BRAHMAJALA SUTTA   Leave a comment

BRAHMAJALA SUTTA

Sutta Pitaka, Digha Nikaya 1

BRAHMAJALA SUTTA

Bagian I

Demikian telah kudengar, pada suatu saat Sang Bhagava (Sang Buddha) sedang dalam perjalanan dari kota Rajagaha menuju Nalanda dengan diikuti oleh 500 orang bhikkhu (siswa Sang Buddha).
Pada saat itu pula pertapa Suppiya bersama muridnya, seorang pemuda bernama Brahmadatta, juga sedang dalam perjalanan antara Rajagaha dan Nalanda.
Ketika itu, pertapa Suppiya mengucapkan berbagai perkataan yang merendahkan Sang Buddha, Dhamma (ajaranNya) dan Sangha (para siswaNya).
Tetapi sebaliknya, muridnya, Brahmadatta, memuji Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, dan keduanya sambil berjalan mengikuti rombongan Sang Bhagava.

Kemudian, Sang Bhagava bersama-sama dengan para bhikkhu berhenti dan bermalam di Ambalatthika (suatu tempat peristirahatan raja).
Demikian pula pertapa Suppiya dan muridnya, Brahmadatta, berhenti di Ambalatthika.
Di tempat itu, mereka berdua melanjutkan perbincangan mereka tadi.

Pagi harinya, sekelompok bhikkhu berkumpul di Mandalamale (semacam pavilyun) sambil membincangkan kata-kata berikut:
“Sahabat, sungguh mengherankan, bukankah Sang Bhagava sebagai seorang Arahat (seseorang yang memiliki kesucian tertinggi), 
Sammasambuddha (Buddha yang maha sempurna), telah melihat dan menyadari dengan jelas kecenderungan yang berlainan yang ada pada setiap manusia. 
Bukankah Beliau mengetahui bagaimana pertapa Suppiya merendahkan Sang Buddha,Dhamma, dan Sangha. 
Demikian pula bukankah Sang Bhagava mengetahui pandangan yang berbeda antara guru dan murid yang berjalan mengikuti rombongan Beliau?”

Ketika Sang Bhagava mengetahui masalah yang sedang mereka bicarakan,
Beliau lalu pergi ke Mandalamale dan duduk di tempat yang telah disediakan.
Setelah duduk, Beliau bertanya,
“Apakah yang sedang kalian bicarakan?
Apa pula yang akan menjadi pokok pembicaraan dalam pertemuan ini?” 
Mereka lalu menceritakan permasalahan yang mereka bicarakan tadi.

Sang Buddha bersabda,
“Para bhikkhu, seandainya ada orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, janganlah lalu kamu membenci, dendam, atau memusuhinya. 
Seandainya karena hal tersebut kalian menjadi marah atau merasa tersinggung, maka hal itu hanyalah akan menghalangi jalan Pembebasan kalian, dan mengakibatkan kalian menjadi marah dan tidak senang. 
Apakah kalian dapat merenungkan ucapan mereka itu baik atau tidak baik?”

Para bhikkhu berkata
Tidak baik, Bhante ”
“Karena itulah seandainya ada orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, 

maka kalian harus menyatakan mana yang salah dan menunjukkan kesalahannya, dengan mengatakan bahwa berdasarkan hal ini atau itu, ini tidak benar, atau itu bukan begitu, hal demikian tidak ada pada kami, dan bukan pada kami.”

Sang buddha berkata :
“Tetapi, para bhikkhu, seandainya ada orang lain memuji Sang Buddha, Dhamma dan Sangha,
janganlah karena hal tersebut kamu merasa bangga, gembira dan senang hati. 
Seandainya kamu bersikap demikian, 
maka hal itu akan menghalangi jalan Pembebasan kalian.

Maka itulah, seandainya ada orang lain memuji Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, 
maka kamu harus menyatakan mana yang benar dan menunjukkan faktanya dengan mengatakan bahwa berdasarkan hal ini atau itu, ini benar, itu memang begitu, hal demikian ada pada kami, dan benar pada kami.”

“Walaupun oleh hal-hal kecil, hal-hal yang kurang berharga, ataupun karena sila (disiplin moral), 
maka dapat menyebabkan orang-orang memuji Tathagata (Sang Buddha). 
Apakah hal-hal kecil yang kurang berharga ataupun sila, yang menyebabkan orang-orang memuji Tathagata?”

SILA-SILA YANG DIMILIKI SANG BUDDHA SEHINGGA BELIAU MENDAPAT PUJIAN DAN PENGHORMATAN

Cula Sila (Sila Kecil)

“Tidak membunuh makhluk yang memiliki kehidupan, Samana Gotama (Sang Buddha) menjauhkan diri dari membunuh dan menyakiti makhluk hidup.
Beliau telah membuang alat pemukul dan senjata.
Beliau malu untuk melakukan kekerasan, karena Beliau memiliki cinta kasih, kasih sayang dan kebaikan hati yang dicurahkan kepada semua makhluk.
Itulah yang menyebabkan orang-orang memuji Sang Tathagata.”

“Tidak mengambil sesuatu yang tidak diberikan, Samana Gotama tidak mau memiliki atau mengambil sesuatu yang bukan milikNya.
Beliau hanya akan mengambil hasil pemberian dan memiliki segala yang diberikan.
Beliau menjalani hidup jujur dan suci hati.”

“Tidak melakukan hubungan kelamin, Samana Gotama menempuh hidup suci.
Beliau menjauhkan diri dari perbuatan yang ternoda dan tidak melakukan hubungan kelamin.”

“Tidak berdusta, Samana Gotama telah menjauhkan diri dari berbohong.
Beliau berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran;
jujur, dapat dipercaya, dan tidak mengingkari segala perkataanNya di dunia.”

“Tidak memfitnah, Samana Gotama menjauhkan diri dari fitnah.
Segala hal yang Beliau dengar di sini tidak akan diceritakan di tempat lain, yang dapat menyebabkan timbulnya pertentangan dengan orang di tempat ini.
Segala hal yang Beliau dengar dari tempat lain tidak akan diceritakan di sini, sehingga tidak menyebabkan timbulnya pertentangan dengan orang di tempat lain.
Dalam hidupnya, Beliau mendamaikan mereka yang bertentangan, mengembangkan persahabatan di antara mereka, pemersatu, mencintai persatuan, senang akan persatuan, membicarakan persatuan.”

“Tidak mengucapkan kata-kata kasar atau kotor, Samana Gotama menjauhkan diri dari ucapan-ucapan tercela.
Beliau hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan, menarik, mengenakan hati, sopan, menggembirakan dan disukai orang. ”

“Tidak menghabiskan waktu dengan cerita yang tidak berguna, Samana Gotama menjauhkan diri dari obrolan tentang hal-hal yang tidak berguna.
Beliau berbicara pada saat yang tepat dan pantas, sesuai dengan kenyataan, bermanfaat, yang berhubungan dengan Dhamma (kebenaran) dan Vinaya (kesusilaan).
Beliau berbicara pada saat yang tepat dengan kata-kata yang bermanfaat bagi pendengar, serta dengan gambaran atau ungkapan yang benar untuk memberikan uraian yang jelas dan tepat.”

