Janavasabha Sutta   Leave a comment

Janavasabha Sutta 

 

Demikian telah ku dengar, Pada suatu ketika sang Bhagava tinggal di Ginjakavasatha di Nadika. Pada waktu itu Sang Bhagava telah mengatakan tentang kelahiran-kembali dari para pengikutNya yang telah meninggal dunia di daerah Kasi, Kosala, Vajji, Malla, Ceti, Vansa, Kuru, Pancala, Mocha dan Surasena, dengan berkata: “Ada yang telah terlahir-kembali di sana, ada yang terlahir disitu. Ada lima puluh orang dan Nadika yang telah memusnahkan lima samyojana yang mengikat manusia, meninggalkan dan terlahir kembali di alam surga yang tinggi, mereka tidak akan terlahir kembali di alam manusia lagi, tetapi mereka akan parinibbana di alam itu. Ada sembilan puluh dari Nadika yang telah memusnahkan tiga semboyan dan melemahkan pernuasan nafsu-inderia dan kebencian dan Kebodohan, menjadi Sakadagami dan meninggal, dan pada suatu kelahiran kembali mereka di dunia ini, mereka akan melenyapkan penderitaan. Ada lima ratus orang lebih dari Nadika yang telah memusnahkan tiga samyojana, menjadi sotapanna, yang tidak akan pemah terlahir lagi di alam menyedihkan, dan yang telah pasti akan mencapai kesempurnaan nanti.”
Ketika para pengikut di Nadika mendengar pernyataan ini, mereka senang, gembira, suka-cita dan bahagia, karena Sang Bhagava telah menjawab pertanyaan mereka.
Bhikkhu Ananda mendengar pernyataan Sang Bhagava dan kegembiraan dari para pengikut di Nadika.
Dan pikiran sebagai berikut muncul padanya: “Tetapi di Magadha juga ada pengikutnya, yang telah lama melaksanakan Dhamma dan banyak diantara mereka telah meninggal dunia, tentu ada yang akan mengira bahwa para pengikutNya di Magadha dan Anga tidak ada yang telah mencapai kesucian. Karena sesungguhnya mereka pun memiliki keyakinan yang teguh kepada Buddha, Dhamma dan Sangha, mereka taat melaksanakan sila-sila, namun sejak mereka meninggal dunia Sang Bhagava tidak pernah membicarakan keadaan mereka, adalah baik sekali apabila hal ini ditanyakan, demi memperteguh keyakinan banyak orang dan mengarahkan mereka ke alam surga. Di sana pula ada Saniya Bimbisara, Raja Magadha, yang jujur dan memerintah kerajaannya sesuai dengan Dhamma, yang dihormati oleh para pemimpin agama, para perumah-tangga, penduduk kota dan rakyat pada umumnya, kemasyurannya dibicarakan orang di mana-mana sampai di luar kerajaannya dengan berkata: “Raja yang adil, yang memerintah sesuai dengan Dhamma sehingga kita hidup dengan bahagia, telah meninggal!
Betapa bahagianya kita hidup dalam kerajaan yang diperintah oleh raja yang adil!” Keyakinannya kepada Buddha, Dhamma dan Sangha sangat teguh, ia pun melaksanakan sila. Dan orang-orang pun dengan jujur menyatakan: “Raja Magadha Saniya Bimbisara hingga akhir hayatnya menghormati Sang Bhagava tidak pernah memberikan pernyataan sedikitpun tentang dia, dalam hal ini adalah baik sekali ditanyakan kepada Beliau, demi memperteguh keyakinan banyak orang dan mengarahkan mereka ke alam surga. Lagi pula Sang Bhagava mencapai kebuddhaan di daerah kerajaan Magadha. Mengapa Sang Bhagava tidak menyatakan sesuatu berkenaan dengan para pengikutNya yang telah meninggal di Magadha ? Bilamana Sang Bhagava tidak menyatakan sesuatu pun mengenai mereka,maka orang-orang Magadha akan kecewa, dan bila mereka kecewa, mengapa Sang Bhagava diam saja?”
