Mahaparinibbana Sutta   Leave a comment

Mahaparinibbana Sutta

 

Mahaparinibbana Sutta Bagian Satu
Di Magadha

Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam di Rajagaha, di gunung Puncak Burung Nasar. Adapun pada ketika itu Raja Ajatasattu Vedehiputta dari Magadha ingin berperang melawan orang-orang Vajji. Ia berkata demikian: “Orang-orang Vajji ini, walaupun perkasa dan gemilang, akan kupunahkan mereka, akan kumusnahkan mereka, akan kuhancurkan mereka sama sekali.”
Dan Raja Ajatasattu Vedehiputta dari Magadha mengamanatkan menteri utamanya, brahmana Vassakara: “Pergilah, brahmana, kepada Sang Bhagava, bersujudlah di kaki beliau atas namaku, harapkan beliau kesehatan, kekuatan, kelegaan, semangat, dan kenyamanan, serta katakan: ‘Bhante, Raja Ajatasattu Vedehiputta dari Magadha ingin berperang melawan orang-orang Vajji. Ia telah berkata demikian: “Orang-orang Vajji ini, walaupun perkasa dan gemilang, akan kupunahkan mereka, akan kumusnahkan mereka, akan kuhancurkan mereka sama sekali.”‘ Dan bagaimanapun Sang Bhagava menjawabmu, ingatlah itu baik-baik dan beritahu aku; sebab para Tathagata takkan bicara dusta.”
“Baiklah, Tuan,” kata brahmana Vassakara mengiyakan Raja Ajatasattu Vedehiputta dari Magadha. Dan ia memerintahkan sejumlah besar kereta yang bagus disiapkan, mengendarai salah satunya, dengan diiringi oleh yang lain, berkendara ke Rajagaha ke arah Puncak Burung Nasar. Ia pergi dengan kereta sejauh yang bisa ditempuh, lalu turun, dan menghampiri Sang Bhagava dengan berjalan kaki. Ketika tiba, setelah bertukar salam yang santun dengan Sang Bhagava, disertai dengan banyak kata-kata sopan, ia duduk di satu sisi. Selagi duduk di sana, ia berkata kepada Sang Bhagava: “YM Gotama, Raja Ajatasattu Vedehiputta dari Magadha bersujud di kaki YM Gotama dan mengharapkan engkau kesehatan, kekuatan, kelegaan, semangat, dan kenyamanan. Ia ingin berperang melawan orang-orang Vajji, dan ia telah berkata demikian: ‘Orang-orang Vajji ini, walaupun perkasa dan gemilang, akan kupunahkan mereka, akan kumusnahkan mereka, akan kuhancurkan mereka sama sekali.'”
Kondisi-kondisi Kesejahteraan sebuah Negara
Pada ketika itu YM Ananda tengah berdiri di belakang Sang Bhagava, mengipasi beliau. Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan YM Ananda: “Bagaimana telah engkau dengar, Ananda: apakah orang-orang Vajji sering-sering berkumpul dalam jumlah banyak?”
“Telah kudengar, bhante, memang demikian adanya.”
“Selama demikian adanya, Ananda, kemajuan orang-orang Vajji bisa diharapkan, bukan kemundurannya.”
“Bagaimana telah engkau dengar, Ananda: apakah orang-orang Vajji berkumpul dan bubar dengan tertib, serta menyelesaikan urusan-urusan mereka dengan rukun?”
“Telah kudengar, bhante, memang demikian adanya.”
“Selama demikian adanya, Ananda, kemajuan orang-orang Vajji bisa diharapkan, bukan kemundurannya.”
“Bagaimana telah engkau dengar, Ananda: apakah orang-orang Vajji tidak menetapkan aturan-aturan yang baru maupun menghapus aturan-aturan yang ada, namun berterus sesuai dengan undang-undang lama mereka?”
“Telah kudengar, bhante, memang demikian adanya.”
“Selama demikian adanya, Ananda, kemajuan orang-orang Vajji bisa diharapkan, bukan kemundurannya.”
“Bagaimana telah engkau dengar, Ananda: apakah orang-orang Vajji menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakan para sesepuh mereka, serta merasa berfaedah mendengarkan mereka?”
“Telah kudengar, bhante, memang demikian adanya.”
“Selama demikian adanya, Ananda, kemajuan orang-orang Vajji bisa diharapkan, bukan kemundurannya.”
“Bagaimana telah engkau dengar, Ananda: apakah orang-orang Vajji menghindarkan diri dari menculik & menyandera wanita-wanita dan gadis-gadis dari keluarga baik-baik?
“Telah kudengar, bhante, memang demikian adanya.”
“Selama demikian adanya, Ananda, kemajuan orang-orang Vajji bisa diharapkan, bukan kemundurannya.”
“Bagaimana telah engkau dengar, Ananda: apakah orang-orang Vajji menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakan kuil-kuil mereka, baik yang di dalam maupun di luar kota, dan tidak menghentikan persembahan-persembahan sepantasnya seperti yang diberikan dan dibuat untuk mereka sebelumnya?”
“Telah kudengar, bhante, memang demikian adanya.”
“Selama demikian adanya, Ananda, kemajuan orang-orang Vajji bisa diharapkan, bukan kemundurannya.”
“Bagaimana telah engkau dengar, Ananda: apakah orang-orang Vajji melindungi dan menjaga para arahat dengan baik, sehingga mereka yang belum datang ke kerajaan mungkin akan melakukannya, dan mereka yang telah datang dapat hidup dengan damai?”
“Telah kudengar, bhante, memang demikian adanya.”
“Selama demikian adanya, Ananda, kemajuan orang-orang Vajji bisa diharapkan, bukan kemundurannya.”
Dan Sang Bhagava mengamanatkan brahmana Vassakara demikian: “Satu ketika, Brahmana, aku tengah bersemayam di Vesali, di kuil Sarandada, dan di sanalah aku mengajarkan orang-orang Vajji tujuh kondisi yang mengarah pada kesejahteraan (sebuah negara) ini. Selama, Brahmana, tujuh kondisi ini bertahan di antara orang-orang Vajji dan mereka terkenal karenanya, kemajuan mereka bisa diharapkan, bukan kemundurannya.”
Lalu brahmana Vassakara berkata pada Sang Bhagava: “Jika orang-orang Vajji tersebut, YM Gotama, dikaruniai dengan hanya salah satu dari kondisi-kondisi yang mengarah pada kesejahteraan ini, kemajuan mereka bisa diharapkan, bukan kemundurannya. Apalagi bila ketujuh-tujuhnya? Tiada bahaya, sesungguhnya, yang bisa dilakukan terhadap orang-orang Vajji dalam peperangan oleh Raja Ajatasattu Vedehiputta dari Magadha, kecuali melalui pengkhianatan atau perpecahan. Baiklah kalau demikian, YM Gotama, kami akan permisi, karena kami punya banyak tugas, banyak pekerjaan untuk dilaksanakan.”
“Lakukanlah kini, brahmana, apa yang engkau anggap tepat waktunya.” Lalu brahmana Vassakara, menteri utama Magadha, merasa puas dan menyetujui kata-kata Sang Bhagava, bangkit dari duduknya dan berangkat.
Kesejahteraan para Bhikkhu
Kemudian, segera sesudah keberangkatan Vassakara, Sang Bhagava mengamanatkan YM Ananda: “Pergilah engkau, Ananda. Himpunlah sebanyak-banyaknya para bhikkhu yang bersemayam di sekitar Rajagaha, dan kumpulkanlah semuanya di aula hadirin .”
“Baiklah, bhante.” Lalu YM Ananda menghimpun sebanyak-banyaknya para bhikkhu yang bersemayam di sekitar Rajagaha, dan mengumpulkannya di aula hadirin. Setelah itu, YM Ananda menghampiri Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, berdiri di satu sisi. Selagi berdiri di sana, YM Ananda berkata kepada Sang Bhagava: “Pasamuan para bhikkhu telah terkumpul, bhante. Lakukanlah kini, bhante, apa yang Sang Bhagava anggap tepat waktunya.”
Lalu Sang Bhagava bangkit dari duduknya, pergi ke aula hadirin, mengambil tempat duduk yang dipersiapkan, dan mengamanatkan para bhikkhu: “Tujuh kondisi yang mengarah pada kesejahteraan akan aku babarkan, para bhikkhu. Dengarkan dan perhatikan apa yang akan aku katakan.”
“Baiklah, bhante.”
“Kemajuan para bhikkhu bisa diharapkan, bukan kemundurannya, para bhikkhu, selama mereka sering-sering berkumpul dalam jumlah banyak; berkumpul dan bubar dengan tertib, serta menyelesaikan urusan-urusan Sangha dengan rukun; selama mereka tidak menetapkan aturan-aturan yang baru maupun menghapus aturan-aturan yang ada, namun berterus sesuai dengan aturan latihan yang ditetapkan; selama mereka menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakan para bhikkhu sesepuh, senior, lama berkelana, para tetua dan pemimpin Sangha, dan merasa berfaedah mendengarkan mereka; selama mereka tidak di bawah kuasa pengidaman yang mengarah pada keberadaan lanjutan; selama mereka menyenangi pedalaman hutan sebagai tempat tinggal mereka; selama mereka meneguhkan diri mereka dalam keelingan, sehingga sesama peselibat sehaluan yang belum datang akan melakukannya, dan mereka yang telah datang dapat tinggal dengan damai; selama, para bhikkhu, tujuh kondisi yang mengarah pada kesejahteraan ini bertahan di antara para bhikkhu dan mereka terkenal karenanya, kemajuan para bhikkhu bisa diharapkan, bukan kemundurannya.”
“Tujuh kondisi lainnya yang mengarah pada kesejahteraan akan aku babarkan, para bhikkhu. Dengarkan dan perhatikan apa yang akan aku katakan.”
“Baiklah, bhante.”
“Kemajuan para bhikkhu bisa diharapkan, bukan kemundurannya, para bhikkhu, selama mereka tidak menyukai, tidak menyenangi, dan tidak mencintai kegiatan-kegiatan, berbicara, tidur, dan perkawanan; selama mereka tidak memendam, tidak di bawah pengaruh nafsu-nafsu jahat; selama mereka tidak mempunyai rekan-rekan, sahabat-sahabat, atau kawan-kawan yang buruk; dan selama mereka tidak berhenti di tengah jalan karena pencapaian-pencapaian sepele. Selama, para bhikkhu, tujuh kondisi yang mengarah pada kesejahteraan ini bertahan di antara para bhikkhu dan mereka terkenal karenanya, kemajuan para bhikkhu bisa diharapkan, bukan kemundurannya.
“Tujuh kondisi lainnya yang mengarah pada kesejahteraan akan aku babarkan, para bhikkhu. Dengarkan dan perhatikan apa yang akan aku katakan.”
“Baiklah, bhante.”
“Kemajuan para bhikkhu bisa diharapkan, bukan kemundurannya, para bhikkhu, selama mereka memiliki keyakinan, selama mereka memiliki nurani dan kepedulian, terpelajar, bersemangat, eling, dan bijaksana. Selama, para bhikkhu, tujuh kondisi yang mengarah pada kesejahteraan ini bertahan di antara para bhikkhu dan mereka terkenal karenanya, kemajuan para bhikkhu bisa diharapkan, bukan kemundurannya.
Tujuh Faktor Kebangunan
“Tujuh kondisi lainnya yang mengarah pada kesejahteraan akan aku babarkan, para bhikkhu. Dengarkan dan perhatikan apa yang akan aku katakan.”
“Baiklah, bhante.”
“Kemajuan para bhikkhu bisa diharapkan, bukan kemundurannya, para bhikkhu, selama mereka mengembangkan tujuh faktor kebangunan, yaitu: keelingan [sati], analisis hal-hal [dhammavicaya], semangat [viiriya], keriaan [piiti], ketenangan [passaddhi], konsentrasi [samaadhi], dan keseimbangan [upekkhaa]. Selama, para bhikkhu, tujuh kondisi yang mengarah pada kesejahteraan ini bertahan di antara para bhikkhu dan mereka terkenal karenanya, kemajuan para bhikkhu bisa diharapkan, bukan kemundurannya.
Tujuh Pencerapan
“Tujuh kondisi lainnya yang mengarah pada kesejahteraan akan aku babarkan, para bhikkhu. Dengarkan dan perhatikan apa yang akan aku katakan.”
“Baiklah, bhante.”
“Kemajuan para bhikkhu bisa diharapkan, bukan kemundurannya, para bhikkhu, selama mereka mengembangkan pencerapan mengenai ketidakkekalan, kebukandirian, kekotoran (badaniah), kesusahan (badaniah), pelepasan, nirnafsu, dan penghentian. Selama, para bhikkhu, tujuh kondisi yang mengarah pada kesejahteraan ini bertahan di antara para bhikkhu dan mereka terkenal karenanya, kemajuan para bhikkhu bisa diharapkan, bukan kemundurannya.
Enam Kondisi untuk Diingat
“Enam kondisi yang mengarah pada kesejahteraan akan aku babarkan, para bhikkhu. Dengarkan dan perhatikan apa yang akan aku katakan.”
“Baiklah, bhante.”
“Kemajuan para bhikkhu bisa diharapkan, bukan kemundurannya, para bhikkhu, selama mereka berhubungan satu sama lain dengan cinta kasih dalam perbuatan, kata-kata, dan pikiran, baik secara terbuka maupun pribadi; selama, berkenaan dengan apa yang mereka terima sebagai persembahan-persembahan sepantasnya, bahkan isi dari mangkuk sedekah mereka, mereka tidak menggunakannya tanpa berbagi dengan sesama peselibat saleh; selama, beserta sesama peselibat, mereka melatih diri, secara terbuka maupun pribadi, dalam aturan perilaku, yang lengkap dan sempurna, tanpa noda dan murni, membebaskan, dipuji oleh para bijaksana, tak terpengaruh [oleh hal-hal duniawi], dan mendukung konsentrasi pikiran; dan selama, beserta sesama peselibat, melestarikan, secara terbuka maupun pribadi, pandangan yang mulia & membebaskan, yang membimbing orang yang bertindak berdasarkannya menuju berakhirnya penderitaan dengan benar. Selama, para bhikkhu, enam kondisi yang mengarah pada kesejahteraan ini bertahan di antara para bhikkhu dan mereka terkenal karenanya, kemajuan para bhikkhu bisa diharapkan, bukan kemundurannya.
Nasihat kepada para Bhikkhu
Sewaktu Sang Bhagava tengah bersemayam di Rajagaha, di gunung Puncak Burung Nasar, beliau sering kali memberi perbincangan Dhamma kepada para bhikkhu demikian:
“Inilah kesalehan, inilah konsentrasi, inilah kebijaksanaan. Besar buahnya, besar yang diperoleh dari konsentrasi sewaktu terkembang sepenuhnya lewat kesalehan; besar buahnya, besar yang diperoleh dari kebijaksanaan sewaktu terkembang sepenuhnya lewat konsentrasi; batin yang terkembang sepenuhnya dalam kebijaksanaan itu terbebas sama sekali dari noda-noda, yakni — noda-noda nafsu indera, keberadaan, dan ketidaktahuan.”
Sewaktu Sang Bhagava telah bersemayam di Rajagaha selama yang disukai, beliau mengamanatkan YM Ananda: “Marilah, Ananda, kita pergi ke Ambalatthika.”
“Baiklah, bhante.” Kemudian Sang Bhagava bersemayam di Ambalatthika beserta sejumlah besar pasamuan bhikkhu.
Di Ambalatthika Sang Bhagava bersemayam di rumah peristirahatan raja; dan di sanapun, Sang Bhagava sering kali memberi perbincangan Dhamma kepada para bhikkhu demikian:
“Inilah kesalehan, inilah konsentrasi, inilah kebijaksanaan. Besar buahnya, besar yang diperoleh dari konsentrasi sewaktu terkembang sepenuhnya lewat kesalehan; besar buahnya, besar yang diperoleh dari kebijaksanaan sewaktu terkembang sepenuhnya lewat konsentrasi; batin yang terkembang sepenuhnya dalam kebijaksanaan itu terbebas sama sekali dari noda-noda, yakni — noda-noda nafsu indera, keberadaan, dan ketidaktahuan.”
Sewaktu Sang Bhagava telah bersemayam di Ambalatthika selama yang disukai, beliau mengamanatkan YM Ananda: “Marilah, Ananda, kita pergi ke Nalanda.”
“Baiklah, bhante.”
Dan Sang Bhagava bersemayam di Nalanda beserta sejumlah besar pasamuan bhikkhu, di sana beliau tinggal di hutan mangga Pavarika.
Auman Singa Sariputta
Kemudian YM Sariputta menghampiri Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Selagi duduk di sana, ia berkata kepada beliau demikian:
“Keyakinan ini, bhante, kumiliki kepada Sang Bhagava, bahwa tidak pernah ada, tidak akan ada, tidak pula ada kini, pertapa atau brahmana lain yang lebih unggul dalam Swakebangunan daripada Sang Bhagava.”
“Sungguh megah dan agung perkataanmu ini, Sariputta! Ucapan yang tegas, benar-benar suara auman singa! Namun bagaimana dengan ini, Sariputta? Para Arahat, Mereka yang Swabangun dengan Benar dari masa lalu — apakah engkau punya pengetahuan langsung tentang semua Bhagava tersebut, berkenaan dengan kesalehan mereka, konsentrasi mereka, kebijaksanaan mereka, persemayaman (batiniah) mereka, dan pembebasan mereka?”
“Tidak demikian, bhante.”
“Lalu bagaimana dengan ini, Sariputta? Para Arahat, Mereka yang Swabangun dengan Benar dari masa depan — apakah engkau punya pengetahuan langsung tentang semua Bhagava tersebut, berkenaan dengan kesalehan mereka, konsentrasi mereka, kebijaksanaan mereka, persemayaman (batiniah) mereka, dan pembebasan mereka?”
“Tidak demikian, bhante.”
“Lalu bagaimana dengan ini, Sariputta? Tentang aku, yang pada masa kini adalah Arahat, Ia yang Swabangun dengan Benar — apakah engkau punya pengetahuan langsung berkenaan dengan kesalehanku, konsentrasiku, kebijaksanaanku, persemayaman (batiniah)-ku, dan pembebasanku?”
“Tidak demikian, bhante.”
“Maka jelas, Sariputta, bahwa engkau tidak punya pengetahuan langsung tentang para Arahat, Mereka yang Swabangun dengan Benar dari masa lalu, depan, dan kini. Bagaimana bisa engkau berani menyatakan perkataan yang demikian megah dan agung, ucapan yang demikian tegas, benar-benar suara auman singa, dengan berkata: ‘Keyakinan ini, bhante, kumiliki kepada Sang Bhagava, bahwa tidak pernah ada, tidak akan ada, tidak pula ada kini, pertapa atau brahmana lain yang lebih unggul dalam Swakebangunan daripada Sang Bhagava.’?”
“Tiada pengetahuan langsung, sesungguhnya, yang kumiliki, bhante, tentang para Arahat, Mereka yang Swabangun dengan Benar dari masa lalu, depan, dan kini; namun demikian, aku telah memahami keberaturan Dhamma. Andaikan, bhante, sebuah benteng perbatasan raja diperkuat pertahanannya, dengan kubu-kubu dan menara-menara, dan memiliki gerbang tunggal, serta di sana terdapat seorang penjaga gerbang yang pintar, berpengalaman, dan hati-hati, yang akan menghalangi orang asing namun memperkenankan kawan untuk masuk. Selagi ia merondai jalan yang mengarah ke sekeliling benteng, ia tidak melihat bahkan sebuah lubang atau celah pun di kubu-kubunya yang cukup besar untuk memperkenankan seekor kucing lewat. Maka ia sampai pada kesimpulan: “Apapun makhluk hidup yang lebih besar yang akan memasuki atau meninggalkan kota ini, mereka semua akan harus melakukannya dengan hanya melalui gerbang ini.’ Demikian pula, bhante, aku telah memahami keberaturan Dhamma.
“Sebab, bhante, semua Bhagava, para Arahat, Mereka yang Swabangun dengan Benar dari masa lalu telah meninggalkan lima penghalang, kekotoran pikiran yang memperlemah kebijaksanaan; telah meneguhkan batin mereka dengan baik dalam empat landasan keelingan; telah mengembangkan sebagaimana adanya tujuh faktor kebangunan, dan dulu meraih Swakebangunan Benar yang tiada taranya.
“Dan, bhante, semua Bhagava, para Arahat, Mereka yang Swabangun dengan Benar dari masa depan akan meninggalkan lima penghalang, kekotoran pikiran yang memperlemah kebijaksanaan; akan meneguhkan batin mereka dengan baik dalam empat landasan keelingan; akan mengembangkan sebagaimana adanya tujuh faktor kebangunan, dan akan meraih Swakebangunan Benar yang tiada taranya.
“Dan Sang Bhagava pun, bhante, yang pada masa kini adalah Arahat, Ia yang Swabangun dengan Benar, telah meninggalkan lima penghalang, kekotoran pikiran yang memperlemah kebijaksanaan, telah meneguhkan batinnya dalam empat landasan keelingan; telah mengembangkan sebagaimana adanya tujuh faktor kebangunan, dan meraih Swakebangunan Benar yang tiada taranya.”
Dan juga di Nalanda, di hutan mangga Pavarika, Sang Bhagava sering kali memberi perbincangan Dhamma kepada para bhikkhu demikian:
“Inilah kesalehan, inilah konsentrasi, inilah kebijaksanaan. Besar buahnya, besar yang diperoleh dari konsentrasi sewaktu terkembang sepenuhnya lewat kesalehan; besar buahnya, besar yang diperoleh dari kebijaksanaan sewaktu terkembang sepenuhnya lewat konsentrasi; batin yang terkembang sepenuhnya dalam kebijaksanaan itu terbebas sama sekali dari noda-noda, yakni — noda-noda nafsu indera, keberadaan, dan ketidaktahuan.”
Sewaktu Sang Bhagava telah bersemayam di Nalanda selama yang disukai, beliau mengamanatkan YM Ananda:
“Marilah, Ananda, kita pergi ke Pataligama.”
“Baiklah, bhante.” Kemudian Sang Bhagava bersemayam di Pataligama beserta sejumlah besar pasamuan bhikkhu.
Lalu upasaka-upasaka dari Pataligama mengetahui: “Sang Bhagava konon telah tiba di Pataligama.” Dan mereka pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Selagi duduk di sana, mereka berkata kepada beliau: “Sudilah Sang Bhagava, bhante, berbaik hati mengunjungi aula dewan kami.” Dan Sang Bhagava menyetujuinya dengan membungkam.
Merasa pasti atas persetujuan Sang Bhagava, upasaka-upasaka dari Pataligama bangkit dari duduk mereka dan, setelah menyalami beliau, mengarahkan sisi kanan mereka kepada beliau, berangkat ke aula dewan. Kemudian mereka mempersiapkan aula dewan dengan menutupi seluruh lantainya, mengatur tempat duduk dan air, dan menyalakan sebuah lampu minyak. Setelah melakukannnya, mereka kembali kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, berdiri di satu sisi. Selagi berdiri di sana, mereka berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, aula dewan telah siap, dengan lantai tertutup seluruhnya, tempat duduk dan air tersedia, dan sebuah lampu minyak telah dinyalakan. Sudilah Sang Bhagava, bhante, sekarang lakukan apa yang diinginkan.”
Kemudian di sore hari Sang Bhagava, setelah mengenakan jubah, dan mengambil mangkuk serta jubah-atas, pergi ke aula dewan beserta pasamuan para bhikkhu. Setelah mencuci kaki, Sang Bhagava memasuki aula dewan dan mengambil tempat duduk dekat pilar tengah, menghadap timur. Pasamuan para bhikkhu, setelah mencuci kaki, juga memasuki aula dewan dan mengambil tempat duduk dekat tembok barat, menghadap timur, sehingga Sang Bhagava berada di depan mereka. Dan upasaka-upasaka dari Pataligama, setelah mencuci kaki dan memasuki aula dewan, duduk dekat tembok timur, menghadap barat, sehingga Sang Bhagava berada di hadapan mereka.
Akibat-akibat Hidup Dursila dan Susila
Lalu Sang Bhagava mengamanatkan upasaka-upasaka dari Pataligama: “Orang yang dursila, para perumah tangga, dengan kurangnya kesalehan, menghadapi lima bahaya. Lima yang mana? Kehilangan besar harta lewat kelalaian; reputasi yang buruk; kelakuan yang takut-takut dan canggung dalam setiap masyarakat, baik dalam masyarakat ksatria ningrat, brahmana, perumah tangga, maupun pertapa; meninggal dalam kebingungan; dan, sewaktu hancurnya tubuh setelah kematian, lahir kembali dalam alam sengsara, dalam nasib buruk, di dunia bawah, di neraka.
“Lima rahmat, para perumah tangga, bertambah pada orang susila lewat kesalehan. Lima yang mana? Pertambahan besar harta lewat ketekunannya; reputasi yang baik; kelakuan yang penuh keyakinan, tanpa takut-takut, dalam setiap masyarakat, baik dalam masyarakat ksatria ningrat, brahmana, perumah tangga, ataupun pertapa; meninggal tanpa kebingungan; dan, sewaktu hancurnya tubuh setelah kematian, lahir kembali dalam nasib baik, di alam surgawi.”
Dan Sang Bhagava menghabiskan sebagian besar malam menginstruksikan, menasihati, membangkitkan, dan menggembirakan upasaka-upasaka dari Pataligama dengan perbincangan Dhamma. Setelah itu beliau membubarkan mereka, dengan berkata: “Malam telah larut, para perumah tangga. Kalian boleh pergi sesukanya.”
“Baiklah, bhante.” Lalu upasaka-upasaka dari Pataligama bangkit dari tempat duduk mereka dan, setelah menyalami beliau, mengarahkan sisi kanan mereka kepada beliau, mereka berangkat. Kemudian Sang Bhagava, segera sesudah keberangkatan mereka, beristirahat menyendiri.
Pada ketika itu Sunidha dan Vassakara, menteri-menteri utama Magadha, tengah membangun sebuah benteng di Pataligama sebagai pertahanan terhadap orang-orang Vajji. Dan sejumlah besar dewa, dalam hitungan ribuan, telah menduduki tempat-tempat di Pataligama. Tempat di mana para dewa berpengaruh besar duduki, pejabat-pejabat berpengaruh besar cenderung membangun gedung-gedung; dan tempat di mana para dewa berpengaruh menengah dan kecil duduki, pejabat-pejabat berpengaruh menengah dan kecil cenderung membangun gedung-gedung.
Lalu Sang Bhagava melihat dengan mata luhur, murni dan mengungguli manusia, para dewa itu, dalam hitungan ribuan, di mana mereka telah menduduki tempat-tempat di Pataligama. Dan bangun sebelum malam berakhir, mendekati fajar, Sang Bhagava mengamanatkan YM Ananda: “Siapakah itu, Ananda, yang membangun kota di Pataligama?”
“Sunidha dan Vassakara, bhante, menteri-menteri utama Magadha, tengah membangun sebuah benteng di Pataligama, sebagai pertahanan terhadap orang-orang Vajji.”
“Tampaknya, Ananda, seakan-akan Sunidha dan Vassakara telah berembuk dengan para dewa Tiga-puluh-tiga. Sebab aku lihat, Ananda, dengan mata luhur, murni dan mengungguli manusia, sejumlah besar dewa, dalam hitungan ribuan, telah menduduki tempat-tempat di Pataligama. Tempat di mana para dewa berpengaruh besar duduki, pejabat-pejabat berpengaruh besar cenderung membangun gedung-gedung; dan tempat di mana para dewa berpengaruh menengah dan kecil duduki, pejabat-pejabat berpengaruh menengah dan kecil cenderung membangun gedung-gedung. Sesungguhnya, Ananda, sejauh ras Arya menyebar dan jalur perdagangan meluas, ini akan menjadi Pataliputta kota terbesar, sebuah pusat perdagangan. Namun Pataliputta, Ananda, akan diterjang oleh tiga bahaya — api, air, dan pertikaian.”
Kemudian Sunidha dan Vassakara pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah bertukar salam yang santun dengan beliau, disertai dengan banyak kata-kata sopan, mereka berdiri di satu sisi. Selagi berdiri di sana, mereka kepada Sang Bhagava: “Sudilah YM Gotama menerima undangan kami untuk bersantap besok, beserta pasamuan para bhikkhu.” Dan Sang Bhagava menyetujuinya dengan membungkam.
Merasa pasti atas persetujuan Sang Bhagava, Sunidha dan Vassakara berangkat menuju kediaman mereka, lalu mereka mempersiapkan makanan pilihan, keras dan lunak. Dan ketika tiba waktunya, mereka mengumumkan kepada Sang Bhagava: “Tiba waktunya, YM Gotama; santapannya telah siap.”
Lalu di pagi hari Sang Bhagava, setelah mengenakan jubah, dan membawa mangkuk serta jubah, pergi beserta pasamuan para bhikkhu ke kediaman Sunidha dan Vassakara dan, ketika tiba, mengambil tempat duduk yang dipersiapkan. Lantas Sunidha dan Vassakara sendiri meladeni pasamuan para bhikkhu yang dipimpin oleh Sang Buddha, dan melayani mereka dengan makanan pilihan, keras dan lunak. Ketika Sang Bhagava telah selesai bersantap dan memindahkan tangannya dari mangkuk, Sunidha dan Vasskara mengambil tempat duduk rendah, dan duduk di satu sisi.
Kemudian Sang Bhagava berterima kasih pada mereka dengan syair ini:
“Di mana pun ia tinggal, orang yang arif
meladeni mereka yang selibat dan saleh;
Setelah menghadiahi orang-orang yang layak ini,
ia membagi kebajikannya dengan para dewa setempat.
Dan dipuja demikian, mereka balik memujinya,
penuh rahmat padanya bahkan bagai seorang ibu
terhadap anaknya sendiri, anak satu-satunya;
Dan bagi ia yang menikmati rahmat para dewa,
disayangi oleh mereka, peruntungan bagus tampak.”
Setelah itu, Sang Bhagava bangkit dari tempat duduknya dan berangkat.
Menyeberangi Gangga
Kemudian Sunidha dan Vassakara ikut di belakang Sang Bhagava, langkah demi langkah, serta berkata: “Gerbang manapun pertapa Gotama akan lewati hari ini, itu akan dinamai Gerbang Gotama; dan arungan manapun beliau akan seberangi sungai Gangga, itu akan dinamai Arungan Gotama.” Lalu Sang Bhagava melewati suatu gerbang, dan itu dinamai Gerbang Gotama.
Tetapi sewaktu Sang Bhagava tiba di sungai Gangga, sungai itu penuh sampai ke tepi, sehingga burung-burung gagak bisa minum darinya. Dan orang-orang tengah mencari perahu atau pelampung, sementara yang lainnya mengikat rakit, karena mereka ingin menyeberang. Namun Sang Bhagava — bagai seorang lelaki yang kuat dapat melenturkan tangannya yang terjulur atau menjulurkan tangannya yang terlentur — lenyap dari sisi sungai Gangga sebelah sini, dan tiba di sisi seberang beserta pasamuan bhikkhu. Dan Sang Bhagava melihat orang-orang tengah mencari perahu atau pelampung, sementara yang lainnya mengikat rakit, karena mereka ingin menyeberang. Kemudian, menyadari pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava pada ketika itu mengutarakan sabda ini:
“Mereka yang telah menyeberangi lautan luas,
meninggalkan dataran rendah jauh di belakang;
sementara yang lain masih mengikat rakit ringkih,
selamat oleh kearifan yang tiada taranya.”
Mahaparinibbana Sutta 
Bagian Dua
Perjalanan ke Vesali

