Sri Pannyavaro Mahathera   Leave a comment

Sri Pannyavaro Mahathera

Kepala Vihara Mendut

Sri Pannyavaro Mahathera, Kepala Vihara Mendut, Kota Mungkid, Magelang ini berbicara pelan, kadang bahkan sangat pelan. Suaranya halus. Kata-kata yang digunakan seperti dipilih secara ketat, yang membuat kalimat-kalimat pria kelahiran Blora, 22 Juli 1954, ini memiliki daya untuk menyapa nurani banyak orang.

Suasananya hening dan teduh. Banyak peserta meneteskan air mata. Batuk-batuknya yang sangat mengganggu saat kami berbincang di Vihara Mendut, Magelang, sehari sebelumnya, hilang.

Peristiwa itu terjadi dalam penutupan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) di Wisma Kinasih, Sukabumi, beberapa waktu lalu. Pannyavaro adalah pembicara terakhir setelah beberapa tokoh agama lainnya yang memberikan pemikirannya mengenai Habitus Baru.

Bagi Pannyavaro, Habitus Baru adalah ajakan bagi semua yang nuraninya masih bisa berkata-kata. Ajakan itu menjadi amat sulit dipahami bagi yang menganggap bahwa perilaku buruk bukan lagi hal buruk, bahkan bangga melakukannya.

Meski begitu, tak ada alasan untuk tidak optimistis. Sekeras apa pun batu, tetesan air kesabaran, ketekunan, kasih sayang, kejujuran, dan kebijaksanaan akan membuat batu keburukan itu berlubang, tuturnya Itulah kearifan Buddhis untuk kita semua, ujar Kardinal J Darmoatmodjo.

Melubangi batu keburukan adalah pekerjaan besar, dimulai dari dalam diri dengan mengawasi gerak pikiran agar menuju kepada perilaku bajik. Dalam kebajikan, keserakahan dan kebencian tidak mendapat tempat.

Wawancara dengan Pannyavaro berikut ini mudah-mudahan dapat menjadi bagian dari perenungan ketika menapaki hari-hari di pengujung akhir tahun 2005.

Menurut Anda, apa tantangan terbesar saat ini sebagai individu, masyarakat, dan bangsa?

Yang menjadi keprihatinan kami, kalau semakin banyak saudara-saudara kita melakukan hal-hal yang tidak baik; mencuri, korupsi, memanfaatkan setiap kesempatan untuk kepentingan sendiri, melakukan kekerasan atau perilaku-perilaku yang menurut keadaban bersama merupakan kekejaman, tetapi tidak merasa bersalah, bangga, bahkan bersikap seolah-olah seperti pahlawan. Yang lebih memprihatinkan, sikap mental seperti ini mudah menular kepada yang lain.

Sikap mental seperti itu, di dalam pandangan Buddhis, diumpamakan asawa atau racun, yang meracuni darah kita, pemikiran kita. Awalnya mengambil kecil-kecilan. Lama-lama menjadi kebiasaan. Mencuri, korupsi, dan tindak kekerasan lalu menjadi art.

Meskipun institusi-institusi baru dilahirkan, sistem diatur kembali dalam sinar keadilan, perundangan dilengkapi, tetapi kalau moral masih berorientasi pada kenikmatan indriawi, keserakahan akan menghancurkan segala harapan baik.

Mengapa itu terjadi?

Kenikmatan indrawi itu begitu pentingnya bagi setiap orang, apalagi dengan berkembangnya teknologi. Perilaku buruk adalah kenikmatan yang membakar-bakar keinginan, membuat orang tak peduli cara mendapatkannya. Kalau saya tidak senang kepada Anda, saya hancurkan Anda, lalu saya merasa puas.

Kesenangan membakar kita menjadi serakah dan ketidaksenangan (kepada yang lain) menjadi kebencian. Keduanya menciptakan penderitaan pada diri sendiri dan orang lain.

Mengapa orang terjebak kenikmatan seperti itu?

