TENTANG VIHARA   Leave a comment

Ketika Anak Bertanya
Tentang Sang Buddha dan Ajarannya

(Sumber: Ketika Anak Bertanya (tentang Sang Buddha dan Ajarannya)
Diterbitkan oleh: Sangha Theravada Indonesia, Edisi Pertama, Maret 2000
Editor: Sukhemo Mahathera MA, Uttamo Thera, Penyusun : Dharma K. Widya)

TENTANG VIHARA

  1. Mengapa kita harus kebaktian di vihara ?
    Kita mengikuti kebaktian di vihara untuk kebaikan kita sendiri karena dengan demikian kita dapat membaca paritta, berdana, melaksanakan sila, mendengarkan pembabaran Dhamma yang kesemuanya merupakan perbuatan baik dan mendorong kita untuk menjadi orang baik.Catatan :
    Dalam Maha Manggala Sutta dinyatakan bahwa mendengarkan Dhamma merupakan Berkah Tertinggi, dan menurut hukum kamma akan berbuah bertambahnya kebijaksanaan.
  2. Mengapa kalau masuk ke vihara harus melepas sendal atau sepatu ?
    Vihara adalah tempat ibadah yang harus dipelihara keagungannya, oleh karena itu umat Buddha melepas sendal atau sepatu bila akan memasuki ruang vihara khususnya di ruang tempat patung Sang Buddha ditempatkan untuk dipuja dan tempat pembabaran Dhamma (Dhammasala) sebagai tanda penghormatan akan keagungan itu.
  3. Mengapa kita di vihara harus bersujud tiga kali kepada patung Sang Buddha ?
    Kita bersujud tiga kali kepada patung Sang Buddha dengan penuh kerendahan hati sebagai tanda penghormatan tertinggi kepada Sang Buddha, Dhamma dan Sangha.Ia yang menghormati mereka yang patut dihormati
    Yaitu para Buddha atau siswa-siswa-Nya
    Yang telah dapat mengatasi rintangan-rintangan
    Akan terbebas dari kesedihan dan ratap tangis(Dhammapada 194)

    Catatan :
    Salah satu cara penghormatan adalah dengan melakukan sujud atau namaskara dengan lima titik menyentuh lantai yaitu dahi, kedua siku dan kedua lutut. Selain itu penghormatan dapat pula dilakukan dengan bersikap anjali (merangkapkan kedua belah tangan di depan dada).

  4. Mengapa kita bersembayang menghadap ke altar ?
    Dalam bersembayang kita menghadap ke altar karena kita harus menujukan perhatian kita sepenuh hati kepada Sang Buddha dan ajaran-Nya.
  5. Mengapa umat Buddha kalau sedang melaksanakan Puja Bakti bersikap anjali ?
    Umat Buddha melaksanakan Puja Bakti dengan bersikap anjali karena sikap itu merupakan sikap menghormat.
  6. Mengapa kita diperciki air ?
    Dalam upacara kita diperciki air pemberkahan sebagai perlambang pembersihan batin kita dari segala kekotoran batin.
  7. Mengapa kalau kebaktian harus membaca paritta ?
    Umat Buddha membaca paritta pada waktu kebaktian, karena dengan membaca paritta maka berarti mengulang ajaran Sang Buddha yang terdapat dalam paritta tersebut.Catatan :
    Kata paritta berarti perlindungan. Dengan membaca paritta maka diharapkan seseorang akan terlindung dari hal-hal yang tidak baik karena kekuatan pembacaan paritta tersebut.
  8. Mengapa paritta memakai bahasa Pali ?
    Paritta memakai bahasa Pali karena bahasa itulah yang dipakai dalam masyarakat ketika Sang Buddha masih hidup.
  9. Mengapa di altar ada macam-macam barang, ada bunga apakah untuk keindahan altar ?
    Di altar terdapat beberapa macam barang yaitu :

    • Patung Sang Buddha untuk mengingatkan umat Buddha akan Guru Agung mereka
    • Lilin sebagai lambang penerangan yang diajarkan oleh Sang Buddha
    • Dupa sebagai pengharum ruangan yang melambangkan keharuman nama seseorang agung yang memancar ke seluruh penjuru
    • Bunga yang indah sebagai penghormatan yang tulus kepada Sang Buddha dan melambangkan bahwa segala sesuatu akan berubah sebagaimana bunga yang indah itupun pada suatu saat akan layu
    • Air sebagai lambang kesucian yang membersihkan noda-noda

    Harumnya bunga tak dapat melawan arah angin
    Begitu pula harumnya kayu cendana
    Tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin
    Harumnya nama orang baik dapat menyebar ke segenap penjuru(Dhammapada 54)

