K A M M A (Perbuatan)   Leave a comment

DHAMMA-SARI

Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma
Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda
Cetakan Kesembilan, 1994

BAB IX
K A M M A
(Perbuatan)

Kamma adalah kata bahasa Pali yang berarti “perbuatan” (Skt. Karma) yang dalam arti umum meliputi semua jenis kehendak dan maksud perbuatan, yang baik maupun buruk, lahir atau batin, dengan pikiran, kata-kata atau tindakan. Makna yang lebih luas dari Kamma ialah semua kehendak atau itikad dengan tidak membeda-bedakan apakah kehendak atau itikad itu baik (bermoral) atau buruk (tidak bermoral).

Mengenai hal ini Sang Buddha pernah bersabda (Anguttara Nikaya, III: 415) : O bhikkhu, kehendak untuk berbuat (Cetana) itulah yang Aku namakan kamma. Sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan badan jasmani, perkataan atau pikiran.”

Kamma bukanlah satu ajaran yang membuat manusia lekas putus asa, juga bukan ajaran tentang adanya nasib yang sudah ditakdirkan. Memang segala sesuatu yang telah lampau mempengaruhi keadaan sekarang atau pada saat ini, akan tetapi tidak menentukan seluruhnya karena Kamma meliputi apa yang telah lampau dan keadaan pada saat ini, dan yang telah lampau bersama-sama dengan apa yang terjadi pada saat sekarang mempengaruhi pula hal-hal yang akan datang.

Apa yang telah lampau sebenarnya merupakan dasar tempat hidup sekarang berlangsung dari satu saat ke saat lain, dan apa yang akan datang masih akan dijalankan. Oleh karena itu, saat sekarang, saat yang nyata dan berada dalam tangan kita sendiri ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Semua perbuatan pada umumnya menimbulkan akibat dan akibat ini merupakan pula sebab lain yang menghasilkan akibat yang lain, dan begitu seterusnya sehingga Kamma sering juga disebut sebagai “hukum sebab dan akibat”.

Misalnya melempar sebuah batu merupakan satu perbuatan. Batu mengenai jendela kaca dan kaca menjadi pecah. Pecahnya kaca itu adalah akibat dari pelemparan batu. Tetapi, peristiwa ini tidak selesai sampai di sini saja. Kaca yang pecah merupakan pula satu sebab dari kesukaran-kesukaran lain. Misalnya, sejumlah uang si pelempar batu tadi harus berpindah tangan untuk mengganti kaca yang pecah itu. Orang itu mungkin terpaksa menggunakan uang yang sebenarnya dicadangkan untuk keperluan lain, sehingga hal itu menimbulkan satu kekecewaan. Kekecewaan ini mungkin akan menjadi sebab dari satu perbuatan yang tidak begitu baik dari orang tersebut, dan begitu seterusnya. Dengan demikian, akibat dari Kamma itu tidak akan lekas-lekas berakhir.

Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati sekali dengan perbuatan kita, supaya akibatnya senantiasa akan bersifat baik. Kita hendaknya selalu berbuat baik, yang bermaksud menolong makhluk-makhluk lain, membuat makhluk-makhluk lain bahagia, sehingga perbuatan ini akan membawa satu Kamma-vipaka (akibat) yang baik dan memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan Kamma yang lebih baik pula.

Satu contoh lain yang klasik adalah sebagai berikut. Lemparlah batu ke dalam sebuah kolam yang tenang. Pertama-tama akan terdengar suara percikan air dan kemudian akan terlihat lingkaran-lingkaran gelombang. Perhatikanlah, bagaimana lingkaran ini makin lama makin melebar menjadi begitu lebar dan halus, sehingga tidak dapat dilihat lagi oleh mata kita. Ini bukan berarti bahwa gerak itu telah selesai, sebab bilamana gerak gelombang yang halus itu mencapai tepi kolam, ia akan dipantulkan kembali sampai mencapai pula tempat bekas batu tadi jatuh. Begitulah semua akibat perbuatan kita akan kembali kepada kita, seperti halnya dengan gelombang di kolam, yang kembali ke tempat batu itu jatuh. Selama kita berbuat dengan maksud buruk, maka gelombang akibat yang buruk pula yang akan senantiasa mengganggu kita. Sebaliknya, bilamana kita berbuat baik, maka gelombang akibat yang baik pula yang akan menunggu kita. Sebagaimana orang yang menanam biji mangga, pasti akan menghasilkan sebuah pohon mangga kelak, begitu pula orang yang menanam bibit padi, pasti akan menghasilkan padi pada waktu yang akan datang.

Sang Buddha pernah bersabda (Samyutta Nikaya I, hal. 227) sbb.:

“Sesuai dengan benih yang telah ditabur,
Begitulah buah yang akan dipetiknya;
Pembuat kebaikan akan mendapat kebaikan;
Pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula,
Taburlah biji-biji benih, dan
Engkau pulalah yang akan merasakan buah-buah daripadanya”.

