Kayagatasati Sutta   Leave a comment

Kayagatasati Sutta

Kayagatasati Sutta
Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam dekat Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Adapun pada waktu itu sejumlah besar bhikkhu, sehabis bersantap, sekembalinya dari pencarian makanan sedekah, telah berkumpul di aula pertemuan tatkala perbincangan ini timbul: “Betapa menakjubkan, sobat-sobat! Betapa mengagumkan! Sejauh mana keelingan terbenam dalam jasmani yang terkembang dan terolah, dikatakan oleh Sang Bhagava — yang mengetahui, melihat, arahat dan swabangun dengan benar — berbuah besar dan berfaedah besar.” Dan perbincangan ini tidak mencapai kesimpulan.

Lalu Sang Bhagava, keluar dari penyepian beliau di sore hari, pergi ke aula pertemuan dan, ketika tiba, duduk di tempat duduk yang dipersiapkan. Selagi duduk di sana, beliau mengamanatkan para bhikkhu: “Untuk topik apakah kalian kini berkumpul, dan perbincangan apakah yang tidak mencapai kesimpulan?”

“Baru saja, bhante, sehabis bersantap, sekembalinya dari pencarian makanan sedekah, kami berkumpul di aula pertemuan tatkala perbincangan ini timbul: ‘Betapa menakjubkan, sobat-sobat! Betapa mengagumkan! Sejauh mana keelingan terbenam dalam jasmani yang terkembang & terolah, dikatakan oleh Sang Bhagava — yang mengetahui, melihat, arahat & swabangun dengan benar — berbuah besar dan berfaedah besar.’ Inilah perbincangan yang tidak mencapai kesimpulan ketika Sang Bhagava tiba.”

[Sang Bhagava berkata:] “Dan bagaimanakah keelingan terbenam dalam jasmani dikembangkan, bagaimanakah itu diolah, agar berbuah besar & berfaedah besar? “Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu — setelah pergi ke belantara, ke kaki pohon, atau ke bangunan kosong — duduk bersila, menahan tegak tubuhnya, dan meneguhkan keelingan di hadapan. Selalu eling ia menarik nafas; eling ia menghembuskan nafas.

“Menarik nafas panjang ia mengetahui, ‘Aku menarik nafas panjang;’ atau, menghembuskan nafas panjang ia mengetahui, ‘Aku menghembuskan nafas panjang.’ Atau menarik nafas pendek ia mengetahui, ‘Aku menarik nafas pendek;’ atau, menghembuskan nafas pendek ia mengetahui, ‘Aku menghembuskan nafas pendek.’ Ia berlatih, ‘Aku akan menarik nafas peka terhadap seluruh jasmani.’ Ia berlatih, ‘Aku akan menghembuskan nafas peka terhadap seluruh jasmani.’ Ia berlatih, ‘Aku akan menarik nafas menenangkan pengondisi jasmani (nafas keluar-masuk).’ Ia berlatih, ‘Aku akan menghembuskan nafas menenangkan pengondisi jasmani.’ Dan selagi ia bersemayam waskita, tekun, dan penuh upaya demikian, segala ingatan dan itikad kehidupan rumah-tangga dilepaskan, dan tatkala itu terlepas hatinya mengumpul dan menetap ke dalam, manunggal dan terpusat. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan keelingan terbenam dalam jasmani.

“Lebih lanjut, seorang bhikkhu tatkala berjalan, ia mengetahui ‘aku berjalan.’ Tatkala berdiri, ia mengetahui ‘aku berdiri.’ Tatkala duduk, ia mengetahui ‘aku duduk.’ Tatkala berbaring, ia mengetahui ‘aku berbaring.’ Atau bagaimanapun sikap jasmaninya, begitulah ia mengetahuinya. Dan selagi ia bersemayam waskita, tekun, dan penuh upaya demikian, segala ingatan dan itikad kehidupan rumah-tangga dilepaskan, dan tatkala itu terlepas hatinya mengumpul dan menetap ke dalam, manunggal dan terpusat. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan keelingan terbenam dalam jasmani.

