>Pola pikir umat buddhist   Leave a comment

>Ketika Melihat Perbedaan – Saya Menjadi Sadar Bahwa Saya Belum Berpola Pikir Buddhist

Di dalam sebuah perdebatan, mulutku diam seribu bahasa, tidak bisa berucap sepatah katapun.

Ku menarik diri sejenak untuk melihat, membaca, merasakan apa yang terjadi, agar lebih jelas dan netral. Ternyata bathinku dipenuhi ke-Aku-an. Hal ini semakin membuatku sadar bahwa manusia memang yang membuat dirinya sendiri sengsara.

Banyak yang berbicara lantang tentang kebenaran berdasarkan konsep tertentu, dan menganggap pandangan orang lain salah.

Sedangkan pihak yang berlawanan memiliki kebenarannya sendiri dengan konsep dan sudut pandang yang berbeda.

Menganggap pihak yang berbicara lantang tersebut keliru melihat kebenaran dan berpikiran sempit.

Semua terjadi setiap saat, dan pada semua bidang, agama, politik, sosial, dan budaya.

Kalau begitu pihak manakah yang salah dan pihak manakah yang benar?

Jika masih mempertanyakan ini, aku sadar bahwa diriku belum berpola pikir Buddhist!!!

Selama kita masih mencari kesalahan di luar diri kita, dan merasa diri kita benar, sebenarnya kita belum berpola pikir Buddhist.

Segala akibat pasti ada sebab-sebab yang mendahuluinya. Dan itu merupakan bagian dari hukum alam. Tidak perduli anda beragama apapun, Tidak perduli kita sudah sejauh mana belajar agama dan spiritual.

Dan lebih jelas lagi di dalam Dhamma telah disebutkan bahwa sebab-sebab itu sepenuhnya berasal dari DIRI KITA SENDIRI !

Tidaklah sampai perlu mencari sebab-sebab metafisik sehingga kita bisa berdebat ataupun berselisih dengan seseorang, seperti karma masa lampau misalnya. Cukup lihat karma kita yang sekarang atau baru saja kita lakukan, dengan mengedepankan cara berpikir logis dan sikap mental yang netral maka semua bisa kita cari jawabannya mengapa kita berdebat dan berselisih.

Mengapa kita marah-marah tidak setuju dengan pandangan orang lain???

Salah kita sendiri yang membaca, mendengar dan melihat.

Coba kalau kita tidak baca, tidak dengar dan tidak lihat!!!

Saya kan tidak sengaja membaca, mendengar atau malah diprovokasi???

Salah kita sendiri yang merespon dengan tidak setuju atau berbeda pandangan!!!

Tapi.. kan pandangannya salah???

Salah kita sendiri mempunyai pandangan yang berbeda!!!

Karena buktinya ada orang lain koq berpandangan seperti itu.

Apakah dia orang bodoh? Apakah dia tidak mempunyai pendidikan? Apakah dia tidak punya pikiran?

Saya teringat cerita Ajahn Chah yang diceritakan oleh Ajah Brahm, sepasang suami istri yang ribut gara-gara mendengar suara binatang tanpa melihat binatangnya. Sang suami berkata ngotot suara itu adalah suara ayam dan sang istri ngotot bahwa yang didengarnya adalah suara bebek. Mereka ribut besar, sang suami berkata itu ayam istriku… bukan itu bebek suamiku… Bukan ayam…. Bukan itu bebek… Ayam…. Bebek… sampai mereka bertengkar hebat dan akhirnya sang istri menangis. Sungguh seperti itulah kadang-kadang kita bersikap akan perbedaan sampai timbul permusuhan, kebencian dan saling menyakiti.

Cerita ini saya berikan kelanjutannya:

Seharusnya carilah binatang itu, lihat dengan kepala dan mata sendiri, dengarkan langsung dengan kuping anda, suara tersebut dari binatang apa dan suaranya bagaimana secara langsung. EHIPASIKO.

Jikapun anda sudah mengetahuinya pun tidaklah perlu ngotot untuk membuat orang lain percaya bahwa suara seperti itu adalah binatangnya A atau B. Biarkan mereka melihatnya sendiri dan mendengarnya sendiri secara langsung. Karena itulah yang memberikan manfaat atas pengertian yang sebenar-benarnya bagi mereka.

Kita boleh membantu memberikan informasi tentang bagaimana mencari atau menemukan binatang itu, tetapi kita tidak bisa memaksakannya untuk itu. Adalah hak masing-masing orang untuk menerima atau tidak informasi yang kita berikan.

Sang Buddha saja tidak mengharapkan anda menerima mentah-mentah dari apa yang beliau katakan dan ajarkan. Apakah kita lebih baik dan lebih sempurna dari sang guru agung kita Buddha Gotama, sehingga orang harus menerima pandangan yang kita miliki? Apalagi kita sendiri juga dapat ilmu dan konsep-konsep itu didapatnya dari sang Buddha melalui Kitab Suci dan guru-guru spiritual kita. Tentu dan boleh jadi, kita juga mengatakan mereka guru-guru kita ini belum mencapai tingkat kesucian.

Kalau kita ngotot mempertahankan pandangan kita dan orang lain harus mengikuti kita, sama juga kita yang bermata buta mau menuntun jalan orang yang buta. Bukankah kalau sampai salah jalan, berarti kita menjerumuskan mereka?

Sudah sekian tahun saya mengenal Dhamma…

Sungguh malu saya ketika menyadari ini semua….

Ternyata sayapun masih seperti ini…..

Bukan kadang, tapi sering seperti ini ketika melihat perbedaan…

untuk itu maka,

Harus lebih dilatih lagi….

Harus lebih dipraktekkan lagi…

Harus dibiasakan lagi berpola pikir Buddhist…

Semoga Sharring Ini Bermanfaat…

– Posted using BlogPress from my iPhone

Posted 24/01/2011 by chandra2002id in Intisari Agama Buddha

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s