Setelah merenungkan tentang para pengikut dari Magadha tersebut, maka pada keesokan paginya, Bhikku Ananda pergi menemui Sang Bhagava, setelah bertemu ia menghormat Beliau dan duduk di samping. Setelah duduk, ia menceritakan kepada Sang Bhagava tentang apa yang telah didengarnya dan tentang apa yang telah dipikirkannya. Setelah itu ia menghormat Sang Bhagava, berdiri dan pergi.
Tak lama kemudian, setelah Bhikkhu Ananda pergi, di pagi hari itu, Sang Bhagava mengenakan jubah, mengambil patta dan civara lalu pergi pinda-pata di Nadika. Setelah beliau pindapata, Beliau makan dan kembali, mencuci kakinya, masuk ke Ginjakavasatha dan duduk ditempat yang telah disediakan. Beliau memusatkan pikiran dan merenungkan orang-orang Magadha yang telah meninggal, dengan berpikir: “Saya mau mengetahui masa depan mereka, kemana orang-orang baik itu terlahir kembali, dan bagaimana takdir mereka”. Dan Sang Bhagava melihat orang Magadha yang telah meninggal tersebut, di mana mereka terlahir kembali, dan bagaimana takdir mereka. Di waktu sore. Sang Bhagava bangun dari meditasi, keluar dari Ginjakavasatha, dan duduk ditikar yang telah dibentangkan di belakang Vihara.
Kemudian, Bhikkhu Ananda datang menemui Sang Bhagava, menghormat beliau dan duduk di samping. Setelah duduk ia berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, Sang Bhagava kelihatan tenang, wajahNya bercahaya, menunjukkan inderianya yang tenang. Apakah Sang Bhagava dapat istirahat dengan tenang ?”
“Ananda, setelah kau memberitahukan padaku tentang para pengikut di Magadha yang telah meninggal dunia, dan setelah Saya pindapata di Nadika Saya makan, kembali, mencuci kaki Ku dan masuk ke Ginjakavasatha duduk di tempat yang telah disediakan, memusatkan pikiran dan merenungkan para pengikut di Magadha yang telah meninggal dunia, dengan berpikir: “Bagaimanakah akhir hidup mereka, kemanakah orang-orang terbaik itu terlahir kembali, dan bagaimanakah takdir mereka. Saya melihat di mana para pengikut dari Magadha yang telah meninggal tersebut terlahir-kembali, dan bagaimana takdir mereka. Kemudian di tempat itu pula, muncul makhluk Yakkha dan berkata: “Saya Janavasabha. 0 Bhagava, 0 Sugata saya Janavasabha!” Ananda, apakah kau pernah mendengar makhluk yang bernama Janavasabha?” “Bhante, saya belum pernah mendengar makhluk yang bernama Janavasabha. Bhante, lagi pula ketika kata ‘Janavasabha’ disebutkan bulu romaku berdiri. Saya kira itu bukan Yakkha yang biasa saja, karena memiliki nama seperti itu”
“Ananda, setelah mengatakan kata-kata tersebut, yakkha itu dengan penuh kemegahan datang di hadapanku. Dan untuk kedua kalinya ia berkata: “0 Bhagava, saya bimbisara. 0 Sugata, saya Bimbisara! Bhante, sekarang ini sudah tujuh kali saya terlahir kembali dan hidup bersama raja Vesavana. Meninggal sebagai raja di alam manusia, sekarang di surga menjadi raja non-manusia.
Telah tujuh kali, dan tujuh kali lagi, hingga menjadi empat belas kali kelahiran kembali.Sebanyak itulah saya tahu kehidupanku pada kehidupan-kehidupan yang lampau.