Empat Kebenaran Mulia
Lalu Sang Bhagava mengamanatkan YM Ananda: “Marilah, Ananda, kita pergi ke Kotigama.”
“Baiklah, bhante.” Kemudian Sang Bhagava bersemayam di Kotigama beserta sejumlah besar pasamuan bhikkhu.

Lalu Sang Bhagava mengamanatkan para bhikkhu:

 “Para bhikkhu, karena tidak menginsyafi, tidak menembusi Empat Kebenaran Mulia maka perjalanan panjang samsara telah dilalui dan dijalani baik olehku maupun kalian. Empat yang mana? Kebenaran mulia tentang derita, kebenaran mulia tentang munculnya derita, kebenaran mulia tentang terhentinya derita, dan kebenaran mulia tentang jalan menuju terhentinya derita. Namun sekarang, para bhikkhu, karena semua ini telah diinsyafi dan ditembusi, terpotonglah pengidaman akan keberadaan, hancurlah tendensi akan keberadaan, dan tiada keberadaan lanjutan.”
Itulah kata-kata Sang Bhagava. Setelah mengatakannya, Sang Sugata, Sang Guru berkata lebih lanjut:
“Karena tak melihat Empat Kebenaran Mulia sebagaimana adanya, Panjang jalan yang melelahkan dari kelahiran ke kelahiran. Tatkala ini tertampak, lenyaplah tendensi akan keberadaan, Akar dari penderitaan terpotong, tiada kini keberadaan lanjutan.”
Dan juga di Kotigama Sang Bhagava sering kali memberi perbincangan Dhamma kepada para bhikkhu demikian: “Inilah kesalehan, inilah konsentrasi, inilah kebijaksanaan. Besar buahnya, besar yang diperoleh dari konsentrasi sewaktu terkembang sepenuhnya lewat kesalehan; besar buahnya, besar yang diperoleh dari kebijaksanaan sewaktu terkembang sepenuhnya lewat konsentrasi; batin yang terkembang sepenuhnya dalam kebijaksanaan itu terbebas sama sekali dari noda-noda, yakni — noda-noda nafsu indera, keberadaan, dan ketidaktahuan.”
Sewaktu Sang Bhagava telah tinggal di Kotigama selama yang disukai, beliau mengamanatkan YM Ananda: “Marilah, Ananda, kita pergi ke Nadika.”
“Baiklah, bhante.” Kemudian Sang Bhagava bersemayam di Nadika beserta sejumlah besar pasamuan bhikkhu, dan tinggal di Rumah Batu Bata.
Lalu YM Ananda menghampiri Sang Bhagava dan, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Dan ia berkata pada Sang Bhagava: “Di sini di Nadika, bhante, telah meninggal dunia bhikkhu Salha dan bhikkhuni Nanda. Dan juga telah meninggal dunia upasaka Sudatta dan upasika Sujata; serta upasaka Kakudha, Kalinga, Nikata, Katissabha, Tuttha, Santuttha, Bhadda, dan Subhadda. Bagaimana nasib mereka, bhante? Bagaimana keadaan masa depan mereka?”
“Bhikkhu Salha, Ananda, lewat berakhirnya noda-noda di kehidupan ini juga telah mencapai pembebasan pikiran dan pembebasan lewat kebijaksanaan yang bebas-noda, setelah mengetahui dan menginsyafi itu untuk dirinya sendiri.
“Bhikkhuni Nanda, Ananda, lewat berakhirnya lima belenggu yang lebih rendah, telah muncul secara seketika (di antara para dewa Suddhavasa) dan akan mencapai parinibbana di situ juga, tidak kembali lagi dari alam tersebut.
“Upasaka Sudatta, Ananda, lewat berakhirnya tiga belenggu (pandangan kepribadian, keraguan, dan kepercayaan akan kemanjuran upacara dan ibadat), serta melemahkan nafsu [raaga], kebencian [dosa], dan waham [moha], telah menjadi ia-yang-kembali-sekali-lagi [sakadaagaamii] dan pasti mengakhiri derita setelah kembali hanya sekali lagi ke dunia ini.
“Upasika Sujata, Ananda, lewat berakhirnya tiga belenggu telah menjadi seorang pemasuk-arus [sotaapanna], dan selamat dari kejatuhan ke dalam keadaan-keadaan sengsara, terjamin, dan pasti menuju Swabangun.
“Upasaka Kakudha, Ananda, lewat berakhirnya lima belenggu yang lebih rendah, telah muncul secara seketika (di antara para dewa Suddhavasa) dan akan mencapai parinibbana di situ juga, tidak kembali lagi dari alam tersebut.
“Demikian pula dengan Kalinga, Nikata, Katissabha, Tuttha, Santuttha, Bhadda, dan Subhadda, serta lebih dari lima puluh upasaka di Nadika. Lebih dari lima puluh upasaka yang telah meninggal dunia di Nadika, Ananda, lewat berakhirnya tiga belenggu, serta melemahkan nafsu, kebencian, dan waham, telah menjadi para ia-yang-kembali-sekali-lagi dan pasti mengakhiri derita setelah kembali hanya sekali lagi ke dunia ini.
“Lebih dari lima ratus upasaka yang telah meninggal dunia di Nadika, Ananda, lewat berakhirnya tiga belenggu telah menjadi para pemasuk-arus, dan selamat dari kejatuhan ke dalam keadaan-keadaan sengsara, terjamin, dan pasti menuju Swabangun.
Cermin Dhamma
“Namun sebenarnya, Ananda, tiada yang aneh bahwa manusia mesti meninggal. Namun jika setiap kali itu terjadi engkau datang kepada Sang Tathagata dan bertanya tentang mereka dalam cara itu, sesungguhnya itu akan menyusahkan baginya. Karena itu, Ananda, aku akan membabarkanmu ajaran mengenai Cermin Dhamma, yang dengan memilikinya sang siswa mulia, bila ia hendaki, dapat menyatakan tentang dirinya sendiri: ‘Habislah kelahiran di neraka, habislah kelahiran sebagai hewan atau setan, habislah kelahiran di alam sengsara manapun. Seorang pemasuk-arus adalah aku, tidak bernasib menuju alam sengsara, secara pasti menuju Swakebangunan.”
“Dan apakah, Ananda, ajaran yang disebut Cermin Dhamma, yang dengan memilikinya sang siswa mulia dapat menyatakan demikian tentang dirinya sendiri?”
“Dalam hal ini, Ananda, sang siswa mulia memiliki keyakinan tak tergoyahkan pada Sang Buddha demikian: ‘Sang Bhagava adalah seorang arahat, Swabangun dengan Benar, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, Yang Pergi dengan Baik [sugata], pengenal segenap alam, pembimbing para makhluk yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, Yang Bangun [buddha], Yang Terberkahi [bhagavaa].'”
“Ia memiliki keyakinan tak tergoyahkan pada Dhamma demikian: ‘Dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagava Dhamma itu, nyata, nirwaktu, mengundang penyelidikan, menuntun, untuk dipahami oleh yang arif bagi dirinya masing-masing.'”
“Ia memiliki keyakinan tak tergoyahkan pada Sangha demikian: ‘Berkelakuan baik, lurus, bijak, dan patuh pasamuan siswa-siswa Sang Bhagava: yaitu, empat pasang orang, delapan tingkat individu. Pasamuan siswa-siswa Sang Bhagava layak atas penghargaan, keramahtamahan, pemberian, penghormatan — lahan yang tiada taranya di dunia bagi perbuatan-perbuatan bajik.'”
“Dan ia memiliki kesalehan-kesalehan yang dihargai oleh para Mulia, lengkap dan sempurna, tanpa noda dan murni, yang membebaskan, dipuji oleh yang arif, tak terpengaruh, dan mendukung konsentrasi pikiran.”
“Ini, Ananda, adalah ajaran yang disebut Cermin Dhamma, yang dengan memilikinya sang siswa mulia dapat menyatakan tentang dirinya sendiri: ‘Habislah kelahiran di neraka, habislah kelahiran sebagai hewan atau setan, habislah kelahiran di alam sengsara manapun. Seorang pemasuk-arus adalah aku, tidak bernasib menuju alam sengsara, secara pasti menuju Swakebangunan.”
Dan juga di Nadika, di Rumah Batu Bata, Sang Bhagava sering kali memberi perbincangan Dhamma kepada para bhikkhu demikian: “Inilah kesalehan, inilah konsentrasi, inilah kebijaksanaan. Besar buahnya, besar yang diperoleh dari konsentrasi sewaktu terkembang sepenuhnya lewat kesalehan; besar buahnya, besar yang diperoleh dari kebijaksanaan sewaktu terkembang sepenuhnya lewat konsentrasi; batin yang terkembang sepenuhnya dalam kebijaksanaan itu terbebas sama sekali dari noda-noda, yakni — noda-noda nafsu indera, keberadaan, dan ketidaktahuan.”
Sewaktu Sang Bhagava telah tinggal di Nadika selama yang disukai, beliau berkata pada YM Ananda: “Marilah, Ananda, kita pergi ke Vesali.”
“Baiklah, bhante.” Kemudian Sang Bhagava bersemayam di Vesali beserta sejumlah besar pasamuan bhikkhu, dan tinggal di Hutan Ambapali.
Lalu Sang Bhagava mengamanatkan para bhikkhu: “Eling hendaknya kalian bersemayam, para bhikkhu, waspada; demikianlah kunasihati kalian.
“Dan bagaimana, para bhikkhu, seorang bhikkhu itu eling? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu bersemayam merenungkan jasmani dalam jasmani — tekun, eling, & waspada — setelah menyingkirkan ketamakan dan kemurungan di dunia; ia bersemayam merenungkan perasaan-perasaan dalam perasaan-perasaan, pikiran dalam pikiran, dan hal-hal dalam Hal-hal (Dhamma) — tekun, eling, & waspada — setelah menyingkirkan ketamakan dan kemurungan di dunia. Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu itu eling.
“Dan bagaimana, para bhikkhu, seorang bhikkhu itu waspada? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu waspada ketika ia datang dan pergi, melihat ke depan dan ke samping, melentur dan menjulur, memakai jubah dan membawa mangkuk, makan dan minum, mengunyah dan mengecap, membuang air besar dan kecil, berjalan, berdiri, duduk, berbaring, pergi tidur atau tetap terjaga, berbicara dan membungkam. Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu itu waspada.
“Eling hendaknya kalian bersemayam, para bhikkhu, waspada; demikianlah kunasihati kalian.”
Ambapali dan Orang-orang Licchavi
Kemudian Ambapali si geisha mengetahui: “Sang Bhagava konon telah tiba di Vesali dan sekarang tengah tinggal di hutan manggaku.” Dan ia memerintahkan sejumlah besar kereta yang bagus disiapkan, menaiki salah satunya, dan diiringi oleh yang lain, berkendara keluar dari Vesali menuju tamannya. Ia pergi dengan kereta sejauh yang bisa ditempuh, lalu turun; dan menghampiri Sang Bhagava dengan berjalan kaki, ia menyalami beliau serta duduk di satu sisi. Lalu Sang Bhagava menginstruksikan, membangkitkan, menasihati, dan menggembirakan Ambapali si geisha dengan perbincangan Dhamma.
Lalu Ambapali si geisha berkata kepada Sang Bhagava: “Sudilah Sang Bhagava, bhante, menerima undanganku untuk bersantap besok, beserta pasamuan para bhikkhu.” Dan Sang Bhagava menyetujuinya dengan membungkam.
Setelah merasa pasti atas persetujuan Sang Bhagava, Ambapali si geisha bangkit dari duduknya, menyalami Sang Bhagava dan, mengarahkan sisi kanannya kepada beliau, terus berangkat.
Kemudian orang-orang Licchavi dari Vesali mengetahui: “Sang Bhagava konon telah tiba di Vesali dan sekarang tengah tinggal di hutannya Ambapali.” Dan mereka memerintahkan sejumlah besar kereta yang bagus disiapkan, masing-masing menaiki salah satunya, dengan diiringi oleh yang lain, berkendara keluar dari Vesali. Nah, orang-orang Licchavi ini, beberapa memakai warna biru, dengan pakaian dan perhiasan semuanya biru, sementara yang lainnya memakai warna kuning, merah, dan putih.
Dan terjadilah peristiwa bahwa Ambapali si geisha menabrak orang-orang Licchavi muda, poros bertemu poros, roda bertemu roda, dan kuk bertemu kuk. Lantas orang-orang Licchavi berseru: “Mengapa kautabrak kami seperti ini, Ambapali?”
“Betul, memang demikian, para pangeranku! Sebab Sang Bhagava diundang olehku untuk bersantap besok, beserta pasamuan para bhikkhu!”
“Serahkan undangan makan itu, Ambapali, demi seratus ribu!”
Namun ia menjawab: “Bahkan seandainya kalian memberiku Vesali, tuan-tuan, beserta tanah-tanah jajahannya, aku takkan menyerahkan undangan makan yang penting begini.”
Kemudian orang-orang Licchavi menjentikkan jari-jemari mereka dengan kesal: “Lihatlah, kawan-kawan! Kita dikalahkan oleh wanita tukang mangga ini! Kita ditaklukkan oleh wanita tukang mangga ini!” Namun mereka melanjutkan perjalanan mereka ke hutannya Ambapali.
Dan Sang Bhagava memandang orang-orang Licchavi dari kejauhan ketika mereka datang. Kemudian beliau berkata kepada para bhikkhu: “Di antara kalian, para bhikkhu, yang belum pernah melihat para dewa Tiga-puluh-tiga, boleh memandang kumpulan orang-orang Licchavi, dan boleh menatap mereka, sebab mereka bisa diperbandingkan dengan kumpulan dewa Tiga-puluh-tiga.”
Kemudian orang-orang Licchavi mengendarai kereta mereka sejauh yang bisa ditempuh, lalu turun; dan menghampiri Sang Bhagava dengan berjalan kaki, mereka menyalami beliau serta duduk di satu sisi. Sang Bhagava menginstruksikan, membangkitkan, menasihati, dan menggembirakan orang-orang Licchavi dengan perbincangan Dhamma.
Lalu orang-orang Licchavi berkata pada Sang Bhagava: “Sudilah Sang Bhagava, bhante, menerima undangan kami untuk makan besok, beserta pasamuan para bhikkhu.”
“Undangan untuk makan besok, orang-orang Licchavi, telah diterima olehku dari Ambapali si geisha.”
Kemudian orang-orang Licchavi menjentikkan jari-jemari mereka dengan kesal: “Lihatlah, kawan-kawan! Kita dikalahkan oleh wanita tukang mangga itu! Kita ditaklukkan oleh wanita tukang mangga itu!” Lalu orang-orang Licchavi, menyetujui kata-kata Sang Bhagava dan bergembira karenanya, bangkit dari duduk mereka dan, setelah menyalami beliau, mengarahkan sisi kanan mereka kepada beliau, terus berangkat.
Kemudian, sesudah malam telah berlalu, Ambapali si geisha menyediakan makanan pilihan, keras dan lunak di tamannya, dan mengumumkannya pada Sang Bhagava: “Sudah waktunya, bhante; makanannya telah siap.” Lantas Sang Bhagava bersiap di pagi hari, dan membawa mangkuk serta jubah, beliau pergi beserta pasamuan para bhikkhu ke kediaman Ambapali, dan di sana beliau mengambil tempat duduk yang disiapkan untuk beliau. Dan Ambapali sendiri meladeni pasamuan para bhikkhu yang dikepalai oleh Sang Buddha, dan melayani mereka dengan makanan pilihan, keras dan lunak.
Dan sewaktu Sang Bhagava telah menyelesaikan makanan beliau serta memindahkan tangan beliau dari mangkuk, Ambapali mengambil tempat duduk rendah, dan menempatkan dirinya pada satu sisi, berkata pada Sang Bhagava: “Taman ini, bhante, kuberikan kepada pasamuan para bhikkhu yang dikepalai oleh Sang Buddha.” Dan Sang Bhagava menerima taman tersebut. Beliau kemudian menginstruksikan, membangkitkan, menasihati, dan menggembirakan Ambapali dengan perbincangan Dhamma. Setelah itu beliau bangkit dari duduknya dan berangkat.