“Samana Gotama tidak merusak biji-bijian yang masih dapat tumbuh dan tidak merusak tumbuh-tumbuhan.
Beliau makan sekali sehari, tidak makan setelah tengah hari atau tidak makan di malam hari.
Beliau tidak menyaksikan pertunjukan-pertunjukan, tari-tarian, nyanyian dan musik.
Beliau tidak menggunakan alat-alat kecantikan, bunga-bunga, wangi-wangian dan perhiasan.

Beliau tidak menggunakan tempat tidur yang megah dan mewah.
Beliau tidak menerima emas, perak, padi, daging, wanita (penghibur), budak, ternak maupun unggas.
Beliau tidak bertani.
Beliau tidak melakukan perdagangan, penipuan dengan timbangan atau ukuran, penyogokan, penipuan atau pemalsuan, melukai, membunuh, memperbudak, merampok, memaksa maupun menganiaya.”
“Demikianlah para bhikkhu, yang menyebabkan orang-orang memuji Sang Tathagata.”
Majjhima Sila (Sila Menengah)

“Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup dari makanan yang disediakan oleh umat berbakti, namun mereka masih tetap merusak biji-bijian yang masih dapat tumbuh, akar yang masih dapat tumbuh, potongan, ruas, tunas yang masih dapat tumbuh.

Mereka masih tetap melakukan penimbunan makanan, minuman, jubah, perkakas tidur, alat-alat lainnya, wangi-wangian, dan penyedap makanan.

Mereka masih tetap mengunjungi pertunjukan-pertunjukan seperti tari-tarian, nyanyi-nyanyian, musik, tontonan, pelantunan syair, permainan tambur, drama, akrobat yang dimainkan oleh orang-orang mengadu gajah, kerbau, sapi, kambing, domba, kuda, ayam dan burung;
pertandingan dengan menggunakan pemukul, tinju, gulat; perang-perangan, pawai maupun parade.

Mereka masih tetap melakukan permainan-permainan atau hiburan seperti permainan dengan papan yang berpetak-petak delapan atau sepuluh,
permainan dengan melangkah pada diagram yang digariskan di tanah dengan cara hanya melangkah sekali,
permainan dengan cara memindahkan benda atau orang dari satu tempat ke tempat yang lain dengan tanpa melepaskan benda atau orang tersebut,
main dadu, kayu pendek dipukul dengan kayu panjang,
mencelupkan tangan ke dalam air berwarna dan menempelkan telapak tangan ke dinding,
main bola, meniup pipa yang dibuat dari daun, menggali dengan alat mainan, bersalto,
main kincir angin yang dibuat dari daun palem, main kereta-keretaan atau panah-panahan,
menebak tulisan di udara atau di punggung seseorang, menebak pikiran orang lain, maupun bertingkah laku seperti orang cacat.

Mereka masih tetap menggunakan tempat tidur yang megah dan mewah,
yaitu dengan dipan yang tinggi, panjang enam kaki,
dapat dipindah-pindahkan, tiang-tiangnya diukir dengan motif binatang;

menggunakan selimut yang berwarna-warni dan cerah,
menggunakan seprai disulam dengan motif aneka bunga,
menggunakan seprai dari wol dan kapas,
menggunakan seprai yang disulam dengan gambar singa atau harimau,

menggunakan seprai dengan bulu binatang di kedua tepi atau salah satu tepinya,
menggunakan seprai dari sutera,
menggunakan selimut yang dapat digunakan oleh enam belas orang,
menggunakan selimut gajah, kuda atau kereta;

menggunakan selimut antelope yang dijahit,
menggunakan selimut dari kulit sebangsa kijang,
menggunakan permadani yang ada penutup di atasnya,
maupun menggunakan tempat duduk dengan bantal merah untuk kepala dan kaki.

Mereka masih tetap menggunakan perhiasan dan mempercantik diri dengan cara menggunakan bedak harum, shampoo, mandi dengan bunga-bungaan,
tubuh dipukul-pukul secara perlahan dengan tongkat seperti tukang gulat, bercermin dan memoles diri dengan minyak untuk kecantikan,
menggunakan bunga-bungaan, pemerah pipi, kosmetik, gelang, kalung, tongkat, penahan sinar matahari, sandal bersulam, turban, perhiasan di dahi,
alat mengkebut dibuat dari ekor yak, jubah putih berumbai.

Mereka masih tetap membicarakan hal-hal yang kurang berguna seperti cerita tentang politik,
pemerintahan, kriminal, peperangan, teror, makanan dan minuman, pakaian, tempat tidur,
perhiasan, wangi-wangian, keluarga, kendaraan, desa, kampung, kota, negara, kemiliteran, gosip di jalanan,
di tepi sungai, setan, hal yang tidak berujung-pangkal, spekulasi tentang terciptanya daratan dan lautan, maupun hal eksistensi dan non-eksistensi.

Mereka masih tetap menggunakan kata-kata bantahan seperti,
“Kamu tidak mengerti dhamma-vinaya ini seperti yang saya ketahui,
bagaimana kamu dapat mengetahui dhamma-vinaya ini?
Kamu berpandangan salah sedangkan saya benar”,
“Saya bicara langsung ke pokok persoalan sedangkan kamu tidak”,

“Kamu membicarakan bagian akhir lebih dahulu, bukan bagian awalnya”,
“Segala yang telah kamu persiapkan untuk dibicarakan itu tiada berguna lagi”,
“Kata-kata bantahanmu ditanggapi”,
“Kamu terbukti bersalah”,
“Bebaskanlah dirimu seandainya kau sanggup”.

Mereka masih tetap berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh;
sebagai perantara raja-raja, menteri, ksatria, brahmana atau pemuda,
dengan berkata, “pergilah ke sana, ke situ, bawalah ini,
dan bawalah itu dari tempat tersebut.”

Mereka masih tetap melakukan penipuan dengan cara berkomat-kamit dengan kata-kata tertentu berlaku seperti orang suci, mengusir setan atau kesialan,
dan kehausan untuk menambah keuntungan karena serakah.

Maha Sila (Sila Besar)

Mereka masih tetap mencari penghasilan dengan penghidupan yang keliru, dengan cara yang rendah,
seperti meramal nasib orang dengan melihat garis-garis telapak tangan untuk mengetahui umur, kebahagiaan, dan seterusnya;
meramal dengan melihat untuk mengetahui keadaan yang akan datang,
meramalkan tanda-tanda baik dengan mendengarkan halilintar,

meramal mimpi, meramal tanda-tanda pada bagian tubuh,
meramal tanda-tanda yang diakibatkan oleh gigitan tikus;
melakukan persembahan dengan sekam, bekatul, beras, mentega dan minyak untuk dewa;
mempersembahkan biji wijen dengan cara menyemburkannya dari mulut ke api,

mengeluarkan darah dari lutut untuk dipersembahkan kepada dewa,
melihat pada ruas jari-jari dan lain-lain sesudah itu membaca mantra dan meramalkan orang itu sedang mujur atau sial,
menentukan lokasi rumah supaya baik,

menasehati cara-cara untuk mengerjakan ladang, mengusir hantu atau setan di kuburan,
mantra untuk menempati rumah yang dibuat dari tanah,
mantra ular, mantra tikus, mantra burung, mantra gagak, meramal untuk panjang umur,
mantra melepaskan panah, maupun membicarakan kehidupan rusa.

