Akkosaka Sutta   Leave a comment

Akkosaka Sutta

Pada suatu ketika, Sang Buddha singgah di hutan bambu dekat Rajagaha Kata, seorang brahmana yang bermana Akkosaka datang mengunjungi Beliau dan memaki-maki Beliau dengan kejamnya. Akkosaka tidak senang terhadap Beliau sebab temannya Bharadvaja yang dahulunya adalah seorang brahmana menjadi pengikut Buddha yang baru.
Mendengar kata-kata kasar dari brahmana itu, Sang Buddha bertanya kepadanya, “Brahmana, apakah saudara-saudara serta teman-temanmu pernah mengunjungimu?” Brahmana itu menjawab, “Ya, kadang-kadang mereka melakukannya.”
Kemudian Sang Buddha menanyakan pertanyaan lagi, “Apakah kamu pernah menjamu mereka dengan makanan dan minuman?”
Brahmana itu menjawab, “Ya, kadang kala juga.”
“Apabila tamu-tamumu itu tidak menerima apa yang kamu berikan, makanan dan minuman siapakah mereka (makanan) itu?” tanya Sang Buddha.
“Mereka adalah milikku” jawab bramana itu.
“Sang Buddha kemudian berkata, “Kata-kata kasarmu dapat dibandingkan dengan makanan dan minumanmu. Saya tidak menerima caci makianmu, dengan demikian mereka )kata-kata itu) adalah untukmu. Mereka yang mengembalikan maki-makian dengan maki-makian, atau yang mengembalikan amarah dengan amarah adalah seolah-olah kamu dengan para pengunjungmu yang makan bersama-sama. kita belum pernah makan bersama-sama. Caci makianmu itu adalah untukmu sendiri.”
Sang Buddha melanjutkan ajaranNya, “Barang siapa yang tidak pernah merasa marah, barang siapa yang telah melatih diri mereka sendiri untuk terus-menerus membawa hidupnya ke kebajikan, barang siapa yang tidak mengembalikan amarah dengan amarah adalah bagaikan mereka yang telah memenangkan peperangan nan dahsyat. Dapatkah dikatakan bahwa mereka yang tenang, apabila mengetahui bawah orang-orang lain itu marah kepadanya, melakukan tindakan-tindakan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak – bagi mereka sendiri, maupun bagi orang-orang lain.”
Sesudah mendengarkan wejangan dari wejangan dari Sang Buddha, brahmana Akkosaka secara penuh memahami ajaran beliau. Ia mengatakan kepada Beliau bahwa ajaran Beliau adalah jelas. Baginya, Sang Buddha merupakan seseorang yang menempatkan segala sesuatu dengan benar, yang mengangkat selubung atau tirai, yang menunjukkan jalan yang benar kepada seseorang yang telah kehilangan jalan, yang membawakan lampu ke dalam kegelapan bagi mereka yang mempunyai mata untuk melihat. Dengan mempunyai kepercayaan besar terhadap Beliau sebagai tempat perlindungan dan memohon agar ia dijadikan seorang Bhikkhu.
Sesudah pentahbisan, ia melaksanakan dhamma dengan hati-hati, serta berusaha dengan rajin. Ia memiliki kebijaksanaan dalam memeprtimbangkan ajaran-ajaran benar hingga akhirnya ia mencapai kesucian dengan tingkatan akhir dari jalan ariya, dan menjadilah ia seorang arahat.
(Dikutip dari Majalah Vipassana Tahun ke 5 / Agustus 1997)

Posted 25/04/2012 by chandra2002id in Naskah Dharma

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s