Bhante, telah lama saya di takdirkan tidak terlahir dialam yang menyedihkan”, dan saya menyadari takdirku itu dan sekarang saya berkeinginan untuk menjadi Sakadagami.””Mengherankan sekali, menarik sekali hal ini, karena kau yakkha Janavasabha mengatakan bahwa: “Telah lama saya ditakdirkan tidak akan terlahir dialam yang menyedihkan, dan menyadari pula takdir itu.” demikian pula dengan: sekarang saya berkeinginan untuk menjadi Sakadagami.” Bagaimana hal ini terjadi sehingga kau, Yakkha Janavasabha mengetahui pencapaian yang begitu megah itu ?”
“0, Bhagava, hanya dengan SasanaMu; 0 Sugata, hanya dengan SasanaMu ! Sejak saat saya dengan makhluk dan tidak berkeyakinan teguh kepada Sang Bhagava, sejak saat itu saya ditakdirkan tidak terlahir kembali di alam yang menyedihkan, saya menyadari takdir itu, dan sekarang saya berkeinginan untuk menjadi Sakadagami. Bhante, baru saja, saya disuruh Raja Vessavana untuk menyampaikan berita mengenai sesuatu hal kepada Raja Virulhaka, dan dalam perjalananku ini, saya melihat sang Bhagava memasuki Ginjakavasatha, dan duduk merenungkan para pengikutnya di Magadha yang telah meninggal dunia, untuk mengetahui masa depan mereka, bagaimana akhir hidup mereka, di mana mereka terlahir kembali, dan bagaimanakah takdir mereka. Bhante, tadi saya baru saja mendengar dan mengetahui langsung dari mulut Raja Vessavana, ketika ia mengatakan di depan pertemuan tentang alam di mana orang-orang terlahir-kembali, dan bagaimana takdir mereka. Itulah sebabnya saya berkeinginan untuk menemui Sang Bhagava dan memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Bhante, inilah kedua alasanku sehingga saya datang menemui Sang Bhagava.
Bhante, pada waktu yang lalu, setelah beberapa hari yang lampau, pada malam ke limabelas di bulan Purnama sempurna di hari Uposatha di hari akan mulainya masa Vassa para dewa Tawatimsa berkumpul, duduk di gedung pertemuan Sudhamma. Dan mereka pun disertai oleh makhluk-makhluk surga yang telah duduk, dan di empat penjuru duduk empat Maha Raja. Di sebelah timur, Raja Dhatarattho dengan mengepalai pengikutnya, duduk menghadap kebarat. Di sebelah selatan, Raja Virulhaka dengan mengepalai para pengikutnya, duduk menghadap ke utara. Di sebelah barat, Raja Virupakkha, dengan mengepalai para pengikutnya, duduk menghadap ke timur. Di sebelah utara. Raja Vessavana, dengan mengepalai para pengikutnya, duduk menghadap ke selatan. Bhante, ketika para dewa Tavatimsa telah berkumpul dan duduk di dalam gedung pertemuan Sudhamma dengan dikelilingi oleh semua makhluk surga lainnya yang telah duduk pula, dan empat penjuru empat Maha Raja telah duduk, yang sesuai dengan urutan susunan kedudukan mereka berempat. Selanjutnya barulah urutan tempat duduk kami.
Bhante, para dewa yang baru saja lahir di alam Tavatimsa, karena mereka telah hidup sesuai dengan penghidupan-suci yang telah diajarkan oleh Sang Bhagava, maka cahaya tubuh mereka melampaui cahaya tubuh para dewa lainnya.
Kemudian terdengar kata-kata dan para dewa Tavatimsa yang sedang diliputi kegembiraan, kegiuran dan kesenangan: “0, cahaya tubuh makhluk surga bertambah gemilang, sedangkan cahaya tubuh para asura memudar!”
