ANATTA (DOKTRIN TANPA-AKU)   Leave a comment

DHAMMA-SARI

Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma
Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda
Cetakan Kesembilan, 1994

 

 

BAB VII
ANATTA
(DOKTRIN TANPA-AKU)

Yang dianggap oleh umum sebagai Aku, Ego, Roh atau Atma ialah adanya satu inti-yang kekal, tetap dan absolut yang merupakan substansi yang tak berubah-ubah di belakang “dunia yang terlihat ini” yang senantiasa dalam keadaan bergerak dan berubah. Menurut ajaran beberapa agama, setiap orang mempunyai Roh demikian yang diciptakan oleh Tuhan dan yang sesudah mati tetap hidup abadi, dalam sorga atau dalam neraka, dan tujuannya yang terakhir ditentukan oleh Sang Pencipta itu sendiri.

Menurut pendapat lain, ia berjalan melalui banyak kehidupan sampai menjadi bersih betul dah akhirnya bergabung kembali dengan Tuhan atau Brahma, Roh Yang Universal atau Atma, tempat asal ia diciptakan. Roh di dalam orang inilah yang menjadi pemikir dari pikiran, yang merasa melalui perasaan, yang menerima pahala atau hukuman untuk semua perbuatan-perbuatannya, yang baik maupun yang buruk. Konsepsi ini dinamakan ide tentang adanya Aku atau Roh yang kekal abadi.

Dalam sejarah umat manusia, agama Buddha merupakan satu-satunya agama yang menyangkal adanya Roh, Aku atau Atma yang kekal abadi. Menurut agama Buddha, ide tentang adanya satu Roh yang kekal abadi adalah khayalan belaka dan kepercayaan salah yang tidak mempunyai dasar kebenaran. Ia menciptakan pikiran yang sangat merugikan, yaitu tentang adanya Aku dan “Milikku”, keinginan yang mementingkan diri sendiri, kebencian, pikiran-pikiran yang tidak baik, kesombongan, keangkuhan serta noda dan kekotoran batin lainnya. Ia merupakan sumber dari semua perselisihan dalam dunia, dari bentrokan-bentrokan pribadi sampai kepada peperangan antar negara. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa semua kejahatan dapat dicari sumbernya pada pandangan yang salah ini.

Secara “psychologic” dua rupa pandangan berakar kuat dalam diri tiap manusia:

  1. pandangan tentang perlindungan diri (self-protection)
  2. pandangan tentang kelangsungan diri (self-preservation)

Untuk melindungi dirinya, manusia lalu menciptakan kekuatan luar; kepadanya ia bergantung untuk mencari perlindungan, keselamatan dan keamanan, seperti seorang anak kecil bergantung dan mencari perlindungan kepada orang tuanya.

Untuk kelangsungan diri, manusia menggambarkan dalam pikirannya satu ide tentang adanya Roh atau Atma yang dapat hidup kekal abadi. Manusia memerlukan dua hal tersebut di atas untuk menghibur dirinya dan seterusnya ia melekat erat-erat dan fanatik kepadanya.

Agama Buddha tidak menyokong kedua pandangan tersebut dan bertujuan untuk menolong manusia mencapai Kesadaran Agung dengan menyingkirkan dan menghancurkan sampai keakar-akarnya pandangan salah tersebut.

Sang Buddha menginsafi benar-benar hal ini dan berkata bahwa Ajaran Beliau melawan arus (patisotagami) dan bertentangan dengan keinginan yang mementingkan diri sendiri dari seorang manusia.

Hanya empat minggu setelah Beliau memperoleh Kesadaran Agung, ketika duduk di bawah pohon yang rindang, Beliau berpikir sbb.: “Aku telah menyelami Kesunyataan yang dalam sekali, sulit untuk dilihat, sulit untuk dimengerti … yang hanya dapat diselami oleh para bijaksana …
Orang yang masih dipengaruhi oleh hawa nafsu dan diselubungi kegelapan batin tidak mungkin dapat melihat Kesunyataan ini yang bertentangan sekali dengan pendapat orang banyak. Kesunyataan itu luhur sekali, dalam, halus dan sulit untuk dimengerti.”

Dengan adanya pikiran ini, Sang Buddha ragu-ragu sesaat bahwa mungkin percuma saja untuk menyiarkan Kesunyataan, yang baru saja diselami ini, kepada khalayak ramai. Sesudah itu, Beliau membandingkan dunia ini dengan sebuah kolam bunga teratai. Dalam kolam seperti itu ada bunga yang masih berada di permukaan air, ada bunga yang sudah mencapai permukaan air dan ada pula yang sudah berada di atas air dan sama sekali tidak tersentuh air.

Begitu pula keadaan dalam dunia ini, tempat hidup orang dengan beraneka ragam tingkatan dan pengetahuan. Beberapa di antara mereka dapat mengerti akan Kesunyataan itu. Oleh sebab itu, Sang Buddha lalu mengambil keputusan untuk menyiarkan ajaran-Nya kepada dunia.

Doktrin Anatta adalah akibat yang wajar atau kesimpulan yang dapat ditarik dari analisa Lima Kelompok Kegemaran dan doktrin tentang hukum Paticca-samuppada (Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan).