Segala sesuatu yang datang pada kita, yang menimpa diri kita, sesungguhnya benar adanya. Bilamana kita mengalami sesuatu yang membahagiakan, yakinlah bahwa kamma yang telah kita perbuat adalah benar. Sebaliknya bila sesuatu menimpa diri kita yang membuat kita tidak senang, kamma-vipaka itu menunjukkan bahwa kita telah berbuat suatu kesalahan. Janganlah sekali-kali dilupakan bahwa kamma-vipaka itu senantiasa benar. Ia tidak mencintai maupun membenci, pun tidak marah dan juga tidak memihak. Ia adalah semata-mata hukum sebab akibat. Kamma tidak mengenal kita.

Dapatkah api misalnya mengerti atau mengenal kita, bilamana kita terbakar olehnya?

Tidak. Membakar dan menyebabkan panas adalah sifat api. Digunakan dengan baik, api memberi penerangan, membuat masak makanan atau keperluan lain yang bermanfaat bagi kita, akan tetapi bila digunakan secara keliru ia dapat membakar milik kita, bahkan diri kita sendiri.

Sifat api ialah membakar dan tergantung pada kitalah untuk mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Sebenarnya, sangatlah bodoh, bilamana kita memarahi api jika ia sampai merugikan kita.

Di dunia ini kita lihat berbagai macam tingkatan dan keadaan manusia. Ada orang yang meninggal pada waktu masih kanak-kanak, yang lain mencapai umur delapan puluh atau seratus tahun. Ada orang yang selalu sakit-sakitan dan yang lain lagi kuat dan sehat. Ada orang yang berwajah bagus dan cantik, dan yang lain berwajah buruk. Ada orang dilahirkan dalam keadaan serba mewah dan yang lain lagi dalam keadaan yang sangat kekurangan. Ada orang dilahirkan sebagai jutawan, yang lain lagi sebagai pengemis. Ada pula orang dilahirkan dengan mempunyai bakat dalam satu ilmu tertentu, yang lain lagi sebagai orang yang bodoh, dsb.

Apakah yang menyebabkan timbulnya berbagai macam keadaan itu? Seorang Buddhis tidak dapat menerima bahwa keadaan yang beraneka macam tersebut adalah hasil dari sesuatu yang kebetulan saja. Ilmu pengetahuan sendiri tidak dapat menerima satu teori bahwa segala sesuatu itu hanya kebetulan atau untung-untungan belaka. Para ahli ilmu pengetahuan senantiasa bekerja berdasarkan hukum sebab dan akibat. Begitu pula seorang Buddhis tidak dapat percaya bahwa perbedaan-perbedaan tersebut disebabkan oleh perbuatan satu “kekuatan luar”. Kalau sekiranya ada orang yang percaya hal demikian itu, terserahlah kepada yang bersangkutan sendiri dan dalam hal ini tidak perlu kita mencela atau menyalahkan orang itu. Dalam sutta-sutta Sang Buddha sering menerangkan beraneka macam keadaan manusia di dunia ini dan betapa tidak masuk akal kalau hal tersebut disebabkan oleh suatu “kekuatan luar”, di luar manusia itu sendiri.

Menurut agama Buddha, kepincangan-kepincangan, keganjilan-keganjilan yang terdapat di dunia ini sebagian memang mempunyai sebab, keadaan perantara yang menimbulkan berbagai macam keadaan itu; tetapi, sebagian besar ditimbulkan oleh rangkaian sebab yang tidak hanya terjadi pada saat itu saja bahkan juga pada waktu-waktu yang telah lampau. Memang, sebenarnya manusia itu bertanggung jawab atas kebahagiaannya maupun kecelakaannya sendiri. Ia membuat sorga atau nerakanya sendiri. Ia adalah majikan di hari kemudian, pewaris kelakuannya yang telah lalu maupun kelakuannya pada saat ini.

Hukum Tertib Kosmis

Sekalipun Dhamma mengajarkan bahwa Kamma adalah sebab utama dari adanya berbagai macam keadaan di dunia ini, ini bukanlah satu fatalisme (menyerah kepada keadaan dan berputus asa), maupun satu nasib tertentu yang sudah digariskan untuk seseorang atau makhluk. Hukum Kamma hanya merupakan satu dari dua puluh empat sebab, sebagaimana dapat ditemukan dalam falsafah Buddhis (Compendium of Philosophy, hal. 191), atau salah satu dari lima Niyama (Hukum) yang bekerja di alam semesta ini, dan yang masing-masing merupakan hukum-hukum tersendiri.