“Lebih lanjut, para bhikkhu, seorang bhikkhu tatkala berjalan maju dan mundur ia menerapkan kewaspadaan; tatkala memandang ke depan dan ke samping ia menerapkan kewaspadaan … tatkala melentur dan menjulur … tatkala membawa mantel luar, jubah atas dan mangkuknya … tatkala makan, minum, mengunyah, dan mengecap … tatkala membuang air besar dan kecil … tatkala berjalan, berdiri, duduk, (pergi) tidur, terjaga, berbicara, dan membungkam ia menerapkan kewaspadaan. Dan selagi ia bersemayam waskita, tekun, dan penuh upaya demikian, segala ingatan & itikad kehidupan rumah-tangga dilepaskan, dan tatkala itu terlepas hatinya mengumpul dan menetap ke dalam, manunggal dan terpusat. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan keelingan terbenam dalam jasmani.

“Lebih lanjut, para bhikkhu, seorang bhikkhu merenungkan jasmaninya ini dari telapak kaki ke atas, dari ubun-ubun kepala ke bawah, diselubungi kulit dan penuh dengan berbagai macam barang tak bersih: ‘Dalam tubuh ini terdapat rambut kepala, rambut badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum tulang, ginjal, jantung, hati, selaput paru, limpa, paru-paru, usus besar, usus kecil, kerongkongan, tinja, empedu, ingus, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak kulit, air liur, lendir, cairan sendi, air seni.’ Umpamanya sebuah karung yang bercelah pada kedua ujungnya penuh berbagai macam bebijian — gandum, beras, kacang hijau, kacang merah, wijen, gabah — dan seorang dengan penglihatan bagus, menumpahkannya keluar, serta merenungkan, ‘Ini gandum. Ini beras. Ini kacang hijau. Ini kacang merah. Ini wijen. Ini gabah;’ begitu pula, seorang bhikkhu merenungkan jasmaninya ini dari telapak kaki ke atas, dari ubun-ubun kepala ke bawah, diselubungi kulit dan penuh dengan berbagai macam barang tak bersih: ‘Dalam tubuh ini terdapat rambut kepala, rambut badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum tulang, ginjal, jantung, hati, selaput paru, limpa, paru-paru, usus besar, usus kecil, kerongkongan, tinja, empedu, ingus, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak kulit, air liur, lendir, cairan sendi, air seni.’ Dan selagi ia bersemayam waskita, tekun, dan penuh upaya demikian, segala ingatan dan itikad kehidupan rumah-tangga dilepaskan, dan tatkala itu terlepas hatinya mengumpul dan menetap ke dalam, manunggal dan terpusat. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan keelingan terbenam dalam jasmani.

“Lebih lanjut, seorang bhikkhu merenungkan jasmaninya ini — bagaimanapun berdirinya, bagaimanapun sikapnya — melalui elemennya: ‘Dalam jasmani ini terdapat elemen tanah, elemen cair, elemen api, dan elemen angin.’ Umpamanya seorang penjagal terampil atau muridnya, setelah membunuh seekor lembu, duduk di perempatan jalan memotongnya menjadi bagian-bagian; begitu pula, seorang bhikkhu merenungkan jasmaninya ini — bagaimanapun berdirinya, bagaimanapun sikapnya — melalui elemennya: ‘Dalam jasmani ini terdapat elemen tanah, elemen cair, elemen api, dan elemen angin.’ Dan selagi ia bersemayam waskita, tekun, dan penuh upaya demikian, segala ingatan dan itikad kehidupan rumah-tangga dilepaskan, dan tatkala itu terlepas hatinya mengumpul dan menetap ke dalam, manunggal dan terpusat. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan keelingan terbenam dalam jasmani.

