada kekuatan untuk membantu orang yang meninggal, bahkan menanam karma yang buruk sehingga memperoleh karma yang berat, seandainya pada kelahiran yang akan datang atau pada saat kelahiran sekarang mendapat karma baik terlahir di alam Manusia atau dialam Dewa tapi karena jodoh yang ditanam oleh sanak saudaranya tidak baik pada saat ia diambang pintu kematian ini bisa menghalanginya orang yang sedang diambang kematian tersebut untuk terlahir dialam yang lebih baik. Apabila orang yang diambang kematian itu pada masa hidupnya kekurangan akar kebaikan, dimana setiap perbuatannya selalu berbuat jahat pasti terlahir dialam samsara lebih lebih lagi jika sanak saudara/keluarganya menambah dengan perbuatan perbuatan buruknya.

Hal ini sebagai diumpamakan seseorang yang baru datang dari perjalanan yang jauh selama 3 hari tidak makan bertemu dengan orang yang dekat kemudian menambah berat bebannya lagi hal ini akan menambah berat pikulannya lagi.Lokanantha, aku mengawasi para makhluk yang terlahir di Jambudvipa masih bisa belajar Buddha Dharma dan melakukan perbuatan baik, entah seujung rambut, setitik air, sebutir pasir atau setitik debu semuanya tahu untuk berbuat ini dan masih ada manfaatnya .”

Setelah menyatakan ini didalam persamuan ada seorang Sesepuh bernama Mahapratibhana yang telah mencapai tingkatan kesempurnaan tidak ada kelahiran lagi dimana pada sekarang ini ia tampil dengan badan sebagai seorang sesepuh yang bertekad untuk menolong sepuluh penjuru para makhluk. Dengan sikap tangan beranjali dan penuh hormat bertanya kepada Ksitigarbha bodhisattva ? ang Arya , bila para makhluk yang terlahir diaerah Jambudvipa setelah meninggal dunia sedikit atau banyak ada sanak saudara/keluarga yang melakukan perbuatan baik , menyediakan makanan vegetarian, apakah ada gunanya dan dapatkah membebaskan dari penderitaan ?”

Posted 25/04/2012 by chandra2002id in Naskah Dharma

2 responses to “PRANIDHANA SUTRA .

Subscribe to comments with RSS.

  1. I do accept as true with all of the ideas you’ve offered on your post. They’re very convincing and can definitely work. Still, the posts are too brief for beginners. May you please prolong them a little from next time? Thank you for the post.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s