PATICCA SAMUPPADA   Leave a comment

INTISARI AGAMA BUDDHA

Merupakan karya tulis Ven. Narada Mahathera
dengan judul asli “ Buddhism in Nutshell.”
Penerbit : Yayasan Dhamma Phala, Semarang

 

 

PATICCA SAMUPPADA

Paticca berarti disebabkan oleh atau bergantung pada ; Samuppada berarti timbul atau asal. Karena itu, secara harfiah, Paticca Samuppada berarti “ Sebab dan Akibat Yang Saling Bergantungan “. Disini perlu kiranya selalu diingat bahwa, Paticca Samuppada hanya merupakan suatu ajaran tentang proses kelahiran dan kematian, bukan suatu teori mengenai asal mula kehidupan. Paticca Samuppada menguraikan sebab musabab tumimbal lahir dan penderitaan, tetapi sama sekali bermaksud menerangkan evolusi dunia.

Kebodohan ( Avijja ) adalah mata rantai atau sebab pertama lingkaran kehidupan. Avijja mengaburkan semua pandangan benar. Bergantung pada kebodohan tentang Empat Kebenaran Mulia timbul kegiatan – kegiatan kehendak ( Sankhara ), baik yang bermoral atau tidak bermoral. Kegiatan – kegiatan kehendak, apakah baik atau buruk, yang berakar dalam kebodohan pasti akan menghasilkan akibatnya yang hanya memperpanjang pengembaraan hidup. Namun demikian, perbuatan – perbuatan baik tetap diperlukan untuk melenyapkan penderitaan hidup.

Bergantung pada kegiatan – kegiatan kehendak, timbullah kesadaran tumimbal – lahir ( Vinnana ) kesadaran ini menghubungkan kehidupan lampau dengan kehidupan sekarang. Bersamaan dengan timbulnya kesadaran tumimbal – lahir, muncul batin dan jasmani ( nama – rupa ). Enam indria ( salayatana ) merupakan akibat yang pasti dari batin dan jasmani. Karena enam indria, timbul kontak ( phassa ). Kontak menimbulkan perasaan ( vedana ). Kelimanya ini, kesadaran, batin dan jasmani, enam indria, kontak beserta perasaan, merupakan akibat perbuatan – perbuatan lampau dan disebut segi pasif kehidupan.

Bergantung pada perasaan, timbul nafsu keinginan ( tanha ). Nafsu keinginan menimbulkan kemelekatan ( upadana ). Kemelekatan merupakan sebab bagi proses kamma ( bhava ), yang selanjutnya menjadi syarat bagi kelahiran yang akan datang ( jati ). Kelahiran merupakan sebab yang pasti dari usia tua dan kematian ( jara marana ).

Bila karena sebab timbul akibat, maka bila sebab berakhir, akibat juga akan berakhir. Urutan balik Paticca Samuppada akan membuat persoalan ini menjadi lebih jelas.

Usia tua dan kematian dimungkinkan karena adanya suatu organisme psiko – fisik. Suatu organisme demikian harus dilahirkan ; karenanya, usia tua dan kematian mensyaratkan kelahiran. Kelahiran itu sendiri merupakan akibat pasti dari perbuatan – perbuatan lampau atau kamma. Kamma disyarati oleh adanya kemelekatan yang disebabkan oleh nafsu keinginan. Nafsu keinginan hanya dapat timbul di mana terdapat perasaan. Perasaan merupakan akibat dari kontak mensyarati organ – organ indria yang tak akan ada tanpa batin dan jasmani. Dimana terdapat batin dan jasmani di sana terdapat suatu kesadaran. Kesadaran merupakan akibat daripada kamma baik dan kamma buruk yang lampau. Melakukan kebaikkan dan keburukkan adalah karena tidak ada pengertian benar tentang segala sesuatu sebagaimana adanya ( kebodohan ).

Seluruh rumusan Paticca dapat diringkas sebagai berikut :

Dengan adanya kebodohan, timbul kegiatan – kegiatan kehendak.

Dengan adanya kegiatan – kegiatan kehendak, timbul kesadaran.

Dengan adanya kesadaran, timbul batin dan jasmani.

Dengan adanya batin dan jasmani, timbul enam landasan indria.

Dengan adanya enam landasan indria, timbul kontak ( kesan – kesan ).

Dengan adanya kontak, timbul perasaan.

Dengan adanya perasaan, timbul keinginan.

Dengan adanya keinginan, timbul kemelekatan.

Dengan adanya kemelekatan, timbul kamma.

Dengan adanya kamma, timbul kelahiran.

Dengan adanya kelahiran, timbul usia tua, kematian, kesedihan dan ratap tangis.

Dengan adanya usia tua, kematian, kesedihan dan ratap tangis timbul kelahiran kembali.

Demikianlah seluruh rangkaian penderitaan timbul. Dua yang pertama dari dua belas mata rantai ini berhubungan dengan kehidupan lampau. Delapan yang selanjutnya berhubungan dengan kehidupan sekarang, sedangkan dua yang terakhir berhubungan dengan kehidupan yang akan datang.

Berakhirnya kebodohan secara mutlak mengakibatkan berhentinya seluruh kegiatan kehendak.

Berakhirnya seluruh kegiatan kehendak mengakibatkan berhentinya kesadaran tumimbal lahir.

Berakhirnya kesadaran tumimbal lahir mengakibatkan berhentinya batin dan jasmani.

Berakhirnya batin dan jasmani mengakibatkan berhentinya enam landasan indria.

Berakhirnya enam landasan indria mengakibatkan berhentinya kontak.

Berakhirnya kontak mengakibatkan berhentinya perasaan.

Berakhirnya perasaan mengakibatkan berhentinya keinginan.

Berakhirnya nafsu keinginan mengakibatkan berhentinya nafsu kemelekatan.

Berakhirnya nafsu kemelekatan mengakibatkan berhentinya kamma.

Berakhirnya kamma mengakibatkan berhentinya kelahiran.

Berakhirnya kelahiran mengakibatkan berhentinya usia tua, kematian, kesedihan, keluh kesah, kesakitan, kesedihan dan ratap tangis.

Berakhirnya usia tua, kematian, kesedihan, keluh kesah, kesakitan, kesedihan dan ratap tangis maka berakhirlah tumimbal lahir.

Demikianlah seluruh rangkaian penderitaan berakhir.

Proses sebab dan akibat terus berlanjut tanpa batas. Permulaan proses ini tidak dapat ditentukan, karena tidak mungkin untuk menyatakan di mana arus kehidupan ini mulai diliputi oleh kebodohan. Tetapi bilamana kebodohan ini diubah menjadi pengetahuan dan arus kehidupan ini dialihkan ke Nibbana – dhatu, maka terjadilah akhir proses kehidupan atau samsara ini.

Posted 30/01/2011 by chandra2002id in Intisari Agama Buddha

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s