Mereka masih tetap mencari penghasilan dengan penghidupan yang keliru, dengan cara yang rendah,
seperti membicarakan tanda-tanda baik atau buruk dengan benda-benda,
serta tanda-tanda yang berkenaan dengan kesehatan atau keberuntungan bagi mereka yang memiliki batu-batu permata, tongkat, pedang, panah, gendewa, senjata-senjata lainnya;
atau wanita, pria, anak laki-laki, anak perempuan, budak pria atau wanita, gajah, kuda, kerbau, sapi jantan atau betina, biri-biri, biawak, kura-kura, itik, burung dan binatang-binatang lainnya, ataupun anting-anting.

Mereka masih tetap mencari penghasilan dengan penghidupan yang keliru, dengan cara yang rendah,
seperti meramalkan akibat dari keberangkatan pemimpin,
akan tibanya pemimpin,
rumah pemimpin akan diserang dan musuh akan mundur;

pemimpin musuh akan menyerang dan kita akan mundur;
pemimpin kita akan menang, musuh kalah;
pemimpin kita akan kalah, musuh menang;
salah satu pihak akan menang dan pihak lain kalah.

Mereka masih tetap mencari penghasilan dengan penghidupan yang keliru, dengan cara yang rendah,
seperti meramalkan adanya gerhana bulan, gerhana matahari, gerhana bintang,
matahari dan bulan akan menyimpang dari orbitnya, matahari dan bulan akan kembali pada orbitnya,
bintang-bintang akan menyimpang dari orbitnya, bintang-bintang akan kembali pada orbitnya,

benda-benda langit akan jatuh, hutan akan terbakar,
akan terjadi gempa bumi, dewa akan membuat halilintar;
matahari, bulan dan bintang-bintang akan terbit; atau terbenam; bersinar; atau redup;
atau meramalkan lima-belas hal tersebut akan terjadi, dan akan mengakibatkan sesuatu.

Mereka masih tetap mencari penghasilan dengan penghidupan yang keliru, dengan cara yang rendah,
seperti meramalkan akan ada hujan yang lebat, kemarau, panen akan baik,
atau akan buruk, akan ada kedamaian,
atau akan terjadi kekacauan,

akan ada penyakit sampar,
akan ada musim yang baik,
meramal dengan menghitung-hitung jari, meramal tanpa cara menjumlah dengan cepat,
menyusun lagu sanjak, atau mengaburkan masalah.

Mereka masih tetap mencari penghasilan dengan penghidupan yang keliru, dengan cara yang rendah,
seperti menentukan hari baik untuk perkawinan,
menentukan hari baik bagi mempelai pria atau wanita untuk keluar,
menentukan hari baik untuk keharmonisan,

menentukan hari baik untuk berpisah,
menentukan hari baik untuk menagih hutang,
menentukan hari baik untuk memberikan pinjaman,
menggunakan mantra untuk keberuntungan,

menggunakan mantra untuk kesialan,
menggunakan mantra untuk menggugurkan kandungan,
menggunakan mantra untuk menyebabkan orang lain menjadi bisu,
menggunakan mantra untuk menghentikan gerak rahang orang lain,

menggunakan mantra untuk menggerakkan lengan orang lain,
menggunakan mantra untuk menyebabkan orang lain menjadi tuli,
mencari inspirasi dengan melihat cermin atau bayangan,
mencari inspirasi dengan melihat gadis,

mencari jawaban dari dewa,
memuja matahari,
memuja maha ibu (siri-avhayanam), mengeluarkan api dari mulut,
memohon keberuntungan pada dewa atau dewi.

Mereka masih tetap mencari penghasilan dengan penghidupan yang keliru, dengan cara yang rendah,
seperti berjanji akan beramal seandainya keinginannya terkabul,
melaksanakan janji itu, mengucapkan mantra dalam rumah yang dibuat dari tanah,
mengucapkan mantra untuk menambah kejantanan laki-laki,

mengucapkan mantra untuk membuat laki-laki menjadi impoten,
menentukan lokasi yang tepat untuk dijadikan tempat tinggal, menyucikan tempat,
melakukan upacara suci mulut, melakukan upacara pemandian,
mempersembahkan kurban, melakukan suatu cara untuk menyebabkan orang muntah-muntah,

melakukan suatu cara untuk mengurangi sakit kepala, meminyaki telinga orang,
merawat mata orang lain, memberikan obat ke hidung orang lain,
memberikan tetes mata pada mata orang lain, memberikan obat pada mata orang lain, berpraktek seperti ocultis, berpraktek seperti dokter bedah,
berpraktek seperti dokter anak-anak, meramu obat-obatan dari akar-akaran, maupun membuat obat-obatan. Tetapi, Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut.”
“Para bhikkhu, inilah hal-hal kecil yang diuraikan dengan terperinci, yang berkenaan dengan sila, yang menyebabkan orang-orang memuji Tathagata.”

AJARAN SANG BUDDHA MENGENAI 62 SPEKULASI DUNIA YANG KELIRU

“Para bhikkhu, ada “hal-hal lain” (anna dhamma), yang sangat dalam, sangat sulit dimengerti, sangat sulit dipahami, sangat luhur dan mulia, tidak terjangkau pikiran, sangat halus, dan hanya dapat dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana.
Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas, dan telah ditinggalkan oleh Tathagata.
Berdasarkan pada sikap itulah dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata.
Apakah yang dimaksudkan dengan “hal-hal lain” itu, para bhikkhu?”

18 PANDANGAN YANG BERPEDOMAN PADA HAL-HAL LAMPAU

“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajarannya berpedoman pada
“hal-hal yang telah lampau”,
mendasarkan pandangan atau spekulasi mereka pada hal-hal yang lampau dalam 18 pandangan.”

4 PANDANGAN ETERNALIS (JIWA DAN DUNIA ADALAH KEKAL)

“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan “Eternalis” dengan menyatakan bahwa “atta” (jiwa) dan “loka” (dunia) adalah kekal, dalam 4 pandangan.
Apakah asal mula dan dasarnya maka mereka berpandangan demikian?”

“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan dalam bermeditasi,
ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi tenang,

Pandangan Pertama
ia dapat mengingat kembali alam-alam kehidupannya yang lampau pada 1, 2, 3, 4, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 100, 1000, beberapa ribu,
hingga puluhan ribu kehidupannya yang lampau,

Pandangan Kedua
ia dapat mengingat kembali alam-alam kehidupannya yang lampau pada 1, 2, 3, 4, 5, 10 kali masa “bumi ber-evolusi” (evolusi tentang terjadi dan hancurnya bumi, dan seterusnya),

Pandangan Ketiga
ia dapat mengingat kembali alam-alam kehidupannya yang lampau pada 10, 20, 30, sampai 40 kali masa “bumi ber-evolusi”, dan mengetahui bahwa,
“pada kehidupan itu, saya mempunyai nama, keluarga, keturunan,
hidup dengan makanan tertentu, mengalami kesenangan dan penderitaan,
hidup dalam usia sepanjang sekian tahun.
Kemudian, saya meninggal di alam itu dan terlahir kembali di sini.

” Demikianlah, ia dapat mengetahui kembali dengan jelas kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupannya yang lampau.
Dan ia berkesimpulan, bahwa jiwa adalah kekal dan dunia tidak membentuk suatu jiwa yang baru,
dan hal itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat,
dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain,
namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya. Mengapa begitu?