Hukum-hukum dimaksud di atas ada sbb.:

  1. Utu Nikaya
    Hukum tertib “physical inorganic” misalnya: gejala timbulnya angin dan hujan yang mencakup pula tertib silih bergantinya musim-musim dan perubahan iklim yang disebabkan oleh angin, hujan, sifat-sifat panas, dsb.
  2. Bija Niyama
    Hukum tertib tumbuh-tumbuhan daripada benih dan pertumbuhan tanam-tanaman, misalnya: padi berasal dari tumbuhnya benih padi; gula berasal dari batang tebu atau madu; keistimewaan daripada berbagai jenis buah-buahan, dsb.
  3. Kamma Niyama
    Hukum tertib sebab dan akibat, misalnya: perbuatan yang bermaksud bermanfaat (membahagiakan, baik) dan yang bermaksud merugikan (buruk) terhadap pihak lain, menghasilkan pula akibat baik maupun buruk. Sebagaimana sifat air yang selalu mengalir untuk mencapai persamaan tingginya, begitu pula kamma bersifat untuk selalu mendapatkan keseimbangannya, selalu menghasilkan buah-buah yang sewaktu-waktu menyenangkan dan sewaktu-waktu tidak, bukan sebagai hukuman atau hadiah terhadap si pembuat perbuatan, tetapi memang sudah menjadi sifat wataknya atau rangkaian satu kejadian. Rangkaian dari kejadian sebab dan akibat ini sama seperti tertib jalannya (yang saling bergantungan) dari bulan dengan bintang-bintang.
  4. Dhamma Niyama
    Hukum tertib terjadinya persamaan dari satu gejala yang khas, misalnya: terjadinya keajaiban alam pada waktu seorang Bodhisattva hendak mengakhiri hidupnya sebagai seorang calon Buddha, pada saat Ia akan terlahir untuk menjadi Buddha.
    Hukum gaya berat (gravitasi) dan hukum alam sejenis lainnya, sebab-sebab dari pada keselarasan dan sebagainya, termasuk hukum ini.
  5. Citta Niyama
    Hukum tertib jalannya alam pikiran atau hukum alam batiniah, misalnya: proses kesadaran, timbul dan tenggelamnya (lenyapnya) kesadaran, sifat-sifat kesadaran, kekuatan pikiran (batin) dan sebagainya.
    Telepati, kemampuan untuk mengingat hal-hal yang telah lampau, kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang akan terjadi dalam jangka pendek atau jauh, kemampuan membaca pikiran orang lain, dan semua gejala batiniah yang kini masih belum terpecahkan oleh ilmu pengetahuan modern termasuk hukum terakhir ini (Abhidhamma Vatara, hal. 54)

Demikianlah kelima hukum tersebut meliputi semua gejala lahir maupun batin di seluruh alam semesta ini. Mereka merupakan hukum yang masing-masing memiliki sifat sendiri dan tidak di atur oleh siapa pun juga.

Hukum Kamma

Sekarang marilah kita tinjau hukum Kamma yang dapat dibagi dalam empat golongan besar, yaitu :

  1. Menurut Jangka Waktu
    Golongan Kamma ini dapat dibagi lagi dalam empat jenis:

    1. yang “masak” dalam jangka waktu satu kehidupan (ditthadhamma-vedaniya-kamma).
    2. yang “masak” dalam jangka waktu kehidupan berikutnya (upajja-vedaniya-kamma).
    3. yang “masak” dalam beberapa kehidupan berturut-turut (aparapariya-vedaniya-kamma).
    4. yang tidak menimbulkan akibat sama sekali (ineffective kamma atau Ahosi Kamma).

    Ketiga jenis a, b, dan c ialah Kamma yang mengandung kemampuan untuk berbuah, berakibat, seperti halnya satu benih yang mengandung kemampuan untuk menimbulkan tunas. Akan tetapi, supaya tunas itu dapat tumbuh, maka beberapa syarat diperlukan yang dapat membantu pertumbuhan tersebut, misalnya: tanah, air, dsb. Begitu pula untuk Kamma yang dapat menimbulkan satu akibat, beberapa syarat yang membantu pertumbuhan tersebut juga diperlukan, misalnya: keadaan, tempat yang cocok untuk pertumbuhan, dsb. Jika syarat maupun keadaan untuk pertumbuhan Kamma (seperti halnya dalam jenis d) tidak dapat dipenuhi, maka Kamma itu tidak dapat berbuah dan terjadilah apa yang disebut “Ahosi Kamma”.

  2. Menurut Sifat Bekerjanya
    Golongan ini pun dapat dibagi dalam empat jenis :

    1. Janaka Kamma
      adalah hukum yang menyebabkan timbulnya syarat untuk terlahirnya kembali suatu makhluk.
    2. Upatthambaka Kamma
      adalah hukum, kekuatan yang mendorong terpeliharanya satu akibat daripada sebab (kamma) yang telah timbul.
    3. Upapilaka Kamma
      adalah satu hukum, kekuatan yang menekan, pula mengolah, menyelaraskan satu akibat daripada satu sebab.
    4. Upaghataka Kamma
      adalah kamma yang meniadakan kekuatan dan akibat dari satu sebab (kamma) yang telah terjadi dan sebaliknya menyuburkan berkembangnya kamma baru.
  3. Menurut Sifat Dari Akibatnya
    Golongan ini kembali dapat dibagi dalam empat jenis:

    1. Garuka Kamma
      ialah kamma yang digolongkan dalam jenis yang bermutu dan “berat”. Akibatnya dapat timbul dalam waktu satu kehidupan atau kehidupan berikutnya. Tingkatan-tingkatan dalam Samadhi yang disebut Dhyana termasuk jenis ini dan akibatnya pun sangat bermutu dan lebih cepat timbulnya daripada tingkatan batin lainnya.
      Sebaliknya, termasuk pula dalam jenis ini, lima perbuatan durhaka yang akibatnya sangat berat, yaitu:

      1. membunuh ibu
      2. membunuh ayah
      3. membunuh seorang Arahat
      4. melukai seorang Buddha
      5. menyebabkan perpecah dalam Sangha
        anantarika kamma = kamma yang menyebabkan penitisan di alam neraka.
    2. Asañña Kamma
      ialah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang sebelum saat ajalnya (kematiannya) dengan lahir dan batin. Dengan batin misalnya: memikirkan, merasakan, mengingat-ingat semua perbuatan baik atau buruk yang telah lampau, atau memikirkan kebaikan atau kejahatan terhadap makhluk lain. Kamma inilah yang akan menentukan keadaan kelahiran seseorang yang akan datang, jika tidak ada Kamma yang lebih berat lagi yang merupakan syarat-syarat yang menentukan.
    3. Acinna Kamma atau Bahula Kamma
      Bila seseorang sebelum saat ajalnya tidak berbuat sesuatu, dan dengan demikian tidak terdapat Asañña Kamma, maka yang menentukan keadaan kelahiran yang berikutnya ialah Kamma kebiasaan atau Acinna Kamma, ialah perbuatan-perbuatan yang merupakah kebiasaan bagi seseorang karena seringnya dilakukan sehingga seolah-olah merupakan watak baru.
    4. Kattata Kamma
      Sebagai syarat yang merupakan penentuan kelahiran bagi seseorang, bilamana Acinna Kamma tidak terdapat padanya, maka Kattata Kamma inilah yang menentukan, yaitu Kamma yang tidak begitu berat dirasakan akibatnya dari perbuatan-perbuatan yang lampau.
  4. Menurut tempat dan keadaan di mana Kamma akan berbuah (berakibat)
    Golongan ini pun dibagi dalam empat jenis:

    1. Kamma Jahat (tidak bermoral)
      yang berbuah di alam yang berisi penuh dengan penderitaan dan yang sangat menyedihkan.
      Perbuatan-perbuatan jahat ini berakar pada :

      1. Lobha,
        yaitu terlalu terikat keinginannya pada sesuatu, sehingga menimbulkan keserakahan.
      2. Dosa
        yaitu ketidaksukaan atau penolakan yang sangat terhadap sesuatu, sehingga menimbulkan kebencian.
      3. Moha
        kebodohan, kegelapan, pandangan sesat dari seseorang terhadap hidup dan kehidupan.

      Kamma jahat ini terdiri atas sepuluh jenis :

      1. dilakukan dengan badan jasmani :
        1. pembunuhan
        2. pencurian
        3. perzinahan
      2. dilakukan dengan kata-kata :
        1. berdusta
        2. berbicara kasar dan menghina
        3. berbicara tentang keburukan orang lain
        4. berbicara mengenai hal-hal yang tidak perlu (omong kosong)
      3. dilakukan dengan pikiran :
        1. keserakahan
        2. kemauan jahat
        3. kekeliruan pandangan hidup.

    Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk terlaksananya kamma jahat tersebut di atas adalah sbb.:

    1. Pembunuhan
      Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb.:

      1. adanya satu makhluk
      2. kesadaran akan adanya makhluk
      3. niat untuk membunuh
      4. langkah-langkah perbuatan
      5. kematian sebagai akibatnya.

      Akibat buruk dari pembunuhan adalah sbb.:

      1. pendek umur
      2. penuh penyakit
      3. senantiasa dalam kesedihan karena terpisah dari keadaan atau orang yang dicintai
      4. senantiasa hidup dalam ketakutan.
    2. Pencurian
      Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb.:

      1. milik orang lain
      2. kesadaran, pengertian akan keadaan ini
      3. niat untuk mencuri
      4. langkah-langkah perbuatan
      5. peralihan benda yang dicuri sebagai akibatnya.

