Vinaya Upasaka & Vinaya Kebhikkhuan   Leave a comment

 

PENGANTAR VINAYA

Editor :
Bhikkhu Subalaratano
Dharma K. Widya;
Diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda;
Jakarta, 1988, Edisi Pertama

BAB I
P E N D A H U L U A N

A. PENGERTIAN VINAYA

Vinaya berarti Peraturan, Disiplin atau Tata Tertib. Kata Vinaya sendiri berarti : melenyapkan/menghapus/memusnahkan/menghilangkan – dalam hal ini – segala tingkah laku yang menghalangi kemajuan dalam Jalan Pelaksanaan Dhamma; atau sesuatu yang membimbing ke luar (dari dukkha). Ada beberapa hal yang menyebabkan Sang Buddha menetapkan Vinaya :

“Untuk tegaknya Sangha (tanpa Vinaya, Sangha tidak akan bertahan lama).
Untuk kebahagiaan Sangha (sehingga bhikkhu mempunyai sedikit rintangan dan hidup damai).
Untuk pengendalian diri orang-orang yang tidak teguh (yang dapat menimbulkan persoalan dalam Sangha),
Untuk kebahagiaan bhikkhu-bhikkhu yang berkelakuan baik (pelaksanaan sila murni menyebabkan kebahagiaan sekarang ini),
Untuk perlindungan diri dari asava dalam kehidupan ini (karena banyak kesukaran dapat dihindarkan dengan tingkah laku moral yang baik),
Untuk perlindungan diri asava yang timbul dalam kehidupan yang akan datang (asava tidak timbul pada orang yang melaksanakan sila dengan baik),
Untuk membahagiakan mereka yang belum bahagia (orang yang belum mengenal Dhamma akan bahagia dengan tingkah laku bhikkhu yang baik),
Untuk meningkatkan mereka yang berbahagia (orang yang telah mengenal Dhamma akan bahagia melihat pelaksanaannya),
Untuk tegaknya Dhamma yang Benar (Dhamma akan bertahan lama bila Vinaya dilaksanakan dengan baik oleh para bhikkhu),
Untuk manfaat dari vinaya (Vinaya dapat memberi manfaat kepada makhluk-makhluk, terbebas dari dukkha, menuju Nibbana).”

(Anguttara Nikaya, Book of Tens, Discourse 31)

Terdapat dua alasan tambahan (Anguttara Nikaya) :
“Untuk simpati dengan umat berkeluarga, dan
“Untuk mematahkan semangat para bhikkhu yang berpikiran tidak baik”.

Dhamma dan Vinaya (gabungan keduanya disebut Buddha Sasana) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dhamma tanpa Vinaya akan merupakan ajaran yang tidak mununjukkan awal atau permulaan untuk dilaksanakan. Sebaliknya, Vinaya tanpa Dhamma akan merupakan formalisme kosong, suatu disiplin yang hanya menghasilkan sedikit buah atau kemajuan.

B. DUA JENIS VINAYA

Vinaya tidak hanya diartikan sebagai peraturan yang berhubungan dengan kebhikkhuan saja. Memang Vinaya Pitaka berisikan peraturan latihan, larangan, yang dibolehkan dengan ketetuan-ketentuan yang mengatur kehidupan bhikkhu, namun dikenal pula Vinaya untuk umat berkeluarga atau upasaka-upasika. Dalam pengertian yang sempit, Vinaya untuk umat berkeluarga adalah Pancasila dan pengertian yang lebih luas dalam Sigalovada Sutta disebut pula “Gihi-Vinaya” (Vinaya untuk umat berkeluarga).

Terdapat perbedaan antara sila untuk umat berkeluarga dan sila untuk bhikkhu. Sila untuk umat berkeluarga bersifat moral semata-mata dan digolongkan dalam Pakati-sila (sila alamiah). Sementara itu, bagi para bhikkhu, selain sila yang bersifat moral, berlaku sila yang khusus untuk cara hidupnya, dan sila itu digolongkan dalam Paññati-sila (“Formulated-sila”). Para bhikkhu dan umat berkeluarga haruslah mentaati Vinaya atau sila secara murni dan tidak terjatuh dalam pelanggaran. Dikenal adanya “kukkuccayanta bhikkhu” yaitu para bhikkhu yang seksama atau teliti yang tidak mau menerima sesuatu apapun kecuali telah diperkenankan oleh Sang Buddha. Terdapat pula “appiccha bhikkhu” yaitu bhikkhu dengan sedikit keinginan yang merasa malu akan kelalaian dan tingkah laku bhikkhu lain yang tidak benar. “Sidikit keinginan” merupakan kata lain dari “santutthi” (merasa puas), suatu sifat yang sangat berharga untuk seorang bhikkhu.

Sang Buddha bersabda :
“Sempurnalah dalam sila, O bhikkhu, sempurnalah dalam Patimokkha.
Kendalikanlah diri sesuai dengan Patimokkha.
Sempurnalah dalam tingkah laku dan waspadalah dengan melihat bahaya sedikitpun pada kesalahan yang paling kecil, dan latihlah dirimu dengan melaksanakan secara benar peraturan-peraturan latihan ini”.

C. VINAYA PITAKA

Aturan-aturan disiplin yang disusun dalam dua himpunan berdiri sendiri, yang kemudian mendapat penambahan.

  1. Suttavibhanga
    Penggolongan pelanggaran dalam delapan kelompok dimulai dengan empat aturan parajika mengenai pelanggaran-pelanggaran yang dapat menyebabkan seorang bhikkhu dikeluarkan dari Sangha. Pelanggaran-pelanggaran ini meliputi pelanggaran seks, pencurian, pembunuhan dan pembujukan untuk membunuh diri, kesombongan palsu akan kemampuan gaib diri sendiri. Aturan-aturan ini berjumlah 227. Seluruhnya sama dengan peraturan-peraturan Patimokkha yang diucapkan pada pertemuan Uposatha dari Sangha. Bagian ini dilanjutkan dengan Bhikkhuni-suttavibhanga, suatu rangkaian aturan untuk para bhikkhuni.
  2. Khandhaka-Khandaka, yang disusun dalam dua seri.
    1. Mahavagga
      (1) Aturan-aturan untuk memasuki Sangha.
      (2) Pertemuan Uposatha dan pengucapan Patimokkha
      (3) Tempat tinggal selama musim hujan (vassa)
      (4) Upacara penutupan musim hujan (pavarana)
      (5) Aturan untuk menggunakan pakaian dan perabot hidup
      (6) Obat-obatan dan makanan
      (7) Upacara Kathina, pembagian jubah tahunan
      (8) Bahan jubah, aturan tidur dan aturan bagi bhikkhu yang sedang sakit
      (9) Cara menjalankan keputusan oleh Sangha
      (10) Cara menyelesaikan perselisihan dalam Sangha
    2. Cullavagga
      (1,2) Aturan-aturan untuk menangani pelanggaran-pelanggaran yang dihadapkan kepada Sangha
      (3) Penerimaan kembali seorang bhikkhu
      (4) Aturan-aturan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul
      (5) Berbagai aturan untuk mandi, berpakaian, dan lain-lain
      (6) Tempat tinggal, perabot, penginapan-penginapan
      (7) Perpecahan
      (8) Perlakuan pada berbagai golongan bhikkhu dan kewajiban para guru dan samanera
      (9) Pengucilan dari Patimokkha
      (10) Pentahbisan dan petunjuk bagi para bhikkhuni
      (11) Sejarah Sidang Agung pertama di Rajagaha
      (12) Sejarah Sidang Agung kedua di Vesali
  3. Parivara. Ringkasan dan penggolongan aturan.
    Aturan-aturan dalam Suttavibhanga dan Khandhaka-Khandhaka disertai cerita mengenai terjadinya aturan itu. Beberapa di antaranya benar-benar formal, yang semata-mata menunjukkan bahwa bhikkhu atau sekelompok bhikkhu telah melakukan pelanggaran atau mengikuti kebiasaan tertentu yang karenanya Sang Buddha menetapkan suatu keputusan. Akan tetapi, cerita-cerita nyata dimasukkan teristimewa dalam Mahavagga dan Cullavagga serta khotbah-khotbah dari Nikaya-Nikaya.
    Aturan-aturan penerimaan dalam Sangha didahului oleh cerita mengenai kejadian setelah mencapai penerangan, awal pembabaran Dhamma dan penerimaan siswa-siswa pertama. Cerita mengenai Rahula diberikan sehubungan dengan syarat-syarat yang diperlukan untuk penerimaan, dan aturan-aturan mengenai perecahan adalah cerita tentang komplotan Devadatta.

