Babak ke 7 Melawat ke Pu Cing Suo (Balai Pengoreksian Pembacaan Paritta   Leave a comment

Babak ke 7

“Melawat ke Pu Cing Suo (Balai Pengoreksian Pembacaan Paritta

 

“Mencari lampu dalam kamar gelap, dengan susah payah membetulkan kekeliruan membaca Keng (Paritta),Para rahib Buddha dan Taois tampak loyo badannya,Setiap kali kelenengan (lonceng) kuningan bergoyang, terdengarlah suara bagaikan gemerincingnya koin emas, Namun kini, dengarkanlah dengan seksama suara rintihan di Neraka!”Terdapat sebuah rumah yang gelap gulita. Hanya terdengar suara rintihan dari dalam.Inilah Balai Pengoreksian Pembacaan Paritta. Di atas pintu tertulis 3 huruf “ “Pu CingSuo” (Balai Pengoreksian Pembacaan Sutra). Pintu depan tidak dibuka bila bukan bertepatan dengan hari pertama dan hari kelima belas pada setiap bulan penanggalan ImLek. Pada hari itu biasanya ada Hoet Co (Fo Cu/Buddha) dari arah barat, To Co(Tao Cu/Taois) dan para Nabi atau para Suci yang turun dari Langit datang kemari untuk memberi ceramah pada para bhikkhu dan pendeta Taois.Di dalam ruangan Pu Cing Sou (Balai Pengoreksian Pembacaan Sutra) gelap tidak  bercahaya. Bangunan rumah ini seperti terbuat dari kayu, seperti sudah lama tidak diperbaiki dan agak rusak. Di sana sini banyak berlubang, bagaikan tembok bobrok yang hampir roboh, di dalamnya terdapat ribuan orang yang berpakaian bhikku dan pendetaTaois, dengan lampu minyak yang kecil sedang membuka kitab Keng (KitabSutra/Paritta) dan membacanya. Keadaannya tampak menderita sekali.Para bikkhu dan pendeta Taois ini, semasa hidup di dunia mencari nafkah dengan memberi jasa pada orang yang butuh didoakan engan membacakan Keng (Sutra atau Paritta) untuk menghilangkan bencana, mengangkat dan melintaskan arwah keluar dari penderitaan, tetapi membacanya tidak sungguh-sungguh dan tidak tulus, semata-mata hanya prilaku bisnis saja. Ada yang mengurangi teks bacaannya, dalam membaca juga tidak menuruti urutan yang sebenarnya, maka setelah meninggal harus masuk Pu Cing Suo untuk membetulkan cara membacanya, dan hanya mengandalkan sinar redup seperti  kunang-kunang itu untuk membaca. Jika tertinggal satu huruf saja maka akan dihukum membaca ulang sampai seratus kali. Setelah lulus membaca baru ditentukan lagi jasa dan  dosanya.Jika diri sendiri yang membaca Keng (Sutra) atau untuk melayani orang, tetapi bukan bermaksud untuk cari uang dan keuntungan, bila mana ada kesalahan, maka akan diberi kelonggaran tersendiri berdasarkan Hukum Langit.Sebuah nasehat bagi para bikkhu dan pendeta Taois di dunia, membaca Keng(Sutra/Paritta) sebenarnya bisa untuk memahami Kebenaran dan membina diri sendiri. Namun jika ada orang yang mencari nafkah dengan membaca Keng, maka haruslah  sangat berhati-hati, tiap huruf tiap kalimat tidak boleh dikurangi, dikorupsi atau salah baca. Kalau tidak, bukan saja tidak bisa menghilangkan bencana orang lain, sebaliknya diri sendiripun malah mendapat celaka. Setelah meninggal harus masuk ke tempat Pu Cing Suo untuk dihukum membaca Keng dengan sempurna sampai beratus-ratus kali.Setiap Che It dan Cap Go (tanggal 1 dan 15 menurut kalender Im Lek), agama Buddha dan Taois akan mengajak para muridnya kemari untuk meninjau dan mengajari cara membaca yang benar dan tepat. Para umat sudah membuat kesalahan masih merepotkan para Buddha dan Dewa turun ke alam baka untuk melintaskan. Betapa welas asihnya para Buddha.Maka para umat di dunia harus sadar sendiri, bahwa sekecil apapun masalahnya, takkan terhindar dari hukuman di Alam Baka.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s