TENTANG BHIKKHU   Leave a comment

Ketika Anak Bertanya
Tentang Sang Buddha dan Ajarannya

(Sumber: Ketika Anak Bertanya (tentang Sang Buddha dan Ajarannya)
Diterbitkan oleh: Sangha Theravada Indonesia, Edisi Pertama, Maret 2000
Editor: Sukhemo Mahathera MA, Uttamo Thera, Penyusun : Dharma K. Widya)

TENTANG BHIKKHU

  1. Mengapa bhikkhu harus dipotong rambutnya ?
    Bhikkhu harus memotong rambutnya karena hal itu merupakan ketentuan dalam peraturan yaitu bahwa seseorang yang akan menjadi calon bhikkhu harus memotong rambutnya terlebih dahulu. Pangeran Siddhattha pun ketika akan menjadi pertapa dalam usaha mencari Penerangan, memotong rambutnya dan mengganti pakaian kerajaannya dengan jubah sebagai pertanda pelepasan ikatan duniawi dengan melaksanakan kehidupan yang sederhana sebagai bhikkhu.
  2. Mengapa kalau jadi bhikkhu harus pakai jubah ?
    Seorang bhikkhu harus memakai jubah yang dibuat sesuai dengan ketentuan, ini adalah peraturan kebhikkhuan yang harus ditaati oleh semua bhikkhu.
  3. Mengapa bhante kalau pagi melakukan pindapata ?
    Pindapata merupakan peraturan yang harus dilakukan oleh seorang bhikkhu untuk dapat menerima dana makanan. Namun apabila ada umat yang memberikan dana makanan atau mengundang makan, pindapata tidak dilakukan.
  4. Apakah kebutuhan pokok para bhikkhu ?
    Kebutuhan pokok para bhikkhu adalah tempat tinggal, makanan, jubah dan obat-obatan. Kebutuhan ini hendaklah dipenuhi oleh umat. Selain ini terdapat pula perlengkapan bhikkhu yaitu mangkok makanan (bowl), saringan air, ikat pinggang dan sebagainya. Tentu para bhikkhu pun membutuhkan kelengkapan dari keperluan lainnya pada masa sekarang ini seperti alat tulis, buku-buku, jam dan lain-lain sesuai dengan keadaan.Terdapat orang yang tak pernah memberikan makanan, minuman, jubah, transportasi, bunga, pengharum, obat-obatan, tempat menginap, tempat tinggal, lampu dan sebagainya kepada para bhikkhu dan brahmana. Dengan tidak pernah melakukan perbuatan ini, ia akan terjatuh ke alam-alam rendah yang penuh kesedihan dan penderitaan atau apabila ia terlahirkan kembali sebagai manusia atau di alam mana pun ia bertumimbal lahir, maka ia akan menjadi orang yang miskin.(M 135)
  5. Mengapa jubah bhikkhu berbeda-beda ?
    Disebutkan bahwa para bhikkhu (umat Buddha yang meninggalkan kehidupan berkeluarga) memakai jubah kuning. Pada waktu dahulu, warna jubah didapat dengan mencelupkan ke dalam larutan getah pohon tertentu sehingga menjadi warna kuning bercampur kemerahan atau kuning tanah. Warna yang didapat tentu saja tidak persis sama dari satu jubah ke jubah yang lain. Pada masa kini warna jubah bhikkhu mempunyai sedikit perbedaan warna dari kuning kecoklatan sampai coklat muda sejauh yang dibolehkan oleh peraturan kebhikkhuan karena ada beberapa warna yang tidak diperbolehkan dipakai untuk jubah bhikkhu.
  6. Mengapa bhikkhu itu tidak boleh beristeri ?
    Bhikkhu adalah umat Buddha yang melepaskan diri dari kehidupan berkeluarga agar dapat mencapai kesucian dalam kehidupan sekarang ini, sehingga dengan sendirinya tidak boleh beristeri ataupun berkeluarga.Orang yang telah sadar dan meninggalkan kehidupan rumah tangga
    Tidak lagi terikat pada tempat kediaman
    Bagaikan kawanan angsa yang meninggalkan kolam demi kolam
    Demikianlah mereka meninggalkan tempat kediaman demi tempat kediaman
    (Dhammapada 91)
  7. Mengapa bhikkhu tidak diperbolehkan makan lewat jam 12 siang ?
    Bhikkhu tidak boleh makan lewat jam 12 siang karena hal itu sudah merupakan peraturan latihan yang harus diikuti oleh semua bhikkhu tanpa kecuali.
  8. Bolehkan bhikkhu makan banyak ?
    Seorang bhikkhu makan sampai jumlah tertentu sesuai dengan batas yang terdapat dalam mangkok (patta). Apabila menerima persembahan dari umat maka bhikkhu akan makan dalam jumlah yang sepantasnya dan tidak berlebihan.Mereka yang tidak lagi mengumpulkan harta kekayaan
    Yang sederhana dalam makanan
    Yang telah mencapai Kebebasan Mutlak
    Maka jejak mereka tidak dapat dilacak bagaikan burung-burung di angkasa(Dhammapada 92)
  9. Mengapa bhikkhu tidak boleh makan daging ?
    Sang Buddha mengajarkan bahwa seorang bhikkhu boleh makan daging apabila tidak melihat, tidak mendengar dan tidak tahu bahwa hewan itu disembelih untuknya. Kesucian seseorang tidaklah tergantung dari apa yang dimakannya, tetapi dari pikirannya.
