PANDANGAN AGAMA BUDDHA TENTANG PIKIRAN   Leave a comment

DHAMMA-SARI

Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma
Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda
Cetakan Kesembilan, 1994

BAB II
PANDANGAN AGAMA BUDDHA TENTANG PIKIRAN

Di antara pendiri-pendiri agama, Sang Buddha (kalau kita diperbolehkan untuk menamakan Beliau sebagai seorang pendiri agama dalam artian umum) adalah satu-satunya Guru Dunia yang tidak pernah menyatakan bahwa Beliau bukanlah seorang manusia biasa. Sebagai seorang biasa Sang Buddha pun tidak pernah mendapat wahyu dari “Satu Kekuasaan Luar” yang mana pun juga. Beliau mengatakan bahwa semua penyelaman Kesunyataan, pengalaman dan penerangan yang Beliau peroleh, semata-mata berkat usaha, jerih payah dan kecerdasan seorang manusia biasa.

Seorang biasa sajalah yang dapat menjadi Buddha, karena di dalam diri seorang manusia terdapat kekuatan yang dapat membawa ia menjadi Buddha asal saja ia mau berusaha.

Kita dapat menamakan seorang Buddha sebagai seorang “Manusia Sempurna” atau seorang “Super-human”. Menurut agama Buddha, kedudukan seorang manusialah yang tertinggi. Seorang manusia menjadi Tuan dari dirinya sendiri dan tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi yang dapat menentukan nasibnya.

“Orang itu pelindung dari dirinya sendiri, sebab kepada siapa lagi ia harus mencari perlindungan?” sabda Sang Buddha.

Beliau mengajar para siswa-Nya untuk mencari perlindungan pada diri sendiri dan jangan sekali-kali mencari perlindungan pada diri orang lain. Beliau mengajar, menganjurkan dan mendorong setiap orang untuk berusaha atas kekuatan sendiri karena dalam diri sendiri sesungguhnya terdapat kekuatan yang dapat membebaskannya dari semua belenggu dengan usaha dan kecerdasan sendiri.

Sang Buddha pernah bersabda: “Kamu sendiri harus melakukan pekerjaan itu, sebab Sang Tathagata (Sang Buddha) hanya sebagai Penunjuk Jalan (Majjhima Nikaya 107)”

Kalau Sang Buddha pernah disebut sebagai “Juru Selamat, maka hal ini harus dilihat dari sudut bahwa Sang Buddha yang menemukan dan mengajar kita Jalan Kebebasan atau Nibbina, meskipun kita sendirilah yang harus menempuh jalan itu.

Atas dasar prinsip tanggung-jawab sendiri inilah, maka Sang Buddha memberi kebebasan berbuat kepada para siswa-Nya. Dalam Mahaparinibbana-sutta Sang Buddha bersabda bahwa Beliau tidak pernah berpikir mau menguasai Sangha atau agar Sangha tergantung kepada-Nya. Beliau juga bersabda bahwa ajaran-Nya tidak mengenal satu “esoteric doctrine”. Tidak ada sesuatu yang disembunyikan atau ada sesuatu yang tidak akan diajarkan.

Kebebasan berpikir dalam agama Buddha adalah unik, lain dari yang lain, dan tidak dikenal dalam agama-agama lain. Kebebasan ini perlu, sebab hanya dengan adanya kebebasan ini orang dapat mencapai hasil yang tertinggi. Orang harus menyelami Kesunyataan karena usaha dan daya-upayanya sendiri dan penyelaman di atas tak mungkin diperolehnya karena belas-kasihan dari guru-guru luar atau dari “Kekuasaan Tinggi” lain sebagai hadiah dari tingkah lakunya yang baik dan dengar kata.

Pada suatu hari Sang Buddha singgah di sebuah kota kecil bernama Kesaputta di kerajaan Kosala. Penduduk kota ini biasanya disebut sebagai kaum Kalama. Ketika mendengar bahwa Sang Buddha singgah di kota mereka, berduyun-duyunlah mereka mengunjungi Sang Buddha dan bertanya kepada Beliau: “Bhante, beberapa orang pertapa dan brahmana yang mengunjungi kota kami memberikan ajarannya kepada kami dengan mengatakan bahwa yang mereka ajarkan itu yang paling benar dibandingkan dengan ajaran-ajaran yang lain.

Sesudah itu, datang pula pertapa dan brahmana lain. Mereka pun memberikan ajaran-ajaran mereka dan mengatakan bahwa hanya ajaran mereka sajalah yang paling benar dibandingkan dengan ajaran-ajaran yang lain. Sementara itu, kalau diperhatikan dengan baik, ajaran-ajaran mereka sering bertentangan satu dengan yang lain.

Oleh karena itu, kami jadi ragu-ragu dan bingung dan tidak tahu siapa di antara para pertapa dan brahmana itu yang bicara benar dan siapa yang berdusta”.

Kemudian Sang Buddha memberikan jawaban yang unik dalam sejarah keagamaan. “Yah, putera-putera Kalama, sudah sewajarnyalah kamu ragu-ragu dan bingung disebabkan oleh sesuatu hal yang memang meragukan dan membingungkan sekali. Nah, dengarlah baik-baik apa yang akan Kukatakan.