      Akibat buruk dari pencurian adalah sbb.:

      1. miskin
      2. dinista dap dihina
      3. dirangsang oleh keinginan-keinginan yang senantiasa tak tercapai
      4. hidup senantiasa dengan ketergantungan kepada orang lain.
    3. Perzinaan
      Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb.:

      1. berniat untuk mengalami sensasi obyek/sasaran yang terlarang dan bukan haknya.
      2. berusaha
      3. memiliki sasaran yang dimaksud

      Akibat buruk dari perzinahan adalah sbb.:

      1. mempunyai banyak musuh
      2. beristri dan bersuami yang tidak disenangi
      3. terlahir sebagai wanita atau pria dengan perasaan seks yang tidak normal
    4. Berdusta
      Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb.:

      1. kedustaan
      2. niat untuk berdusta
      3. usaha
      4. penyampaiannya kepada orang lain

      Akibat buruknya adalah sbb.:

      1. menjadi sasaran dan penderitaan akibat pembicaraannya yang tidak baik
      2. menjadi sasaran penghinaan
      3. tidak dipercaya oleh khalayak ramai
    5. Berbicara kasar dan menghina
      Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb.:

      1. sasaran atau orang untuk dihina/disakiti
      2. pikiran yang penuh amarah
      3. penggunaan kata-kata yang menyakiti

      Akibat buruknya adalah sbb.:

      1. sering didakwa yang bukan-bukan oleh orang lain, sekalipun belum tentu bersalah
      2. menerima suara-suara yang tidak enak didengar
    6. Berbicara tentang keburukan orang lain
      Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb:

      1. pembedaan terhadap orang
      2. niat untuk memisahkan mereka
      3. usaha
      4. tindakan

      Akibat buruknya adalah :
      kehilangan sahabat-sahabat tanpa sebab yang berarti.

    7. Berbicara mengenai hal-hal yang tidak perlu (omong kosong)
      Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb.:

      1. adanya niat untuk omong kosong
      2. pelaksanaan niat tersebut

      Akibat buruknya adalah sbb.:

      1. menderita penyakit karena kerja yang tidak baik dari bagian-bagian badan jasmani
      2. tidak dipercaya oleh orang lain dalam pembicaraan.
    8. Keserakahan
      Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb.:

      1. milik orang lain
      2. keinginan kuat untuk memiliki dengan seolah-olah berkata dalam hati : aku ingin sekali memiliki barang itu.

      Akibat buruknya adalah : tidak tercapainya keinginan yang sangat diharapkan

    9. Kemauan jahat
      Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb.:

      1. sasaran berupa makhluk lain
      2. niat untuk menyakiti atau merugikan

      Akibatnya adalah sbb.:

      1. rupa buruk
      2. macam-macam penyakit
      3. watak yang tercela
    10. Kekeliruan pandangan hidup
      Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb.:

      1. pamandangan yang terputar balik tentang satu benda atau keadaan, dengan akibat
      2. salah pengertian tentang keadaan yang sebenarnya

      Akibat buruknya adalah sbb.:

      1. terlalu berkecenderungan
      2. terikat kepada benda atau keadaan
      3. kurang kebijaksanaan
      4. kurang kecerdasan
      5. mengidap penyakit menahun
      6. memiliki pendapat-pendapat yang tercela
    1. Kamma baik yang berakibat hanya sampai di kehidupan di alam dunia ini yang penuh dengan keinginan.
      Terdapat sepuluh jenis kamma baik, yaitu :

      1. Dana – beramal dan bermurah hati
      2. Sila – hidup bersusila
      3. Bhavana – bermeditasi
      4. Apacayana – berendah hati dan hormat
      5. Veyyavacca – berbakti
      6. Pattidana – berkecenderungan untuk membagi kebahagiaannya kepada orang lain
      7. Pattanumodana – bersimpati terhadap kebahagiaan orang lain
      8. Dhammasavana – mempelajari dan sering mendengarkan Dhamma
      9. Dhammadesana – menyebar dan menerangkan Dhamma
      10. Ditthijukamma – berpandangan hidup yang benar

      Adapun akibat-akibatnya adalah sbb.:

      1. Beramal dan bermurah hati berakibat dengan diperolehnya kekayaan dalam kehidupan ini atau dalam kehidupan yang akan datang
      2. Hidup bersusila mengakibatkan terlahir dalam keluarga luhur yang keadaannya bahagia
      3. Bermeditasi berakibat penitisan dalam alam-alam sorga.
      4. Berendah hati dan hormat menyebabkan kelahiran dalam keluarga luhur.
      5. Berbakti mengakibatkan seseorang memperoleh penghargaan dari masyarakat .
      6. Berkecenderungan untuk membagi kebahagiaannya kepada orang lain menyebabkan pemberi itu terlahir dalam keadaan tidak berkekurangan, bahkan berlebih-lebihan dalam berbagai hal.
      7. Bersimpati terhadap kebahagiaan orang lain menyebabkan terlahir dalam lingkungan yang menggembirakan.
      8. Mempelajari dan sering mendengarkan Dhamma berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan.
      9. Menyebar dan menerangkan Dhamma berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan.
      10. Meluruskan pandangan orang lain berbuah dengan diperkuatnya keyakinan
    2. Kamma baik yang berakibat kehidupan di alam halus, di mana masih terdapat bentuk-bentuk.
      Kamma baik ini terdiri atas lima tingkat yang semata-mata bersifat mental dan hanya dapat dicapai melalui latihan-latihan meditasi, yaitu:

      1. Dhyana (Jhana) pertama
        Keadaan batin ini terdiri dari lima tahap, yaitu :

        1. vitakka – usaha dalam tingkat permulaan untuk memegang obyek
        2. vicara – pikiran yang berhasil memegang obyek dengan kuat
        3. piti – kegiuran atau kenikmatan karena telah terbebas dari tekanan perasaan
        4. sukha – kebahagiaan yang tidak terhingga
        5. ekaggata – pemusatan pikiran yang kuat
      2. Dhyana kedua
        yang bercorak :
        a. vicara, b. piti, c. sukha, d. ekaggata
      3. Dhyana ketiga
        Yang bercorak :
        a. piti, b. sukha, c. ekaggata
      4. Dhyana keempat
        yang bercorak
        a. sukha, b. ekaggata
      5. Dhyana kelima:
        yang bercorak

        1. ekaggata, ditambah dengan
        2. keseimbangan batin
    3. Kamma baik yang berakibat kehidupan di alam halus, di mana tidak lagi terdapat bentuk-bentuk
      Kamma baik ini terdiri dari empat tingkat yang semata-mata bersifat mental dan hanya dapat dicapai melalui latihan-latihan meditasi tinggi yaitu :

      1. Akasanancayatana, batin berada dalam ruang yang tak terbatas
      2. Viññancayatana, batin yang berada dalam alam kesadaran yang tak terbatas
      3. Akincannayatana, batin yang berada dalam keadaan kosong
      4. Neva-sañña-nasaññayatana, batin yang berada dalam keadaan bukan-pencerapan pun bukan bukan-pencerapan.

Dengan ini selesailah pembahasan kita mengenai empat bagian besar dari Kamma.

Kebebasan Kehendak

Jika kita memperhatikan benar-benar hukum Kamma yang diuraikan di atas, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Kamma itu bukanlah satu penentuan nasib yang tidak dapat diubah sama sekali.

Begitu pula manusia tidaklah senantiasa mesti memetik buah perbuatannya setimpal dengan apa yang diperbuatnya semula, dan tidak semua kamma harus pasti berubah dalam ukuran yang sama dan tidak berubah, seimbang dengan perbuatannya yang pertama, sekalipun memang ada beberapa jenis perbuatan yang demikian itu.

Jikalau misalnya seseorang melepaskan peluru dari sebuah bedil, peluru demikian memang tidak dapat ditarik kembali lagi atau amatlah sukar untuk membelokkan arah perjalanannya. Akan tetapi, bilamana misalnya bukan peluru besi yang dipakai, tetapi sebuah bola gading (dalam permainan bola sodok) yang kita gerakkan di atas kain laken hijau dengan sebuah “queu” (tangkai sodok) maka kita dapat menyusulkan dengan bola lainnya ke arah bola yang pertama, sehingga bola lainnya itu dapat mengubah arah gerakan bola pertama itu. Bahkan, gerakan bola lain dari arah yang berlawanan kadang-kadang dapat menghentikan gerakan bola pertama itu. Demikianlah pula bekerjanya hukum Kamma dalam penghidupan seorang manusia pada umumnya. Sekarang kita dapat lihat dengan jelas bahwa perbuatan seorang pada saat tertentu dapat pula mempengaruhi, meringankan akibat daripada perbuatannya yang telah lalu. Sebab, andaikata tidak demikian halnya, maka mustahillah orang dapat terlepas sama sekali dari akibat Kamma untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, manusia masih memiliki kebebasan kehendak, sekalipun sedikit banyak hal ini sangat dipengaruhi oleh berat atau ringannya buah-buah Kamma yang harus diterima.

Memang, tiap saat manusia itu pada hakekatnya senantiasa diberi kesempatan untuk mengatur dan memperbaiki hidupnya. Bahkan, orang yang telah rusak moralnya pun, kalau ia dengan tekad yang teguh dan kuat berusaha untuk memperbaiki dirinya sendiri, mungkin ia dapat mengubah dirinya menjadi seorang suci. Tiap detik, tiap saat, manusia mempunyai kesempatan untuk menjadi jahat atau menjadi baik.

Akan tetapi, karena segala sesuatu di alam semesta ini, termasuk juga manusia, terjadi karena adanya syarat-syarat atau sebab-sebab tertentu dan tiada sesuatu pun dapat terjadi tanpa hal-hal di atas, maka kehendak manusia pun pada umumnya tidak sama sekali bebas dari buah-buah Kamma yang kuat yang sering seolah-olah menentukan kehendak manusia.

Sesuai dengan falsafah Buddhis, segala sesuatu timbul, bergerak dan lenyap sesuai dengan hukum-hukum yang bersangkutan dan karena syarat-syarat dan sebab-sebab tertentu

Kalau tidak demikian halnya, alangkah kacaunya keadaan alam ini, apalagi kalau segala, sesuatu itu bergerak atau terjadi berdasarkan untung-untungan saja. Nasib atau keadaan berdasarkan untung-untungan memanglah tidak mungkin, atau perhitungan-perhitungan, dan dalil-dalil yang digunakan dalam ilmu pengetahuan sama sekali tidak akan berguna lagi.