Bhante, ketika Raja Dewa Sakha melihat perasaan puas yang diperlihatkan oleh para dewa Tavatimsa, ia mengucapkan kata-kata simpatinya sebagai berikut:”Para dewa dan penguasa surga Tavatimsa semuanya gembira, semuanya menghormat Sang Tathagata dan Dhamma kebenaran. Di sini mereka melihat para dewa yang baru lahir, indah dan bercahaya, karena mereka telah melakukan penghidupan-suci yang diajarkan Sang Sugata.Mereka sebagai siswa yang telah merealisasi-kebenaran, ‘Merealisasi-kebenaran’ datang ke mari, dengan penuh kemegahan melampaui kegemilangan dewa yang lain. Karena melihat hal ini, maka para dewa Tavatimsa dan penguasanya bergembira. Semua menghormat Sang Tathagata dan Dhamma-kebenaran”.Bhante, berdasarkan pada hal ini, para dewa ,Tavatimsa bertambah gembira, senang dan penuh kegiuran, berkata: “Cahaya tubuh makhluk surga bertambah gemilang, sedangkan tubuh para asura memudar!”
Bhante, kemudian, sesuai dengan maksud sehingga para dewa Tavatimsa berkumpul dengan duduk di dalam gedung pertemuan Sudhamma, mereka membicarakan dan membahas maksud pertemuan tersebut; dan berkenaan dengan maksud tersebut keempat Maharaja dengan berdiri dari duduk mereka diberi tahu dan dinasehati.”Kata-kata pemberitahuan dan nasehat diterima oleh para raja tersebut di situ, dengan pikiran mereka yang terpusat dan tenang mereka berdiri di tempat mereka masing-masing.”
Bhante, kemudian, suatu cahaya gemilang memancar dari sebelah utara. Suatu cahaya gemilang yang melampaui kemegahan para dewa. Lalu, Raja Dewa Sakka berkata kepada para dewa Tavatimsa: “Kawan-kawan, sesuai dengan tanda-tanda yang tampak, sesuai dengan cahaya sinar, sesuai dengan kegemilangan yang kelihatan, ia mendadak Dewa Brahma akan tiba. Karena ini adalah tanda-tanda pendahuluan akan tiba dewa Brahma, yaitu muncul sinar dan terlihatnya kegemilangan”.”Sekarang tanda terlihat, maka dewa brahma akan tiba. Karena ia adalah tanda-tanda pendahuluan dari kedatangan Dewa Brahma, yaitu kemegahan yang gemilang sekali
Bhante, kemudian, para dewa Tavatimsa dengan duduk di tempat mereka masing-masing berkata: “Kami akan dapat memastikan apa yang menyebabkan sinar ini, bila kami telah membuktikannya, maka kami akan pergi menemuinya.” Keempat Maharaja pun dengan duduk di tempat mereka, menyatakan hal yang sama. Ketika mereka telah mendengar hal ini, para dewa Tavatimsa semua setuju: “Kami akan dapat memastikan apa yang menyebabkan adanya sinar ini, bila kami telah membuktikannya, maka kami akan pergi menemuinya.”
Bhante, ketika Dewa Brahma Sanamkumara muncul di depan para dewa Tavatimsa, ia nampak dengan tubuh yang agak keras sesuai dengan apa yang diciptakannya. Karena biasanya, dewa Brahma nampak tidak cukup bermateri oleh para dewa Tavatimsa. Ketika Dewa Brahma Sanamkumara muncul didepan para dewa Tavatimsa cahaya dan kemegahannya melampaui cahaya dan kemegahan dari para dewa lain. Bagaikan patung yang dibuat dari emas yang melampaui warna tubuh manusia, demikian pula, ketika Dewa Brahma Sanarnkumara muncul di depan para dewa Tavatirnsa, cahayanya melampaui cahaya para dewa Tavatirnsa. Bhante, dan ketika Dewa Brahma Sanarnkumara muncul di depan para dewa Tavatirnsa, tidak ada dewa diantara semua yang hadir menghormat, berdiri dan duduk, atau mempersilahkan dia duduk. Mereka semua duduk dengan diam, dengan kedua tangan dirang- kapkan beranjali, duduk bersila, dan berpikir: “Bilamana Dewa Brahma Sanarnkumara ingin sesuatu, maka ia akan duduk di tempat duduk dewa I) Dan tempat duduk dewa maupun yang didudukinya, maka dewa pemilik tempat duduk tersebut akan merasa senang sekali, bagaikan seorang kesatria yang baru di mahkotai dan dinobatkan, ia merasa bangga dan senang sekali.”