Janganlah percaya begitu saja kepada berita yang disampaikan kepadamu, atau karena sesuatu sudah merupakan tradisi atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja kepada sesuatu yang katanya sudah diramalkan dalam buku-buku suci; juga kepada sesuatu yang katanya sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka; juga kepada sesuatu yang katanya telah direnungkan dengan seksama; juga karena sesuatu yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu; atau karena kamu ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu. Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah kamu selidiki sendiri kamu mengetahui bahwa ‘hal ini tidak berguna, hal ini tercela, hal ini tidak dibenarkan oleh para Bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan’, maka sudah selayaknya kamu menolak hal-hal tersebut di atas.

Tetapi, kalau, setelah kamu selidiki sendiri kamu mengetahui bahwa ‘hal ini berguna, hal ini tidak tercela, hal ini dibenarkan oleh para Bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan, akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan’, maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut di atas.

Selanjutnya, Sang Buddha mengatakan bahwa siswa-siswa-Nya harus meneliti dengan baik ajaran Sang Tathagata, sehingga mereka benar-benar yakin bahwa ajaran Sang Buddha itu benar adanya.

Keragu-raguan (vicikiccha) merupakan salah satu dari lima penghalang untuk mendapatkan pengertian yang terang tentang Kesunyataan dan menjadi rintangan bagi kemajuan batiniah seseorang. Tetapi keragu-raguan bukanlah merupakan dosa, karena pada hakekatnya Agama Buddha tidak mengenal dosa seperti yang dimaksud dalam agama-agama lain.

Menurut agama Buddha, akar semua kejahatan ialah avijja (ketidaktahuan, kebodohan) dan micchaditthi (pandangan yang keliru).

Memang tak dapat disangkal bahwa apabila masih ada keragu-raguan dan kebimbangan, tidaklah mungkin orang mendapatkan kemajuan. tetapi tak dapat disangkal pula bahwa keragu-raguan itu justru diperlukan agar orang mau menyelidiki sesuatu supaya mendapatkan pengertian yang baik dan dapat melihat sesuatu dengan baik dan terang. Namun, untuk memperoleh kemajuan selanjutnya memang mutlak perlu untuk menyingkirkan keragu-raguan sampai ke akarnya, sebab hanya dengan disingkirkannya keragu-raguan orang dapat melihat sesuatu persoalan dengan terang dan jelas.

Sebenarnya yang menjadi persoalan bukanlah apakah orang ragu-ragu atau percaya. Sebab dengan mengatakan “aku percaya” bukanlah berarti, bahwa kita sudah mengerti atau sudah dapat melihat sesuatu persoalan dengan terang dan jelas.

Misalnya seorang mahasiswa yang sedang mengerjakan satu persoalan ilmu pasti. Mungkin pada satu saat ia tiba pada satu titik yang membuat ia ragu-ragu dan bingung. Kalau ia hendak melanjutkan pekerjaannya memecahkan persoalan tersebut, ia harus terlebih dahulu mengatasi keragu-raguannya. Dengan hanya mengucapkan “aku percaya” atau “aku tidak ragu-ragu” tidaklah mungkin ia dapat memecahkan persoalan yang sedang ia hadapi.

Merupakan kesalahan besar untuk memaksa seseorang agar ia mau percaya akan sesuatu.

Sang Buddha sendiri selalu berusaha untuk melenyapkan keragu-raguan. Beberapa saat sebelum Beliau mangkat, Beliau masih bertanya kepada siswa-siswa-Nya, apakah masih ada sesuatu yang diragu-ragukan mengenai ajaran yang telah Beliau berikan agar mereka kelak jangan merasa menyesal bahwa mereka tidak dapat mengatasi keragu-raguan. Tetapi semua siswa-Nya diam saja. Kemudian Beliau mengucapkan kata-kata yang mengharukan sekali. “Mungkin karena rasa hormat yang besar terhadap Gurumu, maka tidak ada yang ingin mengajukan pertanyaan. Baiklah kalian berunding dulu dan kemudian baru mengajukan pertanyaan.”

Bukan hanya kebebasan berpikir, tetapi juga toleransi yang diajar oleh Sang Buddha sangat mengagumkan.

Pada suatu waktu di Nalanda, seorang terkemuka dan kaya raya yang bernama Upali, siswa Nigantha Nataputta (Jaina Mahavira) yang termashur, dikirim oleh gurunya untuk menemui Sang Buddha dengan maksud untuk berdebat tentang beberapa bagian tertentu dari hukum Kamma yang berbeda dengan pandangan Mahavira tersebut.

Tetapi, di luar dugaan, pada akhir perdebatan Upali memperoleh keyakinan bahwa pandangan Sang Buddhalah yang benar dan pandangan Gurunya sendiri yang salah. Oleh karena itu, ia mohon kepada Sang Buddha untuk menerimanya sebagai seorang upasaka.

