18 ( Delapan Belas ) Bodhisattva   Leave a comment

18 ( Delapan Belas )  Bodhisattva 

VIDYARAJAH YAMANTAKA

NAMA Yamantaka dari Bahasa Sansekerta, yang ter jemahannya bermacam macam. Antara lain Vidyara jah yang menampakkan kemarahannya yang sangat dahsyat dan memiliki kebajikan yang sangat tinggi, atau Vidyarajah yang layak memperoleh penghormatan yang besar dan yang memiliki kebajikan yang sangat tinggi. Ada pula yang menterjemah kannya Vidyarajah yang layak memperoleh penghormatan yang besar dan yang telah dapat mengalahkan Deva Yama.

Beliau merupakan salah seorang dari Lima Raja Pen jaga Hyang Buddha dan Ajaran Agama Buddha, di dalam ajaran agama Buddha yang bersifat Esoteric. Dan dianggap sebagai Sang Pen jaga, yang menjaga kelesta rian dan penyebar-luasan ajaran agama Buddha yang diajarkan oleh Hyang Buddha Amithaba, yang memerintah surga yang terletak di sebe lah Barat dari bumi kita atau sebelah barat dari semesta, yang kehidupannya tidak da pat diukur lamanya. Juga Be liau menjaga umat Buddha, terutama yang menganut sekte Sukhavati.

Namun ada pula yang mem percayai, bahwa Vidyarajah Yamantaka ini merupakan perwujudan atau badan yang telah mengalami perubahan dari Bodhisattva Manjusri. Dengan kekuatannya yang luar biasa besarnya, sangat men takjubkan serta yang terwarnai oleh kebajikan, Vidyarajah Yamantaka mampu mengalah kan ular yang beracun. Dapat melenyapkan halangan-ha langan atau hambatan yang tak terhitung banyaknya, sehingga dijuluki sebagai Vidya rajah yang memiliki kebajikan yang luar biasa tingginya serta mentakjubkan.

Biasanya kita melihat rupang atau gambar Vidyarajah Yamantaka dengan enam kaki, enam muka dan enam tangan, dan beliau naik kerbau yang berwarna hijau. Beliau mema kai tengkorak di atas kepalanya sserta memakai pakaian yang terbuat dari kulit harimau. Di tangan beliau yang enam jumlahnya itu, tangan pertama disebelah kiri memegang tom bak, tangan kedua di sebelah kiri memegang busur panah, tangan ketiga di sebelah kiri memegang tali. Di tangan per tama sebelah kanan meme gang pedang, tangan kedua sebelah kanan memegang anak panah, dan tangan ketiga sebelah kanan memegang senjata pemukul.

Kulit tubuhnya berwarna hijau tua, dan tinggi tubuhnya dikatakan setinggi sekian Yojana, yang tak terbatas. Keseluruhan dari tubuh Vidyarajah Yamantaka ini mengeluarkan api yang menyala-nyala, me nandakan beliau selalu menampakkan sikap sangat marah.

Dalam agama Buddha sekte Eksoteric, di Jepang terda pat beberapa umat Buddha yang sangat mengagumi dah mempercayai beliau. Biasanya mereka memuja rupangnya ketika bersembahyang, berdoa agar memperoleh kemenang an dalam peperangan, atau untuk mengalahkan pribadi pribadi yang mereka musuhi, karena mereka berhati jahat.

Terdapat banyak gambar Vidyarajah Yamantaka di Jepang. Di Kuil atau tempat-tempat pemujaan, tempat peribadatan atau Toji di Jepang, terdapat kumpulan gambar ke Lima Vidyarajah, Sang Penjaga Alam Semesta dan Penjaga ajaran-ajaran agama Buddha, serta para umat Buddha terutama yang sering memuja Beliau.

Pada musim seni di Boston, Amerika Serikat, terdapat gambar Vidyarajah Yamantaka yang dianggap merupa kan karya seni yang luar biasa indahnya, di dalam bidang karya Esthetis masa kini.

BODHISATTVA VIMALAKIRTI

TERDAPAT berbagai versi terjemahan dari nama Bodhisattva Vimalakirti. Misalnya Maha pribadi yang tidak terlekati oleh kekotoran, Maha pribadi yang reputasi atau nama baiknya tidak terkotori. Atau Sang Vima.

Beliau adalah Pribadi Utama yang diceritakan dalam kitab suci agama Buddha yang dinamai Vimalakirti Nirdesa Sutra. Beliau juga merupakan seorang Maha Upasaka yang sangat penting di dalam agama Buddha Mahayana.

Di zaman hidupnya Hyang Buddha Sakyamuni, Vimalakirti adalah pen duduk kota Vaisali. Dengan berdasarkan kebajikan tingkat tinggi yang telah mengakar pada kepriba dian atau wataknya, beliau telah mempersembahkan Sesaji Suci kepada para Buddha. Sehingga beliau telah memperoleh kesabar an yang luar biasa, walau perbuatannya nampak lama belum menghasilkan sesuatu. Namun beliau tetap sabar dan tetap menerus kan kegiatan di dalam mengamalkan clan menyebar-luaskan Dharma.