  10. Mengapa kita berdoa di depan gambar atau patung Sang Buddha, apakah itu termasuk menyembah berhala ?
    Kita berdoa di hadapan gambar atau patung Sang Buddha agar dapat memusatkan pikiran kita akan keagungan dan kesucian Sang Buddha. Dengan demikian maka kita akan terdorong untuk lebih mempelajari, menghayati dan melaksanakan ajaran Beliau. Hal ini tidak termasuk menyembah berhala karena kita tidaklah menyerahkan nasib kita sepenuhnya kepada gambar atau patung tersebut.Catatan :
    Penyembahan berhala terjadi apabila seseorang menggantungkan dirinya sepenuhnya kepada suatu gambar atau patung tanpa mengerti bahwa segala sesuatu yang menimpa dirinya adalah akibat perbuatannya sendiri dan bukan karena sebab di luar dirinya. Di dalam agama Buddha justru diajarkan bahwa seseorang harus melenyapkan kepercayaan bahwa upacara agama semata-mata dapat membebaskan manusia dari penderitaan, karena hal itu merupakan salah satu belenggu untuk mencapai kesucian.
  11. Mengapa ada orang yang suka ke vihara tapi suka berbuat jahat ?
    Bisa saja ada orang suka ke vihara tapi suka berbuat jahat apabila ia hanya datang ke vihara tanpa bersungguh-sungguh menjalankan ajaran Sang Buddha sehingga akar kejahatan dalam dirinya tidak dapat dihilangkan.Biarpun seseorang banyak membaca Kitab Suci
    Tetapi tidak berbuat sesuai dengan Ajaran
    Maka orang yang lengah itu sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain
    Ia tak akan memperoleh manfaat kehidupan suci(Dhammapada 19)

    Catatan :
    Dalam diri setiap mahluk terdapat tiga akar kejahatan yaitu lobha (keserakahan), dosa (kebencian) dan moha (kebodohan) yang menyebabkan seseorang melakukan perbuatan jahat. Umat Buddha haruslah berupaya untuk menghilangkan ketiga akar kejahatan itu.

  12. Mengapa setiap agama punya tempat ibadah ?
    Setiap agama punya tempat ibadah agar umatnya dapat melakukan kebaktian agamanya. Tempat ibadah agama Buddha disebut vihara, yang merupakan suatu kompleks bangunan yang berisikan patung Sang Buddha untuk dipuja, ruang untuk pembabaran Dhamma, ruang untuk upacara Sangha dan tempat tinggal para bhikkhu. Selain itu dapat pula dilengkapi dengan perpustakaan dan lain-lain.
  13. Kalau umat agama lain kalau bersembayang memakai pakaian hitam putih & sepatu hitam, bagaimana dengan umat Buddha ?
    Umat berkeluarga di dalam agama Buddha disebut umat berpakaian putih, oleh karena itu dalam mengikuti upacara agama Buddha ataupun pada saat melaksanakan atthasila (delapan sila) pada hari uposatha di vihara dianjurkan memakai pakaian putih-putih.
  14. Mengapa setiap tahun kita ke Borobudur ?
    Kita ke Borobudur mengikuti pujabakti Waisak di sana untuk mengagungkan Sang Buddha dan meningkatkan keyakinan kita akan ajaran Sang Buddha sehingga kita menjadi lebih terdorong untuk melaksanakan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha dalam hidup sehari-hari. Namun tidak ada keharusan untuk kita ke Borobudur setiap tahun.Catatan :
    Terdapat empat tempat suci agama Buddha yang seyogyanya dikunjungi oleh umat Buddha untuk menambah keyakinan mereka yaitu tempat kelahiran Pangeran Siddhattha, tempat pencapaian Penerangan Sempurna, tempat Khotbah Pertama, dan tempat Sang Buddha mencapai Pari Nibbana.
  15. Mengapa keluarga Syailendra membangun candi Borobudur ?
    Keluarga Syailendra membangun candi Borobudur untuk mengagungkan agama Buddha.
  16. Apakah Borobudur itu dimiliki umat Buddha saja ?
    Borobudur dibangun ratusan tahun yang lampau oleh umat Buddha pada waktu itu. Pada masa kini Borobudur merupakan warisan budaya keagamaan yang tidak hanya merupakan milik umat Buddha tetapi juga milik bangsa Indonesia dan seluruh umat manusia karena keluarbiasaannya yang menakjubkan.
  17. Mengapa stupa dibangun seperti kerucut ?
    Stupa mempunyai puncak seperti kerucut sebagai lambang pemusatan pikiran.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s