Tetapi, Sang Buddha memperingatkan Upali untuk menimbang lagi secara tenang dan jangan terburu nafsu karena Upali adalah seorang yang terkemuka di kota itu. Setelah Upali menimbang-nimbang dan kemudian tetap memohon untuk dapat diterima sebagai upasaka, maka diterimalah permohonan itu disertai syarat agar Upali tetap memberikan penghormatan dan dana kepada gurunya yang lama (Upali-Sutta, Majjhima Nikaya 56).

Pada abad ke-3 S.M. seorang Kaisar Buddhis yang termashur dari India bernama Asoka juga telah mengikuti contoh yang mulia dari Sang Buddha tentang toleransi, sehingga beliau menghormat dan memberi bantuan kepada agama-agama lain di negaranya yang besar. Bahkan, sebuah dekrit yang dipahat di batu cadas gunung hingga kini masih dapat dibaca dan berbunyi: “…janganlah kita menghormat agama kita sendiri dengan mencela agama orang lain. Sebaliknya, agama orang lain pun hendaknya dihormat atas dasar-dasar tertentu. Dengan berbuat begini kita telah membantu agama kita sendiri untuk berkembang di samping menguntungkan pula agama lain. Dengan berbuat sebaliknya, maka kita akan merugikan agama kita sendiri di samping merugikan agama lain. Oleh karena itu, barang siapa menghormat agamanya sendiri dan mencela agama lain (semata-mata karena dorongan rasa bakti kepada agamanya sendiri dengan berpikir ‘bagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiri’), maka dengan berbuat demikian ia malah amat merugikan agamanya sendiri. Oleh karena itu, kerukunanlah yang dianjurkan, dengan pengertian bahwa semua orang hendaknya mendengarkan dan bersedia juga mendengarkan ajaran agama yang dianut orang lain ……”

Saya ingin menambahkan di sini bahwa jiwa toleransi dan kerja sama yang baik ini seyogyanya dipupuk terus, bukan saja dalam bidang agama tetapi juga dalam bidang-bidang lain.

Jiwa toleransi ini sejak dulu kala sudah menjadi cita-cita yang digemari sekali dalam peradaban Buddhis. Inilah juga sebabnya bahwa sejak 2.500 tahun yang lalu tak pernah ada setetes darahpun yang mengalir guna kepentingan pengembangan agama Buddha. Dengan damai dan penuh toleransi agama Buddha berkembang ke Benua Asia dan ke seluruh penjuru dunia, sehingga pada saat ini agama Buddha dianut oleh lebih dari 500 juta orang. Kekerasan dalam bentuk apa pun dan dengan dalil apa pun juga tidak dibenarkan oleh ajaran Sang Buddha.

Sering orang bertanya, apakah Buddha Dhamma merupakan satu agama atau filsafat. Sebenarnya, tidaklah begitu penting nama yang kita berikan kepadanya. Buddha Dhamma tak akan berubah karena merek apa pun juga yang kita pakai untuknya. Pada hakekatnya merek itu tidak membawa pengaruh apa-apa. Bahkan merek Buddha Dhamma itu sendiri yang dipakai untuk ajaran Sang Buddha tidaklah begitu penting. “What is in a name” atau “apakah sebenamya sebuah nama itu”.

Bunga mawar akan sama saja harumnya walau nama apa pun juga kita pakai untuk menyebutnya Dengan alasan yang sama pula, Kesunyataan atau “Kebenaran Sejati” tidak memerlukan merek tertentu dan bukan milik dari umat Buddha, Kristen, Hindu atau Muslim. Tidak dimonopoli oleh siapa pun juga. Merek-merek yang diberikan oleh golongan tertentu hanya merupakan penghalang belaka untuk pengertian yang bebas dari Kesunyataan dan dapat menimbulkan satu prasangka yang berbahaya dalam pikiran seseorang.

Ini merupakan fakta bukan saja dalam hal-hal yang menyangkut bidang-bidang spiritual dan intelektual, namun juga dalam kehidupan kita sehari-hari sewaktu kita berhubungan dengan sesama manusia. Misalnya, kalau kita bertemu dengan orang asing, kita bukan melihatnya sebagai seorang manusia, tetapi kita segera memberinya merek-merek tertentu, misalnya Inggris, Jerman, India atau Thai dan kita berkecenderungan untuk menilai dan memperlakukan orang tersebut dengan sifat-sifat yang kita anggap dimiliki oleh orang dengan merek itu. Mungkin saja sifat yang sebenarnya dari orang itu lain sama sekali dengan apa yang ada dalam pikiran kita.

Kita begitu suka dengan merek yang berbeda-beda, sehingga kita juga memberi merek kepada sifat-sifat dan emosi-emosi yang kita anggap dimiliki oleh golongan tertentu. Misalnya kita berbicara tentang cinta-kasih Buddhis, cinta-kasih Kristen dan golongan yang satu akan memandang rendah cinta-kasih dari golongan yang lain. Mereka lupa bahwa cinta-kasih itu sebenarnya universal dan bukan menjadi milik golongan Buddhis, Kristen, Islam atau Hindu.