Bhante, demikianlah, dewa Brahma Sanarnkumara menciptakan dirinya dengan bentuk tubuh yang agak keras sehingga nampak seperti pemuda Pancasikkha dan dengan bentuk seperti itu ia muncul dihadapan para dewa Tavatirnsa. Dengan melayang ke angkasa, ia duduk bersila di angkasa. Bhante, bagaikan seorang yang gagah perkasa yang duduk bersila di atas tempat duduk di tanah yang rata, demikian pula Dewa Brahma Sanumkara melayang ke angkasa dan duduk bersila di angkasa. Dan karena melihat ketenangan dari para dewa yang hadir bersama-sama dengan para dewa Tavatirnsa, maka ia menyatakan kesenangannya dengan syair ini:”Para dewa dan penguasa surga Tavatimsa semuanya gembira, semuanya menghormat sang Tathagata dan Dhamma kebenaran. Disini mereka melihat para dewa yang baru lahir, indah dan bercahaya, karena mereka telah melakukan penghidupan-suci yang diajarkan Sang Sugata. Mereka sebagai siswa yang telah merealisasi-kebenaran datang kemari, dengan penuh kemegahan melampaui kegemilangan dewa yang lain. Karena melihat hal ini, maka para dewa Tavatimsa dan penguasanya bergembira. Semuanya menghormat Sang Tathagata dan Dhamma-kebenaran.”
Inilah yang dikatakan oleh dewa Brahma Sanamkura. la menyatakan syair itu dengan delapan macam sifat suara, suaranya lancar, jelas, merdu, nyaring, mengalun, dapat dimengerti, dalam dan bergetar.Bhante, ketika dewa Brahma Sanamkumara berkata kepada para dewa yang hadir, suaranya tidak dapat didengar di luar gedung pertemuan tersebut. Dia yang memiliki suara dengan delapan sifat tersebut dinyatakan memiliki suara brahma.
Bhante, kemudian, dewa Brahma Sanamkumara, menciptakan tiga puluh tiga tubuh seperti dirinya sendiri, duduk di setiap tempat duduk dan para dewa Tavatirnsa, lalu ia berkata ke tempat duduk dan para dewa Tavatimsa, lalu ia berkata kepada para dewa: “Sekarang, bagaimana pendapat kamu sekalian dewa Tavatimsa ? Begitu lama Sang Bhagava telah melakukan banyak perbuatan untuk kesejahteraan banyak orang, untuk kebahagiaan banyak orang, karena kasih sayangNya kepada dunia untuk kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Bagi mereka dan bagi siapa saja yang telah berlindung kepada Buddha, berlindung kepada Dhamma, dan berlindung kepada Sangha, dan ketika mereka meninggal, diantara mereka ada yang terlahir-kembali di alam dewa Parinimmitavasavati, ada yang terlahir-kembali di alam dewa Tusita, ada yang terlahir-kembali di alam Yama, ada yang terlahir kembali di alam Tavatimsa, dan ada yang terlahir-kembali di alam Catummahajika. Dan bagi mereka yang keyakinannya kurang, mereka terlahir sebagai Gandhabha.
Inilah yang dikatakan oleh dewa Brahma Sanarnkumara. Ia menyatakan hal itu dengan suara tersebut, dan semua dewa menyadari bahwa: “Dia yang duduk di tempat dudukku, dia itulah yang berkata demikian.””Berkata dengan satu bentuk Brahma, tetapi ketika ketigapuluh tiganya berkata. Satu (tubuh) Brahma diam, sernuanya diam pula.Maka para dewa Tavatimsa bersama raja mereka pun berpendapat bahwa, ‘dia yang duduk di tempat dudukku, dia itulah yang berkata demikian.”