Karena, dengan usaha, semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan dalam bermeditasi,
maka saya dapat memusatkan pikiran, pikiran menjadi tenang,
sehingga saya dapat mengingat dengan jelas kondisi dan situasi dari berbagai tempat kehidupanku yang lampau.
Berdasarkan pada hal itulah, maka saya mengetahui bahwa jiwa adalah kekal dan dunia tidak membentuk suatu jiwa yang baru,
dan hal itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat,
dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya.”

Pandangan Keempat
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang mendasarkan pandangannya pada pikiran dan logika saja.
Ia menyatakan pandangannya yang didasarkan pada kemampuannya saja,
dan menyatakan bahwa jiwa adalah kekal dan dunia tidak membentuk suatu jiwa yang baru,
dan hal itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat,
dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal selamanya.”

Bagian II

4 PANDANGAN SEMI-ETERNALIS (JIWA DAN DUNIA SEBAGIAN KEKAL SEBAGIAN TIDAK)

“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan “Semi-Eternalis” pada hal-hal tertentu,
dengan menyatakan bahwa jiwa dan dunia ada bagian yang kekal dan ada bagian yang tidak kekal, dalam 4 pandangan.
Apakah asal mula dan dasarnya maka mereka berpandangan demikian?”

Pandangan Kelima
“Para bhikhu, pada suatu masa yang lampau, setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, “bumi ini belum ada” (bumi ini belum ber-evolusi untuk terbentuk).
Ketika itu, terdapatlah makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara, di situ, mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran,
dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, dan mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.”

“Demikianlah, pada suatu waktu yang lampau, ketika berakhirnya suatu masa yang lama sekali,
bumi ini mulai ber-evolusi dalam pembentukan, dan ketika hal ini terjadi, alam Brahma kelihatan dan masih kosong.
Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang “masa hidupnya” atau “pahala karma baiknya” untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma.
Di sini, ia hidup ditunjang oleh kekuatan pikirannya, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, dan mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.”

“Karena terlalu lama ia hidup sendirian di situ, maka dalam dirinya muncul rasa ketidakpuasan, juga muncul suatu keinginan,
“Semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama saya di sini!”.
Pada saat itu, ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa hidupnya atau pahala karma baiknya untuk hidup di alamnya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara, dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.”

“Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpikir, “Saya brahma, maha brahma, maha agung, maha kuasa, maha tahu, sang penguasa,
tuan dari semua, sang pembuat, sang pencipta, maha tinggi, penentu tempat bagi semua makhluk, 
asal mula kehidupan, bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. 
Semua makhluk ini adalah ciptaanku.

Mengapa demikian? Baru saja saya berpikir, “semoga mereka datang”, dan berdasarkan pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul.
” Makhuk-makhluk itu pun berpikir, bahwa dia brahma, maha brahma, maha agung, maha kuasa, maha tahu, sang penguasa, tuan dari semua, sang pembuat, sang pencipta, maha tinggi, penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. 
Kita semua adalah ciptaannya. Mengapa? 
Sebab, setahu kita, dialah yang lebih dahulu berada di sini, sedangkan kita muncul sesudahnya.”

“Para bhikkhu, dalam hal ini, makhluk pertama yang berada di situ memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.
Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi.
Setelah berada di bumi, ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa.
Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan semangat, tekad,
kewaspadaan dan kesungguhan dalam bermeditasi, pikirannya terpusat,
batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.

Mereka teringat kembali, bahwa dia brahma, maha brahma, maha agung, maha kuasa, maha tahu, sang penguasa, tuan dari semua,
sang pembuat, sang pencipta, maha tinggi, penentu tempat bagi semua makhluk,
asal mula kehidupan, bapa dari yang telah ada dan yang akan ada.

Dialah yang menciptakan kami, dia tetap kekal dan keadaannya tidak berubah,
dia akan tetap kekal selamanya,
tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah tidak kekal, dapat berubah,
dan memiliki usia yang terbatas.”

Pandangan Keenam
“Selanjutnya para bhikkhu, pandangan ini bersumber pada dewa-dewa tertentu, yang dinamakan Khiddapadosika.
Mereka menghabiskan masa hidupnya dengan “mencari kesenangan dan memuaskan indera”.
Sebagai akibat oleh sifat mereka yang buruk itu, dan juga karena tidak dapat mengendalikan diri lagi, mereka meninggal di alam tersebut.”

“Para bhikkhu, demikianlah maka ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi ini.
Setelah berada di bumi, mereka meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa.
Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan semangat, tekad, kewaspadaan dan kesungguhan dalam bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang, dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.”

“Mereka teringat kembali, bahwa dewa-dewa yang tidak ternoda oleh kesenangan adalah tetap kekal abadi selamanya.
Tetapi, kita yang terjatuh dari alam tersebut, tidak dapat mengendalikan diri karena terpikat pada kesenangan, kita yang terlahir di sini adalah tidak kekal, dapat berubah dan memiliki usia yang terbatas.”

Pandangan Ketujuh
“Selanjutnya para bhikkhu, pandangan ini bersumber pada dewa-dewa tertentu yang dinamakan Manopadosika.
Mereka selalu diliputi oleh “perasaan iri kepada yang lain”.
Karena sifat mereka yang buruk ini, mereka menjadi cemburu atau tidak menyukai dewa yang lain.
Sebagai akibat dari pikiran yang buruk tersebut, mereka menjadi lemah dan tidak bijaksana, dan dewa-dewa tersebut meninggal di alam itu.”

“Para bhikkhu, demikianlah maka ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi ini.
Setelah berada di bumi, mereka meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa.
Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan semangat, tekad, kewaspadaan dan kesungguhan dalam bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang, dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu.”

“Mereka teringat kembali, bahwa para dewa yang pikirannya tidak ternoda dan tidak diliputi perasaan iri hati kepada yang lain, maka tidak merasa cemburu kepada dewa yang lain.
Dengan demikian, mereka tidak meninggal atau jatuh dari alam tersebut.
Mereka tetap kekal abadi, tidak berubah sampai selama-lamanya.
Tetapi, kita yang memiliki pikiran yang ternoda, selalu diliputi perasaan iri hati kepada yang lain.
Karena rasa iri hati dan cemburu tersebut, tubuh kita menjadi lemah, mati dan terlahir di sini sebagai makhluk yang tidak kekal, dapat berubah, dan memiliki usia yang terbatas.”

Pandangan Kedelapan
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang mendasarkan pandangan mereka pada pikiran dan logika saja.
Mereka menyatakan pandangannya yang didasarkan pada argumentasi dan dilandaskan pada kemampuannya saja, dengan menyatakan, bahwa yang disebut mata, telinga, hidung, lidah dan badan jasmani adalah jiwa yang bersifat tidak kekal, tidak tetap, tidak abadi, dan selalu berubah.
Tetapi, yang dinamakan batin, pikiran atau kesadaran adalah jiwa yang bersifat kekal, tetap, abadi dan tidak akan berubah.”

4 PANDANGAN EKSTENSIONIS (MENGENAI BATASAN DUNIA)

“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan “Ekstensionis”.
Dalam empat cara, mereka berpandangan tentang “batasan dunia”.
Apakah asal mula dan dasarnya maka mereka berpandangan demikian?”

“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana, yang karena dengan semangat, tekad, kewaspadaan dan kesungguhan dalam bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan berada dalam keadaan:

Pandangan Kesembilan
“membayangkan dunia ini terbatas”.
Maka, mereka berpikir, bahwa dunia ini terbatas, jalan dapat dibuat mengelilingi.
Mengapa demikian? Karena didasarkan pada semangat, tekad, kewaspadaan dan kesungguhan dalam bermeditasi, pikiran kami terpusat, batin menjadi tenang dan kami berada dalam dunia yang nampak terbatas.”