Apakah cinta-kasih seorang ibu terhadap anaknya cinta-kasih Budhis, cinta-kasih Kristen atau cinta-kasih Islam? Bukan, ini semata-mata merupakan cinta-kasih seorang ibu, tanpa embel-embel apa pun juga. Sifat-sifat manusia dan emosi seperti cinta, belas-kasihan, toleransi, sabar, setiakawan, dendam, sombong dll. tak memerlukan merek tertentu dan juga bukan menjadi milik golongan mana pun juga.

Bagi orang yang mau mencari Kebenaran Sejati tidaklah penting dari mana datangnya suatu ide. Sumber dan perkembangan suatu ide merupakan bidang para akademikus. Untuk mengerti Kebenaran Sejati tidaklah perlu untuk mengetahui bahwa ajaran itu bersumber dari seorang Buddha atau dari orang lain. Yang lebih penting ialah, bahwa kita harus dapat melihat dan juga memahami Kebenaran Sejati itu.

Di bawah ini akan disajikan sebuah kisah yang berhubungan dengan hal yang tersebut di atas (Majjhima Nikaya 140, Dhatuvibhanga-Sutta).

Pada suatu malam Sang Buddha bermalam di suatu pondok seorang pembuat guci tanah liat. Dalam pondok itu ada seorang pertapa muda bernama Pukkusati yang telah lebih dulu datang ke tempat itu. Mereka tidak saling mengenal. Sang Buddha mengamat-amati pertapa itu dan berpikir: “Pertapa muda ini memiliki pembawaan yang menyenangkan sekali. Alangkah baiknya kalau Aku bicara satu dua patah kata dengan orang ini”. Sang Buddha kemudian bertanya: “Saudara-Ku, untuk apakah kau meninggalkan rumahmu dan siapakah nama gurumu atau ajaran siapakah yang kau anut?”

Pertapa muda itu menjawab: “Orang telah memberitahukan kepadaku tentang seorang pertapa bernama Gotama dari suku Sakya yang menurut mereka telah mencapai Kebijaksana Sempurna. Beliau itulah yang membuat aku menjadi seorang pertapa dan Beliau pula yang menjadi Guruku dan aku menjunjung tinggi ajaran-Nya”. “Tahukah Anda di mana Orang Bijaksana itu sekarang berada?”

“Aku dengar, bahwa Beliau sekarang berada di suatu tempat yang disebut Savatthi”

“Pernahkah Anda melihat Orang Bijaksana itu dan dapatkah Anda mengenalnya kalau sekiranya Anda bertemu dengannya?”

“Dengan sebenarnya aku belum pernah melihat Orang Bijaksana itu dan aku juga tidak dapat mengenalnya kalau sekiranya aku bertemu dengannya.”

Sang Buddha sekarang mengetahui bahwa pertapa muda itu sebenarnya menjadi seorang pertapa karena menganut ajaran-Nya sendiri.

Kemudian, tanpa memperkenalkan diri, Sang Buddha lalu berkata “O, saudaraku, Aku akan memberimu satu pelajaran. Dengar dan perhatikanlah baik-baik apa yang akan Kukatakan.”

“Baiklah, sahabat,” jawab pertapa muda itu. Sesudah itu Sang Buddha menerangkan ajaran-Nya tentang Kesunyataan.

Akhirnya, insaflah Pukkusati bahwa orang yang sedang berbicara kepadanya adalah Sang Buddha sendiri. Lantas ia berdiri dan memberi hormat dengan berlutut di hadapan Sang Buddha sambil mohon diampuni atas kekurangajarannya karena telah memanggil Sang Buddha dengan kata-kata “sahabat”. Setelah itu ia juga mohon agar diterima sebagai murid.

Sang Buddha bertanya, apakah ia memiliki sebuah mangkuk dan jubah, sebab sebagaimana kita ketahui, untuk dapat ditahbiskan menjadi bhikkhu, seseorang harus mempunyai tiga stel jubah dan sebuah mangkuk untuk mengumpulkan makanan. Karena pertapa muda ini tidak memiliki benda-benda tersebut di atas, Sang Buddha tidak dapat mentahbiskannya pada saat itu. Pukkusati kemudian keluar dari pondok untuk mencari mangkuk dan jubah, tetapi malang bagiya, dalam perjalanan ia diseruduk seekor sapi dan kemudian meninggal dunia.

Ketika berita yang menyedihkan itu disampaikan kepada Sang Buddha, Beliau berkata bahwa Pukkusati adalah seorang yang bijaksana yang telah mencapai tingkat Anagami. Seorang yang mencapai tingkat Anagami tak akan lahir lagi di dunia ini dan akan mencapai tingkat Arahat di sorga Suddhavasa.

Dari kisah ini dapat kita menarik kesimpulan bahwa ketika Pukkusati mendengarkan Sang Buddha menguraikan ajaranNya, ia tidak tahu siapa sebenarnya yang bicara kepadanya atau ajaran siapa yang telah dibabarkan kepadanya. Ia hanya melihat Kesunyataan. Kalau obat itu baik tentunya dapat menyembuhkan orang sakit dan tidaklah perlu kita harus mengetahui siapa yang membuatnya atau dari mana obat itu datang.