B A B II
VINAYA UPASAKA

A. PANCASILA

Umat Buddha yang hidup berkeluarga dalam masyarakat disebut upasaka (/ upasika). Kata upasaka berarti “yang duduk dekat (Guru)”. Kadang-kadang disebut pula umat yang berpakaian putih (“white-clad follower” atau “white-robed householder”), sedangkan bhikkhu merupakan siswa yang berjubah kuning (“yellow-robed”). Dalam hidup sehari-hari mereka melatih diri dalam Pancasila.

Dalam Dhammapada 246-247 terdapat sabda Sang Buddha sebagai berikut :

“Siapa saja yang memusnahkan makhluk hidup,
berkata dusta di alam ini,
mengambil sesuatu yang tidak diberikan padanya,
atau pergi bersama isteri orang lain, dan
memuaskan diri demikian,
memotong akar dalam dirinya
di alam ini.”

Perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu haruslah dihindarkan bila seseorang ingin menjadi seorang “manusia” tidak hanya dalam jasmaninya saja, tetapi juga batinnya. Pancasila disebut “manussa-dhamma” (Dhamma untuk manusia) karena kelahiran sebagai seorang manusia sangat tergantung pada pelaksanaan Pancasila ini. Kelima sila dari Pancasila merupakan petunjuk tingkah laku moral dasar dan minimal yang harus dilaksanakan oleh seorang umat Buddha. Pelaksanaan sila-sila ini akan menghindarkan seseorang dari melakukan perbuatan tidak baik dengan perkataan atau badan jasmani dan merupakan dasar untuk pekembangan lebih lanjut dalam Dhamma. Uraian Pancasila adalah sebagai berikut :

  1. Saya berjanji melatih diri untuk tidak menghilangkan nyawa makhluk hidup
  2. Saya berjanji melatih diri untuk tidak mengambil sesuatu yang tidak diberikan.
  3. Saya berjanji melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila (berzinah).
  4. Saya berjanji melatih diri untuk tidak berbicara salah
  5. Saya berjanji melatih diri untuk tidak minum minuman yang disuling/diragi yang menyebabkan menurunnya kesadaran.

Pada hari-hari Uposatha, umat Buddha dianjurkan untuk melaksanakan Atthasila (delapan sila), biasanya dengan berdiam di vihara selama hari tersebut. Kata Uposatha berarti “masuk untuk berdiam” (di vihara), dan hari Uposatha jatuh pada tanggal 1, 8, 15 dan 23 penanggalan bulan. Selama di vihara pada hari Uposatha seorang umat Buddha dapat mendengarkan khotbah Dhamma, berdiskusi Dhamma, atau melatih diri dalam meditasi. Dalam Atthasila, sila ketiga Pancasila diganti menjadi :

3. Saya berjanji melatih diri untuk tidak melakukan hubungan kelamin, dan ditambah dengan tiga sila lainnya, yaitu :
  1. Saya berjanji melatih diri untuk tidak makan di luar waktu yang ditentukan (sesudah pukul 12 siang),
  2. Saya berjanji melatih diri untuk tidak melihat/mendengar/melakukan tarian, nyanyian, musik, pertunjukkan, mengenakan perhiasan bunga, memakai wangi- wangian dan kosmetik.
  3. Saya berjanji melatih diri untuk tidak tidur di tempat tidur di tempat yang tinggi/besar.

Secara lebih terinci, sila yang harus dilaksanakan oleh umat Buddha dalam kehidupannya dapat diuraikan sebagai Penghindaran Diri dari Sepuluh Kamma Buruk, yaitu :

1. Membunuh
2. Mencuri
3. Berhubungan kelamin yang terlarang
4. Berdusta
5. Mencaci
6. Berkata kasar
7. Omong kosong
8. Menyimpan loba
9. Berkeinginan jahat
10. Berpandangan keliru

Dalam hubungan ini, seorang umat Buddha dalam penghidupannya haruslah pula menghindarkan diri dari cara-cara penghidupan yang tidak benar seperti berdagang senjata, makhluk hidup, daging, alkohol dan racun.

B. SIGALOVADA SUTTA

Sigala adalah seorang putera dari keluarga Buddhis yang berdiam di Rajagaha. Orang tuanya adalah penganut ajaran yang berbakti dari Sang Buddha, tetapi ia sendiri bersikap acuh tak acuh terhadap agama. Ayah dan ibunya tidak dapat membujuknya dengan cara apapun untuk menyertai mereka mengunjungi Sang Buddha atau siswa-siswa-Nya dan mendengarkan Dhamma yang Mulia. Sigala berangapan bahwa tidak ada gunanya mengunjungi Sangha karena hal itu dapat mengakibatkan kerugian materi. Pikirannya hanya tertuju pada kesejahteraan materi, dan kemajuan batin dianggapnya sesuatu yang sia-sia. Katanya selalu pada ayahnya : “Saya tidak mempunyai sesuatu yang harus dilakukan dengan para bhikkhu. Memberikan hormat pada mereka akan membuat pinggang sakit dan lutut kaku. Saya harus duduk di lantai dan melepaskan pakaian saya. Kemudian, dalam percakapan dengan mereka, setelah duduk demikian, seseorang harus mengerti, harus mengundang mereka makan dan memberikan persembahan, dengan demikian seseorang hanya akan mendapatkan kerugian karenanya.”

Ketika sang ayah akan meninggal, ia memanggil puteranya, dan bertanya apakah puteranya itu mau menjalankan nasihat terakhirnya. Sigala menjawab : “Tentu saja, Ayah, saya akan melaksanakan petunjuk apapun yang Ayah berikan pada saya.” “Baiklah, Anakku, sesudah engkau mandi pagi, memujalah kepada enam arah”. Sang ayah meminta puteranya berbuat demikian dengan harapan agar pada suatu hari ketika puteranya sedang melakukan hal itu, Sang Buddha atau siswa-Nya akan melihatnya, dan berkesempatan untuk memberikan khotbah yang sesuai baginya. Karena keinginan terakhir seseorang yang meninggal harus dilaksanakan, Sigala menjalankan keinginan ayahnya itu, meskipun tidak mengetahui maknanya.

Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di Hutan Bambu dekat Rajagaha. Menjadi kebiasaan Sang Buddha untuk bangun pada pukul 4 pagi sesudah menikmati Kebahagiaan Nibbana selama satu jam untuk memancarkan Pikiran Cinta Kasih yang Tak Terbatas ke seluruh alam semesta. Beliau mengamati dunia dengan penuh belas kasihan untuk mencari orang yang dapat ditolong-Nya pada hari tersebut.

Sigala yang sedang memuja enam arah dengan pakaian basah dan rambut basah tertampak oleh Sang Buddha yang melihat bahwa kepada Sigala dapat ditunjukkan cara yang lebih baik untuk perbuatan pemujaannya itu. “Hari ini Aku akan memberikan khotbah kepada Sigala tentang Vinaya Umat Berkeluarga. Khotbah itu akan memberikan manfaat bagi orang banyak. Ke sanalah Aku akan pergi”. Sang Buddha kemudian menuju ke Rajagaha untuk pindapata dan dalam perjalanan itu menemui Sigala. Setelah Sang Buddha selesai berkhotbah, Sigala menyatakan dirinya berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha sejak hari itu sampai akhir hayatnya.

(Isi Sigalovada Sutta dapat dibaca di berbagai buku lain. Oleh karena itu, sutta itu tidak dimuat dalam buku ini. Sebagai tambahan, simbolisasi arah dapat diuraikan sebagai berikut : karena hari mulai di Timur, maka kehidupan mulai dengan perawatan oleh orang tua; penghormatan guru dan Selatan mempunyai kata yang sama : dakkina; perawatan sehari-hari dalam keluarga terjadi setelah remaja menjadi dewasa, seperti Barat merupakan arah setelah tengah hari; Utara adalah “di luar” (uttara), demikianlah oleh bantuan teman-teman dan lain-lain, seseorang akan terbebas dari kesulitan. Diperlukan pula bagi seseorang untuk mendapat bimbingan Dhamma (Kebenaran) dari para Samana (pertapa) maka arah Atas berarti penghormatan kepada Guru Dhamma. Dalam berusaha dan bekerja seseorang juga perlu bantuan dari pegawai/karyawan, maka arah bawah menunjukkan penghargaan kepada bawahan/karyawan).