Vimalakirti memiliki penge tahuan Dharma yang sangat mendalam, terutama meng enai Pintu Dharma. Dan setelah sempurna mampu mendidik diri dalam praktek ke-Enam Paramita, beliau mampu meneyeberangkan makhluk-makhluk -hidup dengan terampil dan dengan methode yang menyenang kan.

Sebagai seorang Maha Upasaka, beliau mempunyai istri clan erat dengan sanak saudara. Tetapi is tetap membina- diri di dalam tingkah laku ke-Pendeta-an, yang memisahkannya de ngan kesenangan kedunia wian. Sambil berkelana di jalan-jalan, beliau selalu berbuat kebaikan dan mem beri kemanfaatan pada makhluk-makhluk hidup. Arya Vimalakirti bahkan pernah pula pergi ke rumah rumah tempat para tuna susila, untuk mengingatkan orang-orang agar tidak melakukan hal-hal yang tidak benar. Agar mereka mau menjauhi dan mening galkan kehidupan yang salah, jangan berkebiasaan melampiaskan hawa-nafsu nya yang rendah.

Sesungguhnyalah beliau merupakan seorang Bodhi sattva yang dapat membim bing kehidupan orang awam, dan selalu menyebar-luas kan Buddha Dharma dengan sarana-sarana yang sifatnya sementara untuk diting galkan, apabila orang yang mempergunakan sarana itu telah dapat tiba di Pantai Nir vana.

Sebagai seorang Maha Upasaka yang membimbing kehidupan orang-orang awam, Arya Vimalakirti telah mendidik diri sendiri dengan sangat sempurna, clan telah mencapai keadaan di mana tingkatannya bahkan dikata kan lebih tinggi dari ting katan Arhat ataupun ting katan Bodhisattva. Itu nam paknya berkeadaan abnor mal.

Menurut legenda, beliau sesungguhnya merupakan manifestasi atau inkarnasi, atau menjadi perbadan nya Hyang Tathagata Butir Emas. Sebelum muncul di kota Vaisali, beliau hidup di Tanah Suci atau Surga atau Tanah Buddha, yang bersua sanakan kegembiraan yang mentakjubkan, yang dipe rintah oleh Hyang

Buddha Aksobhya. Beliau sendiri berinkarnasi atau memanifestasikan diri sebagai orang biasa di dunia, agar dapat menyeberangkan berbagai makhluk hidup menuju

BODHISATTVA SAMANTABHADRA

NAMA Bodhisattva Saman tabhadra dari bahasa Sansekerta yang artinya Pribadi Maha Agung Yang Layak Memperoleh Penghormatan Secara Univer sal. Atau Pribadi Maha Agung yang diharap-harapkan Iimpahan berkah keselamatan dan kesuksesan bagi semua makh luk.

Beliau adalah tokoh orang Su ci-nya umat Buddha Mahayana, yang bermanifestasi secara uni versal di semua Tanah Buddha. Dan yang telah melaksanakan Sumpah Maha Suci-nya dengan kesuksesan yang bestir.

Di Dunia Saha, Beliau bekerjasama dengan Bodhisattva Manjusri sebagai Pembantu Utama Hyang Buddha Sakyamuni.

Seperti yang tertulis di dalam teks kitab suci agama Buddha, Bodhi s a ttva Manjusri diceritakan mengendari seekor Singa, dan mendampingi Hyang Buddha Sakyamuni di sebelah kirinya. Sedangkan di sebelah kanannya adalah Bodhisattva Samantabha dra, yang diceritakan mengen darai seekor Gajah Putih.

Bodhisattva Manjusri sendiri melambangkan Intelegensi, Kebi jaksanaan dan lulusnya seseo rang dalam menempuh ujian dalam kehidupan, dan memperoleh ijazah- spiritualtingkatan tertentu. Sedangkan Bodhisattva Samantabhadra mewakili Doktrin atau Ajaran Dharma, Kontemplasi atau Meditasi, dan Praktek atau Pelaksanaan dari ajaran agama.

Di dalam kegiatan pembinaaan diri, Bodhisattva Samantabhadra menggarisbawahi Samadhi, kebajikan clan prakteknya dari kedua tokoh Bodhisattva ini. Melambangkan kesempurnaaan dalam prinsip Buddha Mahayana tingkatan paling tinggi.

Bodhisattva Samantabhadra telah mempraktekkan jalan ke Bodhisattva-an di masa-masa yang lampau di dalam banyak kalpa-kalpa itu, mencari semua kebijaksanaan. Dan telah melaksanakan Sumpah Maha Sucinya yang tak terbatas, untuk membebaskan penderitaan bagi sernua makhluk hidup. Beliau dianggap sebagai suatu model bagi umat Buddha Mahayana dalam belajar, meniru, melaksanakan dan membina diri melalui Jalan KeBodhisattvaan.

Sumpah Suci

DALAM Kitab Suci agama Buddha Sutia Avatamsaka dituliskan, bahwa Beliau telah menasehati dan mengajak orang-orang untuk mem bina diri. Memperkembangkan 10 type atau jenis-jenis tingkah laku dan Sumpah Suci.