Ketika membahas Kesunyataan Mulia Pertama (Dukkha) kita telah melihat bahwa yang dinamakan manusia itu terdiri dari Lima Kelompok Kegemaran dan kalau kita menganalisa dan meneliti lebih jauh maka tidak terdapat sesuatu di belakang mereka yang dapat disebut sebagai Aku, Atma atau Diri atau suatu subtansi yang kekal abadi. Inilah pendekatan melalui cara analisa.

Hasil yang sama pula dapat dicapai melalui doktrin Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan yang merupakan pendekatan dengan cara sintese. Dengan cara inipun dapat kita mengambil kesimpulan bahwa tidak terdapat sesuatu di dunia ini yang mutlak (absolut). Semuanya saling menjadikan, relatif dan saling bergantungan. Inilah paham Buddhis tentang teori relativitas.

Sebelum kita membahas persoalan Anatta ini secara mendalam, berguna juga kiranya unutuk mendapat ide yang singkat tentang Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan itu. Prinsip hukum ini dapat diberikan dalam empat formula pendek yang berbunyi :

  1. Imasming Sati Idang Hoti
    Dengan adanya ini, maka terjadilah itu
  2. Imassuppada Idang Uppajjati
    Dengan timbulnya ini, maka timbullah itu.
  3. Imasming Asati Idang Na Hoti
    Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu
  4. Imassa Nirodha Idang Nirujjati
    Dengan terhentinya ini, maka terhentilah juga itu.

Berdasarkan prinsip dari saling menjadikan, relatifitas dan saling bergantungan ini, maka seluruh kelangsungan dan kelanjutan hidup dan juga berhentinya hidup dapat diterangkan dalam formula dari duabelas Nidana (sebab-musabab).

  1. Avijja Paccaya Sankhara
    Dengan adanya kebodohan (ketidak-tahuan), maka terjadilan bentuk-bentuk karma.
  2. Sankhara Paccaya Viññanang
    Dengan adanya bentuk-bentuk karma, maka terjadilah kesadaran.
  3. Viññana Paccaya Namarupang
    Dengan adanya kesadaran, maka terjadilah batin dan badan jasmani.
  4. Namarupang Paccaya Salayatanang
    Dengan adanya batin dan badan jasmani, maka terjadilah enam indria.
  5. Salayatana Paccaya Phasso
    Dengan adanya enam indria, maka terjadilah kesan-kesan.
  6. Phassa Paccaya Vedana
    Dengan adanya kesan-kesan, maka terjadilah perasaaan.
  7. Vedana Paccaya Tanha
    Dengan adanya perasaan, maka terjadilah tanha (keinginan).
  8. Tanha Paccaya Upadanang
    Dengan adanya tanha, maka terjadilah kemelekatan
  9. Upadana Paccaya Bhavo
    Dengan adanya kemelekatan, maka terjadilah proses tumimbal-lahir.
  10. Bhava Paccaya Jati
    Dengan adanya proses tumimbal-lahir, maka terjadilah kelahiran kembali.
  11. Jati Paccaya Jaramaranang
    Dengan adanya kelahiran-kembali, maka terjadilah kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit dll.
  12. Jara Marana
    Kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit dll. adalah akibat dari kelahiran-kembali.

Demikianlah kehidupan itu timbul, berlangsung dan bersambung terus. Kalau kita mengambil rumus tersebut dalam arti yang sebaliknya, kita akan sampai kepada penghentian dari proses itu. Dengan terhentinya kebodohan secara menyeluruh, maka terhenti pula bentuk-bentuk karma; dengan terhentinya bentuk-bentuk karma, maka terhentilah pula kesadaran; … dengan terhentinya kelahiran-kembali, maka terhenti pula kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit dll.

Harus dimengerti dengan jelas bahwa tiap-tiap Nidana di atas itu “terjadi oleh” (paticcasamupanna) dan juga berbarengan dengan itu “menjadikan” (paticcasamuppada). Oleh karena itu, mereka semua relatif, saling bergantungan dan saling mengikat dan tidak ada yang tunggal atau berdiri sendiri. Namun, seperti kita lihat di halaman bagian depan, agama Buddha tidak dapat menerima satu sebab yang pertama. Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan harus dilihat sebagai satu lingkaran dan bukan sebagai satu rantai.

Pertanyaan tentang “kemauan bebas” mendapat tempat yang penting sekali dalam cara berpikir dan filsafat Barat. Tetapi, menurut Hukum Paticca Samuppada, persoalan ini tidak mungkin timbul dalam filsafat Buddhis. Kalau seluruh hidup ini relatif, saling bergantungan dan saling mengisi, bagaimana mungkin “kemauan” itu sendiri bebas. Kemauan, seperti juga bentuk-bentuk pikiran lain saling bergantungan. Apa yang dinamakan “kebebasan” itu sendiri saling bergantungan dan relatif. Tidaklah terdapat sesuatu apa pun juga yang betul-betul bebas, fisik atau mental karena semuanya saling bergantungan dan relatif.

“Kemauan bebas” berarti satu kemauan yang bebas dari ketergantungan, bebas dari sebab dan akibat. Bagaimana mungkin satu kemauan atau apa pun juga dapat timbul tanpa ketergantungan, bebas dari sebab akibat, kalau seluruh hidup ini saling bergantungan dan relatif dan tidak lepas dari hukum sebab musabab?