Dan juga di Vesali, di hutannya Ambapali, Sang Bhagava sering kali memberi perbincangan Dhamma kepada para bhikkhu demikian: “Inilah kesalehan, inilah konsentrasi, inilah kebijaksanaan. Besar buahnya, besar yang diperoleh dari konsentrasi sewaktu terkembang sepenuhnya lewat kesalehan; besar buahnya, besar yang diperoleh dari kebijaksanaan sewaktu terkembang sepenuhnya lewat konsentrasi; batin yang terkembang sepenuhnya dalam kebijaksanaan itu terbebas sama sekali dari noda-noda, yakni — noda-noda nafsu indera, keberadaan, dan ketidaktahuan.”
Sewaktu Sang Bhagava telah tinggal di hutannya Ambapali selama yang disukai, beliau berkata kepada YM Ananda: “Marilah, Ananda, kita pergi ke desa Beluva.”
“Baiklah, bhante.” Kemudian Sang Bhagava bersemayam di desa Beluva beserta sejumlah besar pasamuan para bhikkhu.
Sakit Lirmatinya Sang Bhagava
Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Pergilah, para bhikkhu, dan carilah tempat bernaung di manapun di sekitar Vesali di mana kalian diterima, di antara para kenalan dan sahabat, dan di sana habiskan masa musim hujan. Sedangkan aku sendiri akan menghabiskan masa musim hujan di tempat ini juga, di desa Beluva.”
“Baiklah, bhante,” para bhikkhu menanggapi.
Namun sewaktu Sang Bhagava telah memasuki masa musim hujan, muncullah pada beliau penyakit yang parah, serta rasa nyeri yang tajam dan lirmati datang pada beliau. Dan Sang Bhagava menahannya dengan eling, waspada, dan tak bergeming.
Kemudian timbul ini pada Sang Bhagava: “Tidaklah pantas bila aku berparinibbana tanpa mengamanatkan mereka yang meladeniku, tanpa pamit dulu kepada pasamuan para bhikkhu. Jadi biarlah aku menekan penyakit ini dengan kekuatan kehendak, bertekad menjaga proses kehidupan, dan terus hidup.”
Lalu Sang Bhagava menekan penyakit tersebut dengan kekuatan kehendak, bertekad untuk menjaga proses kehidupan, dan terus hidup. Maka meredalah penyakit Sang Bhagava.
Kemudian Sang Bhagava sembuh dari penyakit tersebut; dan segera sesudah kesembuhannya, beliau keluar dari tempat kediamannya dan duduk di bayang-bayang bangunan, di atas tempat duduk yang dipersiapkan. Kemudian YM Ananda menghampiri Sang Bhagava dan, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Selagi duduk di sana, ia berkata kepada Sang Bhagava: “Beruntunglah aku, bhante, melihat Sang Bhagava nyaman kembali! Beruntunglah aku, bhante, melihat Sang Bhagava sembuh! Sebab sungguh, bhante, sewaktu aku melihat Sang Bhagava sakit seolah-olah tubuhku lemah seperti mabuk, segalanya tampak suram bagiku, dan daya-dayaku seperti tumpul. Namun, bhante, aku masih merasa sedikit terhibur karena berpikir bahwa Sang Bhagava tidak akan berparinibbana sampai beliau telah memberikan petunjuk-petunjuk terakhir mengenai pasamuan para bhikkhu.”
Demikianlah YM Ananda berkata, namun Sang Bhagava menanggapinya: “Apa lagi yang pasamuan para bhikkhu harapkan dariku, Ananda? Aku telah membabarkan Dhamma tanpa membuat penyembunyian & pengecualian; tiada apapun, Ananda, berkenaan dengan ajaran Sang Tathagata yang [ditahan sampai akhir dengan] genggaman seorang guru. Dan siapapun yang berpikir bahwa dialah yang semestinya memimpin pasamuan para bhikkhu, atau bahwa pasamuan para bhikkhu bergantung padanya, orang seperti dialah yang harus memberikan petunjuk-petunjuk terakhir mengenai mereka. Namun, Ananda, Sang Tathagata tidak punya gagasan seperti itu bahwa dialah yang semestinya memimpin pasamuan para bhikkhu, atau bahwa pasamuan para bhikkhu bergantung padanya. Jadi petunjuk-petunjuk apa yang dia semestinya berikan mengenai pasamuan para bhikkhu?
“Sekarang aku renta, Ananda, tua, uzur, sudah lanjut usia. Ini adalah tahun kedelapanpuluhku, dan masa hidupku telah habis. Sama seperti kereta tua, Ananda, yang dijaga keutuhannya dengan banyak kesulitan, maka jasmani Sang Tathagata dijaga agar berlanjut hanya dengan penopang. Hanya, Ananda, sewaktu Sang Tathagata mengabaikan objek-objek luar dengan menghentikan perasaan-perasaan tertentu, masuk dan bersemayam dalam konsentrasi benak tanpa-tanda, maka jasmaninya terasa lebih nyaman.
“Karenanya, Ananda, bersemayamlah sebagai pulau bagi dirimu sendiri, pelindungmu sendiri, tiada pelindung lain; Dhamma sebagai pulaumu, Dhamma sebagai pelindungmu, tiada pelindung lain.
“Dan bagaimanakah, Ananda, seorang bhikkhu itu bersemayam sebagai pulau bagi dirinya sendiri, pelindungnya sendiri, tiada pelindung lain; Dhamma sebagai pulaunya, Dhamma sebagai pelindungnya, tiada pelindung lain?
“Di sini, Ananda, seorang bhikkhu bersemayam merenungkan jasmani dalam jasmani — tekun, eling, & waspada — setelah menyingkirkan ketamakan dan kemurungan di dunia, merenungkan perasaan-perasaan dalam perasaan-perasaan … pikiran dalam pikiran … hal-hal dalam Hal-hal (Dhamma) — tekun, eling, & waspada — setelah menyingkirkan ketamakan dan kemurungan di dunia. Demikianlah, Ananda, seorang bhikkhu itu bersemayam sebagai pulau bagi dirinya sendiri, pelindungnya sendiri, tiada pelindung lain; Dhamma sebagai pulaunya, Dhamma sebagai pelindungnya, tiada pelindung lain.
“Bhikkhu-bhikkhuku, Ananda, yang sekarang atau setelah aku pergi, bersemayam sebagai pulau bagi diri mereka sendiri, pelindung mereka sendiri, tiada pelindung lain; Dhamma sebagai pulau mereka, Dhamma sebagai pelindung mereka, tiada pelindung lain: merekalah yang akan menjadi yang tertinggi [tamatagge], bila mereka punya hasrat untuk berlatih.”
Mahaparinibbana Sutta Bagian Tiga
Menyirnakan Pengondisi Kehidupan

Ajakan Sang Bhagava

Kemudian di sore hari Sang Bhagava, setelah mengenakan jubah dan membawa mangkuk serta jubah luar, memasuki Vesali untuk mencari makanan sedekah. Setelah pergi mencari makanan sedekah di Vesali, sehabis bersantap, ketika kembali, beliau mengamanatkan YM Ananda: “Ambillah tikar, Ananda, dan marilah kita habiskan hari ini di kuil Capala.”

“Baiklah, bhante.” Dan YM Ananda mengambil sebuah tikar dan ikut di belakang Sang Bhagava, langkah demi langkah.

Lalu Sang Bhagava pergi ke kuil Capala dan, ketika tiba, duduk di tempat duduk yang dipersiapkan. YM Ananda, setelah menyalami Sang Bhagava, duduk di satu sisi. Selagi ia duduk di sana, Sang Bhagava berkata kepadanya: “Menyenangkan, Ananda, Vesali itu; menyenangkan kuil-kuil Udena, Gotamaka, Sattambaka, Bahuputta, Sarandada, dan Capala itu.

“Siapapun, Ananda, yang telah mengembangkan, melatih, memanfaatkan, memperkuat, menjaga, mencermati, dan menyempurnakan empat dasar kesaktian mampu, jika ia hendaki, bertahan sepanjang sebuah masa-dunia [Komen.: rentang hidup] ataupun sisa darinya. Sang Tathagata, Ananda, telah melakukannya. Maka Sang Tathagata mampu, jika ia hendaki, bertahan sepanjang sebuah masa-dunia ataupun sisa darinya.”

Namun YM Ananda tidak mampu menangkap anjuran yang gamblang itu, ajakan yang penting itu, yang diberikan oleh Sang Bhagava. Seolah-olah pikirannya dipengaruhi oleh Mara, ia tidak memohon Sang Bhagava: “Sudilah Sang Bhagava bertahan, bhante! Sudilah Sang Sugata bertahan, bhante, sepanjang masa-dunia bagi kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak; karena welas asih terhadap dunia, demi kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa serta manusia!”

Dan sewaktu untuk kedua dan ketiga kalinya Sang Bhagava mengulangi kata-katanya, YM Ananda tetap membungkam.

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada YM Ananda: “Pergilah engkau, Ananda. Lakukanlah kini apa yang kauanggap tepat waktunya.”

“Baiklah, bhante.” Lalu YM Ananda bangkit dari duduknya dan, setelah menyalami Sang Bhagava, serta mengarahkan sisi kanannya pada beliau, mengambil tempat duduk di kaki sebuah pohon tak jauh di sana.

Permohonan Mara

Dan sewaktu YM Ananda telah pergi menjauh, Mara si Jahat menghampiri Sang Bhagava dan, ketika tiba, berdiri di satu sisi. Selagi berdiri di sana, ia berkata kepada Sang Bhagava: “Kini, bhante, sudilah Sang Bhagava parinibbana; sudilah Sang Sugata parinibbana! Kini waktunya, bhante, bagi parinibbananya Sang Bhagava.

“Sebab dulu, bhante, Sang Bhagava mengatakan ini kepadaku: ‘Aku takkan parinibbana, si Jahat, sampai para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka dan upasikaku, telah menjadi siswaku yang pandai, berdisiplin, tangkas dan terpelajar, pelestari Dhamma, melakoni Dhamma sesuai Dhamma, melakoninya dengan patuh, hidup sesuai Dhamma dan, setelah mempelajari wejangan Sang Guru, mampu menguraikannya, mengajarkannya, menyatakannya, meneguhkannya, menyingkapnya, menjelaskannya secara terperinci, dan menjernihkannya; sampai, ketika pendapat-pendapat yang berlawanan muncul, mereka mampu menyangkalnya secara menyeluruh dan baik, serta mengajarkan Dhamma yang meyakinkan dan membebaskan ini.’

“Dan sekarang, bhante, para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka dan upasika, telah menjadi siswa Sang Bhagava seperti itu. Maka kini, bhante, sudilah Sang Bhagava parinibbana; sudilah Sang Sugata parinibbana! Kini waktunya, bhante, bagi parinibbananya Sang Bhagava.

“Sebab dulu, bhante, Sang Bhagava mengatakan ini kepadaku: ‘Aku takkan parinibbana, si Jahat, sampai kehidupan suci yang diajarkan olehku ini telah berhasil, berkembang pesat, termasyhur, terkenal, dan tersebar luas; sampai itu telah dinyatakan dengan baik di antara para dewa dan manusia.’ Dan ini pun sekarang telah menjadi seperti itu. Maka kini, bhante, sudilah Sang Bhagava parinibbana; sudilah Sang Sugata parinibbana! Kini waktunya, bhante, bagi parinibbananya Sang Bhagava.”

Sang Bhagava Menyirnakan Pengondisi Kehidupannya

Sewaktu ini dikatakan, Sang Bhagava berkata kepada Mara si Jahat: “Tak usah bersusah payah, si Jahat. Tak lama lagi Parinibbana Sang Tathagata akan terjadi. Tiga bulan dari sekarang Sang Tathagata akan parinibbana.”

Lantas di kuil Capala Sang Bhagava, eling & waspada, menyirnakan pengondisi kehidupannya. Dan sewaktu Sang Bhagava telah menyirnakan pengondisi kehidupannya, terjadilah gempa bumi yang dahsyat, mengerikan & mengejutkan, dan petir menggelegar. Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini:

“Sebab keberadaan, terbatas atau tak-terbatas,
Yang Bijak tanggalkan pengondisi keberadaannya.
Dengan batin yang terkonsentrasi ia terobos,
bagai sehelai baju zirah, sebab keberadaannya.

Kemudian YM Ananda membatin: “Betapa menakjubkan, betapa mengagumkan! Sungguh gempa bumi yang dahsyat, sungguh gempa bumi yang keras, mengerikan & mengejutkan, dan petir menggelegar! Apakah alasannya, apakah sebabnya, mengapa gempa bumi yang demikian dahsyat bisa terjadi?”

v Delapan Sebab Gempa Bumi

Dan YM Ananda menghampiri Sang Bhagava dan, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Selagi duduk di sana, ia berkata kepada Sang Bhagava: “Betapa menakjubkan, bhante! Betapa mengagumkan, bhante! Sungguh gempa bumi yang dahsyat, sungguh gempa bumi yang keras, mengerikan & mengejutkan, dan petir menggelegar! Apakah alasannya, apakah sebabnya, mengapa gempa bumi yang demikian dahsyat bisa terjadi?”

Lalu Sang Bhagava berkata: “Terdapat delapan alasan, Ananda, delapan sebab terjadinya gempa bumi yang dahsyat. Delapan yang mana?

“Bumi besar ini, Ananda, tersusun di atas cairan, cairan di atas udara, dan udara di atas ruang. Dan sewaktu, Ananda, gangguan udara yang dahsyat terjadi, cairan menjadi bergoncang. Dengan bergoncangnya cairan, getaran bumi terasa. Inilah alasan pertama, sebab pertama terjadinya gempa bumi yang dahsyat.

“Juga, Ananda, sewaktu seorang pertapa atau pendeta yang berkekuatan besar, ia yang telah mencapai penguasaan pikiran, ataupun dewa yang hebat dan perkasa, mengembangkan konsentrasi yang kuat pada segi terbatas dari unsur tanah, dan sampai derajat tak terhingga pada unsur cair, ia pun menyebabkan bumi bergetar, bergoyang, dan bergoncang. Inilah alasan kedua, sebab kedua terjadinya gempa bumi yang dahsyat.

“Juga, Ananda, sewaktu sang Bodhisatta berangkat dari alam Tusita dan turun ke dalam rahim ibunya, eling & waspada; dan sewaktu sang Bodhisatta keluar dari rahim ibunya, eling & waspada; dan sewaktu Sang Tathagata meraih Swakebangunan yang tiada taranya; sewaktu Sang Tathagata memutar Roda Dhamma yang tiada taranya; sewaktu Sang Tathagata menyirnakan pengondisi kehidupannya; dan sewaktu Sang Tathagata berparinibbana dalam unsur Nibbana tanpa sisa — maka, Ananda, bumi besar ini bergetar, bergoyang, dan bergoncang.

“Inilah, Ananda, delapan alasan, delapan sebab terjadinya gempa bumi yang dahsyat.

Delapan Kelompok

“Terdapat delapan jenis kelompok ini, Ananda. Delapan yang mana? Kelompok ksatria ningrat, brahmana, perumahtangga, pertapa, Empat Raja Agung, para dewa Tiga-puluh-tiga, Mara, dan Brahma.

“Dan aku ingat, Ananda, bagaimana aku telah mengunjungi tiap-tiap dari delapan jenis kelompok ini, berjumlah ratusan. Sebelum duduk dan memulai percakapan atau diskusi, aku mengubah wujudku menyerupai mereka, suaraku menyerupai mereka. Demikianlah aku menginstruksikan, menasihati, membangkitkan, dan menggembirakan mereka dengan perbincangan Dhamma. Dan sewaktu aku berbicara demikian kepada mereka, mereka tidak mengenaliku, dan mereka akan saling bertanya: ‘Siapakah yang berbicara kepada kita itu? Apakah ia manusia atau dewa?’