Adapun kesepuluh Sumpah Suci itu adalah : (1) Untuk memuja dan menghormati semua Buddha, (2) Untuk memuji Hyang Tathagata, (3) Untuk mempelajari dan meningkatkan Sesaji Suci, (4) Un tuk belajar menyesal atas perbuatan-perbuatan buruknya kemudian memperbaikinya, (5) Untuk mengajak orang-orang lain mau ikut Berta memutar Roda Dharma, (6) Untuk menghayati kegembiraan di dalam (melakukan) penimbunan jasa-jasa kebaikan dan kebajikan kebajikan, (7) Untuk memohön agar Hyang Buddha berkenan lahir di dunia ini, (8) Untuk mempelajari Buddha Dharma, (9) Untuk hidup secara serasi, bertoleransi, Baling tenggang-rasa dengan orang-o rang lain, dan (10) Untuk belajar mentransfer, memberikan semua jasa-jasa kebaikan dan kebajikan kebajikan yang dipunyai bagi kemanfaatan orang-orang lain atau makhluk-makhluk lain.

Dengan didasari oleh sepuluh Sumpah Suci tersebut, Bodhisattva Samantabhadra menasehati clan mengajak makhluk-makhluk hidup untuk mencapai jasa-jasa kebaikan dan kebajikan-kebajikan, seperti yang telah dipunyai oleh Nhyang Tathagata.

Gunung Suci Ho Mei yang terdapat di Propinsi Szechwan, secara tradisional dikenal dan termasyur sebagai Bodhimanda nya Sang Bodhisattva Samanta­bhadra, dan menjadi Pusat Pemu jaan terhadap Sang Bodhisattva tersebut.

VIDYARAJAH TRILOKA-VIJAYAH

NAMA Trailoka-Vijayah dari bahasa Sansekerta. Terjemahannya beraneka ragam versi, antara lain Sang Penguasa Yang Telah Memperoleh Kemenangan Atas Tiga Tempest Kehidupan atau Sang Penguasa Yang Memiliki Senjata Vajra Yang Dapat Menembus Wilayah Musuh dan Dapat Mengalahkannya atau Yang Berwajah March Yang Layak Memperoleh Penghormatan.

Beliau merupakan salah seorang dari ke-Lima Pengawal dan Penjaga ajaran agama Bud dha sekte esoteric yang diberikan oleh Hyang Buddha Aksobya, yang menguasai Surga atau Tanah Suci atau Tanah Buddha yang terletak di sebelah timur dari bumf kita ini.

Vidyarajah Trailoka-Vijayah itu mampu mengalahkan keserakahan, kemarahan dan kebodohan dari semua makhluk yang hidup di Tiga Alam, sehingga beliau memperoleh julukan sebagai Sang Penjaga Semua Makhluk yang telah dapat ditolong dalam mengalahkan semua hawa nafsu mereka ketika hidupnya.

Gambar Vidyarajah Trailoka Vijayah ada tiga macam. Yang biases kita lihat adalah rupangnya yang bermuka tiga dan bertangan delapan. Terdapat juga pada rupang ini yang di wajahnya terdapat tiga buah mates dan nampak keluar Nyala Api dari tubuhnya yang berkobar-kobar.

Beliau digambarkan dengan penampakan sikap wajah yang garang. Di tangan kanan memegang tiga buah gentakecil, anak panah dan pedang. Sedangkan di tangan kirinya memegang tombak, busur dan tali. Kaki. kirinya menginjak Mahanaheswara Surgawi dan kaki kanannya menginjak Devi Uma (Permaisuri Deva Shiva).

Menurut legenda, para Dewa itu bersifat keras kepala. Kemudian Vidyarajah Trailoka Vijayah menunjukkan sikap march dan garang untuk menundukkan sifat keras kepalanya para. Dewa tadi. Semua yang dipertuan atas bagian-bagian dari alam Surya itu tunduk kepadanya, kecuali Deva Mahanaheswara dan Devi Uma. Oleh karenanya, ditampakkannya sikap yang lebih garang dan kemarahan yang dahsyat untuk mengalahkan kedua makhluk Surgawi yang tetap belum mau bersikap baik hati itu.

Di dalam beberapa buku atau naskah, tertulis keterangan bahwa istilah mengalahkan para penghuni ke tiga alam atau semua makhluk yang berkehi dupan di tiga alam itu berarti Vidyarajah Trailoka-Vijayah itu telah dapat mengalahkan Mahanaheswara Surgawi , karena makhluk agung penghuni Surga ini merupakan salah satu Dewa yang telah mampu menguasai ke Tiga Alam.

Bodhisattva Vidyarajah Kundali

Nama Kundali diambil dari bahasa sansekerta artinya Jambangan BUnga atau tempat menyimpan sesuatu (misalnya air suci atau air persembahyangan) atau sejenisnya. Dalam agama Buddha sekte Esoteric, Beliau merupakan salah satu dari Lima Raja-Raja Penjaga Langit atau Alam Semesta. Dan Vidyarajah Kundali adalah penjaga kelestarian dan penyebarluasan ajaran Dharma yang diberikan oleh Hyang Buddha Ratnasambhava, yang menguasai titik wilayah selatan dari langit atau alam semesta. Juga menjadi Pelindung umat teru tama yang memuja Hyang Bu ddha Ratnasambhava.

dalam agama Buddha ini pula, Jambangan Bunga melam bangkan Embun Manis (atau Air Kehidupan Yang Abadi), sehing ga Beliau juga dijuluki Vidya rajah Kundali Yang Bagaikan Embun Nan Manis. Dengan cinta kasih dan welas asih beliau yang besar, dan dengan Sinar Matahari Agungnya, beliau menyinari umat Buddha; terutama yang memuja Hyang Buddha Ratnasambhava. Dengan embunnya yang manis pula, beliau menyucikan jiwa dari semua makhluk hidup.