Di sini sekali lagi kita lihat bahwa ide “kemauan bebas” pada dasarnya dihubungkan dengan ide Atta/Atma, Roh, keadilan, pahala dan hukuman. Bukan saja apa yang dinamakan “kemauan bebas” itu tidak bebas, tetapi ide itu sendiri pun tidak bebas dari ketergantungan. Menurut Hukum Paticca Samuppada dan juga menurut analisa tentang manusia sebagai Lima Kelompok Kegemaran, ide tentang satu inti yang kekal abadi di dalam manusia atau di luarnya, yang disebut Atma, Aku, Roh, Diri atau Ego dianggap hanya sebagai kepercayaan yang tidak masuk akal dan sebenarnya hanya merupakan proyeksi mental belaka. Inilah ajaran agama Buddha tentang Anatta, Tanpa Aku atau Tanpa Roh.

Untuk menghindari tafsiran yang membingungkan, maka di sini hendak ditekankan bahwa terdapat dua macam Kebenaran, yaitu :

  1. Kebenaran Konvensional (Sammuti Sacca; Skt. Samrvti Satya)
  2. Kebenaran Mutlak (Paramattha Sacca; Skt. Paramartha Satya).

Kalau kita memakai istilah dalam pembicaraan sehari-hari seperti Aku, Kamu, Makhluk atau Orang dll., kita tidak berdusta bahwa tidak ada pribadi atau makhluk seperti itu, tetapi kita bicara benar menurut kebiasaan umum di dunia ini. Tetapi, menurut Kebenaran Mutlak tidaklah ada “Aku” atau “Makhluk” dalam realitasnya.

Dalam Mahayana Sutralankara terdapat penjelasan sbb.: “Satu orang (Pudgala) dikatakan sebagai “ada” hanya sebagai sebutan belaka (Prajñapti – konvensional), tetapi bukan dalam keadaan yang sebenarnya (Dravya).” Mengesampingkan satu Atma yang tidak dapat mati adalah satu kebiasaan yang khas dari semua aliran Utara dan Selatan, dan karena itu tidak terdapat alasan untuk menarik kesimpulan bahwa tradisi agama Buddha yang seluruhnya mencapai persesuaian paham terhadap hal ini, menyimpang dari ajaran Sang Buddha yang asli.

Maka agak ganjil kalau pada waktu akhir-akhir ini oleh beberapa penulis telah dilakukan usaha yang tidak berhasil untuk, dengan segala daya upaya, mencoba menyelundupkan ide tentang “diri yang tetap” dalam ajaran Sang Buddha, yang bertentangan sekali dengan ajaran-Nya yang asli. Penulis-penulis ini menghormat dan memandang tinggi agama Buddha, tetapi mereka tidak dapat membayangkan bahwa Sang Buddha, yang mereka anggap sebagai akhli pikir yang paling tajam dan cerdas, dapat menolak adanya Atma yang kekal, sedangkan mereka sendiri justru sangat memerlukan hal ini. Secara tidak sadar, mereka mencari bantuan Sang Buddha untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri tentang adanya satu kehidupan yang kekal dan abadi.

Lebih terpuji apabila mereka terang-terangan mengatakan bahwa mereka sendiri percaya kepada satu Atma yang kekal abadi; atau mereka boleh juga secara terus terang mengatakan bahwa dalam hal ini Sang Buddha salah sama sekali. Tetapi, merupakan usaha yang tercela, apabila mereka secara licik ingin memperkenalkan dalam agama Buddha satu ide yang Sang Buddha dengan tegas menolaknya.

Agama yang percaya kepada Atma atau Roh tidak pernah merahasiakan ide tersebut dan dengan berbagai cara mereka usahakan agar istilah ini dapat diterima oleh masyarakat umum. Kalau sekiranya Sang Buddha menerima ide ini, yang sangat penting dalam agama lain, Beliau tentu secara terbuka akan mengakui hal tersebut seperti juga Beliau berbicara tentang persoalan lain. Rasanya tidak masuk akal bahwa Beliau menyembunyikan hal ini untuk dua puluh lima abad untuk kemudian ditemukan oleh orang lain.

Pada satu waktu orang menjadi gelisah jika berpikir bahwa kalau mereka menganut ajaran Sang Buddha, maka “Aku” yang mereka khayalkan berada dalam dirinya akan hilang, berhubung dengan doktrin Anatta yang diajar oleh Sang Buddha. Sang Buddha pun sepenuhnya menginsafi hal ini. Pernah seorang bhikkhu bertanya: “Bhante, pernahkah terjadi bahwa orang akan merasa tersiksa apabila ia tidak lagi menemukan sesuatu yang kekal di dalam dirinya?”

Sang Buddha menjawab: “Ya, bhikkhu, memang ada. Seseorang mempunyai pandangan seperti berikut: alam semesta ini Atma dan aku akan menjadi satu dengannya kalau aku meninggal dunia, kekal, abadi, tidak berubah dan aku akan hidup seperti itu untuk selama-lamanya. Ia kemudian mendengar Sang Tathagata atau seorang siswa-Nya mengkhotbahkan ajaran yang bertujuan untuk menghancurkan secara total semua pandangan yang diragu-ragukan itu dan bertujuan untuk memadamkan tanha, bertujuan untuk tidak melekat, terbebas dan Nibbana. Setelah mendengarkan khotbah, orang itu berpikir: aku akan dimusnahkan, aku akan dihancurkan, aku akan tidak ada lagi. Dengan demikian, ia menjadi sedih hatinya, kesal, meratap, menangis, memukuli dadanya dan menjadi kalap. Begitulah bhikkhu, memang pernah terjadi, bahwa orang akan merasa tersiksa kalau sesuatu yang kekal dalam dirinya tidak lagi ditemukan. (Majjhima Nikaya 22: Alagaddupama Sutta).