Hampir semua agama didasarkan atas “percaya” yang sewaktu-waktu menjurus ke “percaya” yang membuta. Tetapi agama Buddha justru menekankan pada “melihat”, “mengetahui” dan “memahami” yang oleh sementara orang diterjemahkan menjadi “percaya”.

Tetapi, “saddha” bukanlah berarti “percaya” seperti yang lazim dipahami orang; ia berarti suatu “keyakinan” yang timbul dari sesuatu yang “nyata”.

Dalam agama Buddha memang harus diakui bahwa menurut pengertian umum, istilah “saddha” juga mencakup pengertian “percaya” di dalamnya yang dimaksudkan sebagai “bakti” terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha.

Menurut Asanga seorang pujangga Buddhis yang terkemuka pada abad ke-4 Masehi, “saddha” mengandung tiga unsur, yaitu

  1. keyakinan yang kuat akan sesuatu hal
  2. kegembiraan yang mendalam terhadap sifat-sifat yang baik
  3. harapan untuk memperoleh sesuatu di kemudian hari.

Dari sini dapat kita lihat bahwa pengertian “percaya” tidak terdapat dalam uraian yang tersebut di atas.

Persoalan “percaya” akan timbul apabila kita tidak dapat melihat sesuatu dengan jelas dan terang. Pada saat kita melihat suatu persoalan dengan jelas dan terang, maka “percaya” itu tak akan ada lagi.

Kalau saya mengatakan kepada Anda, bahwa saya menyembunyikan sebuah mestika dalam genggaman tangan saya, persoalan “percaya” lantas timbul karena Anda tidak melihat itu dengan mata kepala sendiri. Tetapi kalau saya buka genggaman tangan saya dan Anda dapat melihat mestika tersebut, maka dengan sendirinya persoalan “percaya” itu tak akan ada lagi. Selama kita belum dapat melihat sesuatu dengan jelas, maka selama itu pula masih dapat timbul “percaya” atau “tidak percaya”. Jadi, pada saat kita melihat sesuatu dengan jelas dan terang, maka pada saat itu pula persoalan “percaya” tidak akan ada lagi.

Dalam hubungan ini kita teringat kepada satu pepatah Buddhis kuno yang berbunyi sebagai berikut. “Mengalami sendiri seperti orang melihat sebuah mestika di telapak tangan.”

Seorang siswa Sang Buddha bernama Musila pernah berkata kepada seorang bhikkhu lain “Saudara Savittha, tanpa bakti atau percaya, tanpa suka atau melekat, tanpa hanya dapat mendengar dari orang lain atau tradisi, tanpa mempertimbangkan sebab-sebab yang nyata, tanpa kegembiraan dalam menerka-nerka pendapat, aku tahu dan melihat bahwa Nibbana itu akhir daripada keharusan untuk bertumimbal lahir”.

Juga Sang Buddha pernah bersabda : “O bhikkhu, telah Aku katakan bahwa pemusnaan kekotoran batin dan noda-noda hanya dapat dilakukan oleh orang yang “tahu” dan “dapat melihat” dan bukan oleh orang yang “tidak tahu” dan “tidak dapat melihat”.

Persoalannya selalu adalah “tahu” dan “‘melihat” dan bukan “percaya”. Ajaran Sang Buddha juga dikenal sebagai ehi-passiko, ialah mengundang untuk “datang dan melihat” dan bukan untuk “datang dan percaya”. Istilah yang umum dipergunakan untuk orang yang telah menyelami Kesunyataan ialah: “Mata Dhamma (Dhamma-cakkhu) tanpa debu dan noda telah bangkit. Tidak dapat disangsikan lagi ia telah melihat Kesunyataan, telah memperoleh Kesunyataan, telah mengenal Kesunyataan, telah menembus Kesunyataan, telah mengatasi keragu-raguan.”

Berkenaan dengan Kesadaran Agung yang telah dicapai-Nya sendiri Sang Buddha berkata. “Mata telah lahir, pengertian telah lahir, kebijaksanaan telah lahir, pengetahuan telah lahir, cahaya telah lahir.” (Anguttara Nikaya I:8)

Yang selalu kita temukan ialah “melihat” disebabkan oleh pengertian dan kebijaksanaan (nana-dassana) dan bukan disebabkan oleh “percaya”.

Hal ini lebih dihargai lagi karena pada waktu itu kepercayaan Hindu yang kolot memaksa orang untuk percaya dan menerima tradisi dan kepercayaan mereka sebagai satu-satunya Kebenaran yang tak boleh dipersoalkan.

Pada suatu hari sekelompok orang Brahmana yang terpelajar dan terkemuka mengunjungi Sang Buddha dan melakukan tukar pikiran yang mendalam dengan Sang Tathagata.

Seorang brahmana muda berusia 16 tahun yang bernama Kapathika (yang oleh kelompok tersebut dianggap sebagai orang pintar dan luar biasa) telah mengajukan pertanyaan sbb.. “Gotama Yang Mulia, kaum brahmana memiliki kitab-kitab suci yang sudah tua sekali dan diceritakan serta dipelajari turun-temurun hingga kini. Menurut kitab-kitab tersebut kaum brahmana telah sampai kepada satu kesimpulan terakhir: ‘Ini saja yang benar dan yang lain palsu.’ Kami ingin bertanya, bagaimana pendapat Gotama Yang Mulia mengenai hal ini?”