Pandangan Kesepuluh
“membayangkan dunia ini tidak terbatas”.
Maka, mereka berpikir, bahwa para pertapa dan brahmana yang menyatakan bahwa dunia ini terbatas sehingga jalan dapat dibuat mengelilinginya adalah salah.”

Pandangan Kesebelas
“membayangkan dunia ini ada yang terbatas dan ada yang tidak terbatas”.
Maka, mereka berpikir, bahwa para pertapa dan brahmana yang menyatakan bahwa
“dunia ini terbatas” dan “dunia ini tidak terbatas” adalah salah.”

Pandangan Keduabelas
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana, yang mendasarkan pandangannya hanya pada pikiran dan logika.
Mereka menyatakan pandangan mereka yang didasarkan pada argumentasi dan hanya dilandaskan pada kemampuannya saja, bahwa
“dunia ini adalah bukan terbatas, dan juga bukan tidak terbatas”,
para pertapa dan brahmana yang menyatakan pandangan pertama, kedua dan ketiga adalah salah karena dunia ini bukan terbatas dan bukan tidak terbatas.”

4 PANDANGAN BERBELIT-BELIT 
“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan dengan bersikap “berbelit-belit”.
Seandainya suatu hal ditanyakan, mereka akan menjawab dengan berbelit-belit sehingga membingungkan.
Pandangan ini diuraikan dalam empat cara. Apakah asal mula dan dasarnya maka mereka berpandangan demikian?”

Pandangan Ketigabelas
“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang tidak mengerti dengan baik, hal sesungguhnya yang dimaksudkan dengan “baik” atau “buruk”.
Ia menyadari, “Saya tidak mengerti dengan jelas hal sesungguhnya yang dimaksudkan dengan baik atau buruk.
Demikianlah, seandainya saya menyatakan bahwa “ini baik” atau “itu buruk”, maka saya akan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan, keinginan, penolakan dan ketidaksukaan.
Berdasarkan pada hal tersebut, saya akan salah, dan kesalahan tersebut menyebabkan saya menyesal, dan perasaan menyesal ini menyebabkan suatu penghalang bagiku.”

Demikianlah, karena rasa takut atau tidak suka pada kesalahan disebabkan menyatakan pandangan, ia tidak akan menyatakan sesuatu itu baik atau buruk.
Seandainya suatu pertanyaan diajukan kepadanya, ia akan menjawab dengan berbelit-belit dan membingungkan,
dengan menyatakan: saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan yang lainnya, saya tidak mengatakan berbeda pendapat, saya tidak menolak pendapatmu, saya tidak mengatakan begini atau begitu.”

Pandangan Keempatbelas
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang tidak mengerti dengan baik, hal sesungguhnya yang dimaksudkan dengan “baik” atau “buruk”.
Ia menyadari, “Saya tidak mengerti dengan jelas hal sesungguhnya yang dimaksudkan dengan baik atau buruk. 
Demikianlah, seandainya saya menyatakan bahwa “ini baik” atau “itu buruk”, maka saya akan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan, keinginan, penolakan dan ketidaksukaan.
Berdasarkan pada hal tersebut, saya akan terikat pada keadaan batin yang menyebabkan kelahiran kembali, dan ikatan itu akan menyebabkan saya menyesal, dan perasaan menyesal ini menyebabkan suatu penghalang bagiku.”

Demikianlah, karena rasa takut atau tidak suka pada kesalahan disebabkan menyatakan pandangan, ia tidak akan menyatakan sesuatu itu baik atau buruk.
Seandainya suatu pertanyaan diajukan kepadanya, ia akan menjawab dengan berbelit-belit dan membingungkan,
dengan menyatakan: saya tidak mengatakan demikian, saya tidak mengatakan yang lainnya, saya tidak mengatakan berbeda pendapat, saya tidak menolak pendapatmu, saya tidak mengatakan begini atau begitu.”

Pandangan Kelimabelas
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang tidak mengerti dengan baik, hal sesungguhnya yang dimaksudkan dengan “baik” atau “buruk”.
Ia menyadari: saya tidak mengerti dengan jelas hal sesungguhnya yang dimaksudkan dengan baik atau buruk.
Tetapi, ada pertapa dan brahmana yang pandai, cerdik, pengalaman dalam berdebat, pintar mencari kesalahan, pandai mengelak, yang mampu mematahkan pandangan orang lain dengan kebijaksanaan mereka.
Maka, seandainya saya menyatakan ini baik atau itu buruk, mereka datang padaku, meminta pendapatku, dan menunjukkan kesalahan-kesalahanku.
Karena mereka bersikap begitu padaku, saya tidak sanggup memberikan jawaban.
Dan, hal ini akan menyebabkan saya menyesal, dan rasa penyesalan ini akan menjadi suatu penghalang bagiku.”

Pandangan Keenambelas
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang bodoh dan dungu.
Dan karena kebodohan dan kedunguannya, maka seandainya ada pertanyaan yang diajukan kepadanya,
ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan, dengan menyatakan,
bahwa seandainya ada pertanyaan kepadaku:
Apakah ada dunia lain? 
Jikalau saya pikir ada, saya akan menjawab begitu. 
Tetapi, saya tidak mengatakan demikian. 
Saya tidak berpandangan begini atau begitu. 

Saya pun tidak berpandangan “bukan kedua-duanya”.
Saya tidak membantahnya. Saya tidak mengatakan ada atau tidak ada dunia lain. 
Demikianlah, ia bersikap berbelit-belit. Begitu pula sikap dan jawabannya kalau ditanyakan masalah-masalah:· 
Tidak ada dunia lain.· Ada atau tidak ada dunia lain.· Bukan ada dan bukan tidak ada dunia lain.

Ada makhluk yang terlahir secara spontan [langsung], tanpa melalui rahim ibu (opapatika).·
Tidak ada makhluk opapatika.·
Ada atau tidak ada makhluk opapatika.· Bukan ada dan bukan tidak ada makhluk opapatika.

Ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.·
Tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.·
Ada atau tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.·
Bukan ada dan bukan tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.

Setelah meninggal, Tathagata tetap ada.·
Setelah meninggal, Tathagata tidak ada.·
Setelah meninggal, Tathagata ada atau tidak ada.·
Setelah meninggal, Tathagata bukan ada dan bukan tidak ada.”

2 PANDANGAN ‘KEBETULAN’ (JIWA DAN DUNIA TERJADI SECARA KEBETULAN / TANPA SEBAB)

“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan bahwa
“segala sesuatu terjadi secara kebetulan”,
dengan menyatakan bahwa jiwa dan dunia terjadi atau terbentuk tanpa sebab, dalam dua pandangan.”

Pandangan Ketujuhbelas
“Para bhikkhu, ada beberapa dewa di alam Asannasata, yang pada saat ada pikiran yang muncul dalam dirinya, mereka akan meninggal atau lenyap dari alam tersebut.
Demikianlah, ada makhluk yang meninggal dari alam tersebut dan terlahir kembali di bumi ini.
Setelah berada di bumi, ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa.
Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan semangat, tekad, kewaspadaan dan kesungguhan dalam bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali tatkala pikiran muncul dalam dirinya pada satu kehidupan lampaunya.