“Lalu setelah aku menginstruksikan, menasihati, membangkitkan, dan menggembirakan mereka dengan perbincangan Dhamma, aku akan lenyap seketika. Dan sewaktu aku telah lenyap pun, mereka tidak mengenaliku, dan mereka akan saling bertanya: ‘Siapakah yang telah lenyap itu? Apakah ia manusia atau dewa?’

“Inilah, Ananda, delapan jenis kelompok.

Delapan Tataran Penguasaan

“Terdapat delapan tataran penguasaan ini, Ananda. Delapan yang mana?

“Sewaktu orang, yang mencerap bentuk-bentuk dirinya sendiri, melihat bentuk-bentuk luar yang kecil, indah ataupun buruk, dan mencerap bahwa ‘aku menguasai mereka, mengetahui dan melihat mereka’ — inilah tataran penguasaan pertama.

“Sewaktu orang, yang mencerap bentuk-bentuk dirinya sendiri, melihat bentuk-bentuk luar yang besar, indah ataupun buruk, dan mencerap bahwa ‘aku menguasai mereka, mengetahui dan melihat mereka’ — inilah tataran penguasaan kedua.

“Sewaktu orang, yang tidak mencerap bentuk-bentuk dirinya sendiri, melihat bentuk-bentuk luar yang kecil, indah ataupun buruk, dan mencerap bahwa ‘aku menguasai mereka, mengetahui dan melihat mereka’ — inilah tataran penguasaan ketiga.

“Sewaktu orang, yang tidak mencerap bentuk-bentuk dirinya sendiri, melihat bentuk-bentuk luar yang besar, indah ataupun buruk, dan mencerap bahwa ‘aku menguasai mereka, mengetahui dan melihat mereka’ — inilah tataran penguasaan keempat.

“Sewaktu orang, yang tidak mencerap bentuk-bentuk dirinya sendiri, melihat bentuk-bentuk luar yang biru, berwarna biru, berkemilau biru bagai kuntum rami, atau bagai kain Benares halus yang berkilauan pada kedua sisinya yang biru, berwarna biru, berkemilau biru, dan mencerap bahwa ‘aku menguasai mereka, mengetahui dan melihat mereka’ — inilah tataran penguasaan kelima.

“Sewaktu orang, yang tidak mencerap bentuk-bentuk dirinya sendiri, melihat bentuk-bentuk luar yang kuning, berwarna kuning, berkemilau kuning bagai kuntum Kanikara, atau bagai kain Benares halus yang berkilauan pada kedua sisinya yang kuning, berwarna kuning, berkemilau kuning, dan mencerap bahwa ‘aku menguasai mereka, mengetahui dan melihat mereka’ — inilah tataran penguasaan keenam.

“Sewaktu orang, yang tidak mencerap bentuk-bentuk dirinya sendiri, melihat bentuk-bentuk luar yang merah, berwarna merah, berkemilau merah bagai kuntum Bandhujivaka, atau bagai kain Benares halus yang berkilauan pada kedua sisinya yang merah, berwarna merah, berkemilau merah, dan mencerap bahwa ‘aku menguasai mereka, mengetahui dan melihat mereka’ — inilah tataran penguasaan ketujuh.

“Sewaktu orang, yang tidak mencerap bentuk-bentuk dirinya sendiri, melihat bentuk-bentuk luar yang putih, berwarna putih, berkemilau putih bagai bintang pagi, atau bagai kain Benares halus yang berkilauan pada kedua sisinya yang putih, berwarna putih, berkemilau putih, dan mencerap bahwa ‘aku menguasai mereka, mengetahui dan melihat mereka’ — inilah tataran penguasaan kedelapan.

“Inilah, Ananda, delapan tataran penguasaan.

Delapan Pembebasan

“Terdapat delapan pembebasan ini, Ananda. Delapan yang mana?

“Memiliki [jhana ber-] bentuk, ia melihat bentuk-bentuk — inilah pembebasan pertama.

“Tidak mencerap bentuk-bentuk dirinya sendiri, ia melihat bentuk-bentuk luar — inilah pembebasan kedua.

“Mengalami keindahan [komen.: jhana dari kasina warna], ia berniat padanya — inilah pembebasan ketiga.

“Dengan sepenuhnya melampaui pencerapan terhadap bentuk, dengan lenyapnya pencerapan terhadap kelembaman, dan dengan tidak memperhatikan pencerapan terhadap keragaman, ‘nirbatas ruangnya,’ ia masuk dan bersemayam dalam tataran ruang nirbatas — inilah pembebasan keempat.

“Dengan sepenuhnya melampaui tataran ruang nirbatas, ‘nirbatas kesadarannya,’ ia masuk dan bersemayam dalam tataran kesadaran nirbatas — inilah pembebasan kelima.

“Dengan sepenuhnya melampaui tataran kesadaran nirbatas, ‘tiada apapun,’ ia masuk dan bersemayam dalam tataran ketiadaan — inilah pembebasan keenam.

“Dengan sepenuhnya melampaui tataran ketiadaan, ia masuk dan bersemayam dalam tataran tiada pencerapan tiada pula non-pencerapan — inilah pembebasan ketujuh.

“Dengan sepenuhnya melampaui tataran tiada pencerapan tiada pula non-pencerapan, ia masuk dan bersemayam dalam penghentian pencerapan dan perasaan — inilah pembebasan kedelapan.

“Inilah, Ananda, delapan pembebasan.

Bujukan Mara Sebelumnya

“Satu ketika, Ananda, aku tengah bersemayam di Uruvela, di tepi Sungai Neranjara, di kaki pohon banian gembala kambing, pertama sesudah Swakebangunanku. Lalu Mara si Jahat menghampiriku dan, ketika tiba, berdiri di satu sisi. Selagi berdiri di sana, ia berkata kepadaku: ‘Kini, bhante, sudilah Sang Bhagava parinibbana; sudilah Sang Sugata parinibbana! Kini waktunya, bhante, bagi parinibbananya Sang Bhagava.

“Demikian, Ananda, aku menjawab Mara si Jahat: ‘Aku takkan parinibbana, si Jahat, sampai para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka dan upasikaku, telah menjadi siswaku yang pandai, berdisiplin, tangkas dan terpelajar, pelestari Dhamma, melakoni Dhamma sesuai Dhamma, melakoninya dengan patuh, hidup sesuai Dhamma dan, setelah mempelajari wejangan Sang Guru, mampu menguraikannya, mengajarkannya, menyatakannya, meneguhkannya, menyingkapnya, menjelaskannya secara terperinci, dan menjernihkannya; sampai, ketika pendapat-pendapat yang berlawanan muncul, mereka mampu menyangkalnya secara menyeluruh dan baik, serta mengajarkan Dhamma yang meyakinkan dan membebaskan ini.’

“‘Aku takkan parinibbana, si Jahat, sampai kehidupan suci yang diajarkan olehku ini telah berhasil, berkembang pesat, termasyhur, terkenal, dan tersebar luas; sampai itu telah dinyatakan dengan baik di antara para dewa dan manusia.’

“Dan lagi hari ini, Ananda, di kuil Capala, Mara si Jahat menghampiriku dan, ketika tiba, berdiri di satu sisi. Selagi berdiri di sana, ia berkata kepadaku: ‘Kini, bhante, sudilah Sang Bhagava parinibbana; sudilah Sang Sugata parinibbana! Kini waktunya, bhante, bagi parinibbananya Sang Bhagava.

“Sebab dulu, bhante, Sang Bhagava mengatakan ini kepadaku: ‘Aku takkan parinibbana, si Jahat, sampai para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka dan upasikaku, telah menjadi siswaku yang pandai, berdisiplin, tangkas dan terpelajar, pelestari Dhamma, melakoni Dhamma sesuai Dhamma, melakoninya dengan patuh, hidup sesuai Dhamma dan, setelah mempelajari wejangan Sang Guru, mampu menguraikannya, mengajarkannya, menyatakannya, meneguhkannya, menyingkapnya, menjelaskannya secara terperinci, dan menjernihkannya; sampai, ketika pendapat-pendapat yang berlawanan muncul, mereka mampu menyangkalnya secara menyeluruh dan baik, serta mengajarkan Dhamma yang meyakinkan dan membebaskan ini.’

“Dan sekarang, bhante, para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka dan upasika, telah menjadi siswa Sang Bhagava seperti itu. Maka kini, bhante, sudilah Sang Bhagava parinibbana; sudilah Sang Sugata parinibbana! Kini waktunya, bhante, bagi parinibbananya Sang Bhagava.

“Sebab dulu, bhante, Sang Bhagava mengatakan ini kepadaku: ‘Aku takkan parinibbana, si Jahat, sampai kehidupan suci yang diajarkan olehku ini telah berhasil, berkembang pesat, termasyhur, terkenal, dan tersebar luas; sampai itu telah dinyatakan dengan baik di antara para dewa dan manusia.’ Dan ini pun sekarang telah menjadi seperti itu. Maka kini, bhante, sudilah Sang Bhagava parinibbana; sudilah Sang Sugata parinibbana! Kini waktunya, bhante, bagi parinibbananya Sang Bhagava.”

“Atas kata-kata tersebut, Ananda, aku berkata kepada Mara si Jahat: ‘Tak usah bersusah payah, si Jahat. Tak lama lagi parinibbana Sang Tathagata akan terjadi. Tiga bulan dari sekarang Sang Tathagata akan parinibbana.’

“Dengan demikian, Ananda, hari ini di kuil Capala Sang Tathagata, eling & waspada, telah menyirnakan pengondisi kehidupannya.”

Permohonan Ananda

Atas kata-kata itu, YM Ananda berkata kepada Sang Bhagava: “Sudilah Sang Bhagava bertahan, bhante! Sudilah Sang Sugata bertahan, bhante, sepanjang masa-dunia bagi kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak; karena welas asih terhadap dunia, demi kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa serta manusia!”

“Cukup, Ananda. Jangan memohon Sang Tathagata; sebab kini bukan waktunya, Ananda, untuk permohonan semacam itu.”

Namun untuk kedua dan ketiga kalinya, YM Ananda berkata kepada Sang Bhagava: “Sudilah Sang Bhagava bertahan, bhante! Sudilah Sang Sugata bertahan, bhante, sepanjang masa-dunia bagi kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak; karena welas asih terhadap dunia, demi kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa serta manusia!”

“Apakah engkau punya keyakinan, Ananda, dalam Kebangunan Sang Tathagata?”

“Ya, bhante.”

“Lalu bagaimana bisa, Ananda, engkau bersikukuh terhadap Sang Tathagata bahkan sampai tiga kali?”

“Ini, bhante, telah aku dengar dan pelajari sendiri sewaktu berwawanmuka dengan Sang Bhagava: ‘Siapapun, Ananda, yang telah mengembangkan, melatih, memanfaatkan, memperkuat, menjaga, mencermati, dan menyempurnakan empat dasar kesaktian mampu, jika ia hendaki, bertahan sepanjang sebuah masa-dunia ataupun sisa darinya. Sang Tathagata, Ananda, telah melakukannya. Maka Sang Tathagata mampu, jika ia hendaki, bertahan sepanjang sebuah masa-dunia ataupun sisa darinya.'”

“Dan engkau mempercayainya, Ananda?”

“Ya, bhante, aku mempercayainya.”

“Maka, Ananda, kesalahannya ada padamu. Di sini engkau telah gagal, karena engkau tidak mampu menangkap anjuran yang gamblang itu, ajakan yang penting itu, yang diberikan oleh Sang Tathagata kepadamu, dan engkau tidak memohon Sang Tathagata untuk bertahan. Seandainya engkau melakukannya, Ananda, dua kali Sang Tathagata akan menolak, namun ketiga kalinya ia akan setuju. Maka, Ananda, kesalahannya ada padamu; di sini engkau telah gagal.

“Satu ketika, Ananda, aku tengah bersemayam di Rajagaha di gunung Puncak Burung Nasar. Di sana, Ananda, aku mengamanatkanmu: ‘Menyenangkan, Ananda, Rajagaha itu; menyenangkan Puncak Burung Nasar itu. Siapapun, Ananda, yang telah mengembangkan … Maka Sang Tathagata mampu, jika ia hendaki, bertahan sepanjang sebuah masa-dunia ataupun sisa darinya.’

“Demikian pula di Hutan Banian, di Tebing Penyamun, di Gua Sattapanni di Gunung Vebhara, di Karang Hitam Isigili, di Kolam Ular dalam Hutan Sejuk, di Hutan Tapoda, di Hutan Bambu dalam Suaka Tupai, di Hutan Mangga Jivaka, dan di Sudut Kecil dalam Taman Rusa, aku mengamanatkanmu: ‘Menyenangkan, Ananda, Rajagaha itu, menyenangkan tempat-tempat ini. Siapapun, Ananda, yang telah mengembangkan … Maka Sang Tathagata mampu, jika ia hendaki, bertahan sepanjang sebuah masa-dunia ataupun sisa darinya.’

“Namun engkau, Ananda, tidak mampu menangkap anjuran yang gamblang itu, ajakan yang penting itu, yang diberikan oleh Sang Tathagata kepadamu, dan engkau tidak memohon Sang Tathagata untuk bertahan. Seandainya engkau melakukannya, Ananda, dua kali Sang Tathagata akan menolak, namun ketiga kalinya ia akan setuju. Maka, Ananda, kesalahannya ada padamu; di sini engkau telah gagal.

“Demikian pula, Ananda, ketika aku tengah bersemayam di Vesali di kuil Udena … di kuil Gotamaka … di kuil Sattambaka … di kuil Bahuputta … di kuil Sarandada … di kuil Capala. Di sana aku mengamanatkanmu: “Menyenangkan, Ananda, Vesali itu; menyenangkan kuil-kuil Udena, Gotamaka, Sattambaka, Bahuputta, Sarandada, dan Capala itu. Siapapun, Ananda, yang telah mengembangkan … Maka Sang Tathagata mampu, jika ia hendaki, bertahan sepanjang sebuah masa-dunia ataupun sisa darinya.’

“Namun engkau, Ananda, tidak mampu menangkap anjuran yang gamblang itu, ajakan yang penting itu, yang diberikan oleh Sang Tathagata kepadamu, dan engkau tidak memohon Sang Tathagata untuk bertahan. Seandainya engkau melakukannya, Ananda, dua kali Sang Tathagata akan menolak, namun ketiga kalinya ia akan setuju. Maka, Ananda, kesalahannya ada padamu; di sini engkau telah gagal.

“Tetapi, Ananda, bukankah aku telah mengajarkan sejak semula bahwa semua yang tersayang dan dicintai pasti menjadi berubah, menjadi berpisah, dan menjadi lain? Bagaimana lagi bisa diharapkan? Adalah mustahil bahwa pada apa yang dilahirkan, mengada, terbikin, & bersifat melapuk itu tidak melapuk. Dan kepada apa, Ananda, yang Sang Tathagata telah selesaikan, yang telah ia lepaskan, tinggalkan, tanggalkan, dan sirnakan — pengondisi kehidupannya — kata-kata Sang Tathagata telah diucapkan sekali selamanya: ‘Tak lama lagi Parinibbana Sang Tathagata akan terjadi. Tiga bulan dari sekarang Sang Tathagata akan parinibbana.” Dan bilamana Sang Tathagata mesti menarik kembali ucapannya demi hidup — itu adalah sebuah kemustahilan.

Amanat Terakhir

“Ananda, marilah kita pergi ke Aula Beratap Bubungan, di Hutan Besar.” Dan YM Ananda menjawab, “Baiklah, bhante.”

Kemudian Sang Bhagava, beserta YM Ananda, pergi ke Aula Beratap Bubungan, di Hutan Besar dan, ketika tiba, beliau mengamanatkan YM Ananda: “Pergilah engkau, Ananda. Himpunlah sebanyak-banyaknya para bhikkhu yang bersemayam di sekitar Vesali, dan kumpulkanlah semuanya di aula hadirin.”

“Baiklah, bhante.” Lalu YM Ananda menghimpun sebanyak-banyaknya para bhikkhu yang bersemayam di sekitar Vesali, dan mengumpulkannya di aula hadirin. Setelah itu, YM Ananda menghampiri Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, berdiri di satu sisi. Selagi berdiri di sana, YM Ananda berkata kepada Sang Bhagava: “Pasamuan para bhikkhu telah terkumpul, bhante. Lakukanlah kini, bhante, apa yang Sang Bhagava anggap tepat waktunya.”

Kemudian Sang Bhagava memasuki aula hadirin dan, ketika tiba, mengambil tempat duduk yang dipersiapkan. Selagi duduk di sana, beliau mengamanatkan para bhikkhu: “Nah, para bhikkhu, Dhamma yang kuketahui secara langsung ini telah kuajarkan kepada kalian — inilah yang hendaknya kalian pelajari sepenuhnya, olah, kembangkan, dan latih sering-sering, hingga kehidupan suci dapat diperkokoh dan bertahan lama, bagi kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak, karena welas asih terhadap dunia, demi kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa serta manusia.

“Dan, para bhikkhu, Dhamma yang manakah ini? Ini adalah empat landasan keelingan, empat upaya benar, empat dasar kesaktian, lima daya, lima kekuatan, tujuh faktor kebangunan, dan Jalan Mulia Berfaktor Delapan. Inilah, para bhikkhu, Dhamma yang kuketahui secara langsung yang telah kuajarkan kepada kalian, yang hendaknya kalian pelajari sepenuhnya, olah, kembangkan, dan latih sering-sering, hingga kehidupan suci dapat diperkokoh dan bertahan lama, bagi kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak, karena welas asih terhadap dunia, demi kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa serta manusia.”

Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan para bhikkhu: “Maka kini, para bhikkhu, aku amanatkan kalian: Pengondisi-pengondisi terkena kelenyapan, berjuanglah melalui kewaskitaan [vayadhammaa sa”nkhaaraa, appamaadena sampaadethaa]. Tak lama lagi prinibbana Sang Tathagata akan terjadi. Tiga bulan dari sekarang Sang Tathagata akan parinibbana.”

Itulah kata-kata Sang Bhagava. Setelah mengatakannya, Sang Sugata, Sang Guru berkata lebih lanjut:

“Tahun-tahunku kini telah berlalu, hidupku sedikit tersisa. Meninggalkan kalian kupergi, berlindung pada diriku sendiri. Waskitalah, wahai para bhikkhu, eling dan saleh. Dengan tekad yang kokoh, jagalah batin kalian. Barangsiapa bersemayam dengan waskita dalam Dhamma dan Vinaya ini akan meninggalkan daur kelahiran dan mengakhiri penderitaan.”

Mahaparinibbana Sutta Bagian Empat
Santapan Terakhir.

Pandangan Gajah

Kemudian di sore hari Sang Bhagava, setelah mengenakan jubah dan membawa mangkuk serta jubah luar, memasuki Vesali untuk mencari makanan sedekah. Setelah pergi mencari makanan sedekah di Vesali, sehabis bersantap, ketika kembali, beliau memandang Vesali dengan pandangan gajah, dan mengamanatkan YM Ananda: “Inilah, Ananda, terakhir kalinya Sang Tathagata akan memandang Vesali. Marilah, Ananda, kita pergi ke Bhandagama.”

“Baiklah, bhante.” Kemudian Sang Bhagava bersemayam di Bhandagama beserta sejumlah besar pasamuan bhikkhu.

Lalu Sang Bhagava mengamanatkan para bhikkhu: “Para bhikkhu, karena tidak menginsyafi, tidak menembusi empat hal maka perjalanan panjang samsara telah dilalui dan dijalani baik olehku maupun kalian. Empat yang mana? Karena tidak menginsyafi, tidak menembusi kesalehan mulia, para bhikkhu, maka perjalanan panjang samsara telah dilalui dan dijalani baik olehku maupun kalian … konsentrasi mulia … kebijaksanaan mulia … Karena tidak menginsyafi, tidak menembusi pembebasan mulia, maka perjalanan panjang samsara telah dilalui dan dijalani baik olehku maupun kalian. Namun kini, para bhikkhu, karena semua ini telah diinsyafi dan ditembusi, terpotonglah pengidaman akan keberadaan, hancurlah tendensi akan keberadaan, tiada keberadaan lanjutan.”

Itulah kata-kata Sang Bhagava. Setelah mengatakannya, Sang Sugata, Sang Guru berkata lebih lanjut:

“Kesalehan, konsentrasi, kebijaksanaan, dan pembebasan tiada taranya, Hal-hal inilah yang diinsyafi oleh Gotama yang termasyhur. Mengetahui ini Sang Buddha, mengajarkan Dhamma kepada para bhikkhu. Sang Guru pembuat akhir derita, Sang Mata padam sepenuhnya.”