Pada kesempatan lain Sang Buddha bersabda: “O bhikkhu, ide bahwa Aku tidak ada, Aku tidak memiliki, pada suatu waktu menggelisahkan orang biasa yang masih belum mendapat penerangan cukup. Pikiran mereka yang masih ingin memiliki “Sang Aku” dalam agama Buddha adalah sbb.: Memang benar Sang Buddha menganalisa manusia menjadi rupa, perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran dan kesadaran, dan berkata bahwa tidak satu pun yang dapat dianggap sebagai “Sang Aku”. Tetapi, Beliau tidak bersabda bahwa memang sama sekali tidak terdapat “Aku” di dalam seorang manusia atau di tempat mana pun juga, kecuali Lima Kelompok Kegemaran”.

Jalan pikiran ini tidak dapat dipertahankan karena dua alasan :

  1. Menurut ajaran Sang Buddha, makhluk itu hanya terdiri dari Lima Kelompok Kegemaran. Juga tidak pernah Beliau bersabda bahwa di dalam makhluk ada sesuatu yang lain di samping Lima Kelompok Kegemaran.
  2. Sang Buddha di berbagai tempat dengan tegas dan memakai kata-kata yang tidak dapat diragukan lagi menyangkal Atma, Roh, Aku, Diri atau Ego di dalam seorang manusia atau di luarnya, atau di mana saja di alam semesta ini.

Marilah kita ambil beberapa contoh. Di kitab Dhammapada dapat ditemukan tiga syair yang mempunyai arti penting dan mendasar dalam ajaran Sang Buddha (syair no. 277, 278 dan 279).

Syair-syair tersebut berbunyi sbb.:

  1. Sabbe Sankhara Aniccca
    Segala sesuatu yang terdiri dari paduan unsur-unsur adalah tidak kekal.
  2. Sabbe Sankhara Dukkha
    Segala sesuatu yang terdiri dari paduan unsur-unsur adalah dukkha.
  3. Sabbe Dhamma Anatta
    Semua dhamma adalah Tanpa Aku/Roh.

Kalau kita meneliti tiga syair di atas, maka pada syair kesatu dan kedua dipakai istilah sankhara (paduan unsur-unsur yang saling bergantungan). Tetapi, pada syair ketiga dipakai istilah dhamma. Mengapa syair ketiga tidak memakai juga istilah sankhara seperti pada kedua syair yang lebih dulu dan mengapa justru dipakai istilah dhamma?

Di sinilah letak kunci persoalannya. Istilah sankhara hanya mencakup Lima Kelompok Kegemaran, yaitu benda-benda dan keadaan-keadaan yang saling bergantungan, saling menjadikan dan relatif, baik fisik maupun mental. Kalau misalnya syair ketiga berbunyi “semua sankhara adalah Tanpa Aku/Roh”, mungkin orang akan berpikir bahwa ada satu Roh di luar benda-benda, di luar Lima Kelompok Kegemaran. Untuk menghindari salah-tafsir inilah digunakan istilah dhamma pada syair ketiga.

Istilah dhamma mempunyai arti yang sangat luas. Tidak terdapat istilah dalam tata-kata Buddhis yang mempunyai arti lebih luas dari pada dhamma. Ia mencakup bukan saja benda/keadaan yang saling bergantungan, tetapi juga yang tidak saling bergantungan, misalnya Yang Mutlak, Nibbana. Tidak ada sesuatu di dalam alam semesta ini atau di luarnya, yang baik atau yang buruk, yang saling bergantungan atau tidak saling bergantungan, relatif atau absolut, yang tidak tercakup di dalam istilah ini. Oleh karena itu, sekarang jelaslah kiranya, sesuai dengan syair “Semua dhamma adalah Tanpa Aku/Roh”, bahwa tidak terdapat Roh atau Atma di dalam Lima Kelompok Kegemaran atau di mana saja di luar atau terpisah daripadanya.

Menurut aliran Theravada, itu berarti bahwa tidak terdapat satu Roh baik di dalam satu makhluk (puggala) maupun di dalam dhamma. Aliran Mahayana juga mempunyai pandangan yang serupa, tanpa ada perbedaan sedikit pun terhadap persoalan ini dan memberi titik-berat kepada dharma-nairatmya dan pudgala nairatmya.

Dalam Alagaddupama-Sutta, Majjhima-Nikaya 22, sewaktu berkhotbah di depan para muridnya, Sang Buddha bersabda sbb.: “O bhikkhu, terimalah satu ‘teori tentang Roh yang kekal abadi’ (Attavada), apabila dengan menerimanya tidak akan timbul kekecewaan, ratap-tangis, penderitaan, kesedihan dan kemalangan. Tetapi, O bhikkhu, apakah kamu melihat ada satu ‘teori tentang Roh yang kekal abadi’ yang demikian itu, di mana dengan menerimanya tidak lagi akan timbul kekecewaan, ratap-tangis, penderitaan, kesedihan dan kemalangan?”

“Tentu saja tidak, Bhante.”

“Bagus, O bhikkhu. Aku sendiripun tidak melihat adanya satu ‘teori tentang Roh yang kekal abadi’, yang apabila diterima, tidak akan menimbulkan kekecewaan, ratap-tangis, penderitaan, kesedihan dan kemalangan.”