C. CATATAN : ETIKA MANUSIA

1. Maha Mangala Sutta

Sutta ini sangat terkenal dan merupakan ringkasan yang singkat tetapi menyeluruh mengenai etika Buddhis, secara individu maupun sosial. Tiga puluh delapan Berkah Tertinggi yang terdapat di dalamnya merupakan penuntun yang pasti dalam kehidupan manusia. Dimulai dengan “Janganlah berhubungan dengan orang yang dungu” (dungu di sini tidak hanya berarti bodoh atau tidak berbudaya, tetapi juga yang mempunyai kekejian dalam pikiran, perkataan dan perbuatan) yang penting untuk kemajuan moral dan spiritual; diakhiri dengan pencapaian batin yang terbebas dari nafsu, tak tergoncangkan dalam ketenangan. Sutta ini merupakan sutta yang sangat sering dibacakan oleh umat Buddha dalam berbagai kesempatan yang berbahagia seperti pada pernikahan, pemberkahan, pelantikan dan sebagainya.

Kata mangala berarti yang mendatangkan kebahagiaan dan kemakmuran (“which is conducive to happiness dan prosperity”). Berasal dari : “Man” (keadaan yang tidak menyenangkan), “ga” (pergi) dan “la” (memotong), kata itu berarti yang menghalangi jalan menuju penderitaan (that which obstructs the way to states of misery”). Dikisahkan pada suatu waktu terjadi perdebatan mengenai apa yang sebenarnya disebut Berkah (Mangala). Ada yang menafsirkan bahwa mangala adalah sesuatu yang indah dilihat misalnya pemandangan yang syahdu Anda pagi hari (seperti seorang wanita dengan anaknya, anak laki-laki kecil , lembu jantan putih dan sebagainya). Ada yang berpendapat bahwa mangala adalah suara yang indah didengar seperti “penuh”, “keberuntungan” dan sebagainya. Lainnya lagi berpendapat bahwa mangala adalah suatu pengalaman yang menyenangkan seperti bau harumnya bunga, sentuhan ke tanah dan sebagainya.

Perdebatan itu tidak mencapai kata sepakat dan berlangsung terus dan meluas bahkan sampai ke alam dewa. Para dewa, yang tidak merasa puas sebelum masalah ini terpecahkan, menemui pemimpin mereka, yaitu Dewa Sakka. Sebagai dewa yang bijaksana, Dewa Sakka memerintahkan seorang dewa untuk menanyakan hal tersebut kepada Sang Buddha yang pada saat itu sedang berdiam di Vihara Anathapindika di Jetavana dekat Savatthi. Lalu, Sang Buddha pun mengkhotbahkan Mangala Sutta.

S. Tachibana dalam bukunya “The Ethics of Buddhism” menyatakan : “Maha Mangala Sutta menunjukkan bahwa ajaran Sang Buddha tidaklah selalu diberikan dalam bentuk negatif, tidak selalu dalam bentuk seri klasifikasi dan analisis atau berkaitan semata-mata dengan moralitas kebhikkhuan. Dalam sutta ini kita jumpai moralitas keluarga yang dinyatakan dalam syair-syair yang paling indah. Kita dapat membayangkan kehidupan rumah tangga yang penuh kebahagiaan yang dicapai sebagai hasil pelaksanaan ajaran ini”.

(Isi sutta ini dapat dibaca pada buku paritta)

2. Parabhava Sutta

Maha Mangala Sutta berisikan petunjuk cara hidup yang mendorong kepada kemajuan dan kebahagiaan, sedangkan Parabhava Sutta melengkapinya dengan menunjukkan sebab-sebab kejatuhan. Barangsiapa membiarkan dirinya menjadi “suram” karena noda-noda tingkah laku seperti tersebut dalam Sutta ini akan menghambat jalannya menuju kemajuan moral maupun spiritual di dunia ini dan merendahkan segala sesuatu yang agung dan manusiawi dalam dirinya. Akan tetapi, barangsiapa penuh waspada akan bahaya-bahaya itu akan tetap membuka jalannya menuju 38 Berkah Tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia.

(Isi Sutta dapat dilihat pada lampiran).

3. Vyagghapajja Sutta

Dalam Sutta ini Sang Buddha memberikan petunjuk kepada para perumahtangga mengenai cara memelihara dan menambah kemakmuran mereka dan cara menghindarkan kehilangan harta kekayaan. Harta kekayaan semata-mata, bagaimanapun juga, tidaklah akan membuat seorang manusia sempurna ataupun membuat masyarakat harmonis. Khotbah ini disampaikan kepada Dighajanu, seorang Koliya, di kota Kakkarapatta (Vyagghapajja adalah nama keluarga Dighajanu) yang memohon petunjuk kepada Sang Buddha tentang ajaran yang membimbing manusia kepada kebahagiaan dalam kehidupan ini dan kebahagiaan dalam kehidupan yang akan datang. Dinyatakan oleh Sang Buddha bahwa terdapat empat syarat untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup sekarang ini, yaitu :

a. Utthanasampada (usaha yang terus menerus)
b. Arakkhasampada (kewaspadaan)
c. Kalyanamitta (teman yang baik )
d. Sama-jivikata (penghidupan yang seimbang)

Kemudian, untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup yang akan datang terdapat pula empat syarat :

a. Saddha-sampada (keyakinan)
b. Sila-sampada (moralitas)
c. Caga-sampada (kemurahan hati)
d. Pañña-sampada (kebijaksanaan)

B A B III
VINAYA KEBHIKKHUAN

A. BHIKKHU

Bhikkhu adalah umat Buddha yang melepaskan diri dari hidup keduniawian untuk berjuang sungguh-sungguh mencapai Nibbana dalam kehidupan sekarang ini. Kata bhikkhu sering diterjemahkan sebagai “pengemis” atau “peminta sedekah”, namun terjemahan itu tidaklah mencerminkan pengertian sesungguhnya karena dalam hubungan itu seorang bhikkhu tidaklah “meminta” melainkan “menerima” apa yang dipersembahkan kepadanya.

Perhimpunan para bhikkhu disebut sangha. Kata sangha tidaklah semata-mata menunjukkan suatu kelompok bhikkhu, namun lebih berarti sebagai para bhikkhu yang berkumpul untuk menjalankan suatu fungsi/tugas (seperti halnya kuorum dari sejumlah anggota masyarakat yang dibutuhkan untuk menentukan suatu tindakan). Jumlah bhikkhu yang membentuk sebuah sangha ditentukan oleh fungsinya. Kebanyakan fungsi memerlukan sangha dengan empat bhikkhu yang disebut catuvagga tetapi beberapa fungsi lainnya memerlukan sangha dengan lima, sepuluh, atau dua puluh bhikkhu (pancavagga, dasavagga, visativagga). Di tempat yang banyak terdapat bhikkhu diperlukan untuk pelaksanaan upasampada. Akan tetapi di tempat yang terdapat sedikit bhikkhu, hanya diperlukan lima bhikkhu.

Dapat dibedakan pula dua macam sangha : Sammuti Sangha, yaitu perhimpunan para bhikkhu yang belum mencapai tingkat kesucian dan Ariya Sangha, yaitu perhimpunan para bhikkhu (dan upasaka/upasika) yang telah mencapai kesucian. Ariya Sangha inilah yang termaksuk dalam Tiga Perlindungan (Tisarana) : Buddha – Dhamma – Sangha.

Sebelum menjadi bhikkhu, seorang umat Bhuddha harus ditahbiskan terlebih dahulu menjadi samanera dengan upacara pabbajja. Kata samanera berasal dari kata samana (pertapa) dan nera (putera/kecil). Seorang samanera mengikuti bimbingan yang diberikan oleh guru/bhikkhu pembimbing (upajjhaya) yang bertanggung jawab atas latihannya dalam Dhamma dan Vinaya, sebagai persiapan untuk upasampada (upacara penerimaan ke dalam sangha). Seorang samanera harus melatih diri dalam Dasasila dan 75 sila Sekhiya (bagian dari Patimokkha). Setelah samanera diberi upasampada, ia diterima ke dalam sangha sebagai seorang bhikkhu yang belum berpengalaman.