Bhante, kemudian Brahma Sanamkumara mendatangi suatu tempat lalu duduk di tempat duduk dewa Sakka, dan berkata sebagai berikut kepada para dewa Tavatimsa: “Para dewa Tavatirnsa, sekarang pendapat kamu tentang kesempurnaan dari sang Bhagava yang mengetahui, melihat,arahat samma sambuddha, yang telah membabarkan empat iddhipada (cattaro iddhipada-empat dasar kemampuan batin)yang perlu di kembangkan, dikuasai dan dibabarkan. Apakah keempat hal tersebut? Pertama, seorang bhikku dengan keinginan dan berusaha melaksanakan meditasi. Kedua, seorang bhikkhu yang berusaha dan bersemangat melaksanakan meditasi. Ketiga, seorang bhikkhu dengan berusaha dan menenangkan pikiran melaksanakan meditasi.
Keempat, seorang bhikkhu dengan berusaha dan menyelidikan melaksanakan meditasi. Inilah keempat iddhipada yang dibabarkan oleh Sang Bhagava yang mengetahui, melihat, arahat samma sambuddha, yang perlu dikembangkan, dikuasai dan dibabarkan. Dan pada waktu yang lalu, bila ada pertapa dan brahmana yang memiliki salah sebuah iddhi atau lebih, maka mereka semua mendapatkan itu dengan melaksanakan dan merealisasi itu dengan keempat cara ini saja. Demikian pula pada waktu yang akan datang, bila para pertapa dan Brahmana memiliki salah sebuah iddhi atau lebih, maka mereka semua mendapatkan itu dengan melaksanakan dan merealisasikan itu dengan keempat cara ini.
“0, para dewa Tavatimsa, apakah kamu melihat bahwa saya memiliki kemampuan iddhi seperti itu ?”
“Ya, Brahma”
“Saudara-saudara, saya juga, hanya dengan melaksanakan dan merealisasikan keempat iddhi ini saja, maka saya memiliki dan mempunyai kesanggupan seperti ini.”
Inilah hal yang dikatakan oleh dewa Brahma Sanamkurnara. Setelah berkata demikian, lebih lanjut ia bertanya kepada para dewa Tavatirmsa:”0, para dewa Tavatimsa, bagaimana pendapat kamu mengenai tiga Okasadhigama yang menghasilkan pengetahuan dan kebahagiaan ” yang telah dibabarkan oleh Sang Bhagava yang mengetahui, melihat arahat samma sambuddha ? Apakah ketiga hal itu ?
Pertama, seorang bhikkhu yang hidup memuaskan inderianya dan memiliki sifat-sifat yang buruk, tetapi pada kesempatan-kesempatan tertentu ia dapat mendengar Dhamma yang luhur, mempe- lajarinya dan menguasai intisari dan keterangan-keterangannya. Setelah ia mendengar, mempelajari dan menguasainya, ia hidup dengan berusaha membebaskan dirinya dan permuasan nafsu-inderia sifat-sifatnya yang buruk. Dengan cara ini, ia mengalami ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan, seperti perasaan puas yang berkembang menjadi kegembiraan, dengan cara yang demikian lebih dahulu muncul ketenangan, kemudian kedamaian dan kebahagiaan. Inilah cara pertama untuk mencapai kebahagiaan yang telah diajarkan oleh Sang Bhagava yang mengetahui, melihat, arahat samma sambuddha.
Kedua, seorang bhikkhu yang memiliki pikiran, perbuatan dan ucapan yang kasar dan belum tenang, tetapi karena pada kesempatan-kesempatan tertentu ia dapat mendengar dhamma yang luhur, mempelajarinya dan menguasai intisari dan keterangan- keterangannya. Setelah ia mendengar, mempelajari dan menguasainya, ia hidup dengan berusaha membebaskan dirinya dari pikiran, ucapan dan perbuatan yang kasar dan ketidak tenangan. Dengan cara ini, ia mengalami ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Seperti perasaan puas dan berkembang menjadi kegembiraan, demikian pula baginya, dengan cara yang demikian lebih dahulu muncul ketenangan, kemudian kedamaian dan kebahagiaan. Inilah cara kedua untuk mencapai kebahagiaan yang telah diajarkan oleh Sang Bhagava yang mengetahui, melihat, arahat samma sambuddha.