Sifat sesungguhnya dari Kamma adalah batiniah. Bilamana satu bentuk pikiran timbul dalam batin manusia dan bentuk pikiran itu sering diulang-ulang dalam pikiran, akan terdapat satu kecenderungan untuk mengulangi lagi timbulnya bentuk pikiran itu; begitu pula bilamana satu perbuatan sering diulang, akan terdapat satu kecenderungan yang kuat untuk lagi-lagi melakukan perbuatan yang demikian itu.

Dengan demikian, tiap perbuatan, fisik maupun batin, mengakibatkan hasil-hasil yang serupa dengan jenis perbuatan semula dan membentuk sifat-sifat yang serupa dengan perbuatan itu. Jikalau orang berpikir baik, berkata-kata baik, berbuat baik, maka besar kecenderungan manusia itu akan menambah perbuatannya yang baik itu dan membuat ia menjadi orang baik.

Sebaliknya, jika orang senantiasa berpikir jahat, berkata jahat dan berbuat jahat, lahir maupun batin, ia akan memperkuat kecenderungan jahat yang ada dalam dirinya dan membuat ia menjadi orang jahat. Sekali saja orang yang demikian itu jatuh dalam lembah kejahatan, maka dia akan menurun mencari jenis persamaan sifat dan mencari kawan orang-orang jahat; mengalami segala akibat daripada ketegangan, penderitaan golongan masyarakat itu.

Sebaliknya, sekali orang memupuk sifat-sifat baik dalam dirinya, sifat-sifat itu akan bertambah kuat, senantiasa mencari jenis persaman sifat dan berkumpul dengan orang-orang yang baik, mengalami segala kebahagiaan, ketentraman dalam golongan masyarakat demikian itu. Bahkan pada orang yang telah teguh dan sudah kuat sifat-sifat kebaikannya, perbuatan yang misalnya berupa kekeliruan (kamma kurang baik) tidak akan berakibat begitu mencelakakan seperti halnya jika kesalahan tadi dilakukan oleh orang yang jahat dan lemah batinnya.

Sang Buddha pada suatu waktu pernah bersabda (Anguttara Nikaya I, hal. 249) sbb.: “Begitulah, O bhikkhu, seorang yang tidak dapat menguasai lahir dan batinnya, tidak menguasai keinginan-keinginannya, akan sedikit sekali memiliki sifat kebaikan dan kebijaksanaan dan lemah dalam tekadnya. Orang demikian akan menderita disebabkan oleh hal-hal yang kecil (sepele).

Perbuatan sepele (kecil) yang tidak baik sudah cukup untuk menyebabkan orang demikian jatuh dalam penderitaan yang hebat. Begitulah, O bhikkhu, seorang yang dapat menguasai jasmani dan batinnya, teguh mengendalikan keinginan-keinginannya, akan memiliki kebaikan-kebaikan dan kebijaksanaan yang tidak terbatas.

Orang demikian tidak akan mudah terpengaruh oleh akibat-akibat perbuatan sepele yang kurang baik. Kesalahan kecil, bahkan kekeliruan besar pun yang dilakukan oleh orang ini, akan berakibat dalam satu kehidupan dan akan sedikit sekali mengganggu kebahagiaannya.

Demikianlah, O bhikkhu, Aku memberi perumpamaan dengan orang yang memasukkan segumpal garam ke dalam cawan yang berisi air. Bagaimanakah pendapatmu, O bhikkhu. Akan terasa asinkah air yang sedikit yang ada dalam cawan tadi, sehingga tak dapat diminum?”

“Memang demikianlah halnya, Bhante! Oleh karena air dalam cawan hanya sedikit maka akan menjadi asin dan tak terminum!”

“Andaikata, O bhikkhu, orang melemparkan segumpal garam ke dalam sungai Gangga; bagaimana pendapatmu, akan terasa asinkah air Sungai Gangga itu sehingga tak terminum?”

“O tidak, Yang Maha Suci! Oleh karena air Sungai Gangga demikian luas dan banyaknya, maka air sungai itu tak akan terasa asin karena hanya segumpal garam.”

“Demikianlah pula, O bhikkhu! Perbuatan kecil yang keliru akan mengakibatkan penderitaan hebat pada orang tertentu, sedangkan perbuatan, kekeliruan kecil yang sama akan berakibat sedikit sekali pada orang lain, akan dapat tertebus dalam satu kehidupan dan akan sedikit sekali mengganggu kebahagiaannya. Kita tahu, O bhikkhu, bahwa ada orang yang merasa tersiksa karena kehilangan satu rupiah, sepuluh rupiah, seratus rupiah, seribu rupiah. Siapakah orang yang merasa tersiksa itu? Bilamana orang dalam keadaan miskin (lahir dan batin), kebutuhan-kebutuhannya tak terpenuhi, senantiasa dirundung oleh keinginan-keinginannya, maka orang ini akan merasa tersiksa karena kehilangan satu rupiah, sepuluh rupiah, seratus rupiah, seribu rupiah.”

