KAṬĀHAKA-JĀTAKA   Leave a comment

KAṬĀHAKA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

“Jika ia yang berada,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai seorang bhikkhu pembual. Cerita pembuka mengenai dirinya sama dengan apa yang telah pernah diceritakan204.

_____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah seorang saudagar yang kaya, dan istrinya telah melahirkan seorang putra untuknya. Pada hari yang sama, seorang pelayan wanita di rumahnya juga melahirkan seorang putra, dan kedua anak ini tumbuh besar bersama. Ketika putra orang kaya ini belajar menulis, pelayan muda ini biasanya pergi membawa catatan tuan mudanya, dengan demikian ia juga belajar menulis sendiri. Selanjutnya ia belajar dua atau tiga macam kerajinan tangan, dan tumbuh dewasa menjadi pemuda yang pintar bicara dan tampan; ia bernama Kaṭāhaka. Dipekerjakan sebagai pelayan pribadi, ia berpikir, “Saya tidak bisa selamanya bekerja seperti ini. Dengan sedikit kesalahan, saya akan dipukuli, dipenjarakan, dicap dan diberi makanan layaknya seorang budak. Di daerah pinggiran tinggal seorang saudagar, seorang teman dari majikan saya. Mengapa saya tidak ke sana dengan sepucuk surat yang diakui sebagai surat dari majikan saya, dan, memalsukan diri saya sebagai putra majikan saya, menikah dengan putri saudagar tersebut dan hidup bahagia setelah itu?”

Maka ia menulis sepucuk surat, [452] dengan isi, “Pembawa surat ini merupakan anak saya. Sudah sepantasnya jika rumah tangga kita dipersatukan dalam pernikahan, dan saya meminta engkau untuk memberikan putrimu kepada putra saya ini dan menjaga pasangan muda ini bersamamu untuk sementara waktu ini. Begitu saya bisa melakukannya sendiri dengan baik, saya akan menemuimu.” Surat ini ia segel dengan segel pribadi tuannya, dan menemui saudagar di perbatasan dengan dompet yang terisi penuh, pakaian yang bagus, wewangian dan sejenisnya.

Dengan penuh hormat ia berdiri di hadapan saudagar tersebut. “Darimanakah asalmu?” tanya saudagar tersebut. “Dari Benares.” “Siapakah ayahmu?” “Saudagar Benares.” “Apa yang membuat engkau datang?” “Surat ini akan menjelaskannya,” kata Kaṭāhaka, menyerahkan surat tersebut kepadanya. Saudagar itu membaca surat tersebut dan berseru, “Hal ini memberi kehidupan baru bagiku.” Dalam kegembiraannya, ia menyerahkan putrinya kepada Kaṭāhaka dan mengukuhkan pasangan muda itu.

Mereka menjalani kehidupan dengan gaya hidup yang mewah. Namun, Kaṭāhaka semakin merajalela, ia selalu menemukan kesalahan pada makanan dan pakaian yang dibawakan untuknya, menyebut semuanya “kampungan”. “Orang kampung yang kesasar ini,” katanya, “tidak mengetahui bagaimana cara berpakaian. Dalam hal wewangian dan untaian bunga, mereka tidak tahu apa pun.”

Merasa kehilangan pelayannya, Bodhisatta berkata, “Saya tidak melihat Kaṭāhaka. Kemana ia pergi? Cari dia!”

Pergilah orang-orang Bodhisatta untuk mencarinya, mencari dimana-mana hingga akhirnya mereka menemukannya. Kemudian mereka kembali, tanpa diketahui oleh Kaṭāhaka, dan menceritakan hal tersebut kepada Bodhisatta.

“Ini tidak boleh terjadi,” kata Bodhisatta mendengar hal tersebut. “Saya akan pergi dan membawanya kembali.” Maka ia meminta izin dari raja dan berangkat dengan sejumlah pengawal. Berita itu menyebar kemana-mana, bahwa saudagar itu sedang menuju daerah perbatasan. Mendengar berita tersebut, Kaṭāhaka segera memikirkan jalan yang akan ia tempuh. Ia mengetahui ia adalah penyebab tunggal kedatangan saudagar itu, dan mengetahui jika ia lari sekarang, ia tidak akan mempunyai kesempatan untuk kembali lagi. Maka ia memutuskan untuk menemui sang saudagar, berdamai dengannya dengan berpura-pura sebagai pelayan di hadapannya seperti di waktu lalu.

Bertindak menurut rencananya, ia bermaksud menyatakan di hadapan [453] publik dalam setiap kesempatan, tentang ketidaksukaannya pada kehilangan yang disayangkan atas rasa hormatnya terhadap orang tuanya, yang ia tunjukkan dengan cara anak-anak duduk untuk makan bersama orang tuanya, bukan menanti mereka. “Ketika orang tua saya makan,” kata Kaṭāhaka, “saya membawakan piring dan hidangan, membawakan tempat membuang ludah, dan mengambilkan kipas mereka untuk mereka. Demikianlah yang selalu saya lakukan.” Dan ia menjelaskan dengan hati-hati mengenai kewajiban pelayan terhadap majikan mereka, seperti mengambilkan air dan melayaninya saat ia beristirahat.