Upacara penerima seseorang menjadi bhikkhu dapat dibedakan atas :

  1. Ehi-bhikkhu upasampada, yaitu penerimaan menjadi bhikkhu yang dilakukan oleh Sang Buddha sendiri dengan ucapan “Ehi bhikkhu” (Datanglah, bhikkhu).
  2. Tisaranagamanupasampada, yaitu penerimaan menjadi bhikkhu dengan pernyataan berlindung kepada Sang Tiratana oleh calon bhikkhu. Cara ini dilakukan oleh keenam puluh siswa Ariya Sang Buddha yang pertama yang diinstruksikan oleh Sang Buddha untuk membabarkan Dhamma ke segala penjuru.
  3. Ñatti-catutthakamma-upasampada, yaitu penerimaan menjadi bhikkhu yang dilakukan oleh sangha (yang terdiri atas minimal lima orang bhikkhu) di sima (suatu tempat dengan batas-batas yang ditentukan). Cara ini ditetapkan oleh Sang Buddha setelah agama Buddha telah demikian berkembang dan banyak orang yang ingin menjadi anggota sangha.

Cara kedua yaitu Tisaranagamanupasampada yang tidak dilakukan lagi untuk penerimaan seseorang menjadi bhikkhu, kemudian dilaksanakan untuk penerimaan seseorang menjadi samanera (pabbajja), dan dilakukan oleh seorang bhikkhu senior (seorang Thera), yang telah disepakati dalam Pasamuan.

Empat syarat harus dipenuhi untuk pelaksanaan upasampada (yang dilakukan oleh sangha) :

  1. Vatthu-sampatti (kesempurnaan materi; dalam hal ini berarti orang yang akan ditahbiskan) :
    1. Harus seorang laki-laki (untuk menjadi bhikkhu)
    2. Harus mencapai usia 20 tahun (dihitung dari saat pembuahan)
    3. Tidak mempunyai cacat sebagai manusia, seperti orang kebiri, (atau cacat anggota tubuh dan sebagainya)
    4. Tidak pernah melakukan perbuatan kriminal yang serius yang termasuk pelanggaran berat seperti membunuh orang tua dan sebagainya.
    5. Tidak pernah melakukan pelanggaran serius menurut Buddha Sasana seperti pelanggaran parajika (ketika menjadi bhikkhu pada saat sebelumnya)
    Selain itu, ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang tidak dapat diterima menjadi anggota sangha, yaitu : pencuri, perusuh, yang mendapat hukuman dari pengadilan dengan reputasi buruk, mempunyai tatto di tubuh (sebagai tanda pernah dihukum karena kejahatan), mempunyai jaringan parut bekas pukulan (hukuman pada zaman dahulu), mempunyai kelainan anggota gerak atau penyakit kronis sehingga tidak dapat melaksanakan tugas sebagai bhikkhu, mempunyai penyakit infeksi, yang masih berada di bawah perlindungan orang lain (orang tua, pejabat pemerintah), budak belian dan orang yang berhutang.
  2. Parisa-sampatti (kesempurnaan pasamuan : dalam hal ini jumlah bhikkhu yang diperlukan harus cukup yaitu minimal lima bhikkhu atau sesuai dengan jumlah yang ditetapkan oleh Pasamuan).
  3. Sima-sampatti (kesempurnaan batas, yang berarti bahwa semua bhikkhu yang berada dalam lingkungan Sima dan tidak mendapat undangan, tidak boleh melanggar batas Sima tersebut.
  4. Kammavaca-sampatti (kesempurnaan pernyataan) :
    1. Natti – sampatti (usul)
    2. Anusavana-sampatti (pengumuman)

Seorang calon bhikkhu harus dibawa ke dalam Pasamuan oleh seorang bhikkhu yang dalam hal ini disebut upajjhaya. Upajjhaya haruslah seorang bhikkhu yang mampu dan senior yang akan membimbing bhikkhu baru tersebut setelah ditahbiskan dan juga yang akan memeriksa kebutuhan bhikkhu (parikkhara).

Bhikkhu yang telah ditahbiskan kurang dari lima vassa disebut navaka (“new one”) yang harus mempunyai pembimbing seorang upajjhaya atau achariya dan hidup bersamanya. Navaka bhikkhu tersebut menerima pelajaran dan petunjuk dari upajjhaya/achariya. Kata upajjhaya berarti instruktur atau seorang yang “merawat”. Bhikkhu yang tergantung kepadanya seperti tersebut di atas disebut saddhiviharika (“seorang yang hidup dengan”). Cara ketergantungan ini disebut nissaya. Upajjhaya seyogyanya menganggap saddhiviharika sebagai puteranya, sedangkan saddhiviharika seyogyanya mempercayai upajjhayanya bagaikan kepada ayahnya.

Bhikkhu yang telah melaksanakan vassa lebih dari lima kali namun kurang dari sepuluh kali disebut majjhima (“one in the middle”). Ia dianggap telah mampu melindungi diri sendiri. Ia dibolehkan terlepas dari nissaya dan dapat hidup sendiri (nissayamuttaka). Akan tetapi, apabila belum mempunyai pengetahuan cukup mengenai Dhamma–Vinaya untuk melindungi diri sendiri, ia tetap harus melaksanakan nissaya. Seorang bhikkhu yang telah melaksanakan sepuluh vassa atau lebih disebut thera (“an elder who is worthy of respect”). Ia mempunyai kemampuan untuk mengendalikan yang lainnya. Ia dibolehkan menjadi upajjhaya (bila telah mendapat persetujuan dari Pasamuan) dan memberikan upasampada, menjadi seorang achariya dan memberikan nissaya, mempunyai samanera untuk merawatnya (yaitu dapat mentahbiskan seseorang untuk menjadi samanera).

B. VINAYA

Pada saat permulaan perkembangan agama Buddha jumlah bhikkhu masih sedikit. Oleh karena itu, peraturan untuk pengendalian sangha tidak begitu diperlukan. Semua savaka (siswa) melaksanakan dan mengikuti jejak Sang Buddha dan mengetahui dengan baik ajaran Sang Buddha. Ketika jumlah bhikkhu makin bertambah dan tersebar di mana-mana, peraturan untuk pengendalian para bhikkhu menjadi lebih diperlukan. Dalam rangka pembinaan itu, sebagai “Raja Dhamma” yang bertugas “memerintah”, Sang Buddha menetapkan peraturan dan hukum yang disebut Buddhapaññati – untuk mencegah kelakuan yang salah dan memperingatkan para bhikkhu akan pelanggaran yang mungkin dilakukan, bahwa yang ini adalah pelanggaran berat, yang itu ringan dan sebagainya. Di samping itu, sebagai “Ayah Sangha”, Sang Buddha menyusun kebiasaan tingkah laku yang baik yang disebut Abhisamacara untuk mendorong para bhikkhu bersikap tepat, sebagaimana seorang ayah yang terhormat yang mendidik anak-anaknya untuk mengikuti tradisi keluarga.

Buddhapaññati dan Abhisamacara disebut Vinaya. Vinaya dapat diibaratkan bagaikan benang yang mengikat bunga-bunga menjadi suatu rangkaian, dengan cara demikian pula vinaya membantu membentuk bhikkhu sangha yang kuat. Selain itu, mereka yang ditahbiskan menjadi bhikkhu berasal dari keluarga yang tinggi, menengah bahkan rendah serta berbeda dalam sifat dan kasta. Apabila tidak ada vinaya untuk mengendalikan mereka atau apabila mereka tidak mematuhi vinaya, maka mereka akan merupakan masyarakat bhikkhu yang tidak baik dan hal ini tidak mendorong untuk timbulnya saddha dan pasada (keyakinan yang bijaksana dan kejernihan pandangan pada orang lain). Apabila para bhikkhu mematuhi vinaya, maka mereka akan menjadi masyarakat yang baik yang mendorong timbulnya saddha dan pasada pada orang lain. Bagaikan bunga berbagai jenis yang ditaruh di jambangan, meskipun ada yang indah dan cantik, akan tampak tidak menarik karena tercampur bersama. Akan tetapi, apabila bunga-bunga itu dirangkai oleh seorang ahli, maka akan tertampak indah dan sekalipun bunga yang sederhana akan tampak menarik, apalagi yang indah dan cantik. Peraturan vinaya sesungguhnyalah membuat para bhikkhu menjadi agung dan mulia.