Ia lalu berkesimpulan, bahwa jiwa dan dunia ini terjadi kebetulan saja. Mengapa demikian?
Karena dahulu saya tidak ada, tetapi sekarang saya ada. Dahulu tidak ada, sekarang ada!
Inilah, para bhikkhu, pandangan pertama, yang merupakan asal mula dan dasarnya dari ajaran beberapa pertapa dan brahmana yang menyatakan,
bahwa “segala sesuatu terjadi secara kebetulan”, dan berpendapat, bahwa jiwa dan dunia terjadi tanpa adanya sebab.”

Pandangan Kedelapanbelas
“Selanjutnya para bhikkhu, dalam hal ini, ada beberapa pertapa dan brahmana yang mendasarkan pandangannya hanya pada pikiran dan logika.
Mereka menyatakan pandangan mereka yang didasarkan pada argumentasi dan hanya dilandaskan pada kemampuannya saja, bahwa jiwa dan dunia terjadi tanpa adanya sebab.”

44 PANDANGAN YANG BERPEDOMAN PADA HAL-HAL MENDATANG
“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana, yang ajarannya berkenaan dengan “masa yang akan datang”, berspekulasi mengenai keadaan masa yang akan datang.
Mereka mendasarkan ajaran tersebut dalam 44 pandangan.
Apakah asal mula dan dasarnya maka mereka berpandangan demikian?”

16 PANDANGAN BAHWA SESUDAH MATI JIWA TETAP ADA
“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang menganut ajaran bahwa
“sesudah mati jiwa tetap ada”,
dan pandangan ini terbagi dalam 16 pandangan.”
Pandangan ke-19 s/d ke-34

“Mereka menyatakan bahwa sesudah kematian, jiwa tetap ada, tidak berubah, sadar, dan
1. berbentuk (rupa)
2. tidak berbentuk (arupa)
3. berbentuk atau tidak berbentuk (rupa-arupa)
4. bukan berbentuk dan bukan tak berbentuk (n’evarupi narupi)
5. terbatas (antava atta hoti)

6. tidak terbatas (anantava)
7. terbatas atau tidak terbatas (antava caanantavaca)
8. bukan terbatas dan bukan tak terbatas (n’evantava nanantava)
9. memiliki semacam bentuk kesadaran (ekattasanni atta hoti)
10. memiliki bermacam-macam bentuk kesadaran (nanattasanni)

11. memiliki kesadaran terbatas (paritta sanni)
12. memiliki kesadaran tak terbatas (appamana sanni)
13. selalu bahagia (ekanta sukhi)
14. selalu menderita (ekanta dukkhi)
15. bahagia atau menderita (sukha dukkhi)
16. bukan bahagia dan bukan menderita (adukkham asukkhi).”

Bagian III

8 PANDANGAN BAHWA SESUDAH MATI JIWA TANPA KESADARAN
“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan,
bahwa “sesudah mati jiwa tidak memiliki kesadaran”, dan menyatakan bahwa jiwa tanpa kesadaran setelah mati.
Dalam hal ini, ada delapan pandangan.” Pandangan ke-35 s/d ke-42

“Mereka menyatakan bahwa, setelah mati jiwa tidak berubah, tidak memiliki kesadaran, dan
1. berbentuk (rupa)
2. tidak berbentuk (arupa)
3. berbentuk atau tidak berbentuk (rupa-arupa)
4. bukan berbentuk dan bukan tak berbentuk (n’evarupi narupi)
5. terbatas (antava atta hoti)
6. tidak terbatas (anantava)
7. terbatas atau tidak terbatas (antava caanantavaca)8. bukan terbatas dan bukan tak terbatas (n’evantava nanantava).”

8 PANDANGAN BAHWA SESUDAH MATI JIWA BUKAN ADA KESADARAN PUN BUKAN TANPA KESADARAN
“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana, yang mendasarkan ajarannya pada pandangan bahwa, sesudah mati jiwa bukan memiliki kesadaran dan bukan tanpa kesadaran.
Mereka mendasarkan ajaran tersebut dalam delapan pandangan.
Apakah asal mula dan dasarnya maka mereka berpandangan demikian?”
Pandangan ke-43 s/d ke-50

“Mereka menyatakan bahwa sesudah kematian, jiwa tidak berubah, bukan memiliki kesadaran dan bukan tanpa kesadaran, dan
1. berbentuk (rupa)
2. tidak berbentuk (arupa)
3. berbentuk atau tidak berbentuk (rupa-arupa)
4. bukan berbentuk dan bukan tak berbentuk (n’evarupi narupi)
5. terbatas (antava atta hoti)
6. tidak terbatas (anantava)
7. terbatas atau tidak terbatas (antava caanantavaca)
8. bukan terbatas dan bukan tak terbatas (n’evantava nanantava).”

7 PANDANGAN ANNIHILASSI (UCCHEDAVADA -MUSNAH TOTAL SETELAH MATI)
“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana, yang mengajarkan paham Annihilassi (ucchedavada -musnah total).
Mereka menyatakan bahwa, setelah mati makhluk itu musnah dan lenyap, dalam tujuh pandangan.
Apakah asal mula dan dasarnya maka mereka berpandangan demikian?”

Pandangan ke-51
“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan, dengan menyatakan, “Saudara, karena jiwa memiliki bentuk (rupa-jasmani), yang terdiri dari empat zat (catummahabhutarupa), dan merupakan keturunan dari ayah dan ibu;
bila meninggal dunia, tubuh menjadi hancur, musnah dan lenyap, dan tidak ada lagi kehidupan berikutnya.
Dengan demikian jiwa itu lenyap.” Demikianlah pandangan yang menyatakan bahwa ketika makhluk meninggal, ia musnah dan lenyap.”

Pandangan ke-52
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan, dengan menyatakan, “Saudara, jiwa seperti yang anda katakan memang benar ada, saya tidak menyangkalnya.
Tetapi, jiwa itu tidak musnah sekaligus, karena ada jiwa lain lagi yang lebih luhur, berbentuk, termasuk alat kesenangan indera (kamavacaro), hidup dengan makanan material (kavalinkaraharabhakkho).
Jiwa seperti itu tidak anda ketahui, tetapi saya dapat melihatnya.
Setelah jiwa itu tidak ada lagi, barulah jiwa musnah secara total.”
Demikianlah, mereka berpandangan bahwa setelah meninggal, makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.”

Pandangan ke-53
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan,
dengan menyatakan, “Saudara, jiwa seperti yang anda katakan memang benar ada, saya tidak menyangkalnya.
Tetapi, jiwa itu tidak musnah sekaligus, karena ada jiwa lain lagi yang lebih luhur, berbentuk, dibentuk oleh pikiran (manomaya), semua bagiannya sempurna, inderanya pun lengkap.
Jiwa seperti itu tidak anda ketahui, tetapi saya dapat melihatnya.
Setelah jiwa itu tidak ada lagi, barulah jiwa musnah secara total.”
Demikianlah, mereka berpandangan bahwa setelah meninggal, makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.”