Vidyarajah Kundali tampak bersikap atau berwajah marah, dan seperti seorang Yaksa, sehingga beliau juga dijuluki sebagai Raja Yaksa Kundali.

Terdapat dua macam rupang Vidyarajah Kundali. Yang satu ber-Wajah Empat dan ber Tangan Empat, sedangkan yang lainnya ber-Wajah Satu ber Tangan Delapan. Menurut aturan aturan ritual, yang digunakan untuk pelaksanaan Upacara Pemujaan adalah rupang yang berwajah empat dan bertangan empat; yang dibuat dengan ekspresi wajah berbeda-beda.

Wajah yang di depan menunjukkan watak ekspresi cinta kasih dan welas asih, wajah di kanan menunjukkan sikap marah, wajah di kiri menunjukkan sikap tertawa, dan wajah di belakang menunjukkan sikap agak marah.

Tubuhnya berwarna hijau bunga teratai, dan duduk di atas batu karang dalam posisi bersila dan kaki disilangkan. Keempat wajah clan tangan beliau melambangkan Dharma, yaitu : (1) Dharma melenyapkan bencana bencana, (2) Dharma mengatasi clan mengalahkan segala hawa nafsu, (3) Dharma untuk meng hargai dan mencintai orang lain, dan (4) Dharma untuk membuat makin besarnya kemanfaatan bagi orang lain.

Namun, beberapa orang yang mempercayai beliau ada yang mengatakan, bahwa semuanya itu mewakili keempat jenis bencana (yang dapat dilenyapkan beliau), yaitu: (1) ketidaktahuan yang ada dalam diri sendiri, (2) kesukaan memperhati kan kepentingan diri sendiri, (3) kesombongan clan kebanggaan diri sendiri, (4) mencintai diri sendiri secara berlebihan.

Jenis lain dari rupang Vidyarajah Kundali ada yang hanya mempunyai satu wajah dan delapan tangan. Di atas kepalanya terdapat banyak tengkorak. Terdapat tiga bush mats pads wajahnya. Beliau menunjukkan penampakan yang berekspresi marah. Serta terdapat dua ekor ular merah yang membelit dadanya.

Dharmanya itu biasanya diterapkan untuk mengatasi atau melenyapkan atau mengalahkan segala bencana. Apabila seseorang memuja beliau mengucapkan mantra Kundali tujuh kali sebelum me makan sesuatu, atau sedang memakan sesuatu, maka diri nya akan dilindungi. Di samping itu, Perkataan Yang Benar ini, atau ikrar untuk selalu berkata yang benar, dapat dipergunakan untuk alai bantu pelak sanaan Dharma Pembinaan-diri terhadap pembinaan perwatakan positip.

Beliau selalu mempergunakan kata-kata yang negatif, yang berisi penantangan dan diucapkan secara tiba-tiba, untuk memperingatkan manusia manusia yang berbuat salah.

Di dalam agama Buddha sekte Mahayana, Beliau menggarisbawahi, pertama-tama, melalui metode metode atau cara-cara yang sifatnya untuk dipakai sementara waktu saja ( bersifat provisional methods ). di dalam sebuah sutra yang bernama Avatamsaka Sutra, beliau telah mendorong, memacu seseorang yang bernama SUDHADE untuk mencari dharma hingga 53 kali.

Doktrin atau ajaran dari agama Buddha Mahayana, Sekte Dhyana, adalah sama dengan ajaran dari Sang Bodhisattva mengenai Pintu Dharma.

Sejak Dinasti Hsin yang memerintah wilayah timur, umat Buddha di Tiongkok telah mempercayai Bodhisattva Manjusri. Gunung Suci Wu Tai di Propinsi Shansi, dikenal sebagai Bodhimandanya Bodhisattva Manjusri. Para penganut agama Buddha yang mempercayai Bodhisattva Manjusri, menjadikan Gunung Suci tersebut sebagai Pusat Kepercayaan Keagamaan.

BODHISATTVA MANJUSRI

Nama ini berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya Nasib baik yang mendatangkan kesuksesan yang menakjubkan. di dalam agama Buddha mahayana, BODHISATTVA MANJUSRI dianggap Pribadi Maha Agung yang telah memiliki kebijaksanaan tinggi di antara para Bodhisattva.

Bersama-sama dengan Bodhisattva Samantabhadra, Beliau merupakan pembantu utama Buddha Sakyamuni. di dalam daftar semua Bodhisattva, Beliau termasuk yang paling utama di bidang menegakkan Buddha Dhamma. Beliau juga dinamai Pangerannya Dharma.

Menurut kitab suci agama Buddha, Sutra Shurangama Samadhi, Beliau telah menjadi Buddha pada kalpa-kalpa ( hitungan waktu berjuta-juta tahun ) dan dinamai Sang Tathatagata Yang Telah Mengatasi atau Telah dapat membangunkan benih ular-naga atau Telah mampu membangunkan Kundalini Saktinya, walau Beliau kini manifest sebagai pembantu utama Hyang Buddha Sakyamuni, dan berada di sebelah kanannya.

