>SONA Bhikkhu yang Berlatih Terlalu Keras   Leave a comment

>    Putra seorang pengusaha kaya, Sona, senang mendengar musik kecapi dan memainkan alat musik tersebut. Karena ia dibesarkan dalam kemewahan, kulit tubuhnya menjadi sangat lembut dan halus: Dikatakan bahwa bulu badan pun tumbuh di telapak kakinya. Suatu kali ia dibawa menghadap kepada raja Bimbisara yang ingin melihat kaki yang tidak biasa itu, seperti yang begitu sering ia dengar.

    Sona tinggal di dekat Puncak Bukit Burung Nazar di Rajagaha, di mana Sang Buddha tinggal selama beberapa vassa. Suatu hari, Sona pergi ke Puncak Bukit Burung Nazar untuk mendengar khotbah Sang Buddha tentang kebahagiaan yang akan dialami langsung karena ketiadamelekatan terhadap keinginan-keinginan yang bersifat duniawi. Karena ia ingin mengalami kebahagiaan ini, Sona meminta agar ia ditahbiskan sebagai bhikkhu.

    Setelah menjadi seorang bhikkhu, ia diajar untuk selalu sadar (penuh sati/perhatian murni) secara terus-menerus, bahkan ketika sedang berjalan. Sona sangat antusias. Setiap hari aia berjalan mondar-mandir di dalam vihara hingga suatu hari kakinya melepuh dan berdarah.

    Meskipun sudah berlatih begitu keras, ia masih tidak mengalami kebahagiaan, tetapi hanya rasa sakit dan kekecewaan. Pikiran-pikiran tentang keinginan-keinginan terhadap hal-hal duniawi masuk ke dalam batinnya. “Ini tidak berguna”, kata Sona pada dirinya, “Saya sudah berlatih dengan demikian keras, tetapi tetap tidak dapat mencapai apa yang saya harapkan. Lebih baik saya kembali ke kehidupan awam dan menikmati kebahagiaan yang dulu saya alami dengan berbuat amal”.

    Ketika Sang Buddha mendengar tentang hal ini, Beliau pergi untuk melihat Sona. “Sona”, tegur Sang Buddha, “Tathagata telah mendengar bahwa engkau tidak mendapat hasil yang baik dari latihan kesadaranmu dan ingin kembali ke kehidupan awam. Seandainya Tathagata menjelaskan mengapa engkau tidak mendapatkan hasil-hasil yang bagus, maukah engkau tetap sebagai bhikkhu dan berlatih kembali?”

 “Ya, saya mau, Bhante”, jawab Sona.
 “Sona, engkau adalah seorang pemusik dan engkau biasanya memainkan kecapi. katakan pada Tathagata, Sona, apakah engkau menghasilkan musik yang bagus bilamana senar-senar kecapi disetel dengan baik, tidak terlalu kencang, tidak pula terlalu kendor?”

 “Saya dapat menghasilkan musik yang bagus, Bhante”, jawab Sona.

 “Apa yang terjadi bilamana senar-senarnya diputar terlalu kencang?”

 “Saya tidak dapat menghasilkan musik apapun, Bhante”, jawab Sona.

 “Sona, apakah sekarang engkau mengerti engkau tidak dapat mengalami kebahagiaan dari pelepasan nafsu keinginan duniawi? Engkau telah memaksa terlalu keras dalam meditasimu. Lakukanlah itu dalam cara yang relaks, tetapi tidak kendor. Cobalah lagi dan engkau akan mengalami hasil-hasil yang bagus”.

    Sona mengerti dan tetap tinggal di vihara sebagai seorang bhikkhu, dan dalam waktu yang singkat ia mencapai tingkat kesucian.

Posted 25/01/2011 by chandra2002id in Cerita Buddhist

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s