Pandangan ke-54
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan, dengan menyatakan,
“Saudara, jiwa seperti yang anda katakan memang benar ada, saya tidak menyangkalnya.
Tetapi, jiwa itu tidak musnah sekaligus, karena ada jiwa lain lagi yang lebih luhur,
yang melampaui pengertian adanya bentuk (rupasanna),

yang telah melenyapkan rasa tidak senang (pathigasanna),
tidak memperhatikan penyerapan-penyerapan lain (nanattasanna),
menyadari ruang tanpa batas, mencapai dimensi ruang tanpa batas (akasanancayatana).
Jiwa seperti itu tidak anda ketahui, tetapi saya dapat melihatnya.
Setelah jiwa itu tidak ada lagi, barulah jiwa musnah secara total.” Demikianlah, mereka berpandangan bahwa setelah meninggal, makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.”

Pandangan ke-55
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan, dengan menyatakan,
“Saudara, jiwa seperti yang anda katakan memang benar ada, saya tidak menyangkalnya. Tetapi, jiwa itu tidak musnah sekaligus, karena ada jiwa lain lagi yang lebih luhur, yang melampaui alam Akasanancayatana, menyadari kesadaran tanpa batas, mencapai dimensi kesadaran tanpa batas (vinnanancayatana).
Jiwa seperti itu tidak anda ketahui, tetapi saya dapat melihatnya. Setelah jiwa itu tidak ada lagi, barulah jiwa musnah secara total.” Demikianlah, mereka berpandangan bahwa setelah meninggal, makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.”

Pandangan ke-56
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan, dengan menyatakan,
“Saudara, jiwa seperti yang anda katakan memang benar ada, saya tidak menyangkalnya.
Tetapi, jiwa itu tidak musnah sekaligus, karena ada jiwa lain lagi yang lebih luhur, yang melampaui alam Vinnanancayatana, menyadari kekosongan, mencapai dimensi kekosongan (akincannayatana).
Jiwa seperti itu tidak anda ketahui, tetapi saya dapat melihatnya.
Setelah jiwa itu tidak ada lagi, barulah jiwa musnah secara total.” Demikianlah, mereka berpandangan bahwa setelah meninggal, makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.”

Pandangan ke-57
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan, dengan menyatakan, “Saudara, jiwa seperti yang anda katakan memang benar ada, saya tidak menyangkalnya.
Tetapi, jiwa itu tidak musnah sekaligus, karena ada jiwa lain lagi yang lebih luhur, yang melampaui alam Akincannayatana, mencapai dimensi bukan pencerapan dan bukan tanpa pencerapan (n’evasanna nasannayatana).
Jiwa seperti itu tidak anda ketahui, tetapi saya dapat melihatnya.
Setelah jiwa itu tidak ada lagi, barulah jiwa musnah secara total.”
Demikianlah, mereka berpandangan bahwa setelah meninggal, makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.”

5 PANDANGAN MENGENAI NIBBANA
“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana, yang menganut ajaran yang menyatakan bahwa “Kehidupan Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang” (ditthadhammanibbanavada) .
Mereka menyatakan bahwa, kebahagiaan mutlak nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini.
Ajaran tersebut diuraikan dalam lima pandangan.
Apakah asal mula dan dasarnya maka mereka berpandangan demikian?”

Pandangan ke-58
“Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan, dengan menyatakan,
“Tatkala jiwa diliputi oleh kenikmatan, kepuasan lima indera, maka jiwa telah mencapai nibbana dalam kehidupan sekarang ini.”
Demikianlah, mereka menyatakan bahwa kebahagiaan mutlak nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini.”

Pandangan ke-59
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan, dengan menyatakan,
“Saudara, jiwa seperti yang anda katakan memang benar ada, saya tidak menyangkalnya.
Tetapi, bukan karena telah diliputi oleh kenikmatan dan kepuasan lima indera, maka jiwa telah mencapai nibbana.
Mengapa begitu? Karena, kepuasan indera itu tidak kekal, masih diliputi penderitaan oleh sebab bersifat berubah-ubah.

Karena ketidakkekalannya dan berubah-ubah, maka dukacita, sedih, kesakitan, derita dan kebosanan muncul.
Tatkala jiwa bebas dari kesenangan indera dan hal-hal buruk (akusala dhamma), mencapai dan tetap berada dalam jhana pertama (keadaan tatkala pikiran terpusat dalam meditasi),
keadaan menggiurkan, disertai perhatian dan penyelidikan (savittaka savicara), maka jiwa mencapai kebahagiaan mutlak nibbana dalam kehidupan sekarang ini.”
Demikianlah, mereka menyatakan bahwa kebahagiaan mutlak nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini.”

Pandangan ke-60
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan, dengan menyatakan,
“Saudara, jiwa seperti yang anda katakan memang benar ada, saya tidak menyangkalnya.
Tetapi, bukan dengan keadaan tersebut berarti telah mencapai kebahagiaan mutlak nibbana.
Mengapa begitu? Karena, selama kita masih diliputi oleh proses berpikir atau perhatian dan menyelidik, berarti itu masih kasar.

Tatkala jiwa terbebas dari perhatian dan menyelidik, mencapai dan berada dalam jhana kedua, keadaan pikiran terpusat dan seimbang, penuh kegiuran dan kegembiraan (cetaso ekodi-bhava, vupasamo, piti, sukha),
maka jiwa mencapai kebahagiaan mutlak nibbana dalam kehidupan sekarang ini.”
Demikianlah, mereka menyatakan bahwa kebahagiaan mutlak nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini.”

Pandangan ke-61
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan, dengan menyatakan,
“Saudara, jiwa seperti yang anda katakan memang benar ada, saya tidak menyangkalnya.
Tetapi, bukan dengan keadaan tersebut berarti telah mencapai kebahagiaan mutlak nibbana.
Mengapa begitu? Karena, selama kita masih diliputi oleh kegiuran dan kegembiraan, berarti itu masih kasar.

Tatkala jiwa terbebas dari keinginan dan kegiuran;
pikiran terpusat dan seimbang, penuh perhatian, berpengertian jelas (sato ca sampajano), dan tubuh mengalami kebahagiaan,
yang dikatakan para bijaksana sebagai keseimbangan yang disertai perhatian dan pengertian jelas, mencapai dan berada dalam jhana ketiga, maka jiwa mencapai kebahagiaan mutlak nibbana dalam kehidupan sekarang ini.”
Demikianlah, mereka menyatakan bahwa kebahagiaan mutlak nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini.”

Pandangan ke-62
“Selanjutnya para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan, dengan menyatakan,
“Saudara, jiwa seperti yang anda katakan memang benar ada, saya tidak menyangkalnya.
Tetapi, bukan dengan keadaan begitu berarti telah mencapai kebahagiaan mutlak nibbana.
Mengapa begitu? Karena, selama kita masih diliputi oleh rasa kebahagiaan, berarti itu masih kasar.

Tatkala jiwa terbebas dari rasa bahagia dan derita (sukhassa ca pahana dukkhassa ca pahana), setelah melenyapkan kesenangan dan kesedihan (somanassa domanassa),
mencapai dan berada dalam jhana keempat, disertai pikiran terpusat dan seimbang, tanpa adanya kebahagiaan dan penderitaan,
maka jiwa mencapai kebahagiaan mutlak nibbana dalam kehidupan sekarang ini.”
Demikianlah, mereka menyatakan bahwa kebahagiaan mutlak nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini.”