Menurut sutra-sutra dan Sastra-Sastra Buddhist, Beliau adalah Sang Guru dari banyak sekali pribadi-pribadi yang telah menjadi Buddha di masa lampau. dengan kata lain, Beliau telah membimbing banyak orang yang telah memetik buah ke-Buddha-an. dengan demikian, Bodhisattva Manjusri kemudian dinamai Sang Ibunya para Buddha di Tiga Alam.

Di dalam sutra-sutra Buddhist, terdapat banyak cerita yang memberi gambaran, bahwa beliau telah mengajarkan kepada pribadi-pribadi yang mengadakan pembinaan diri dengan sarana kebijaksanaan Beliau. manifestasi Beliau yang bersifat sementara di dalma memegang pedang untuk memperkuat keberadaan Hyang Buddha atau ajaran Agama Buddha itu mengungkapkan kebijaksanaan Beliau untuk melenyapkan keraguan-raguan para Bodhisattva pedamping Hyang Buddha yang kurang mampu dalam memberikan kecerahan, atau menolong untuk mencapai pencerahan agung pada orang lain, agar mereka dapat memperdalam Dharma.

BODHISATTVA MAHASTHAMAPRAPTA

Nama Bodhisattva Mahasthamaprapta dari bahasa sansekerta. terdapat beberapa versi terjemahannya, yang semuanya berbeda-beda. Menurut kitab suci Agama Buddha yang dinamai :”Sutra mengenai hal-hal yang harus dituruti, agar dapat dicapai kehidupan yang lamanya tak dapat diukur”.

Cahaya Kebijaksaan Beliau itu mendominasi secara universal dan menyebabkan makhluk-makhluk hidup dapat terpisah dari tiga jalan kejahatan. Ketika Bodhisattva Mahasthamaprapta itu menggunakan kekuatan Beliau yang maha hebat, sehingga beliau dinamakan Bodhisattva yang mempunyai kekuatan yang sangat besar.

Di tanah suci yang para penghuninya dapat menghayati kehidupan dengan memperoleh berkah keselamatan (dari Tuhan Yang Maha Esa) dan kebahagiaan yang paling tinggi yang diperintah oleh Hyang Buddha Amitabha, terdapat dua Bodhisattva yang memperoleh kehormatan. Yang satu adalah Bodhisattva Avalokitesvara, yang melambangkan berkah, keselamatan dan cinta kasih serta welas asih. Yang seorang lagi adalah Bodhisattva mahasthamaprapta, yang melambangkan inteligensi dan kebijaksanaan. Kedua Bodhisattva ini adalah pembantu utama dari Buddha Amitabha. Demikianlah, di Tanah Suci (Surga Sukhavati), Buddha Amitabha dan dua orang Bodhisattva yakni Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Mahastamaprapta.

Bodhisattva Mahastamaprapta mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Buddha Amitabha dan Bodhisattva Avalokitesvara. Sebelum Hyang Amitabha mencapai buah dari ke-Buddha-annya, Bodhisattva Mahasthamaprapta telah memberikan pelayanannya sebagai pembantu utama Calon Buddha itu bersama-sama dengan Bodhisattva Avalokitesvara.

Pada zaman yang akan datang, Bodhisattva Mahasthamaprapta itu akan mengikuti Bodhisattva Avalokitesvara untuk mencapai tingkat Kebuddhaannya. Dan Beliau akan dinamai Buddha Raja yang berhiaskan intan berlian dan bertahta di singgasana jasa-jasa kebaikan dan kebajikan kebajikan yang tinggi.

Menurut Kitab suci Agama Buddha yang dinamai Sutra Shurangama, Bodhisattva Mahasthamaprapta telah melatih samadhi dengan menyebut secara berulang-ulang nama Buddha sebagai dasar berpijaknya meditasinya. sehingga Beliau dapat mengajarkan kepada makhluk-mahluk hidup agar juga menyebut, mengucap secara berulang-ulang nama Buddha yang dapat merupakan Pembuka Pintu Dharma.

Pikiran Beliau telah dituangkan didalam kalimat sebagai berikut : ” Karena Sang Buddha telah memiliki belas kasihan yang sangat mendalam kepada semua makhluk hidup, maka para Tathagata yang menghuni di sepuluh penjuru mata angin itu selalu memikirkan semua mahkluk pula. Apabila mahkluk-makhluk ingat kepada Hyang Buddha dan menyebut secara berulang-ulang nama Beliau, maka karena pada saat kematiannya kelak akan dapat melihat dan bertemu dengan Hyang Buddha.”

Ajaran Bodhisattva Mahasthamaprapta itu berupa : “Agar manusia belajar mengontrol, menguasai, mengendalikan ke-Enam Akar (atau benih dari fikiran yang kurang baik), dan belajar berfikir secara terus-menerus mengenai kemurnian, agar dapat dicapai keadaan samadhi”.

Pintu Dharma ini telah diterima oleh umat Buddha Mahayana Sekte Tanah Suci sebagai aturan penting untuk diikuti.