“Siapakah, O bhikkhu, yang tidak merasa tersiksa karena kehilangan satu rupiah, sepuluh rupiah, seratus rupiah, seribu rupiah? Bilamana orang dalam keadaan kaya-raya (lahir maupun batin), cukup dan tak diperbudak oleh kebutuhan-kebutuhannya, berkuasa, maka orang demikian inilah, O bhikkhu, yang tidak akan merasa tersiksa karena kehilangan satu rupiah, sepuluh rupiah, seratus rupiah, seribu rupiah.

Demikianlah, O bhikkhu, satu contoh bahwa perbuatan, kekeliruan kecil yang dilakukan oleh satu orang dapat mengakibatkan penderitaan hebat kepadanya; sedangkan perbuatan, kekeliruan kecil yang sama hanya berakibat sedikit sekali, dapat ditebus dalam satu kehidupan dan sedikit sekali mengganggu kebahagiaan orang yang lain.”

Pelajaran yang diperoleh dari hukum Kamma

Kalau kita hidup dalam penerangan hukum Kamma ini, maka kita dapat memetik pelajaran yang indah dan bermanfaat, a.l.:

  1. Kesabaran
    Mengerti bahwa hukum ini adalah pelindung kita, bila kita hidup selaras dengan hukum tersebut, bahwa tidak ada sesuatu yang dapat menimpa, merugikan atau mencelakakan kita, bila kita hidup selaras dengan hukum itu; bahwa ia akan memberi berkah dan kebahagiaan pada waktu yang tepat, maka kita dapat belajar sabar, tidak lekas marah dan kita tahu bahwa tidak ada gunanya untuk berlaku kurang sabar, terburu nafsu atau gelisah.
    Di dalam penderitaan kita mengetahui bahwa kita sedang menebus “hutang”. Di dalam kebahagiaan kita berterima kasih atas kenikmatannya dan kita belajar, bila kita bijaksana, untuk senantiasa menambah perbuatan-perbuatan baik. Kesabaran membawa ketenangan, kebahagiaan, dan keamanan.
  2. Keyakinan
    Hukum Kamma adalah adil, bagus dan benar, tidak meragukan bagi orang yang bijaksana dan mengerti. Ragu-ragu dan kegelisahan adalah tanda bahwa terdapat kurang pengertian dan keyakinan akan kebenaran hukum ini. Kita akan aman terlindung di bawah sayap-sayapnya dan tidak ada sesuatu di alam semesta ini yang perlu kita takuti, kecuali perbuatan kita sendiri yang tidak baik. Hukum Kamma membuat orang berdiri di atas kakinya sendiri dan meneguhkan keyakinannya akan kemampuan diri sendiri.
    Keyakinan ini berakibat menguatkan, memperdalam ketenangan dan kebahagiaan kita, membuat kita tentram dan berani ke mana pun juga kita pergi, karena kita tahu bahwa hukum Kamma adalah pelindung kita.
  3. Kepercayaan pada diri sendiri
    Jikalau dalam waktu yang lampau kita telah membuat diri kita yang sekarang ini, maka apa yang kita perbuat sekarang ini menentukan keadaan kita pada waktu yang akan datang.
    Pengertian tentang hal ini dan bahwa kebahagiaan dalam waktu yang akan datang adalah tidak terbatas mempertebal kepercayaan pada diri kita sendiri dan kita tidak lagi akan menggantungkan nasib kita pada pertolongan dari luar, yang pada hakekatnya memang bukan pertolongan. Kesucian maupun kekotoran sebenarnya terletak pada kemampuan kita sendiri. Sang Buddha pernah bersabda: “Tiada seorang pun dapat membersihkan diri orang lain.”
  4. Pengendalian diri
    Pengertian bahwa perbuatan jahat akan kembali menimpa kita sebagai malapetaka menyebabkan kita akan sangat berhati-hati sekali dalam perbuatan, ucapan dan pikiran kita, supaya kita tidak berbuat sesuatu yang merugikan pihak lain. Keyakinan tentang hukum Kamma akan membuat kita mampu mengendalikan diri kita sendiri, terutama dalam niat untuk tidak berbuat jahat, demi kepentingan diri kita sendiri maupun makhluk lain.
  5. Kemampuan
    Kalau kehidupan kita sehari-hari sudah diselaraskan dengan hukum Kamma, maka kita akan memperoleh kemampuan untuk tidak hanya dapat menentukan nasib kita sendiri di kemudian hari, tetapi juga untuk menolong makhluk-makhluk lain dengan lebih bermanfaat.

Pelaksanaan kamma baik sekali berkembang akan menghilangkan rintangan-rintangan dan kejahatan-kejahatan untuk kemudian menghancurkan belenggu-belenggu yang menghalang-halangi kita untuk dapat menyelami Kesunyataan Mutlak, Nibbana.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s