“Lebih lanjut, seorang bhikkhu umpamanya melihat mayat yang tercampak di tanah pekuburan — satu hari, dua hari, tiga hari mati — bengkak, pucat membiru, dan membusuk, ia menerapkannya pada jasmaninya ini, ‘Jasmani ini pun beginilah sifatnya, beginilah nantinya, beginilah takdirnya.’ Dan selagi ia bersemayam waskita, tekun, dan penuh upaya demikian, segala ingatan dan itikad kehidupan rumah-tangga dilepaskan, dan tatkala itu terlepas hatinya mengumpul dan menetap ke dalam, manunggal dan terpusat. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan keelingan terbenam dalam jasmani.

“Lebih lanjut, seorang bhikkhu umpamanya melihat mayat yang tercampak di tanah pekuburan, digerogoti burung-burung gagak, nasar, dan elang, oleh anjing-anjing, dubuk-dubuk, dan berbagai binatang lain … jerangkong berlumur daging dan darah, tersambung urat … jerangkong tanpa daging yang berlumur darah, tersambung urat … jerangkong tanpa daging atau darah, tersambung urat … tulang belulang lepas dari uratnya, terpencar di segala penjuru — di sini tulang tangan, di sana tulang kaki, di situ tulang kering, di sini tulang paha, di sana tulang panggul, di situ tulang belakang, di sini tulang iga, di sana tulang dada, di situ tulang bahu, di sini tulang leher, di sana tulang rahang, di situ gigi, di sini tengkorak … tulang belulang memutih, mirip warna kerang … bertumpuk, lebih dari setahun … terurai menjadi bubuk: ia menerapkannya pada jasmaninya ini, ‘Jasmani ini pun beginilah sifatnya, beginilah nantinya, beginilah takdirnya.’ Dan selagi ia bersemayam waskita, tekun, dan penuh upaya demikian, segala ingatan & itikad kehidupan rumah-tangga dilepaskan, dan tatkala itu terlepas hatinya mengumpul & menetap ke dalam, manunggal & terpusat. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan keelingan terbenam dalam jasmani.

Keempat Jhana

“Lebih lanjut, seorang bhikkhu — sungguh menyepi dari nafsu inderawi, menyepi dari hal-hal tak cakap — masuk dan bersemayam dalam jhana pertama: keriaan dan kenikmatan lahir dari penyepian, diiringi oleh pemikiran dan penilaian. Ia merembesi dan meresapi, meliputi dan mengisi jasmaninya ini dengan keriaan dan kenikmatan yang lahir dari penyepian. Umpamanya tukang pemandi terampil atau muridnya yang menuangkan bubuk mandi ke dalam baskom kuningan dan mengadoninya, memercikinya terus menerus dengan air sehingga bola bubuk mandinya basah dijenuhi kelembaban — merembes ke luar dan ke dalam — namun demikian tidak kuyup; begitu pula, seorang bhikkhu merembesi … jasmaninya ini dengan keriaan dan kenikmatan yang lahir dari penyepian. Tiada bagian dari sekujur jasmaninya yang tidak diresapi oleh keriaan dan kenikmatan yang lahir dari penyepian. Dan selagi ia bersemayam waskita, tekun, dan penuh upaya demikian, segala ingatan dan itikad kehidupan rumah-tangga dilepaskan, dan tatkala itu terlepas hatinya mengumpul dan menetap ke dalam, manunggal dan terpusat. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan keelingan terbenam dalam jasmani.