Dan juga di Bhandagama Sang Bhagava sering kali memberi perbincangan Dhamma kepada para bhikkhu demikian: “Inilah kesalehan, inilah konsentrasi, inilah kebijaksanaan. Besar buahnya, besar yang diperoleh dari konsentrasi sewaktu terkembang sepenuhnya lewat kesalehan; besar buahnya, besar yang diperoleh dari kebijaksanaan sewaktu terkembang sepenuhnya lewat konsentrasi; batin yang terkembang sepenuhnya dalam kebijaksanaan itu terbebas sama sekali dari noda-noda, yakni — noda-noda nafsu indera, keberadaan, dan ketidaktahuan.”

Sewaktu Sang Bhagava telah bersemayam di Bhandagama selama yang disukai, beliau mengamanatkan YM Ananda: “Marilah, Ananda, kita pergi ke Hatthigama, ke Ambagama, ke Jambugama, dan ke Bhoganagara.”

“Baiklah, bhante.” Kemudian Sang Bhagava bersemayam di Bhoganagara di kuil Ananda beserta sejumlah besar pasamuan para bhikkhu.

Empat Rujukan Agung

Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan para bhikkhu: “Para bhikkhu, aku akan membabarkan Empat Rujukan Agung. Dengarkan dan perhatikan apa yang akan aku katakan.” Dan para bhikkhu menanggapi, “Baiklah, bhante.”

Sang Bhagava berkata: “Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu mungkin berkata: ‘Berwawanmuka dengan Sang Bhagava, sobat, aku telah mendengar dan mempelajari: Inilah Dhamma dan Vinaya, inilah Ajaran Sang Guru’; atau: ‘Di kediaman bernama anu bersemayam sebuah pasamuan dengan para sesepuh dan tetua. Berwawanmuka dengan pasamuan tersebut, aku telah mendengar dan mempelajari: Inilah Dhamma dan Vinaya, inlah Ajaran Sang Guru’; atau: ‘Di kediaman bernama anu bersemayam beberapa bhikkhu yang merupakan para sesepuh, yang terpelajar, yang telah menyelesaikan pelajaran, para pelestari Dhamma, Vinaya, dan Ikhtisar. Berwawanmuka dengan para sesepuh tersebut, aku telah mendengar dan mempelajari: Inilah Dhamma dan Vinaya, inilah Ajaran Sang Guru’; atau: ‘Di kediaman bernama anu bersemayam seorang bhikkhu sesepuh yang terpelajar, yang telah menyelesaikan pelajaran, seorang pelestari Dhamma, Vinaya, dan Ikhtisar. Berwawanmuka dengan sesepuh tersebut, aku telah mendengar dan mempelajari: Inilah Dhamma dan Vinaya, inilah Ajaran Sang Guru.'”

“Dalam kasus ini, para bhikkhu, pernyataan bhikkhu itu hendaknya jangan disetujui maupun dicemooh. Tanpa disetujui maupun dicemooh, namun mengkajinya dengan hati-hati kata per kata, ia hendaknya melacaknya dalam Wejangan [sutta] dan membuktikannya dengan Tata-tertib [vinaya]. Bila tidak terlacak dalam Wejangan maupun terbukti dengan Tata-tertib, ia hendaknya menyimpulkan: ‘Sudah pasti ini bukanlah perkataan Sang Bhagava; ini telah disalahpahami oleh bhikkhu tersebut — atau oleh pasamuan tersebut, atau oleh para sesepuh tersebut, atau oleh sesepuh tersebut.’ Karena itu, para bhikkhu, kalian mesti menolaknya. Namun bila terlacak dalam Wejangan dan terbukti dengan Tata-tertib, maka ia hendaknya menyimpulkan: ‘Sudah pasti ini adalah perkataan Sang Bhagava; ini telah dipahami dengan baik oleh bhikkhu tersebut — atau oleh pasamuan tersebut, atau oleh para sesepuh tersebut, atau oleh sesepuh tersebut.’ Karena itu, para bhikkhu, kalian boleh menerimanya pada rujukan yang pertama, kedua, ketiga, atau keempat. Inilah, para bhikkhu, empat rujukan agung untuk dilestarikan oleh kalian.”

Dan juga di Bhoganagara di kuil Ananda, Sang Bhagava sering kali memberi perbincangan Dhamma kepada para bhikkhu demikian: “Inilah kesalehan, inilah konsentrasi, inilah kebijaksanaan. Besar buahnya, besar yang diperoleh dari konsentrasi sewaktu terkembang sepenuhnya lewat kesalehan; besar buahnya, besar yang diperoleh dari kebijaksanaan sewaktu terkembang sepenuhnya lewat konsentrasi; batin yang terkembang sepenuhnya dalam kebijaksanaan itu terbebas sama sekali dari noda-noda, yakni — noda-noda nafsu indera, keberadaan, dan ketidaktahuan.”

Sewaktu Sang Bhagava telah bersemayam di Bhoganagara selama yang disukai, beliau mengamanatkan YM Ananda: “Marilah, Ananda, kita pergi ke Pava.”

“Baiklah, bhante.” Kemudian Sang Bhagava bersemayam di Pava di hutan mangganya Cunda si pandai besi beserta sejumlah besar pasamuan para bhikkhu.

Santapan Terakhir Sang Buddha

Dan Cunda si pandai besi mengetahui: “Sang Bhagava konon telah tiba di Pava, dan bersemayam di hutan manggaku.” Lalu ia pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Selagi ia duduk di sana, Sang Bhagava menginstruksikan, menasihati, membangkitkan, dan menggembirakan Cunda si pandai besi dengan perbincangan Dhamma.

Kemudian Cunda berkata kepada Sang Bhagava: “Sudilah Sang Bhagava, bhante, menerima undanganku untuk bersantap besok, beserta pasamuan para bhikkhu.” Dan Sang Bhagava menyetujuinya dengan membungkam.

Setelah merasa pasti atas persetujuan Sang Bhagava, Cunda si pandai besi bangkit dari duduknya, menyalami Sang Bhagava dan, mengarahkan sisi kanannya kepada beliau, terus berangkat.

Lalu Cunda, sesudah malam telah berlalu, menyiapkan makanan pilihan, keras dan lunak, tersaji di kediamannya, beserta sejumlah sukara-maddava, dan mengumumkannya kepada Sang Bhagava: “Sudah waktunya, bhante; santapannya telah siap.”

Lantas Sang Bhagava di pagi hari, setelah mengenakan jubah, dan membawa mangkuk serta jubah luar, pergi beserta pasamuan para bhikkhu ke kediaman Cunda, dan di sana duduk di tempat duduk yang dipersiapkan. Lalu beliau berkata kepada Cunda: “Dengan sukara-maddava yang telah kaupersiapkan, Cunda, engkau boleh melayaniku; dengan makanan lainnya, engkau boleh melayani pasamuan para bhikkhu.’

“Baiklah, bhante.” Dan dengan sukara-maddava yang dipersiapkan untuk beliau, Cunda melayani Sang Bhagava; dan dengan makanan lainnya, keras dan lunak, ia melayani pasamuan para bhikkhu.

Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan Cunda: “Apapun, Cunda, yang tersisa dari sukara-maddava itu, kuburlah dalam sebuah lubang. Oleh sebab aku tidak melihat di dunia ini, beserta para dewa, Mara, dan Brahma-nya, di antara kumpulan pertapa dan brahmana, dewa dan manusia, siapapun yang dapat memakannya dan mencernanya kecuali Sang Tathagata sendiri.'”

Lalu Cunda si pandai besi menjawab Sang Bhagava: “Baiklah, bhante.” Dan apapun yang tersisa dari sukara-maddava ia kubur dalam sebuah lubang.

Lantas ia menghampiri Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Selagi ia duduk di sana, Sang Bhagava menginstruksikan, menasihati, membangkitkan, dan menggembirakannya dengan perbincangan Dhamma. Sesudah itu Cunda si pandai besi bangkit dari duduknya dan berangkat.

Adapun segera sesudah Sang Bhagava memakan santapan yang disajikan Cunda si pandai besi, muncullah pada beliau penyakit yang parah, bahkan disentri, serta rasa nyeri yang tajam dan lirmati datang pada beliau. Dan Sang Bhagava memikulnya dengan eling, waspada, dan tak bergeming.

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada YM Ananda: “Marilah, Ananda, kita pergi ke Kusinara.” Dan YM Ananda menjawab: “Baiklah, bhante.”

[Komen.: syair ini, dan beberapa yang berikutnya, disisipkan oleh para sesepuh yang mengoleksi Dhamma (pada Konsili Pertama).]

Setelah makan santapan dari Cunda, kudengar, Dengan ketabahan beliau memikul rasa nyeri yang lirmati. Melalui sukara-maddava, penyakit yang nyeri muncul pada Sang Guru. Memikulnya, Sang Bhagava berkata, “Marilah kita pergi ke Kusinara.”

Aliran Air

Lalu Sang Bhagava menepi dari jalan, menghampiri sebuah pohon dan, ketika tiba, mengamanatkan YM Ananda: “Harap lipatkan jubah-atasku menjadi empat, Ananda, dan letakkan. Aku letih dan ingin duduk.”

“Baiklah, bhante.” Lantas YM Ananda melipat jubah menjadi empat dan meletakkannya.

Kemudian Sang Bhagava duduk di atas tempat duduk yang dipersiapkan. Selagi duduk, beliau mengamanatkan YM Ananda: “Harap ambilkan aku sejumlah air, Ananda. Aku dahaga dan ingin minum.”

Dan YM Ananda menjawab Sang Bhagava: “Baru saja, bhante, sejumlah besar kereta, lima ratus kereta telah lewat, dan air yang dangkal itu telah dilintasi oleh roda-roda hingga mengalir keruh dan berlumpur. Sedangkan sungai Kakuttha tidak jauh, bhante, dan airnya jernih, sedap, sejuk, serta bening. Sungai itu berbantaran bagus dan letaknya menyenangkan. Di sana Sang Bhagava dapat melepaskan dahaga dan menyegarkan anggota badan.”

Kedua kalinya Sang Bhagava mengamanatkan YM Ananda: “Harap ambilkan aku sejumlah air, Ananda. Aku dahaga dan ingin minum.” Kedua kalinya YM Ananda menjawab beliau: “Baru saja, bhante, sejumlah besar kereta, lima ratus kereta telah lewat, dan air yang dangkal itu telah dilintasi oleh roda-roda hingga mengalir keruh dan berlumpur. Sedangkan sungai Kakuttha tidak jauh, bhante, dan airnya jernih, sedap, sejuk, serta bening. Sungai itu berbantaran bagus dan letaknya menyenangkan. Di sana Sang Bhagava dapat melepaskan dahaga dan menyegarkan anggota badan.”

Ketiga kalinya Sang Bhagava mengamanatkan YM Ananda: “Harap ambilkan aku sejumlah air, Ananda. Aku dahaga dan ingin minum.”

Kemudian YM Ananda menjawab: “Baiklah, bhante.” Lantas ia mengambil mangkuknya dan menghampiri aliran air tersebut. Lalu air yang dangkal itu, yang telah dilintasi oleh roda-roda hingga mengalir keruh dan berlumpur, menjadi jernih, murni, dan mengendap ketika YM Ananda menghampirinya.

Lantas YM Ananda membatin: “Betapa menakjubkan, betapa mengagumkan kesaktian dan kemampuan Sang Tathagata!”

Membawa air di dalam mangkuk, ia menghampiri Sang Bhagava dan, ketika tiba, berkata: “Betapa menakjubkan, bhante! Betapa mengagumkan, bhante, kesaktian dan kemampuan Sang Tathagata! Air yang dangkal ini, yang telah dilintasi oleh roda-roda hingga mengalir keruh dan berlumpur, menjadi jernih, murni, dan mengendap ketika aku menghampirinya. Minumlah air ini, O Sang Bhagava! Minumlah air ini, O Sang Sugata!” Lalu Sang Bhagava meminum air itu.

Pukkusa Orang Malla

Kebetulan pada ketika itu Pukkusa orang Malla, yang merupakan siswa Alara Kalama, tengah menempuh perjalanan dari Kusinara ke Pava.

Lalu ia melihat Sang Bhagava tengah duduk di kaki sebuah pohon. Melihatnya, ia menghampiri Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Selagi duduk di sana, ia berkata kepada Sang Bhagava: “Betapa menakjubkan, bhante! Betapa mengagumkan, bhante, kedamaian bersemayamnya mereka yang telah berkelana.

“Dahulu, bhante, Alara Kalama tengah menempuh perjalanan, dan ia menepi dari jalan serta duduk di kaki sebuah pohon untuk bersemayam hari itu. Dan kebetulan, bhante, bahwa sejumlah besar kereta, bahkan lima ratus kereta melewatinya satu demi satu. Lalu, bhante, seorang lelaki yang ikut di belakang jalur kereta itu menghampirinya dan berkata: ‘Apakah engkau, bhante, melihat sejumlah besar kereta melewatimu?’ Dan Alara Kalama menjawab: ‘Aku tidak melihatnya, sobat.’ ‘Namun kegaduhannya, bhante, pasti engkau mendengarnya?’ ‘Aku tidak mendengarnya, sobat.’ Kemudian lelaki itu bertanya kepadanya: ‘Tapi, bhante, barangkali engkau tadi tidur?’ ‘Tidak, sobat, aku tadi tidak tidur.’ ‘Lantas, bhante, apakah engkau tadi sadar?’ ‘Aku tadi sadar, sobat.’ Kemudian lelaki itu berkata: ‘Jadi, bhante, selagi terjaga dan sadar engkau tidak melihat sejumlah besar kereta, bahkan lima ratus kereta, melewatimu satu demi satu, tidak pula mendengar kegaduhannya? Mengapa, bhante, jubahmu diselubungi oleh debunya!’ Dan Alara Kalama menjawab: ‘Demikianlah, sobat.’

“Dan lelaki itu, bhante, membatin: ‘Betapa menakjubkan, betapa mengagumkan kedamaian bersemayamnya mereka yang telah berkelana!’ Setelah timbul keyakinannya yang besar terhadap Alara Kalama, ia berangkat.”

“Nah bagaimana pikirmu, Pukkusa? Mana yang lebih sulit dilakukan, lebih sulit diketemukan — seorang yang, selagi terjaga dan sadar, tidak melihat sejumlah besar kereta, bahkan lima ratus kereta, melewatinya satu demi satu, tidak pula mendengar kegaduhannya, ataukah seorang yang, selagi terjaga dan sadar, di tengah hujan lebat, dengan guntur bergemuruh, halilintar berkelebat, dan petir menggelegar, tidak melihatnya tidak pula mendengar kegaduhannya?”

“Apalah artinya, bhante, lima ratus kereta — maupun enam, tujuh, delapan, sembilan ratus, atau seribu, atau bahkan ratusan ribu kereta — ketimbang itu?”

“Satu ketika, Pukkusa, aku tengah bersemayam di Atuma di sebuah gudang. Adapun pada ketika itu terjadi hujan lebat, dengan guntur bergemuruh, halilintar berkelebat, dan petir menggelegar. Dua petani yang merupakan kakak beradik terbunuh dekat gudang, beserta empat lembu jantan. Kemudian, Pukkusa, orang banyak datang berduyun-duyun dari Atuma ke tempat mereka terbunuh.

“Pada saat itu, Pukkusa, aku telah keluar dari gudang dan tengah berjalan hilir mudik di depan pintu sembari berpikir. Lalu seorang lelaki dari orang banyak itu menghampiriku dan, ketika tiba, setelah menyalamiku, berdiri di satu sisi.

“Selagi ia berdiri di sana, aku bertanya kepadanya: ‘Mengapa, sobat, orang banyak ini berkumpul?’ Dan ia menjawab: ‘Baru saja, bhante, terjadi hujan lebat, dengan guntur bergemuruh, halilintar berkelebat, dan petir menggelegar. Dua petani yang merupakan kakak beradik terbunuh dekat gudang, beserta empat lembu jantan. Itulah sebabnya orang banyak ini berkumpul. Namun, bhante, di manakah engkau tadi berada?'”

“‘Aku tadi di sini, sobat.’ ‘Namun, bhante, engkau tidak melihatnya?’ ‘Aku tidak melihatnya, sobat.’ ‘Namun kegaduhannya, bhante, pasti engkau mendengarnya?’ ‘Aku tidak mendengarnya, sobat.’ Kemudian lelaki itu bertanya kepadaku: ‘Tapi, bhante, barangkali engkau tadi tidur?’ ‘Tidak, sobat, aku tadi tidak tidur.’ ‘Lantas, bhante, apakah engkau tadi sadar?’ ‘Aku tadi sadar, sobat.’ Kemudian lelaki itu berkata: ‘Jadi, bhante, selagi terjaga dan sadar, di tengah hujan lebat, dengan guntur bergemuruh, halilintar berkelebat, dan petir menggelegar, engkau tidak melihatnya tidak pula mendengar kegaduhannya?’ Dan aku menjawabnya: ‘Demikianlah, sobat.'”

“Lalu, Pukkusa, lelaki itu membatin: ‘Betapa menakjubkan, betapa mengagumkan kedamaian bersemayamnya mereka yang telah berkelana!’ Setelah timbul keyakinannya yang besar terhadapku dan, sehabis menyalamiku, mengarahkan sisi kanannya kepadaku, ia berangkat.”

Ketika ini telah dikatakan, Pukkusa orang Malla berkata kepada Sang Bhagava: “Keyakinanku, bhante, terhadap Alara Kalama kini kutebarkan ke angin besar, kubiarkan itu terbawa bagai arus yang mengalir! Baik sekali, bhante! Baik sekali, bhante! Persis seolah-olah Sang Bhagava menegakkan apa yang telah terguling, atau menyingkap apa yang tersembunyi, memperlihatkan jalan kepada orang yang tersesat, atau mengangkat lampu dalam kegelapan sehingga mereka yang bermata dapat melihat bentuk-bentuk, demikian pula Sang Bhagava telah — melalui beraneka pendekatan — menyinari Dhamma. Aku pergi berlindung kepada Sang Bhagava, kepada Dhamma, dan kepada Pasamuan para Bhikkhu. Sudilah Sang Bhagava mengingatku sebagai seorang pengikut awam yang telah pergi berlindung kepadanya, mulai hari ini, untuk seumur hidup.”

Kemudian Pukkusa orang Malla berkata kepada seorang lelaki: “Bawakan aku segera, sobat, dua setel jubah berwarna emas, yang berkilauan dan siap dikenakan.” Lalu lelaki itu menjawab: “Baiklah, tuan.”

Dan ketika jubah itu dibawa, Pukkusa orang Malla menawarkannya kepada Sang Bhagava: “Sudilah Sang Bhagava, bhante, karena welas asih, menerima ini dariku.” Dan Sang Bhagava berkata: “Lantas, Pukkusa, kenakanlah satu kepadaku, dan satunya lagi kepada Ananda.”

“Baiklah, bhante.” Dan ia mengenakan satu kepada Sang Bhagava, dan satunya lagi kepada YM Ananda.

Kemudian Sang Bhagava menginstruksikan, menasihati, membangkitkan, dan menggembirakan Pukkusa orang Malla dengan perbincangan Dhamma. Lalu setelah itu Pukkusa bangkit dari duduknya dan, setelah menyalami beliau, mengarahkan sisi kanannya kepada beliau, berangkat.

Tak lama sesudah Pukkusa orang Malla berangkat, YM Ananda mengatur setelan jubah berwarna emas, berkilauan dan siap dikenakan, pada tubuh Sang Bhagava. Tetapi ketika tengah diatur pada tubuh Sang Bhagava, setelan jubah itu tampak seakan-akan pudar, dan kesemarakannya menjadi suram.

Lalu YM Ananda berkata kepada Sang Bhagava: “Betapa menakjubkan, bhante! Betapa mengagumkan, bhante, betapa cerah dan cemerlang kulit Sang Bhagava tampaknya! Setelan jubah berwarna emas ini, berkilauan dan siap dikenakan, bhante, kini ketika tengah diatur pada tubuh Sang Bhagava tampak seakan-akan pudar, dan kesemarakannya menjadi suram.”

“Demikianlah, Ananda. Ada dua peristiwa sewaktu kulit Sang Tathagata tampak demikian cerah dan cemerlang. Dua peristiwa yang mana? Di malam hari, Ananda, sewaktu Sang Tathagata meraih Swakebangunan Benar yang tiada taranya, dan di malam hari sewaktu Sang Tathagata berparinibbana dalam unsur Nibbana tanpa sisa. Inilah, Ananda, dua peristiwa sewaktu kulit Sang Tathagata tampak demikian cerah dan cemerlang.

“Dan hari ini, di jaga terakhir malam ini, Ananda, di hutan sala orang-orang Malla dekat Kusinara, di antara pohon sala kembar, parinibbana Sang Tathagata akan terjadi. Ananda, marilah kita pergi ke sungai Kakuttha.”

“Mengenakan jubah berwarna emas, hadiah Pukkusa, Rupa Sang Guru cemerlang kelihatannya.”

Di Sungai Kakuttha

Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha beserta sejumlah besar pasamuan para bhikkhu dan, ketika tiba, beliau turun ke dalam air, serta mandi dan minum. Setelah keluar dari air, beliau pergi ke Hutan Mangga dan, ketika tiba, mengamanatkan YM Cundaka: “Harap lipatkan jubah-atasku menjadi empat, Cundaka, dan letakkan. Aku letih dan ingin berbaring.”