Sang Buddha balik bertanya. “Di antara kaum brahmana, apakah ada seorang yang secara pribadi telah tahu dan lihat bahwa : ‘Ini saja yang benar dan yang lain palsu’?”

Anak muda itu lantas menjawab. “Tidak ada.”

“Kalau begitu, adakah seorang Guru atau Guru dari para Guru kaum brahmana sebelumnya sampai turunan ketujuh, atau mungkin salah seorang dari penulis asli kitab-kitab suci itu sendiri yang telah tahu dan lihat: ‘Ini saja yang benar dan yang lain palsu’?”

“Tidak ada.”

“Kalau begitu dapat diumpamakan seperti satu barisan orang buta yang saling berpegangan tangan. Yang berada di muka tidak melihat, yang berada di tengah tidak melihat dan yang berada di belakang pun tidak melihat. Oleh karena itu, dapat Aku katakan bahwa keadaan kaum brahmana sama saja seperti barisan orang buta itu.”

Sesudah itu, Sang Buddha memberikan nasihat yang penting sekali kepada para brahmana tersebut. “Bagi seorang bijaksana yang harus melindungi Kebenaran tidaklah layak untuk sampai kepada kesimpulan. ‘Ini saja yang benar dan yang lain palsu’.”

Ketika diminta oleh brahmana muda itu untuk memberikan keterangan lebih lanjut tentang hal melindungi Kebenaran, Sang Buddha menjawab: “Seseorang mempunyai kepercayaan. Kalau ia berkata, ini adalah kepercayaanku; sampai di sini ia melindungi Kebenaran. Tetapi dengan ini ia tidak dapat maju lebih jauh untuk sampai pada kesimpulan terakhir: ‘Ini saja yang benar dan yang lain palsu.’ Dengan perkataan lain, orang boleh saja percaya akan apa yang ia suka dan ia boleh berkata: ‘Aku percaya ini’. Sampai di sini ia menghormati Kebenaran. Tetapi berhubung dengan kepercayaannya itu tidak seharusnya ia berkata bahwa apa yang ia percayai itu adalah satu-satunya Kebenaran dan yang lain palsu.”

Sang Buddha melanjutkan. “Melekat kepada satu pandangan saja dan memandang rendah pandangan orang lain adalah tidak baik dan orang bijaksana menamakan ini satu belenggu.”

Pada suatu hari Sang Buddha menerangkan kepada siswa siswa-Nya ajaran tentang hukum Kamma (Skrt. Karma) dan para siswa tersebut menerangkan bahwa mereka telah melihat dan mengerti akan ajaran itu dengan baik.

Sang Buddha lalu berkata. “O bhikkhu, biarpun pandanganmu ini jelas dan terang, tetapi kalau engkau melekat kepadanya, kalau engkau mengganduli, kalau engkau memiliki, kalau engkau terikat kepadanya, maka engkau tidak mengerti, bahwa ajaran itu dapat diumpamakan sebagai sebuah rakit yang engkau pakai untuk menyeberang dan bukan untuk terus menerus engkau pegangi rakit itu.”

Pada kesempatan lain Sang Buddha memberikan perumpamaan yang termashur, dengan mengibaratkan Ajaran-Nya sebagai sebuah rakit untuk menyeberang ke pantai yang aman. “O bhikkhu, ada orang yang melakukan perjalanan. Pada suatu ketika ia tiba di pantai laut. Di sebelah sini pantainya berbahaya, tetapi di pantai yang lain aman dan tidak ada bahaya apa pun. Tidak ada kapal yang pergi ke pantai seberang sana yang aman dan sentosa dan juga tidak ada jembatan untuk dipakai menyeberang. Ia berkata kepada dirinya sendiri: “Lautan ini lebar dengan pantai di sebelah sini yang penuh dengan mara bahaya, tetapi pantai di seberang sana aman dan sentosa. Tidak ada kapal yang belayar ke pantai sana dan juga tidak ada jembatan yang dapat dipakai untuk menyeberang, Alangkah baiknya kalau aku mengumpulkan rumput, kayu, tangkai-tangkai dan daun-daun untuk membuat sebuah rakit dan dengan pertolongan rakit itu aku akan menyeberang ke pantai sana dengan menggunakan tangan dan kakiku.”

Orang ini, O bhikkhu, lantas mengumpulkan rumput, kayu, tangkai-tangkai dan daun-daun untuk membuat sebuah rakit dan dengan pertolongan rakit itu ia tiba dengan selamat di pantai sebelah sana dengan menggunakan tangan dan kakinya. Tiba di seberang sana ia berpikir, rakit ini banyak menolong aku. Dengan pertolongannya aku dapat menyeberang dengan selamat dengan menggunakan tangan dan kakiku. Alangkah baiknya kalau aku menjinjing rakit itu di atas kepalaku atau menggendong rakit itu dipundakku ke mana saja aku pergi. Bagaimana pendapatmu, O bhikkhu, apakah dengan berbuat demikian ia telah melakukan perbuatan yang benar?”