Kalau sekiranya memang terdapat satu teori Attavada yang diterima baik oleh Sang Buddha, Beliau tentu sudah menerangkannya di sini karena Beliau telah minta kepada para bhikkhu untuk menerima teori Attavada kalau sekiranya itu dapat menghentikan dukkha. Tetapi, dalam pandangan Sang Buddha tidak terdapat teori semacam itu yang dapat menghentikan dukkha; tiap teori Attavada yang bagaimanapun juga coraknya dan bagaimana halus atau sempurnapun, adalah palsu dan merupakan khayalan belaka yang menciptakan berbagai macam persoalan dan akan membawa serta kekecewaan, ratap-tangis, penderitaan, kesedihan, kemalangan dan kesulitan-kesulitan.

Sesudah itu, Sang Buddha melanjutkan khotbahnya. “O bhikkhu kalau memang tidak ada Roh/Atta atau unsur lain yang dapat dianggap sebagai Roh (Attaniya) yang dapat ditemukan, maka pandangan yang tidak menentu tentang ‘alam semesta ini Atta (Roh) dan aku akan menjadi satu dengannya kalau aku meninggal dunia, kekal abadi, tidak berubah selama-lamanya’ dengan sendirinya merupakan hal yang tidak masuk akal sama sekali.”

Di sini secara tegas Sang Buddha berkata bahwa satu Atma/Atta, Roh atau Diri dalam kenyataannya dan di mana pun juga tidak dapat ditemukan dan adalah bodoh untuk percaya hal yang semacam itu.

Orang yang mencari satu “Diri” dalam ajaran Sang Buddha sering mengutip beberapa contoh yang mereka salah-terjemahkan dan kemudian salah-tafsirkan. Satu contoh yang terkenal adalah Atta Hi Attano Natho dari Dhammapada (XII, 4, atau syair 160) yang diterjemahkan sebagai “Roh itu adalah Majikan dari roh” dan ditafsirkan sebagai, “Roh BESAR adalah majikan dari roh KECIL.”

Pertama-tama terjemahan di atas tidak tepat. Atta di sini bukan berarti Diri atau Roh. Istilah Atta dalam bahasa Pali sering digunakan sebagai “kata ganti” atau “kata ganti orang tidak tentu” (indefinite pronoun), kecuali dalam beberapa hal yang secara khusus dihubungkan dengan satu teori Roh. Tetapi dalam penggunaannya secara umum, seperti halnya Bab XII dari Dhammapada dan di banyak tempat lain lagi, istilah itu dipakai sebagai kata ganti” atau “kata ganti orang tidak tentu” yang berarti diriku, dirimu, dirinya, orang, mereka, dll. Selanjutnya istilah natho bukan berarti “majikan”, tetapi “mencari perlindungan”, “bantuan”, “pertolongan” dan “perlindungan”. Oleh karena itu Atta Hi Attano Natho sebenarnya berarti “Perlindungan ada dalam dirimu sendiri” atau “Pertolongan ada dalam dirimu sendiri”. Ini tidak ada hubungannya dengan suatu Roh atau Diri metafisik. Pepatah ini secara sederhana berarti, bahwa orang harus bergantung kepada dirinya sendiri dan bukan kepada orang lain.

Contoh lain dari percobaan untuk menyusupkan ide tentang adanya “Roh” dalam ajaran Sang Buddha ialah pepatah yang sangat terkenal : Attadipa Viharatha, Attasarana Anaññasarana, yang diambil dari Mahaparinibbana Sutta (Digha Nikaya 16). Pepatah ini menurut hurufnya berarti : “Jadilah pulau untuk dirimu sendiri, jadikan dirimu sebagai tempat perlindungan dan jangan cari perlindungan pada diri orang lain”.

Mereka yang ingin melihat satu “Diri” dalam agama Buddha menafsirkan kata-kata ATTADIPA dan ATTASARANA sebagai “mengambil diri sendiri sebagai lampu (pelita)” dan “mengambil diri sendiri sebagai perlindungan”. Kita tidak mungkin dapat mengerti sepenuhnya maksud dan tujuan dari nasehat Sang Buddha kepada Ananda, kalau tidak mengambil sebagai dasar pertimbangan, latar belakang dari kata-kata yang diucapkan dan segala sesuatu yang bersangkutan dengannya.

Pada saat itu Sang Buddha sedang diam di suatu desa bernama Beluva tepat tiga bulan sebelum Beliau mangkat, Parinibbana. Beliau waktu itu berumur delapan puluh tahun dan menderita sakit keras sehingga hampir saja mangkat (maranantika). Tetapi Beliau berpikir bahwa tidak selayaknya meninggalkan siswa-siswa yang dekat dengan-Nya dan dicintai tanpa pesan apa-apa. Oleh karena itu, dengan tabah dan penuh keyakinan Beliau menanggung semua rasa sakit, dan kesehatannya berangsur-angsur pulih kembali. Pada suatu hari Sang Buddha duduk di luar rumah di bawah sebuah pohon yang rindang.