BODHISATTVA CUNDI CUNDHI SAPTAKOTI BUDDHAPHAGAVATI

Nama Bodhisattva Cundi Cundhi Saptakoti-Buddhaphagavati atau biasa disingkat Bodhisattva Cundi, diambil dari Bahasa Sansekerta. Terjemahannya bermacam versi.

Maha Bodhisattva ini dikenal secara populer oleh Umat Buddha mahayana dari Sekte Exoteric ( aliran yang menggarisbawahi hal-hal yang bersifat lahiriah ), dan juga dikenal oleh Sekte Esoteric ( aliran yang menggarisbawahi hal – hal yang bersifat bathiniah ), dikarenakan Mantranya yang dinamai Mantra Cundi.

Beliau juga dinamai Sang Kuan Yin Pelatih Kehidupan Spiritual agar dapat masuk ke alam surga oleh umat Buddha Sekte Dhyana.

Dalam kitab – kitab suci agama Buddha, tak terdapat deskripsi atau uraian hingga ke hal-hal yang sekecil-kecilnya mengenai cerita Makhluk Agung ini. Umat Buddha yang mempercayainya, yang berasal dari Sekte Esoteric mempunyai perbedaan pendapat, yaitu apakah tokoh agung ini termasuk golongan Maha Bodhisattva Avalokitesvara atau termasuk golongan Buddha ?

namun Beliau lebih sering dimasukkan sebagai Makhluk Agung dari golongan Bodhisattva. Mantranya yang dinamai Mantra Cundi telah diajarkan secara luas dan sangat populer.

Terdapat 9 (sembilan) lukisan mengenai Maha Bodhisattva Cundi ini. Beberapa dari lukisan atau rupangnya, ada yang mempunyai dua tangan, empat tangan, bahkan ada yang mempunyai 84 tangan. Umumnya umat Buddha memuja lukisan atau rupangnya yang bertangan 18 dan bermata tiga. Dalam rupang atau lukisannya, tiap tangannya bersikap bermacam-macam. Ada yang sedang memberikan berkah, memegang pedang atau tasbih, atau memegang alat untuk menghaluskan dan mencampur obat-obatan yang berhiaskan intan berlian. Bila melihat rupang atau lukisan Bodhisattva ini, beberapa umat Buddha sering salah mengerti. Mereka menyangka itu lukisan Bodhisattva Avalokitesvara, yang dikenal dengan nama Sahasrabhujaryavalokitesvara.

Sebenarnya terdapat mata yang jumlahnya 27 dan 40 tangan (jika ditambah dengan satu tangan yang sikapnya mencakup kedua telapak tangan menjadi satu, dan satu tangan lagi yang sikapnya sedang memberikan berkah), maka jumlah tangannya menjadi 42.

Karena rupang atau lukisan Maha Bodhisattva Avalokitesvara tangannya berjumlah banyak untuk memegang aneka macam jenis benda, merupakan ciri khas Maha Bodhisattva Cundi. Jadi Ciri khas Bodhisattva Cundi dilekatkan pada rupang atau lukisan Maha Bodhisattva Avalokitesvara.

Seseorang dapat mengucapkan Mantra Cundi dengan kepercayaan sepenuhnya karena dikatakan Mantra Cundi merupakan doa yang sangat ampuh. Doa yang berkekuatan hebat, diucapkan dalam waktu singkat tetapi akibatnya dapat langsung dirasakan atau terlihat.

Pengucapan kata-kata suci dalam doa atau Mantra Cundi, telah sedikit mengalami perubahan dari rumusan aslinya. Versi terjemahannya ke dalam Bahasa Inggris. Naskah aslinya berbahasa Sansekerta.

BODHISATTVA KSITIGARBHA

Bila diterjemahkan nama Bodhisattva Ksitigarbha artinya Bumi tempat menyimpan ke-epuluh Sutra (kitab suci agama Buddha) Roda Kehidupan.

Sang Mahasattva ini dikenal secara populer di kalangan rakyat berbagai bangsa di dunia. Karena Beliau telah menyeberangkan, menyelamatkan makhluk – makhluk yang menderita hingga tiba di Pantai Nirvana, sesuai dengan Sumpah Maha Suci Beliau yang bunyinya : ” Apabila alam neraka belum habis mahkluk – makhluk yang harus diselamatkan, maka saya tidak akan mau memperoleh tingkat Ke-Buddha-an saya, yang sebenarnya telah menjadi hak saya”. Ketika Umat Buddha berusaha menyeberangkan nenek moyang dan saudara-saudaranya yang telah meninggal. mereka selalu mempercayakannya kepada Bodhisattva Ksitigarbha untuk menolong perlindungannya.