Vinaya ditetapkan menurut sebab yang disebut nidana dan pakarana (asal mula dan cerita), tidak ditetapkan sebelumnya tanpa suatu sebab yang menimbulkannya. Apabila suatu perbuatan tercela terjadi oleh perbuatan salah bhikkhu, maka kemudian Sang Buddha menetapkan peraturan latihan. Demikian pula, Abhisamacara ditetapkan dengan cara yang sama.

Peraturan latihan yang ditetapkan sebagai hukum merupakan adibrahmacariya-sikkha (latihan utama dalam kehidupan suci) dan yang ditetapkan sebagai abhisamacara merupakan abhisamacara-sikkha (latihan lebih tinggi dalam tingkah laku benar). Yang pertama berisikan Patimokkha yang diperkenankan oleh Sang Buddha untuk dibacakan setiap dua minggu sekali, sedangkan yang kedua adalah di luar Patimokkha kecuali Sekhiyavatta (75 latihan) yang terdapat dalam Patimokkha. Patimokkha terdiri atas 227 sila :

– Parajika 4
– Sanghadisesa 13
– Aniyata 2
– Nissagiya Pacittiya 30
– Suddhika Pacittiya 92
– Patidesaniya 4
– Sekhiyavatta 75
– Adhikarana-samatha 7

Pelanggaran atas peraturan latihan yang menyebabkan seorang bhikkhu mendapat hukuman disebut apatti. Ditinjau dari akibatnya, apatti terbagi atas dua macam :

  1. Atekiccha (“incurable”) yang merupakan pelanggaran yang tidak dapat diperbaiki lagi dan menyebabkan seorang bhikkhu “terkalahkan”, harus keluar dari kebhikkhuan (“lepas jubah”) dan tidak dapat ditahbiskan menjadi bhikkhu lagi sepanjang sisa hidupnya; merupakan pelanggaran berat (garukapatti) yang terdiri atas pelanggaran parajika 4 (melakukan hubungan kelamin, mencuri, membunuh, berbohong dengan menyatakan diri mempunyai kesaktian yang sebenarnya tidak dimilikinya).
  2. Satekiccha (“curable”) yang merupakan pelanggaran yang dapat diperbaiki dan mencakup :
    1. Pelanggaran sedang (majjhimapatti) yaitu pelanggaran sanghadisesa 13 yang untuk pembersihannya bhikkhu bersangkutan harus mengakui kesalahannya di hadapan sangha (20 bhikkhu) dan melakukan manatta (mawas diri selama enam malam penuh di tempat tersendiri), untuk kemudian direhabilitasi oleh sangha dengan minimal 20 bhikkhu.
    2. Pelanggaran ringan (lahukapatti) yang untuk pembersihannya bhikkhu bersangkutan harus mengakui kesalahannya di hadapan seorang bhikkhu (atau lebih), dan mempunyai kategori berbeda-beda dari yang lebih berat sampai yang paling ringan :
      – Thullaccaya
      – Pacittiya
      – Patidesaniya
      – Dukkata
      – Dubbasita

Tidak termasuk apatti apabila baru timbul dalam pikiran, misalnya hanya berpikir : “Saya akan melakukan ini dan itu”. Ini tidak termasuk pelanggaran peraturan latihan dan tidak dianggap sebagai usaha untuk melanggar. Termasuk apatti apabila dilakukan melalui badan jasmani atau perkataan, atau kadang-kadang disertai pikiran dalam arti seseorang berbuat atau berkata dengan kehendak (sacittaka), atau tanpa kehendak (acittaka). Sebagai contoh, suatu apatti dapat terjadi melalui badan jasmani apabila seorang bhikkhu meminum minuman yang memabukkan, sekalipun ia tidak mengetahui sebelumnya bahwa minuman itu memabukkan.

Mereka yang ingin melaksanakan vinaya untuk mencapai keberhasilan seharusnyalah meneliti dengan seksama maksud vinaya. Beberapa peraturan latihan dan beberapa bagian abhisamacara ditetapkan oleh Sang Buddha untuk mencegah bhikkhu melakukan perbuatan melanggar hukum seperti mencuri atau membunuh. Beberapa ditetapkan untuk mencegah bhikkhu mendapatkan penghidupan melalui perbuatan menipu, misalnya melalui sugesti adanya kesaktian/kegaiban. Juga ditetapkan untuk mencegah bhikkhu dari perbuatan memukul atau memaki dan lebih jauh lagi untuk mencegah kebiasaan buruk berbohong, memfitnah, bicara kosong, minum-minum; mencegah ketidaksopanan seperti mendengarkan pembicaraan orang; atau mencegah tingkah laku kekanak-kanakan seperti menggelitik dengan jari, bermain dalam air, atau menyembunyikan perlengkapan bhikkhu lain. Kadang-kadang pula suatu peraturan ditetapkan berdasarkan kepercayaan penduduk pada waktu itu, atau sesuai dengan kemudahan atau kebiasaan orang yang hidup menyendiri.

Secara ringkas seorang bhikkhu harus mematuhi bhikkhu-sila yaitu empat macam kesucian moral bhikkhu (caturparisuddhi sila) :

  1. Patimokkhasamvarasila : moralitas yang terdiri atas menahan diri berkenaan dengan tata tertib bhikkhu yang berjumlah 227 sila Patimokkha.
  2. Indriyasamvarasila : moralitas yang terdiri atas menahan diri dalam indriya.
  3. Ajiva-parisuddhi-sila : moralitas yang terdiri atas kesucian penghidupan.
  4. Paccaya-sannissita-sila : moralitas yang berkenaan dengan empat macam kebutuhan pokok bhikkhu.

Menurut Sang Buddha, ada empat jenis bhikkhu di dunia ini (Cunda Sutta, Sutta Nipata):

1. Maggajina : Penakluk Jalan – yaitu Sang Buddha.
2. Maggadesaka : Guru dari Jalan.
3. Maggajiva : Yang hidup pada Jalan.
4. Maggadusaka : Yang mengotori Jalan – orang yang berpura-pura sebagai bhikkhu yang menyalahtafsirkan Ajaran dan berbuat bertentangan dengan Jalan.

C. CATATAN : BHIKKHUNI

Wanita diperkenankan oleh Sang Buddha untuk menjadi bhikkhuni pada tahun kelima setelah Penerangan Sempurna. Ketika itu Sang Buddha berkunjung ke Kapilavatthu untuk menjenguk ayahnya, Raja Suddhodana yang sedang sakit keras. Sang Buddha memberikan khotbah kepada ayah-Nya dan setelah mendengarkan khotbah tersebut Raja Suddhodana mencapai tingkat Arahat. Tujuh hari setelah menikmati kedamaian Nibbana, Raja Suddhodana wafat.

Setelah itu, Sang Buddha mendamaikan perselisihan antara negara Sakya dan negara Koliya perihal air sungai Rohini. Ratu Maha Pajapati bersama lima ratus wanita yang suaminya menjadi bhikkhu memohon kepada Sang Buddha untuk dapat ditahbiskan menjadi bhikkhuni. Permohonan ini ditolak oleh Sang Buddha sampai tiga kali. Kemudian Sang Buddha kembali ke Vesali (yang berjarak 200-300 mil dari Kapilavatthu). Sementara itu, Ratu Maha Pajapati dan lima ratus wanita itu tidak berputus asa, memotong rambut dan memakai jubah kuning, lalu mengikuti perjalanan Sang Buddha ke Vesali dengan berjalan kaki. Kembali Sang Buddha menolak sampai tiga kali. Akhirnya, melalui Ananda Sang Buddha memperkenankan mereka menjadi bhikkhuni apabila bersedia menerima delapan aturan keras (Garudhamma), yaitu :