Setelah mendidik mereka secara umum, ia berkata kepada ayah mertuanya secara singkat sebelum kedatangan Bodhisatta, “Saya mendengar ayah saya akan datang untuk menemuimu. Engkau sebaiknya bersiap-siap untuk menghiburnya, sementara saya akan pergi menemuinya di jalan dengan membawa hadiah.” “Lakukanlah hal tersebut, Anakku,” jawab ayah mertuanya.

Maka Kaṭāhaka membawa hadiah yang sangat bagus dan pergi bersama rombongan yang sangat besar untuk bertemu dengan Bodhisatta, yang ia persembahkan hadiah dengan penuh hormat. Bodhisatta menerima hadiah tersebut dengan cara yang ramah, dan di waktu sarapan ia mendirikan perkemahan untuk beristirahat karena tuntutan alami tubuhnya. Menghentikan rombongannya, Kaṭāhaka membawakan air dan mendekati Bodhisatta, kemudian pemuda itu berlutut di kaki Bodhisatta dan berseru, “Oh, Tuan, saya akan membayar berapa pun yang engkau mau; namun jangan membongkar perbuatan saya.”

“Jangan takut perbuatanmu akan saya bongkar,” kata Bodhisatta, senang melihat tingkahnya yang penurut. Dan mereka bergerak masuk ke dalam kota, dimana ia dijamu dengan agung. Dan Kaṭāhaka tetap bertindak seperti seorang pelayan.

Saat saudagar itu telah duduk dengan tenangnya, saudagar di perbatasan itu berkata, “Tuanku, menerima suratmu, saya bertindak sebagaimana seharusnya dengan memberikan putri saya untuk menikah dengan putramu.” Saudagar itu menjawab dengan tepat mengenai ‘putranya’, dengan cara yang begitu ramah, sehingga saudagar tersebut gembira tak terkira. Namun sejak saat itu, Bodhisatta tidak menatap Kaṭāhaka lagi.

Suatu hari, makhluk yang agung itu menemui putri saudagar tersebut dan berkata, “Nak, tolong periksa kepala saya.” Ia melakukannya,dan sang saudagar berterima kasih atas pelayanan gadis itu, yang sangat dibutuhkan olehnya, [454] ia menambahkan, “Sekarang beritahu saya, Nak, apakah putra saya adalah orang yang bersikap pantas dalam suka dan duka, dan apakah engkau bisa cocok dengannya?”

“Suami saya hanya mempunyai satu masalah. Ia selalu menemukan kesalahan pada makanannya.”

“Ia selalu mempunyai masalah dengan hal tersebut, Nak, namun saya akan memberitahumu bagaimana cara menghentikan lidahnya. Saya akan memberitahukan sebuah syair yang harus engkau pelajari dengan penuh perhatian dan engkau ulangi pada saat suamimu menemukan masalah dengan makanannya.”

Ia mengajari gadis itu baris-baris tersebut dan sebentar kemudian ia meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Benares. Kaṭāhaka menemani sebagian perjalanannya, dan pamit setelah memberikan hadiah-hadiah yang berharga kepada saudagar tersebut.

Sejak kepergian Bodhisatta, Kaṭāhaka menjadi semakin angkuh dan angkuh. Suatu hari istrinya memesankan hidangan makan malam yang lezat, dan membantu suaminya menyediakan sebuah sendok, namun begitu suapan pertama saja Kaṭāhaka mulai mengomel. Kemudian putri saudagar tersebut mengingat pelajaran yang ia terima, dan mengulangi syair berikut ini : —

Jika ia, yang berada di antara orang asing
dan jauh dari rumah, membual205,
maka pengunjungnya akan kembali
untuk merusak semuanya.
— Mari, santap makan malammu, Kaṭāhaka206.

“Astaga,” pikir Kaṭāhaka, “saudagar itu pasti telah memberitahukan nama saya kepadanya, dan telah menceritakan semuanya.” Sejak saat itu, ia tidak pernah bertingkah berlebihan lagi, namun dengan rendah hati makan apa pun yang disajikan untuknya, dan setelah meninggal, ia terlahir kembali di alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

_____________________

[455] Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang menggeser dan mengambil tempat orang lain ini adalah Kaṭāhaka di masa itu, dan saya adalah saudagar dari Benares tersebut.”

Catatan kaki :

204 Di No.80.

205 Bandingkan Upham Mahāv.3.301.

206 Para cendekiawan menjelaskan bahwa istrinya tidak mengerti apa makna syair tersebut, ia hanya mengulang kata-kata yang diajarkan padanya. Dikatakan, gāthā tersebut bukan puisi rakyat, namun keahlian lidah untuk menjelaskan pada Kaṭāhaka yang terpelajar, bukan pada wanita tersebut, yang hanya mengulanginya seperti seekor kakak tua.

Posted 30/01/2011 by chandra2002id in Naskah Dharma

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s