Ketiga, seorang bhikkhu yang tidak mengetahui dengan tepat bahwa ‘ini baik’, ‘ini buruk’, ‘ini salah’, ‘ini tidak salah’, ‘ini perlu dituruti’, ‘ini dihindari’, ‘ini kasar’, ‘ini halus’, ‘ini campuran kebahagiaan dan kegelapan’Dan karena pada kesempatan tertentu ia dapat mendengar Dhamma yang luhur, mempelajarinya dan menguasai intisari dan keterangan- keterangannya. Setelah ia mendengar, mempelajari dan menguasainya, ia dapat mengetahui dengan tepat bahwa: ‘ini baik’, ‘ini buruk’, ‘ini salah’, ‘ini tidak salah’, ‘ini perlu dituruti’, ‘ini dihindari’, ‘ini kasar’, ‘ini halus’, ‘ini campuran kebahagiaan dan kegelapan’. Dengan demikian ia mengetahui, dan melihat, maka kebodohan lenyap dan kebijaksanaan muncul, ia mengalami ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Seperti perasaan puas yang menjadi kegembiraan, demikian pula baginya, dengan cara yang demikian lebih dahulu muncul ketenangan, kemudian kedamaian dan kebahagiaan. Inilah cara ketiga untuk mencapai kebahagiaan yang telah diajarkan oleh Sang Bhagava yang mengetahui, melihat, arahat samma sambuddha.”
Inilah hal yang dikatakan oleh dewa Brahma Sanamkumara. Setelah berkata demikian, lebih lanjut ia berkata kepada para dewa Tavatimsa:”0, para dewa Tavatimsa, bagaimana pendapat kamu tentang kesempurnaan dari Sang Bhagava yang mengetahui, melihat arahat samma sambuddha yang telah membeberkan empat Satipatthana untuk mencapai ‘Kebaikan’. Apakah empat hal itu ?
Seorang bhikkhu yang merenungkan jasmaninya, dan dengan penuh semangat, pengertian, perhatian, ia melenyapkan semua ketidak senangan dan keserakahan di dunia “. Dengan tetap sadar dan merenungkan demikian, ia mencapai meditasi-benar dan vipassana- benar. Setelah ia mencapai meditasi-benar dan vipassana-benar pada jasmaninya sendiri, maka muncul pula pengetahuan- penglihatannya pada semua bagian luar dari jasmaninya. Demikian pula ia merenungkan perasaannya…. merenungkan pikirannya… merenungkan obyek-obyek pikiran (ide) nya, dan dengan penuh semangat, pengertian, perhatian, ia melenyapkan semua ketidak- senangan dan keserakahan di dunia. Dengan tetap sadar dan merenungkan demikian, ia mencapai meditasi-benar dan vipassana- benar. Setelah ia mencapai meditasi-benar dan vipassana-benar pada perasaannya…. pada pikirannya …. dan pada obyek-obyek pikiran (ide) nya. Inilah empat satthana untuk mencapai ‘kebaikan’, yang telah diajarkan oleh Sang Bhagavayang mengetahui, melihat, arahat samma sambuddha”.
Inilah hal yang dikatakan oleh dewa Brahma Sanarnkumara, setelah berkata demikian, lebih lanjut ia berkata kepada para dewa Tavatimsa:”0, para dewa Tavatimsa, bagaimana pendapat kamu tentang kesempurnaan dan Sang Bhagava yang mengetahui, melihat, arahat samma sambuddha yang telah membabarkan tujuh hal yang diperlukan untuk meditasi agar dapat melaksanakan meditasi- benar. Apakah tujuh hal itu? Pandangan-benar, pikiran-benar, ucapan-benar, perbuatan-benar, penghidupan-benar, usaha-benar, dan perhatian-benar. Pikiran terpusat yang ditunjang oleh ketujuh hal ini disebut ‘ariyo samma-samadhi’ dengan disertai bagian-bagiannya dan faktor-faktornya.