Diantara Bodhisattva yang sangat banyak ini, Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Ksitigarbha sangat diyakini dan dipuja oleh umat Buddha Mahayana, dikarenakan sifat Maha Penolongnya. Dalam satu Sutra Buddhis yang sangat terkenal , Buddha menceritakan bahwa Ksitigarbha pernah terlahir sebagai seorang Puteri Brahman yang bernama Gadis Suci. Ketika Ibunya meninggal, ia sangat bersedih hati. Dikarenakan di masa hidupnya, Ibunya sering mengumpat Tri Ratna, maka dilahirkan di alam neraka. Untuk menyelamatkan Ibunya yang tersiksa di Neraka, ia memberikan persembahan kepada Buddha. Ia berdoa degan kesungguhan hati agar Ibunya dibebaskan dari siksaan neraka dan memohon kepada Buddha agar menolongnya. Suatu hari, ketika ia sedang memohon pertolongan, Hyang Buddha menasehati agar ia segera pulang. Kemudian diperintahkan agar melakukan meditasi dengan bimbingan Hyang Budhha, sehingga ia dapat mengetahui dimana ibunya erada.Melalui meditasi ia dapat

mengunjungi neraka dan bertemu dengan penjaga neraka. Penjaga memberitahukan kepadanya, bahwa berkat persembahan dan doanya, Ibunya telah dilepaskan dari neraka dan dimasukkan ke surga. Ia sangat senang dan merasa lega, karena Ibunya telah bebas dari penderitaan. Namun demikian, karena ia melihat makhluk-makhluk neraka lainnya yang menderita siksaan, ia merasa sangat iba sehingga ia berkata : ” saya akan berusaha membebaskan semua makhluk neraka dari penderitaan selaam hidup saya”. Sejak saat itu, Gadis suci menjadi seorang Bodhisattva dan kemudian dikenal sebagai Bodhisattva Ksitigarbha.

BODHISATTVA MAITREYA

 

Nama ini berasal dari bahasa Sansekerta. Menurut uraian yang bersifat tradisional, beliau akan mencapai tingkat ke-Buddhaannya ketika beliau sedang berada di bawah Pohon Jambudvipa, setelah Hyang Buddha Sakyamuni mencapai pencerahan agungnya yang sempurna.

Demikianlah, kemudian Beliau akan dinamakan BUDDHA MAITREYA. Dikatakan pula, bahwa beliau akan menggantikan Buddha Sakyamuni, setelah hidup di Surga Tusita untuk keseluruhan hidupnya. Beliau juga dinamai Bodhisattva yang siap untuk mengisi posisi yang kosong untuk keseluruhan kehidupan yang ditetapkan

Bodhisattva Maitreya menjadi tokoh utama di bidang Buddha Dhamma, dan mendiami bagian dalam istana di Surga Tusita. Sampai 567 juta tahun, Beliau akan turun ke dunia, dan mencapai ke-Buddhaannya di bawah Pohon Bunga Ular Naga yang tumbuh di taman bunga.Kemudian akan ada 3(tiga) Perhimpunan Dharma atau Dewan Dharma yang akan Beliau bentuk. Dan Dewan-Dewan Dharma itu akan dinamai Tiga Dewan Dharma di Bawah Pohon Bunga Ular Naga. Menurut kitab suci agama Buddha yang dinamai Sutra Ekottara-Agama, jumalh dari makhluk – makhluk hidup yang mengalami penderitaan, yang akan diselamatkan, dapat diseberangkan hingga tiba di Pantai Nirvana dengan selamat, yang jumlahnya tidak terhitung.

Pada Dewan Dharma yang pertama, jumlah makhluk yang dapat diselamatkan akan berjumlah 960 juta. Sedangkan pada Dewan Dharma kedua, sebanayk 940 juta. Pada Dewan Dharma yang ketiga, yang dapat diselamatkan akan berjumlah 920 juta orang.

Selama periode waktu melaksanakan pembinaan diri menjalankan Jalan ke-Bodhisattva-an-nya itu, Bodhisattva Maitreya akan melaksanakan cara pembinaan terhadap orang – orang lain sesuai car Beliau sendiri. Yaitu Beliau tidak menggaris bawahi pentingnya meditasi, maupun latihan spiritual dengan menyakiti badan dalam usahanya untuk melenyapkan atau membebaskan diri dari penderitaan. Tetapi Beliau menggaris bawahi pentingnya pelaksanaan berdana, beramalbhakti, bersemangat tinggi dalam mengejar kemajuan spiritual, berwatak cinta kasih dan welas asih serta bersifat bijaksana. Cara pembinaan diri yang dilakukan oleh Bodhisattva Maitreya ini, berbeda dengan car yang dianut oleh para Sravaka.

Para Sravaka mengambil cara bertapa brata, menyakiti badannya dalam usahanya untuk membebaskan diri dari penderitaan, dan agar memperoleh ijazah atau hak masuk ke tahap Nirvana.

Bodhisattva Maitreya secara sengaja membiarkan diri Beliau terkena apa yang dinamakan illusi (terkena pandanagan yang tidak seperti apa adanya, atau keadaan – keadaan yan gbersifat tidak sejati), sehingga tetap dapat berada di lingkungan makhluk – makhluk yang menderita dan dapat menyelamatkannya.

Terdapat cerita mengenai reinkarnasi dari Bodhisattva tersebut, Di bagian akhir dari zaman Dynasti Tang, hidup seorang pertapa yang bernama Pu Tai ( yang artinya orang yang membawa tas terbuat dari kain ), yang telah menyebarluaskan Buddha Dharma sepanjang hidupnya. Setelah sang pendeta tersebut wafat , Beliau meninggalkan syair yang berbunyi sebagai berikut : “Maitreya tetap bersifat Maitreya yang sejati. Dia manifes, mengejawantah, menjelma ke dunia, menjadi jutaan badan-badan yang telah mengalami perubahan wujud dari wujudnya yang semula. Sepanjang keseluruhan waktunya , dia telah manifes di hadapan makhluk-makhluk hidup yang tidak mengenal siapa sebenarnya yang ada dihadapannya itu”.