  1. Seorang bhikkhuni, meskipun sudah ditahbiskan selama seratus tahun, harus menyambut dengan sopan, berdiri dari tempat duduknya, memberi hormat dengan kedua tangan dirangkapkan di dada kepada seorang bhikkhu yang baru saja ditahbiskan. Aturan ini harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar selama hidupnya.
  2. Seorang bhikkhuni tidak boleh menjalankan vassa di tempat, yang tidak terdapat seorang bhikkhu. Aturan ini pun harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar selama hidupnya.
  3. Setiap setengah bulan seorang bhikkhuni harus memohon dua hal dari Sangha para bhikkhu, yaitu (tanggal dan) hari untuk melakukan latihan dan hari untuk mendapatkan nasehat-nasehat (tegoran-tegoran). Aturan ini pun harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar selama hidupnya.
  4. Setelah vassa seorang bhikkhuni harus memohon kepada Sangha para bhikkhu dan Sangha para bhikkhuni untuk mendapat tegoran dan peringatan tentang apa yang dilihat, didengar dan dicurigai. Aturan ini pun harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar selama hidupnya.
  5. Seorang bhikkhuni yang melakukan pelanggaran harus menjalani hukuman (manatta) selama setengah bulan lamanya di Sangha para bhikkhu dan di Sangha para bhikkhuni. Aturan ini harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar selama hidupnya.
  6. Selesai menjalankan masa percobaan selama dua tahun seorang calon bhikkhuni harus mohon ditahbiskan menjadi bhikkhuni dari Sangha para bhikkhu dan dari Sangha para bhikkhuni. Aturan ini harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar selama hidupnya.
  7. Seorang bhikkhu tidak boleh dicaci-maki atau dihina dengan cara apapun juga oleh seorang bhikkhuni. Aturan ini pun harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar selama hidupnya.
  8. Mulai hari ini seorang bhikkhuni dilarang memperingati (menegor) seorang bhikkhu, sebaliknya seorang bhikkhu tidak dilarang untuk memperingati (menegor) seorang bhikkhuni. Aturan ini pun harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar selama hidupnya.

Dengan gembira Ratu Maha Pajapati menerima aturan tersebut dan ditahbiskan menjadi bhikkhuni yang pertama. Demikian pula ditahbiskan lima ratus wanita lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya Sang Buddha menetapkan pula peraturan latihan yang berlaku khusus untuk bhikkhuni. Dalam keseluruhannya seorang bhikkhuni harus mematuhi 311 sila, sedangkan seorang bhikkhu harus mematuhi 227 sila.

B A B IV
BEBERAPA ASPEK VINAYA

A. Kebutuhan Bhikkhu

Terdapat empat kebutuhan pokok bhikkhu yaitu pakaian, makanan, tempat tidur dan obat. Empat kebutuhan pokok ini hendaknya dapat disediakan oleh umat Buddha. Selain itu, terdapat kebutuhan-kebutuhan kecil lainnya seperti alat tulis/buku-buku, keperluan mandi dan sikat gigi, pisau cukur dan sebagainya. Secara khusus dinyatakan (Apanidhana-sikkhapada, Surapanavagga ke-10 dalam Pacittiya) bahwa benda-benda yang menjadi perlengkapan bhikkhu adalah : sebuah mangkuk, tiga jubah, sebuah nisidana (kain untuk duduk), kotak jarum jahit dan ikat pinggang. Termasuk pula dalam perlengkapan bhikkhu yaitu saringan air. Keperluan ini bertambah dengan berlalunya waktu.

Jubah bhikkhu disebut civara dan terdiri atas tiga bagian : Sanghati (jubah luar), Uttarasanga (jubah atas) dan Antaravasaka (jubah bawah). Seseorang yang ingin mendapat upasampada harus memiliki satu perangkat lengkap civara. Civara berwarna kuning kecoklatan (pada waktu dahulu warna tersebut didapatkan dengan mencelupkan jubah dalam larutan getah dari beberapa jenis pohon yang disebut kasava/kasaya. Civara dijahit menurut pola sawah Magadha yang diajukan oleh Yang Ariya Ananda.

Pola “Five-khanda Civara” dari sebelah dalam

1. atthamandala giveyyaka
2. mandala vivatta
3. atthamandala jangheyyaka
4. mandala anuvivatta
5. atthamandala bahanta
6. mandala anuvivatta
7. atthakusi
8. kusi
9. anuvata
10. loops
11. tags
(Diambil dari The Entrance to Vinaya Vol. II)

“Waktu yang tepat” untuk bhikkhu (dan samanera) untuk makan mulai pada saat pagi hari ketika cahaya sudah cukup terang untuk melihat garis pada telapak tangan dan berakhir pada tengah hari. Dalam jangka waktu ini seorang bhikkhu dapat makan sekali atau dua kali. Bila hanya sekali maka jumlah yang dimakan harus cukup untuk 24 jam, sedangkan apabila dua kali maka makan yang kedua dilakukan pada jam sebelas lebih seperempat agar dapat selesai sebelum tengah hari. Terdapat sedikit sekali pembatasan dalam makanan yang dimakan, misalnya tidak boleh memakan daging hewan tertentu (anjing, ular, macan, beruang, hyaena), dan daging manusia. Daging hewan lainnya dapat dimakan dengan syarat bhikkhu bersangkutan tidak melihat, mendengar atau tahu bahwa hewan itu disembelih untuknya. Hal ini dapat dimengerti karena seorang bhikkhu tidak boleh meminta makanan kepada orang lain (kecuali dalam keadaan sakit) – sebaliknya hanya menerima apa yang diberikan tanpa membeda-bedakan. Kebiasaan bhikkhu adalah menerima apa saja yang diberikan oleh umat sesuai dengan apa yang dimiliki oleh umat tersebut sehingga tidak menyulitkan umat.

Makanan dapat diperoleh melalui pindapata (bhikkhu berjalan dari rumah ke rumah untuk menerima makanan yang dipersembahkan, lalu kembali ke vihara untuk makan makanan tersebut). Dapat pula bhikkhu menerima makanan melalui persembahan umat kepada vihara/tempat bhikkhu berdiam, atau melalui undangan dari umat kepada bhikkhu untuk makan di rumah umat. Dalam hal terakhir ini perlu diperhatikan bahwa hidangan untuk bhikkhu harus disajikan tersendiri, terpisah dengan hidangan untuk samanera maupun umat lainnya. Selain itu, setiap hidangan yang disajikan harus dipersembahkan secara “formal” kepada bhikkhu dan setelah bhikkhu menerima barulah makanan itu dapat dimakan (persembahan kepada bhikkhu hendaknya dilakukan dengan kedua tangan). Setelah selesai bersantap bhikkhu membacakan secara singkat beberapa syair keberkahan untuk umat yang diakhiri dengan misalnya : “Ayu vanno sukham balam” (panjang umur, kecantikan, kebahagiaan dan kekuatan). Sementara itu, umat bersikap anjali dan mengucapkan “sadhu, sadhu, sadhu” setelah selesai pembacaan tersebut.

Seorang bhikkhu tidak boleh minum minuman yang disuling atau diragi (sura-meraya-majja), kecuali dalam jumlah sedikit untuk keperluan pengobatan. Sebelum tengah hari segala macam minuman dapat dipersembahkan, dengan atau tanpa susu. Sesudah tengah hari tidak diperkenankan lagi minum susu, atau minuman lain yang mengandung susu, telur, kacang-kacangan, atau sup. Teh, kopi, coklat (semuanya tanpa susu), “juice” buah (yang disaring), dan “soft drink” dapat diminum pada waktu sore dan malam hari (buah yang di “juice” tidak lebih besar dari kepalan tangan).

Mangkok untuk menerima persembahan makanan dapat terbuat dari tanah atau besi. Tidak dibolehkan untuk memakai mangkuk dari emas, perak, permata, tembaga, kayu dan sebagainya karena beberapa alasan. Kotak jarum tidak boleh terbuat dari tulang, gading atau tanduk; yang dibolehkan adalah dari kayu atau logam. Saringan air dapat dibuat dari sepotong kain atau silinder kosong (bambu atau logam) yang di bawahnya dilekatkan kain. Menjadi kebiasaan bhikkhu untuk minum air yang telah disaring. Tidak dibolehkan seorang bhikkhu melakukan perjalanan ½ yojana (1 yojana = 10 mil/16 km) tanpa membawa saringan air.