Ananda, pembantu Sang Buddha yang paling berbakti, mendekati Sang Guru dan berkata: “Sungguh beruntung, O Bhante, bahwa hamba sekarang melihat Sang Bhagava sudah sembuh. Dengan sesungguhnya, Bhante, badanku sendiri menjadi lemah dan tak bertenaga, semuanya di sekelilingku menjadi suram dan panca-indraku tidak berfungsi lagi. Namun, Bhante, hamba agak terhibur sedikit, karena hamba pikir, tak mungkin Sang Bhagava meninggalkan kami, sebelum Beliau memberikan pesan-pesan terakhir kepada para bhikkhu yang tergabung dalam Sangha.”

Kemudian Sang Buddha dengan penuh cinta kasih dan belas kasihan memberi jawaban dengan suara lemah lembut kepada Ananda yang sangat dikasihi itu: “Ananda, apalagi yang diharapkan oleh Sangha dariku. Aku telah mengajarkan Dhamma tanpa membuat perbedaan antara ajaran esoteris (rahasia) dan ajaran eksoteris (umum); mengenai Dhamma, Ananda, tak ada sesuatu pun yang disembunyikan oleh Sang Tathagata sebagaimana yang dilakukan oleh seorang guru yang kikir. Tentu, Ananda, kalau ada orang yang berpikir bahwa ia adalah pemimpin Sangha dan Sangha itu harus bergantung kepadanya, maka orang itu akan membuat peraturan-peraturan. Tetapi, Sang Tathagata tidak mempunyai pikiran seperti itu. Untuk apa Ia meninggalkan peraturan untuk Sangha? Aku sudah tua, Ananda, delapan puluh tahun usia-Ku, sekarang. Sebagaimana, juga kereta yang sudah usang maka untuk dapat dipakai harus terus menerus diperbaiki. Begitu pula dengan badan Sang Tathagata yang hanya dapat bertahan berkat terus menerus diperbaiki. Karena itu, Ananda, ingatlah baik-baik: ‘Jadilah pulau bagi dirimu; jadilah pelindung bagi dirimu, janganlah menyandarkan nasibmu kepada makhluk lain; peganglah teguh Dhamma sebagai pelindungmu’.”

Apa yang Sang Buddha hendak beritahukan kepada Ananda sudah jelas. Ananda sedang sedih dan tertekan batinnya. Ia berpikir bahwa ia akan menjadi kesepian, tanpa perlindungan, tanpa pemimpin sesudah Sang Guru Agung mangkat.

Karena itu, Sang Buddha ingin menghiburnya, memberinya ketabahan hati dan keyakinan dengan berkata bahwa ia harus bergantung kepada dirinya sendiri dan kepada Dhamma yang telah diajarkan, dan jangan bergantung kepada orang lain atau kepada apa pun juga. Di sini persoalan tentang satu Atma atau Roh metafisik sama sekali tidak diperbincangkan.

Selanjutnya, Sang Buddha menerangkan kepada Ananda, bagaimana caranya orang dapat menjadi pulau atau perlindungan untuk dirinya; bagaimana caranya orang dapat membuat Dhamma sebagai pulau atau perlindungan melalui latihan-latihan meditasi yang saksama dengan obyek badan jasmani, perasaan, pikiran dan bentuk-bentuk pikiran (Satipatthana). Di sini Atma atau Roh sama sekali tidak diperbincangkan.

Di bawah ini ada contoh lain yang sering dikemukakan oleh mereka yang mencoba menemukan Atma dalam ajaran Sang Buddha. Pada suatu hari Sang Buddha duduk di bawah sebuah pohon di suatu hutan dalam perjalanan menuju Uruvela dari Benares. Pada hari itu tiga puluh orang pangeran muda bersama istri mereka juga pergi bertamasya ke hutan yang sama. Seorang pangeran yang belum menikah membawa serta seorang pelacur. Selagi mereka berpesta, wanita itu mengambil beberapa barang berharga dan terus lari.

Dalam usaha mencari wanita itu di hutan, mereka lihat Sang Buddha sedang duduk di bawah sebuah pohon dan bertanya, apakah Sang Buddha barangkali melihat seorang wanita yang berjalan seorang diri. Sang Buddha menanyakan duduk persoalannya. Sesudah mereka terangkan, Sang Buddha lalu bertanya: “Anak-anakku, cobalah pikir, apa yang lebih baik, mencari seorang wanita atau mencari dirimu sendiri?” (Mahavagga 1:14)

Ini lagi-lagi merupakan satu pertanyaan yang sederhana dan wajar dan tidak dapat dibenarkan untuk menghubungkannya dengan ide tentang adanya Atma atau Roh. Mereka menjawab bahwa lebih baik untuk mencari diri mereka sendiri.

Sang Buddha lalu mengundang mereka untuk duduk di dekat-Nya dan menerangkan Dhamma kepada mereka. Dalam teks aslinya tidak terdapat satu patah kata pun yang menyinggung tentang Atma atau Roh.

Banyak sudah terdapat tulisan-tulisan tentang Sang Buddha yang tidak menjawab pertanyaan dari seorang pertapa bernama Vacchagotta yang bertanya, apakah Atma itu ada atau tidak. Ceritanya ada sbb.:

Vacchagotta mengunjungi Sang Buddha dan bertanya: “Gotama Yang Mulia apakah Atma itu ada?”

Sang Buddha tidak menjawab.

“Kalau begitu, Gotama Yang Mulia, apakah Atma itu tidak ada?”

Lagi-lagi Sang Buddha tidak menjawab.