“Baiklah, bhante.” Lantas YM Cundaka melipat jubah menjadi empat, serta meletakkannya.

Lalu Sang Bhagava berbaring pada sisi kanannya dalam sikap singa tidur, menumpangkan satu kaki di atas satunya lagi, eling dan waspada, setelah memperhatikan waktu untuk bangun. YM Cundaka duduk tepat di hadapan Sang Bhagava.

“Sang Buddha telah sampai ke sungai Kakuttha
Yang berarus jernih, sejuk, dan murni;
Di sana Sang Guru memandikan tubuh letihnya
Sang Tathagata — ia yang tiada banding di dunia!
Seusai mandi dan minum, Sang Guru melintasinya
para bhikkhu berduyun di belakang beliau.
Sembari mewejangkan Dhamma, Sang Bhagava
mengambil jalan ke arah Hutan Mangga.
Di sana kepada YM Cundaka, beliau berkata:
‘Harap letakkan jubahku, lipat menjadi empat.’
Lantas Cunda, cepat bagaikan kilat,
mematuhi permintaan Sang Guru.
Dengan tubuh letih, Sang Guru berbaring,
Dan Cunda duduk di hadapan beliau.”

Menghilangkan Rasa Bersalah Cunda si Pandai Besi

Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan YM Ananda: “Bisa terjadi, Ananda, bahwa seseorang akan menimbulkan rasa bersalah pada Cunda si pandai besi — ‘Bukan sebuah keuntungan bagimu, sobat Cunda, namun kerugian, bahwa dari engkaulah Sang Tathagata menerima makanan sedekah yang terakhir dan, setelah memakannya, berparinibbana.’ Maka, Ananda, rasa bersalah Cunda hendaknya disirnakan dengan cara ini: ‘Sebuah keuntungan bagimu, sobat Cunda, sebuah rahmat bahwa dari engkaulah Sang Tathagata menerima makanan sedekah yang terakhir dan, setelah memakannya, berparinibbana. Karena, sobat, berwawanmuka dengan Sang Bhagava aku telah mendengar dan mempelajari: “Ada dua persembahan makanan sedekah yang berbuah sama, berakibat sama; berlebihan dalam besarnya buah dan hasil ketimbang persembahan makanan sedekah apapun. Dua yang mana? Yang dimakan oleh Sang Tathagata sebelum meraih Swakebangunan Benar yang tiada taranya, dan yang dimakan oleh Sang Tathagata sebelum berparinibbana dalam unsur Nibbana tanpa sisa. Cunda telah menimbun perbuatan yang menghasilkan umur panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, surga, dan kekuasaan.”‘ Demikianlah, Ananda, rasa bersalah Cunda si pandai besi hendaknya disirnakan.”

Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini:

“Ia yang memberi, kebajikannya bertambah;
Ia yang mengekang diri, tiada kedengkian tertumpuk;
Ia yang penuh kecakapan, kejahatan terhindari;
Dengan habisnya nafsu, kebencian, dan waham, damailah ia.”

Mahaparinibbana Sutta Bagian Lima
Di Kusinara

Tempat Persemayaman Terakhir
Kemudian Sang Bhagava berkata kepada YM Ananda: “Ananda, marilah kita menuju tepi seberang sungai Hirannavati. Kita akan pergi ke Upavattana, hutan Sala orang-orang Malla dekat Kusinara.”
“Baiklah, bhante,” YM Ananda menanggapi Sang Bhagava.
Lalu Sang Bhagava beserta sejumlah besar pasamuan para bhikkhu menuju tepi seberang sungai Hirannavati dan pergi ke Upavattana, hutan sala orang-orang Malla dekat Kusinara. Ketika tiba, beliau berkata kepada YM Ananda, “Ananda, harap siapkan sebuah pembaringan untukku di antara pohon sala kembar itu, dengan kepala mengarah ke utara. Aku letih, dan ingin berbaring.”
Menanggapi, “Baiklah, bhante,” YM Ananda menyiapkan sebuah pembaringan di antara pohon sala kembar, dengan kepala mengarah ke utara. Kemudian Sang Bhagava berbaring pada sisi kanannya dalam sikap singa tidur, menumpangkan satu kaki di atas satunya lagi, eling dan waspada.
Adapun pada ketika itu pohon sala kembar tersebut tengah bermekaran, walaupun itu bukan musim berbunganya. Pohon sala itu menghamburi, menaburi, & menebari tubuh Sang Tathagata untuk memuja beliau. Bunga-bunga mandarava surgawi turun dari angkasa, menghamburi, menaburi, & menebari tubuh Sang Tathagata untuk memuja beliau. Serbuk kayu cendana surgawi turun dari angkasa, menghamburi, menaburi, & menebari tubuh Sang Tathagata untuk memuja beliau. Musik surgawi dimainkan di angkasa untuk memuja beliau. Lagu surgawi dinyanyikan di angkasa untuk memuja beliau.
Kemudian Sang Bhagava berkata kepada YM Ananda, “Ananda, pohon sala kembar tengah bermekaran, walaupun itu bukan musim berbunganya. Pohon sala itu menghamburi, menaburi, & menebari tubuh Sang Tathagata untuk memuja beliau. Bunga-bunga mandarava surgawi turun dari angkasa, menghamburi, menaburi, & menebari tubuh Sang Tathagata … Serbuk kayu cendana surgawi turun dari angkasa … Musik surgawi dimainkan di angkasa … Lagu surgawi dinyanyikan di angkasa untuk memuja Sang Tathagata. Namun bukan sampai sejauh itu seorang Tathagata dihormati, dihargai, dimuliakan, dipuja, & dijunjung. Melainkan, siapapun bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, atau upasika yang bersemayam melakoni Dhamma sesuai Dhamma, yang melakoninya dengan patuh, hidup sesuai Dhamma: dialah orang yang menghormati, menghargai, memuliakan, memuja, & menjunjung Sang Tathagata dengan pemujaan yang tertinggi. Maka, Ananda, demikian engkau hendaknya melatih diri: “Kami akan bersemayam melakoni Dhamma sesuai Dhamma, kami akan melakoninya dengan patuh, kami akan hidup sesuai Dhamma.”
Keluhan Para Dewa
Adapun pada ketika itu YM Upavana tengah berdiri di hadapan Sang Bhagava, mengipasi beliau. Kemudian Sang Bhagava mengusirnya: “Minggir, bhikkhu. Jangan berdiri di hadapanku.” Kemudian YM Ananda membatin: “Sudah lama kini YM Upavana menjadi pembantu Sang Bhagava, berhubungan erat dengan beliau dan meladeni beliau. Namun sekarang, pada saat-saat terakhir, beliau mengusirnya: ‘Minggir, bhikkhu. Jangan berdiri di hadapanku.’ Apakah alasannya, apakah sebabnya, mengapa Sang Bhagava mengusirnya: ‘Minggir, bhikkhu. Jangan berdiri di hadapanku’?”
Lalu YM Ananda berkata kepada Sang Bhagava: “Sudah lama kini YM Upavana menjadi pembantu Sang Bhagava, berhubungan erat dengan beliau dan meladeni beliau. Namun sekarang, pada saat-saat terakhir, beliau mengusirnya: ‘Minggir, bhikkhu. Jangan berdiri di hadapanku.’ Apakah alasannya, apakah sebabnya, mengapa Sang Bhagava mengusirnya: ‘Minggir, bhikkhu. Jangan berdiri di hadapanku’?”
“Ananda, hampir semua dewa dari sepuluh semesta alam telah berkumpul untuk melihat Sang Tathagata. Sampai duabelas yojana di sekitar Upavattana, hutan sala orang-orang Malla dekat Kusinara, tiada ruang bahkan seujung rambut ekor-kuda pun yang tidak ditempati oleh dewa yang terkemuka. Para dewa, Ananda, mengeluh, ‘Dari jauh kami datang untuk melihat Sang Tathagata. Sangat jarang sekali seorang Tathagata — arahat, swabangun dengan benar — muncul di dunia. Hari ini, di jaga terakhir malam ini, parinibbana Sang Tathagata akan terjadi. Dan bhikkhu yang terkemuka ini tengah berdiri di hadapan Sang Bhagava, menghalangi pandangan. Kami tidak bisa melihat Sang Bhagava pada saat-saat terakhir beliau.'”
“Namun, bhante, bagaimana keadaan para dewa yang Sang Bhagava perhatikan itu?”
“Ananda, terdapat para dewa yang mencerap angkasa sebagai tanah. Dengan rambut kusut, mereka menangis. Dengan lengan terangkat, mereka menangis. Dengan menghempaskan diri ke tanah, mereka berguling-guling, meratap, ‘Terlalu dini Sang Bhagava akan parinibbana! Terlalu dini Sang Sugata akan parinibbana! Terlalu dini Sang Mata akan sirna dari dunia!’ Kemudian terdapat para dewa yang mencerap tanah sebagai tanah. Dengan rambut kusut, mereka menangis. Dengan lengan terangkat, mereka menangis. Dengan menghempaskan diri ke tanah, mereka berguling-guling, meratap, ‘Terlalu dini Sang Bhagava akan parinibbana! Terlalu dini Sang Sugata akan parinibbana! Terlalu dini Sang Mata akan sirna dari dunia!’ Namun para dewa yang bebas dari nafsu menerimanya, eling & waspada: ‘Pengondisi-pengondisi tidaklah kekal. Bagaimana lagi bisa diharapkan?'”
Empat Tempat Ziarah
“Dahulu, bhante, para bhikkhu dari segala penjuru, sesudah mengakhiri masa Vassa, datang untuk melihat Sang Tathagata. Maka kami bisa melihat & meladeni para bhikkhu yang menginspirasi pikiran. Namun, sesudah Sang Bhagava pergi, kami tidak akan bisa melihat atau meladeni para bhikkhu yang menginspirasi pikiran.”
“Ada empat tempat, Ananda, untuk dilihat dengan rasa takzim oleh seorang putra kaum yang punya keyakinan. Empat yang mana? ‘Di sini Sang Tathagata lahir’ adalah sebuah tempat untuk dilihat dengan rasa takzim oleh seorang putra kaum yang punya keyakinan. ‘Di sini Sang Tathagata meraih Swakebangunan Benar yang tiada taranya’ … ‘Di sini Sang Tathagata memutar Roda Dhamma yang tiada taranya’ … ‘Di sini Sang Tathagata berparinibbana dalam unsur Nibbana tanpa sisa’ adalah sebuah tempat untuk dilihat dengan rasa takzim oleh seorang putra kaum yang punya keyakinan. Inilah empat tempat, Ananda, untuk dilihat dengan rasa takzim oleh seorang putra kaum yang punya keyakinan. Akanlah datang, Ananda, karena keyakinan — para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, atau upasika — ke tempat-tempat ‘Di sini Sang Tathagata lahir,’ ‘Di sini Sang Tathagata meraih Swakebangunan Benar yang tiada taranya,’ ‘Di sini Sang Tathagata memutar Roda Dhamma yang tiada taranya,’ ‘Di sini Sang Tathagata berparinibbana dalam unsur Nibbana tanpa sisa.’ Dan barangsiapa, Ananda, yang meninggal dunia dengan batin penuh keyakinan ketika berziarah ke tempat-tempat peringatan ini akan — sewaktu hancurnya tubuh, setelah kematian — muncul kembali dalam nasib baik, di alam surgawi.”
Pertanyaan-pertanyaan Ananda
“Bagaimana, bhante, hendaknya kami bertindak terhadap perempuan?”
“Jangan memandangnya, Ananda.”
“Namun ketika memandangnya, bhante, bagaimana hendaknya bertindak?”
“Jangan menyapanya, Ananda.”
“Namun ketika kami disapa, bagaimana hendaknya bertindak?”v “Keelingan hendaknya diperteguh, Ananda.”
“Dan, bhante, bagaimana hendaknya kami bertindak terhadap layon Sang Tathagata?”
“Jangan engkau prihatinkan, Ananda, tentang pemujaan layon Sang Tathagata. Namun, Ananda, engkau hendaknya berjuang sepenuh hati demi tujuan sejati, bersemayam dengan waskita, tekun, & penuh tekad demi tujuan sejati. Ada para ksatria ningrat, brahmana, & perumah-tangga arif yang penuh keyakinan terhadap Sang Tathagata. Mereka yang akan melaksanakan pemujaan terhadap layon Sang Tathagata.”
“Namun, bhante, bagaimana hendaknya mereka bertindak terhadap layon Sang Tathagata?”
“Sebagaimana mereka bertindak terhadap layon raja pemutar cakra, Ananda, demikianlah hendaknya bertindak terhadap layon Sang Tathagata.”
“Dan bagaimana, bhante, mereka bertindak terhadap layon raja pemutar cakra?”
“Mereka, Ananda, membungkus layon raja pemutar cakra dengan kain linen baru. Setelah membungkusnya dengan kain linen baru, mereka membungkusnya dengan kapas sasak. Setelah membungkusnya dengan kapas sasak, mereka membungkusnya dengan kain linen baru. Setelah melakukannya sebanyak 500 kali, mereka menempatkan layon dalam bejana-minyak dari besi, menutupinya dengan penutup dari besi, dan membuat tumpukan kayu bakar sepenuhnya dari kayu wangi, serta mengremasi layonnya. Lalu mereka mendirikan sebuah stupa bagi raja pemutar cakra itu di perempatan jalan raya. Demikianlah mereka bertindak terhadap layon raja pemutar cakra. Sebagaimana mereka bertindak terhadap layon raja pemutar cakra, Ananda, demikianlah hendaknya bertindak terhadap layon Sang Tathagata. Sebuah stupa bagi Sang Tathagata hendaknya didirikan di perempatan jalan raya. Dan mereka yang membawa rangkaian bunga, wewangian, atau serbuk wangi ke sana, atau memberi hormat, atau mencerahi batin mereka di sana: itu akan menjadi kesejahteraan & kebahagiaan jangka panjang mereka.
“Empat orang ini, Ananda, layak atas sebuah stupa. Empat yang mana? Seorang Tathagata — arahat & swabangun dengan benar — layak atas sebuah stupa. Seorang Pacceka Buddha … Seorang siswa Sang Tathagata … Seorang raja pemutar cakra layak atas sebuah stupa.
“Dan untuk alasan apakah seorang Tathagata — arahat & swabangun dengan benar — layak atas sebuah stupa? [Dengan berpikir,] ‘Inilah stupa seorang Tathagata — arahat & swabangun dengan benar,’ orang banyak akan tercerahi batinnya. Setelah batin mereka tercerahi di sana, maka — sewaktu kehancuran tubuh, sesudah kematian — mereka akan muncul kembali dalam nasib baik, di alam surgawi. Untuk alasan inilah maka seorang Tathagata — arahat, swabangun dengan benar — layak atas sebuah stupa.
“Dan untuk alasan apakah seorang Pacceka Buddha layak atas sebuah stupa? [Dengan berpikir,] ‘Inilah stupa seorang Pacceka Buddha,’ orang banyak akan tercerahi batinnya. Setelah batin mereka tercerahi, maka — sewaktu kehancuran tubuh, sesudah kematian — mereka akan muncul kembali dalam nasib baik, di alam surgawi…
“Dan untuk alasan apakah seorang siswa Sang Tathagata layak atas sebuah stupa? [Dengan berpikir,] ‘Inilah stupa seorang siswa Sang Tathagata,’ orang banyak akan tercerahi batinnya. Setelah batin mereka tercerahi di sana, maka — sewaktu kehancuran tubuh, sesudah kematian — mereka akan muncul kembali dalam nasib baik, di alam surgawi…
“Dan untuk alasan apakah seorang raja pemutar cakra layak atas sebuah stupa? [Dengan berpikir,] ‘Inilah stupa seorang raja pemutar cakra,’ orang banyak akan tercerahi batinnya. Setelah batin mereka tercerahi di sana, maka — sewaktu kehancuran tubuh, sesudah kematian — mereka akan muncul kembali dalam nasib baik, di alam surgawi. Untuk alasan inilah maka seorang raja pemutar cakra layak atas sebuah stupa.
“Inilah, Ananda, empat orang yang layak atas sebuah stupa.”
Kesedihan Ananda
Kemudian YM Ananda, setelah masuk ke dalam bangunan, berdiri bersandar pada kusen pintu, menangis: “Beginilah aku, masih seorang pelajar (sekha), masih ada tugas untuk dikerjakan, dan parinibbana guruku akan terjadi — guruku yang penuh welas asih!”
Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan para bhikkhu, “Para bhikkhu, di manakah Ananda?”
“Bhante, YM Ananda, setelah masuk ke dalam bangunan, berdiri bersandar pada kusen pintu, menangis: “Beginilah aku, masih seorang pelajar (sekha), masih ada tugas untuk dikerjakan, dan parinibbana guruku akan terjadi — guruku yang penuh welas asih!”
Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan seorang bhikkhu, “Mari, bhikkhu. Atas namaku, panggillah Ananda, katakan, ‘Sang Guru memanggilmu, sobat.'”
