Babak ke 12 “Melawat ke Sub Seksi Neraka Kelaparan”   Leave a comment

Babak ke 12

“Melawat ke Sub Seksi Neraka Kelaparan”

“Melantunkan sebuah lagu berjudul ‘Menanti angin musim semi’ dengan  merdunya, Menari dengan menggoyang-goyangkan pinggul, tanpa disadari  kakinya menginjak serangga, Dalam pergaulan hidup sikap manusia terhadap  sesamanya meski dikatakan sebagai beradab atau pencerahan humariora,Namun ironisnya pada sisi lain malah terdapat banyak jalan remang-remang.”

Note: humaniora = ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, berbudaya; seperti teologi, filsafat, ilmu hukum, ilmu sejarah, filologi, ilmu bahasa, kesusastraan, & ilmu-ilmu kesenian.

Daerah ini seperti padang belantara, tidak tampak seorang manusia pun. Tak  jauh dari sini, melewati sebuah bukit kecil, ada Neraka Kelaparan. Roh yang masuk ke Neraka ini masuk melalui jalan kecil yang terletak di sebelah kiri. Roh-roh itu berjalan dikawal oleh si Kepala Sapi dan Tampang Kuda menuju ke Neraka Kelaparan. Perwira ber Kepala Sapi ini buruk rupa dan tampangnya menakutkan, tangannya menggenggam rantai besi dan  tombak besi. Jalanan ini berkerikil semua, lagipula permukaan banyak  berlubang, dan digenangi air. Sangat sulit jalannya, telapak kaki serasa ditusuk-tusuk. Di depan tampak  dua Perwira lagi sedang  mengawal  wanita yang dandanannya seperti nyonya kaya, tapi tangannya diborgol rantai besi. Di dunia ini banyak keluarga kaya raya, hidupnya bersenang-senang secara berlebihan, tak  menyayangi hasil padi-padian (gandum, beras, sekoi, jawawut, kacang), seenaknya membuang nasi dan sayuran, atau makan terlalu kenyang, maka kini dikurung dalam Neraka Kelaparan, biar ia merasakan apa yang namanya kelaparan.Bukit ini tidak begitu tinggi, namun pohonnya lebat dan subur, masih ditumbuhi pula gelagah perumpung (rumput yang tingginya mencapai 2 meter, batangnya beruas-ruas), dan banyak tumbuhan sejenis rotan. Keadaannya sama persis  dengan bukit yang terdapat di dunia, di atas bukit hanya ada sebuah jalanan kecil yang lebarnya hanya bisa dilewati 3 orang. Setelah melewati bukit ini akan  terlihat “Neraka Kelaparan” yang berada di kaki bukit ini. Sekelilingnya dipagari tembok  beton, beratap warna hitam kecoklatan. Huruf  “Sub Seksi Neraka  Kelaparan”  dipahat cekung di atas papan, tak begitu jelas. Di kanan-kiri pintu dijaga oleh Prajurit dan Perwira, terhukum perempuan yang dikawal tadi telah masuk ke dalam dengan menunjukkan kartu bukti. Sub Seksi Neraka ini termasuk Wilayah kekuasaan Astana Kedua dan dinamakan Neraka Kelaparan. Lebar setiap sel sejajar sel penjara di sini hanya muat 3 dipan saja, setiap orang yang berada di dalamnya walau berpakaian bagus, badannya  malah kurus, mukanya pun pucat pasi dan tak hentinya merintih. Mereka  kebanyakan semasa hidupnya sebagai usahawan, sandang pangan berkecukupan,sekali keluarkan uang ribuan dolar, tiada sayang. Tetapi terhadap pengemis atau orang miskin sama sekali tak  punya rasa kasihan. Setelah  meninggal semuanya  terperosok masuk di sini. Dipanggillah seorang roh pria berdosa untuk bercerita. Semasa hidup di dunia,dia membuka pabrik,  karena usaha lancar,  maka dia mendapat banyak keuntungan. Demi keperluan bisnis, tiap hari dia sering mengadakan kontak sosial dan jamuan makan,  keluar masuk restoran sudah seperti ke dapur  rumah sendiri, makan, minum, bermain, bersenang-senang, menjadi kesukaannya.Sekali makan bisa menghabiskan uang puluhan ribu, tetapi tak merasa sayang; sebaliknya terhadap kesejahteraan karyawan sendiri, tiada rasa belas kasihan sama sekali, sehingga karyawan sering mengeluh. Jangankan  berbuat amal, apabila ada pengemis minta uang atau famili dan teman-teman yang miskin kerumah mau meminjam uang, dia selalu