Dunia saat ini didominasi oleh kebudayaan yang berpusat pada materi, karena itu cenderung membakar-bakar keinginan. Kecukupan materi, bukan hanya harta, tetapi terutama kedudukan, kekuasaan dijadikan parameter keberhasilan. Itulah paradigma dunia modern tentang sukses dan bahagia. Etos modernitas sekarang ini adalah etos kerakusan. Manusia modern sulit melihat dimensi internal sebagai faktor terpenting keberhasilan. Orang bisa menjadi sangat kejam karena tak bisa mengendalikan kebencian dan keserakahan.

Di dalam diri setiap manusia

Nafsu keserakahan ada di diri setiap orang kata Pannyavaro. Keserakahan tak memiliki batas kepuasan, tidak mengenal pertimbangan, kepedulian, dan saat untuk berhenti. Nafsu serakah mudah berubah menjadi kebencian dan menjadi benih kehancuran. Bila suatu saat keserakahan tak mampu memberikan kepuasan sesaat, kebencian muncul ke permukaan, melahirkan kemarahan, keinginan untuk menghancurkan, permusuhan, balas dendam, bahkan pembunuhan.

Ketulusan tak bisa lahir dari keserakahan dan kebencian. Kalau bantuan diulurkan, tetapi perilaku buruk tidak dihentikan, bantuan apa pun tak banyak artinya.

Realitas awal kasih sayang yang sejati, menurut Pannyavaro adalah kesanggupan mengendalikan diri dari segala perilaku tak bermoral. Sekecil apa pun perilaku buruk itu, ia akan memberikan keburukan bagi lingkungan karena ketergantungan merupakan keniscayaan dalam semesta ini.

Apakah sumber dari keserakahan dan kebencian?

Sumbernya adalah egoisme keakuan. Self centreness. Egoisme keakuan ini menyeret kita ke dalam inti kegelapan, membuat manusia tak bisa membedakan yang baik dari yang buruk. Ia membutakan manusia dari Dharma. Kegelapan tak hanya menjadikan gelap bagi jiwa seseorang, tetapi menimbulkan keonaran dalam keluarga, kericuhan di masyarakat, kekerasan, kekejaman, pelecehan hukum, dan pembunuhan. Kegelapan batin yang bersekutu dengan kekuasaan, senjata, bahkan teknologi akan menghancurkan tatanan dunia, peradaban, dan kemanusiaan.

Di sisi lain, ekspresi keberagamaan menguat.

Esensi realitas awal seseorang beragama adalah komitmen kuat untuk melakukan perubahan sikap mental, moral dan perilaku pada setiap pelakunya, lebih dapat membedakan yang buruk dan yang baik, lebih peduli, lebih berbelas kasih, dan lebih menghargai kehidupan. Keberagamaan menjadi tidak bermakna kalau tidak membawa perubahan.

Bagaimana menyikapi ini semua?

Punya komitmen kuat dan sungguh-sungguh untuk mengubah diri sendiri dulu untuk menjadi lebih baik meskipun suliiiit sekali. Bersama itu juga, kita mengajak yang lain dengan keteladanan. Pandai menuntut dan menggugat pihak lain tanpa peduli pada perbaikan diri sesungguhnya telah menanamkan kebencian pada dirinya dan juga orang lain.

Kesungguhan melakukan perubahan pada diri tentu berpengaruh pada masyarakat. Pengaruh menuju perbaikan akan sangat besar kalau para pemimpin mempunyai tekad kuat dan usaha keras untuk melakukan perubahan terhadap pribadinya sendiri. Keteladanan akan perilaku bajik dan kebijakan yang mengalir dari dirinya akan menyejahterakan masyarakat.

Bagaimana kalau membunuh karena meyakini suatu kebenaran?

Nurani yang masih bisa berkata-kata akan menghargai setiap kehidupan, selemah dan sekecil apa pun kehidupan itu. Saya meyakini hukum ketidakkekalan alam semesta, karena itu saya percaya orang selalu bisa berubah. Yang jahat bisa menjadi baik, karena itu jangan membenci mereka. Saya tidak setuju pada kejahatan, tetapi tak ada alasan untuk menghancurkan orang yang melakukan kejahatan. Kekerasan akan beranak dan bercucu kekerasan. Orang baik pun bisa menjadi jahat kalau ia terus dibakar oleh keinginan-keinginan. Karena itu, yang paling penting adalah mengawasi gerak pikiran kita sendiri.

Caranya?