Umat BUddha yang mempercayai Sang Pendeta yang telah mencapai Nirvana tersebut, setelah zaman Dynasti Tang memuja Sang Pendeta sebagai wujud atau diri Bodhisattva Maitreya yang telah mengambil tubuh yang mengalami perubahan. Kebanyakan lukisan-lukisan mengenai Bodhisattva Maitreya itu dilukiskan berdasarkan penampakan atau meniru tubuh Pendeta Pu Tai itu.

BODHISATTVA AVALOKITESVARA

Nama Bodhisattva Avalokitesvara adalah perkataan Bahasa Sansekerta yang artinya Pribadi Maha Agung yang mahir dalam mengobservasi atau memandang sesuatu dengan cara yang mudah atau Pribadi Maha Agung yang mahir dalam memandang dan mendengarkan suara – suara dunia yang penghuninya mengalami penderitaan dan beliau siap untuk menolongnya.

Bodhisattva Avalokitesvara dapat mengubah dirinya dalam beratus macam bentuk menurut keperluannya. Pratima beliau yang umumnya kita temui di tempat – tempat ibadah dan banyak diperjual-belikan antara lain dalam bentuk sedang berdiri memegang botol yang berisi air kehidupan di tangan kiri dan setangkai dahan Yang Liu di tangan kanan. Ini mengandung arti Beliau selalu bersedia menolong manusia dan membebaskan dari penderitaan, penyakit dan kebimbangan dan sebagainya.

Sedangkan dalam posisi duduk bersila (bermeditasi) dengan sebutir bola ditangannya, mengandung makna Beliau terdapat di segala pelosok dunia atau beliau telah bebas dari kekangan dunia.

Banyak pula yang berbentuk sangat istimewa, yakni Bodhisattva Avalokitesvara dengan banyak tangan terdapat satu mata, yang bermakna kekuasaan dan pengaruh beliau sangat luas, dan dapat menjelma dalam ratusan bentuk, serta dapat melihat seluruh pelosok dunia. Ada pula yang dilukiskan bagai setan yang ganas dan bengis, matanya membelalak dan berbadan raksasa yang bermakna Beliau dapat melindungi umat dari gangguan setan atau mara-jahat.

Pada umumnya secara keseluruhan bentuk Avalokitesvara berwujud sebagai orang suci yang bertugas membimbing manusia menjauhkan diri dari perbuatan jahat agar melakukan kebajikan.

Menurut kitab suci agama Buddha Mahayana Dharani Sutra, beliau telah mencapai tingkat Ke-Buddhaannya pada zaman yang telah lampau, dalam banayk kalpa (periode jutaan tahun) yang tak terhitung banyaknya. Beliau dinamai Hyang Tathagata yang dari badannya memancar cahaya yang yang terang benderang dan telah memegang teguh Dharma yang benar.

Beliau memanifestasikan diri sebagai Bodhisattva untuk menolong, membantu Hyang BUddha Amitabha di Tanah Suci, untuk menyeberangkan makhluk – makhluk yang masih mengalami penderitaan agar tiba di Tanah Suci atau Surganya Hyang Buddha Amitabha (yang dinamai Tanah Suci Sukhavati, yang terletak di sebelah barat dari bumi atau alam semesta kita ini). Cinta Kasih dan Welas Asih adalah watak Bodhisattva Avalokitesvara, bersama-sama dengan kebijaksanaan besar yang telah beliau punyai.

Dalam kitab suci Agama Buddha Mahayana Sutra Hati Prajna ditulis sebagai berikut:

“Bodhisattva Avalokitesvara telah mempraktekkan secara mendalam Prajna Paramita dengan memandnag kelima Anggrezata (Kelima unsur dari diri manusia), yang bila orang telah dapat melihatnya sebagai suatu kekosongan, maka dengan cara demikian dirinya akan dapat terbebas dari semua kesukaran”

Essensi dari cinta kasih dan welas asih Beliau yang sangat besar, telah tertulis dalam kitab suci Agama BUddha Mahayana Sutra Bunga Dharma. Beliau akan segera menampakkan diri, akan hadir di depan siapa saja yang mengalami penderitaan, yang benar-benar mempercayai beliau untuk memohon pertolongannya dengan menyebut nama Bodhisattva yang sangat besar cinta kasih dan welas asihnya itu.

Beliau mampu dan siap sedia memanifestasikan diri dalam berbagai badan atau wujud, demi untuk menyeberangkan mereka ke Pantai Tanah Suci Buddha Amitabha. karena besarnya cinta kasih dan welas asih beliau, serta telah dimilikinya Kebijaksanaan Prajna, maka Beliau dianggap sebagai seorang Bodhisattva yang paling diharapkan pertolongannya di Dunia Saha.

Di berbagai negara, beliau secar populer dipuja dan dihormati. Gunung suci Pu Tu di Propinsi CheKiang, dikatakan sebagai Bodhimanda-Nya, dan menjadi pusat pemujaan kepada Bodhisattva Avalokitesvara.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s