“Lebih lanjut, seorang bhikkhu — dengan heningnya pemikiran & penilaian — masuk dan bersemayam dalam jhana kedua: keriaan dan kenikmatan lahir dari pemusatan, manunggalnya batin tanpa pemikiran dan penilaian — ketenteraman di dalam. Ia merembesi dan meresapi, meliputi dan mengisi jasmaninya ini dengan keriaan dan kenikmatan yang lahir dari pemusatan. Umpamanya sebuah telaga dengan mata air yang meluap dari dalam, tanpa ada arus masuk dari timur, barat, utara, atau selatan, dan dengan angkasa mencurahi hujan lebat berulang-ulang, sehingga sumber air sejuk yang meluap dari dalam telaga akan merembesi dan meresapi, meliputi dan mengisinya dengan air sejuk, tiada bagian dari telaga yang tidak diresapi oleh air sejuk itu; begitu pula, seorang bhikkhu merembesi … jasmaninya ini dengan keriaan dan kenikmatan yang lahir dari pemusatan. Tiada bagian dari sekujur jasmaninya yang tidak diresapi oleh keriaan dan kenikmatan yang lahir dari pemusatan. Dan selagi ia bersemayam waskita, tekun, dan penuh upaya demikian, segala ingatan dan itikad kehidupan rumah-tangga dilepaskan, dan tatkala itu terlepas hatinya mengumpul dan menetap ke dalam, manunggal dan terpusat. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan keelingan terbenam dalam jasmani.

“Lebih lanjut, seorang bhikkhu — dengan pudarnya keriaan, bersemayam dalam keseimbangan, eling dan waspada, peka terhadap kenikmatan lewat jasmani — masuk dan bersemayam dalam jhana ketiga, yang dinyatakan oleh Para Mulia, ‘Seimbang adn eling, ia bersemayam dalam kenikmatan.’ Ia merembesi dan meresapi, meliputi dan mengisi jasmaninya ini dengan kenikmatan yang bebas keriaan. Umpamanya sebuah kolam teratai, beberapa dari teratainya, lahir dan tumbuh dalam air, tetap terbenam dalam air dan tumbuh subur tanpa mencuat dari air, sehingga dirembesi dan diresapi, diliputi dan diisi oleh air sejuk dari akar sampai ke ujungnya, dan tiada bagian dari teratai-teratai itu yang tidak diresapi oleh air sejuk; begitu pula, seorang bhikkhu merembesi … jasmaninya ini dengan kenikmatan yang bebas keriaan. Tiada bagian dari sekujur jasmaninya yang tidak diresapi oleh kenikmatan yang bebas keriaan. Dan selagi ia bersemayam waskita, tekun, dan penuh upaya demikian, segala ingatan dan itikad kehidupan rumah-tangga dilepaskan, dan tatkala itu terlepas hatinya mengumpul dan menetap ke dalam, manunggal dan terpusat. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan keelingan terbenam dalam jasmani.

“Lebih lanjut, seorang bhikkhu — dengan lepasnya kenikmatan dan penderitaan, seraya lenyapnya kesenangan dan kekesalan yang lebih dini — masuk dan bersemayam dalam jhana keempat: murninya keseimbangan dan keelingan, tiada kenikmatan tiada pula penderitaan. Ia duduk, merembesi jasmaninya dengan batin yang murni dan cemerlang. Umpamanya seorang yang duduk diselubungi dari kepala sampai ke kaki dengan kain putih sehingga tiada bagian dari jasmaninya yang tidak terjangkau oleh kain putih itu; begitu pula, seorang bhikkhu duduk, merembesi jasmaninya dengan batin yang murni dan cemerlang. Tiada bagian dari sekujur jasmaninya yang tidak diresapi oleh batin yang murni dan cemerlang. Dan selagi ia bersemayam waskita, tekun, dan penuh upaya demikian, segala ingatan dan itikad kehidupan rumah-tangga dilepaskan, dan tatkala itu terlepas hatinya mengumpul dan menetap ke dalam, manunggal dan terpusat. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan keelingan terbenam dalam jasmani.

Penuhnya Keelingan “Bagi siapapun, para bhikkhu, yang keelingan terbenam dalam jasmaninya terkembang dan terolah, ia mencakupi segala hal-hal cakap yang ada di pihak pengetahuan. Umpamanya bagi siapapun yang meliputi samudera luas dengan batinnya mencakupi segala anak sungai yang mengalir ke samudera; begitu pula, bagi siapapun yang keelingan terbenam dalam jasmaninya terkembang dan terolah, ia mencakupi segala hal-hal cakap yang ada di pihak pengetahuan.