“Tidak Bhante.”

“Bagaimanakah seharusnya ia berbuat setelah dengan selamat tiba di seberang sana?” Mungkin ia berpikir: “Rakit ini telah banyak jasanya. Dengan pertolongannya, aku telah tiba di seberang sini dengan menggunakan tangan dan kakiku. Alangkah baiknya kalau aku menarik rakit ke pantai, atau mengikatnya dan membiarkan ia terapung-apung dan aku dapat melanjutkan perjalananku.”

Dengan berbuat begini orang itu telah melakukan perbuatan yang benar.

O bhikkhu, Aku pun mengajarkan sebuah doktrin yang sama seperti rakit tersebut dan dapat dipakai menyeberang ke pantai sana tetapi bukan untuk terus diganduli.

O bhikkhu, kalau kamu mengerti dengan baik ajaran-Ku yang dapat diumpamakan sebagai sebuah rakit maka kamu seyogyanya tidak lagi melekat kepada benda-benda (hal-hal) yang baik, terlebih lagi kepada benda-benda (hal-hal) yang tidak baik (adhamma). (Alagaddupama-Sutta, Majjhima Nikaya 22). Dari perumpamaan di atas jelaslah sekarang bahwa ajaran Sang Buddha dimaksudkan untuk mengantar orang ke tempat yang aman, tenang, bahagia dan penuh keseimbangan atau yang lazim disebut sebagai Nibbana. Semua ajaran Sang Buddha menuju ke arah itu. Beliau tidak mengatakan sesuatu hanya karena ingin memberi kepuasan kepada “perasaan ingin tahu” kita. Beliau adalah seorang Guru yang praktis dan hanya mengajarkan hal-hal yang dapat memberi ketenangan dan kebahagiaan kepada umat-Nya.

Pada suatu hari Sang Buddha berada di hutan Simsapa di Kosambi (dekat Allahabad). Beliau kemudian mengambil segenggam daun di tangan-Nya dan bertanya kepada para bhikkhu:
“Coba katakan, O bhikkhu. Mana yang lebih banyak, daun yang ada di genggaman-Ku ataukah daun yang ada di hutan ini?”

“Tentu saja daun yang ada di hutan ini lebih banyak daripada daun yang ada di dalam genggaman tangan Bhante.”

“Begitulah juga, O bhikkhu, dari apa yang Aku tahu hanya sebagian kecil saja yang telah Aku ajarkan kepadamu dan bagian yang terbesar lagi tidak Aku ajarkan. Mengapa Aku berbuat demikian? Oleh karena hal-hal itu tidak berguna … tidak akan membawamu ke Nibbana. Oleh karena itulah Aku tidak ajarkan hal-hal yang demikian itu kepadamu.” (Samyutta Nikaya XXII 94)

Sang Buddha tidak pernah menaruh perhatian kepada diskusi-diskusi yang tidak berguna perihal soal-soal metafisika yang tidak dapat dibuktikan dan yang hanya menciptakan persoalan yang tidak konkrit. Beliau menamakan hal-hal yang demikian itu “rimba pendapat”. Para siswa-Nya ada yang tidak setuju dengan pendirian-Nya.

Malunkyaputta, misalnya, yang telah mengajukan, sepuluh pertanyaan klasik yang terkenal perihal soal-soal metafisika dan ia menuntut Sang Buddha untuk menjawabnya.

Pada suatu hari Malunkyaputta bangun dari meditasi siang hari dan pergi menemui Sang Buddha, memberi hormat, mengambil tempat duduk di samping-Nya dan berkata.

“Bhante, sewaktu hamba sedang bermeditasi, timbul dalam pikiran hamba: ‘Inilah beberapa persoalan yang oleh Sang Sugata dikesampingkan dan tidak hendak diterangkan.

  1. Apakah alam semesta ini kekal abadi ?
  2. Apakah alam semesta ini tidak kekal abadi ?
  3. Apakah alam semesta ini berbatas ?
  4. Apakah alam semesta ini tidak terbatas ?
  5. Apakah jiwa itu sama dengan badan ?
  6. Apakah jiwa itu lain dengan badan ?
  7. Apakah Sang Tathagata ada sesudah mangkat ?
  8. Apakah Sang Tathagata tidak ada sesudah mangkat ?
  9. Apakah Sang Tathagata berbareng ada dan tidak-ada sesudah mangkat?
  10. Apakah Sang Tathagata berbareng tidak-ada dan bukan tidak-ada sesudah mangkat?’

Sang Sugata belum menerangkan hal-hal yang tersebut di atas kepada hamba. Ini tidak memberi kebahagiaan kepada hamba dan hamba tak dapat menghargainya. Hamba akan berkunjung kepada Sang Sugata dan menanyakan hal ini kepada Beliau. Kalau Sang Sugata mau menerangkan, hamba akan tetap menjadi siswa-Nya tetapi kalau Beliau tidak mau menerangkan, hamba akan keluar dari Sangha dan akan menuntut penghidupan lain. Kalau Sang Sugata tahu bahwa alam semesta ini kekal abadi, hamba harap dapat diterangkan. Kalau Sang Sugata tahu bahwa alam semesta ini tidak kekal abadi, hamba harap dapat diterangkan juga.