“Baiklah, bhante.” Setelah bhikkhu itu menjawab Sang Bhagava, ia pergi kepada YM Ananda dan, ketika tiba, berkata, “Sang Guru memanggilmu, sobat.”
“Baiklah, sobat.” Setelah YM Ananda menjawab bhikkhu itu, ia pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Selagi ia duduk di sana, Sang Bhagava berkata kepadanya, “Cukup, Ananda. Jangan bersedih, jangan meratap. Bukankah aku telah mengajarkan sejak semula bahwa semua yang tersayang dan dicintai pasti menjadi berubah, menjadi berpisah, dan menjadi lain? Bagaimana lagi bisa diharapkan? Adalah mustahil bahwa pada apa yang dilahirkan, mengada, terbikin, & bersifat melapuk itu tidak melapuk.
“Dalam jangka yang panjang, Ananda, engkau telah meladeni Sang Tathagata melalui perbuatan jasmani, perkataan, & pikiran yang penuh cinta kasih — membantu & menyenangkan dengan sepenuh hati, tak terukur. Engkau telah berbuat kebajikan, Ananda. Berupayalah dengan sungguh-sungguh, dan segera engkau bebas dari noda-noda.”
Pujian terhadap Ananda
Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan para bhikkhu, “Para bhikkhu, mereka yang di masa lampau adalah arahat & swabangun dengan benar, Para Bhagava tersebut mempunyai pembantu utama, sebagaimana aku mempunyai Ananda. Dan juga mereka yang di masa depan akan menjadi arahat & swabangun dengan benar, Para Bhagava tersebut akan mempunyai pembantu utama, sebagaimana aku mempunyai Ananda. Ananda itu arif dan pandai, para bhikkhu. Ia mengetahui, ‘Inilah waktunya bagi para bhikkhu pergi untuk melihat Sang Tathagata. Inilah waktunya bagi para bhikkhuni, inilah waktunya bagi para upasaka, inilah waktunya bagi para upasika, inilah waktunya bagi para raja & menteri-menterinya, inilah waktunya bagi para guru aliran lain beserta para pengikutnya.
“Para bhikkhu, empat sifat yang menakjubkan & mengagumkan terdapat pada Ananda. Empat yang mana? Jika sekelompok bhikkhu pergi untuk melihat Ananda, mereka bergembira melihatnya. Jika ia berbicara Dhamma kepada mereka, mereka bergembira atas pembicaraannya. Sebelum mereka jenuh, ia membungkam. Jika sekelompok bhikkhuni pergi untuk melihat Ananda… Jika sekelompok upasaka pergi untuk melihat Ananda… Jika sekelompok upasika pergi untuk melihat Ananda, mereka bergembira melihatnya. Jika ia berbicara Dhamma kepada mereka, mereka bergembira atas pembicaraannya. Sebelum mereka jenuh, ia membungkam. Inilah, para bhikkhu, empat sifat yang menakjubkan & mengagumkan yang terdapat pada Ananda.
“Para bhikkhu, empat sifat yang menakjubkan & mengagumkan terdapat pada seorang raja pemutar cakra. Jika sekelompok ksatria ningrat pergi untuk melihatnya, mereka bergembira melihatnya. Jika ia berbicara kepada mereka, mereka bergembira atas pembicaraannya. Sebelum mereka jenuh, ia membungkam. Jika sekelompok brahmana pergi untuk melihatnya… Jika sekelompok perumah-tangga pergi untuk melihatnya… Jika sekelompok pertapa pergi untuk melihatnya, mereka bergembira melihatnya. Jika ia berbicara kepada mereka, mereka bergembira atas pembicaraannya. Sebelum mereka jenuh, ia membungkam. Demikian pula, para bhikkhu, empat sifat yang menakjubkan & mengagumkan ini terdapat pada Ananda. Jika sekelompok bhikkhu pergi untuk melihat Ananda, mereka bergembira melihatnya. Jika ia berbicara Dhamma kepada mereka, mereka bergembira atas pembicaraannya. Sebelum mereka jenuh, ia membungkam. Jika sekelompok bhikkhuni pergi untuk melihat Ananda… Jika sekelompok upasaka pergi untuk melihat Ananda… Jika sekelompok upasika pergi untuk melihat Ananda, mereka bergembira melihatnya. Jila ia berbicara Dhamma kepada mereka, mereka bergembira atas pembicaraannya. Sebelum mereka jenuh, ia membungkam. Inilah, para bhikkhu, empat sifat yang menakjubkan & mengagumkan yang terdapat pada Ananda.”
Kemegahan Masa Lampau dari Kusinara
Sewaktu ini telah dikatakan, YM Ananda berkata kepada Sang Bhagava, “Bhante, sudilah Sang Bhagava jangan berparinibbana di kota kecil ini, di kota berdebu ini, di kota pinggiran ini. Ada kota-kota besar lain, yakni — Campa, Rajagaha, Savatthi, Saketa, Kosambi, Vanarasi. Sudilah Sang Bhagava berparinibbana di sana. Di kota-kota itu ada banyak ksatria ningrat, brahmana, & perumah tangga kaya yang penuh keyakinan terhadap Sang Tathagata. Mereka yang akan melaksanakan pemujaan terhadap layon Sang Tathagata.”
“Jangan berkata demikian, Ananda. Jangan berkata demikian: ‘Kota kecil ini, kota berdebu ini, kota pinggiran ini.’ Di masa lampau, Ananda, seorang raja bernama Mahasudassana ialah raja pemutar cakra, seorang raja yang memerintah dengan adil, penakluk keempat penjuru, pemantap negerinya, dikaruniai dengan tujuh harta. Kusinara ini adalah ibu kotanya, bernama Kusavati: duabelas yojana panjangnya dari timur ke barat, tujuh yojana lebarnya dari utara ke selatan. Kusavati itu kuat, kaya & berpenduduk banyak, dipenuhi oleh manusia & makmur. Sebagaimana ibu kota para dewa bernama Alakamanda itu kuat, kaya & berpenduduk banyak, dipenuhi oleh yakkha & makmur; demikian pula, Kusavati itu kuat, kaya & berpenduduk banyak, dipenuhi oleh manusia & makmur. Siang atau malam, tidak kekurangan sepuluh suara, yakni — suara gajah, kuda, kereta, genderang, tambur, seruling, lagu, canang, gong, dan teriakan ‘Makan, minum, dan penganan!’ sebagai yang kesepuluh.
Ratapan Orang-orang Malla
“Pergilah engkau, Ananda. Setelah memasuki Kusinara, umumkanlah kepada orang-orang Malla dari Kusinara, ‘Hari ini, orang-orang Vasittha, di jaga terakhir malam ini, parinibbana Sang Tathagata akan terjadi. Keluarlah, orang-orang Vasittha! Keluarlah, orang-orang Vasittha! Jangan nanti sesalkan bahwa ‘Parinibbana Sang Tathagata terjadi di dalam perbatasan kota kita sendiri, namun kita tidak melihat beliau pada saat-saat terakhirnya!'”
Setelah menjawab, “Baiklah, bhante,” YM Ananda mengenakan jubah, dan membawa mangkuk serta jubah-atas, memasuki Kusinara tanpa pendamping. Adapun pada ketika itu orang-orang Malla dari Kusinara telah berkumpul untuk suatu hal di aula pertemuan mereka. YM Ananda pergi ke aula pertemuan dan, ketika tiba, mengumumkan kepada mereka, “Hari ini, orang-orang Vasittha, di jaga terakhir malam ini, parinibbana Sang Tathagata akan terjadi. Keluarlah, orang-orang Vasittha! Keluarlah, orang-orang Vasittha! Jangan nanti sesalkan bahwa ‘Parinibbana Sang Tathagata terjadi di dalam perbatasan kota kita sendiri, namun kita tidak melihat beliau pada saat-saat terakhirnya!'” Sewaktu mereka mendengar perkataan YM Ananda, orang-orang Malla beserta istri, anak-anak lelaki & perempuan mereka terkejut, bermuram durja, benak mereka diluapi oleh dukacita. Dengan rambut kusut, mereka menangis. Dengan lengan terangkat, mereka menangis. Dengan menghempaskan diri ke tanah, mereka berguling-guling, meratap, ‘Terlalu dini Sang Bhagava akan parinibbana! Terlalu dini Sang Sugata akan parinibbana! Terlalu dini Sang Mata akan sirna dari dunia!”
Kemudian orang-orang Malla beserta istri, anak-anak lelaki & perempuan mereka — terkejut, bermuram durja, benak mereka diluapi oleh dukacita — pergi kepada YM Ananda di Upavattana, di hutan sala orang-orang Malla. Lalu YM Ananda membatin: ‘Bila aku membiarkan orang-orang Malla bersujud kepada Sang Bhagava satu demi satu, malam akan berlalu sebelum mereka selesai bersujud. Bagaimana bila aku mengatur mereka agar bersujud kepada Sang Bhagava keluarga demi keluarga, [mengumumkan,] ‘Bhante, orang Malla bernama anu, beserta istri & anak-anaknya, pembantu & pelayan, bersujud di kaki Sang Bhagava.'” Maka YM Ananda mengatur mereka agar bersujud kepada Sang Bhagava keluarga demi keluarga, [mengumumkan,] “Bhante, orang Malla bernama anu, beserta istri & anak-anaknya, pembantu & pelayan, bersujud di kaki Sang Bhagava.”
Dengan demikian YM Ananda membuat orang-orang Malla selesai bersujud kepada Sang Bhagava di jaga pertama.
Subhadda si Pengembara
Adapun pada ketika itu Subhadda si pengembara tengah bersemayam di Kusinara. Ia mendengar, “Hari ini, di jaga terakhir malam ini, parinibbana Sang Tathagata akan terjadi.” Kemudian ia membatin: “Aku telah mendengar dari para pengembara tetua, guru dari guru, berkata bahwa sangat jarang sekali Para Tathagata — arahat, swabangun dengan benar — muncul di dunia. Hari ini, di jaga terakhir malam ini, parinibbana pertapa Gotama akan terjadi. Ada keraguan telah muncul pada diriku, namun aku punya keyakinan bahwa beliau bisa mengajarkanku Dhamma sedemikian hingga keraguanku ini bisa ditanggalkan.”
Maka ia pergi ke Upavattana, hutan sala orang-orang Malla dan, ketika tiba, berkata kepada YM Ananda, “Aku telah mendengar dari para pengembara tetua, guru dari guru, berkata bahwa sangat jarang sekali Para Tathagata — arahat, swabangun dengan benar — muncul di dunia. Hari ini, di jaga terakhir malam ini, parinibbana pertapa Gotama akan terjadi. Ada keraguan telah muncul pada diriku, namun aku punya keyakinan bahwa beliau bisa mengajarkanku Dhamma sedemikian hingga keraguanku ini bisa ditanggalkan. Adalah baik, YM Ananda, bila engkau perkenankan aku untuk melihat beliau.”
Sewaktu ini telah dikatakan, YM Ananda berkata kepadanya, “Cukup, sobat Subhadda. Jangan ganggu Sang Tathagata. Beliau letih.”
Untuk kedua kalinya… Untuk ketiga kalinya, Subhadda si pengembara berkata kepada YM Ananda, “… Adalah baik, YM Ananda, bila engkau perkenankan aku untuk melihat beliau.”
Untuk ketiga kalinya, YM Ananda berkata kepadanya, “Cukup, sobat Subhadda. Jangan ganggu Sang Tathagata. Beliau letih.’
Adapun Sang Bhagava saat itu mendengar pembicaraan antara YM Ananda dan Subhadda si pengembara. Lalu beliau mengamanatkan YM Ananda, “Cukup, Ananda. Jangan menghalanginya. Perkenankan ia untuk melihat Sang Tathagata. Apapun yang ia akan tanyakan, itu semua ia akan tanyakan demi pengetahuan, dan tidak mengganggu. Apapun jawaban yang kuberikan, itu akan dimengertinya dengan cepat.”
Maka YM Ananda berkata kepada Subhadda si pengembara, “Silahkan, sobat Subhadda. Sang Bhagava memberimu ijin.”
Kemudian Subhadda menghampiri Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah bertukar salam yang santun dengan beliau, disertai dengan banyak kata-kata sopan, duduk di satu sisi. Selagi duduk di sana, ia berkata kepada Sang Bhagava, “Bhante, para brahmana & pertapa ini, masing-masing dengan kelompoknya, masing-masing dengan pasamuannya, masing-masing guru dari kelompoknya, pemimpin yang terhormat, dihargai oleh orang banyak, yakni — Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sañjaya Belatthiputta, Nigantha Nataputta: Apakah mereka semua punya pengetahuan langsung sebagaimana yang mereka nyatakan, ataukah mereka semua tidak punya pengetahuan langsung, ataukah sebagian dari mereka punya pengetahuan langsung dan sebagian lagi tidak?”
“Cukup, Subhadda. Sisihkan pertanyaan itu. Aku akan mengajarkanmu Dhamma. Dengarkan dan perhatikan apa yang akan aku katakan.”
“Baiklah, bhante,” Subhadda menjawab. Dan Sang Bhagava berkata, “Dalam Dhamma & Vinaya apapun yang tidak ditemukan Jalan Mulia Berfaktor Delapan, pertapa tingkat pertama … kedua … ketiga .. keempat tidak ditemukan. Namun dalam Dhamma & Vinaya apapun yang ditemukan Jalan Mulia Berfaktor Delapan, pertapa tingkat pertama … kedua … ketiga … keempat ditemukan. Jalan Mulia Berfaktor Delapan ditemukan dalam Dhamma & Vinaya ini, dan di sini para pertapa tingkat pertama … kedua … ketiga … keempat ditemukan. Ajaran-ajaran yang lain kosong dari para pertapa yang berpengetahuan. Dan bila para bhikkhu bersemayam dengan benar, dunia takkan kosong dari para arahat.
“Pada usia duapuluh sembilan, Subhadda,
aku berkelana mencari apa yang cakap,
dan semenjak aku berkelana, Subhadda,
lebih dari limapuluh tahun telah lewat.
Di luar bidang Dhamma yang metodis,
tiada pertapa tingkat pertama.
“Dan tiada pertapa tingkat kedua … ketiga … keempat. Ajaran-ajaran yang lain kosong dari para pertapa yang berpengetahuan. Dan bila para bhikkhu bersemayam dengan benar, dunia takkan kosong dari para arahat.”
Kemudian Subhadda si pengembara berkata, “Baik sekali, bhante! Baik sekali, bhante! Persis seolah-olah Sang Bhagava menegakkan apa yang telah terguling, atau menyingkap apa yang tersembunyi, memperlihatkan jalan kepada orang yang tersesat, atau mengangkat lampu dalam kegelapan sehingga mereka yang bermata dapat melihat bentuk-bentuk, demikian pula Sang Bhagava telah — melalui beraneka pendekatan — menyinari Dhamma. Aku pergi berlindung kepada Sang Bhagava, kepada Dhamma, dan kepada Pasamuan para Bhikkhu. Perkenankan, bhante, aku berkelana dalam kehadiran Sang Bhagava, perkenankan aku ditahbiskan.”
“Siapapun, Subhadda, yang sebelumnya berasal dari aliran lain dan berharap untuk berkelana & ditahbiskan dalam Dhamma & Vinaya ini, mesti menjalani masa percobaan selama empat bulan. Bila, pada akhir empat bulan, para bhikkhu merasa tergerak, mereka mengabulkannya berkelana & menahbiskannya menjadi bhikkhu. Namun aku mengakui perbedaan antar perorangan dalam hal ini.”
“Bhante, bila demikian, aku berharap untuk menjalani masa percobaan selama empat tahun. Bila, pada akhir empat tahun, para bhikkkhu merasa tergerak, mereka mengabulkanku berkelana & menahbiskanku menjadi bhikkhu.”
Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan YM Ananda, “Sekarang, Ananda, kabulkan Subhadda berkelana.”
“Baiklah, bhante,” Ananda menjawab.
Kemudian Subhadda berkata kepada YM Ananda, “Sebuah keuntungan bagimu, sobat Ananda, sebuah rahmat bagimu, bahwa engkau telah diurapi menjadi siswa secara berwawanmuka dengan Sang Guru.”
Kemudian Subhadda si pengembara menerima pengelanaan & penahbisan dalam kehadiran Sang Bhagava. Dan tak lama sesudah penahbisannya — bersemayam sendirian, menyepi, waskita, tekun, & penuh tekad — ia segera masuk & bersemayam dalam tujuan kehidupan suci yang tiada taranya, yang untuk itu para putra kaum dengan benar berkelana dari kehidupan berumah ke tak-berumah, mengetahui dan menginsyafi itu untuk dirinya di sini dan sekarang. Ia mengetahui: “Kelahiran berakhir, kehidupan suci terpenuhi, tugas terlaksana. Tiada lagi demi dunia ini.” Dan dengan demikian YM Subhadda menjadi salah seorang dari para arahat, serta siswa terakhir yang disaksikan sendiri oleh Sang Bhagava.
Bagian Enam
Parinibbananya Sang Buddha