“Bagi siapapun, para bhikkhu, yang keelingan terbenam dalam jasmaninya tidak terkembang dan terolah, Mara dapat masuk, Mara dapat pijakan. Umpamanya seorang melempar sebutir batu berat ke gundukan lempung basah. Bagaimana kalian pikir, para bhikkhu, akankah sebutir batu berat itu dapat masuk ke dalam gundukan lempung basah?”

“Ya, bhante.”

“Begitu pula, bagi siapapun yang keelingan terbenam dalam jasmaninya tidak terkembang dan terolah, Mara dapat masuk, Mara dapat pijakan. Umpamanya ada sepotong kayu kering tak bergetah, dan seorang datang membawa sebatang kayu-api atas, [berpikir,] ‘Aku akan menyalakan api. Aku akan membikin panas.” Bagaimana kalian pikir, para bhikkhu, akankah ia mampu menyalakan api dan membikin panas dengan menggosok sebatang kayu-api atas pada sepotong kayu kering tak bergetah?”

“Ya, bhante.”

“Begitu pula, bagi siapapun yang keelingan terbenam dalam jasmaninya tidak terkembang & terolah, Mara dapat masuk, Mara dapat pijakan. Umpamanya di atas tatakan ada sebuah guci air kosong melompong, dan seorang datang membawa segantang air. Bagaimana kalian pikir, para bhikkhu, akankah ia punya tempat untuk menuang airnya?”

“Ya, bhante.”

“Begitu pula, bagi siapapun yang keelingan terbenam dalam jasmaninya tidak terkembang dan terolah, Mara dapat masuk, Mara dapat pijakan.

“Bagi siapapun, para bhikkhu, yang keelingan terbenam dalam jasmaninya terkembang dan terolah, Mara tidak dapat masuk, Mara tidak dapat pijakan. Umpamanya seorang melempar segulung benang ke papan pintu yang sepenuhnya terbuat dari hati kayu. Bagaimana kalian pikir, para bhikkhu, akankah segulung benang ringan itu dapat masuk ke dalam papan pintu yang sepenuhnya terbuat dari hati kayu?”

“Tidak, bhante.”

“Begitu pula, bagi siapapun yang keelingan terbenam dalam jasmaninya terkembang dan terolah, Mara tidak dapat masuk, Mara tidak dapat pijakan. Umpamanya ada sepotong kayu basah bergetah, dan seorang datang membawa sebatang kayu-api atas, [berpikir,] ‘Aku akan menyalakan api. Aku akan membikin panas.’ Bagaimana kalian pikir, para bhikkhu, akankah ia mampu menyalakan api dan membikin panas dengan menggosok sebatang kayu-api atas pada sepotong kayu basah bergetah?

“Tidak, bhante.”

“Begitu pula, bagi siapapun yang keelingan terbenam dalam jasmaninya terkembang dan terolah, Mara tidak dapat masuk, Mara tidak dapat pijakan. Umpamanya di atas tatakan ada sebuah guci penuh air sampai ke mulutnya sehingga burung gagak dapat minum darinya, dan seorang datang membawa segantang air. Bagaimana kalian pikir, para bhikkhu, akankah ia punya tempat untuk menuang airnya?

“Tidak, bhante.”

“Begitu pula, bagi siapapun yang keelingan terbenam dalam jasmaninya terkembang & terolah, Mara tidak dapat masuk, Mara tidak dapat pijakan.

Sebuah Peluang bagi Pengetahuan Langsung

“Bagi siapapun, para bhikkhu, yang keelingan terbenam dalam jasmaninya terkembang & terolah, maka yang manapun dari enam pengetahuan langsung ia tujukan hatinya untuk dialami, ia dapat menyaksikannya sendiri bila ada peluang.

“Umpamanya di atas tatakan ada sebuah guci penuh air sampai ke mulutnya sehingga burung gagak dapat minum darinya. Bila seorang yang kuat menggoyangnya entah bagaimanapun, akankan airnya tumpah?”