Umumnya para bhikkhu tinggal di vihara. Apabila di tempat yang dikunjunginya tidak terdapat vihara, bhikkhu dapat tinggal di rumah umat. Dalam hal ini disediakan satu ruangan tersendiri yang di dalamnya terdapat altar Sang Buddha/cetiya. Lebih baik lagi bila terdapat bangunan tersendiri yang terpisah di taman. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Seorang bhikkhu tidak boleh tidur di ruangan yang sama dengan seseorang yang belum sepenuhnya ditahbiskan, kecuali untuk masa tiga malam. Selain itu seorang bhikkhu harus menjauhkan diri dan tidak bersentuhan dengan wanita (sekalipun anak-anak), tidak boleh pula menyentuh pakaian dan perhiasan wanita, bahkan hewan betina, boneka ataupun uang. Termasuk benda-benda yang tidak boleh disentuh pula adalah : buah-buahan (yang tumbuh di pohon), senjata, racun (kecuali diresepkan sebagai obat), jala dan jerat, benih dan alat-alat musik.

B. Penghormatan

Tingkah laku yang menunjukkan kerendahan hati pada lainnya merupakan hal yang baik dan terpuji (untuk bhikkhu dan umat). Ada beberapa cara penghormatan yang diperkenankan oleh Sang Buddha :

  1. Vandana (berlutut – “menunjukkan penghormatan dengan lima titik” – dahi, kedua lengan bawah, kedua lutut).
  2. Uttana (berdiri untuk menyambut).
  3. Anjali (merangkap kedua telapak tangan untuk menghormat).
  4. Samicikamma (cara-cara lain yang baik dan terpuji untuk menunjukkan kerendahan hati).

Menjadi kebiasaan bhikkhu untuk tidak melakukan anjali kepada kelompok lain yaitu kepada mereka yang tanpa upasampada atau kepada bhikkhuni (meskipun dengan upasampada). Di antara bhikkhu, bhikkhu yang lebih junior melakukan anjali kepada yang lebih senior, dan tidak sebaliknya. Bhikkhu yang lebih senior menyebut bhikkhu yang junior dengan “avuso” (“one who has long life”) sedangkan bhikkhu yang junior menyebut bhikkhu yang lebih senior dengan “bhante” (“the venerable one who has developed”).
Dapat pula bhikkhu menyebut bhikkhu lainnya dengan memakai istilah penghormatan “Ayasma” sebelum nama, misalnya Ayasma Upali. Istilah ini digunakan untuk menyebut bhikkhu yang senior dan di antara mereka yang hampir setingkat. Ini masih digunakan sampai saat ini.

Cara penghormatan yang sama dilakukan oleh umat kepada bhikkhu. Umumnya bhikkhu akan menerima penghormatan tersebut dengan mengatakan : “Sukhi hotu” – Semoga engkau berbahagia (di Sri Lanka) atau “Ayu vanno sukham balam” (di Muangthai). Sang Buddaha sendiri tidak pernah menetapkan bahwa bentuk penghormatan begini atau begitu harus dilakukan kepada para bhikkhu. Dalam hubungan penghormatan ini perlu kiranya diingat bahwa sipelakulah – bukan si penerima – yang akan mendapat manfaat dengan memberikan penghormatan kepada yang patut dihormat karena hal itu merupakan suatu perbuatan baik dan akan mengembangkan puñña pada si pelaku.

“Pada mereka yang senantiasa menghormat
pada orang yang lebih tua
akan bertambah empat hal :
panjang umur, kecantikan, kebahagiaan, kekuatan”

(Dhammapada 109)

C. Uposatha

Kata uposatha berarti “masuk untuk berdiam”; dalam hal ini berarti kepatuhan kepada sila. Uposatha merupakan istilah yang dipakai untuk pelaksanaan suatu upacara keagamaan yang ketat yang berhubungan dengan menahan diri (“puasa”). Ini merupakan kebiasaan yang telah ada sebelum Sang Buddha, dilakukan pada hari bulan purnama dan bulan gelap, atau dilakukan pada tanggal 1, 8, 15, 22 sesuai dengan penanggalan bulan. Sang Buddha menyetujui kebiasaan tersebut dan memperkenankannya untuk dipergunakan sebagai hari untuk bertemu bersama membicarakan dan mendengarkan Dhamma dan merupakan kesempatan untuk pelaksanaan uposatha bagi umat (atthanga uposatha sila). Sehubungan dengan pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha mengizinkan mereka melakukan uposatha pada tanggal 1 dan 15 penanggalan bulan.

Pada saat-saat awal perkembangan agama Buddha, Sang Buddha sendiri yang memberikan ajaran pada pertemuan Sangha dan meningkatkan kebajikan yang merupakan inti dari Sasana dan menjelaskanya, seperti terdapat dalam Ovada-Patimokkha. Kemudian, Sang Buddha memberikan izin kepada sangha untuk melakukan uposatha sendiri. Dalam setiap pertemuan suatu kelompok bhikkhu, seorang bhikkhu akan membacakan peraturan latihan yang disebut Patimokkha. Ini dilakukan apabila terdapat empat orang bhikkhu atau lebih. Apabila hanya terdapat dua atau tiga bhikkhu, mereka disebut gana (“group”). Mereka dibolehkan memberitahukan satu sama lain tentang “kemurnian” mereka masing-masing. Bila hanya terdapat seorang bhikkhu, ia disebut puggala (seorang) dan ia harus membuat addhitthana atau tekad oleh dirinya sendiri.

Dalam tiap vihara (yang mempunyai sima) harus terdapat sebuah bangunan untuk uposatha bagi sekurang-kurangnya dua puluh satu orang bhikkhu. Tempat itu disebut Uposathagara.

D. Vassa

Orang-orang zaman dahulu terbiasa untuk tidak bepergian ke mana-mana selama musim hujan karena jalan-jalan pada saat itu berlumpur dan tidak sesuai untuk melakukan perjalanan. Ketika jumlah bhikkhu berkembang pesat, Sang Buddha menetapkan peraturan bahwa bhikkhu harus berdiam di suatu tempat selama musim hujan (vassa) dan tidak pergi ke tempat lain selama tiga bulan. Hari pertama untuk pelaksanaan tersebut disebut vassupanayika yaitu setelah bulan purnama melewati satu hari dalam bulan Asalha (hari pertama pada bulan ke delapan). Bulan keempat dari musim hujan dipergunakan oleh para bhikkhu untuk “waktu civara”, untuk mencari civara, atau untuk membuat civara, atau untuk mengganti civara yang lama. Pada saat itu hujan umumnya telah mereda.

Saat vassa merupakan saat untuk para bhikkhu melakukan “samanadhamma” (dhamma untuk seseorang yang membuat dirinya damai – yaitu pelaksanaan meditasi ketenangan dan pandangan terang). Bhikkhu yang melaksanakan vassa harus berdiam di suatu tempat tertentu yang mempunyai batas-batas tertentu sampai hari Pavarana dilalui. Apabila seorang bhikkhu mempunyai urusan penting yang harus diselesaikan, Sang Buddha memberikan izin untuk pergi tetapi bhikkhu itu harus kembali dalam waktu tujuh hari. Apabila waktu tujuh hari terlampaui, maka pelaksanaan vassa menjadi gagal. Beberapa hal yang menyebabkan seorang bhikkhu dapat pergi adalah :

  1. Jika teman Dhamma (bhikkhu dan samanera), atau ibu dan ayah, sakit, maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk merawatnya.
  2. Jika teman Dhamma ingin lepas jubah (karena “godaan seksual”), maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk memadamkan keinginan tersebut.
  3. Jika terdapat beberapa tugas dari Sangha yang harus dikerjakan seperti kerusakan vihara, maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk mencari bahan guna perbaikan.
  4. Jika donatur ingin meningkatkan kebajikan mereka (kusala) dan mengundang bhikkhu, maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk mendukung keyakinan mereka.

Bagi para bhikkhu yang telah melaksanakan vassa selama tiga bulan penuh, terdapat izin dari Sang Buddha untuk melaksanakan pavarana (upacara pengakhiran vassa) sebagai ganti uposatha pada saat purnama pada bulan Katthika. Pavarana biasanya dilakukan pada tanggal lima belas. Apabila Sangha tidak melakukan pavarana pada hari itu, upacara tersebut dapat ditunda dalam jangka waktu dua minggu atau satu bulan, atau pada hari-hari lainnya. Jumlah bhikkhu yang menghadiri pertemuan sekurang-kurangnya lima bhikkhu. Pavarana merupakan kesempatan bagi semua bhikkhu untuk saling mengingatkan satu sama lain.

