>SUBHADDA Pentahbisan Terakhir Semasa Sang Buddha Masih Hidup   Leave a comment

>    Terdapatlah seorang pertapa pengelana bernama Subhadda yang tinggal di dekat Kusinara saat itu dan ketika ia mendengar bahwa Sang Buddha akan meninggal dunia, ia memutuskan untuk pergi dan menemui Beliau, ingin bertanya tentang sesuatu hal tertentu sebelum Beliau mangkat. Ia yakin bahwa Sang Buddha akan menjawab pertanyaannya dan menjernihkan keragu-raguannya.

    Jadi Subhadda pergi ke hutan pohon Sala, dan bertanya kepada Yang Mulia Ananda apakah ia dapat menemui Sang Buddha. Tetapi Yang Mulia Ananda berkata, “Cukup, sahabat Subhadda, Sang Buddha sedang sangat letih. Janganlah mengganggu Beliau”.

    Untuk kedua dan ketiga kalinya Subhadda menyampaikan permohonannya dan untuk kedua dan ketiga kalinya pula yang Mulia Ananda memberikan jawaban yang sama.

    Akan tetapi, Sang Buddha menangkap sepatah dua-patah kata dari pembicaraan antara Yang Mulia Ananda dan Subhadda, dan Beliau memanggil Yang Mulia Ananda datang padaNYa dan berkata, “Kemarilah, Ananda. Janganlah mencegah Subhadda untuk menemui Tathagata. Biarkanlah ia datang dan menemui Tathagata. Apapun yang akan ditanyakan oleh Subhadda kepada Tathagata, ia akan bertanya karena ingin mengetahui suatu pengetahuan dan bukan untuk mengganggu Tathagata. Dan apapun yang Tathagata katakan dalam menjawab pertanyaannya, ia akan cepat mengerti”.

    Demikian diberikannya izin, Subhadda mendekati Sang Buddha, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, ia berkata, “O Gotama, terdapat banyak guru agama yang terkenal, yang mengajarkan ajaran-ajaran lainnya yang berbeda dari ajaran agamaMu. Sudahkah mereka semua, seperti yang mereka nyatakan, telah menemukan kebenaran? Atau sudahkah sebagian dari mereka, menemukan Kebenaran dan yang  lainnya belum?

 “Cukup, O, Subhadda”, kata Sang Buddha “Engkau tidak usah kuatir tentang ajaran-ajaran mereka. Dengar dan perhatikan baik-baik pada apa yang Tathagata katakan, dan Tathagata akan memberitahukanmu tentang Kebenaran”.

    Di dalam doktrin atau ajaran mana saja yang padanya tidak ditemukan Jalan Mulia Berunsur delapan, di sana juga tidak akan ditemukan orang-orang yang bisa mencapai Sotapanna, Sakadagami, Anagami, atau Arahat. Tetapi di dalam Ajaran di mana padanya ditemukan Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan padanya saja, Sotapanna, Sakadagami, Anagami, dan Arahat. Dan di dalam AjaranKu ini, O Subhadda, ditemukan adanya Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan padanya saja, Sotapanna, Sakadagami, Anagami, dan Arahat ditemukan. Tidak ada pada ajaran dari guru-guru spiritual lainnya dapat ditemukan orang-orang suci semacam ini. Dan jika siswa-siswaKu hidup dengan benar dan mengikuti peraturan-peraturanKu atau aturan-aturan latihan, dunia tak akan pernah kosong dari para Arahat”.

    Kemudian Subhadda memohon untuk diizinkan memasuki Persaudaraan para Bhikkhu, dan Sang Buddha memenuhi permintaannya. Dalam pada ini Subhadda menjadi bhikkhu dan murid terakhir yang ditahbiskan semasa Sang Buddha masih hidup dan menjadi murid Sang Buddha, sama seperti Kondanna sewaktu di taman rusa di Benares adalah bhikkhu dan murid pertama Sang Buddha 45 tahun lalunya.

    Dan dengan usaha yang rajin dan sungguh-sungguh dalam mengikuti Sang Ajaran, Subhadda segera manjadi seorang Arahat.
 

Posted 25/01/2011 by chandra2002id in Cerita Buddhist

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s