“Ya, bhante.”

“Begitu pula, bagi siapapun yang keelingan terbenam dalam jasmaninya terkembang dan terolah, maka yang manapun dari enam pengetahuan langsung ia tujukan hatinya untuk dialami, ia dapat menyaksikannya sendiri bila ada peluang. Umpamanya ada tangki air persegi — diletakkan di tanah datar, dibatasi tanggul — penuh air sehingga burung gagak dapat minum darinya. Bila seorang yang kuat melepas tanggulnya entah bagaimanapun, akankan airnya tumpah?”

“Ya, bhante.”

“Begitu pula, bagi siapapun yang keelingan terbenam dalam jasmaninya terkembang & terolah, maka yang manapun dari enam pengetahuan langsung ia tujukan hatinya untuk dialami, ia dapat menyaksikannya sendiri bila ada peluang. Umpamanya ada sebuah kereta pada tanah datar di perempatan jalan, ditarik kuda jempolan, menunggu dengan pecut siap tergeletak, sehingga seorang kusir terampil, seorang penjinak kuda, dapat menungganginya dan — memegang tali kekang di tangan kiri dan pecut di tangan kanan — berkendara bolak-balik, ke tempat manapun & lewat jalan manapun yang ia sukai; begitu pula, bagi siapapun yang keelingan terbenam dalam jasmaninya terkembang & terolah, maka yang manapun dari enam pengetahuan langsung ia tujukan hatinya untuk dialami, ia dapat menyaksikannya sendiri bila ada peluang.

Sepuluh Faedah “Para bhikkhu, keelingan terbenam dalam jasmani yang terlatih, terkembang, terolah, terarah, terlandasi, kokoh, mantap, dan terusaha dengan baik, sepuluh faedah dapat diharapkan. Sepuluh yang mana?

“[1] Ia menaklukkan rasa suka dan tak-suka, dan rasa tak-suka tidak menaklukkannya. Ia bersemayam menundukkan segala rasa tak-suka yang timbul.

“[2] Ia menaklukkan rasa takut dan ngeri, dan rasa takut dan ngeri tidak menaklukkannya. Ia bersemayam menundukkan segala rasa takut dan ngeri yang timbul.

“[3] Ia tahan atas rasa dingin, panas, lapar, haus, sentuhan lalat dan nyamuk, angin dan matahari dan hewan melata; atas ucapan yang kasar dan menyakitkan; ia dapat memikul perasaan jasmaniah yang ketika timbul terasa nyeri, tajam, menusuk, pedih, tak-enak, tak-menyenangkan, mematikan.

“[4] Ia dapat meraih sekehendaknya, tanpa kesulitan atau kesukaran, keempat jhana — keadaan batin meninggi berupa persemayaman nikmat kini di sini.

“[5] Ia menguasai beraneka jenis kesaktian. Setelah jadi satu ia menjadi banyak; setelah jadi banyak ia menjadi satu. Ia nampak. Ia lenyap. Ia pergi tak terhalang melewati dinding, benteng, dan pegunungan seolah-olah melewati ruang. Ia menyelam ke dalam dan ke luar tanah seolah-olah merupakan air. Ia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah merupakan daratan kering. Duduk bersila ia terbang melewati angkasa bagai seekor burung bersayap. Dengan tangannya ia menyentuh dan mengusap bahkan matahari dan rembulan, begitu kuat dan perkasa. Ia mengadakan pengaruh terhadap jasmaninya bahkan sampai sejauh dunia Brahma.

“[6] Ia mendengar — lewat telinga luhur, murni, & mengungguli manusia — dua jenis suara: dewa dan manusia, baik jauh ataupun dekat.