berpesan kepada pembantunya untuk mengatakan bahwa dia tidak di rumah, tapi menu masakan di rumah selalu yang enak, lezat-lezat dan mahal, tiada berhemat sedikit pun; di luar, dia masih menyimpan banyak wanita simpanan, masing-masing disediakan rumah tinggal  tersendiri, tiap bulan menanggung ongkos hidup puluhan ribu Yen untuk para  selirnya.Dua tahun yang lalu dia  meninggal karena penyakit darah tinggi dan lalu  dihukum ke “Neraka Kelaparan”, meskipun dia mengenakan setelan jas tetapi tiada makanan enak yang bisa dimakan. Dalam satu minggu hanya diberi makan  sekali, berupa bubur campur sayuran. Setelah tiga hari dia pingsan karena kelaparan, namun disadarkan oleh si Kepala Sapi dan Tampang Kuda dengan  menyiram Air Mengembalikan Roh ke badan, sungguh menderita sekali. Dia sudah tak bisa menahan perutnya yang lapar. Diri sendiri berbuat diri sendirilah yang menanggung, siapa yang menyuruh hidup enak dan bersenang-senang. Lalu  disuruh keluarlah roh wanita dosa tadi untuk bercerita. Semasa hidup, dia adalah  istri orang kaya, suaminya membuka perusahaan pembangunan, ahli di bidang bangunan rumah. Mereka  menjadi kaya, dari  rumah yang kecil pindah ke rumah gedung. Karena banyak uang, lama kelamaan mereka terjangkit kebiasaan buruk, belajar main mahyong hingga siang-malam, hanyut  dalam judi,pekerjaan rumah tangga diterlantarkan. Di samping itu, dia sering mengajak teman-teman pergi ke nite club berdansa, atau pergi keluar makan malam, selama hidup, hanya makan,minum, judi, dan berfoya-foya, tak pernah sedikit pun mau menghemat uang.Terhadap usaha menolong orang miskin atau usaha amal, dia tak pernah memberikan uang.Setelah meninggal, Yam Ong  tanpa ampun, menghukumnya kemari. Roh wanita dosa ini kelaparan sampai tak bisa tahan, sehingga  memasukkan jari tangannya ke mulut untuk digigit. Jika semasa hidupnya didunia sembarangan menyia-nyiakan dan  membuang makanan sesukanya, tak menyayangi padi-padian; menghamburkan-hamburkan uang tak berhemat; uang yang dimiliki hanya dipakai sendiri untuk hidup bersenang-senang; tidak diamalkan kepada orang miskin dan orang yang sedang susah, atau  disumbangkan kepada usaha kesejahteraan umum; atau pria yang setelah kaya meninggalkan istrinya yang tadinya sama-sama susah, lalu di luar membangun rumah lagi untuk mencari kehangatan hidup bersama wanita simpanan; atau wanita yang menjadi terkenal namanya, seperti bintang penyanyi pada masa kini, begitu naik daun, lantas memandang rendah pria atau suami sendiri dan minta cerai, hidup bersenang-senang, mengejar kemegahan serta kemasyuran nama dan lain sebagainya.Setiap orang yang menjadi kaya lalu imannya berubah, maka akan timbul prilaku yang rendah budi, setelah meninggal tanpa kecuali semuanya terperosok ke Neraka menerima siksa. Berharap pada orang-orang yang menikmati hidup kaya, bergelimangan dalam kemegahan dan kemashuran lahiriah di dunia, mau mengamalkan uangnya untuk menolong sesamanya.Janganlah hidup terlalu royal dan mewah. Ingatlah, jika tahunya hanya makan,minum, main, dan bersenang-senang, setelah rejeki habis maka kemalangan yang akan menyusul. Ketahuilah, pada kelahiran ini bisa menikmati hidup kayadan bergelimangan dalam kemegahan, kemashuran lahir di dunia, adalah merupakan balasan rejeki dari hasil pemupukan amal kebajikan pada kelahiran dulu.Jika di saat kaya tak berprilaku sewenang-wenang, lagi pula memupuk kebajikan dan melakukan kebaikan, membantu orang mengatasi kesusahan, banyak menolong orang yang sedang terdesak oleh keadaan atau dalam kesusahan; atau menyumbang cetak kitab kebajikan untuk menasihati umat,setelah meninggal, tidak saja meninggalkan nama harum, rohnya pun bisa bebas dan naik ke Surga.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s