UBHATOBHAṬṬHA-JĀTAKA   Leave a comment

UBHATOBHAṬṬHA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

“Kebutaan suami dan pukulan pada istri,” dan seterusnya. Kisah ini, diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai Devadatta.

Kami mendengar bahwa para bhikkhu berkumpul di Balai Kebenaran, saling berbicara, mengatakan bahwa walaupun sebuah obor dari onggokan kayu bakar, hangus pada kedua ujungnya dan penuh kotoran di bagian tengah, tidak bisa berfungsi seperti kayu, baik yang berada di hutan maupun di tungku desa, demikian juga dengan Devadatta yang meninggalkan keduniawian untuk mengikuti ajaran yang berharga ini, hanya untuk mendapatkan kekurangan ganda dan kegagalan, melihat ia kehilangan kenyamanan hidup sebagai perumah tangga dan gagal atas tugasnya sebagai seorang bhikkhu.

Masuk ke dalam Balai Kebenaran, Sang Guru bertanya dan diberitahu mengenai apa yang sedang dibicarakan bersama oleh mereka. “Ya, para Bhikkhu,” kata Beliau, “demikian juga di kehidupan yang lampau, Devadatta mengalami kegagalan ganda lain yang sejenis.” Setelah mengatakan hal itu, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

___________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai dewa pohon, dan di sana terdapat sebuah desa tertentu yang merupakan tempat tinggal para penangkap ikan yang memakai pancing. Salah seorang pemancing ini membawa alat pancingnya dan pergi bersama putranya yang masih kecil, melemparkan kailnya ke dalam air yang paling memungkinkan bagi para pemancing. [483] Sebuah lubang disangkuti oleh kailnya dan pemancing itu tidak dapat menariknya ke atas. “Betapa hebatnya ikan ini!” pikirnya, “lebih baik saya menyuruh putra saya pulang menemui istri saya dan memintanya memulai pertengkaran untuk menjauhkan orang lain dari rumah, sehingga tidak ada orang yang akan ikut ambil bagian atas berkah ini.”

Karena itu ia meminta anak yang masih kecil itu untuk berlari pulang dan mengatakan pada ibunya betapa besarnya ikan yang terpancing, dan bagaimana ia harus mengalihkan perhatian tetangganya. Kemudian, merasa takut pancingnya putus, ia melepaskan mantelnya dan terjun ke dalam air untuk mengamankan hadiahnya. Namun saat mencari-cari ikan tersebut, ia menerjang lubang itu dan melukai kedua matanya. Lebih jauh lagi, seorang pencuri mengambil pakaiannya dari pinggir sungai. Dalam penderitaan atas rasa sakit itu, dengan kedua tangan menekan matanya yang telah buta, ia memanjat naik dengan keadaan gemetaran dan berusaha untuk menemukan pakaiannya.

Sementara itu istrinya, bermaksud memanfaatkan tetangganya untuk memulai pertengkaran, telah mendandani dirinya dengan sehelai daun lontar di belakang satu telinganya, dan menghitamkan sebelah matanya dengan jelaga dari sebuah wajan. Dalam samaran ini, dengan merawat seekor anjing ia keluar untuk menemui tetangganya. “Astaga, engkau telah gila,” kata seorang wanita kepadanya. “Saya tidak gila sama sekali,” jawabnya dengan ketus; “engkau memaki saya tanpa sebab dengan lidahmu yang penuh fitnah. Pergilah bersama saya menemui kepala desa dan saya akan membuatmu didenda sebesar delapan keping218 oleh fitnahmu itu.”

Dengan kata-kata yang penuh amarah, mereka menemui kepala desa. Namun saat permasalahan itu ditelusuri, istri pemancing itu yang didenda; ia diikat dan dipukul untuk membayar denda tersebut. Ketika dewa pohon itu melihat kemalangan yang menimpa baik pada istri di desa maupun suami di hutan, ia berdiri di cabang pohonnya dan berseru, “Ah, pemancing ikan, baik di air maupun di darat, mereka kesakitan, dan kegagalan mereka adalah dua kali lipat.” Setelah berkata demikian, ia mengucapkan syair berikut ini: —

Kebutaan pada suami dan pukulan pada istri,
dengan jelas menunjukkan kegagalan ganda
dan kesengsaraan ganda219.

___________________

[484] Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran itu dengan berkata, “Devadatta adalah pemancing di masa itu dan Saya adalah dewa pohon tersebut.”

Catatan kaki :

218 Bahasa Pali di sini, sama seperti pada No.137, adalah Kahāpaṇa. Ditunjukkan dalam konteks bahwa itu adalah sekeping koin emas; sementara di sini, kemiskinan para pemancing ikan mendukung pandangan bahwa itu berupa koin tembaga, sebagaimana umumnya. Kenyataannya, kata Kahāpaṇa, seperti nama koin India lainnya, terutama untuk menunjukkan berat dari semua koin logam, — baik emas, perak maupun tembaga.

219 Bandingkan dengan Dhammapada, hal.147.

Posted 30/01/2011 by chandra2002id in Naskah Dharma

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s