TATHAGATA MELAMPAUI SEMUA SPEKULASI
“Para bhikkhu, inilah ajaran-ajaran yang berpedoman pada “hal-hal yang telah lampau” dan berkenaan dengan “masa yang akan datang” dari para pertapa dan brahmana tersebut, dalam 62 pandangan.
Demikianlah, mereka berpandangan mengenai keadaan yang lampau dan yang akan datang seperti itu.
Mereka menganut salah satu atau beberapa dari pandangan-pandangan tersebut, dan mereka berpendapat, bahwa selain pandangan mereka, tidak ada lagi pandangan lainnya.”

“Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengetahui sampai sejauh mana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang mempercayainya.
Karena, Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut, dan dengan kekuatan batin,
Tathagata telah merealisasikan jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut.
Beliau telah mengetahui hakekat sesungguhnya, bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan.
Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.”

“Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sangat sulit dimengerti, sangat sulit dipahami, sangat luhur dan mulia, tidak terjangkau pikiran, sangat halus, dan hanya dapat dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana.
Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas, dan telah ditinggalkan oleh Tathagata.
Berdasarkan pada sikap itulah dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata.”

“Para bhikkhu, dari semua pandangan tersebut, yaitu para pertapa dan brahmana yang berpaham:
1. Eternalis (sassata vada), yang menyatakan bahwa jiwa dan dunia adalah kekal dengan empat pandangan.
2. Semi-Eternalis (sassata-asassata vada), yang menyatakan bahwa jiwa dan dunia adalah sebagian kekal dan sebagian tidak kekal, dengan empat pandangan.
3. Ekstensionis (antanantika), yang menyatakan bahwa jiwa dan dunia adalah terbatas dan tak terbatas, dengan empat pandangan.
4. Berbelit-belit (amaravikkhepika), yang tatkala suatu pertanyaan diajukan kepadanya, mereka menjawab dengan cara berbelit-belit, sehingga membingungkan, dengan empat pandangan.
5. Asal mula sesuatu terjadi adalah secara kebetulan (adhiccasamuppanika), yang menyatakan bahwa jiwa dan dunia terjadi tanpa adanya suatu sebab, dengan dua pandangan.

Semua itu adalah pandangan yang didasarkan pada keadaan masa lampau.
1. Setelah meninggal, kesadaran tetap ada (uddhamaghatanikasannavada), yang menyatakan bahwa jiwa tetap hidup terus setelah meninggal, dengan enam belas pandangan.
2. Setelah meninggal, kesadaran tidak ada (uddhamaghatanika asanni vada), yang menyatakan bahwa setelah meninggal jiwa tanpa kesadaran, dengan delapan pandangan.
3. Setelah meninggal, ada kesadaran dan tanpa kesadaran (uddhamaghatanika n’evasanni nasanni vada), yang menyatakan bahwa setelah meninggal jiwa memiliki kesadaran dan tanpa kesadaran, dengan delapan pandangan.
4. Annihilasi (ucchedavada), yang menyatakan bahwa setelah meninggal, makhluk binasa, hancur dan lenyap, dengan tujuh pandangan.
5. Kebahagiaan mutlak nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini (ditthadhammanibbanavada), dengan lima pandangan.

Semua itu adalah pandangan yang didasarkan pada masa yang akan datang.
Pandangan-pandangan mereka itu hanya didasarkan pada perasaan sendiri yang disebabkan oleh kekhawatiran dan ragu-ragu akan akibatnya,
karena para pertapa dan brahmana tersebut tidak mengetahui, tidak melihat dan masih diliputi oleh bermacam-macam keinginan (tanha).
Pandangan-pandangan mereka itu hanya didasarkan pada kontak indera saja. Tatkala mereka mengalami perasaan tertentu tanpa adanya kontak maka keadaan demikian itu tidak ada.

Mereka semua menerima perasaan-perasaan tersebut melalui kontak yang berlangsung terus menerus dengan (saraf) penerima (dari indera-indera).
Berdasarkan pada perasaan-perasaan (vedana) muncul keinginan (tanha),
karena adanya keinginan muncul kemelekatan (upadana),
karena adanya kemelekatan muncul proses menjadi (bhava),

karena adanya proses menjadi muncul kelahiran (jati),
karena adanya kelahiran terjadi kematian (marana), kesedihan, ratap tangis, kesakitan, kesusahan dan putus asa (soka parideva dukkha domanassa upayasa).
Tatkala seorang bhikkhu mengerti hal itu sebagaimana hakekatnya, asal mula dan akhirnya, kenikmatan, bahaya dan cara membebaskan diri dari pemuasan enam inderanya,
maka ia dapat mengetahui segala yang termulia dan tertinggi dari semuanya itu.

“Para bhikkhu, siapa pun, apakah ia pertapa dan brahmana yang ajaran atau paham mereka berkenaan dengan keadaan masa lampau atau berkenaan dengan keadaan masa yang akan datang, atau pun berpaham kedua-duanya, berspekulasi mengenai keadaan yang lampau dan yang akan datang, yang dengan bermacam-macam dalil menerangkan tentang keadaan yang lampau dan yang akan datang, mereka semua telah terjerat di dalam jala 62 pandangan ini.

Dengan berbagai keadaan mereka jatuh dan berada di dalamnya, dan dengan berbagai cara mereka berusaha melepaskan diri, tetapi sia-sia belaka karena mereka terjerat di dalamnya.

Bagaikan seorang penjala ikan yang pandai akan menjala di sebuah kolam kecil dengan sebuah jala yang baik, berpikir: ikan apa pun yang berada dalam kolam ini, walaupun berusaha membebaskan diri, tetap semuanya akan terperangkap di dalam jala ini.”

“Para bhikkhu, bagi Dia yang di luar jala, Ia yang telah mencapai kesempurnaan, Tathagata, yang sedang berada di hadapan kamu, karena segala belenggu pengikat penyebab kelahiran kembali telah diputuskannya.
Selama kehidupan jasmaninya masih ada, maka selama itu para dewa dan manusia dapat melihatnya.
Tetapi tatkala kehidupan jasmaninya terputus di akhir masa kehidupannya, maka para dewa dan manusia tidak dapat lagi melihatnya.

Bagaikan sebatang pohon mangga yang ditebang, maka semua buah yang ada di pohon mengikutinya.
Demikian pula, walaupun tubuh jasmani dari Dia yang telah mencapai kesempurnaan, Tathagata, masih berada di depan kamu, namun demikian semua belenggu penyebab kelahiran kembali telah diputuskannya.
Selama kehidupan jasmaninya masih ada, maka selama itu para dewa dan manusia dapat melihatnya.
Tetapi tatkala kehidupan jasmaninya terputus di akhir masa kehidupannya, maka para dewa dan manusia tidak dapat lagi melihatnya.”

Setelah Beliau bersabda demikian, lalu bhikkhu Ananda berkata kepada Sang Bhagava,
“Bhante, sungguh mengagumkan, sungguh mengagumkan! 
Apakah nama uraian dhamma -kebenaran ini?” 

Sang Bhagava menjawab,
“Ananda, kau dapat menamakan uraian dhamma ini sebagai Atthajala (jala bermanfaat), Dhammajala (jala kebenaran), Brahmajala (jala agung), Ditthijala (jala pandangan), atau Sangamavijayo (jala kemenangan di medan pertempuran).” 
Demikianlah khotbah Sang Bhagava, dan para bhikkhu dengan hati yang gembira memuji uraian Sang Bhagava. Di akhir khotbah ini, seribu ‘sistem dunia’ (loka dhatu) bergetar.

Posted 25/04/2012 by chandra2002id in Naskah Dharma

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s