SUVAṆṆAHAṀSA-JĀTAKA   Leave a comment

SUVAṆṆAHAṀSA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

“Berpuas hatilah,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru mengenai seorang bhikkhuni, yang bernama Thullanandā.

Seorang upasaka di Sawatthi memberikan suplai bawang putih kepada para bhikkhuni dan memberi pesan kepada penjaga ladangnya untuk memberikan dua atau tiga siung bawang putih jika ada bhikkhuni yang datang. Setelah itu mereka membuat sebuah kebiasaan [475] untuk datang ke rumah atau ladangnya untuk mendapatkan bawang.

Pada suatu hari raya, persediaan bawang di rumah tersebut habis, dan Bhikkhuni Thullanandā, yang datang bersama bhikkhuni lainnya ke rumah tersebut, diberitahu, saat ia meminta bawang, tidak ada bawang yang tersisa lagi di dalam rumah, semuanya telah habis terpakai, dan ia harus pergi ke ladang untuk mendapatkannya. Maka ia pergi ke ladang dan mengambil bawang dalam jumlah yang banyak. Penjaga ladang tersebut menjadi marah dan mencela mereka dengan mengatakan betapa tamaknya bhikkhuni-bhikkhuni itu. Hal itu membuat kesal para bhikkhuni yang berkeinginan sedikit (tidak tamak); dan para bhikkhu juga merasa kesal saat celaan itu diulangi oleh para bhikkhuni tersebut kepada mereka, kemudian mereka menceritakannya kepada Sang Bhagawan.

Untuk mengecam ketamakan Thullanandā, Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, orang yang tamak adalah orang yang kasar dan tidak baik, bahkan terhadap ibu yang telah melahirkan mereka; orang yang tamak tidak bisa mengubah (keyakinan) mereka yang belum yakin, pun tidak bisa membuat orang yang telah berkeyakinan menjadi lebih baik, tidak bisa mendatangkan persembahan dana, pun tidak bisa menggunakannya (dengan efisien) di saat dana telah diberikan; sebaliknya orang yang tidak tamak dapat melakukan semua hal tersebut.”

Dengan cara demikian Sang Guru menjelaskan moralitas tersebut, diakhiri dengan perkataan, “Para Bhikkhu, Bhikkhuni Thullananda tidak hanya tamak dalam kehidupan sekarang ini, ia juga tamak dalam kehidupan lampau.” Setelah itu Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang brahmana. Ketika dewasa, ia menikah dengan seorang wanita yang memiliki kasta yang sama dengannya, yang kemudian melahirkan tiga orang putri; Nandā, Nandāvatī dan Sundarīnandā.

Setelah Bodhisatta meninggal dunia, mereka diasuh oleh para tetangga dan sahabatnya, sementara ia sendiri terlahir kembali ke dunia sebagai seekor angsa emas, yang diberkahi dengan kemampuan mengingat kembali kelahiran sebelumnya.

Setelah dewasa, angsa tersebut tumbuh dalam ukuran yang luar biasa dengan bulu berwarna keemasan, dan dapat mengingat bahwa di kelahiran sebelumnya ia adalah seorang manusia. Mengetahui istri dan anak-anaknya hidup dari derma dari orang lain, angsa tersebut teringat pada bulunya yang seperti emas tempaan dan dengan memberikan sehelai bulu emas sekali dalam beberapa waktu, ia akan mampu membuat istri dan anak-anaknya hidup dengan nyaman. Maka ia terbang ke tempat mereka tinggal, dan hinggap di bagian tengah atap.

Melihat Bodhisatta, [476] istri dan gadis-gadis itu bertanya dari manakah asalnya, dan ia memberi tahu mereka bahwa ia adalah ayah mereka yang telah meninggal dan terlahir kembali sebagai angsa emas, dan ia datang untuk mengunjungi mereka dan akan mengakhiri kesengsaraan mereka dari keharusan bekerja demi upah. “Kalian, satu per satu, boleh mengambil bulu-buluku,” katanya, “dan buluku dapat dijual untuk memberikan hasil yang cukup bagi kalian semua untuk bisa hidup senang dan nyaman.” Setelah berkata demikian, ia memberikan sehelai bulunya masing-masing kepada mereka dan terbang pergi.

Dari waktu ke waktu ia kembali untuk memberikan mereka bulu yang lain, dan melalui hasil penjualan bulu-bulu itu, para brahmana wanita ini menjadi makmur dan cukup kaya.

Namun suatu hari, ibu ini berkata kepada para putrinya, “Tidak bisa memercayai seekor hewan sepenuhnya, Anakku. Siapa yang bisa menjamin ayah kalian tidak akan pergi pada suatu hari, dan tidak pernah kembali lagi? Mari kita gunakan waktu kita dan mencabut habis bulunya pada kedatangan berikutnya, dengan demikian terdapat suatu kepastian dari semua bulunya.”

Memikirkan hal itu akan menyakitkan bagi ayah mereka, putri-putrinya menolak. Sang ibu, dipenuhi dengan ketamakan, memanggil angsa emas itu untuk mendekat padanya pada suatu hari di saat ia datang, kemudian menangkapnya dengan kedua tangannya dan mencabut semua bulunya.

Bulu Bodhisatta ini mempunyai sifat jika dicabut berlawanan dengan keinginannya akan berhenti menjadi emas dan berubah menjadi seperti bulu burung bangau. Dan angsa malang ini, walaupun merentangkan sayapnya, tidak bisa terbang lagi. Wanita ini melemparnya ke dalam sebuah tong dan memberinya makanan di sana.

Dengan berlalunya waktu, bulu-bulunya tumbuh kembali (walaupun hanya berwarna putih sekarang), ia terbang kembali ke tempat tinggalnya dan tidak pernah kembali lagi.

____________________

Di akhir kisah tersebut Sang Guru berkata, “Demikianlah engkau lihat, para Bhikkhu, bagaimana ketamakan Thullanandā di kelahiran lampau sama seperti saat ini. Ketamakannya membuat ia kehilangan emasnya, sama seperti cara ketamakannya di kehidupan ini membuat ia kehilangan bawang.

Amatilah lebih lanjut, bagaimana keserakahannya telah menghilangkan persediaan bawang para bhikkhuni, belajarlah dari sana untuk berkeinginan sedikit (tidak tamak) dan merasa puas dengan apa yang diberikan padamu, bagaimanapun kecilnya hal itu.”

Setelah berkata demikian, ia mengucapkan syair berikut ini : —

Berpuas hatilah, jangan mempunyai keinginan yang
lebih besar untuk menyimpan lebih banyak.
Mereka menangkap angsa tersebut
— namun tidak mendapatkan emasnya lagi.

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Sang Guru mengecam bhikkhuni yang melakukan kesalahan tersebut dan menetapkan peraturan bahwa bhikkhuni yang makan bawang putih berarti telah melakukan pelanggaran pācittiya. Kemudian, [477] untuk membuat kaitan, Beliau berkata, “Thullanandā adalah istri brahmana dalam kisah itu, ketiga bhikkhuni ini adalah ketiga putri brahmana tersebut, dan Saya sendiri adalah angsa emas.”

[Catatan : Kisah ini muncul di hal.258-9 Vol.IV dari Vinaya. Bandingkan La poule aux ceufs dalam La Fontaine (V.13) dst.]

Posted 30/01/2011 by chandra2002id in Naskah Dharma

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s