Vacchagotta lalu bangun dan pergi. Sesudah pertapa itu pergi, Ananda bertanya kepada Sang Buddha, mengapa Beliau tidak menjawab pertanyaan Vacchagotta. Sang Buddha menerangkan sbb.:

“Ananda, ketika ditanya oleh pertapa Vacchagotta tetang: “Apakah Atma itu ada?”, kalau Aku menjawah: “Atma itu ada”, maka itu memihak kepada para pertapa dan Brahmana yang menganut ajaran tentang adanya satu Roh abadi (Sassatavada).

Lalu Ananda, ketika ditanya oleh Vacchagotta: “Apakah Attma itu tidak ada?”, dan kalau Aku menjawab: “Atma itu tidak ada”, maka itu memihak kepada para pertapa dan Brahmana yang menganut kepercayaan tentang pemusnaan diri (Ucchedavada).

Lagipula Ananda, ketika ditanya oleh Vacchagotta: “Apakah Atma itu ada?”, dan jika Aku menjawab: “Atma itu ada”, apakah ini sesuai dengan ajaran-Ku tentang: “Semua dhamma adalah Tanpa Roh?”

“Tentu saja tidak, Bhante.”

Selanjutnya, Ananda, ketika ditanya oleh Vacchagotta: “Apakah Atma itu tidak ada?”, dan kalau Aku menjawab: “Atma itu tidak ada”, maka ini akan menimbulkan kebingungan yang lebih besar lagi pada Vacchagotta yang pikirannya memang sudah bingung. (Samyutta Nikaya XLIV: 10). Oleh karena Vacchagotta akan berpikir: “Dulu aku benar mempunyai Atma, tetapi sekarang aku tidak mempunyai Atma lagi.” Maka sekarang jelaslah kiranya, mengapa Sang Buddha tidak ingin menjawab. Tetapi akan lebih jelas lagi kalau kita mengambil sebagai bahan pemikiran seluruh latar belakang dari kejadian ini dan juga cara yang dipakai oleh Sang Buddha untuk menghadapi orang-orang yang datang bertanya. Hal-hal ini tidak diketahui oleh mereka yang memperbincangkan persoalan ini.

Sang Buddha bukanlah sebuah mesin komputer yang memberi jawaban kepada pertanyaan apapun yang diajukan kepada Beliau tanpa pertimbangan.

Sang Buddha adalah seorang Guru Agung yang praktis, penuh welas asih dan bijaksana. Beliau bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk memperlihatkan pengetahuan-Nya atau kecerdasan-Nya, melainkan yang lebih penting lagi, untuk menolong si penanya ke arah Jalan yang menuju Pembebasan. Beliau selalu bicara dengan mereka dengan mempertimbangkan alam pikiran mereka, watak mereka dan kesanggupan mereka untuk memahami persoalan tertentu.

Menurut Sang Buddha, terdapat empat cara untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan ”

  1. beberapa di antaranya dapat langsung dijawab
  2. yang lain harus dijawab dengan memberikan uraian
  3. yang lain lagi harus dijawab dengan mengajukan pertanyaan balasan
  4. dan ada pertanyaan yang sama sekali tidak dapat dijawab.

Terdapat berbagai cara untuk tidak menjawab satu pertanyaan. Satu di antaranya ialah dengan mengatakan bahwa beberapa pertanyaan tertentu tidak dapat dijawab, sebagaimana halnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Sang Buddha seperti: apakah alam semesta ini abadi atau tidak, dan lain-lain. Dengan cara yang sama, Sang Buddha menjawab pertanyaan dari Malunkyaputta dan beberapa orang lain. Namun Beliau tidak dapat memberikan jawaban yang sama terhadap pertanyaan. “Apakah Atma ada atau tidak”, karena Beliau sudah sering memperbincangkan hal ini. Beliau tidak dapat berkata bahwa: “Atma itu ada”, sebab ini bertentangan dengan Ajaran Beliau sendiri tentang doktrin Anatta. Dan Sang Buddha juga tidak hendak mengatakan, bahwa: “Atma itu tidak ada”, oleh karena dengan tidak perlu akan membuat bingung dan kaget Vacchagotta, yang memang sedang bingung menghadapi persoalan ini, yang sebelumnya telah diakui sendiri oleh Vacchagotta. Ia belum “matang” untuk mengerti akan doktrin Anatta. Dari itu, menghadapi pertanyaan ini dengan membungkam adalah yang paling bijaksana dalam persoalan ini.

Kita juga jangan lupa bahwa Sang Buddha sejak lama kenal dengan Vacchagotta dan pertemuan ini bukan pertemuan yang pertama kali. Guru yang bijaksana dan penuh welas asih ini sebenarnya menaruh perhatian besar kepada orang yang sedang bingung dan sibuk mencari-cari ini. Dalam kitab bahasa Pali nama Vacchagotta sering kita jumpai, yang seringkali mengunjungi Sang Buddha atau siswa-siswa-Nya. Setiap kali pertanyaan yang serupa inilah yang diajukan, karena Vacchagotta merasa batinnya tertekan, yah, bahkan merasa dihantui oleh persoalan ini. Dengan Sang Buddha tidak menjawab, ini membawa akibat yang lebih besar dari jawaban atau diskusi apa pun tentang persoalan ini.