Pikiran-benar membantu pandangan benar, ucapan-benar membantu pikiran-benar, perbuatan-benar membantu ucapan-benar, penghidupan-benar membantu perbuatan-benar, usaha-benar membantu penghidupan-benar, perhatian-benar membantu usaha-benar, meditasi-benar membantu perhatian-benar, pengetahuan-benar membantu meditasi-benar, kebebasan-benar membantu pengetahuan benar. Seseorang dinyatakan berucapan-benar apabila ia dinyatakan: “Dhamma Sang Bhagava telah sempurna dibabarkan, dapat dilihat, tidak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan, menuntun ke dalam batin, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing, dengan demikian, ‘pintu ke nibbana telah terbuka lebar,’ “Inilah yang disebut ucapan benar, karena Dhamma Sang Bhagava telah sempuma dibabarkan, dapat dilihat, tidak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan, menuntun ke dalam batin, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing, dan dengan demikian, ‘pintu ke nibbana telah terbuka lebar.”
Karena siapa saja yang memiliki keyakinan teguh kepada Buddha, Dhamma dan Sangha, dan memiliki tata-susila yang disenangi para ariya; dan para dewa baru mana saja yang muncul ditengah-tengah kita, mereka itu telah dibimbing kesini oleh Dhamma-kebenaran, mereka berjumlah lebih dari 2.400.000 pengikut (umat) dari Magadha yang telah meninggal, dan mereka semua telah memusnahkan tiga-ikatan ‘ menjadi sotapanna’ yang tidak terlahir kembali di alam menyedihkan, tetapi telah pasti akan mencapai Kebijaksanaan-agung. Disamping itu telah ada pula yang telah mencapai Sakadagami”.
“Tetapi orang-orang lain yang jasa-jasa (pahala) tertinggi. Tapi dapat saya hitung, karena saya takut berdusta.”
Inilah yang dikatakan oleh dewa Brahma Sanamkumara. Dan berdasarkan pada hal-hal yang telah dikatakannya, maka pikiran ini muncul pada dewa Maharaja Vessavana: “mengherankan sekali, menarik hati sekali, karena ada guru yang agung, karena ada Dhamma yaag agung yang telah dibabarkan, dan karena jalan yang luhur untuk mencapai kebebasan telah di bukakan.
Bhante, kemudian, untuk memperteguh keyakinan Maharaja Vessavana, maka dewa Brahma Sanamkumara berkata kepadanya: “Bagaimana pendapatmu Maharaja Vessavana, bahwa pada waktu yang lampau ada yang Agung, ada Dhamma yang Agung, dan ada Jalan yang Luhur untuk mencapai kebebasan yang telah dibukakan.
Inilah hal yang dikatakan oleh dewa Brahma Sanarnkumara kepada para dewa Tavatimsa. Dan, dalam hal ini, setelah Maharaja Vessavana sendiri mendengar dan menerima uraian itu, ia memberitahukannya kepada para pengikutnya pula, setelah dewa Janavasabha mendengar sendiri hal itu dari dewa Maharaja Vessavana, ia memberitahukannya kepada Sang Bhagava. Demikian pula, setelah Sang Bhagava mendengar sendiri hal itu, mengakuinya, karena Beliau telah membuktikannya dengan kemampuan Beliau sendiri, beliau memberitahukannya kepada bhikkhu Ananda. Dan dalam hal ini pula, setelah bhikkhu Ananda sendiri mendengar dan menerimanya dari Sang Bhagava, ia memberitahukannya kepada para bhikkhu, para bhikkhuni, para upasaka dan para upasika. Akibatnya, penghidupan suci bertambah tersebar dan dilaksanakan oleh banyak pengikutnya, demikianlah para PengikutNya bertambah banyak.

Posted 25/04/2012 by chandra2002id in Naskah Dharma

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s