Babak ke 33 Melawat Kembali ke Sub Seksi Neraka Congkel Hati   Leave a comment

Babak ke 33

“Melawat Kembali ke Sub Seksi Neraka Congkel Hati”

“Rasa cemburu terhadap kepintaran orang lain sering timbul karena diri sendiri tidak memiliki kemampuan,Sehingga menggunakan siasat jahat untuk memfitnah orang, perbuatan jahat dan sewenang-wenang pada akhirnya pasti terbalas,Untuk mengetahui pembalasannya cobalah dengar suara jeritan di Neraka congkel hati.”

Di dunia ada semacam orang dimana dirinya tak mempunyai kepandaian apa-apa, namun jika melihat kebolehan orang lain ditampilkan, timbul hati cemburu, secara diam-diam mengeluarkan siasat jahatnya, menyebar dan memancing gossip atau mengungkap kejelekan orang.Ada pula orang yang membina jalan ke Tuhanan namun berlainan dengan kepercayaan yang dianut lalu mengeluarkan kata-kata fitnahan, orang seperti itu akan terperosok masuk “Neraka Congkel Hati”, untuk dipotong dan dibuang hati cemburunya dan hati yang suka bikin gossip itu.Hukuman di neraka sungguh menakutkan, sejak mulai dari Astana pertama, yang disaksikan adalah pandangan yang seram dan mengerikan, apalagi hukuman bedah hati,sungguh lebih tragis dan mengenaskan.Hati merupakan penguasa manusia,hukuman “Congkel Hati” memang paling sakit, tiada yang lebih sakit dari hukuman ini, begitu hati terluka, maka seluruh anggota badan akan terguncang, sakitnya sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata.Tiga roh dilepaskan dan dibawa keluar penjara, agar mereka mengaku sendiri. Pengakuannya akan berguna untuk menyadarkan umat. Untuk memulihkan roh dosa keasalnya, dikipasi dengan kipas pemulih roh.

RohDosa 1 : Semasa masih hidup, saya bekerja di sebuah instansi pemerintah. Karena saya sendiri tak punya prestasi apa-apa, melihat teman sekantor naik pangkat, lalu timbul rasa iri di hatiku yang jahat.Dalam hati saya menggerutu pada manager “tidak adil dan pilih kasih,” akhirnya jadi dendam.Saya selalu menggunakan kesempatan membuat laporan palsu kemudian saya adukan kepada atasan, mengatakan si Anu menggunakan alasan palsu untuk bolos, melakukan tindak korupsi dan lain sebagainya, dengan tujuan mencelakakan orang lain. Hanya karena itu, empat tahun yang lalu saya terjangkit penyakit kanker lever dan akhirnya meninggal. Petugas neraka si Hitam dan si Putihmembawa saya masuk neraka, dikawal sampai di hadapan Panggung Cermin Dosa,tertampak dosa saya semasa hidup yang mengerjai dan mencelakakan teman sekantor.Saya lalu diserahkan ke Astana kelima untuk diadili, Yam Ong marah besar, mencela diri sendiri tak punya kepandaian tetapi tak tahu diri, malah iri dengan orang yang punya kepandaian, lalu mencari akal mencelakakan orang, hatinya amat jahat. Akhirnya saya dikirim ke sini untuk menerima hukuman. Siang malam dadaku dibedah dan hatiku dipotong oleh prajurit neraka, tak kepalang tanggung sakitnya, semasa hidup tak percayaakan pembalasan karma, sesudah mati deritanya tak terkatakan lagi.

CiHoet :Rasa iri hati terhadap kepandaian orang tak boleh dimiliki, kau merusak kekompakan organisasi, menjadi biang kerok dalam kelompok, sungguh tercela. Orang yang awam semestinya banyak belajar dari kepandaian orang lain, serta menghargainya,dengan demikian setiap hari akan semakin bertambah pengetahuannya, kalau tidak,hatinya perlu dibedah, maka akan seperti roh dosa ini.