Banyak orang menganggap “Aku” sama dengan “batin” atau “kesadaran”. Tetapi Sang Buddha berkata bahwa lebih baik menganggap badan jasmani sebagai “Aku” daripada batin, pikiran atau kesadaran, sebab badan jasmani lebih padat (dapat dilihat dan disentuh), sedangkan batin, pikiran dan kesadaran (citta, mano, viññana) terus menerus berubah dan dalam tempo lebih cepat dari badan jasmani. (Samyutta Nikaya XII: 62)

Perasaan yang samar-samar tentang “Aku” sebenarnya yang menciptakan gambaran tentang adanya “Diri” yang tidak sesuai dengan kenyataan; melihat kenyataan ini dengan gamblang dan jelas berarti menyelami Nibbana, dan hal ini memang tidak mudah.

Dalam Syamyutta-Nikaya terdapat satu diskusi antara seorang bhikkhu bernama Khemaka dengan serombongan bhikkhu lain yang membahas persoalan ini secara mendalam.

Para Bhikkhu itu bertanya kepada Khemaka, apakah ia melihat satu “Diri” atau sesuatu yang berhubungan dengan “Diri” di dalam Lima Kelompok Kegemaran. Khemaka menjawab: “Tidak”. Kemudian bhikkhu-bhikkhu itu berkata, kalau begitu ia telah menjadi Arahat, bebas dari kekotoran batin. Khemaka mengakui, bahwa biarpun ia tidak menemukan satu “Diri” atau sesuatu yang ada hubungannya dengan “Diri” (Attaniya) di dalam Lima Kelompok Kegemaran, ia bukan seorang Arahat yang terbebas dari semua kekotoran batin. O kawan-kawan, mengenai Lima Kelompok Kegemaran itu aku masih merasakan adanya “Diri” itu, meskipun aku tidak dapat melihat dengan jelas bahwa “Inilah Diriku”.

Selanjutnya Khemaka menerangkan bahwa apa yang ia namakan “Sang Aku” bukanlah materi, perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran atau kesadaran, atau sesuatu tanpa mereka itu. Tetapi ia merasakan “Sang Aku” itu ada hubungannya dengan Lima Kelompok Kegemaran, meskipun ia tidak melihat dengan jelas “Inilah Aku”. Hal ini sama dengan bau harumnya sekuntum bunga. Itu bukan bau harum dari daun bunga, bukan dari warnanya, bukan dari putiknya, tetapi bau harum dari bunga secara keseluruhan.

Khemaka selanjutnya menerangkan bahwa sekalipun orang telah mencapai tingkat permulaan dari penyelaman Nibbana, ia masih mempunyai perasaan tentang “Sang Aku”. Tetapi, nanti, kalau ia sudah mendapat kemajuan lebih lanjut, perasaan “Sang Aku” itu akan lenyap seluruhnya; seperti juga bau sabun dari pakaian yang baru dicuci akan lenyap sesudah pakaian itu untuk beberapa waktu disimpan di dalam lemari.

Diskusi ini berguna sekali dan memberi gambaran yang begitu jelas sehingga pada akhir diskusi mereka semua, termasuk Khemaka, menjadi Arahat, terbebas dari kekotoran batin dan akhirnya juga terlepas sama sekali dari perasaan tentang adanya “Sang Aku” itu.

Menurut Sang Buddha, berpegangan kepada anggapan bahwa “Aku tidak mempunyai Atma” (yang dinamakan teori pemusnaan diri) atau memegang anggapan tentang “Aku mempunyai Atma” (yang dinamakan teori kelangsungan abadi), kedua-duanya salah karena kedua-duanya merupakan belenggu yang timbul dari ide yang menyesatkan tentang adanya “Sang Aku” itu.

Pendirian yang benar mengenai Anatta ialah jangan memegang anggapan atau pandangan apa pun juga, melainkan melihat benda-benda secara obyektif dan menurut keadaan yang sebenarnya, tanpa proyeksi-proyeksi mental melihat apa yang dinamakan “Aku” atau “makhluk” sebagai paduan dari unsur-unsur fisik dan mental, yang bekerja sama dan saling bergantungan dalam satu arus dari perubahan-perubahan dari saat ke saat di dalam hukum sebab dan akibat; tidak ada sesuatu yang kekal, berlangsung terus, tidak berubah dan abadi di dalam seluruh kehidupan.

Secara wajar dapat timbul pertanyaan. Kalau tidak ada Atma atau “Diri”, lalu siapakah yang menerima hasil Karma? Tidak ada orang lain yang dapat menjawab pertanyaan ini lebih baik dari Sang Buddha sendiri. Waktu pertanyaan itu diajukan oleh seorang bhikkhu, Sang Buddha menjawab: “Aku mengajar, O bhikkhu, untuk melihat keadaan yang saling bergantungan di mana-mana dan dalam semua benda.”

Ajaran Sang Buddha tentang Anatta, Tanpa Roh, Tanpa Aku, hendaknya jangan dianggap sebagai negatif atau sebagai pemusnaan diri. Seperti juga Nibbana ia adalah Kebenaran Sejati, Kesunyataan dan Kesunyataan tak mungkin negatif. Justru kepercayaan kepada satu “Diri” yang khayal dan tidak ada itulah yang negatif. Ajaran tentang Anatta menyingkirkan kegelapan dari suatu kepercayaan yang palsu dan menghasilkan kebijaksanaan. Ia bukan negatif, seperti juga Ayasma Asanga secara singkat berkata: “Anatta merupakan satu fakta” (Nairatmyastita).

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s