Dengan melatih diri terus-menerus; dengan peduli pada penderitaan orang lain, tidak membandingkan, dengan pengendalian diri dan meditasi untuk memperkuat kesadaran. Kalau orang melakukan hal-hal berguna bagi orang lain, tetapi kemudian mulai terpikir bagaimana dari situ ia bisa mendapatkan sesuatu yang bersembunyi di dalam keakuan-nya, maka itu bukan greatness.

Lalu, apa keberhasilan?

Inner success yang mampu memberikan kebahagiaan dan ketenteraman adalah kepuasan hati. Kepuasan hati adalah kekayaan tertinggi, santutti paramang dhanang. Mau mengurangi keserakahan, kebencian, mengurangi saja, maka akan timbul kepuasan hati. Apalagi kalau tahu kapan saat berhenti dari banyak keserakahan dan kebencian sebelum kematian tiba. Kemudian menggunakan waktu yang tersisa untuk lebih menambah kehidupan spiritual.

Membuang kemelekatan

Pannyavaro dilahirkan dari keluarga penganut Buddhis tradisional. Tiga adiknya perempuan semua sehingga si sulung itu tak pernah diharapkan menjadi bhikku. Kedua orangtuanya mengharapkan ia menjadi dokter, karena itu ia diberi nama Husodo, yang artinya obat. Ia merasa tidak mengecewakan orangtuanya karena ia juga menjadi dokter meski yang diobati bukan penyakit medis.

Apa yang membuat Anda memutuskan menjadi bhikku?

Banyak faktor yang membawa saya ke sini. Itulah Dharma. Saya melihat tidak ada kebahagiaan yang abadi di dunia. Saya pikir, dengan menjadi bhikku, saya bisa mengambil jarak dengan fenomena kebahagiaan yang sementara itu dan kalau bisa memberikan pengabdian saya.

Menurut Buddha, yang membuat kita menderita adalah kemelekatan (attachment) dengan apa pun yang dicapai, yang dimiliki, sekalipun itu didapat dengan cara yang baik. Orang tahu semua di dunia ini bersifat sementara, tetapi ketika terjadi perubahan, misalnya kepergian orang-orang tercinta, kita tetap sulit menerima.

Kekuatan pada kearifan untuk menolak kemelekatan bukan hanya dengan belajar, tetapi dengan praktik mengendalikan diri, meditasi, berbuat kebaikan sehingga kalau menghadapi perubahan bisa seimbang. Tidak hanyut, marah, jengkel, sedih, kecewa, dan frustrasi. Intelektualitas saja tak mampu menghantam kemelekatan yang membutakan.

Saya berharap kita terus berusaha melakukan kebajikan, berpikir baik, dan mengeluarkan kata-kata yang baik dalam hubungan sehari-hari. Ada cerita menarik tentang ini. Seorang pejabat yang dikenal culas dan tak suka hal-hal yang spiritual, suatu hari mengunjungi seorang guru meditasi. Ia bertanya, Menurut Anda, saya seperti apa. Sang guru menjawab, Seperti Buddha.

Para murid terkejut. Lalu bertanya bagaimana sang pejabat melihat guru mereka. Seperti kerbau, jawabnya.

Cerita ini bisa ditafsirkan macam-macam. Tetapi, menurut saya, kalau orang dipenuhi oleh pikiran positif, hanya yang baik yang akan keluar dari ucapannya. (Maria Hartiningsih dan Hariadi Saptono, Kompas 18 Desember 2005) ► e-ti

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Nama Lengkap: Sri Pannyavaro Mahathera

Nama Lahir: Husodo

Nama Keagamaan: Pannyavaro

Lahir: Blora, 22 Juli 1954

Agama: Buddha

Pendidikan: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1972-1974)

Pentahbisan Bikkhu: Bangkok, 1977

Jabatan: Kepala Vihara Mendut, Kota Mungkid, Magelang

– Kepala Vihara Dhamma Sundara, Solo

Alamat: Vihara Mendut Kota Mungkid, Magelang (Near Borobudur Monument) Jawa Tengah

Postal Address: Kotak Pos No.7 Muntilan 56401 Tel/Fax: 0293-8236

sumber: http://www.tokoh-indonesia.com/ensiklopedi/s/sri-pannyavaro-mahathera/index.shtml

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s