Kata-kata Terakhir Sang Tathagata

Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan YM Ananda, “Bila, Ananda, ada terlintas di antara kalian — ‘Ajaran telah hilang kewenangannya; kita tiada guru’ — jangan memandangnya demikian. Dhamma & Vinaya apapun yang telah kubabarkan & kurumuskan untuk kalian, itulah yang akan menjadi Guru kalian setelah aku pergi.
“Saat ini, para bhikkhu menyapa satu sama lain sebagai ‘sobat,’ namun setelah aku pergi mereka tidak boleh menyapa satu sama lain demikian. Para bhikkhu yang lebih senior menyapa bhikkhu yang lebih baru dengan nama atau marga mereka atau sebagai ‘sobat’ [aavuso]. Para bhikkhu yang lebih baru menyapa para bhikkhu yang lebih senior sebagai ‘yang terhormat’ [bhante] atau ‘yang mulia’ [aayasmaa].
“Setelah aku pergi, Sangha — bila menghendakinya — boleh menghapus aturan-aturan latihan yang lebih kecil & minor.
“Setelah aku pergi, bhikkhu Channa hendaknya diberi hukuman brahma.”
“Namun, bhante, apakah hukuman brahma itu?”
“Channa boleh bicara apa saja yang ia hendaki, Ananda, namun ia hendaknya jangan diajak bicara, ditegur, atau dinasihati.”
Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan para bhikkhu, ‘Bahkan bila ada satu bhikkhu pun yang punya keraguan atau kebimbangan mengenai Buddha, Dhamma, atau Sangha, mengenai jalan atau cara latihan, bertanyalah. Jangan nanti sesalkan bahwa ‘Sang Guru berwawanmuka dengan kami, namun demikian kami tidak bertanya dalam kehadirannya.'”
Sewaktu ini telah dikatakan, para bhikkhu membungkam.
Untuk kedua kalinya, … Untuk ketiga kalinya, Sang Bhagava berkata, ‘Bahkan bila ada satu bhikkhu pun yang punya keraguan atau kebimbangan mengenai Buddha, Dhamma, atau Sangha, mengenai jalan atau cara latihan, bertanyalah. Jangan nanti sesalkan bahwa ‘Sang Guru berwawanmuka dengan kami, namun demikian kami tidak bertanya dalam kehadirannya.'”
Untuk ketiga kalinya, para bhikkhu membungkam.
Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan para bhikkhu, “Bila karena rasa hormat terhadap Sang Guru kalian tidak bertanya, biarlah layaknya seorang sahabat memberitahu sahabatnya.”
Sewaktu ini telah dikatakan, para bhikkhu membungkam.
Kemudian YM Ananda berkata kepada Sang Bhagava, “Betapa menakjubkan, bhante! Betapa mengagumkan, bhante! Aku yakin bahwa dalam pasamuan para bhikkhu ini, bahkan tidak ada satu bhikkhu pun yang punya keraguan atau kebimbangan mengenai Buddha, Dhamma, atau Sangha, mengenai jalan atau cara latihan.”
“Engkau, Ananda, berbicara karena keyakinan; sedangkan, Sang Tathagata memiliki pengetahuan bahwa, dalam pasamuan para bhikkhu ini, tidak ada satu bhikkhu pun yang punya keraguan atau kebimbangan mengenai Buddha, Dhamma, atau Sangha, mengenai jalan atau cara latihan. Dari ke-500 bhikkhu ini, yang paling terbelakang pun adalah seorang pemasuk-arus, tidak bernasib menuju alam sengsara, secara pasti menuju Swakebangunan.”
Kemudian Sang Bhagava mengamanatkan para bhikkhu, “Maka kini, para bhikkhu, aku amanatkan kalian: Pengondisi-pengondisi terkena kelenyapan, berjuanglah melalui kewaskitaan [vayadhammaa sa”nkhaaraa, appamaadena sampaadethaa].” Itulah kata-kata terakhir Sang Tathagata.
Parinibbananya Sang Bhagava
Lalu Sang Bhagava memasuki jhana pertama. Keluar dari itu, beliau memasuki jhana kedua. Keluar dari itu, beliau memasuki jhana ketiga … jhana keempat … tataran ruang nirbatas … tataran kesadaran nirbatas … tataran ketiadaan … tataran tiada pencerapan tiada pula non-pencerapan. Keluar dari itu, beliau memasuki penghentian pencerapan & perasaan.
Kemudian YM Ananda berkata kepada YM Anuruddha, “Bhante Anuruddha, Sang Bhagava telah parinibbana.”
“Belum, sobat Ananda. Sang Bhagava belum parinibbana. Beliau telah memasuki penghentian pencerapan & perasaan.”
Kemudian keluar dari penghentian pencerapan & perasaan, beliau memasuki tataran tiada pencerapan tiada pula non-pencerapan. Keluar dari itu, beliau memasuki tataran ketiadaan … tataran kesadaran nirbatas … tataran ruang nirbatas … jhana keempat … jhana ketiga … jhana kedua … jhana pertama. Keluar dari jhana pertama, beliau memasuki jhana kedua … jhana ketiga … jhana keempat. Keluar dari jhana keempat, beliau segera parinibbana.
Sewaktu Sang Bhagava telah parinibbana, serentak dengan paranibbana itu, terjadilah sebuah gempa bumi yang dahsyat, mengerikan & mengejutkan, dan petir menggelegar.
Sewaktu Sang Bhagava telah parinibbana, serentak dengan parinibbana itu, Brahma Sahampati melafalkan syair ini:
“Semua insan di dunia,
akan membuang tumpukan jasmaninya.
Bahkan Sang Guru seperti beliau,
yang tiada taranya di dunia.
Sang Tathagata peraih kekuatan,
Yang Swabangun telah parinibbana.”
Sewaktu Sang Bhagava telah parinibbana, serentak dengan parinibbana itu, Sakka, penguasa para dewa, melafalkan syair ini:
“Betapa tidak kekalnya pengondisi-pengondisi,
sifatnya muncul & lenyap.
Setelah timbul lantas berhenti.
Penenangan sepenuhnya itu kebahagiaan.”
Sewaktu Sang Bhagava telah parinibbana, serentak dengan parinibbana itu, YM Anuruddha melafalkan syair ini:
“Tiada nafas masuk-&-keluar,
Yang Demikian, berpikiran kokoh,
tak bergeming & condong pada kedamaian:
Yang Bijak meninggal dunia.
Dengan pikiran teguh, memikul rasa sakitnya.
Layaknya kobaran yang padam, pembebasan hati.”
Sewaktu Sang Bhagava telah parinibbana, serentak dengan parinibbana itu, YM Ananda melafalkan syair ini:
“Tadi membangkitkan rasa kagum,
tadi menegakkan bulu roma,
Mempertunjukkan semua pencapaian tertinggi,
Yang Swabangun telah parinibbana.”
Sewaktu Sang Bhagava telah parinibbana, serentak dengan parinibbana itu, beberapa bhikkhu yang belum bebas dari nafsu, dengan lengan terangkat, menangis. Dengan menghempaskan diri ke tanah, mereka berguling-guling, meratap, ‘Terlalu dini Sang Bhagava telah parinibbana! Terlalu dini Sang Sugata telah parinibbana! Terlalu dini Sang Mata telah sirna dari dunia!’ Namun para bhikkhu yang bebas dari nafsu menerimanya, eling & waspada: “Pengondisi-pengondisi tidaklah kekal. Bagaimana lagi bisa diharapkan?”
Kemudian YM Anuruddha mengamanatkan para bhikkhu, “Cukup, sobat. Jangan bersedih, jangan meratap. Bukankah Sang Bhagava telah mengajarkan sejak semula bahwa semua yang tersayang dan dicintai pasti menjadi berubah, menjadi berpisah, dan menjadi lain? Bagaimana lagi bisa diharapkan? Adalah mustahil bahwa pada apa yang dilahirkan, mengada, terbikin, & bersifat melapuk itu tidak melapuk. Para dewa, sobat, tengah mengeluh.”
“Namun, YM Anuruddha, bagaimana keadaan para dewa yang engkau perhatikan itu?”
“Sobat Ananda, terdapat para dewa yang mencerap angkasa sebagai tanah. Dengan rambut kusut, mereka menangis. Dengan lengan terangkat, mereka menangis. Dengan menghempaskan diri ke tanah, mereka berguling-guling, meratap, ‘Terlalu dini Sang Bhagava telah parinibbana! Terlalu dini Sang Sugata telah parinibbana! Terlalu dini Sang Mata telah sirna dari dunia!’ Kemudian terdapat para dewa yang mencerap tanah sebagai tanah. Dengan rambut kusut, mereka menangis. Dengan lengan terangkat, mereka menangis. Dengan menghempaskan diri ke tanah, mereka berguling-guling, meratap, ‘Terlalu dini Sang Bhagava telah parinibbana! Terlalu dini Sang Sugata telah parinibbana! Terlalu dini Sang Mata telah sirna dari dunia!’ Namun para dewa yang bebas dari nafsu menerimanya, eling & waspada: ‘Pengondisi-pengondisi tidaklah kekal. Bagaimana lagi bisa diharapkan?'”
Kemudian YM Anuruddha & YM Ananda menghabiskan sisa malam dengan berbincang Dhamma.
Lalu YM Anuruddha mengamanatkan YM Ananda, “Pergilah, sobat Ananda. Setelah memasuki Kusinara, umumkanlah kepada orang-orang Malla dari Kusinara, ‘Sang Bhagava, orang-orang Vasittha, telah parinibbana. Lakukanlah kini apa yang kalian anggap tepat waktunya.'”
Menanggapi, “Baiklah, bhante,” YM Ananda di pagi hari mengenakan jubah, dan membawa mangkuk serta jubah-atas, pergi tanpa pendamping ke Kusinara. Adapun pada ketika itu orang-orang Malla dari Kusinara telah berkumpul untuk suatu hal di aula pertemuan mereka. YM Ananda pergi ke aula pertemuan dan, ketika tiba, mengumumkan kepada mereka, “Sang Bhagava, orang-orang Vasittha, telah parinibbana. Lakukanlah kini apa yang kalian anggap tepat waktunya.'”
Sewaktu mereka mendengar perkataan YM Ananda, orang-orang Malla beserta istri, anak-anak lelaki & perempuan mereka terkejut, bermuram durja, pikiran mereka diluapi oleh dukacita. Dengan rambut kusut, mereka menangis. Dengan lengan terangkat, mereka menangis. Dengan menghempaskan diri ke tanah, mereka berguling-guling, meratap, ‘Terlalu dini Sang Bhagava telah parinibbana! Terlalu dini Sang Sugata telah parinibbana! Terlalu dini Sang Mata telah sirna dari dunia!”
Pemujaan terhadap Layon Sang Buddha
Lalu orang-orang Malla dari Kusinara memerintahkan orang-orang mereka, “Ayo sekarang kumpulkan wewangian, rangkaian bunga, & semua alat musik di Kusinara!” Kemudian, dengan membawa wewangian, rangkaian bunga, & semua alat musik di Kusinara, beserta 500 helai kain, orang-orang Malla dari Kusinara pergi ke layon Sang Bhagava di Upavattana, hutan sala orang-orang Malla. Ketika tiba, mereka menghabiskan satu hari untuk memuja, menghormati, menghargai, & menjunjung layon Sang Bhagava dengan tari-tarian, lagu-lagu, musik, rangkaian bunga, & wewangian, serta membuat tirai kain dan karangan bunga. Kemudian mereka membatin, “Terlalu terlambat untuk mengremasi layon Sang Bhagava. Kita akan mengremasi layon Sang Bhagava esok hari.” Kemudian mereka menghabiskan hari kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam untuk memuja, menghormati, menghargai, & menjunjung layon Sang Bhagava dengan tari-tarian, lagu-lagu, musik, rangkaian bunga, & wewangian, serta membuat tirai kain dan karangan bunga.
Kemudian pada hari ketujuh mereka membatin, “Kita telah memuja, menghormati, menghargai, & menjunjung layon Sang Bhagava dengan tari-tarian, lagu-lagu, musik, rangkaian bunga, & wewangian, marilah kita sekarang membawanya ke selatan, ke sekitar sisi kota, dan mengremasinya di selatan kota.”
Kemudian delapan pemuka orang-orang Malla, setelah memandikan kepala mereka dan mengenakan kain linen baru, berpikir, “Kami akan mengangkat layon Sang Bhagava,” namun tidak mampu mengangkatnya. Maka orang-orang Malla dari Kusinara bertanya kepada YM Anuruddha, “Apakah alasannya, bhante Anuruddha, apakah sebabnya, mengapa delapan pemuka orang-orang Malla ini, setelah memandikan kepala mereka dan mengenakan kain linen baru, berpikir, ‘Kami akan mengangkat layon Sang Bhagava,’ namun tidak mampu mengangkatnya?”
“Kalian, orang-orang Vasittha, punya sebuah kehendak. Para dewa punya kehendak yang lain.”
“Namun bagaimanakah, bhante, kehendak para dewa?”
“Kehendak kalian, orang-orang Vasittha, adalah, ‘Kita telah memuja, menghormati, menghargai, & menjunjung layon Sang Bhagava dengan tari-tarian, lagu-lagu, musik, rangkaian bunga, & wewangian, marilah kita sekarang membawanya ke selatan, ke sekitar sisi kota, dan mengremasinya di selatan kota.’ Kehendak para dewa adalah, ‘Kita telah memuja, menghormati, menghargai, & menjunjung layon Sang Bhagava dengan tari-tarian, lagu-lagu, musik, rangkaian bunga, & wewangian surgawi, marilah kita sekarang membawanya ke utara kota, memasuki kota lewat gerbang utara, membawanya lewat tengah kota dan keluar gerbang timur ke cetiya orang-orang Malla bernama Makuta-bandhana, untuk mengremasinya di sana.'”
“Kalau demikian, bhante, biarlah sesuai dengan kehendak para dewa.”
Adapun pada ketika itu di Kusinara — bahkan sampai ke tumpukan sampah & pecomberan — ditaburi bunga-bunga mandarava sampai setinggi lutut. Maka para dewa & orang-orang Malla, memuja, menghormati, menghargai, & menjunjung layon Sang Bhagava dengan tari-tarian, lagu-lagu, musik, rangkaian bunga, & wewangian baik surgawi maupun manusiawi, membawanya ke utara kota, memasuki kota lewat gerbang utara, membawanya lewat tengah kota dan keluar gerbang timur ke cetiya orang-orang Malla bernama Makuta-bandhana. Di sana mereka meletakkan layon Sang Bhagava.
Kemudian orang-orang Malla dari Kusinara berkata kepada YM Ananda, “Bagaimana, bhante, hendaknya kami bertindak terhadap layon Sang Tathagata?”
“Sebagaimana mereka bertindak terhadap layon raja pemutar cakra, orang-orang Vasittha, demikianlah hendaknya bertindak terhadap layon Sang Tathagata.”
“Dan bagaimana, bhante, mereka bertindak terhadap layon raja pemutar cakra?”
“Mereka, orang-orang Vasittha, membungkus layon raja pemutar cakra dengan kain linen baru. Setelah membungkusnya dengan kain linen baru, mereka membungkusnya dengan kapas sasak. Setelah membungkusnya dengan kapas sasak, mereka membungkusnya dengan kain linen baru. Setelah melakukannya sebanyak 500 kali, mereka menempatkan layon dalam bejana-minyak dari besi, menutupinya dengan penutup dari besi, dan membuat tumpukan kayu bakar sepenuhnya dari kayu wangi, serta mengremasi layonnya. Lalu mereka mendirikan sebuah stupa bagi raja pemutar cakra itu di perempatan jalan raya. Demikianlah mereka bertindak terhadap layon raja pemutar cakra. Sebagaimana mereka bertindak terhadap layon raja pemutar cakra, orang-orang Vasittha, demikianlah hendaknya bertindak terhadap layon Sang Tathagata. Sebuah stupa bagi Sang Tathagata hendaknya didirikan di perempatan jalan raya. Dan mereka yang membawa rangkaian bunga, wewangian, atau serbuk wangi ke sana, atau memberi hormat, atau mencerahi batin mereka di sana: itu akan menjadi kesejahteraan & kebahagiaan jangka panjang mereka.”
Maka orang-orang Malla dari Kusinara memerintahkan orang-orang mereka, “Ayo sekarang kumpulkan kapas sasak kita.”
Kemudian mereka membungkus layon Sang Bhagava dengan kain linen baru. Setelah membungkusnya dengan kain linen baru, mereka membungkusnya dengan kapas sasak. Setelah membungkusnya dengan kapas sasak, mereka membungkusnya dengan kain linen baru. Setelah melakukannya sebanyak 500 kali, mereka menempatkan layon dalam bejana-minyak dari besi, menutupinya dengan penutup dari besi, dan membuat tumpukan kayu bakar sepenuhnya dari kayu wangi, serta meletakkan layon Sang Bhagava di atasnya.
Keadaan Maha Kassapa Thera
Adapun pada ketika itu YM Maha Kassapa tengah menempuh perjalanan dari Pava ke Kusinara beserta sejumlah besar pasamuan para bhikkhu, sebanyak 500 bhikkhu. Setelah menepi dari jalan, ia duduk di kaki sebuah pohon. Pada saat itu, seorang pertapa telanjang, dengan membawa bunga mandarava dari Kusinara, tengah menempuh perjalanan ke Pava. YM Maha Kassapa melihat pertapa telanjang itu datang dari kejauhan dan, ketika berhadapan, bertanya kepadanya, “Apakah engkau mengenal guru kami, sobat?”
“Ya, sobat, aku mengenalnya. Tujuh hari yang lalu pertapa Gotama telah parinibbana. Oleh sebab itulah aku mendapatkan bunga mandarava ini.”
Dengan demikian, beberapa dari bhikkhu yang belum bebas dari nafsu, dengan lengan terangkat, menangis. Dengan menghempaskan diri ke tanah, mereka berguling-guling, meratap, ‘Terlalu dini Sang Bhagava telah parinibbana! Terlalu dini Sang Sugata telah parinibbana! Terlalu dini Sang Mata telah sirna dari dunia!’ Namun para bhikkhu yang bebas dari nafsu menerimanya, eling & waspada: “Pengondisi-pengondisi tidaklah kekal. Bagaimana lagi bisa diharapkan?”
Adapun pada ketika itu seorang bhikkhu bernama Subhadda yang berkelana sesudah lanjut usia tengah duduk di tengah kelompok. Ia berkata kepada para bhikkhu, “Cukup, sobat-sobat. Jangan bersedih, jangan meratap. Baguslah kita terbebas dari Pertapa Agung itu. Kita telah ditindas oleh [perkataannya], ‘Ini boleh. Ini tidak boleh.’ Namun kini kita bisa melakukan apa yang kita inginkan, dan tidak melakukan apa yang tidak kita inginkan.”
Kemudian YM Maha Kassapa mengamanatkan para bhikkhu, “Cukup, sobat-sobat. Jangan bersedih, jangan meratap. Bukankah Sang Bhagava telah mengajarkan sejak semula bahwa semua yang tersayang dan dicintai pasti menjadi berubah, menjadi berpisah, dan menjadi lain? Bagaimana lagi bisa diharapkan? Adalah mustahil bahwa pada apa yang dilahirkan, mengada, terbikin, & bersifat melapuk itu tidak melapuk.”
Kemudian empat pemuka orang-orang Malla, setelah memandikan kepala mereka dan mengenakan kain linen baru, berpikir, “Kami akan menyalakan tumpukan kayu bakar Sang Bhagava,” namun tidak mampu menyalakannya. Maka orang-orang Malla dari Kusinara bertanya kepada YM Anuruddha, “Apakah alasannya, bhante Anuruddha, apakah sebabnya, mengapa empat pemuka orang-orang Malla ini, setelah memandikan kepala mereka dan mengenakan kain linen baru, berpikir, ‘Kami akan menyalakan tumpukan kayu bakar Sang Bhagava,’ namun tidak mampu menyalakannya?”
“Para dewa, orang-orang Vasittha, punya kehendak yang lain.”
“Namun bagaimanakah, bhante, kehendak para dewa?”
“Kehendak para dewa, orang-orang Vasittha, adalah, ‘YM Maha Kassapa ini tengah menempuh perjalanan dari Pava ke Kusinara beserta sejumlah besar pasamuan para bhikkhu, sebanyak 500 bhikkhu. Tumpukan kayu bakar Sang Bhagava tidak akan menyala sampai YM Maha Kassapa telah bersujud di kaki Sang Bhagava.'”
“Kalau demikian, bhante, biarlah sesuai dengan kehendak para dewa.”
Kemudian YM Maha Kassapa pergi ke tumpukan kayu bakar Sang Bhagava di Makuta-bandhana, cetiya orang-orang Malla dekat Kusinara. Ketika tiba, setelah mengatur jubah menutupi satu bahu, ia merangkapkan tangan di depan dada, mengelilingi tumpukan kayu bakar di sebelah kanannya tiga kali, dan bersujud di kaki Sang Bhagava. Ke-500 bhikkhu, setelah mengatur jubah menutupi satu bahu, merangkapkan tangan di depan dada, mengelilingi tumpukan kayu bakar di sebelah kanannya tiga kali, dan bersujud di kaki Sang Bhagava. Segera setelah disujudi oleh YM Maha Kassapa dan ke-500 bhikkhu, tumpukan kayu bakar Sang Bhagava menyala sendiri. Adapun ketika layon Sang Bhagava telah terbakar, tiada jelaga atau abu dari kulit luar, kulit dalam, daging, urat, atau minyak persendian yang dapat terlihat. Hanya relik-relik tulang yang tersisa. Sebagaimana ketika ghee atau minyak terbakar, tiada jelaga atau abu yang dapat terlihat; demikian pula, ketika layon Sang Bhagava terbakar, tiada jelaga atau abu dari kulit luar, kulit dalam, daging, urat, atau minyak persendian yang dapat terlihat. Hanya relik-relik tulang yang tersisa. Sedangkan dari ke-500 pembungkus linen hanya dua yang tidak terbakar: bagian paling luar & paling dalam.
Ketika layon Sang Bhagava telah terbakar habis, air mengguyur dari angkasa, memadamkan tumpukan kayu bakar Sang Bhagava. Air juga memancar dari pohon sala, memadamkan tumpukan kayu bakar Sang Bhagava. Orang-orang Malla dari Kusinara, dengan segala jenis air wangi, memadamkan tumpukan kayu bakar Sang Bhagava. Kemudian selama tujuh hari mereka menyimpan relik-relik tulang di aula pertemuan — mengelilinginya dengan kisi-kisi tombak & melingkunginya dengan pagar panah — memuja, menghormati, menghargai, & menjunjungnya dengan tari-tarian, lagu-lagu, musik, rangkaian bunga, & wewangian.
Pembagian Relik-relik
Kemudian Raja Ajatasattu Vedehiputta dari Magadha mendengar, “Sang Bhagava konon telah parinibbana di Kusinara.” Maka ia mengirim duta kepada orang-orang Malla dari Kusinara: “Sang Bhagava berkasta ksatria ningrat, aku pun berkasta ksatria ningrat. Aku pantas menerima bagian dari relik-relik tulang Sang Bhagava. Aku pun akan mendirikan stupa dan mengadakan upacara baginya.”
Orang-orang Licchavi dari Vesali mendengar, “Sang Bhagava konon telah parinibbana di Kusinara.” Maka mereka mengirim duta kepada orang-orang Malla dari Kusinara: “Sang Bhagava berkasta ksatria ningrat, kami pun berkasta ksatria ningrat. Kami pantas menerima bagian dari relik-relik tulang Sang Bhagava. Kami pun akan mendirikan stupa dan mengadakan upacara baginya.”
Orang-orang Sakya dari Kapilavatthu mendengar, “Sang Bhagava konon telah parinibbana di Kusinara.” Maka mereka mengirim duta kepada orang-orang Malla dari Kusinara: “Sang Bhagava adalah kerabat kami yang teragung. Kami pantas menerima bagian dari relik-relik tulang Sang Bhagava. Kami pun akan mendirikan stupa dan mengadakan upacara baginya.”
Orang-orang Buli dari Allakappa mendengar, “Sang Bhagava konon telah parinibbana di Kusinara.” Maka mereka mengirim duta kepada orang-orang Malla dari Kusinara: “Sang Bhagava berkasta ksatria ningrat, kami pun berkasta ksatria ningrat. Kami pantas menerima bagian dari relik-relik tulang Sang Bhagava. Kami pun akan mendirikan stupa dan mengadakan upacara baginya.”
Orang-orang Koliya dari Ramagama mendengar, “Sang Bhagava konon telah parinibbana di Kusinara.” Maka mereka mengirim duta kepada orang-orang Malla dari Kusinara: “Sang Bhagava berkasta ksatria ningrat, kami pun berkasta ksatria ningrat. Kami pantas menerima bagian dari relik-relik tulang Sang Bhagava. Kami pun akan mendirikan stupa dan mengadakan upacara baginya.”
Brahmana dari Pulau Vetha mendengar, “Sang Bhagava konon telah parinibbana di Kusinara.” Maka ia mengirim duta kepada orang-orang Malla dari Kusinara: “Sang Bhagava berkasta ksatria ningrat, aku berkasta brahmana. Aku pantas menerima bagian dari relik-relik tulang Sang Bhagava. Aku pun akan mendirikan stupa dan mengadakan upacara baginya.”
Orang-orang Malla dari Pava mendengar, “Sang Bhagava konon telah parinibbana di Kusinara.” Maka mereka mengirim duta kepada orang-orang Malla dari Kusinara: “Sang Bhagava berkasta ksatria ningrat, kami pun berkasta ksatria ningrat. Kami pantas menerima bagian dari relik-relik tulang Sang Bhagava. Kami pun akan mendirikan stupa dan mengadakan upacara baginya.”
Sewaktu ini telah dikatakan, orang-orang Malla dari Kusinara berkata kepada kelompok-kelompok itu, “Sang Bhagava telah parinibbana di dalam perbatasan kota kami sendiri. Kami takkan memberi bagian dari relik-relik tulang Sang Bhagava.”
Ketika ini telah dikatakan, Brahmana Dona berkata kepada kelompok-kelompok itu,
“Dengarkan, tuan-tuan, pada sepatah kataku.
Sang Buddha mengajarkan kita kesabaran,
Tidaklah baik bila ada perselisihan
karena relik-relik Orang Utama.
Mari kita semua, tuan-tuan, secara bersahabat
sepakat untuk membuat delapan bagian.
Hingga stupa-stupa ada di berbagai penjuru,
dan orang banyak tumbuh keyakinan terhadap Sang Mata.”
“Kalau demikian, brahmana, engkau sajalah yang membagi relik-relik Sang Bhagava ke dalam delapan bagian yang sama.”
Menanggapi, “Baiklah, tuan-tuan,” kepada kelompok-kelompok itu, Brahmana Dona membagi relik-relik tulang Sang Bhagava ke dalam delapan bagian yang sama, dan berkata kepada kelompok-kelompok itu, “Tuan-tuan, berikanlah aku piala ini. Aku akan mendirikan stupa dan mengadakan upacara bagi piala ini.” Mereka memberikannya piala itu.
Kemudian orang-orang Moriya dari Pipphalivana mendengar, “Sang Bhagava konon telah parinibbana di Kusinara.” Maka mereka mengirim duta kepada orang-orang Malla dari Kusinara: “Sang Bhagava berkasta ksatria ningrat, kami pun berkasta ksatria ningrat. Kami pantas menerima bagian dari relik-relik tulang Sang Bhagava. Kami pun akan mendirikan stupa dan mengadakan upacara baginya.”
“Tiada [sisa] bagian dari relik-relik tulang Sang Bhagava; relik-relik tulang Sang Bhagava telah dibagi-bagi. Ambillah arang-arangnya dari sini.” Dan mereka pun mengambil arang-arangnya dari sana.
Kemudian Raja Ajatasattu Vedehiputta dari Magadha mendirikan stupa dan mengadakan upacara bagi relik-relik Sang Bhagava di Rajagaha.
Orang-orang Licchavi dari Vesali mendirikan stupa dan mengadakan upacara bagi relik-relik Sang Bhagava di Vesali.
Orang-orang Sakya dari Kapilavatthu mendirikan stupa dan mengadakan upacara bagi relik-relik Sang Bhagava di Kapilavatthu.
Orang-orang Buli dari Allakappa mendirikan stupa dan mengadakan upacara bagi relik-relik Sang Bhagava di Allakappa.
Orang-orang Koliya dari Ramagama mendirikan stupa dan mengadakan upacara bagi relik-relik Sang Bhagava di Ramagama.
Brahmana dari Pulau Vettha mendirikan stupa dan mengadakan upacara bagi relik-relik Sang Bhagava di Pulau Vettha.
Orang-orang Malla dari Pava mendirikan stupa dan mengadakan upacara bagi relik-relik Sang Bhagava di Pava.
Orang-orang Malla dari Kusinara mendirikan stupa dan mengadakan upacara bagi relik-relik Sang Bhagava di Kusinara.
Brahmana Dona mendirikan stupa dan mengadakan upacara bagi pialanya.
Orang-orang Moriya dari Pipphalivana mendirikan stupa dan mengadakan upacara bagi arang-arangnya di Pipphalivana.
Maka terdapat delapan stupa bagi relik-relik tulang, yang kesembilan bagi pialanya, dan kesepuluh bagi arang-arangnya.
Demikianlah kejadiannya pada masa lalu.

Posted 25/04/2012 by chandra2002id in Naskah Dharma

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s