Kalau Sang Sugata tidak tahu bahwa alam semesta ini kekal abadi atau tidak dst… maka orang yang tidak tahu harus berani berterus terang dan menjawab: ‘Aku tidak tahu. Aku tidak melihat.’ ”

Jawaban yang diberikan oleh Sang Buddha kepada Malunkyaputta berguna juga untuk jutaan orang di dunia ini yang sampai saat ini masih saja menyia-nyiakan waktunya yang berharga dengan soal-soal metafisika/mistik dan dengan demikian secara tidak sadar mengganggu ketenangan pikirannya.

“Pernahkah aku berkata, mari Malunkyaputta menjadi siswa-Ku dan Aku, akan menerangkan soal-soal itu kepadamu?”

“Tidak, Bhante.”

“Kalau begitu, Malunkyaputta, pernahkah kau berkata, Bhagava, aku ingin menjadi siswa Sang Sugata dan Sang Sugata akan menerangkan soal-soal ini kepadamu?”

“Tidak, Bhante.”

“Hingga kini pun, Malunkyaputta, Aku tidak akan berkata kepadamu, mari menjadi siswa-Ku dan Aku akan menerangkan soal-soal itu kepadamu.

Dan kamu pun tidak berkata, Bhante, hamba ingin menjadi siswa Sang Sugata dan Beliau akan menjelaskan soal-soal ini kepada hamba,

Dalam hubungan ini, cobalah katakan, siapakah sebenarnya yang menolak untuk menerangkan kepada siapa?

Malunkyaputta, kalau seandainya ada orang berkata: ‘Aku tidak akan menjadi siswa Sang Sugata sampai Beliau mau menerangkan soal-soal ini kepadaku’, orang itu sampai mati pun tidak akan mendapat jawaban dari Sang Tathagata.

Andaikata, Malunkyaputta, ada orang yang terkena panah berbisa dan sahabat serta keluarganya membawa orang itu ke seorang dokter. Andaikata orang itu berkata: ‘Aku tidak mau panah itu dicabut, sebelum aku tahu siapa yang memanahku; apakah ia seorang Ksatriya, seorang Brahmana, seorang Waisya atau seorang Sudra; siapa nama dan nama keluarganya orang itu; apakah ia tinggi, pendek atau sedang bentuk badannya; apakah mukanya hitam, coklat atau putih; asalnya dari desa, kampung atau dari kota mana.

Aku tidak mau panah itu dicabut sebelum aku tahu jenis gendewa yang dipakai untuk memanahku; jenis tali gendewanya; jenis panahnya; macam bulu apa yang dipakai untuk panah itu dan dari benda apa ujung panah itu dibuat.’

Malunkyaputta, orang itu akan terburu mati sebelum ia memperoleh satu jawaban pun. Begitu pula Malunkyaputta, kalau ada orang berkata: ‘Aku tidak ingin menjadi siswa Sang Sugata sebelum Beliau mau menjawab pertanyaan seperti, apakah alam semesta ini kekal abadi atau tidak, … orang ini akan mati tanpa mendapat jawaban dari Sang Tathagata.”

Sesudah itu Sang Buddha menerangkan kepada Malunkyaputta bahwa menuntut penghidupan suci tidaklah tergantung kepada hal-hal tersebut di atas. Pandangan apa pun juga yang orang miliki mengenai soal-soal di atas, ketahuilah, bahwa tetap akan ada kelahiran, usia tua, kelapukan, kematian, kesedihan, keluh-kesah, kesakitan, kekecewaan, kemalangan; sedangkan pemusnaannya dapat kita lakukan dalam kehidupan ini juga.

“Dari itu, Malunkyaputta, ingatlah baik-baik tentang apa yang Aku terangkan dan jangan hiraukan apa yang Aku tidak terangkan. Apakah hal-hal yang Aku tidak terangkan? Aku tidak menerangkan tentang apakah alam semesta ini kekal abadi atau tidak,….

Mengapa Aku tidak menerangkan hal-hal tersebut? Karena itu tidak berguna, tidak merupakan syarat mutlak untuk menuntut penghidupan suci dan tidak dapat digunakan untuk mencapai Nibbana. Oleh karena itu, Aku tidak menerangkannya. Dan apakah hal-hal yang Aku telah terangkan, Malunkyaputta? Aku telah menerangkan tentang Dukkha, tentang timbulnya Dukkha, tentang Akhir Dukkha dan tentang Jalan Untuk Mengakhiri Dukkha. Mengapa Aku telah menerangkan hal-hal tersebut, Malunkyaputta?

Karena itu berguna untuk mencapai Nibbana. Karena itulah Aku terangkan hal-hal tersebut.” (Cula Malunkya-Sutta, Majjhima Nikaya 63)

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s