RohDosa 2 : Semasa hidup sebagai penganut agama Buddha, saya membina diri dalam rumah tangga sebagai Upasaka, saya banyak membaca sutra Buddha, saya pikir selain ajaran Sang Buddha semua adalah ajaran sesat dan pembimbing sesat. Setiap kali bertemu dengan orang yang menganut kepercayaan lain, saya selalu memandang rendah.Jika bertemu dengan seorang penganut Taoisme, saya selalu berkata kepadanya : “Apa yang Anda sembah itu tak lain adalah para dewa dan setan dari aliran sampingan yang rendah derajatnya, kelak Anda takkan bisa terangkat naik ke atas (surga)”. Ada juga orang yang memberi saya kitab-kitab suci yang ditulis oleh Roh Suci pada Vihara Perguruan Roh Suci, saya pun tak sudi melihatnya, seraya berkata “”Itu praktek kerasukan setan, pena  sacral  itu pun palsu, jangan percaya pada ajaran sesat gituan!”semasa hidup hanya berusaha sebisanya mengumpat, mencemarkan dan memburuk-burukkan kepercayaan agama lain, mengira dirinya telah memahami ajaran Buddha yang tiada taranya,siapa tahu setelah meninggal tak mendapatkan jalan yang menuju Surga disebelah Barat, tetapi malah langsung menuju neraka, sewaktu meninggal tak menjumpai Para Suci dan Dewa yang menjemput dan membimbing saya pulang, tetapi malah didatangi dua utusan neraka yang menggiring saya masuk ke Neraka, dan diantar sampai ke Astana kelima, Yam Ong tak senang hati, saya dihardiknya : “Kau adalah pengkhianat Sang Buddha, sedikit rasa welas asihpun tak ada,meski berpantang, namun batinnya masih menyimpan rasa dengki, mengumpat agama lain secara ngawur, tak insaf akan sifat kesetaraan Buddha Dhamma. Setiap perguruan memiliki Jalannya sendiri, dan setiap  Jalan ada kebenarannya tersendiri,asalkan membina dan memupuk amal kebajikan, tak melanggar aturan dan melakukan kejahatan, semuanya adalah ajaran yang benar, kau pikir ilmu Buddha Dhamma tak terhingga batasnya, namun siapa kira ajaran agama lainpun memiliki “kesaktian yang luar biasa”, lalu apa gunanya menampar mulut orang dan menganggap diri lebih cakap?”.Saya menyesal semasa hidup bersikukuh dan berprasangka, bersikap angkuh dan sok percaya diri, hanyut dalam keakuan sendiri,sehingga timbul hati mengumpat, metodenya, ke Tuhanan nya, ajarannya, semua diumpat,watak ke Budhaannya sudah hilang, sehingga mengalami nasib seperti ini! Saya menitip pesan pada teman-teman se Dharma, janganlah maniru perbuatan saya, sehingga sia-sialah jerih payah semasa hidup.

CiHoet : Sayang sekali engkau membicarakan ajaran Buddha Dhamma tetapi menutup watak keBudhaanmu sendiri, hati seperti itu tak saja perlu dibedah, kelak di kemudian hari masih harus menanggung derita di “Neraka Cabut  Lidah”.

RohDosa 3: Saya menjadi Medium Utama pada salah satu Vihara Perguruan Roh Suci,mula-mula saya serius dalam melaksanakan tugas penegakan medium dan pembeberan ajaran Roh Suci, pengontakan dengan para  Suci sangat tanggap, belakang hari karena ketua Vihara tiada perhatian terhadap saya, lalu saya berpikir, setiap kali ada acara, saya begitu mengabdi dengan susah payah, rasanya tak ada gunanya, maka pupuslah semangat saya, lalu saya berkata pada para siswa medium : “Kegiatan penegakan medium merupakan rekayasa manusia belaka, kalian jangan percaya”. Para siswa medium mendengar kata-kata saya lalu hilang keyakinannya, sejak itu tak lagi datang ke Vihara membina diri dan berguru pada Roh Suci, saya pun meninggalkan Vihara tak lagi menjadi Medium. Selang tujuh tahun saya jatuh sakit dan akhirnya meninggal, roh saya dikawal utusan neraka dan dibawa sampai Astana kelima, Yam Ong marah, celanya : “Kau menjadi Medium Utama meski tiada mendapat perhatian dari pihak Vihara, namun tak  pada tempatnya mengumpat Roh Suci, kau telah melakukan kesalahan besar, harus dihukum masuk “Neraka Congkel Hati” selama 15 tahun, sebagai ganjaran terhadap “Hati yang mengumpat  para  Suci”, di kemudian hari masih diserahkan ke neraka lain untuk dihukum lagi. “Kini ingin menyesalpun sudah terlambat, mohon Buddha Ci Kung mintakan belas kasihan untuk saya.

CiHoet : Persinggahan Roh Suci mewakili para Suci, umat di dunia sekali-kali tak boleh mengumpatnya, kalau sampai melanggar, dosanya takkan terampuni.Kemunculan Kegiatan Penegakan Medium untuk menyadarkan umat adalah berdasarkan kebutuhan zaman, agar umat bisa terlintaskan secara merata, itupun harus ada Titah dari Kaisar Giok Tee, barulah bisa membuka Vihara dan membeberkan ajaran. Orang yang mengumpat berarti telah melecehkan Yang Dimuliakan di atas surga, dosanya sungguh tak ringan.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s