E. Hubungan antara bhikkhu dan umat.

Hubungan antara bhikkhu dan umat merupakan hubungan yang bersifat moral-religius dan bersifat timbal balik, sebagaimana telah dijelaskan oleh Sang Buddha dalam Sigalovada Sutta :

  • Umat hendaknya menghormati bhikkhu dengan membantu dan memperlakukan mereka dengan perbuatan, perkataan dan pikiran yang baik, membiarkan pintu terbuka untuk mereka dan memberikan makanan serta keperluan yang sesuai untuk mereka.
  • Bhikkhu mempunyai kewajiban kepada umat : melindungi dan mencegah mereka dari melakukan perbuatan jahat, memberi petunjuk untuk melakukan perbuatan baik, mencintai mereka dengan hati yang baik, menerangkan Ajaran yang belum didengar atau diketahui, menjelaskan apa yang belum dimengerti, dan menunjukkan Jalan untuk menuju pembebasan.

Bhikkhu tidak mempunyai “kekuasaan” terhadap umat dan tidak memberikan “sanksi” kepada umat. Namun, kepada umat yang berbuat tidak pantas atau melakukan penghinaan terhadap Dhamma-Vinaya, maka bhikkhu akan “berpaling” dari mereka dengan tidak menerima segala persembahannya. Dengan demikian, umat tersebut dianggap tidak pantas mempersembahkan sesuatu kepada bhikkhu (atau sangha) sehingga umat itu kehilangan kesempatan yang baik untuk melakukan perbuatan baik atau jasa. Sebaliknya, umat pun dapat “berpaling” dari bhikkhu yang melakukan perbuatan melanggar Dhamma-Vinaya dengan tidak melayani atau memberikan persembahan kepadanya.

Ada beberapa hal mengenai kebhikkhuan yang perlu kiranya diketahui oleh umat Buddha. Dalam hubungannya dengan wanita, seorang bhikkhu tidak boleh dengan nafsu indriya menyentuh seorang wanita (Sanghadisesa ke-2) dan tidak boleh pula duduk berdua dengan wanita di tempat tertutup (Pacittiya ke-44). Sang Buddha mengajarkan kepada Yang Ariya Ananda (Maha Parinibbana Sutta) :

“Janganlah melihat kepada seorang wanita;
Kalau mesti juga, maka janganlah berbicara dengannya;
Kalau mesti juga, maka berbicaralah tentang Dhamma dan Sila dan sebutlah Sang Buddha dengan segala kekuatan batinmu”.

Selain itu, bhikkhu tidak boleh pula menjadi perantara dalam hubungan perjodohan antara pria dan wanita (Sanghadisesa ke-5).

Bhikkhu tidak boleh menumpuk kekayaan emas, perak dan lain-lain (Nissagiya Pacittiya ke-18), atau terlibat dalam perdagangan atau jual-beli (Nissagiya Pacittiya ke-20). Ia tidak boleh berbohong (Pacittiya ke-1), tidak boleh mencaci-maki (Pacittiya ke-2) atau memfitnah (Pacittiya ke-3), tidak boleh pula menjawab secara menghindar dan menimbulkan kusulitan dengan berdiam diri (Pacittiya ke-12). Selain itu, ia melatih diri untuk tidak menonton pertunjukan/nyanyian/tarian dan segala sesuatu yang membawanya ke arah kenikmatan indriya. Ia melatih diri untuk tidak mempergunakan tempat tidur atau tempat istirahat yang mewah dan membatasi kebutuhan hidup sesederhana mungkin.

Hendaknya bhikkhu tidak menolak persembahan yang dibutuhkan, mengambil sikap atau mengatur tingkah laku seseorang, menyalahgunakan hak, mempersalahkan orang lain atau memperolok, mencapai sesuatu dengan menyiarkan kabar bohong atau memfitnah, berlomba mencari barang-barang lahiriah dengan barang-barang lahiriah (Visudhi Magga). Juga ia tidak demi penghidupannya, meramal dengan melihat suratan tangan, meramal sesuatu yang akan terjadi, penujuman, mempersembahkan korban, mendapatkan jawaban sabda para dewa, dan berpraktek sebagai “dokter” – yang merupakan tipu daya rendah untuk mendapatkan penghidupan (Digha Nikaya, I).

K E P U S T A K A A N
Budhiarta dan Dharma K. Widya (ed). Ikhtisar Tipitaka. Jakarta : Akademi Buddhis Nalanda

Khantipalo. Banner of the Arahants. Kandy : Buddhist Publication Society, 1979.

—-. The Buddhist Monk’s Discipline. Kandy :Buddhist Publication Society, 1969.

Nadara Mahathera. The Buddha and His Teaching.
Kuala Lumpur : The Buddhist Missionary Society, edisi ke-3, 1977.

—-. Everyman’s Ethic. Kandy : Buddhist Publication Society, 1979.

Vajirañanavarorasa. The Entrance to the Vinaya Vol. I.
Bangkok : Mahamakutarajavidyalaya, 1969.

—-. The Entrance to the Vinaya Vol. II.
Bangkok : Mahamakutarajavidyalaya, 1969.

Widyadharma, S. Riwayat Hidup Buddha Gotama.
Jakarta : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, 1979.

LAMPIRAN

PARABHAVA SUTTA

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu kali Sang Buddha sedang berdiam di Vihara Anathapindaka, di hutan Jeta dekat Savatthi. Ketika menjelang fajar seorang dewa dengan cahayanya yang cemerlang menerangi seluruh hutan Jeta, datang ke hadapan Sang Buddha, mendekat dan memberi hormat, berdiri di satu sisi lalu berkata :

Dewa :
Mohon kiranya kami diberi petunjuk, O Sang Buddha, tentang kejatuhan manusia. Sudilah kiranya ceritakan kepada kami sebab-sebab kejatuhan.

Sang Buddha :
Mudah diketahui orang-orang yang dalam kemajuan.
Mudah diketahui orang-orang yang dalam kejatuhan.
Barang siapa mencintai Dhamma akan mendapat kemajuan.
Barang siapa mengingkari Dhamma akan mendapat kejatuhan.

Dewa :
Kini kami telah mengetahui.
Inilah sebab pertama kejatuhan.
Sudilah kiranya menceritakan kepada kami sebab kedua (Kata-kata ini diulang setiap akhir syair-syair berikut, dengan nomor berurutan).

Sang Buddha :
Menyukai orang-orang yang jahat,
tidak menyenangi orang-orang yang bajik,
lebih menyukai cara-cara yang dilakukan orang yang jahat,
inilah sebab kejatuhan.

Sangat menyenangi tidur,
menyukai kumpul-kumpul,
lamban, malas dan mudah marah,
inilah sebab kejatuhan.

Meskipun dalam keadaan sejahtera,
tetapi tidak menyokong ayah dan ibu
yang sudah tua dan lemah,
inilah sebab kejatuhan.

Menipu dengan kepalsuan
pada seorang brahmana atau pertapa
ataupun rahib lainnya,
inilah sebab kejatuhan.

Mempunyai kekayaan berlimpah
serta banyak emas dan makanan
tetapi hanya dinikmati oleh diri sendiri,
inilah sebab kejatuhan.

Menyombongkan keturunan
kekayaan atau kesukuan
merendahkan keluarga sendiri
inilah sebab kejatuhan.

Menjadi seorang perisau,
peminum, atau penjudi
memboroskan semua penghasilan,
inilah sebab kejatuhan.

Tidak puas dengan isteri sendiri,
bersama perempuan lacur
dan isteri orang lain,
inilah sebab kejatuhan.

Seorang yang telah tua
memperistrikan wanita muda
dan tidak dapat tidur karena cemburunya,
inilah sebab kejatuhan.

Memberikan kekuasan kepada seorang wanita
untuk munim-minum dan pemborosan
atau kepada laki-laki dengan kelakuan serupa,
inilah sebab kejatuhan.

Terlahir dalam keluarga ksatria
dengan cita-cita tinggi dan sedikit kemampuan,
merindukan tahta kekuasaan,
inilah sebab kejatuhan.

Mengetahui dengan baik
semua sebab kejatuhan di dunia,
pertapa suci yang memiliki pandangan terang
menjalani kehidupan yang berbahagia.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s