“[7] Ia mengetahui batin makhluk-makhluk lain, individu-individu lain, setelah meliputinya dengan batinnya sendiri. Ia memahami hati yang bernafsu sebagai hati yang bernafsu, dan hati yang tak bernafsu sebagai hati yang tak bernafsu. Ia memahami hati yang membenci sebagai hati yang membenci, dan hati yang tak membenci sebagai hati yang tak membenci. Ia memahami hati yang berwaham sebagai hati yang berwaham, dan hati yang tak berwaham sebagai hati yang tak berwaham. Ia memahami hati yang terbatas sebagai hati yang terbatas, dan hati yang terpencar sebagai hati yang terpencar. Ia memahami hati yang meluas sebagai hati yang meluas, dan hati yang tak meluas sebagai hati yang tak meluas. Ia memahami hati yang unggul sebagai hati yang unggul, dan hati yang tak unggul sebagai hati yang tak unggul. Ia memahami hati yang terpusat sebagai hati yang terpusat, dan hati yang tak terpusat sebagai hati yang tak terpusat. Ia memahami hati yang terbebas sebagai hati yang terbebas, dan hati yang tak terbebas sebagai hati yang tak terbebas.

“[8] Ia mengingat beraneka kehidupan lampau (har: tempat-tempat tinggal sebelumnya), yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat, lima, sepuluh, duapuluh, tigapuluh, empatpuluh, limapuluh, seratus, seribu, seratus ribu, banyak zaman dari penyusutan jagad raya, banyak zaman dari pemuaian jagad raya, banyak zaman dari penyusutan dan pemuaian jagad raya, [mengingat,] ‘Di sana aku mempunyai nama demikian, termasuk dalam marga demikian, mempunyai penampakan demikian. Demikian makananku, demikian pengalamanku atas kenikmatan dan penderitaan, demikian akhir hidupku. Lenyap dari keadaan tersebut, aku muncul kembali di situ. Di situ aku mempunyai nama demikian, termasuk dalam marga demikian, mempunyai penampakan demikian. Demikian makananku, demikian pengalamanku atas kenikmatan dan penderitaan, demikian akhir hidupku. Lenyap dari keadaan itu, aku muncul kembali di sini.’ Begitulah ia mengingat beraneka kehidupan lampaunya dalam cara-cara dan detail-detailnya.

“[9] Ia melihat — lewat mata luhur, murni dan mengungguli manusia — makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali, dan ia memahami bagaimana mereka itu hina dan agung, cantik dan jelek, beruntung dan tak beruntung sesuai dengan perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini — yang dikaruniai dengan perilaku jasmani, ucapan, dan benak yang buruk, yang mencerca orang-orang mulia, memegang pandangan salah dan melakukan tindakan-tindakan di bawah pengaruh pandangan salah — dengan hancurnya tubuh, setelah kematian — telah muncul kembali dalam keadaan kekurangan, nasib buruk, alam-alam rendah, di neraka. Namun makhluk-makhluk ini — yang dikaruniai dengan perilaku jasmani, ucapan, an benak yang baik, yang tidak mencerca orang-orang mulia, yang memegang pandangan benar dan melakukan tindakan-tindakan di bawah pengaruh pandangan benar — dengan hancurnya tubuh, setelah kematian — telah muncul kembali dalam nasib baik, di alam surgawi.’ Jadi — lewat mata luhur, murni dan mengungguli manusia — ia melihat makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali, dan ia memahami bagaimana mereka itu hina dan agung, cantik dan jelek, beruntung dan tak beruntung sesuai dengan perbuatan mereka.

“[10] Lewat habisnya noda-noda batin, ia masuk dan bersemayam dalam pembebasan batin & pembebasan kearifan yang bebas noda, setelah mengalaminya langsung untuk dirinya kini di sini.

“Para bhikkhu, keelingan terbenam dalam jasmani yang terlatih, terkembang, terolah, terarah, terlandasi, kokoh, mantap, dan terusaha dengan baik, sepuluh faedah ini dapat diharapkan.”

Inilah yang Sang Bhagava katakan. Merasa puas, para bhikkhu bergembira atas kata-kata Sang Bhagava.

Posted 25/04/2012 by chandra2002id in Naskah Dharma

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s