GODHA-JĀTAKA   Leave a comment

GODHA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

[487] “Teman yang jahat,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana mengenai seorang bhikkhu yang berkhianat. Cerita pembukanya sama dengan apa yang diceritakan dalam Mahilā-Mukha-Jātaka221.

___________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai seekor kadal. Setelah dewasa, ia menetap di sebuah lubang besar di tepi sungai dengan para pengikutnya, berupa ratusan ekor kadal lainnya.

Bodhisatta mempunyai seorang anak, seekor kadal muda, yang berteman baik dengan seekor bunglon; mereka selalu bermain bersama dan saling merangkul. Kedekatan ini dilaporkan kepada sang raja kadal, ia meminta anaknya menghadap dan mengatakan persahabatan seperti itu adalah salah, karena bangsa bunglon adalah makhluk yang akhlaknya rendah, jika kedekatan seperti itu terus berlangsung, malapetaka akan menimpa seluruh kadal. Ia memerintahkan putranya untuk tidak berhubungan lagi dengan bunglon tersebut. Namun anaknya tetap melanjutkan kedekatan itu.

Lagi dan lagi Bodhisatta berbicara dengan putranya, melihat kata-katanya tidak bermanfaat dan meramalkan bahaya yang akan dialami oleh para kadal karena bunglon itu, ia menggali sebuah jalan keluar di salah satu sisi lubang mereka, sehingga ada satu jalan untuk melarikan diri pada saat dibutuhkan.

Waktu terus berlalu, kadal muda itu tumbuh besar sementara bunglon itu tidak bertambah besar lagi. Dan rangkulan yang erat dari kadal itu malah menimbulkan rasa sakit, sehingga bunglon itu meramalkan kematian akan menimpanya jika mereka tetap bersama beberapa hari lagi, maka ia memutuskan untuk bekerja sama dengan seorang pemburu untuk menghancurkan seluruh kadal tersebut.

Suatu hari di musim panas, semut-semut keluar dari sarang mereka setelah hujan badai reda, dan [488] kadal-kadal itu berlari dengan cepat kesana kemari untuk menangkap dan memangsa mereka. Pada masa itu datanglah seorang penangkap kadal ke dalam hutan dengan membawa sekop dan anjing-anjing untuk menggali keluar kadal-kadal itu; bunglon itu memikirkan tentang hasil tangkapan yang bisa diberikannya kepada penangkap itu. Ia menemui orang itu, dan, berdiri di hadapannya, bertanya mengapa ia berada di hutan. “Untuk menangkap kadal,” jawabnya. “Baiklah, saya mengetahui sebuah lubang, tempat tinggalnya ratusan ekor kadal,” kata bunglon itu; “bawa api dan ranting kayu, dan ikutilah saya.”

Ia membawa orang itu ke tempat tinggal para kadal. “Sekarang,” kata bunglon itu, “tempatkan kayu bakarmu di sini dan asapi hingga kadal-kadal itu keluar dari sarang mereka. Di saat yang sama, biarkan anjing-anjingmu untuk berjaga-jaga di sekitar tempat ini dan ambillah sebatang tongkat yang besar di tanganmu, kemudian saat kadal-kadal itu berhamburan keluar, jatuhkan mereka dan tumpukkan hasil buruanmu.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, bunglon pengkhianat itu mundur ke suatu tempat di dekat sana, dimana ia bertengger, dengan kepala tegak, berkata pada dirinya sendiri, — “Hari ini saya akan melihat musuh saya kalah habis-habisan.”

Penangkap itu mulai membuat asap agar kadal-kadal keluar; Kekhawatiran akan keselamatan diri membuat mereka berhamburan keluar dalam keadaan kacau balau dari sarang mereka. Begitu mereka keluar, penangkap itu menghantam kepala mereka, dan jika ia melewatkan mereka, mereka akan menjadi mangsa anjing-anjingnya. Maka terjadilah pembunuhan besar-besaran terhadap para kadal.

Menyadari ini adalah ulah bonglon itu, Bodhisatta berseru, “Seseorang tidak boleh berteman dengan mereka yang jahat, karena persahabatan seperti itu hanya akan membawa penderitaan bagi kelompok mereka. Seekor bunglon yang jahat telah membawa kutukan bagi seluruh kadal.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia melarikan diri melalui jalan keluar yang telah dipersiapkannya, mengucapkan syair berikut ini : —

Teman yang jahat tidak pernah membawa akhir yang baik;
hanya melalui persahabatan dengan seekor bunglon saja,
seluruh kawanan kadal menemui ajal mereka.

____________________

[489] Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Devadatta adalah bunglon di masa itu; bhikkhu yang berkhianat ini adalah kadal muda yang tidak patuh, putra dari Bodhisatta, dan Saya sendiri adalah raja kadal.”

Posted 30/01/2011 by chandra2002id in Naskah Dharma

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s