    Catatan :
    Terdapat juga umat Buddha yang melatih diri untuk tidak memakan daging (vegetarian).
  10. Mengapa bhikkhu tidak memakai sepatu tetapi memakai sandal ?
    Tidak ada peraturan tertentu apakah bhikkhu memakai sepatu atau sandal, namun sebagai kebiasaan para bhikkhu umumnya memakai sandal yang lebih sederhana dibanding dengan memakai sepatu (tetapi para bhikkhu tidak diperkenankan memakai sandal dari kayu).
  11. Mengapa anak perempuan tidak boleh dekat bhikkhu ?
    Sesuai dengan peraturan kebhikkhuan, seorang bhikkhu tidak boleh bersentuhan dengan perempuan sekalipun anak kecil. Oleh karena itu anak perempuan tidak boleh dekat bhikkhu agar tidak bersentuhan dengan bhikkhu.
  12. Mengapa bhikkhu dipanggil bhante, apakah boleh kita panggil bapak atau sebutan lain ?
    Sebagai umat Buddha kita menyebut bhante kepada seorang bhikkhu, dan tentunya tidak tepat apabila kita menggunakan sebutan lain seperti bapak dan sebagainya.
  13. Apakah bhikkhu dilarang melihat dan mendengarkan lagu atau tari-tarian ?
    Menurut peraturan kebhikkhuan, seorang bhikkhu tidak dibolehkan untuk melihat pertunjukan tari-tarian atau nyanyian yang bertujuan untuk kesenangan indria semata.Dengan meninggalkan semua kesenangan indria dan kemelekatan
    Demikianlah hendaknya orang bijaksana
    Membersihkan dirinya dari noda-noda pikiran(Dhammapada 88)
  14. Apakah bhikkhu boleh jalan-jalan ke mall ?
    Seorang bhikkhu tentu tidak akan jalan-jalan ke mall untuk mencari kesenangan atau hiburan. Namun apabila ada keperluan yang berkaitan dengan hal tertentu seperti mencari buku Dhamma di toko buku yang ada di mall, maka dimungkinkan seorang bhikkhu pergi ke mall.
  15. Apakah boleh bhikkhu mengolok-olok warga desa ?
    Tentu saja seorang bhikkhu tidak boleh mengolok-olok warga desa. Kalaupun hal itu terjadi mungkin karena kelalaian bhikkhu dalam pengendalian indrianya dan untuk itu bhikkhu yang bersangkutan perlu melakukan pemulihan diri untuk memperbaiki kelalaiannya itu.Sungguh baik mengendalikan perbuatan
    Sungguh baik mengendalikan ucapan
    Sungguh baik mengendalikan pikiran
    Dan sungguh baik mengendalikan semuanya (nafsu indria)
    Seorang bhikkhu yang dapat mengendalikan semuanya akan bebas dari semua penderitaan(Dhammapada 361)
  16. Apakah bhikkhu kalau meninggal harus dikremasi ?
    Kremasi (pembakaran jenazah) merupakan kebiasaan yang dilakukan sejak masa Sang Buddha bagi orang yang meninggal dunia. Setelah Sang Buddha wafat, jenazah beliau dikremasi. Sampai dengan saat ini kebanyakan umat Buddha apabila meninggal jenazahnya dikremasi walaupun hal ini bukan merupakan keharusan.
  17. Apa yang dimaksud dengan samanera ?
    Samanera adalah calon bhikkhu. Sebelum seseorang ditahbiskan menjadi bhikkhu, maka ia ditahbiskan sebagai samanera terlebih dahulu dengan upacara pabbaja. Apabila telah berusia dua puluh tahun atau lebih dan memenuhi syarat barulah seorang samanera ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu dengan upacara upasampada.Catatan :
    Seorang samanera harus mematuhi 10 sila dan 75 sila sekhiya, sedangkan seorang bhikkhu harus mamatuhi bhikkhu sila yang antara lain berisikan 227 sila Patimokkha.
  18. Mengapa Sang Buddha memberikan 8 aturan keras yang harus dilaksanakan para bhikkhuni ?
    Pada waktu peneriman wanita sebagai bhikkhuni Sang Buddha memberikan 8 aturan keras. Hal ini mungkin dimaksudkan untuk menjamin agar para wanita yang ingin menjadi bhikkhuni adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh sekali ingin menjalani kehidupan suci karena menjadi bhikkhuni pada saat itu merupakan kehidupan yang berat untuk dilakukan oleh para wanita.
  19. Mengapa saat ini bhikkhuni aliran Theravada tidak ada lagi ?
    Bhikkhuni aliran Theravada tidak ada lagi karena adanya serangan yang menyebabkan para bhikkhuni yang tinggal di kota waktu itu lenyap. Sedangkan para bhikkhu tetap ada karena jumlah bhikkhu yang lebih banyak yang tersebar di berbagai tempat bahkan sebagian tinggal di hutan sehingga tidak lenyap oleh serangan tersebut.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s